Sepasang suami istri baru saja turun dari sebuah angkutan umum. Keduanya segera melangkah dengan tergesa-gesa. Ketika menuju bangunan sebuah rumah sakit umum.
Chandra Gunawan bersama istrinya Dewitasari, mendapatkan kabar jika putri mereka mengalami kecelakaan. Pasangan itu benar-benar panik luar biasa.
Tidak lagi memikirkan pekerjaan mereka. Keduanya segera mendatangi rumah sakit. Dimana putrinya sedang ditangani oleh tim medis. Itu adalah informasi terakhir, yang mereka dapatkan dari teman karib putrinya itu.
"Selamat siang, Sus. Korban kecelakaan atas nama Ararya Chandrika Dewi, dirawat disebelah mana, ya?" tanya Chandra kepada petugas.
Keduanya sudah berdiri didepan meja resepsionis. Dengan hati gelisah, bahkan Dewita sudah sedari tadi terisak. Perasaan wanita itu benar-benar takut juga khawatir.
"Korban masih diruang UGD, Pak. Silakan Anda lurus kesana, setelah itu belok kiri."
"Terimakasih banyak, Sus."
"Sama-sama."
Chandra dan Dewita segera menuju kearah yang petugas resepsionis tunjukkan.
Setelah melewati beberapa lorong. Dari kejauhan, Chandra dapat melihat seorang remaja yang sedang duduk terduduk. Remaja itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Pakaiannya kotor oleh bekas darah. Terlihat sangat berantakan.
Chandra dan Dewita segera mempercepat langkahnya. Keduanya menghampiri remaja itu. Pada jarak setengah meter, Chandra memanggil remaja itu.
"Devan!" Chandra mendekati remaja itu.
Remaja yang tadinya menutupi wajahnya itu mendongakkan wajahnya.
"Ayah, Bunda!" ucap Devan pelan.
Pemuda itu segera berdiri dan berhambur memeluk Chandra.
"Ayah! Ara ... Ara, Yah," Devan terisak ketika memeluk Chandra.
"Sssttt! Tenanglah! Ini adalah kecelakaan. Ara pasti baik-baik saja."
Meskipun hatinya tak kalah khawatir, karena Ara adalah anaknya. Namun, ketika melihat penampilan Devan. Chandra berusaha untuk menguatkan remaja itu.
Chandra mengusap punggung remaja itu. Berharap remaja itu bisa tenang. Dewita sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Wanita itu juga sangat khawatir.
Mengingat didalam sana putri sulung mereka sedang berjuang. Entah bagaimana keadaannya.
"Kita doakan Ara. Semoga dia baik-baik saja. Kamu jangan cengeng. Kamu itu laki-laki. Harus kuat! Ayah saja kuat, masa kamu yang masih muda gak bisa.
"Sudah, tenang. Malu dilihat petugas. Masa laki-laki nangis. Hilang nanti gantengnya."
Dalam situasi hati yang sama-sama terpukul. Chandra masih bisa berusaha untuk menghibur Devan. Supaya remaja itu lekas berhenti dari tangisnya.
"Lihatlah, Bunda jadi ikut nangis gara-gara liat kamu nangis. Padahal tadi, Bunda gak ada nangis sama sekali dari rumah."
Mendengar ucapan terakhir Chandra, Devan segera menjaga jarak. Remaja itu masih sesenggukan. Melihat wajah Dewita sekilas. Remaja itu kembali menunduk.
"Ma-ma-afin Devan, Bunda. De-devan gak bisa jaga Ara. A-ara sampai seperti ini. Ma-afin Devan," ucapan Devan terbata-bata.
Remaja itu tidak berani melihat kearah Dewita. Tangan Dewita terulur kearah wajah Devan. Tangan penuh kelembutan itu, menghapus air mata yang meleleh di pipi Devan.
"Semuanya sudah takdir dari Alloh. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Devan juga tidak boleh menyalahkan diri Devan sendiri.
" Apa Devan mengerti? Tidak ada yang terjadi di dunia ini. Tanpa adanya campur tangan Alloh."
Dengan lembut Dewita menasehati remaja didepannya. Devan menganggukkan kepalanya. Meskipun suara sesenggukan nya masih terdengar sesekali.
Tak lama kemudian, pintu ruangan UGD terbuka. Muncul seorang dokter dari sana.
"Dokter, bagaimana keadaan putri kami, dok?" tanya Chandra.
Ayah dari Ara itu segera mendekat ketika dokter keluar. Diikuti oleh Dewita dan juga Devan.
"Begini, Pak. Putri Bapak harus segera dioperasi. Karena benturan yang cukup keras. Mengakibatkan terjadinya cidera di kaki sebelah kirinya. Ada beberapa tulangnya yang retak.
"Jadi, tolong segera diurus biaya administrasinya. Supaya tindakan operasi bisa segera dilakukan."
Mendengar penjelasan dokter, membuat tubuh Chandra merasa lemas seketika. Dewita sudah membekap mulutnya supaya tidak keluar suara tangisnya.
"Berapa kira-kira biaya operasinya, dok?" tanya Chandra.
"Bapak bisa tanyanya kebagian administrasi. Nanti disana petugas akan menjelaskan kepada Bapak.
"Tolong segera diurus ya, Pak. Karena putri Bapak memerlukan tindakan sesegera mungkin."
Selepas menjelaskan seperti itu. Dokter tersebut kembali masuk kedalam ruangan UGD.
"Uang dari mana, Yah. Pasti biayanya tidaklah sedikit," ucap Dewita dengan suara pelan.
"Nanti kita pikirkan, Bun. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Ara," Chandra menghela napasnya.
Lelaki itu juga bingung harus mencari uang kemana. Sementara tabungan mereka sudah habis untuk membayar hutang.
Sementara itu, Devan sudah berlalu sedari tadi. Sejak saat dokter mengatakan bahwa Ara harus dioperasi. Remaja itu sudah ketempat bagian administrasi dan menanyakan berapa biaya yang harus dilunasi untuk operasi Ara.
Remaja itu merasa lemas, ketika tahu berapa banyak uang yang harus disediakan.
"Lima puluh juta? Tabunganku tidak ada sebanyak itu. Ayah dan Bunda gak mungkin punya uang sebanyak itu," gumam Devan.
Remaja itu berjalan meninggalkan bagian administrasi dengan lemas.
"Papa, ya, Papa pasti ada. Papa pasti punya uang sebanyak itu."
Devan berjalan dengan cepat keluar dari bangunan rumah sakit itu. Remaja itu bermaksud untuk menemui ayahnya. Berharap ayahnya bisa memberikan uang untuk biaya operasi Ara.
Ditempat yang berbeda, seorang laki-laki muda baru saja menerima panggilan telepon dari seseorang. Laki-laki terlihat tersenyum menyeringai.
Seseorang telah berhasil menjalankan misi darinya. Membuat laki-laki itu merasa senang.
"Devan ... kita lihat saja. Bagaimana cara kalian bertahan."
Seringai misterius penuh dengan kedengkian terlihat jelas diwajahnya.
"Ini adalah peringatan kecil. Aku benar-benar tidak suka melihatmu bahagia. Sementara aku dan ibuku hidup menderita."
Sorot mata laki-laki itu memancarkan kebencian. Ketika melihat Devan dan orang tuanya hidup bahagia. Belum lagi kemewahan yang mereka miliki.
Sementara dirinya harus hidup dengan kerasnya kehidupan. Terlahir dari keluarga Adijaya yang tidak pernah perduli padanya. Orang tua yang selalu bertengkar. Membuat kehidupannya menyedihkan.
Hingga membuat Irvan tidak menyukai keharmonisan. Setiap kali melihat orang lain bahagia.
Rasa irinya pada Devan timbul. Ketika melihat Devan begitu disayangi oleh kedua orang tuanya. Sedangkan Irvan, orang tuanya tidak pernah perduli padanya.
