Pagi itu, Darren terbangun lebih awal dari biasanya. Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar yang gelap, mengingat percakapan semalam. Ada perasaan yang menggelora di dalam dadanya. Keputusan yang dibuat semalam, untuk tidur bersama tanpa membahas perceraian, seolah membebani pikirannya. Ia tahu bahwa perasaan itu bukanlah kebetulan, bukan sekadar keinginan untuk menyelamatkan pernikahan mereka, melainkan sebuah titik balik dalam hubungan mereka yang semakin tegang.
Ia melihat Sienna masih tertidur di sampingnya, wajahnya tenang dengan napas yang teratur. Sesuatu di dalam diri Darren membuatnya merasa iba, namun di sisi lain, ada sesuatu yang tak bisa ia hapus. Kenapa ia masih merasa cemas, meskipun semalam mereka telah berbicara? Apakah ini semua hanya perasaan sesaat, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang harus dihadapi?
Darren mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matahari pagi baru saja muncul, sinarnya menyelinap masuk melalui celah tirai. Ia tahu, apa pun yang terjadi, hubungan mereka tidak bisa terus berjalan seperti ini. Mungkin perasaan cemburu yang ia rasakan selama ini memang bukan sekadar reaksi terhadap Sienna yang menggoda orang lain, tetapi lebih kepada ketakutannya akan kehilangan.
Ketika Sienna terbangun, ia mendapati Darren sudah duduk di tepi tempat tidur, dengan pandangan kosong. "Darren?" panggilnya pelan, mencoba menarik perhatian suaminya. "Kamu sudah bangun?"
Darren hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sienna, yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Darren, merasa cemas. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Darren tidak seperti biasanya-tidak ada godaan, tidak ada candaan, hanya keheningan yang berat.
"Kenapa? Ada apa denganmu?" tanya Sienna dengan nada khawatir, mencoba mencari jawaban di mata Darren yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Darren menatapnya, kemudian menghela napas dalam-dalam. "Sienna, aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ini, tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa terus hidup dengan perasaan ragu, dengan perasaan seperti aku hanya tinggal di sampingmu tanpa ada ikatan yang nyata."
Sienna terdiam, perasaan tak nyaman semakin terasa di dadanya. "Apa maksudmu? Apa kamu merasa terjebak?" tanyanya, ada sedikit kepanikan dalam suaranya.
Darren menatap Sienna dengan serius, kali ini tanpa menahan apapun. "Aku merasa kita terjebak dalam rutinitas yang tidak jelas. Aku merasa kamu tidak benar-benar ada untukku, dan aku mulai mempertanyakan apakah kita memang benar-benar saling mencintai atau hanya terikat oleh kewajiban."
Sienna terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa suaminya akan mengungkapkan perasaan seperti itu. Ia tahu hubungan mereka bukanlah yang ideal, dan ia sering merasa terperangkap dalam situasi yang tidak diinginkan, tetapi mendengar kata-kata tersebut dari Darren, membuatnya merasa lebih jauh lagi.
"Apa yang kamu inginkan, Darren?" tanya Sienna, suaranya terdengar lemah. Ia merasa ketegangan antara mereka semakin menjadi-jadi.
Darren tidak langsung menjawab. Ia memandang Sienna dengan tatapan yang penuh penyesalan. "Aku tidak tahu, Sienna. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak bisa terus hidup dengan ketidakpastian ini. Jika kamu merasa tidak ada lagi perasaan di antara kita, kita harus berbicara tentang itu."
Sienna merasa hatinya terhimpit. Ia tahu pernikahan ini bukanlah yang diharapkannya, tetapi ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan bahwa mungkin, suaminya benar-benar ingin mengakhiri semuanya. Namun, ada satu hal yang tak bisa ia lupakan: anak yang sedang ia kandung.
"Jadi, apa yang kamu inginkan dari aku sekarang?" tanya Sienna, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Darren menatapnya lebih lama, sebelum akhirnya berdiri dan mendekat ke arah Sienna. Ia menggenggam tangannya, kali ini dengan lembut. "Aku tidak ingin mengakhirinya, Sienna. Aku hanya... aku hanya ingin kita berbicara, mencari cara untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu kita bisa melakukannya, asalkan kita saling berusaha."
Sienna menghela napas lega, namun perasaan cemasnya masih belum hilang sepenuhnya. Ia tahu bahwa meskipun mereka bisa memperbaiki keadaan, ada banyak hal yang harus dihadapi, termasuk ketidakpastian yang terus menghantui mereka.
"Darren..." Sienna memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku tahu pernikahan kita tidak sempurna, dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku hanya ingin kita bisa saling mendukung, apapun yang terjadi."
Darren mengangguk, tatapannya lembut. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Sienna. Meskipun kita banyak berbeda, aku masih ingin mencoba bertahan."
Mereka terdiam sejenak, hanya saling memandang, mencoba merasakan kembali apa yang telah hilang. Suasana di kamar itu terasa semakin dekat, namun ketegangan masih mengendap di udara.
Tiba-tiba, Sienna berbicara dengan suara pelan namun penuh tekad. "Aku tahu pernikahan ini dimulai dengan alasan yang tidak biasa, Darren. Aku tahu kita menikah karena anak kita, dan aku juga tahu bahwa kamu mungkin menganggap aku tidak pantas untukmu. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha menjadi lebih baik, untuk kita, untuk anak kita."
Darren tersenyum sedikit, lalu menggenggam tangan Sienna lebih erat. "Aku tidak pernah menganggapmu tidak pantas, Sienna. Aku hanya ingin kita berdua menjadi lebih baik. Itu saja."
Mereka berdua duduk diam, menikmati keheningan yang penuh dengan pemahaman yang belum sempurna, namun cukup untuk memberi mereka sedikit harapan. Mereka tahu perjalanan ini belum berakhir, dan mungkin akan lebih sulit dari yang mereka bayangkan. Namun, mereka sepakat untuk mencoba, bersama-sama, melewati setiap rintangan yang ada.
Dan malam itu, mereka tidur kembali dengan keheningan, namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Tidak ada lagi perasaan terjebak, tidak ada lagi rasa cemas yang membelenggu hati. Hanya ada satu hal yang pasti: mereka masih bersama, untuk sekarang.
Akhir Bab 2
Bab ini melanjutkan perkembangan hubungan Darren dan Sienna, dengan mereka mencoba untuk berkomunikasi lebih jujur dan terbuka. Ketegangan masih ada, tetapi mereka mulai memahami pentingnya untuk saling berusaha. Semoga kelanjutan ini memberikan nuansa yang lebih mendalam dalam cerita!Tentu, berikut adalah kelanjutan dari **Bab 2**, di mana ketegangan antara Darren dan Sienna semakin berkembang:
---
**Bab 2: Keputusan yang Tidak Terduga**
Pagi itu, Darren terbangun lebih awal dari biasanya. Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar yang gelap, mengingat percakapan semalam. Ada perasaan yang menggelora di dalam dadanya. Keputusan yang dibuat semalam, untuk tidur bersama tanpa membahas perceraian, seolah membebani pikirannya. Ia tahu bahwa perasaan itu bukanlah kebetulan, bukan sekadar keinginan untuk menyelamatkan pernikahan mereka, melainkan sebuah titik balik dalam hubungan mereka yang semakin tegang.
Ia melihat Sienna masih tertidur di sampingnya, wajahnya tenang dengan napas yang teratur. Sesuatu di dalam diri Darren membuatnya merasa iba, namun di sisi lain, ada sesuatu yang tak bisa ia hapus. Kenapa ia masih merasa cemas, meskipun semalam mereka telah berbicara? Apakah ini semua hanya perasaan sesaat, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang harus dihadapi?
Darren mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matahari pagi baru saja muncul, sinarnya menyelinap masuk melalui celah tirai. Ia tahu, apa pun yang terjadi, hubungan mereka tidak bisa terus berjalan seperti ini. Mungkin perasaan cemburu yang ia rasakan selama ini memang bukan sekadar reaksi terhadap Sienna yang menggoda orang lain, tetapi lebih kepada ketakutannya akan kehilangan.
Ketika Sienna terbangun, ia mendapati Darren sudah duduk di tepi tempat tidur, dengan pandangan kosong. "Darren?" panggilnya pelan, mencoba menarik perhatian suaminya. "Kamu sudah bangun?"
Darren hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sienna, yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Darren, merasa cemas. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Darren tidak seperti biasanya-tidak ada godaan, tidak ada candaan, hanya keheningan yang berat.
"Kenapa? Ada apa denganmu?" tanya Sienna dengan nada khawatir, mencoba mencari jawaban di mata Darren yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Darren menatapnya, kemudian menghela napas dalam-dalam. "Sienna, aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ini, tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa terus hidup dengan perasaan ragu, dengan perasaan seperti aku hanya tinggal di sampingmu tanpa ada ikatan yang nyata."
Sienna terdiam, perasaan tak nyaman semakin terasa di dadanya. "Apa maksudmu? Apa kamu merasa terjebak?" tanyanya, ada sedikit kepanikan dalam suaranya.
Darren menatap Sienna dengan serius, kali ini tanpa menahan apapun. "Aku merasa kita terjebak dalam rutinitas yang tidak jelas. Aku merasa kamu tidak benar-benar ada untukku, dan aku mulai mempertanyakan apakah kita memang benar-benar saling mencintai atau hanya terikat oleh kewajiban."
Sienna terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa suaminya akan mengungkapkan perasaan seperti itu. Ia tahu hubungan mereka bukanlah yang ideal, dan ia sering merasa terperangkap dalam situasi yang tidak diinginkan, tetapi mendengar kata-kata tersebut dari Darren, membuatnya merasa lebih jauh lagi.
"Apa yang kamu inginkan, Darren?" tanya Sienna, suaranya terdengar lemah. Ia merasa ketegangan antara mereka semakin menjadi-jadi.
Darren tidak langsung menjawab. Ia memandang Sienna dengan tatapan yang penuh penyesalan. "Aku tidak tahu, Sienna. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak bisa terus hidup dengan ketidakpastian ini. Jika kamu merasa tidak ada lagi perasaan di antara kita, kita harus berbicara tentang itu."
Sienna merasa hatinya terhimpit. Ia tahu pernikahan ini bukanlah yang diharapkannya, tetapi ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan bahwa mungkin, suaminya benar-benar ingin mengakhiri semuanya. Namun, ada satu hal yang tak bisa ia lupakan: anak yang sedang ia kandung.
"Jadi, apa yang kamu inginkan dari aku sekarang?" tanya Sienna, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Darren menatapnya lebih lama, sebelum akhirnya berdiri dan mendekat ke arah Sienna. Ia menggenggam tangannya, kali ini dengan lembut. "Aku tidak ingin mengakhirinya, Sienna. Aku hanya... aku hanya ingin kita berbicara, mencari cara untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu kita bisa melakukannya, asalkan kita saling berusaha."
Sienna menghela napas lega, namun perasaan cemasnya masih belum hilang sepenuhnya. Ia tahu bahwa meskipun mereka bisa memperbaiki keadaan, ada banyak hal yang harus dihadapi, termasuk ketidakpastian yang terus menghantui mereka.
"Darren..." Sienna memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku tahu pernikahan kita tidak sempurna, dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku hanya ingin kita bisa saling mendukung, apapun yang terjadi."
Darren mengangguk, tatapannya lembut. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Sienna. Meskipun kita banyak berbeda, aku masih ingin mencoba bertahan."
Mereka terdiam sejenak, hanya saling memandang, mencoba merasakan kembali apa yang telah hilang. Suasana di kamar itu terasa semakin dekat, namun ketegangan masih mengendap di udara.
Tiba-tiba, Sienna berbicara dengan suara pelan namun penuh tekad. "Aku tahu pernikahan ini dimulai dengan alasan yang tidak biasa, Darren. Aku tahu kita menikah karena anak kita, dan aku juga tahu bahwa kamu mungkin menganggap aku tidak pantas untukmu. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha menjadi lebih baik, untuk kita, untuk anak kita."
Darren tersenyum sedikit, lalu menggenggam tangan Sienna lebih erat. "Aku tidak pernah menganggapmu tidak pantas, Sienna. Aku hanya ingin kita berdua menjadi lebih baik. Itu saja."
Mereka berdua duduk diam, menikmati keheningan yang penuh dengan pemahaman yang belum sempurna, namun cukup untuk memberi mereka sedikit harapan. Mereka tahu perjalanan ini belum berakhir, dan mungkin akan lebih sulit dari yang mereka bayangkan. Namun, mereka sepakat untuk mencoba, bersama-sama, melewati setiap rintangan yang ada.
Dan malam itu, mereka tidur kembali dengan keheningan, namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Tidak ada lagi perasaan terjebak, tidak ada lagi rasa cemas yang membelenggu hati. Hanya ada satu hal yang pasti: mereka masih bersama, untuk sekarang.
Malam itu, setelah percakapan panjang yang penuh ketegangan dan pengertian, Darren dan Sienna terbaring di tempat tidur mereka, berbaring dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kamar itu terasa sunyi, namun ada semacam kedekatan yang baru terbangun di antara mereka. Sienna merasa lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Pikirannya terus menerus berputar, memikirkan kata-kata Darren dan perasaan yang ia coba sembunyikan selama ini.
Namun, meskipun keheningan itu terasa nyaman, ada perasaan tak terungkap yang masih mengganjal di hati Sienna. Apa yang sebenarnya Darren inginkan? Apakah dia benar-benar ingin melanjutkan pernikahan mereka, atau hanya merasa terjebak? Sienna menatap langit-langit kamar, berusaha mencari jawaban.
Di sisi lain, Darren juga terjaga. Ia mendengarkan suara napas lembut Sienna di sampingnya. Ia merasa bersalah, merasa seperti telah membawa Sienna ke dalam pernikahan yang penuh dengan keraguan dan ketidakpastian. Namun, di saat yang sama, ada perasaan yang tak dapat ia jelaskan. Ia tidak ingin kehilangan Sienna, meskipun kadang rasa cemburu dan ketidakpastian menguasainya.
Beberapa detik berlalu, dan akhirnya, Darren memutuskan untuk memecah keheningan itu. "Sienna," panggilnya pelan, suaranya terasa berat.
Sienna menoleh, matanya sedikit lelah, namun tetap fokus pada Darren. "Apa, Darren?" jawabnya dengan suara pelan, seolah khawatir mengganggu suasana hati suaminya.
Darren menatapnya, mencoba mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia tahan. "Aku ingin kamu tahu... aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tahu aku mungkin tidak selalu menjadi suami yang baik, tapi aku berjanji akan berusaha menjadi lebih baik. Aku... aku tidak ingin kamu merasa sendiri lagi."
Sienna terdiam sejenak, merasa ada kejujuran dalam kata-kata Darren. "Aku tahu, Darren. Aku tahu kamu berusaha. Aku hanya... kadang aku merasa kita tidak saling mengerti satu sama lain."
Darren menggenggam tangan Sienna, merasakan getaran kecil dari tangan istrinya yang seolah menahan rasa takut. "Aku tahu, dan aku juga merasa begitu. Kita terlalu sering terjebak dalam kesalahan masa lalu, dan itu membuat kita semakin jauh. Tapi aku tidak ingin terus hidup dalam ketidakpastian ini, Sienna. Aku ingin kita sama-sama menemukan jalan keluar."
Sienna menatapnya, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk. "Tapi bagaimana, Darren? Aku takut jika kita terus begini, kita akan semakin terperosok dalam jurang yang lebih dalam."
Darren menarik nafas panjang, merasa cemas. "Aku juga takut, Sienna. Tapi kita harus mencoba. Kita harus saling memberi kesempatan. Aku tahu itu tidak mudah, tetapi aku yakin kita bisa."
Sienna memejamkan mata sejenak, berpikir keras. "Kita... kita harus menemukan alasan kenapa kita saling mencintai, bukan hanya karena anak kita. Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi semata-mata kewajiban, Darren."
Darren mengangguk, menyadari apa yang dimaksudkan Sienna. "Aku juga merasa begitu, Sienna. Kita tidak bisa hanya bertahan karena anak kita. Kita harus punya alasan yang lebih kuat. Mungkin kita belum menemukan itu, tapi aku percaya kita bisa mencapainya bersama."
Suasana kamar itu semakin terasa berat, namun kali ini tidak ada lagi rasa cemas yang menguasai mereka. Ada keteguhan dalam hati mereka berdua untuk mencoba, meskipun jalan yang mereka pilih tidak mudah.
Pagi harinya, mereka berdua terbangun dengan pikiran yang lebih terbuka. Sienna merasa ada perubahan kecil dalam dirinya, meskipun ia masih merasa takut akan masa depan mereka. Darren, di sisi lain, merasa lebih tenang karena telah mengungkapkan perasaannya. Namun, di dalam hati keduanya, ketidakpastian masih menggantung, seperti bayangan yang belum sepenuhnya hilang.
Mereka duduk bersama di meja makan, sarapan yang sederhana tapi terasa lebih berharga. Sienna menatap Darren dengan mata yang penuh pengertian, sementara Darren berusaha tersenyum meskipun hatinya masih penuh dengan pertanyaan.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Sienna dengan suara lembut, mencoba mencari arah dari semua percakapan malam itu.
Darren memandangnya, berpikir sejenak sebelum menjawab. "Kita akan mulai dengan langkah kecil, Sienna. Kita akan belajar untuk saling mendengarkan, saling memahami. Tidak ada solusi instan, tapi kita bisa melakukannya perlahan."
Sienna mengangguk, merasa sedikit lega mendengar kata-kata itu. Mereka mungkin belum menemukan jawabannya, tetapi mereka berdua siap untuk memulai perjalanan baru dalam pernikahan mereka, dengan segala kesulitan yang mungkin akan mereka hadapi.
Pagi itu, suasana rumah terasa sedikit lebih cerah. Sienna duduk di tepi ranjang, matanya menatap ke luar jendela, memandangi cahaya matahari yang mulai menembus tirai. Pikirannya masih terjaga dalam kebingungannya semalam, tetapi ada rasa tenang yang mengisi hatinya, meskipun perlahan. Dia tahu pernikahan mereka tidak akan berubah dalam semalam, tetapi setidaknya ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Darren, yang telah lebih dulu bangun, sedang duduk di meja makan sambil menyeduh kopi. Ia menatap keluar jendela, pikirannya penuh dengan ketegangan yang telah lama menguasai hidupnya. Namun, setelah percakapan semalam, ia merasa ada sedikit harapan baru. Ia sadar bahwa pernikahan mereka tidak hanya soal pertahanan semata, tetapi juga soal saling mengerti dan berusaha memperbaiki kekurangan masing-masing.
"Sudah pagi," ujar Sienna pelan, sambil melangkah mendekat ke meja makan. Suaranya masih terdengar lirih, tetapi ada sedikit senyuman yang menghiasi bibirnya.
Darren menoleh, mata mereka bertemu untuk sesaat. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Sienna kali ini, meskipun dia belum bisa mengatakan dengan pasti apa itu. "Iya," jawab Darren, dengan nada lebih lembut dari biasanya. "Bagaimana perasaanmu pagi ini?"
Sienna duduk di kursi yang bersebrangan dengan Darren, menyentuh cangkir kopi yang terhidang di depannya. "Aku merasa... lebih baik, sedikit. Tapi aku masih tidak tahu apakah ini benar-benar bisa berubah," jawabnya jujur, namun dengan rasa hati yang lebih terbuka.
Darren menatapnya dengan seksama. Ia menghela napas pelan, seolah mencoba memikirkan kata-kata yang tepat. "Sienna, aku tahu ini bukan hal yang mudah untukmu. Aku juga merasakannya. Tapi aku ingin kamu tahu, aku akan berusaha lebih keras kali ini. Aku tak ingin kita terus berada di titik ini. Aku... aku ingin kita bisa lebih dari ini."
Sienna terdiam sejenak, menatap Darren dengan mata penuh kebingungan dan keraguan. Ia tahu kata-kata Darren tidak hanya sekadar janji kosong. Ada kejujuran yang ia rasakan, meskipun ia masih ragu untuk benar-benar mempercayainya.
"Apakah itu berarti kamu tidak akan pernah membicarakan perceraian lagi?" tanya Sienna, meskipun hatinya sedikit bergetar. Pertanyaan itu sudah lama terpendam dalam dirinya, dan kini ia memutuskan untuk mengungkapkannya.
Darren meresapi pertanyaan itu, merasa perasaan berat menumpuk di dadanya. "Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan perceraian menjadi pilihan. Aku tahu ini rumit, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja," jawabnya tegas, meskipun suara hatinya masih bergemuruh dengan ketidakpastian.
Sienna mengangguk, matanya tak lepas dari wajah Darren. "Aku tidak ingin kita hidup hanya karena terikat oleh anak kita," katanya dengan suara pelan. "Tapi aku ingin... aku ingin kita berusaha, Darren. Aku ingin melihat apakah kita bisa mencintai lagi."
Darren merasa sebuah perasaan hangat mengalir dalam dirinya. Mungkin, inilah saat yang tepat untuk mereka. Mungkin, mereka bisa mulai dari awal, meskipun perjalanan itu pasti penuh dengan tantangan.
"Sienna, aku berjanji, kita akan mencoba. Aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian lagi. Aku akan berusaha menjadi lebih baik, lebih baik untukmu," ucap Darren dengan penuh keyakinan.
Sienna tersenyum kecil, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan. Ia tahu bahwa perjalanan ini tak akan mudah, tetapi setidaknya ada niat yang tulus dari Darren untuk berjuang. Ia memutuskan untuk memberi kesempatan, meskipun perasaan takut akan kekecewaan masih mengganggu.
Setelah sarapan, mereka berdua memutuskan untuk keluar rumah. Mereka berjalan berdua, kali ini tanpa beban yang sebelumnya mengikat. Darren menggenggam tangan Sienna, dan meskipun terasa canggung, ada sesuatu yang berbeda. Ada perasaan saling mengerti yang mulai tumbuh di antara mereka.
Sienna menoleh ke Darren, "Darren, kamu... kamu yakin kita bisa memperbaikinya?" tanyanya, meskipun pertanyaan itu sudah terjawab dalam hatinya.
Darren menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku yakin, Sienna. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku percaya kita bisa. Kita bisa memperbaikinya, asal kita mau mencoba."
Sienna merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mungkin pernikahan mereka belum sempurna, tapi ini adalah kesempatan kedua, kesempatan untuk memperbaiki yang telah retak. Dan meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka siap untuk mencoba.