Roni dan Ririn masing-masing tidak mau melepas ikatan tangan mereka, sampai Siska terpaksa menghentikan sejenak aksi tarik-menarik itu.
Bodohnya aku, pikir Siska. Mas Roni mengenakan jas pengantin dan wanita itu mengenakan gaun, sudah pasti mereka adalah pasangan kan?
“Mas, tolong jelaskan sama aku ... Ini apa-apaan ...” Siska memohon dengan hati teriris perih. “Apa begini cara kamu berkomunikasi? Kita sudah menikah tiga belas tahun, tiga belas tahun, Mas! Anak kita bahkan sudah tiga!”
Roni mengembuskan napas berat, orang-orang kini tidak segan untuk merekam keributan yang ditimbulkan akibat kehadiran istrinya.
Kalau sampai video mereka tersebar luas hingga ke masyarakat publik, pasti akan ada banyak kecaman yang ditujukan kepada dia dan Ririn.
“Kamu jangan bikin malu aku dan Mas Roni dong!” tegur Ririn keras.
Melihat wanita lain tidak semudah itu diusir, Siska kembali mengarahkan tatapan tajamnya untuk menghujam Roni.
“Jadi selama ini kamu selingkuh?”
“Siska, jaga suara kamu—tidak perlu ngegas begitu ....”
“Bagaimana bisa aku tidak emosi saat lihat suami aku memakai jas pengantin dan menggandeng tangan wanita lain?” potong Siska dengan suara keras, memantik rasa ingin tahu orang-orang yang sebagian besar merupakan tamu undangan.
Melihat situasi yang merugikannya, Ririn langsung beraksi.
“Jangan pisahkan kami, aku mohon!” rintih Ririn sambil berupaya mempertahankan genggaman tangannya.
“Kamu jangan akting, ya!” gertak Siska mengagetkan Ririn.
Tanpa diduga, dia menyeruak maju di tengah-tengah mereka. Seketika semua orang berdiri membeku saat mengetahui bahwa Siska adalah istri sah Roni.
“Mas, kamu ingat janji kamu kan?” Suara tercekat Siska begitu menghakimi Roni. “Apa kamu pikir pernikahan kita itu sesuatu yang main-main?”
“Main-main?” ulang Ririn bingung seraya menatap Roni. “Pernikahan kita juga nggak main-main kan, Mas ...”
“Kamu tidak sopan sekali, berani menyela pembicaraan kami.” Siska menoleh dan memandang Ririn angkuh. “Kamu ini bukan siapa-siapa, wanita pelakor.”
Jleb! Kata-kata yang dicetuskan istri Roni terasa seperti pedang tajam yang dihunuskan tepat mengenai jantung Ririn.
“Siska!” tegur Roni. “Ririn ini istriku!”
Siska menoleh ke arah Roni dan menatapnya tajam.
“Kalau begitu kamu pilih salah satu, atau aku akan bertindak dan dia bisa hancur pelan-pelan tanpa perlu aku menyentuhnya.” Siska menegaskan. “Aku tak perlu repot-repot mengotori tanganku.”
Ririn memandang Siska dan Roni bergantian tanpa mengerti apa yang mereka katakan.
Melihat Roni hanya bergeming, Siska akhirnya menggunakan kedua tangannya sendiri untuk melepas tangan Ririn dan Roni yang masih saling bertaut.
“Kamu masih belum percaya kalau aku sanggup melakukan apa saja?” tanya Siska lagi. “Jadi, apa yang mau kamu jelaskan, Mas?”
Roni memandang Siska sebentar, kemudian memalingkan wajahnya dengan segera.
“Ririn tetap akan jadi istriku,” kata Roni akhirnya, membuat Siska menitikkan air mata.
“Kalau begitu bagus,” sahut Siska, dengan sekali sentak dia berhasil memisahkan tangan Roni dan Ririn yang tadinya menyatu erat.
Kalau Roni pikir Siska datang seorang diri tanpa persiapan, dia salah besar!
“Kalian, bawa Mas Roni ke mobil saya sekarang! Yang lain bisa ambil alih mobilnya!”
Ririn membelalakkan mata ketika melihat Roni dengan pasrah dan tanpa perlawanan membiarkan beberapa preman membawanya menuju mobil Siska yang sudah menunggu.
“Mas Roni ...!” panggil Ririn histeris.
Siska menoleh dnegan cepat ke arah Ririn yang wajahnya sudah basah oleh air mata duka.
“Aku peringatkan kamu,” katanya dengan nada setajam pisau. “Jangan dekati suami aku lagi, jangan pernah berpikir untuk menjadi bagian dari rumah tangga aku. Boleh saja kamu masuk melalui perselingkuhan seperti yang coba kamu lakukan, tapi aku pastikan jodoh kamu bukanlah suami aku.”
Kata-kata Siska tidak hanya menusuk, tetapi mengiris-iris hati Ririn hingga menjadikannya serpihan-serpihan kecil yang seolah tak ada harganya.
“Aku nggak pernah bermasalah sama kamu, tapi kenapa kamu sebegini dendamnya?” tanya Ririn tertahan. “Mas Roni yang datang sendiri ke aku ...”
“Ini bukan masalah dendam,” potong Siska seraya menarik tangan Ririn dengan keras. “Tapi ini masalah prinsip, bagaimana aku harus bisa mempertahankan suami aku dari godaan pelakor kelas kakap seperti kamu.”
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Siska mengempaskan tangan Ririn hingga wanita itu terhuyung dan hampir jatuh.
“Siska, aku tidak akan memaafkan kamu kalau Ririn sampai kenapa-napa!” teriak Roni dari kejauhan.
Siska memutar tubuhnya dengan angkuh dan berlalu meninggalkan Ririn yang termangu sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan suaminya yang dibawa pergi.
Namun, saat mobil yang ditumpangi Roni mulai melaju, Ririn seolah tersadar dan tidak mau pasrah begitu saja.
“Mas Roni!” Ririn berlari mengejar sambil meneriakkan nama Roni, dia tidak peduli pada orang-orang yang memandangnya heran saat berpapasan dengannya.
“Mas, jangan pergi!” teriak Ririn sambil berlari tanpa lelah, diangkatnya gaun pengantinnya tinggi-tinggi agar dia mampu berlari lebih cepat lagi. “Mas Roni!”
Mobil-mobil itu semakin lama semakin melaju cepat meninggalkan Ririn yang susah payah menyeret kedua kakinya hingga wajahnya basah berpeluh. Dia baru benar-benar menyerah saat mobil yang membawa Roni berbelok tajam dan tidak mungkin terkejar lagi.
Ririn menyeka wajahnya dan bergegas menepi, setelah itu dia buru-buru mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Roni lagi. Betapa senangnya Ririn saat hubungan langsung tersambung dengan cepat.
“Halo, Mas Roni ...”
“Kamu tunggu di situ,” terdengar suara Roni yang menjawab panggilannya. “Jangan ke mana-mana, aku akan jemput kamu sekarang ...”
“Mas!”
“Diam kamu, Sis.” Roni membungkam Siska yang tiba-tiba masuk dalam percakapan mereka. “Rin, tetap di situ sampai aku datang.”
Siska tidak percaya ini, hanya dalam sekejap mata kebahagiaan dirinya musnah begitu saja di tangan pasangan sahnya sendiri.
***
Dengan kecepatan tinggi, mobil yang dikemudikan Roni tiba di tempat Ririn menunggu dengan lebih cepat. Ririn langsung mendekap sang suami, yang ternyata tetap memilihnya daripada Siska.
“Mas?” ucap Ririn shock. “Apa aku nggak pantas jadi istri kamu?”
Lelaki itu menggeleng miris.
“Aku akan bicara sama Siska nanti, oke?” kata Roni tegas. “Mulai sekarang kamu harus mendampingi aku, Rin.”
“Oke, dia mungkin sudah berhasil mengacaukan kebahagiaan aku. Tapi dia nggak akan pernah bisa membuat kamu berpaling dari aku, Mas!” seru Ririn berapi-api. “Aku sengaja diam karena dia akan semakin kesetanan kalau aku lawan!”
“Aku tahu,” kata Roni letih sambil membimbing Ririn untuk masuk ke mobil. “Kamu jadi sasaran kemarahan Siska, aku benar-benar minta maaf sama kamu.”
Ririn mengangguk dengan wajah sedih berlebihan.
“Aku tidak pernah minta menikah dengan cara seperti ini,” sahut Ririn murung. “Aku lebih memilih jadi perawan tua saja daripada dianggap jadi pelakor dalam rumah tangga kamu ...”
“Jangan bicara seperti itu!” potong Roni sambil membelai wajah Ririn yang masih dirias lengkap, membuat wanita itu merasa memiliki hati Roni sepenuhnya.
Bersambung—
Siska menyusuri jalanan tanpa tentu arah, tatapan matanya menyiratkan betapa dalam luka hatinya hingga dia terlunta-lunta.
Pandangan Siska lurus ke depan, tetapi pikirannya sudah sejak tadi pergi meninggalkan raganya dan berkelana ke tempat lain. Mengingat kembali momen-momen mendebarkan dirinya bersama Roni yang sekelebat menyapanya.
Tanpa terasa air mata Siska menitik lagi tanpa bisa dia cegah, ditinggalkan suami demi wanita lain benar-benar hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Ingin rasanya dia berteriak, meraung, dan mencaci apa saja yang dia jumpai di jalanan.
Namun, Siska merasa sudah tidak bertenaga rasanya. Kesuraman kini sudah menyelimuti hidupnya seperti mendung yang menggelayut di langit senja. Dia tidak mempehatikan ke mana mobil melaju membawa tubuhnya, termasuk saat tiba-tiba mobilnya berbelok tajam, wanita itu tidak mampu mengerem tepat pada waktunya.
Ciitt!
Siska terdorong ke depan hingga membentur kemudi saat sebuah mobil muncul dan hampir saja menabraknya. Untunglah pengemudi itu mau berhenti dan turun untuk mendatangi mobil Siska yang berhenti mendadak karena menabrak ruko yang tutup.
“Hei, kamu tidak apa-apa kan?” tanya suara seorang pria. “Aku kaget saat mobil kamu tiba-tiba—Siska?”
Pria itu terkejut saat Siska mendongakkan wajahnya.
“Pasha?” Siska membelalakkan matanya saat bertatapan dengan Rapashatrya, teman sekolahnya dulu.
“Kamu ...” Pandangan Pasha menyapu dari atas hingga bagian bawah gaun mewah yang dipakai Siska. “Kamu bukannya sudah nikah? Terus ... di mana suami kamu?”
Siska tercekat, dia tidak tahu harus menjawab apa. Terlalu bingung untuk menjelaskan apa yang baru saja dialaminya.
“Sis, kenapa?” tanya Pasha curiga saat melihat perubahan rona muka siska. “Apa aku salah bicara?”
Siska menggeleng perlahan.
“Tidak kok Sha, tidak ada yang salah. Aku ... baru saja diselingkuhi, begitulah.” Siska mengakui tanpa merasa sungkan karena dia tahu watak Pasha yang tidak akan menertawakan musibah yang terjadi.
“Diselingkuhi?” ulang Pasha tidak percaya. “Sebaiknya kita duduk dulu.”
Pasha membantu Siska keluar dari mobil membimbingnya untuk menepi ke halaman sebuah ruko yang tutup.
“Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Sis?” tanya Pasha meminta penjelasan. “Kok bisa kamu sudah menikah, dan ternyata diselingkuhi begini?”
Siska menarik napas panjang, dia merasakan semua kata-katanya sudah tertelan di tenggorokan sebelum sempat dia ucapkan. Sebagai gantinya air mata yang tiba-tiba mengucur deraslah yang justru mewakilinya sebagai jawaban.
Pasha tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya mampu memandangnya miris.
“Nangis saja Sis, keluarkan semua beban kamu sampai hati kamu lega.” Dia menyarankan. “Aku sama sekali tidak tahu apa yang baru saja kamu alami, tapi itu pasti sesuatu yang sangat berat.”
Siska merasakan kesedihannya semakin membanjir keluar tanpa mampu dia tahan, dan karenanya membuat tangisnya jadi semakin kencang dan menyayat hati Pasha yang menyaksikannya.
“Aku siap mendengarkan cerita kamu kapanpun kamu mau,” ujar Pasha bersimpati. “Kita ini masih bersahabat, kan?”
Siska menyeka matanya dan mulai bercerita dengan tersendat-sendat. Pasha mendengarkannya tanpa menyela, tapi beberapa kali dia harus menahan diri saat mendapati kenyataan bahwa Roni adalah suami Siska yang sah.
“Jadi dia ... memilih wanita itu?” komentar Pasha tidak percaya. “Apa boleh aku menghajar mantan teman yang dulu nikung aku?”
Siska menggelengkan kepala dan menjelaskan posisi dirinya dan Roni yang sebenarnya baik-baik saja. Hal itu membuat Pasha terpaku cukup lama sebelum akhirnya memandang Siska.
“Kamu masih muda Sia, hidup kamu tidak harus terhenti karena diselingkuhi.” Siska mengambil kartu nama dan memperlihatkannya kepada Siska. “Kamu ingat saat kita satu kelas? Kita sama-sama mau bikin bisnis dan membuka lapangan kerja untuk orang banyak.”
Siska menghambur ke dekapan Pasha tanpa bisa ditahan lagi, membuat pria itu terkejut dan bingung dalam waktu yang bersamaan. Namun, dia membiarkan bahunya menjadi sandaran Siska yang saat ini sedang rapuh hatinya.
Waktu terus berlalu hingga Siska menyudahi sedihnya dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Saat Pasha menawarkan diri untuk mengawalnya, dia tanpa ragu menolak.
Kini Siska melanjutkan perjalanannya dengan hati hampa. Meski dia tengah merasakan luka yang menganga lebar di hatinya, dia yakin bahwa pada akhirnya dia akan baik-baik saja.
Suatu saat nanti.
"Kamu keterlaluan, Siska. Kamu bikin aku dan Ririn seolah jadi manusia kejam gara-gara kejadian tadi sudah tersebar luas."
Roni menatap Siska dengan raut wajah kecewa saat mereka bertemu kembali di rumah malam harinya.
"Lebih keterlaluan siapa, aku atau kamu?" Siska bertanya balik. "Kamu bertindak dan mengambil keputusan tanpa sepengetahuan aku, minta izin dulu juga tidak ...."
Siska melempar tatapan terluka kepada Roni, lelaki yang telah menjalani biduk rumah tangga dengannya selama tiga belas tahun ini.
"Aku sudah pernah bilang sama kamu kan, seorang suami tidak membutuhkan izin istrinya kalau dia mau menikah lagi."
"Setidaknya komunikasi dulu bisa kan? "Memangnya selama kita menikah, aku tidak berhak tahu apa yang menjadi keinginan kamu?"
Roni terdiam, dia bukannya tidak mau berkomunikasi dengan Siska. Hanya saja dia tahu kalau istrinya itu tidak akan pernah setuju kalau dirinya menikah lagi.
"Kenapa kamu tidak jawab, Mas? Aku merasa dikhianati, tahu? Kamu tidak ingat apa, siapa yang menemani kamu merintis dari nol? Siapa yang setia mendampingi kamu di saat-saat susah? Aku apa dia?"
Roni menarik napas panjang. Justru karena dia tahu kalau Siska memiliki karakter yang sedikit keras, dia memilih untuk tidak memberi tahu pernikahan keduanya.
"Boleh aku tahu alasan kamu menikah lagi?" tanya Siska lemah. "Aku sehat, masih bisa melayani kamu ... Aku bahkan sudah kasih kamu tiga anak cerdas, tidak bersyukurkah kamu, Mas?
Roni terdiam dan tidak segera menjawab.
"Kalau pun suami punya kebebasan untuk menikah berkali-kali, seharusnya kamu berusaha supaya tidak menyakiti perasaan aku." Siska melanjutkan. "Bukannya diam-diam saja seperti ini, apa yang harus aku jelaskan anak-anak kita kalau mereka tahu? Aku harus bilang kalau ayah mereka punya istri lagi, begitu?"
"Mereka masih terlalu muda, Sis. Karena itu aku memilih untuk menyembunyikan pernikahan kedua ini untuk sementara ... Tapi gara-gara kejadian hari ini viral, anak-anak kita pasti akan tahu juga."
"Ya sudah, memang itu kenyataannya. Ayah mereka nikah lagi tanpa izin kan?"
Roni menarik napas.
"Kamu juga harus tahu akibat yang kamu timbulkan, Ririn jadi shock dan trauma ...."
"Aku tidak peduli, kenal juga tidak."
Roni terdiam, percuma dia menjelaskan seperti apa pun juga. Siska sedang dalam puncak emosinya, penjelasan logis seperti apa pun tidak akan mengubah yang sudah terjadi.
"Aku akan pulang besok pagi," pamit Roni.
"Terserah, tidak pulang juga tidak apa-apa."
Roni tertegun, seharusnya dia sudah memperkirakan bahwa reaksi Siska akan semarah ini. Namun, Roni tidak menduga bahwa pernikahan keduanya harus terbongkar dengan cara yang kurang mengenakkan.
"Aku akan tetap pulang, karena kamu masih istri aku."
Bersambung—