Irvan bertambah tidak suka kepada Devan. Ketika melihat Devan bahagia dan dekat dengan Ara. Tawa dan canda mereka, seakan membuat Irvan merasa kerdil.
Irvan sangat benci melihat mereka bahagia. Irvan ingin merusak kebahagiaan mereka. Sampai pada akhirnya, Irvan menyuruh seseorang untuk menabrak Ara. Setelah acara pengumuman kelulusan sekolah usai.
Kabar dari orang suruhannya yang berhasil menjalankan misinya. Membuat Irvan merasa puas. Karena setelah ini, ia tidak akan melihat tawa dan canda dari dua orang itu.
"Mereka itu sangat menyebalkan," umpatnya pelan.
Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya. Hari ini Irvan tidak lagi mendengar ibunya menangis. Irvan merasa lega. Dia bisa beristirahat dengan tenang.
Biasanya rumah itu terasa panas dan juga bising. Akibat pertengkaran kedua orang tuanya. Entah mengapa sejak Irvan menginjak sekolah menengah atas. Orang tuanya kerap bertengkar.
Irvan tidak tahu apa yang menjadi pemicu pertengkaran mereka. Tapi tepat satu bulan sebelum kelulusan. Irvan mendengar bahwa ibunya menyebutkan kalau ayahnya tega telah berselingkuh.
Tak hanya itu, kenyataan pahit juga harus Irvan dengar. Kalau ternyata Irvan bukanlah anak kandung dari ayahnya.
Lalu siapa ayah kandungnya sebenarnya?
~~~~
Bersambung ....
Devan masuk kedalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Remaja itu berlarian didalam rumah hingga menimbulkan suara gaduh. Ibunya yang sedang duduk bersantai diruang televisi, merasa terkejut dibuatnya.
"Ma! Papa mana?" tanya remaja itu kepada ibunya.
Sundari ibu dari Devan melebarkan matanya ketika melihat pakaian anaknya. Sampai tidak menjawab pertanyaan putranya. Sundari malah berteriak histeris.
"Devan! Baju kamu kenapa? Itu kenapa merah semua. Astaga Devan!" serunya.
Sundari berjalan dengan tergesa-gesa mendekati Devan.
"Devan gak punya banyak waktu, Ma. Papa mana?"
Devan terlihat gelisah ketika ibunya tidak memberitahukan keberadaan ayahnya.
"Papa mu di ruangan kerjanya," ucap Sundari.
Devan segera bergegas menuju ruangan kerja ayahnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Kini Devan sudah mencapai ruangan kerja ayahnya.
"Pah!" panggil Devan dengan suara panik.
Remaja itu masuk kedalam ruangan ayahnya, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Tentu saja membuat ayahnya terkejut.
"Ada apa?" tanya ayahnya dengan dingin.
Himawan sudah tahu apa tujuan putranya itu. Namun, lelaki itu pura-pura tidak tahu.
"Pah, Ara kecelakaan," ungkap Devan.
Himawan terlihat sibuk mengamati dokumen ditangannya.
"Lalu? Untuk apa kamu memberitahu Papa?" tanya Himawan dengan acuh.
"Devan butuh bantuan Papa. Ara harus dioperasi, Pa. Ayah dan Bunda tidak mungkin punya uang sebanyak itu.
"Tolong Ara, Pah. Devan mohon!"
Remaja itu menatap ayahnya penuh harap. Sementara Himawan masih diam.
"Berapa banyak uang yang kamu butuhkan?" tanya Himawan.
Devan merasa ada harapan ketika mendengar pertanyaan ayahnya. Remaja itu segera memberitahu ayahnya.
"Lima puluh juta, Pah."
Remaja itu berharap sekali ayahnya bisa memberikan pinjaman uang.
"Apa yang akan Papa dapatkan jika memberikan uang itu kepadamu?" tanya Himawan tanpa perasaan.
"Apa maksud Papa?"
Devan pun bertanya pada ayahnya itu. Mengapa ayahnya bicara seperti itu. Bukankah ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Bahkan Devan tahu betul. Saat ini perusahaan ayahnya itu sudah merambah ke mancanegara.
"Lima puluh juta itu bukanlah uang yang sedikit, Devan."
Himawan meletakkan dokumennya. Ia menatap wajah putranya dengan serius.
"Papa tidak bisa memberikannya secara cuma-cuma." Himawan menjelaskan kepada putranya itu.
"Devan akan meminjamnya, Pa. Devan akan mengembalikannya!" ucap Devan dengan sungguh-sungguh.
Namun, ucapan remaja itu hanya disambut dengan kekehan kecil dari sang ayah.
"Kamu tidak perlu melakukannya. Asalkan kamu menuruti semua perintah Papa. Bukan hanya uang lima puluh juta yang akan Papa berikan.
"Tapi seluruh biaya rumah sakit sampai kesembuhan temanmu itu ... akan Papa tanggung semuanya."
Devan tidak tahu apa sebenarnya rencana ayahnya itu. Tapi, mendengar penuturan ayahnya membuat harapan Devan kian bertambah besar. Tanpa rasa ragu, remaja itu kembali bertanya pada ayahnya.
"Apa yang harus Devan lakukan, Pa? Katakan saja, Devan akan menuruti semua keinginan Papa."
Devan berucap dengan sungguh-sungguh. Dalam benaknya saat ini, yang terpenting adalah keselamatan dan kesembuhan Ara.
"Tanda tangani surat perjanjian itu!"
Himawan melempar sebuah map keatas meja. Tepat dihadapan putranya itu. Tanpa banyak berpikir panjang, Devan segera membubuhkan tanda tangannya. Remaja itu juga tidak membaca isi yang tertulis dalam lembaran kertas yang ditanda tanganinya.
Himawan mengangkat sudut bibirnya, ketika melihat putranya menanda tangani isi map yang dilemparnya.
"Sudah, Pa."
Devan menyerahkan map itu kepada ayahnya.
"Sekarang kamu bersiaplah. Kemasi pakaianmu. Akan ada yang menjemputmu beberapa jam lagi."
Devan mengerutkan keningnya. Merasa bingung dengan perintah ayahnya. Pasalnya ayahnya sudah berjanji akan memberikan uang padanya. Tapi, kenapa ayahnya menyuruhnya untuk berkemas?
"Ayah akan mengurus semua biaya rumah sakit sahabatmu itu. Sekarang bersiaplah untuk pergi ke airport.
"Penerbanganmu sekitar satu jam lagi."
Deg.
Apa yang Himawan ucapkan bagaikan sebuah pukulan kuat di dada Devan.
"Airport?" ulang Devan, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh ayahnya.
"Bukankah kamu sudah berjanji. Akan menuruti semua perintah Papa. Kamu juga sudah menandatangani surat perjanjiannya.
"Kamu bisa membacanya jika kamu masih belum paham. Tapi, meskipun kamu membacanya. Sekarang kamu tidak bisa lagi untuk mundur. Karena coretan tanganmu sudah tertera disana!"
Himawan pergi meninggalkan putranya yang masih mematung. Ketika berada diambang pintu. Himawan menghentikan langkahnya.
"Cepatlah berkemas! Waktumu tidak banyak. Ingat ... keselamatan Ara ada di tanganmu!"
Himawan segera berlalu dari sana. Meninggalkan putranya dalam pukulan terberat di hidupnya.
"Bagaimana mungkin? Kenapa Papa begitu tega sama aku?"
Air mata Devan mengalir begitu saja. Ketika remaja itu membaca isi map yang ditanda tanganinya. Remaja itu tidak menyangka. Jika ayahnya telah mendaftarkan pendidikannya keluar negeri.
Disaat Ara sedang terbaring dirumah sakit. Devan harus pergi jauh. Meninggalkan Ara sendirian didalam kesakitan.
Devan terisak didalam ruangan kerja ayahnya. Bahunya bergetar karena tangisannya. Tubuhnya luruh kelantai. Tidak lagi berdaya melawan kehendak ayahnya.
Devan hanya bisa menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisan.
"Devan," panggil ibunya dengan suara lembut.
Sundari mengulurkan tangannya, untuk menyentuh bahu putranya yang bergetar.
"Kenapa Papa tega melakukan ini sama Devan, Ma?" tanya Devan disela isakan nya.
"Apa salah Devan, Ma? Ara sedang terbaring dirumah sakit. Dia pasti kesakitan disana. Tapi kenapa Papa malah menyuruh Devan keluar negeri?
"Tidak bisakah Devan pergi setelah Ara sadar? Supaya Devan bisa pamit sama Ara."
Sundari merasa iba dengan putranya itu. Kedekatan putranya dengan gadis bernama Ara itu tidak terpisahkan. Sundari bahkan sangat mengenal kedua orang tua gadis itu.
Akan tetapi karena persahabatan Devan dengan Ara yang begitu erat. Membuat remaja itu sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Himawan menggunakan kesempatan ini. Supaya putranya mau menuruti semua perintahnya.
"Jika Papa tidak memberikan kamu kesempatan bertemu dengan Ara. Kamu bisa meninggalkan pesan untuknya."
Sundari memberikan sebuah saran kepada putra kesayangannya itu.
"Bagaimana caranya, Ma?" tanya Devan dengan polosnya.
Sundari tersenyum sambil mengacak rambut putranya.
"Kamu ini udah lulus SMA. Hal seperti ini aja masih gak ngerti juga," ucap Sundari dengan gemas.
"Dengan surat 'lah, Sayang! Kamu bisa menuliskan surat untuk Ara. Nanti biar Mama yang kasih ke Ara nya langsung. Bagaimana?"
Sundari tersenyum kepada putranya. Devan pun mengangguk dengan semangat. Tapi, remaja itu tiba-tiba kembali murung.
"Ada apa lagi?" tanya Sundari.
"Devan 'kan harus berkemas, Ma."
Remaja itu bicara dengan wajah lesu.
"Sudah, biar Mama yang packing baju kamu. Sekarang kamu mandi, habis itu buat suratnya secepat mungkin. Sebelum orang suruhan Papa mu datang!"
Sundari segera menggiring putranya itu pergi. Devan pun menurut, remaja itu segera membersihkan diri. Selesai mandi, Devan segera berpakaian. Setelah itu, remaja itu segera menuliskan surat.
Devan mencurahkan permintaan maafnya kepada Ara didalam surat itu. Remaja itu memberitahu Ara tentang kepergiannya keluar negeri. Devan mengatakan kepada Ara, bahwa ia pergi atas perintah ayahnya.
"Tunggu aku kembali. Aku akan mengajakmu berlibur. Seperti janjiku padamu. Kita akan pergi ke Paris bersama-sama. Melihat indahnya menara Eiffel."
Devan telah selesai menuliskan kalimat terakhirnya. Remaja itu segera melipat dan memasukkannya kedalam amplop.
Devan memberikan amplop surat berwarna merah muda itu kepada ibunya. Bertepatan dengan orang suruhan ayahnya datang.
Remaja itu memeluk ibunya sambil mengucapkan kata perpisahan.
"Sampaikan permintaan maaf Devan untuk Ara, Bunda dan juga Ayah."
Remaja itu berbisik pelan pada ibunya. Sundari menganggukkan kepalanya.
"Kamu harus semangat. Tunjukan kepada Papa kalau kamu bisa. Buat Papa mu bangga dengan keberhasilan mu.
"Ingatlah, Ara pasti akan bangga. Ketika melihat pencapaianmu yang luar biasa. Kamu harus semangat! Demi Ara!"
Sundari menjadikan Ara sebagai penyemangat putranya itu. Berharap Devan tidak berkecil hati ataupun kembali bersedih.
Devan masuk kedalam mobil bersama orang suruhan ayahnya. Sundari melepas kepergian putranya dengan sendu. Pasti sangat sulit menjadi Devan.
"Semoga kamu berhasil, Nak. Mama yakin ... kamu pasti bisa!" gumam Sundari.
~~~~
Bersambung ....