Jam sepuluh pagi, Allea yang semalam mabuk berat mulai mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya. Sinar mentari yang masuk di sela-sela horden mengganggu aktivitas tidur pulasnya. Padahal kepalanya masih terasa berat. Bahkan tidur beberapa jam tidak lantas membuat pusing di kepalanya hilang. Allea butuh memejamkan mata beberapa jam lagi sampai efek minuman beralkohol di tubuhnya menghilang.
"Aaah sial, siapa yang membuka jendela di pagi hari seperti ini?" umpat Allea belum sepenuhnya sadar di mana dia tertidur sejak tadi malam.
"Mengganggu saja." imbuhnya sembari memiringkan badan ke arah kiri, membelakangi jendela yang terus memancarkan cahaya terang dan mengganggu tidurnya.
"Hmm, di mana aku? Ini bukan di diskotik." Namun, gadis itu kembali membuka mata saat menyadari sesuatu yang aneh.
Dia tertidur di atas kasur berukuran king size yang nyaman. Bukan di meja bar terakhir kali dia mabuk. Seingatnya ia masih berada di bar saat Sheira menghentikan dirinya untuk minum, sebelum pada akhirnya dia membanting gelas kaca di tangannya.
"Ternyata Sheira membawaku pulang ke apartemennya, tapi di mana dia sekarang?" Bertanya pada dirinya sendiri, saat tangannya menyentuh bantal di sampingnya tempat Sheira biasa tidur.
Namun, pemilik bantal itu tidak kelihatan batang hidungnya pagi ini, padahal biasanya Sheira bangun lebih siang dari pada Allea. Gadis itu tidak bisa minum sebanyak Allea. Hanya meneguk beberapa sloki minuman beralkohol sudah pasti membuat sahabatnya terkapar.
"Kenapa dia tidak tidur bersamaku seperti biasa saat kita habis bersenang-senang?"Dia lupa jika sahabatnya tidak menyentuh minuman sama sekali tadi malam, karena Sheira ingat jika orang tuanya akan datang dari luar negeri hari ini.
Sehingga dia harus pulang ke rumahnya sebelum jam sembilan pagi, meninggalkan Allea sendiri di apartemennya. Toh Allea juga lebih suka berada di apartemen miliknya ketimbang di rumah ayahnya sendiri selama ini.
Ya, saatnya bagi Sheira berperan menjadi anak baik di hadapan kedua orangtuanya yang super sibuk dan selalu menomorsatukan bisnis ketimbang anak semata wayangnya, jika tidak ingin semua fasilitas dicabut. Sheira sudah cukup kesepian selama ini, hingga dia mencari kesenangan di tempat lain bersama sahabatnya yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
"Huft aku tidak bisa tidur lagi, padahal kepalaku masih terasa berat." Allea memijat kedua pelipisnya sendiri, bermaksud meredakan pusing yang dia rasakan.
"Lebih baik aku mandi dan pulang, aku harus mengambil tugasku di rumah sebelum pergi ke kampus." Dengan malas Allea melangkahkan kaki menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Selesai mandi Allea lanjut berbenah diri di depan meja rias yang terletak di kamar sahabatnya. Kemudian segera menyahut kunci mobil yang ada di atas nakas. Dengan kecepatan sedang Allea mengemudikan kendaraan roda empat miliknya. Membawa Allea pulang ke rumah orangtuanya. Meski rumah adalah tempat yang Allea benci sejak dua tahun terakhir, tapi tidak bisa dipungkiri sesekali dia harus pulang agar papanya tidak mengkhawatirkan dirinya.
Khawatir, sepertinya tidak. Papa Allea yang dulu sangat menyayangi putrinya itu kini sudah berubah. Bahkan pria itu terus mengatai Allea dengan berbagai kalimat kasar. Kerap menyebut Allea kalimat bodoh, anak tidak tahu diuntung dan yang lebih menyakitkan bagi Allea adalah ketika sang papa lebih menyayangi anak istri mudanya yang tidak memiliki hubungan darah dengan papanya sama sekali.
"Allea, berkeliaran ke mana saja kau, sampai tidak pulang berhari-hari?" Baru saja Allea masuk ke dalam rumah dan menginjakkan kaki di ruang tamu, Adam Maxwel, papanya sudah menyambut gadis itu dengan bentakan yang cukup keras. Amarah terlihat jelas di wajah pria paruh baya tersebut. Hingga Allea yang tidak menyadari ada orang di ruang tamu pun berjingkat kaget.
"Kenapa papa peduli aku pulang atau tidak?" Namun kekagetan itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Selanjutnya Allea bersikap acuh, tidak memperdulikan kemarahan papanya sama sekali.
"Bukankah papa lebih senang jika aku tidak ada di rumah ini, sehingga papa bisa puas memperhatikan dan memanjakan anak serta istri muda papa!" imbuhnya sembari melirik sinis ke arah sofa, di mana Rena perempuan yang menjadi istri papanya sekarang dan anaknya duduk.
"Kau, dasar anak tidak tahu diuntung. Sikapmu semakin hari semakin urakan." Kalimat yang dilontarkan Allea semakin memicu kemarahan Adam.
"Sayang, bersabarlah! Mungkin Allea sedang sibuk di kampusnya. Yang penting dia sudah pulang dan baik-baik saja sekarang." Rena Berusaha menenangkan suaminya. Perempuan itu kini sudah berdiri di samping Adam dan mengusap lengan pria itu lembut.
"Berhentilah bersikap sok baik di hadapanku, Nyonya Rena!" decih Allea merasa muak dengan sikap sok bijaksana Rena yang ditunjukkan kepada ayahnya. Jika nyatanya dia bisa berlaku sangat jahat dan merampas kebahagiaan keluarga sahabatnya sendiri.
"Aku tidak pernah mengajarimu bersikap kurang ajar seperti ini, Allea." Teriakan Adam semakin nyaring.
"Kenapa, papa sakit hati dengan sikapku?" Allea tertawa sinis.
"Bukankah papa yang mengajari aku bersikap seenaknya sendiri seperti ini?" imbuh Allea sembari menatap ayahnya dengan menampakkan wajah muak.
"Kau, papa benar-benar tidak sanggup mendidikmu sekarang!" Adam kehilangan kata-kata. Allea, anaknya yang dulu sangat manis dan penurut, kini menjadi pembangkang serta berani melawan semua perkataannya.
"Setidaknya aku bukan pengecut yang berselingkuh dengan teman istrinya sendiri, sampai anakku terpaksa harus kehilangan sosok ibu yang sangat dia sayangi, karena seorang perempuan murahan dan tidak tahu diri." Bukannya merendah, Allea justru semakin berani menjawab Adam.
Benar, sebelum menjadi istri muda papanya, Rena adalah sahabat dekat mamanya. Dulu, Allea sangat menghormati dah memanggil perempuan paruh baya itu dengan sebutan tante. Namun, semua itu berubah sejak dua tahun lalu. Saat Adam kepergok menjalin hubungan gelap dengan Rena dan ketahuan tengah bergumul di atas ranjang oleh Diana. Istrinya sendiri.
Diana, mama kandung Allea bukanlah perempuan kuat. Mental wanita itu terlalu lemah saat menyaksikan pria yang sangat dia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya. Diana sudah mencoba menyadarkan suaminya dengan berbagai cara. Berusaha bertahan sekuat tenaga demi keutuhan rumah tangganya. Bahkan dia pernah bersimpuh di hadapan Adam, memohon kepada pria itu untuk berhenti berhubungan dengan Rena demi putrinya.
Hanya saja Adam sudah terlanjur buta dan mengagumi Rena, perempuan yang sengaja menarik perhatian Adam dengan segala cara begitu enggan menyanggupi permintaan sang istri. Hingga suatu sore, Diana yang tidak sanggup menahan rasa sakit melihat kedekatan suami dan sahabat karibnya sendiri memilih mengakhiri hidup.
Diana mengiris nadi tangannya sendiri. Dan Allea adalah orang yang menemukan Diana dalam keadaan sudah tidak bernyawa, dengan darah segar memenuhi kamar di tempat sang mama mengambil jalan pintas.
Allea yang kala itu sudah berusia enam belas tahun cukup paham dengan rasa sakit yang dialami mamanya pun mulai membenci Rena, anaknya dan juga papa kandungnya sendiri.
Tiga orang yang berjasa dalam merampas dan merenggut kebahagiaan keluarganya secara paksa, demi menuruti ego serta perasaan mereka sendiri.
Plaaak, ....
"Allea, kau semakin keterlaluan. Cepat minta maaf sama papa dan mamamu!" Mendengar ucapan putrinya yang sama sekali tidak bisa bersikap hormat kepadanya, reflek tangan Adam terayun dan menampar pipi Allea dengan keras. Hingga pipi Allea memerah. Bibir gadis itu mengeluarkan sedikit darah akibat kerasnya tamparan sang papa.
"Sampai mati pun aku tidak sudi meminta maaf pada kalian!" Allea memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan sang ayah.
"Aku membenci kalian semua." Selanjutnya Allea berlari menuju kamarnya di lantai dua sejak dua tahun lalu.
Kamar tempat Diana mengakhiri hidupnya. Kamar yang selalu bisa mengingatkan Allea tentang kesedihan mendiang sang mama. Memupuk kebencian Allea semakin besar kepada Adam dan juga Rena.
Beberapa menit kemudian Allea kembali turun dengan menyeret koper besar berisi pakaian, buku mata kuliah, dan juga dokumen penting peninggalan sang mama juga miliknya sendiri.
"Allea, aku tidak akan membiarkan kamu berkeliaran dengan bebas mulai hari ini." Namun, Adam yang belum bisa meredakan amarah dalam dadanya, kembali tersulut emosi saat melihat putrinya membawa koper besar berniat pergi dari rumah.
"Aku tidak meminta persetujuan dari Papa!" Perang dingin antara ayah dan anak itu tidak terelakkan lagi. Allea yang sudah kecewa dengan sikap ayahnya kini bertambah murka saat Adam menamparnya demi membela Rena, ibu tirinya.
"Jangan biarkan dia pergi. Seret dia kembali ke kamarnya!" Perintah Adam pada kedua orang satpam yang hendak memasuki rumah atas permintaan Tuannya. Dengan sigap kedua satpam itu langsung menahan lengan Allea.
"Papa keterlaluan. Kenapa papa memperlakukan aku seperti seorang tahanan, dan membiarkan anak simpananmu itu seperti seorang putri?" Allea memberontak, berusaha melepaskan diri dari dua orang satpam yang masih setia memegang kedua lengannya dengan erat.
"Satu lagi, seminggu lagi kau akan menikah dengan pria pilihan papa!" Tegas Adam saat Allea sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa papa tidak menikahkan puteri kesayanganmu saja? Aku tidak sudi menikah dengan orang yang tidak aku cintai." Allea berusaha menendang ke kanan dan ke kiri mengarahkan tepat ke tulang kering kedua satpam yang menahannya. Namun tubuhnya yang mungil dan kalah tinggi dari dua satpam itu tidak bisa bisa menjangkau sasarannya dengan baik.
"Kau tidak punya pilihan, karena sebentar lagi pria itu akan datang menemuimu dan papa sudah mengatur semua persiapan pernikahanmu. Kau yang membuat papa mengambil keputusan ini, karena papa sudah tidak sanggup lagi mengawasimu." Putus Adam tidak ingin berdebat lebih jauh dengan putrinya.
Tepat setelah Adam menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara bariton kaki beberapa orang mulai memasuki rumah milik keluarga Allea.
"Hallo Allea, kita bertemu lagi." Salah satu dari lima orang itu menyapa Allea dengan suara lembut dan senyum menyeringai.
"K-kau, kenapa kau ada di sini?" Mata Allea membelalak tidak percaya. Tatkala indera penglihatannya menangkap sosok yang sangat dia kenal kurang lebih satu setengah tahun lalu.
Namun kini dia dipaksa menerima dan menikahi pria itu minggu depan akibat perjodohan sang papa. Jalan apa yang akan diambil oleh Allea selanjutnya?
"Hallo Allea, kita bertemu lagi." Salah satu dari lima orang itu menyapa Allea dengan suara lembut, serta sedikit senyum seringai di wajahnya.
"K-kau? Kenapa kau ada di sini?" Allea membelalak tidak percaya, tatkala indera penglihatannya menatap sosok yang sangat dia kenal kurang lebih satu setengah tahun lalu.
Dia adalah Morgen William. Mantan kekasih Allea, pria yang kini sangat Allea benci. Juga pria yang sudah Allea masuk dan tempatkan pertama kali ke dalam daftar hitam, serta kategori jajaran pria brengsek dan wajib ditolak untuk menjadi calon suaminya.
"Bukankah kau sudah mendengar penjelasan dari papamu barusan, Allea?" Pria itu menanggapi pertanyaan Allea dengan tersenyum miring.
"Haruskah aku mengulangi penjelasan ayahmu sekali lagi, hmm?" Selanjutnya dia mengusap surai hitam panjang Allea dengan lembut namun tapi penuh dengan penekanan.
"Tidak, tidak mungkin, ini pasti salah!" Allea menggelengkan kepalanya sendiri beberapa kali. Menghindari usapan tangan Morgen di kepalanya sembari terus berontak dan berusaha melepaskan diri dari pengawal ayahnya.
"Lepaskan! Kalian menyakiti calon istriku." Namun, Morgan tidak terpengaruh sama sekali. Pria itu justru bersikap sangat ramah terhadap Allea di hadapan semua orang, termasuk Adam Maxwell, ayah kandung Allea.
Mendengar perintah dari Morgen William, seorang pria yang dinilai paling berkuasa di kota tempat mereka tinggal, para pengawal yang memegang kedua tangan Allea pun secara otomatis langsung melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Allea.
"Keparat! Siapa yang sudi menjadi istri dari pria brengsek seperti dirimu, hah?" sahut Allea cepat.
Dia begitu muak mendengar suara Morgen William yang sengaja dilembut-lembutkan oleh pria itu di hadapan ayah Allea, ibu tirinya, dan juga semua pengawal baik dari pihak Adam maupun Morgen William sendiri.
"Allea, papa tidak pernah mengajarimu menjadi kasar dan juga tidak tahu aturan seperti ini!" Tidak menyadari kesalahannya yang tidak pernah adil dalam memperlakukan antara Allea anak kandungnya sendiri dengan anak tirinya, Adam Maxwell kembali berteriak lantang menegur ketidaksopanan putrinya.
"Kenapa, apa papa mau bilang jika malu mempunyai putri seperti aku?" Begitu pula dengan Allea yang sudah lebih dulu tersulut emosi karena keegoisan papanya yang semakin hari semakin menjadi.
"Kau, ...." Adam Maxwell mengangkat salah satu tangan bersiap menampar putrinya untuk kedua kali dalam satu hari yang sama.
"Honey, bersabarlah. Mungkin Allea hanya butuh waktu." Dengan segera Rena, istri muda Adam mengambil peran sebagai ibu yang baik. Mengusap-ngusap punggung suami dengan lembut, seolah dirinya adalah obat yang mampu membuat pria paruh baya itu lebih tenang.
"Tapi anak ini harus diberi pelajaran agar dia berhenti bersikap sesuka hati dan tidak lagi urakan, Mi!" Darah Adam yang masih mendidih menghadapi anak kandungnya, tidak lantas langsung menerima permintaan istri keduanya.
"Papi, tolong kendalikan emosi papa, lihatlah di sini ada banyak orang, apa papi tidak malu dengan Tuan Morgen?" Rena berbisik pelan tepat di depan daun telinga suaminya.
Setelah itu pria berusia paruh baya itu pun kembali menurunkan tangan dan mengurungkan niat untuk menampar putrinya tatkala melihat William Morgen yang terus memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Mungkin Adam Maxwell merasa tidak enak, mungkin juga ayah kandung Allea itu berusaha menjaga image di hadapan calon menantu sekaligus relasi bisnisnya tersebut.
"Kenapa ayah tidak jadi menamparku? Aah papa malu jika terlihat menjadi ayah yang kasar dan suka memukuli putrinya di hadapan si brengsek yang ingin papa jodohkan padaku ini?" Gadis bertubuh mungil itu tersenyum sinis kepada Adam Maxwell, ayahnya sendiri, seolah dia tengah mengejek sikapnya yang ingin menutupi kekerasan yang dia lakukan terhadap putri kandungnya sendiri demi menjaga image.
Image yang selama ini mati-matian Adam jaga di hadapan seluruh rekan bisnis maupun masyarakat umum, sebagai pria yang sangat menyayangi keluarga dan selalu memperlakukan orang-orang terdekatnya dengan sangat lembut. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Allea sejak satu setengah tahun lalu, tepat setelah hari kematian sang mama.
"Tuan Adam, sebaiknya anda bersikap lebih lembut lagi kepada calon istriku, aku tidak ingin wajah cantiknya terlihat lebam di hari pernikahan kita seminggu lagi!" Morgen William yang dari awal menyaksikan dan memperhatikan perdebatan sengit antara kedua ayah dan anak itu pun akhirnya kembali bersuara.
"Aku tidak ingin kecantikan istriku berkurang, terlebih di hari yang sangat membahagiakan dan kami harap hanya terjadi sekali seumur hidup." Imbuh Morgen dengan suara serak yang sangat khas.
Suara yang sebenarnya terdengar menggoda setiap perempuan yang kebetulan mendengar dan berada di dekatnya. Termasuk untuk Dena, saudara tiri Allea, anak bawaan Rena, ibu tirinya. Dena menatap penuh minat ke arah pria tampan pemilik manik berwarna biru muda yang mencuri perhatian darinya sejak awal kedatangannya di rumah itu. Sayangnya pria itu harus dijodohkan dengan Allea, bukan dirinya.
Namun itu tidak berlaku untuk Allea. Gadis yang sudah terlanjur menyematkan gelar pria paling brengsek sejagad raya, pada Morgen William sejak terakhir kali mereka bertemu satu setengah tahun lalu.
"Aku benar bukan, Sayang?" ucap Morgen dengan mengerlingkan salah satu mata kepada Allea berniat menggoda gadis itu, tidak peduli bagaimana sebal, marah dan juga seberapa besar kebencian yang Allea tunjukkan kepada dirinya.
"Dasar iblis! Apa kau tuli, aku tidak mau menikah denganmu." Umpatan demi umpatan terus ke luar dari mulut Allea.
Gadis itu tidak lagi memikirkan bagaimana sikapnya sebagai seorang gadis yang menjadi bagian dari keluarga Adam Maxwell yang sangat menjunjung tinggi tata krama.
"Jika memang kalian sangat ingin menjadikan si brengsek itu sebagai seorang menantu, kenapa tidak kalian nikahkan saja dengan putri kesayangan kalian, hah?" Ibarat sebuah bom, mungkin ini adalah ledakan terbesar yang terjadi pada Allea sejak dia melakukan protes secara terang-terangan di hadapan Adam.
Jika biasanya dia hanya jarang pulang ke rumah, dan tidak pernah lagi menegur ayahnya saat mereka kebetulan saling bersisipan atau tidak sengaja bertemu ketika Allea mengambil baju ganti sebelum berangkat kuliah, maka kali ini dia bisa berteriak bebas.
Ia tidak lagi bisa mentolerir semua sikap kasar, pilih kasih serta Adam yang selalu menomorsatukan Dena anak tiri bawaan Rena, dibandingkan dirinya yang anak kandung Adam sendiri.
"Ayah, jika memang kakak tidak mau menikah dengan Tuan Morgen, aku bersedia menggantikannya untuk kakak." Dena tersenyum lebar mendengar penuturan Allea.
Lihatlah betapa tidak tahu dirinya anak bawaan Rena ini. Tanpa ada yang minta atau menunggu jawaban dari Adam, Rena atau pihak Morgen sendiri pria yang ingin dijodohkan dengan saudara tirinya, dia sudah menawarkan diri sendiri seolah sangat berharap bisa menikah dengan pria mapan, tampan dan juga sangat berkuasa seperti Morgen.
Memang sedari awal dia meminta agar ayahnya mau merubah posisi perjodohan Morgen dengan dirinya, bukan Allea. Tapi sayang permintaannya Dena ditolak tegas oleh Morgen, sebab dari awal Allea lah gadis yang dia incar. Bukan Dena.
"Benarkah kau mau melakukan itu, Nak?" Tidak butuh waktu lama, Adam menjawab permintaan Dena. Menatap putri tirinya dengan tatapan penuh kasih. Perlakuan yang seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dengan perlakuannya kepada Allea.
"Aku tidak suka mengubah kesepakatan. Allea atau tidak sama sekali, Tuan Adam!" Morgen William yang tidak menyukai pernyataan Dena, segera menunjukkan kuasanya.
Dengan suara tegas serta ekspresi wajah yang dingin, pemuda itu berkata tanpa memberikan pilihan pada Adam Maxwell yang terlihat menatap lembut dan penuh kasih ingin menuruti kemauan anak tirinya. Dia membenci gadis murahan yang bisa menyodorkan diri dengan mudah.
Sementara Allea yang mendengar semua kegaduhan di rumah peninggalan sang mama, mulai memperlihatkan senyum tipis di sudut bibirnya. Sangat tipis, hingga tidak disadari oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut.
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang hinggap di otaknya. Dia menyukai persaingan ini, netra hazel terang itu menatap wajah dingin William. Lalu berkata, "Baiklah jika kau memaksa dan sangat ingin menikah denganku, Tuan William. Aku akan menerima permintaanmu untuk menikah denganku, dengan satu syarat ...."