Bab 2

“Aku benar-benar lelah, Mas. Aku ingin tidur. Hari ini pekerjaanku banyak sekali di kantor. Aku tidak bisa melayanimu.”

“Tapi, Sarah. Kau sudah berhari-hari tidak melayaniku. Sudah hampir seminggu.”

“Aku lelah, Mas. Aku ingin istirahat. Aku ingin tidur. Kalau kamu memang sudah tidak tahan, kamu bisa pergi keluar dan cari saja wanita malam,” sahut Sarah ketus sambil menarik selimut dan membalikkan badan, memunggungi suaminya, Tomy Surya Atmaja. Sekalipun Sarah mengatakan hal demikian kasar, tapi, dia tahu jika suaminya tidak mungkin melakukannya.

Tomy menghela napas dengan kasar. Dia terpaksa menelan kekecewaan yang pahit ke dalam perut dan memaksa diri menutup mata untuk yang ke sekian lainnya dalam satu pekan ini. Sarah tidak mau melayaninya. Dan entah kapan dia akan melayaninya lagi.

Tomy Surya Atmaja. Tampan, kaya raya, lembut, dan setia. Tomy baru berusia dua puluh tujuh tahun saat itu sewaktu bertemu dengan Sarah Pradita Pratama dan terpesona dengan kecantikan serta semangat hidupnya yang luar biasa. Pembuluh katup mitral Sarah pecah. Para dokter takut untuk mengambil tindakan operasi karena memang sangat berisiko tinggi. Sebagai seorang muda yang menyukai tantangan, Tomy merasa tertantang. Dia kemudian mengambil risiko itu untuk mengoperasi Sarah.

“Aku akan berusaha dengan sangat keras sekali agar putri semata wayang Anda dapat diselamatkan dan dapat kembali sehat, Tuan William,” kata Tomy dengan penuh percaya diri kepada ayah Sarah. “Saya merasa sangat percaya diri jika saya bisa menyelamatkan putri Anda.”

“Anda dokter muda yang penuh semangat. Meski Anda bukan dokter ahli bedah, tapi Anda begitu percaya diri dengan kemampuan Anda. Saya sangat menghargai semangat dan percaya diri Anda itu. Dokter Stevan sudah mengatakan risiko terburuknya kepada saya dan dia tidak angkat tangan, tidak mau terlibat. Dokter macam apa dia itu. Penakut. Dia tidak percaya jika Sarah saya itu wanita yang tangguh. Dia tidak akan mati semudah itu. Segera lakukan operasinya, Dokter. Saya sudah tidak sabar untuk mempermalukan Dokter Stevan yang mengaku ahli bedah itu.”

Pembedahan itu memakan waktu sekitar dua setengah jam. Di luar, di ruang tunggu, William Pratama, salah satu konglomerat keturunan Cina yang cukup terkemuka di Jakarta, yang juga merupakan pemilik dari rumah sakit swasta tempat dari Tomy bekerja, duduk dengan santai sambil melipat kaki dan membaca surat kabar. Di sampingnya istrinya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang tenang dan biasa saja.

“Papah ini benar-benar keterlaluan! Sarah sedang berjuang antar hidup dan mati di dalam malah Papah duduk tenang membaca koran. Apa Papah tidak khawatir kalau terjadi hal buruk dengan Sarah?” tegur istrinya, Nesin.

“Mah, Mamah tenang saja. Sarah itu anak Papah. Dia wanita yang tangguh. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Sarah. Percaya sama Papah. Sebentar lagi operasinya selesai dan Dokter Tomy akan membawa kabar baik untuk kita,” sahut William dengan keyakinan yang mengagumkan.

Dan semua yang dikatakan olehnya pun terbukti benar. Sekitar dua puluh lima menit kemudian Tomy pun keluar dari kamar bedah dan dia tersenyum senang menghampiri William beserta istrinya. Jelas dia membawa kabar baik.

“Tuan William, operasi Nona Sarah berjalan dengan lancar dan sangat baik. Masa kritisnya juga sudah lewat. Tidak lama lagi Nona Sarah akan sadarkan diri,” ujar Tomy.

Kabar baik itu adalah awal dari segala sesuatunya. Awal dari mimpi yang indah, harapan yang manis, cinta yang hangat, kepahitan hidup dan kemeranaan dari seorang Tomy Surya Atmaja. Karier Tomy meroket setelah dia melakukan tindakan heroik mengambil risiko yang bahkan sekelas ahli bedah pun tidak mau mengambilnya. William Pratama adalah seorang pria yang berkarakter keras di balik pembawaannya yang selalu tentang dan penuh percaya diri. Semua dokter di rumah sakit itu tahu persis betapa berbahayanya William Pratama untuk karier mereka jika mereka tidak bekerja dengan sempurna. Oleh karena alasan itulah tidak ada satu orang pun dokter di sana yang mau mengambil risiko kehilangan pekerjaan bahkan nama baik dan masa depan mereka untuk melakukan pembedahan terhadap putri semata wayang William Pratama yang memiliki risiko tinggi dan hampir mustahil dilakukan.

Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Tomy Surya Atmaja adalah bahwa setelah kejadian itu dia menjadi lebih dekat lagi dengan Sarah. William Pratama, ayah Sarah pun di luar dugaan mendukung hubungan mereka secara terang-terangan. Karena Wiliam terkesan dengan keberanian serta kemampuan Tomy.

“Saya percaya jika Anda suatu hari nanti akan menjadi seorang ahli bedah yang sukses. Ya, kelak Anda pasti menjadi seorang ahli bedah yang sukses, Dokter Tomy,” kata Wiliam.

Tentu saja, berkat campur tangan Wiliam, Tomy benar bisa menjadi seorang ahli bedah di rumah sakit itu. Dan berkat campur tangan Wiliam juga Tomy akhirnya bisa menikah dengan Sarah. Yang dikemudian hari akan Tomy sesali.

Semula tidak ada yang salah dengan pernikahan itu. Segala sesuatunya berjalan dengan sangat baik. Sarah mencintainya. Dia hangat dan sangat penuh perhatian. Sarah sendiri adalah seorang direktur di salah satu perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang farmasi. Tapi, meskipun Sarah seorang wanita karier, dia dapat mengurus rumah tangganya dengan sangat baik. Kebahagiaan Tomy bertambah pada saat satu tahun usia pernikahan mereka dan Sarah mengandung. Sampai sejauh itu semuanya baik-baik saja. Sembilan bulan kemudian Sarah pun melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik yang menyempurnakan kebahagiaan rumah tangga mereka. Sampai pada titik ini pun semuanya masih baik dan tampak normal. Tak ada satu pun pertanda dari datangnya badai dan mimpi buruk yang sangat panjang. Pada saat usia Jennifer menginjak dua tahun barulah Tomy dan Sarah merasa ada yang salah dengan putri pertama mereka, Jenifer Pradita Atmaja. Dia tidak pernah mengatakan sepatah kata pun. Dia juga tidak merespons jika diajak berkomunikasi. Jenifer Pradita Atmaja ternyata mengidap disabilitas. Dia kehilangan fungsi pendengaran dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Kenyataan pahit yang terlambat disadari itu adalah awal dari ketidakharmonisan keluarga Tomy Surya Atmaja.

“Semua ini salahmu, Tomy. Aku sudah mengatakan padamu jika aku belum siap untuk memiliki anak waktu itu dan aku ingin menggugurkan kandunganku. Tapi, kau memaksa untuk mempertahankan anak itu. Lihat sekarang, dia tuna rungu. Dia akan membawa aib untuk keluarga kita.” Sarah terus menyalahkan suaminya.

“Jenifer tidak memiliki salah apa pun, Sarah. Dia lahir dengan keadaan seperti sekarang ini juga bukan kemauannya. Semua itu kehendak Tuhan. Kau seharusnya mengerti itu dan tidak menyalahkan siapa pun. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah masa depan Jenifer agar dia dapat—”

“Aku tidak peduli dengan masa depan Jenifer!” potong Sarah. “Anak itu kutukan bagiku, dia akan membuatku malu dan kehilangan harga diri karena dia cacat. Dan mulai sekarang aku tidak mau ambil pusing untuk merawatnya. Dia bukan anakku lagi. Aku tidak mau memiliki anak yang cacat. Aku akan mengirimnya ke panti asuhan yang jauh di luar Jakarta.”

“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Sarah? Kau tidak bisa melakukan hal itu, Jenifer adalah darah dagingmu sendiri. Apa pun kondisinya, sampai kapan pun, dia tetap anak kandungmu. Anak yang lahir dari rahimmu. Kau tidak bisa berlaku sekejam itu kepada Jenifer yang tak tahu apa pun,” sahut Tomy.

“Kalau begitu, mulai saat ini juga, kau yang mengurus Jenifer sepenuhnya. Terserah kau. Kau mau mencari pengasuh anak atau kau yang mengasuhnya sendiri. Aku tidak peduli dan tidak akan peduli!”

Pertengkaran itu benar-benar menghancurkan hati Tomy Surya Atmaja. Dia sama sekali tidak menyangka jika Sarah bisa berlaku sekejam itu kepada Jenifer. Darah dagingnya sendiri. Dan kekecewaan Tomy pun semakin bertambah lebar sebab sejak saat itu sikap Sarah kepadanya berubah sepenuhnya. Rumah tangga yang pada awalnya begitu manis, hangat, dan penuh kebahagiaan seketika berubah menjadi neraka yang tak pernah Tomy bayangkan. Sarah menganggap Tomy seperti orang asing. Dan yang paling menyakitkan Tomy adalah Sarah tidak pernah peduli sedikit pun terhadap Jenifer.

“Kesetiaan yang tidak dihargai adalah sebuah kebodohan. Orang yang tidak menghormati pasangannya pantas untuk diduakan.” Kata-kata Richard kembali terngiang-ngiang di kepala Tomy. “Kau berhak bahagia, Tomy. Jenifer juga. Jika kau tidak bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari istrimu, kenapa kau tidak mencarinya di luar, dengan perempuan lain? Kau masih muda, tampan, dan menarik. Aku yakin masih banyak wanita di luar sana yang mau denganmu.”

Apa yang dikatakan Richard jika dipikir-pikir memang ada benarnya juga. Untuk apa bertahan jika hanya menyakitkan hati. Itu adalah sebuah kebodohan. Semua orang berhak untuk hidup bahagia. Ya, semua orang berhak untuk hidup bahagia ....

Bab 3

Pagi itu langit Jakarta suram. Matahari menggeliat dengan malas di balik awan mendung yang bergulung-gulung naik. Pukul tujuh tiga puluh lima. Sonya kembali memeriksa tasnya untuk memastikan jika dia tidak lupa membawa ponsel genggam dan buku komik detektif yang selalu dibawanya untuk menemani dia saat waktu istirahat tiba. Tapi, pagi ini Sonya tidak akan pergi ke sekolah tempat dia mengajar para siswa pengidap tuna rungu dan tuna wicara. Kemarin siang dia telah membuat janji temu dengan Dokter Sisca Melvina di sebuah kafe yang lokasinya sekitar dua puluh lima menit dari kediaman Sonya sekitar pukul setengah sembilan. Tapi, untuk menghindari kemacetan dan terlambat, Sonya memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meskipun jarak perjalanan hanya memerlukan sekitar dua puluh lima menit.

Setelah memastikan semua barang yang dia butuhkan di dalam tas, Sonya pun mematikan pendingin ruangan, mengambil kunci mobil dan turun ke lantai bawah. Tepat pada saat Sonya selesai mengunci pintu rumahnya ponsel genggam Sonya berdering nyaring di dalam tas. Ternyata Dokter Sischa yang menelepon. Dengan perasaan sedikit khawatir Sonya pun menjawab panggilan itu.

“Halo, Dokter Sisca.”

“Halo, Nona Sonya. Anda di mana? Apakah Anda masih di rumah?” sahut Dokter Sisca. Latar belakang panggilan itu terdengar suara bising kendaraan.

“Saya masih di rumah, Dokter. Saya sudah mau berangkat,” jawab Sonya. “Omong-omong, ada apa, ya, Dokter? Apa Dokter Sisca mendadak ada acara dan tidak bisa datang ke tempat janjian?” tanya Sonya dengan antusias.

“Oh, tidak. Sama sekali bukan itu. Ini adalah satu hal yang sangat penting sekali. Besar artinya untuk saya. Tidak mungkin saya membatalkan janji temu dengan Anda, Nona Sonya. Tapi, memang, sepertinya kita tidak bisa bertemu di kafe yang telah kita sepakati sebelumnya. Sebab saya tiba-tiba ada urusan mendadak. Saat ini saya dalam perjalanan ke rumah Anda. Saya akan mampir sebelum saya pergi ke Bogor untuk satu urusan. Karena itulah saya menelepon Anda, Nona Sonya. Saya harap Anda bersedia menunggu saya,” ujar Dokter Sonya menjelaskan.

“Tentu saja, Dokter. Tentu saja. Saya justru merasa sangat terhormat sekali jika Anda ingin mampir ke rumah saya. Saya akan menunggu kedatangan Anda di rumah saya,” kata Sonya.

“Tapi saya mungkin sedikit terlambat. Jalanannya padat sekali.”

“Sama sekali tidak masalah, Dokter Sisca. Jakarta memang selalu macet. Apalagi ini adalah hari Senin dan masih jam pergi kerja. Saya dapat mengerti.”

“Anda baik sekali, Nona Sonya. Pantas saja Dokter Vena merekomendasikan Anda kepada saya. Kalau begitu, sampai bertemu di rumah Anda.”

Panggilan telepon terputus.

“Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Dokter Sisca? sepertinya ini penting dan mendesak sekali,” gumam Sonya sambil merogoh kunci rumahnya di dalam tas lalu memasukkan anak kunci ke lubangnya. Dia memutar anak kunci sampai terdengar bunyi klik dua kali lalu membuka pintu ke dalam dan masuk. “Sambil menunggu Dokter Sisca sebaiknya aku memasak untuk sarapan.”

Sekitar kurang lebih lima puluh lima menit kemudian Dokter Sisca pun menelepon lagi, memberitahu jika dia sudah hampir sampai rumah Sonya. Akan tetapi, dia terjebak macet total di sebuah persimpangan yang menuju ke komplek perumahan Kencana Citra. Sonya menenangkan Dokter Sisca jika tidak apa-apa dia menunggu. Tidak lupa dia juga menambahkan jika di jalan itu memang langganan macet parah. Karena merupakan jalan utama menuju perkantoran elite di kawasan sekitar. Setelah panggilan itu ditutup, Sonya yang sudah terbakar rasa penasaran akhirnya menelepon Dokter Vena. Dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh Dokter Sisca dan mengapa dia seperti itu. Namun, meski sudah berkali-kali menelepon Dokter Vena, panggilan telepon Sonya tidak mendapat jawaban. Dokter Vena mungkin sedang mengurus pasiennya atau sedang ada keperluan lain yang tidak memungkinkan untuk menjawab telepon, batin Sonya sambil meletakan ponsel genggamnya di atas meja dan mengambil komik di dalam tasnya sambil menunggu Dokter Sisca sampai.

Dokter Vena Melisa merupakan teman lama dari mendiang Sonya Anastasya. Hubungan yang terjalin pasca kematian ibunya kian dekat karena Sonya menjadi guru tutor bagi putri sulung Dokter Vena, Rane Aurora, yang seorang penderita tunu rungu.

“Aku sangat puas sekali dengan kerjamu, Sonya. Berkat kau dan ketelatenanmu itu sekarang Rena menjadi jauh percaya diri lagi dan tidak minder seperti sebelumnya. Aku benar-benar berhutang budi banyak kepadamu, Sonya. Rasanya rasa terima kasih juga tidak cukup untukmu,” Dokter Vena memuji Sonya.

“Anda terlalu berlebihan, Dokter. Sungguh. Saya hanya berusaha melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya sebaik mungkin. Mending ibu saya selalu berkata bahwa apa pun pekerjaan kita, harus dilakukan dengan sepenuh hati,” jawab Sonya sambil tersipu dan tersenyum malu.

“Kau benar-benar gadis berhati malaikat, Sonya. Aku merasa bangga sekali padamu. Aku yakin sekali Elshie dan Robert juga bangga melihatmu di surga.”

Sejak saat itu Sonya memang mendapat klien dari Dokter Vena. Beberapa orang teman dekat Dokter Vena atau pasiennya yang ingin mencari tutor untuk pengidap tuna rungu atau tuna wicara, selalu diberi rekomendasi Sonya. Dengan nama baiknya sebagai seorang dokter ahli bedah, maka mereka tidak akan merasa ragu sedikit pun dengan Sonya.

“Sebenarnya apa kepentingan dari Dokter Sisca? Sejauh yang aku tahu Dokter Sisca sama sekali tidak memiliki anak yang memiliki kelainan,” gumam Sonya sambil meletakan ponsel genggamnya dengan putus asa karena Dokter Vena tidak menjawab panggilannya.

Sonya menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Tapi, baru saja beberapa saat dia menyandarkan kepala, terdengar suara mobil berdecit berhenti di luar. Di susul suara derap langkah kaki. Itu pasti Dokter Sisca telah sampai. Benar saja. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. Sonya pun bergegas pergi membukakan pintu.

“Selamat pagi, Nona Sonya. Oh, saya minta maaf sekali karena membuat Anda lama menunggu,” kata Dokter Sisca begitu Sonya membukakan pintu. “Situasinya mendadak sekali. Ini soal—”

“Maaf, Dokter Sisca. Tapi, sebaiknya kita masuk dan duduk dulu. Setelah itu kita bicarakan segala sesuatunya,” potong Sonya. “Mari silakan masuk, Dokter. Silakan duduk.”

Perempuan berusia kurang lebih empat puluh sembilan tahun yang memiliki postur tubuh kecil, kurus, dan rambutnya mulai kelabu itu tersipu malu saat Sonya membimbangnya ke ruang tamu. “Terima kasih,” jawab Dokter Sisca setelah dia duduk. “Sebenarnya, Nona Sonya. Saya benar-benar tidak punya waktu. Hanya saja karena ini adalah sebuah urusan yang sangat penting sekali maka saya harus bicara sendiri dengan Anda. Baiklah, saya tidak ingin banyak bicara. Langsung saja pada intinya. Kemarin siang saya bertemu dengan Dokter Vena dan saya meminta rekomendasi untuk tutor tuna rungu dan tuna wicara yang pernah menjadi guru untuk putrinya. Lalu Dokter Vena merekomendasikan Anda, Nona Sonya.”

Sonya tersenyum. Itu adalah kata-kata yang sering sekali dia dengar akhir-akhir ini dan semuanya meluncur dengan tanpa keraguan dari para calon kliennya. Tapi meskipun begitu Sonya tidak menyela kata-kata Dokter Sisca, hanya mengangguk kecil dan tersenyum sebagai isyarat jika dia sudah dapat menebak apa maksud kedatangan dari Dokter Sisca dan akan ke mana arah pembicaraan mereka.

Dokter Sonya kembali melanjutkan, “Jadi begini, Nona Sonya, saya memiliki seorang keponakan yang memiliki masalah dalam pendengaran dan dalam berbicara. Nama anak gadis itu adalah Jenifer Pradita Atmaja. Dia anak berusia sekitar enam tahun yang sangat memilukan. Ayahnya adalah seorang dokter ahli bedah yang sangat sibuk sekali. Sedangkan ibunya, setelah dia tahu anak itu mengalami tuli parsial, dia mencampakkan anak itu begitu saja. Bahkan benar-benar tidak peduli. Selama ini Jenifer diasuh oleh pengasuh anak yang dipekerjakan secara pribadi oleh Dokter Tomy di rumahnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia, maka Jenifer pun harus sekolah dan mulai belajar hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Karena itulah, Nona Sonya, saya datang kepada Anda. Tentu saja atas rekomendasi dari Dokter Vena sahabat baik saya. Saya yakin setelah saya menjelaskan semuanya dengan panjang lebar ini Anda pasti mengerti maksud kedatangannya. Saya mohon, Nona Sonya. Anda bersedia untuk menjadi tutor pribadi bagi Jenifer. Dia sebenarnya anak gadis yang sangat baik dan manis sekali. Hanya saja, ya, nasibnya benar-benar sangat tidak beruntung. Ayahnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk Jeni. Tapi, tetap saja itu belum cukup.”

Sonya benar-benar tersentuh dengan cerita Dokter Sisca. Selama ini Sonya selalu berpikir jika rasanya hampir mustahil ada seorang ibu yang tega menyakiti anaknya sendiri, mencampakkannya begitu saja. Rasanya benar-benar tidak masuk akal. Sebab bagaimanapun juga anak itu darah dagingnya. Apalagi anak-anak yang lahir dengan kebutuhan khusus. Seharusnya mereka mendapat perhatian yang lebih besar. Agar mereka dapat hidup seperti orang-orang pada umumnya yang tidak kurang sesuatu hal apa pun. Dan terutama agar mereka memiliki kepercayaan diri.

“Saya merasa sangat tersentuh sekali dengan cerita Anda, Dokter. Memang, menerima kenyataan memiliki anak dengan kebutuhan khusus itu kadang-kadang sulit. Maksud saya, semua orang tua pasti ingin memiliki anak yang tak kurang satu apa pun. Akan tetapi, semua itu juga bukan kehendak si anak. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika haru memilih, saya yakin sekali jika si anak pasti akan lebih memilih tidak dilahirkan ke dunia,” kata Sonya dengan penuh emosi. Saat dia menyadari jika dia sudah sedikit berlebihan karena terbawa suasana hatinya, Sonya pun berusaha memperbaiki sikap dengan tersenyum malu dan kembali berkata, “Saya minta maaf, Dokter. Saya sudah sedikit berlebihan. Saya terbawa emosi. Saya menerima tawaran pekerjaan yang Anda tawarkan itu dan saya berjanji kepada Anda jika saya tidak akan mengecewakan Anda.”

“Saya tahu Anda pasti tidak akan mengecewakan saya, Nona Sonya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang harus Anda ketahui. Yaitu, pengasuh anak yang biasa mengasuh Jenifer saat ini sedang sakit. Dia akan menjalani operasi besok siang karena usus buntu. Jadi, untuk sementara waktu, Anda harus tinggal bersama dengan keluarga Dokter Tomy. Saya harap ini bukan masalah untuk Anda, Nona Sonya. Saya harap Anda tidak akan keberatan tinggal sementara dengan keluarga Dokter Tomy. Sampai dengan pengasuh Jenifer sembuh dari sakitnya,” kata Dokter Sisca menjelaskan situasinya lebih detail lagi.

Tanpa pikir panjang Sonya pun langsung menyetujuinya. Dia sama sekali tidak tahu jika profesionalitas dan perasaan kasih sayangnya yang begitu besar kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus akan membawa dirinya ke dalam satu keadaan yang tak pernah dia bayangkan, bahkan dalam mimpi paling liar sekalipun.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED