Dika bersandar pada dinding tepat disamping pintu kamar mandi. Hatinya tak tenang sejak Anara masuk ke sana. Sudah lima belas menit lamanya Anara belum keluar sama sekali.
Mereka berada di apartemen Dika. Apartemen dengan tipe studio tapi sangat mewah.
"Nara," panggil Dika.
Suhu Ac di kamar itu dingin, tapi rasanya tidak mempan bagi Dika yang hatinya tidak tenang sejak tadi. Ia memilih membuka kemeja sekolah dan menyisahkan kaos hitam dan celana abunya.
Ceklek ....
Pintu kamar mandi baru saja terbuka. Dika beranjak dari bibir ranjang dan mendatangi gadis itu. Mata Anara terlihat sembab, dan Dika sudah mengetahui apa yang sudah terjadi sekarang.
Di rahim Anara tumbuh janin miliknya.
"Nara, are you ok?" Dika mengusap lengan Anara, menuntun gadis itu duduk di bibir ranjang.
"Menurut kamu, aku harus senang saat hamil diluar nikah dengan umur yang masih dini?"
Anara menunduk, tangannya bergetar melihat kembali hasil tespack miliknya. Dika meraih benda kecil itu, menatap dua garis merah disana.
"You pregnant my child."
"Anak ini nggak boleh dilahirin," cicit Anara. "Ayah pasti hancur banget dengar kabar ini. Ayah mau lihat aku masuk universitas terbaik dan juga mengambil kedokteran."
Dika bergeming. Pikirannya saling beradu. Mendengar curahan hati Anara, membuatnya langsung teringat Papa dan Mamanya. Mereka pun akan sangat kecewa. Dika adalah penerus perusahaan keluarga, karena dia adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga Gutama.
Dan pada akhirnya, dua anak manusia itu akan mematahkan hati orang tua mereka. Mengubur masa depan mereka.
Dika meraih tangan Anara, menautkan jemari mereka. Terlihat sebulir air mata gadis tersebut yang jatuh ke tangannya.
"Gue bakal pegang tangan lo terus, Anara. Apapun itu kita hadapi sama-sama," ujar Dika.
"Nggak segampang ucapan kamu, Dika," sela Anara. Ia menatap lekat lensa hitam Ayah dari janin yang ia kandung. "Aku juga takut nggak bisa jadi orang tua yang baik buat dia."
"Secara mental dan finansial, aku belum siap," imbuh Anara.
"Usia kita masih terlalu dini. Emosi kita masih terlalu labil untuk hadapi semua ini, Andika."
Tangisan Anara kembali pecah, seandaikan Dika bisa memahami ini semua dan mau mengalah untuk masa depan mereka yang baik.
Apa yang Dika lakukan sudah benar. Sudah cukup dosa dari perzinaan tak sengaja itu, membiarkan bayi tersebut hidup adalah bentuk sebuah penebusan dosa itu sendiri. Dika mau⸺Dika mau bertanggung jawab untuk itu semua.
"Anara, lo percaya takdir?" Posisi duduk Dika sudah berubah. Ia berjongkok dihadapan Anara, membiarkan gadis itu duduk pada bibir ranjang.
Jempolnya mengusap pipi Anara dari air mata.
"Bukan tanpa sengaja kita di beri ujian sehebat ini. Semua sudah ada garisnya," ucap Dika.
***
Hari minggu. Pagi sekali Anara terbangun karena ia mengalami morning sickness. Wajah kantuknya ia basuh dengan air dari keran wastafel, lalu disusul dengan menggosok gigi.
Anara keluar dari kamar mandi. Tidak menemukan keberadaan Ayahnya. Biasanya Ayahnya akan membaca koran di kursi depan rumah, dan berceloteh persoalan berita di negeri ini.
"Anara...,"
Anara mengurungkan niatnya ketika suara Ayahnya terdengar dari halaman.
"Ayah dari mana saja?" tanya Alana.
"Tebak Ayah bawakan apa untuk kamu?"
"Apa Ayah?" Anara semakin penasaran.
"Jrenggg.... piyama teddy bear untuk anak Ayah," seru Keano.
"Ayah, lucu banget. Anara suka," imbuh Anara.
"Ayah juga belikan kamu ini. Jangan malu, ini Ayah kamu. Ayah nggak sengaja lihat-lihat meja bedak-bedakan kamu, dan laci."
Anara terdiam. Ayahnya membelikan pembalut untuknya dan juga beberapa keperluan Anara yang sudah hampir habis.
Hidup serba berkecukupan tidak membuat Anara merasa kurang. Keano selalu mendahului kepentingan dan kebahagiaan Anara.
Ting ....
Sebuah pesan masuk dari ponsel Anara, gadis itu segera pergi ke kamarnya.
Dari notifikasi itu, tercantum nama Dika. Cowok itu memanyakan apakah dirinya sudah sarapan.
Anara tidak membalasnya. Kemudian memperhatikan tingkah Ayahnya diluar sana. Keano terlihat sangat bahagia. Bagaimana bisa Anara mmberitahui kondisinya saat ini?
Berbeda dengan Anara, saat ini Dika sedang menunggu pesan darinya. Sejak tadi, ia menjadi pusat perhatian orang tua dan adiknya-Leora.
"Bang, nunggu balesan chat siapa, sih?" tanya Leora yang mulai kesal.
"Mau tau aja," balas Dika. Ia mengambil dua sendok nasi goreng dan melahapnya.
Vika menatap pergerakan anak sulungnya.
"Abang kok Mama perhatiin badannya naik banget," celetuk Vika.
Uhukk...
Dika meminum air putihnya hingga tandas. Tentu saja ia terkejut dengan celetukan itu, karena memang ia sendiri sadar bahwa sejak Anara hamil, postur tubuhnya banyak berubah.
Sejak beberapa detik yang lalu saat Vika menyinggung postur tubuhnya, Megan tak lepas menatap anak sulungnya.
"Pelan-pelan makannya, Bang," tegur Vika.
"Udah nggak ngegym lagi?" tanya Megan tiba-tiba saja.
"Hm, iya. Baru sebulan ini, Pah," jawab Dika.
Memang sudah satu bulan ini Dika tidak kembali ke rumah, bahkan di hari minggu seperti biasanya. Dika terlalu kacau.
***
Dika : Gue di depan rumah lo.
Anara terperanjat mendapat pesan singkat itu, ada Keano yang duduk disampingnya. Keano sangat serius menonton tinju siang itu.
"Ayah, Nara ke depan sebentar."
"Ok, Sayang."
Anara segera keluar, mendatangi Dika yang benar sedang menunggunya di bawah pohon jambu. Cowok itu masih duduk diatas jok motor. Kali ini Dika tidak memakai motor sport seperti biasanya, dia memakai motor matic.
"Kamu ngapain?"
"Anterin ini," jawab Dika, seraya megambil sebuah tas belanja yang besar. Ia menaruh tas itu di teras rumah. Tidak ingin membebani Anara.
"Itu semua keperluan buat lo selama dua minggu. Kalau butuh sesuatu bilang sama gue," terang Dika.
Anara melihat isi tas belanjaan tersebut. Susu Ibu hamil dengan tiga rasa, pereda mual, dan juga beberapa camilan yang aman untuk Ibu hamil. Dika juga membeli beberapa buah untuk Anara.
"Dika, ini terlalu berlebihan."
"Nggak ada yang berlebihan. Anak gue harus tumbuh dengan baik," sela Dika.
Dika sangat perhatian pada Anara, tapi itu semua hanya karena anaknya saja menurut gadis tersebut.
"Nara, besok kita harus ke dokter," ujar Dika, "Lo harus minum obat dari dokter kandungan langsung. Kita juga belum tahu 'kan usianya sekarang udah berapa minggu."
Anara terdiam.
"Nara, lo nggak budek 'kan?"
"Gimana kalau mereka banyak nanya, Dika? Kita harus menjawab apa?" Hati Anara risau, ada banyak beban di pikirannya.
"Itu semua tanggung jawab gue."
Lalu pintu rumah terbuka. Keano keluar, dan melihat dua remaja itu sedang berbincang serius.
"Ayah," lirih Anara, matanya menangkap tas belanjaan itu.
"Loh, ada tamu. Kenapa nggak disuruh masuk?"
"Ayah mau kemana sudah rapih?" tanya Anara. Ya, Keano terlihat rapih.
"Ayah mau ke rumah Pak Darwin, ada urusan. Mungkin malam baliknya," sahut Keano, tatapannya langsung tertuju pada Dika. "Tamunya dibuatkan minum, Anara. Masa dilihatin doang."
Anara tersenyum. "Iya."
"Ayah pamit ya. Kalau mau bepergian, pintu sama jendelanya dilihat lagi."
Anara dan Dika memandang kepergian Keano. Pria itu menggunakan motor honda bututnya.
"Aku nggak bisa lihat Ayah nangis," sebut Anara.
Kantin SMA Kencana di jam istirahat pertama terlihat padat, meskipun ada empat kantin di sekolah tersebut. Dari mejanya, pandangan Dika tidak lepas dari pintu kantin. Menunggu kedatangan seorang perempuan yang membawa anaknya kemana-mana.
“Dika, woi…., lo nggak makan?” sentak Diaz. Sejak tadi Kevin, Diaz, dan juga Gerald memperhatikannya.
“Lo lagi nyari siapa?” tanya Gerald.
“Nggak lagi nyari siapa-siapa,” jawabnya, namun dengan lensa hitam legam yang tidak lepas dari objeknya.
Gerald menyikut lengan Diaz, memberi kode agar Diaz mau bertanya pada Dika.
“Dik, soal minuman soda malam itu, lo minum?”
Dika menatap malas ketiga sahabatnya. “Nggak gue minum,” decaknya.
“Beneran lo nggak minum?” tanya Kevin.
“Hm.” Dika malas meladeni mereka, lalu matanya menangkap Disa dan Ketrin yang baru saja masuk kantin, tanpa Anara.
Diaz lega mendapat jawaban itu, meskipun dia belum yakin sama sekali.
“Gue cabut duluan,” pamit Dika.
Ketrin dan Disa melirik Dika yang melewati mereka begitu saja, lalu mereka duduk bersama tiga cowok tadi.
“Nggak ikut Dika?” tanya Ketrin.
“Lo nggak lihat kita lagi makan ini?”
“Akhir-akhir ini Dika beda banget, ya?” Disa menyinggung. Memang benar adanya.
“Biasa aja tuh,” sahut Diaz.
Disa melengos, sejak beberapa hari ini mereka tidak bicara. Diaz dengan tidak tau malunya mengatakan bahwa Disa menyukainya. Padahal dia sendiri yang sering mengatakan suka pada Disa.
“Lo berdua udahan marahnya. Nggak capek ngambekan terus?”
“Eh, tapi benar sih kata Disa. Dika udah jarang banget main,” kata Kevin.
“Tanya lah, teman lo,” balas Ketrin.
“Nanti, kalau gue udah muak.”
***
Langit siang itu mendung. Dika berjalan sepanjang lorong kelas dua belas. Tatapannya lurus, sesekali ia memperhatikan siswa-siswi berlari sepanjang lorong ini sambil tertawa, membaca buku di depan pintu kelas, dan juga taman sekolah, ada juga yang berbincang dengan gurunya.
Masa sekolah memang seindah itu.
Dika teringat akan Anara. Gadis itu sudah satu minggu menghilang darinya. Padahal Dika sudah mengatakan bahwa mereka harus segera check kandungannya
Langkah tegap cowok itu memasuki kelas dua belas Bahasa Satu. Disana hanya ada dua orang murid yang akhirnya keluar karena diminta olehnya.
Dika masih berdiri di depan sana, tatapannya jatuh pada seorang gadis yang juga menatapnya.
Dika menghampiri Anara. Gadis itu terlihat gelagapan menghadapi Dika.
“Boleh gue lihat isi tas lo apa aja?”
Anara menggeleng. “Jangan.”
“Kenapa jangan?” Dika mengambil tas berwarna hitam tersebut, dan dengan tegahnya ia mengeluarkan semua isi tas secara brutal.
Anara menelan ludahnya susah paya.
Dika mengambil kaleng minum sprite, cocacola, dan juga beberapa obat tanpa nama yang jatuh dari dalam tas Anara.
Cowok itu menatap Anara dan benda-benda tersebut bergantian.
Dika melempar dua kaleng tersebut ke lantai dengan kesal. Lalu menginjak minuman bersoda itu.
“Ikut gue!” desak Dika, menarik tangan Anara dengan penuh emosi.
Sepanjang lorong semua memandang mereka. Tidak pernah terlihat Dika seperti itu pada perempuan.
Dika membawa Anara ke parkiran. “Masuk!”
“Kita mau kemana?” tanya Anara ketakutan.
“Masuk, Anara!” hardik Dika, hingga akhirnya Anara masuk ke mobil.
Sudah beberapa hari ini Dika memang membawa mobil ke sekolah. Setelah memastikan Anara duduk, Dika kemudian menyusul.
Anara bisa melihat wajah Dika yang menahan amarah. Anara pikir, mereka akan pergi, namun ia salah. Mereka hanya saling diam di mobil, dengan Dika yang sudah menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Dika…,” panggil Anara takut-takut.
“Udah berapa kaleng yang lo minum?” Dika masih menutup mata dengan lengannya.
Anara tertegun. Matanya memanas, cairan bening kembali membendungi pelupuk matanya dan berhasil meluruh. Anara sudah banyak menangis.
Bersamaan dengan itu, hujan jatuh membasahi bumi, langit seolah turut merasakan apa yang sedang dirasakan Anara maupun Dika.
“Nara,” panggil Dika, posisinya masih sama.
Anara tidak menyahutinya. Anara takut pada Dika.
“Lo tahu nggak, Nara. Gue selalu minta sama Tuhan. Dosa ini milik gue, bukan milik lo. Gue selalu minta hukum gue, jangan lo.”
“Nara …,” Dika memanggilnya sekali lagi. “Gue udah jatuh cinta sama anak itu, Nara.”
Dika menatap Anara. Tatapan itu teramat sendu. Tersirat harapan dari pancaran mata itu.
Yang harus Dika lakukan sekarang adalah meyakinkan Anara bahwa semua akan baik-baik saja. Anara tidak perlu khawatir, ia akan selalu bersama mereka.
***
“Anara?”
Tangan Keano bergetar hebat tatkala mendapatkan beberapa alat tespack pada laci nakas. Lima alat tersebut dengan garis dua merah.
Keano mengatup rapat bibirnya.
Anara-nya hamil.
“Anara…,” lirih Keano. “Ayah harus apa, Anara?”
Sedangkan di tempat yang berbeda, Anara dan Dika sudah berada di ruangan bercat putih. Seorang asisten dokter kandungan baru saja memanggil nama Anara.
Sejak memasuki ruangan tersebut, Dika tak lepas menggenggam tangan gadis tersebut. Mereka pulang lebih awal, Dika membawa Anara ke dokter kandungan untuk kali pertama.
“Ayo berbaring,” kata dokter tersebut.
Anara menoleh pada Dika, dan cowok itu mengangguk. Dika dan juga dokter itu membantu Anara naik ke brankar.
“Ini pertama kali, ya, check kandungannya?” tanya dokter tersebut.
“Iya.” Dika menyahuti.
“Nggak apa-apa. Jangan tegang gitu mukanya. Saya mengerti dan saya salut kamu mau bertanggung jawab,” jawab dokter tersebut.
Dokter perempuan itu mulai memeriksa kandungan Anara. Alat pendeteksi janin sudah menjamah bagian bawah perut Alana.
“Janinnya sehat. Usianya enam minggu,” terang wanita itu.
“Kalian nggak ada niat buat gugurin, ‘kan?”
“Janin kuat seperti ini, mau gimana cara untuk menggurkannya nggak akan bisa kalau udah ditakdirkan buat kalian.”
Anara memejamkan mata. Dika masih terus memandang layar monitor. Benar kata dokter itu, janin itu mungkin sudah ditakdirkan untuk menyatukan mereka.
“Kami akan menikah,” pungkas Dika.
***
Selepas dari klinik tadi, Dika langsung mengantar Anara pulang. Tiba di rumah pukul tujuh malam. Ketika baru turun mobil, Anara melihat Ayahnya sedang duduk di teras rumah.
Ia tersenyum pada Keano.
“Ayah, Anara pulang,” sapa Anara.
Keano bergeming. Lalu beberapa saat kemudian memasuki rumah. Anara menyusul Ayahnya, sedangkan Dika yang merasa ada yang janggal pun mengurung niat untuk pulang.
“Anara sudah bosan tinggal sama Ayah?” tanya Keano. “Ayah sudah siapkan semuanya, Anara bisa langsung pergi.”
“Maksud Ayah, apa? Anara nggak ngerti. Kenapa koper ini ada diluar?”
Keano menghampirinya. Pri itu memeluk Anara sangat erat. Dia menangis.
“Anara pasti bosan, ‘kan hidup sama Ayah? Maaf Ayah nggak bisa buat Nara bahagia.”
“Ayah, Nara minta maaf.” Anara membalas pelukan Keano, menangis dalam pelukan Ayahnya.
Akhirnya Anara paham dengan semua itu. Keano sudah mengetahui kehamilannya.
“Anara bahagia sama Ayah. Anara bahagia walau semua ini sederhana,” ungkap Anara.
Dibalik pintu, Dika mendengar semua percakapan mereka. Ia memberanikan diri untuk mendatangi Keano.
“Om, saya bertanggung jawab atas kehamilan Anara. Saya adalah Ayah dari bayi yang di kandung Anara.”
Anara sangat terkejut karena Dika belum pulang. Belum lagi cowok itu membongkar semuanya disini.
“Dika…,”
Dika menghampiri mereka. Ia berlutut di hadapan Keano, meminta ampun pada Ayah Anara.
“Anara tidak salah. Pukul saya, Om. Anara nggak pernah salah disini.”
Dika mendongak, melihat wajah Keano yang enggan melihat padanya. “Bujuk Anara, Om. Bujuk Anara supaya bisa menikah dengan saya. Anara selalu mikirin Om. Saya tahu minta maaf tidak bisa mengembalikan semuanya.”
“… saya akan bertanggung jawab. Saya akan penuhi kehidupan Anara.”
***
“Apa kamu bilang, Dika?” teriak Megan di ruang kerjanya.
“Kamu menghamili anak orang?”
Megan baru saja kembali dari kantor, bahkan pria tersebut belum mengganti pakaian.
“Gampang banget kamu ngomongnya! Kamu pikir, menikah itu perkara mudah, hah?”
Megan menarik kerah kemeja sekolah Dika, menatap tajam anak sulungnya. Lalu beberapa saat kemudian pria itu menghempaskan tubuh Dika. Main fisik pun tidak ada gunanya, gadis itu sudah hamil.
“Bawah perempuan itu ke rumah. Papa ingin bertemu dengan dia.”
Megan keluar dari ruangannya, menyisahkan Vika yang masih menangis, dan juga Dika yang masih diam.
“Mah, Abang minta maaf. Abang salah,” ucap Dika.
Vika masih menangis tersedu-sedu. Tidak pernah membayangkan Andika Surya Gutama akan mengakhiri masa mudanya dengan cara seperti ini.
“Sudah berapa minggu?”
“Sudah enam minggu,” jawab Dika.