Bab 2

Beberapa menit setelah diskusi antar keluarga, akhirnya pernikahan tetap dilanjutkan. Walaupun awalnya Aletta juga menolak jika harus menikah dengan Bian, namun karena bujukan dari kedua orang tuannya akhirnya Aletta memutuskan untuk mengikuti semua perkataan mereka.

Sangat berat bagi Aletta menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dia cintai, tidak ada yang mengerti dengan perasaannya kala itu. Hati Aletta seolah menjadi mainan bagi mereka, dia sangat kecewa dengan Aldo yang tiba tiba menghilang entah kemana.

"Sayang, sekarang kamu sudah resmi menjadi istri Bian," ucap Monica sambil memeluknya dengan erat.

Setelah prosesi pernikahan sudah selesai, Aletta justru menangis dalam pelukan ibunya. Mungkin orang lain pikir Aletta menangis karena bahagia, tetapi kenyataannya justru dia menangis karena kesedihan. Pernikahan yang seharusnya menjadikan sebuah kebahagiaan, justru dalam pernikahannya hanya ada air mata kesedihan.

"Moms! Apa pernikahanku akan baik-baik saja nanti? Tidak ada cinta diantara aku dan Bian," tanya Aletta dengan bahu bergetar, isakan tangis kembali terdengar.

Monica menangkup kedua pipi Aletta, mengecup kening putrinya dengan sayang. "Kalian akan baik-baik saja, bunda yakin Bian anak yang baik. Dia kan kakak Aldo, dan kamu juga kenal sama dia," jawabnya tersenyum simpul.

Bian tersenyum menatap Aletta, dia tidak menyangka akan menikah secara mendadak dengan kekasih adiknya. Apa boleh buat?

"Moms, boleh saya bicara sebentar dengan Aletta?" tanya Bian sopan dengan senyuman manis di wajahnya.

"Boleh, kalian ngobrol saja dulu ya. Aku mau menemui para tamu dulu," jawab Monica menepuk bahu Bian sebelum pergi dari sana, dia sedikit tenang walaupun Bian yang menikah dengan Aletta. Karena Bian terkenal baik, walaupun terkadang dingin dan cuek.

Setelah Monica pergi, Bian menarik tangan Aletta dengan lembut. "Ikut saya sebentar," ucapnya menarik pergelangan tangan Aletta.

Aletta memberontak tidak terima dengan perlakuan Bian, berusaha melepaskan cengkeram tangan Bian. "Lepaskan aku! Kenapa kamu menerima pernikahan ini? Kenapa tidak menolah?" ucapnya kesal.

Bian berhenti setelah membawa Aletta menjauh dari keluarganya, melepaskan cengkeraman tangannya lalu menjawab, "Memangnya kamu bisa menolak perintah mereka? Kamu tidak dengar papa akan menghancurkan perusahaan ku jika aku tidak mau?"

"Tapi aku tidak mau menikah denganmu, Bian," sahut Aletta memelas.

Bian menghela napas panjang. "Aku tau, maaf tapi aku benar-benar tidak bisa menolak," ucapnya menatap Aletta.

Sementara Aletta memejamkan mata lalu berkata, "Tidak apa-apa, kita akan segera bercerai."

"Bercerai?" Bian menaikkan alisnya sebelah.

Aletta mengangguk, dia memutuskan untuk cerai setelah beberapa bulan menikah dengan Bian. Sungguh Aletta masih mengharapkan Aldo kembali.

"Baiklah, tapi aku punya satu syarat."

"Apa?" tanya Aletta mengerutkan keningnya.

"Kita akan bercerai setelah Aldo kembali, sebelum itu..." Bian menghentikan perkataannya sejenak, dia menggenggam tangan Aletta lalu kembali berkata, "tolong beri kesempatan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku."

Seketika Aletta diam, dia tidak mengerti kenapa Bian ingin membuat dirinya jatuh cinta? Aletta melepaskan genggaman tangan Bian. "Oke, terserah kamu. Tapi intinya aku tidak ingin selamanya bersama kamu, Bian. Karena aku tidak mencintaimu." ucapnya tersenyum tipis, kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Bian.

"Kita lihat saja, apa Aldo akan kembali?" ucap Bian sambil menatap Aletta yang perlahan menjauh.

***

Beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan jam 23.00 malam. Acara pernikahan baru saja selesai, seluruh tamu undangan sudah pulang kerumahnya masing masing. Hanya tersisa keluarga dari dua mempelai saja yang sedang berkumpul.

"Bian! Apa setelah ini kamu akan membawa Aletta ke rumah kamu sendiri atau ke rumah daddy and mommy?" tanya Ayunda-ibu Bian yang duduk di samping Aletta.

"Kita langsung ke rumahku saja," jawab Bian sambil menyeruput secangkir kopi dengan santai.

Sementara Aletta hanya bisa diam, pikirannya hanya tertuju pada Aldo. Tidak tau kemana kekasihnya itu pergi, hati Aletta seakan mati rasa. Dia belum bisa menerima jika Aldo meninggalkannya tanpa sebab.

"Aletta? Kamu gimana?" tanya Ayunda beralih menatap Aletta. Sementara Aletta tetap diam, tidak ada sahutan darinya.

"Aletta?" panggil Monica menepuk bahu sang putri.

Aletta tersentak, lamunannya buyar seketika, dia menoleh menatap Monica dengan raut muka bingung. "Ada apa, Momy?" tanyanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Monica tersenyum simpul, dia sangat tau bagaimana perasaan Aletta saat ini. Tetapi semuanya sudah terlanjur bukan? Tidak ada yang bisa diulang kembali. "Bian mau mengajak kamu tinggal di rumahnya sendiri, sayang," jawabnya membelai lembut pucuk kepala Aletta.

Aletta mengangguk pelan, memaksakan senyumannya. "I-iya, aku setuju."

Setelah percakapan singkat itu, keadaan kembali hening. Sebelum Adnan kembali membuka suaranya. "Bian! Sepertinya Aletta sudah lelah, kalian pulang saja duluan ya," ucap Adnan.

Bian mengangguk dan beranjak menghampiri Aletta, keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar. Diikuti keluarganya dari belakang. Sesampainya di depan, Aletta dan Bian berpamitan. Aletta kembali menitihkan air matanya saat memeluk sang ibu, demi Ayah dan Ibunya dia mau mengorbankan hatinya dan menikah dengan Bian.

"Kita pamit," ucap Bian singkat sebelum masuk kedalam mobil, dia memang tipe pria yang dingin dan tidak banyak bicara.

"Hati-hati ya!"

***

Aletta tidak mengharapkan apapun dari pernikahannya bersama Bian. Apa yang akan terjadi selanjutnya, Aletta hanya bisa pasrah dan menerima Bian sebagai suaminya. Walaupun melupakan Aldo sangat sulit untuknya, apalagi Aldo belum di temukan. Seperti saat ini, Aletta pasrah diperintah oleh Bian untuk menurunkan barang-barang milik Bian yang ada di bagasi. Seperti keputusan Bian tadi, dia memboyong Aletta ke rumah pribadi miliknya.

Kurang lebih lima belas menit mereka sampai ke rumah Bian, rumahnya tidak terlalu besar namun terlihat minimalis dan elegan masih terkesan mewah pada rumah itu. Bian keluar dari mobil kemudian membuka pintu Aletta dan mempersilahkan wanita itu keluar. Tidak lupa Bian membawa semua koper itu sendiri ke dalam.

"Sini aku bantu!" Aletta hendak menarik satu koper tetapi Bian menolaknya.

Bian tersenyum tipis, menepuk kepala Aletta pelan sambil berkata, "Tidak usah, biar aku saja. Kamu pasti lelah."

Hal itu membuat Aletta diam, perlakuan Bian membuatnya teringat kembali dengan Aldo yang sering menepuk kepalanya. Namun Aletta hanya bisa tersenyum, mengingat Aldo pergi tanpa memberinya kabar.

"Nona Aletta? Kamu istri tuan Bian ya?" tanya seseorang wanita tua yang baru saja menghampiri Aletta.

Aletta hanya mengangguk canggung sebagai jawaban, dia tidak tau harus bicara apa lagi. Karena tempat itu sangat asing dimatanya.

"Saya Diah, asisten rumah tangga disini," ucapnya tersenyum, mengambil alih koper yang ada di tangan Bian sambil berkata, "Biar saya saja, tuan Bian."

"Tidak usah, biar saya saja. Kamu ajak istri saya ke dalam saja," ucap Bian ramah, dia kemudian melangkah pergi menuju kamarnya dengan dua koper di tangannya.

"Ayo, silahkan." Diah mempersilahkan Aletta masuk ke dalam. Mereka berdua masuk ke dalam, Diah pun menunjukkan letak beberapa ruangan pada Aletta. Tidak lupa setelah itu, Diah mengantar Aletta ke lantai atas lebih tepatnya ke kamar Bian.

"Ini kamar tuan Bian, dan akan jadi kamar nona Aletta juga," ucap Diah tersenyum.

Aletta hanya bisa tersenyum karena tidak tau harus bereaksi seperti apa, dia hanya bingung bagaimana bisa dia berada dalam satu kamar bersama Bian?

"Iya, makasih ya," sahut Aletta ramah, setelah itu Diah turun ke dapur meninggalkan Aletta yang masih berada di depan pintu.

Tidak lama kemudian Aletta membuka knop pintu kamar Bian pelan, pintu terbuka menampilkan kamar bernuansa putih abu-abu. Mata Aletta menyapu seluruh ruangan, dia tidak menemukan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Tetapi suara gemercik air terdengar dari kamar mandi, Aletta yakin Bian sedang mandi sekarang.

Aletta bernapas lega, kemudian dia melangkah masuk dengan menyeret kedua koper ditangannya. Membawanya menuju lemari kaca yang terletak di sudut ruangan, Aletta duduk di lantai mulai membongkar koper itu dan meletakkan pakaian serta barang-barang sesuai pada tempatnya.

"Huft.. Menyebalkan! Seharusnya aku menikah dengan Aldo, tapi justru sekarang aku harus menikah dengan Bian sih." Aletta menggerutu tanpa henti, tidak dirasa air matanya menetes tanpa izin. Mengingat Aldo menghilang begitu saja, membuat Aletta merasa sedih.

Ceklekk...

Mendengar suara pintu terbuka, Aletta reflek menoleh menatap sumber suara. Matanya seketika melotot saat melihat Bian keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sungguh perut sispex Bian membuat Aletta menelan ludahnya dengan susah payah.

"Astaga!" pekik Aletta sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.

Bab 3

"Astaga!" pekik Aletta sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.

"Kenapa kamu menutup mata?" tanya Bian dengan tatapan tidak berdosa.

Apakah Bian gila? Tentu saja Aletta belum siap jika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, walaupun sekarang Bian sudah menjadi suaminya tapi rasanya Aletta masih tidak menyangka bisa menikah dengan Bian.

"Nggak," jawabnya singkat memalingkan wajah.

Bian terkekeh kecil, melangkah mendekati Aletta dengan senyuman yang sulit diartikan. Matanya menelisik tubuh Aletta dari atas sampai bawah.

Sementara Aletta tidak peduli dengan Bian, dia terus memasukkan pakaian ke dalam almari. Aletta sempat kesulitan saat meletakkan pakaian di rak atas, namun tanpa disangka seseorang berdiri tepat di belakang Aletta. Membantunya meletakkan pakaian itu, siapa lagi jika bukan Bian.

Jantung Aletta benar-benar berdetak lebih cepat, bagaimana tidak. Posisi keduanya sangat dekat sekarang, dada bidang Bian menempel pada punggung Aletta.

"Kalau butuh bantuan bilang," bisik Bian tepat di telinga Aletta.

Aletta tersentak, bergidik karena napas Bian menerpa lehernya. Dia segera berbalik dan mendorong pelan tubuh Bian agar menjauh darinya. "I-iya makasih," ucapnya hendak melangkah pergi.

Namun langkahnya terhenti karena Bian tiba-tiba merangkul pinggangnya dengan erat. "Mau kemana, hm?"

"Lepaskan aku, aku mau pergi!" Aletta terus memberontak, menatap Bian dengan tatapan takut.

Sementara Bian menghela napas lalu berkata, "Apa kamu benar-benar tidak menganggap aku suami? Kamu tidak bisa menerimaku ya?"

Aletta menundukkan kepala, tidak tau kenapa dia merasa bersalah pada Bian. Aletta bukan membenci Bian, hanya saja hatinya masih milik Aldo. Aletta masih berharap Aldo kembali padanya.

"Tidak Bian, aku hanya..."

"Kalau begitu layani aku sebagai suami kamu."

"A-aku belum siap, bagaimana jika Aldo kembali setelah ini. Aku tidak mau menghianatinya, a-aku--"

Brakk...

Bian meninju lemari dibelakang Aletta, mencengkram lengan Aletta dengan erat. Aletta tidak bisa lari dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tidak tau kenapa Bian seketika emosi mendengar perkataan Aletta, hal itu membuat Aletta terkejut.

"Jangan pernah menyebut nama Aldo jika sedang bersamaku, Aletta! Saya sekarang adalah suamimu, jadi saya berhak sepenuhnya atas dirimu!" ucap Bian lembut, tetapi penuh penekanan di setiap katanya. Tangannya membelai lembut pipi Aletta.

"T-tapi Al--"

Mphhhhh...

Tanpa basa basi lagi, Bian membungkam mulut Aletta dengan mulutnya. Yang awalnya hanya menempel, tapi sedetik kemudian menjadi lebih panas. Sementara Aletta hanya bisa menangis berusaha memberontak, namun tangannya sudah terkunci oleh Bian. Tidak sampai disitu, Bian mulai turun ke leher jenjang milik Aletta. Bibirnya mulai menjamah tubuh Aletta dengan penuh nafsu.

"Ahhhmm," desahan mulus terdengar dari mulut mungil Aletta, ia tidak bisa menahan suara itu. Tubuhnya mulai terlena dengan sentuhan Bian, walaupun hatinya menolak itu semua.

Bian perlahan mengangkat tubuh Aletta, tanpa melepaskan tautan dibibirnya. Entah apa yang ada dipikiran Aletta, kini ia tidak lagi memberontak. Tidak juga membalas, keduanya telah dikuasai hawa nafsu.

Bian menghempaskan tubuh Aletta di atas kasur, dirinya semakin dikuasai nafsu saat melihat dress yang Aletta pakai sedikit naik memperlihatkan paha mulusnya.

"K-ku mohon Bian! jangan lakukan itu!" ucap Aletta parau setelah Bian melepaskan tautan bibirnya.

Tubuhnya sudah tidak bisa memberontak, karena Bian menindihnya. Bian yang mengunci kedua tangannya.

"Kamu sekarang milik saya, Aletta! Plis buka hatimu untuk saya," sahut Bian dengan suara berat, menandakan dirinya tengah berusaha menahan sesuatu.

Cup..

Bian melumat bibir Aletta dengan kasar, tangannya tidak tinggal diam. Sibuk menjamah semua anggota tubuh Aletta, satu persatu pakaian yang menempel di badan Aletta dilepaskan. Bian semakin dikuasai nafsu ketika melihat tubuh Aletta yang tak tertutupi sehelai kain.

Sementara Aletta hanya bisa menangis dan memejamkan matanya, menahan suara desahan keluar dari mulutnya saat Bian mulai menciumi kedua gundukan miliknya.

"Aahhhh, Bian! ku mohon berhenti!" Desahan itu tiba tiba keluar dari mulut Aletta kembali.

Bian yang mendengar namanya disebut, gairahnya semakin besar. Perlahan ia membuka handuk yang ia kenakan, sekali tarik ia sudah tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Keduanya sama-sama telanjang.

Aletta semakin menjerit dan menangis melihat milik Bian yang sangat besar, seumur hidup baru kali ini ia melakukan hal kotor seperti ini. Tenaganya sudah habis untuk memberontak.

Dengan mata sayunya, Bian kembali melumat bibir pink milik Aletta.

"Kamu hanya milikku Aletta!" ucap Bian lirih menatap kedua manik mata Aletta yang merah akibat mengeluarkan air mata terlalu banyak.

"J-jangan," sahut Aletta bergelinang air mata, merasa jijik pada dirinya sendiri. Karena Aletta belum sepenuhnya menerima Bian menjadi suaminya.

Bian yang dikuasai hawa nafsu, tidak lagi mendengarkan suara lembut dari Aletta. Tanpa berlama lama lagi, dia langsung menyatukan miliknya, pada milik Aletta.

"Arghhhhh!" Aletta berteriak kencang, merasakan ada yang sobek dalam kemaluanya. Air matanya tidak berhenti untuk keluar.

"S-sakit, berhenti!" parau Aletta.

Darah segar mengalir begitu saja dari milik Aletta, bahkan Bian sempat terbelalak saat melihatnya.

'Saya merenggut keprawanannya?' batin Bian tersenyum miring. Bian mulai bergerak maju mundur secara perlahan.

Walaupun perlahan Aletta tetap merasakan kesakitan, tangannya menjambak kuat rambut Bian melampiaskan rasa sakitnya. Sedangkan Bian yang merasakan jambakan di rambutnya, semakin menggairah.

Bian memilih membungkam mulut Aletta dengan bibirnya, juniornya masih setia maju mundur dibawah sana. Tangannya tidak tinggal diam, kembali menjamah semua anggota tubuh Aletta.

"Aaahhmmmm." Suara desahan lagi lagi keluar dari mulut Aletta, saat Bian mencapai titik kerotisnya.

'Maafkan aku Aldo,' batin Aletta merasakan sesak dalam dadanya.

Sampai beberapa saat kemudian, rasa sakit yang begitu hebat. Perlahan menjadi sebuah kenikmatan untuk keduanya, tangan Aletta yang menjambak rambut Bian mulai mengendor. Berganti memeluk leher Bian, terbawa suasana akan permainan Bian. Ditambah aroma tubuh suaminya yang mungkin akan menjadi candu baginya, membuat Aletta lupa akan segalanya.

Ruangan yang semula hening, kini dipenuhi suara suara desahan yang keluar dari mulut mereka berdua.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED