Bab 2

"Ya sudah. Nanti aku akan memberikan hadiah untuk kamu besok lusa. Bukankah besok lusa itu adalah hari pertentangan kamu sama pacar kamu?" Tanya Wulan sambil melirik ke arah Rio.

Rio yang mendengar itu tentu langsung berubah ekspresinya.

Dewi melihat ke arah Wulan.

"Betulkan? Apa aku salah?" Tanya Wulan. Ya betul sekali. Dewi memiliki kekasih. Tepatnya calon suami dan mereka akan bertunangan.

"Iya. Kaka benar besok lusa aku tunjangan sama Kevin. Ya udah Bu ayo kita pulang." Dewi langsung menarik tangan ibunya.

Tapi Lela malah melepaskan Tarakan tangan anaknya itu

"Apa sih Dewi. Ibu tuh laper. Lihat tuh Kaka kamu susah selesai masak. Jadi ayo kita makan dulu." Lela main duduk di kursi meja makan.

Wulan yang minat itu tentu menaikkan satu halisnya.

"Loh Bu. Ini makanan untuk suamiku, aku gak masak lebih." Ujar Wulan dengan wajah santainya.

"Loh kok kamu malah bilang seperti itu sih? Ini kan banyak makanannya. Kenapa ibu dan adik kamu tidak boleh makan di sini dan kamu kenapa bilang makanan ini hanya cukup untuk kamu dan suami kamu? Kamu itu kenapa sih. Hah? Biasanya juga kamu oke-oke aja kalau ibu sama adik kamu makan di sini. Ibu tuh ibu kamu ya. Meskipun Ayah kamu sudah meninggal, tapi ibu yang sudah membesarkan kamu."

"Sudahlah Bu. Ibu nggak usah ungkit-ungkit hal itu. Bukankah sudah kewajiban ibu untuk mengurus aku karena bukankah Ibu dulu yang sudah mengusik rumah tangga Ayahku?" tanya Wulan dengan berani. Mela yang mendengar itu tentu membulatkan matanya.

"Kamu kok bisa berkata kurang ajar seperti itu sama ibu. Hah? Siapa yang ngajarinnya? Kamu tahu dari mana hal itu hah?" tanya Lela dengan wajah merah.

"Sudahlah Bu. Jangan berteriak di sini, malu didengar Tetangga, lagian juga ada anakku yang sedang tidur Bu, aku tidak mau jika sampai dia bangun." ucap Mulan.

Ya Mulan memiliki anak seusia 6 tahun dan Ia baru masuk SD.

"Alah. Biarkan saja anak kamu itu bangun, lagian udah jam segini anak kamu masih tidur, jangan dibayarin kalau jadi anak tuh jam segini harusnya bangun, pergi ke mushola salat tadi ngaji, bukannya tidur." Ujar Lela dengan wajah sinisnya.

"Lalu Ibu ngapain ada di sini? Kalau misalkan Ibu menyuruh Maya untuk mengaji di mushola sedangkan ibu sendiri Ibu teriak-teriak di rumah orang. Apakah ibu nggak malu? Ibu juga sering kan memanjakan anak bungsu ibu itu, bahkan dulu aku masih ingat jika Ibu Terus saja membanding-bandingkan aku dengan anak kesayangan ibu."

Dewi yang mendengar itu tidak terima, ia langsung berjalan dan berdiri di hadapan ibunya.

"Maksud kakak apa sih? Hah? Kenapa Kakak berbicara ngelantur kayak gitu? Aku kan datang ke sini sama ibu hanya buat ngingetin Kakak, kalau aku mau minta hadiahku tapi kenapa kakak malah marah-marah? Apakah Kakak benci sama aku karena aku selalu merepotkan kakak?"

"Nggak. Aku nggak benci, kamu adalah adikku, kamu tidak salah apapun mungkin hari ini aku sedang lelah dan juga kepikiran uang yang dicopet sama Pencopet, karena itu uang untuk acara tunangan kamu juga." Dewi dan juga Lela yang mendengar itu tentu membulatkan matanya. Wulan sengaja mengatakan itu agar Dewi dan juga ibu tirinya bisa membuat acara tanpa ikut campur tangannya, karena memang seminggu yang lalu Lela dan juga Dewi memohon kepada Wulan untuk membantu mereka menyiapkan pertunangan besok lusa dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada Wulan, mulai dari dekorasi dan juga biaya yang lainnya, padahal yang akan tunangan itu adalah Dewi, tapi karena Dewi bilang jika Dewi hanya memiliki saudara Wulan sendiri, jadi Wulan mau tidak mau dan juga merasa kasian kepada adiknya, makanya Wulan mau membantunya.

"Apa? Jadi uang yang dicopet itu uang buat keperluan tunangan aku? Kok bisa gitu sih Kak? Kenapa Kakak ceroboh sekali? Kenapa uang itu Kakak bawa keluar? Uang itu kan banyak."

Rio yang mendengar itu pun ikut terkejut "jadi uang yang dicopet itu bukan hanya uang buat beli kue Dewi?"

Wulan menganggukan kepalanya dan duduk dengan santai di kursi. Dan di saat itu pintu kamar anaknya terbuka. Wulan merasa beruntung di saat suaminya dan juga adiknya melakukan hubungan itu di saat anaknya sedang masuk sekolah, entahlah mungkin saja Maya tahu tentang hubungan ayah dan juga adik ibunya sendiri, tapi sepertinya Maya tidak bisa mengungkapkan itu kepada bulan.

"Ibu Maya lapar." ujar Maya sambil berjalan ke arah Wulan, semua orang tentu langsung terdiam. Wulan tersenyum, ia merentangkan tangannya untuk memeluk anak semata wayangnya itu.

"Ayo Sayang, kamu mau lapar, ini ada ayam goreng sama Cumi Asin. Kamu suka kan makanan seperti ini? Bukankah makanan ini kesukaan kamu?" Maya langsung menganggukkan kepalanya, dia langsung duduk di samping ibunya.

Sedangkan Rio, Dewi dan juga Lela mereka harus menahan rasa amarahnya, karena mendengar ucapan Wulan, tapi mereka tidak bisa marah karena di hadapannya ada anak kecil.

"Ah udahlah Bu. Ayo kita pulang, kita makan rumah aja, nanti kita datang lagi ke sini, aku nggak mau pokoknya pertunangan aku harus berjalan dengan lancar, aku nggak mau jika ada sesuatu yang gagal dan juga berantakan." ujar Dewi sambil melirik ke arah Wulan dengan tajam.

Tapi di saat Lela dan juga Dewi hendak keluar dari rumah itu Wulan langsung memanggil mereka.

"Ibu Dewi tunggu!" ucap Wulan sambil menatap ke arah wanita yang hendak membuka pintu rumahnya

"Ada ap" tanya Lela.

"Ada yang ingin aku bicarakan Bu." Lala dan juga Dewi saling menatap.

"Aku hanya ingin bilang. Tolong tutup lagi pintunya Bu, karena ini mau Menjelang magrib. Aku takut jika ada dedemit yang masuk." Lela dan juga Dewi yang mendengar itu tentu langsung menghentakkan kakinya. Mereka langsung keluar dari rumah dan menutup pintu itu dengan keras.

Brak.

"Ibu kenapa nenek kok malah nutup pintu rumah kita dengan keras? Kan nanti kalau rusak bagaimana?" tanya Maya dengan polosnya. Wulan tersenyum ke arah anaknya.

"Tidak apa-apa sayang, pintu itu nggak mungkin rusak kalau misalkan hanya ditutup satu kali seperti itu, kamu lanjutkan saja makannya, ayo Mas kamu juga makan." ajak Wulan kepada suaminya itu. Rio hanya terdiam ia memandang makanan yang ada di depannya dengan sendu.

Karena ia memikirkan uang yang hilang, karena uang itu tidak sedikit karena uang yang akan dijadikan biaya pertunangan Dewi itu adalah hasil dari tabungan milik Rio dan juga Wulan, mungkin sekitar 50 juta, padahal tabungan itu digunakan untuk keperluan dan juga biaya sekolah Maya nanti di masa depan. Namun karena desakan Lela dan juga Dewi Wulan terpaksa mengambil tabungan itu di bank beberapa hari yang lalu. Untung saja Wulan mengetahui kebusukan mereka secepat mungkin sebelum uang itu lenyap digunakan oleh mereka.

"Kamu kenapa sih Mas kok sejak tadi diam terus? Apa kamu masih memikirkan uang yang hilang?" tanya Wulan dengan wajah biasa saja.

"Ya jelaslah Aku memikirkan uang itu, uang itu kan besar, uang itu kita kumpulkan beberapa tahun ini. Lagian kamu kenapa bisa sampai ceroboh dan hilang? Kalau sudah kayak gini siapa yang repot? Mana pertunangan Adik kamu itu sebentar lagi."

"Biarkanlah Mas, uang bisa dicari tapi keselamatan aku tidak bisa dicari, kamu lebih mementingkan uang itu daripada aku? Lagian yang mau tunangan itu Dewi kenapa harus aku yang mengeluarkan uang banyak, biarkan mereka berusaha sendiri, kalau kamu punya uang ya kamu bantu aja mereka. Toh Bukannya kamu lebih sayang kepada adik tiriku daripada kepadaku." ujar Wulan dengan wajah sinisnya. Baru kali ini Wulan menunjukkan wajah seperti itu kepada suaminya. Rio tentu langsung gelagapan. "Enggak, bukan seperti itu. Kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh, aku nggak lapar kalian lanjutkan saja makannya." beliau langsung bangkit dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Wulan tersenyum sambil menatap ke arah suaminya dan sambil mengelus kepala anaknya.

"Akan aku pastikan jika aku akan membalas semuanya, aku akan mengambil semua yang kalian ambil dariku. Aku tidak mau jika sampai kalian menikmati semua hasil dari jerih payah." Ucap Wulan karena memang semua barang-barang yang ada di rumah ibu tirinya itu adalah barang-barang yang dibeli oleh Wulan semasa Wulan bekerja dulu.

Di rumah Lela sejak tadi Dewi terus marah-marah iya bahkan membanting vas bunga yang ada di atas meja hingga membuat lele terkejut.

Brak. Pray.

"Ya ampun Dewi kamu kenapa malah membanting pas bunga ini? Ini mahal loh. Ini dibelikan Kakak kamu waktu dulu waktu dia masih kerja, kenapa malah dibanting kalau dia tahu bagaimana?"

"Ah sudahlah Bu, aku nggak mau ngambil pusing tentang vas bunga ini, kita bisa beli lagi nanti, yang aku pusing kan bagaimana caranya kita mengumpulkan uang banyak untuk melakukan pertunangan itu, pertunangan itu besok lusa loh Bu. Harusnya itu hari ini semua dekor sudah datang, tapi karena Kak Wulan yang ceroboh jadinya semuanya berantakan, nanti kalau dekor itu datang ke sini. Siapa yang bayar?" tanya Dewi dengan wajah cemasnya. Lela langsung duduk.

"Ibu juga tidak tahu, tapi coba kita paksa Wulan agar dia mau menjual barang-barangnya, agar kita tidak mengeluarkan uang sepeserpun, ibu yakin jika kita berbicara kepadanya dan juga memohon seperti kemarin kakak kamu mau memberikan uangnya kepada kita, pasti Kakak kamu masih memiliki uang simpanan, karena dulu Kakak kamu itu Gajinya besar dan juga pasti gaji dari suaminya pun selalu digunakan secukupnya saja,"

"Ibu benar kita harus membujuk Kaka." Dewi tersenyum penuh kelicikan.

Malam harinya di mana di saat Wulan dan juga Rio sudah ada di dalam kamar, Wulan sejak tadi tidak bisa tidur, ia memikirkan dan juga membayangkan permainan gila antara suami dan adiknya itu di kamar, di mana saat ini ia tempati.

Namun Wulan tiba-tiba memiliki sebuah ide.

"Kok kamar ini bau parfum Dewi ya? Perasaan Dewi enggak pernah masuk ke kamar ini deh?" tanya Wulan memancing suaminya yang sedang membelakanginya. Rio tentu langsung membulatkan matanya dan langsung melihat ke arah istrinya. "Maksud kamu apa bau parfum apa? Sejak tadi aku tidak mencium bau apapun di sini."

"Ini loh aku tahu bahwa parfum Dewi itu bagaimana dan aku tidak mungkin memakai parfum dan kamu pun sama, tapi kenapa di kamar ini begitu menyengat sekali bau parfum adikku, apa jangan-jangan dia masuk ke sini?"..

Bab 3

Pagi harinya di mana Wulan sedang sibuk pembeli sayuran untuk makan hari ini tiba-tiba Lela berdiri di sampingnya dan juga ditemani oleh Dewi. Semua orang di sana tentu langsung lihat ke arah ketiga perempuan itu.

"Selamat siang Bu Lela, sudah lama ya tidak kelihatan, ke mana saja selama ini?" Tanya tetangga Wulan.

"Oh iya, saya sibuk di rumah biasalah Ibu-ibu, ini saya ke sini buat bicara sama anak saya, karena besok adalah pertunangan anaknya, supaya kalian bisa datang besok."

"Ya ampun Ibu Lela akan mengadakan acara, yang pasti acaranya besar-besaran kan?" Lela tersenyum.

"Ia Tentu dong, acaranya besar-besaran, karena tunangan anak kesayangan saya."

"Iya meskipun pakai uang anak tirinya." celetuk Wulan, tentu saja Lela langsung melihat ke arah Wulan.

Ibu-ibu yang ada di manapun ikut melihat ke arah Wulan.

"Maksudnya gimana ya neng Wulan? Bukankah yang tunangan itu adiknya Kamu? Kenapa harus pakai uang kamu? Kamu kan saudara tirinya. Adik kamu tidak punya keluarga lagi. Pasti yang di maksud anak tirinya Buk Lela kan kamu?"

"Iya Bu, ibu dan adik saya itu memaksa saya untuk mengeluarkan uang untuk acara pertunangannya. Padahal kemarin saya baru saja kecopetan uang sebesar 60 juta pun hilang, tapi mereka malah terus mendesak saya, mungkin saja saat ini mereka pagi-pagi buta datang ke sini untuk berbicara kepada saya untuk menyediakan uang lagi, bukan begitu Bu?" tanya Wulan melihat ke arah Lela dan juga Dewi. Tentu mereka berdua langsung membulatkan matanya dan juga terlihat begitu malu.

Pasalnya selama ini Lela selalu bergaya seperti orang punya, dia memang selama ini adalah hidup dari warisan ayahnya Wulan, memang dulu ayahnya Wulan terkenal memiliki tanah banyak dan juga uang banyak, makanya tak heran jika Lela dulu berani merebut Ayah Wulan dari ibunya Wulan.

"Apa benar yang diucapkan oleh Neng Wulan Bu Lela? Kenapa Bu Lela malah melimpahkan semuanya kepada Neng Wulan? Bahkan kemarin Neng Wulan baru saja kecelakaan, tapi kenapa kalian malah mendesaknya untuk mengeluarkan uang lagi, harusnya kalian itu bersimpati kepada dia."

"Tidak, bukan seperti itu, Wulan itu mengada-ngada, kami tidak memakai uang kamu sepeserpun, untuk apa saya memakai uangnya. Toh saya selama ini banyak uang." ucap Lela sambil melirik ke arah anak tirinya dengan tajam.

"Oh benarkah Bu. Alhamdulillah kalau memang benar, aku takutnya ibu datang ke sini pagi-pagi menyuruh aku untuk menjual barang-barang dan mau minta uang kepadaku untuk keperluan besok. Karena aku sudah tidak punya bu, untuk makan saja tinggal ini, ibu tahu kan kalau aku sudah tidak bekerja di saat setelah melahirkan Maya dan juga Ibu tahu kan nafkah yang diberikan oleh Rio berapa, jadi aku rasam Aku tidak sanggup jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu lagi." Lela dan Dewi langsung mendelitkam matanya.

"Ya udahlah Bu. Ayo kita pulang, tadinya kan kita datang ke sini untuk beli sayur. Ayolah Bu kita pergi dari sini, sepertinya niat kita malah diartikan salah sama kakak, mungkin Kakak begitu benci sama aku." Dewi langsung menarik Lela dari sana.

Mulan tersenyum melihat ibu dan juga adik tirinya pergi dari sana.

"Si Wulan itu kenapa sih Hah, kok di akhir-akhir ini berani sekali sama kita dan dia kenapa tega sekali mempermalukan kita di hadapan ibu-ibu Komplek ini, ibu-ibu di komplek ini kan mulutnya tajam sekali." tanya Lela kepada anaknya.

"Entahlah Bu! aku juga tidak tahu, aku juga merasa heran kenapa Kakak bisa seperti itu, biasanya dia hanya menurut saja kepada kita, padahal kan selama ini dia bilang kalau dia akan melakukan apapun untuk kita, karena kita adalah keluarganya satu-satunya. Tapi saat ini dia begitu berubah,"

"Siang kita harus datang ke rumahnya, mumpung tidak ada suaminya, kita harus mendesak Wulan. Ibu tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun meskipun Ibu memiliki uang banyak dari warisan bapak kamu."

Saat ini di pabrik tempat Rio bekerja Rio sejak tadi hanya melamun, dia melamun karena memikirkan Wulan yang mulai curiga tentang hubungannya dan juga Dewi.

Sampai di mana tiba-tiba ia malah menjatuhkan barang yang harusnya ia packing dengan rapi, hal itu tentu saja membuat Rio terkejut dan ia langsung bangkit. Pengawas di sana tentu membulatkan matanya dan berjalan menghampirinya.

"Aduh bagaimana sih kamu? Kenapa kamu kerjanya malah melamun? Ini bagaimana? Barang ini mahal tau nggak sih? Hah. Kenapa malah dijatuhkan? Kamu mampu membayarnya tidak?' beliau hanya menundukkan kepalanya.

"Maaf Pak, saya tidak sengaja. Tadi saya memang teledor, saya janji saya akan membayarnya."

"Kamu mau bayar pakai apa? Barang ini harganya sekitar 5 juta, gaji kamu saya tidak cukup untuk membayar ini."

"Saya mohon Pak. Jangan pecat saya, saya akan membayarnya dengan dicicil, saya mampu kok pak."

"Baiklah kita nanti bicara lagi setelah kamu pulang kerja, bereskan ini dan jangan pernah kamu ceroboh lagi." dia menganggukkan kepalanya. Ia bernafas dengan lega, karena ia tidak dipecat, namun ia harus memutar otak bagaimana caranya agar cicilan untuk membayar denda di pabriknya tidak terlalu berat.

Di saat jam makan siang, Rio sudah duduk dengan tenang di warung makan yang biasa ia singgahi, namun tiba-tiba ada seseorang wanita menghampirinya dengan tersenyum manis dan juga membawakan makanan untuk Rio. Wanita itu memakai pakaian yang begitu seksi dan juga bergaya sok cantik.

Rio kembali dari kerjaannya dengan wajah kusut. Wulan biasanya langsung menyambut Rio dan menyuguhkan minuman di hadapan Rio, saat ini Wulan berpura-pura tidak peduli kepada suaminya itu.

"Wulan di mana kamu? Cepat ambilkan aku minum! Kepalaku hampir pecah memikirkan masalah yang ada. Wulan di mana kamu? Kenapa kamu jadi istri durhaka sekali, suami datang tapi tidak disambut." Teriaknya dari ruang tamu. Wulan yang sedang menidurkan anaknya tentu langsung keluar dari kamar anaknya "Ada apa sih Mas? Kenapa kamu teriak seperti itu, anak kita sedang tidur, kalau dia bangun bagaimana?"

"Biarkan saja dia bangun, lagian juga ini udah sore, kebiasaan kamu sore begini selalu di buat tidur anak kamu itu."

"Lalu harus bagaimana Mas? Memang kan harusnya Maya tidur jam segini, nanti mau magrib dia bangun. Kamu kenapa sih pulang-pulang kerja kok marah-marah?" tanya Wulan sambil menyerahkan segelas air putih di hadapan suaminya.

"Semua ini gara-gara kamu. Coba saja kamu enggak membuat masalah pasti aku akan baik-baik saja di pabrik." Wulan tentu mengurutkan kening.

"Maksud kamu apa? Kenapa kamu menyalahkanku?"

"Iya, semuanya gara-gara kamu. Karena kamu menghilangkan uang sebesar 60 juta yang selama ini kita tabung semuanya hilang sirna dan aku jadi bermasalah di pabrik, karena menjatuhkan barang dan saat ini mulai bulan ini dan seterusnya bagiku akan dipotong 10% puas kamu." Wulan yang mendengar itu langsung terdiam.

"Lah kamu kok malah nyalahin aku, kamu itu lebih penting uang itu daripada nyawa aku? Apa kamu jangan-jangan begitu tidak pedulinya kepadaku?"

tanya Wulan dengan wajah penuh tekanan

Rio langsung menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya, ia langsung bangkit dan meninggalkan Wulan begitu saja, tiba-tiba di saat Wulan hendak meletakkan gelas kotor yang tadi digunakan suaminya pintunya di ketuk tentu saja Wulan langsung berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut, ia terkejut pasalnya ia tidak mengenal orang yang ada di hadapannya saat ini.

"Maaf anda cari siapa y" tanya Wulan dengan sopan kepada laki-laki di hadapannya itu.

"Maaf apakah ini benar kediaman Mbak Wulan?"

"Iya saya sendiri. Memangnya ada apa?" 'Saya datang ke sini hanya ingin menyerahkan ini." ujar laki-laki itu sambil menyerahkan selembar kertas berwarna putih, tentu saja Wulan langsung mengurutkan keningnya dan mengambil kertas itu, "Maksudnya apa ini pak?"

"Ini, ini adalah total biaya semua keperluan pertunangan besok." Wulan tentu langsung mengurutkan keningnya. "Maksudnya apa? Kenapa malah dikasih kepada saya? Saya tidak ada campur pautnya dengan semua ini."

"Tapi Mbak Dewi tadi bilang, saya harus datang ke sini untuk meminta semua biaya ini, semua Dekor sudah kami selesaikan." Wulan menggelengkan kepalanya dan menyerahkan kertas Itu kembali kepada pemiliknya.

"Maaf Pak, saya tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Jadi tolong bawa kertas ini dan bilang kepada mereka bahwa saya tidak mau membayarnya, mereka yang akan berpesta. Kenapa saya yang harus membayarnya, pergi dari sini!" Wulan langsung menutup pintu rumahnya, ia tersenyum dan membayangkan nanti Bagaimana reaksi adik dan juga ibu tirinya itu, "Enak aja, mereka yang mau bersenang-senang dan mereka juga yang melimpahkan semuanya kepadaku, mereka tidak punya otak atau bagaimana?" Wulan langsung masuk ke dalam dan menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Sedangkan di kediaman Lela saat ini semua dekorasi sudah terpasang dan kue pun sudah tersedia, karena besok hari akan dilaksanakan pertunangan Dewi dan juga pacarnya. Dewi dan juga pacarnya sudah menjalani hubungan 1 tahun, awalnya Dewi tidak mau Jika ia memiliki ikatan yang jelas dengan pacarnya itu, tapi karena pacarnya terus mendesak akhirnya Dewi mau. Dewi tidak mau terburu-buru melangkah ke jenjang yang lebih serius karena Dewi sudah memiliki perasaan kepada kakak iparnya. Bahkan mereka sudah terlampau jauh berhubungan.

Sejak tadi Lela terus ditanya oleh teman-temannya. Kenapa anak sulungnya tidak ada di sana untuk membantu dirinya dan juga Dewi untuk menyiapkan acara tunangan esok hari? Namun Lela bilang kepada mereka semua jika Wulan tidak peduli bahkan tidak mau membantu mereka. Lela terus saja menjelek-jelekkan nama Wulan di hadapan semua orang.

Lela sengaja melakukan itu karena ia kesal karena Wulan terlebih dahulu membuat namanya jelek dihadapan ibu-ibu Komplek tempat tinggal Wulan.

Dewi yang melihat pemilik dekorasi itu kembali lagi ke rumahnya tentu langsung menghampirinya.

"Bagaimana Pak. Apakah wanita itu sudah membayar semuanya?" tanya Dewi dengan senyuman kepada pemilik dekorasi itu "Maaf Mbak, kata Mbak Wulan dia tidak mau membayar semua ini, katanya semua ini kalian yang menanggung." Dewi yang mendengar itu tentu langsung membulatkan matanya.

"Loh kok bisa? Kenapa Wulan tidak mau membayarnya? Gimana sih? Harusnya kalian tegas dan minta bayaran dari wanita itu."

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Mbak Wulan bilang kalian yang berpesta. Kenapa dia yang harus membayarnya." Dewi yang mendengar itu langsung marah, dia marah dan langsung memanggil ibunya yang sedang tersenyum dan bahkan tertawa bersama teman-temannya itu.

"Bu, Bu sini!" Teriak Dewi dengan penuh emosi. Lela langsung berpamitan kepada teman-temannya yang memang sore itu sudah ada di kediamannya.

"Ada apa sih? Kenapa kamu teriak seperti itu, malu di sini banyak orang." Tanya Lela sambil berbisik

"Ini lho Bu, tadi tukang dekorasi bilang kalau kau Wulan nggak mau bayar semua ini, kalau seperti ini kita harus bagaimana?" Lela terkejut Mendengar hal itu.

"Loh kok bisa? Kenapa bisa sih? Kenapa wanita itu tidak mau membayar semuanya, Ibu nggak mau ya kalau misalkan harus mengeluarkan uang."

"Maaf Pak. Nanti bayarnya bisa besok kan Toh acaranya juga belum dimulai, nanti besok kami akan membayarnya dengan Lunas." Ucap Dewi

"Oh kalau seperti itu. Baiklah kami permisi dulu. Semoga acaranya berjalan dengan lancar." ujar pemilik dekorasi itu dan langsung meninggalkan kedua wanita yang saat ini sedang jengkel kepada Wulan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED