Bab 2

Adelia tidak menyadari bahwa kamar ini adalah milik orang lain. Saat dia melihat bahwa hanya ada peralatan mandi pria di kamar mandi, dia hanya mengira Keluarga Bertolius sedang mencoba membuatnya kesal.

"Keluarga yang luar biasa!" gumamnya sinis.

Dia hanya harus bertahan dengan semua ini selama tiga bulan. Dia sudah membuat kesepakatan dengan kakeknya. Jika dia masih tidak memiliki perasaan terhadap Raivan setelah tinggal di sini selama tiga bulan, pertunangan mereka akan dibatalkan.

Begitu Adelia keluar dari kamar mandi, seorang pelayan membawakannya makan malam. Dia menyantap makan malam itu dan langsung tertidur.

Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat Raivan akhirnya pulang dari makan malam bisnis.

Dia sadar Adelia akan tiba di rumahnya hari ini. Kakek menyuruhnya untuk menjemput Adelia, tetapi dia menolak dengan alasan sedang banyak pekerjaan. Dia tidak tertarik pada tunangannya. Pertunangan ini cepat atau lambat akan dibatalkan.

Raivan begitu kelelahan. Setelah mandi, dia langsung menuju tempat tidur.

Dia sangat mabuk, jadi dia tidak sadar bahwa ada seorang wanita di kamarnya sampai dia berbaring di tempat tidurnya.

Tonjolan besar di bawah selimut membuatnya sedikit tertegun dan segera menyingkir. Cahaya di kamar remang-remang, jadi dia tidak bisa melihat wajah wanita muda itu dengan jelas. Sebelum Raivan dapat berpikir jernih, wanita muda itu berguling dan memeluknya, lalu bergumam, "Jangan nakal, Teddy. Kamu harus tidur sekarang."

Raivan membeku sepenuhnya.

Wanita muda ini memiliki aroma yang sangat familier, sama seperti gadis itu ….

Rasanya menenangkan saat hidung Raivan menempel di lehernya. Mungkin karena alkohol, Raivan tidak melakukan apa-apa selain membalas pelukannya. Dia kemudian tertidur dengan Adelia di dalam pelukannya.

Anehnya bagi seorang penderita insomnia seperti dirinya, Raivan tidak bangun sama sekali malam ini. Dia tidur dengan nyenyak seperti bayi yang kenyang.

Di dalam mimpi, dia melihat apa yang terjadi padanya sepuluh tahun yang lalu. Di sebuah ruangan gelap, seorang gadis memeluknya dengan erat dan berkata dengan suara yang manis, "Jangan takut. Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku akan melindungimu."

Kemudian dalam mimpinya, dia melihat dirinya mencari dan menemukan gadis itu. Mimpi itu terasa sangat nyata.

Keesokan paginya, Cynthia bangun saat fajar menyingsing. Dia berharap mendengar kabar bahwa Adelia diusir dari kamar begitu Raivan pulang, tetapi pelayan tidak mengatakan apa-apa soal itu.

'Bagaimana bisa? Apakah Kak Raivan tidak pulang tadi malam? Tapi mobilnya ada di garasi!' pikir Cynthia.

Raivan membenci siapa pun yang berada di kamarnya. Dia tidak mungkin tidur di ranjang yang sama dengan seorang wanita tak dikenal.

Dikuasai oleh rasa ingin tahu dan ketidakpastian, Cynthia mengetuk pintu kamar Raivan. "Kak Raivan! Sarapan sudah siap. Bukankah kamu ada rapat pagi ini? Kamu harus bangun sekarang!"

Suara berisik itu membangunkan dua orang yang tertidur pulas pada waktu yang bersamaan.

Adelia langsung merasakan kehangatan orang lain. Kepalanya tidak berada di atas bantal, tetapi di dada yang keras.

Dia mendongak dan bertatapan dengan mata tajam seorang pria. Dia segera duduk dan terjaga. "Siapa kamu?"

Mata Raivan menggelap. "Adelia Herva?"

Karena pria ini tahu namanya, Adelia berasumsi bahwa dia adalah tunangannya, Raivan. Namun, mengapa pria ini ada di tempat tidurnya?

Ketika Adelia baru saja akan menanyainya lagi, Raiva melanjutkan, "Kamu datang ke kamarku dan tidur di ranjangku pada hari pertamamu di rumah ini. Harus kukatakan, kamu tidak sesederhana itu!"

"Apa?"

Adelia terlihat sangat kebingungan dan berpikir, 'Dia bilang ini kamarnya? Bagaimana mungkin? Apakah semua anggota keluarga ini paranoid dan bermasalah?'

"Astaga!" seru Adelia saat pikirannya tertuju pada produk-produk pria yang dia lihat di kamar mandi kemarin. Kelihatannya Cynthia telah menipunya.

Adelia buru-buru turun dari tempat tidur dan menatap Raivan dengan dingin. "Asal tahu saja, aku tidak bermaksud untuk tidur di sini. Cynthia yang bilang ini kamarku. Pak Raivan, aku sama sekali tidak tertarik padamu."

"Selain itu, semalam saya sudah tidur. Apa Pak Raivan tidak sadar ada orang lain di tempat tidur saat pulang? Kenapa Anda memeluk saya sepanjang malam? Jangan bilang Anda naksir pada saya?"

Ekspresi malu menutupi wajah Raivan saat dia mendengar kata-kata Adelia. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia memeluknya sepanjang malam.

Sama seperti tadi malam, dia tertegun saat bertemu mata dengan Adelia.

Matanya yang indah persis seperti mata gadis itu.

Adelia menyipitkan matanya sambil tersenyum.

"Apa? Kenapa Pak Raivan menatap saya seperti itu? Apa Anda tergila-gila pada saya?"

Raivan kembali tersadar. Wajahnya pun menjadi muram. Dia memerintahkan dengan nada dingin, "Keluar! Jangan pernah masuk ke kamar ini lagi!"

Adelia mengerucutkan bibirnya. Dia lalu keluar dengan membawa barang bawaannya tanpa ragu-ragu.

Ini adalah pertemuan pertama mereka, tetapi mereka sudah tidak saling menyukai.

Cynthia, yang masih berada di depan pintu, kaget saat melihat Adelia keluar.

Adelia berkata dengan senyum ambigu, "Selamat pagi! Sesuai harapanmu, sepupumu memelukku saat tidur sepanjang malam. Kami sangat cocok. Kamu pasti senang mendengarnya."

"Omong kosong!" Wajah Cynthia memucat. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Adelia.

Menurutnya, tidak mungkin Raivan menyukai Adelia, apalagi memeluknya selama berjam-jam.

Namun, fakta bahwa mereka telah tidur bersama sepanjang malam jelas tak terbantahkan.

Bab 3

Adelia pergi meninggalkannya dengan senyum palsu.

Cynthia tidak tahan lagi melihatnya. "Dasar orang kampung! Berhenti di sana. Aku belum selesai berbicara. Biar kuberi tahu, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Kak Raivan!"

Tepat setelah dia mengatakan itu, Raivan berjalan keluar dari kamar.

"Eh … Kak Raivan …." Cynthia tergagap dan mundur ketakutan.

Wajah Raivan menggelap. Jelas sekali bahwa dia sedang marah, sehingga Cynthia tidak berani berkata apa-apa lagi.

Adelia meminta seorang pelayan untuk mengantarnya ke kamarnya. Dia membongkar barang-barangnya, lalu turun ke bawah untuk sarapan.

Erika, Cynthia dan Raivan sudah duduk di meja makan.

Begitu Adelia duduk, Erika mulai mengkritiknya, "Apakah kamu tidak pernah diajari etiket yang benar? Kamu bukan hanya bangun begitu terlambat, tapi kamu juga tidak ikut menyiapkan sarapan. Apakah kamu pikir kamu sudah menjadi nyonya rumah di sini?"

Sambil melirik ke arah Erika, Adelia berkata dengan nada datar, "Aku juga bukan pelayan di rumah ini."

Dia tidak akan pernah membuatkan sarapan untuk keluarga ini.

Meskipun Raivan tidak berkata apa-apa saat keduanya berdebat, tidak dapat disangkal bahwa dia juga tidak menyukai Adelia.

Suasana di ruang makan tegang. Mereka menyantap sarapan mereka dalam diam hampir sepanjang waktu. Setelah sarapan, Erika menyerahkan sebuah kartu bank pada Adelia.

"Kartu ini berisi sekitar sepuluh juta rupiah. Belilah pakaian yang layak untukmu sebelum pergi ke perusahaan. Ingatlah untuk berperilaku baik. Kamu tidak boleh membuat masalah untuk Raivan."

Untuk membangun hubungan di antara keduanya, Bima mengusulkan agar Adelia bekerja di perusahaan sebagai sekretaris Raivan. Kakek Adelia, Leonardo Herva, setuju dengan pengaturan itu. Adelia sendiri tidak menolak. Lagi pula, ini hanya sementara.

Pekerjaan barunya bukan masalah besar baginya, tetapi lain cerita dengan kartu bank itu! Jelas bahwa Erika memandang rendah dirinya. "Tidak usah, terima kasih," ujar Adelia dengan sikap sinis.

Sejauh yang dia lihat, tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Pakaian ini dibuat khusus untuknya, itulah sebabnya Keluarga Bertolius mengira pakaian itu bukan pakaian desainer.

Tanpa menunggu Erika atau yang lain membalas ucapannya, Adelia naik ke atas untuk bersiap-siap bekerja.

Ketika dia baru saja memasuki kamarnya, ponselnya berdering. Itu adalah pemberitahuan dari bank. Uang sejumlah seratus miliar rupiah sudah ditransfer ke rekeningnya.

Sebuah pesan suara dari Leonardo masuk ke ponsel Adelia.

"Sayang, kuharap mereka memperlakukanmu dengan baik di sana. Kakek sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Belilah apa pun yang kamu mau dan jangan lupa beri tahu Kakek jika ada yang menindasmu. Aku mencintaimu."

Adelia tersenyum dan membalas pesan itu, "Kakek, aku tidak senang di sini. Mereka semua menindasku. Ini sama sekali tidak lucu."

Leonardo segera menjawab, "Baguslah, jarang-jarang ada orang yang berani menindasmu. Sudah ya, Kakek mau pergi memancing."

Adelia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Sambil menghela napas, dia mengenakan pakaian profesional dan berjalan keluar rumah. Sopir membukakan pintu mobil untuknya. Begitu dia masuk ke dalam mobil, dia mendapati bahwa Raivan juga ada di dalam.

"Bukankah kamu bilang kamu sama sekali tidak tertarik padaku? Kalau begitu, mengapa kamu setuju untuk bekerja sebagai sekretarisku?" Suara Raivan yang menawan memiliki sedikit ironi di dalamnya. Sudut bibirnya juga membentuk sebuah seringai.

"Jangan berpikiran macam-macam hanya karena aku setuju. Aku berjanji pada kakekku untuk tinggal bersamamu selama tiga bulan. Begitu tiga bulan itu berakhir, kita akan membatalkan pertunangan," jawab Adelia sambil meliriknya dengan acuh tak acuh.

"Heh." Raivan mencibir. "Apakah kamu tidak khawatir kamu akan jatuh cinta padaku dalam tiga bulan ke depan? Kurasa kamu akan enggan untuk pergi saat itu."

Adelia merasa geli mendengar kata-katanya.

"Ternyata Pak Raivan yang dikabarkan sangat dingin begitu percaya diri. Asal tahu saja, jangankan tiga bulan, tiga tahun pun aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu, seumur hidup juga tidak akan. Berhentilah bersikap angkuh."

Meskipun Adelia tahu bahwa Raivan tampan, itu tidak berarti baginya. Raivan memiliki karakter menjijikkan yang dia benci dari pria.

Raivan memasang wajah muram mendengarnya.

Dia tidak akan pernah jatuh cinta padanya?

"Kita lihat saja nanti, Adelia. Jangan pernah lupa dengan apa yang kamu katakan barusan!"

Menurut Raivan, Adelia hanya sedang jual mahal. Mengapa dia datang ke rumahnya jika dia tidak tertarik padanya atau ingin menjadi istrinya?

Adelia tersenyum dan berkata, "Oke, akan kuingat itu. Jangan khawatir. Dalam tiga bulan, kita akan berpisah. Omong-omong, kita harus berpura-pura tidak mengenal satu sama lain di perusahaan nanti. Aku tidak ingin terlibat drama yang tidak perlu di sana."

Raivan terdiam.

Tanpa sepengetahuan Adelia, dia tidak bisa menghindari drama di tempat kerja. Berita mengenai pertunangan Raivan sudah menyebar seperti kebakaran hutan. Orang-orang juga tahu bahwa tunangannya berasal dari pedesaan.

Para karyawan Grup Bertolius sedang berdiskusi panas.

"Teman-teman, apakah kalian sudah dengar kabar terbaru? Tunangan Pak Raivan akan bekerja di sini. Dia akan menjadi sekretarisnya!"

"Astaga! Kudengar dia buruk rupa dan dia berasal dari pedesaan. Karena dia miskin, dia pasti kuliah di kampus di bawah standar. Bisakah dia memahami dokumen?"

"Hahahahahaha! Kamu benar. Menurutku, dia bahkan mungkin tidak tahu cara menggunakan komputer."

Kata-kata dari para penggosip segera menghilang begitu Raivan masuk bersama dengan Adelia. Semua orang menganga lebar saat melihat mereka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED