Bab 2

Dengan terpaksa Devin mengantarkan Alena sampai Apartemennya, ia mengendong Alena sampai depan pintu Apartemen Alena. Devin pun mencari kunci masuk di dalam tas Alena, tak butuh waktu lama Devin menemukannta lalu Devin menempelkan sebuah kartu lalu pintu terbuka. Devin membawa masuk Alena, setelah menutup pintunya Devin bertanya kepada Alena di mana kamarnya.

Alena menunjukkan dengan jarinya, dengan segera Devin pun mengantarnya ke dalam kamar dan menidurkannya. Devin yang melihat Alena terbaring dengan menggunakan dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan terlihat sangat sexy di mata Devin dan ingin rasanya Devin menerkam Alena.

Devin sudah tidak tahan dengan situasi ini, Devin pun mendekati Alena dan kini Devin berada di atas Alena Devin mendekatkan wajahnya lalu ia langsung mencium bibir Alena dengan lembut, Alena yang tidak membalas ciuman Devin. Devin mengigit bibir bawah Alena karena Alena merasakan sakit ia pun menjerit dan kesempatan Devin memperdalam ciuamannya, lidahnya menjelajahi rongga-rongga mulut Alena.

Alena yang sudah terlena dengan perlakuan Devin, ia mengalungkan tangannya ke leher Devin. Tangan Devin juga tak tinggal diam kedua tangannya meremas buah dada Alena yang begitu sangat kenyal dan sangat pas di tangannya. Devin pun berlanjut mencium leher jenjang milik Alena dan itu membuat Alena mendesah, Devin juga meninggalkan beberapa jejak di sana.

Setelah puas bermain di leher dan membuat jejak di sana. Devin berusaha membuka dress milik Alena dengan paksa akhirnya berhasil juga, lalu segera ia membuka bra Alena. Devin sangat kagum dengan pemandangan yang sangat indah di depannya. Devin pun melepaskan pakaiannya, kejantanan yang sudah begitu tegang sudah ingin di puaskan. Devin pun mengesekkan miliknya ke klitoris Alena dan membuat Alena mendesah.

Devin secara perlahan memasukkan kejatannya ke milik Alena dengan pelan-pelan. “Aakhhh ... sakit,” teriak Alena air matanya keluat. Devin pun mengusap air mata Alena dan menciumnya agar rasa sakit hilang.

“Sssttt ... apa masih sakit?” tanya Devin dan hanya di jawab anggukan oleh Alena. Alena merasakan sakit dan rasa perih di area intimnya.

“Ini hanya sebentar sayang, setelah ini kamu akan terus mendesah,” ucap Devin. Lalu Devin pun mengesek miliknya dengan tempo pelan.

Mereka berdua pun melakukan kegiatan panas mereka sampai jam 04.00 pagi baru berhenti. Mereka berdua tertidur karena sudah terlalu capek dengan Alena di pelukkan Devin yang begitu sangat nyaman.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Alena terbangun karena merasakan ada yang menimpa pinggangnya. Alena mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia melihat dada bidang yang begitu nyaman. Alena pun mendongakkan wajahnya ke atas dan ia mengjngat-ingat siapa laki-laki ini dan kenapa dia bisa tidur di kamarnya.

Alena pun teringat bahwa yang berada di sampingnya ini cowok aneh kemari. Lalu ia beralih melihat tubuhnya yang berada di dalam selimut.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

“Aaaàaaaaaaa,” teriak Alena. Devin yang terganggu tidurnya karena ada suara teriakan ia pun terbangun.

“Berisik banget sih,” ucap Devin sambil meregangkan badanya.

“Apa yang loe lakuin ke gue tadi malam? Dan ini jam berapa? Gawat gue telat masuk kerja,” ucap Alena dengan panik saat melihat jam di Hpnya sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.

“Kita semalam melakukan kegiatan panas dan tentunya kamu juga menikmatinya,” ucap Devin dengan santai.

“Hah ... itu tidak mungkin kan?” tanya Alena

“Mungkin ... dan ternyata kamu masih perawan,” ucap Devin

“Kenapa kamu tega lakuin itu, kamu udah mengambil mahkota yang selama ini aku jaga,” ucap Alena sambil terisak karena Alena sudah mengeluarkan air matanya. Devin yang melihat Alena menangis ia menjadi merasa berasalah. Sial ini gara-gara obat perasang sialan, siapa yang menaruh obat itu ke dalam minumannya.

Devin pun langsung memeluk Alena dan menenagkannya. “Gue akan tanggung jawab apa yang sudah gue lakuin ke kamu,” ucap Devin

Alena pun melepaskan pelukkannya. “Tidak perlu anggap saja kita tidak pernah melakukannya dan tidak pernah saling ketemu sebelumnya atau pun saling kenal. Lebih baik kamu pergi sekarang dari Apartemenku,” ucap Alena

Devin pun memakai pakaian, lalu ia pergi dari Apartemem Alena meninggalkan Alena yang masih menangis. Sebenarnya Devin masih ingin menenagkan Alena tapi Alena terus mengusirnya. Devin lebih baik mengalah dan meninggalkan Alena sendiri.

Alena turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Alena memenuhi air di bathub dengan air hangat, ia ingin berendam. Alena menjeburkan ke dalam bathub yang sudah terisi air penuh, ada rasa perih di area intimnya serta badannya terasa remuk.

Setelah selesai mandi Alena mengenakan dress ia segera menelpon temannya.

“Hallo Neta maaf hari ini gue nggak masuk kerja, izinin aku ke bos ya,” ucap Alena

“Hah loe kebiasaan Ale, udah dari tadi pagi gue izinin. Ini udah jam berapa baru minta suruh izinin,” ucap Aneta dari sebrang telepon.

“Makasih ya, kamu emang sahabat gue yang paling the best deh pokoknya,” ucap Alena

“Iya, tapi ngomong-ngomong loe kenapa kok bisa nggak masuk kerja?” tanya Aneta

“Ceritanya panjang Neta, nanti pas gue masuk kantor gue bakal ceritain semuanya. Ya udah, gue matiin ya,” ucap Alena lalu langsung mematikan Hpnya. Setelah itu Alena ke dapur mencari makanan dan satu gelas jus jeruk ia bawa ke ruang tamu. Alena menghidupkan Tv.

DJ kamar yang begitu luas dengan bercat abu-abu, Devin yang baru saja sampai rumahnya langsung menuju ke kamarnya. Devin masih memikirkan apa yang selanjutnya harus ia lakukan. Devin benar-benar pusing memikirkan ini. Kenapa bisa ada obat perangsang di minumannya, siapa yang menaruhnya. Devin berpikir apa ini ulah Kevin sama Alvin dua temannya yang suka resek.

Kalau benar iya, Devin harus memberi pelajaran untuk mereka berdua. Tiba-tiba pintu kamar Devin terbuka dan muncullah mamanya dari balik pintu.

“Mama,” ucap Devin

“Devin kamu dari mana aja dari semalam kamu nggak pulang?” tanya Stevani. Stevani pun menutup pintu kamar Devin dan berjalan mendekati Devin lalu duduk ditepi ranjang.

“Itu ma ... tadi malam Devin tidur di rumah teman Devin ma. Maaf lupa kasih kabar ke mama,” ucap Devin sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal, karena bingung mau jawab apa nggak mungkin juga kan Devin semalam tidur di tempat cewek dan melakukan hubungan intim. Bisa-bisa mamanya marah besar lagi.

“Lain kali kamu harus kasih kabar Dev, jangan bikin mama khawatir,” ucap Stevani.

“Iya ma maaf ya lain kali Devin bakal kasih kabar ke mama,” ucap Devin sambil memeluk mamanya.

“Dasar anak nakal, sekarang anak mama yang laki-laki ini sudah dewasa ya. Ya udah yuk kita ke bawah kita makan siang mama udah siapin makanan kesukaan kamu,” ucap Stevani. Devin pun melepaskan pelukannya dan mamanya mengajak keluar kamar untuk turun ke bawah.

Di meja makan sudah ada papa Devin yang menunggunya. Devin pun duduk di kursi dekat papanya.

“Papa ... papa tumben nggak ke kantor?” tanya Devin

“Papa lagi nggak enak badan Dev, harusnya papa yang bertanya begitu,” ucap Abraham

“Maaf pa Devin lupa kalau hari ini harus ke kantor,” ucap Devin sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya.

“Ya sudah nggak apa-apa papa masih bisa handle, tapi besok kamu harus masuk kantor,” ucap Abraham

“Siap pa,” ucap Devin. Selanjutnya mereka melanjutkan makan siang dengan hening yang terdengar hanya suara piring dan sendok yang saling beradu.

Setelah selesai makan siang Devin balik ke kamarnya lagi untuk beristirahat, Devin merasakan badannya yang begitu sangat lelah dan harus segera di istirahatkan.

Bab 3

Rasanya udara pagi ini sejuk sekali di kota Hamburg, “oppa ... eomma aku kangen sama kalian berdua, ingin rasanya balik ke Korea tapi aku masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan,” gumam Alena. Ya sekarang Alena sedang berada di taman yang ada di kantor, karena Alena datang ke tempat kerjaan terlalu pagi jadi ia memutuskan untuk ke taman terlebih dahulu.

Suasana yang begitu sangat hening di taman dan udara pagi yang begitu masih segar membuat Alena merasa tenang dan bisa melupakan sejenak yang ada di pikirannya.

Tanpa Alena sadari bahwa dari tadi ada sosok pria yang memperhatikannya dari jauh. Siapa lagi kalau bukan Devin, ya hari ini hari pertama Devin masuk kantor walaupun Devin sudah di angkat jadi CEO beberapa hari yang lalu. Saat pertama Devin mengijakkan kakinya di depan kantor dia melihat perempuan yang sama persis seperti perempuan yang telah ia ambil mahkota berharganya lalu Devin mebgikutinya.

Devin mendengar semua apa yang di katakan oleh Alena, dan entah kenapa ia sangat senang bisa bertemu dengan perempuan itu. Lalu Devin berjalan masuk untuk menuju ruangannya. Di ruanganya Devin duduk di kursi kebesarannya lalu ia mengeluarkan Hpnya dari sakunya dan menelepon Evan.

Kini Alena sedang berada di ruangannya, ia sedang sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai iya tak menyadari jika Aneta masuk ke dalam ruangannya.

“Sibuk aja terus,” ucap Aneta mengagetkan Alena yang sedang fokus.

“Neta kebiasaan deh, masuk nggak ketuk pintu dulu,” ucap Alena yang masih fokus sama komputernya.

“Hehehe sorry-sorry, Ale kamu tahu nggak katanya hari ini CEO baru kita datang ke kantor loh,” ucap Aneta yang duduk berada di depan Alena.

“Serius Ta, berarti pak Abraham udah nggak jadi CEO lagi,” ucap Alena menghentikan tangannya yang sedang mengetik.

“Ya seriuslah Ale, katanya anaknya yang pertama yang gantiin kalau nggak salah namanya pak Devin Abraham,” ucap Aneta

“Devin?” gumam Alena sambil mengingat-ingat nama itu kayaknya nggak asing di telinganya.

“Iya ... heh Ale ... kamu kenapa? Kamu kenal sama pak Devin?” tanya Aneta yang melihat Alena melamun kaya memikirkan sesuatu.

“Hah Neta ... bisa nggak sih kalau nggak ngagetin orang,” ucap Alena

“Iya lagian kamu ngelamun?” tanya Aneta

“Nggak kok, ya udah kamu balik keruanganmu sana,” ucap Alena melanjutkan kerjanya jari-jarinya mulai mengetik.

“Ngusir nih ceritanya ... o ya Ale nanti habis jangan lupa ke ruang meeting karena CEO mau tahu semua karyawan yang kerja di sini,” ucap Aneta

“Iya Neta,” ucap Aneta. Aneta pun berjalan keluar ruangan meninggalkan Alena.

Setelah jam makan usai semua karyawan pergi ke ruang meeting di sana sudah ada Alena dan Aneta. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan menampakan sosok laki-laki yang begitu tegas dengan rahang kokoh, tatapannya yang begitu dingin. Jangan di tanya semua karyawan wanita menatapnya tanpa berkedip karena sangat kagum dengan ketampanan Bosnya.

“Hemmm ... selamat siang semuanya,” ucap Devin lalu duduk.

“Siang pak,” ucap semua karyawan lalu membungkuk dan merekapun duduk.

“Perkenalkan saya Devin Abraham CEO baru, menggantikan papa saya. Di sini saya mengumpulkan kalian semua hanya ingin tahu bagian kalian di devisi mana saja. Saya mohon juga kerjasamanya dan saya mau di bawah pimpinan saya semua karyawan harus disiplin,” ucap Devin. Devin menjelaskan panjang lebar kepada seluruh karyawan dengan sangat detail.

“Cukup sampai di sini dulu dan kalian boleh keluar,” ucap Devin, semua karyawanpun keluar ruangan dan di sini Alena keluar paling terakhir. Saat sudah sampai depan pintu tiba-tiba namanya di panggil.

“Alena Kinara Lee,” ... Alena pun menghentikan kakinya dan ia langsung menoleh ke belakang. “Bapak panggil saya?” tanya Alena kepada Devin.

“Iya menurut kamu siapa lagi, asisten pribadi saya juga nggak bakal mungkin panggil kamu. Evan kamu boleh keluar dulu,” ucap Devin. Evan pun meninggalkan ruangan meeting dan di ruangan itu hanya ada Devin dan Alena saja. Devin pun berjalan ke arah pintu dan menguncinya.

“Ngapain bapak kunci pintunya?” tanya Alena. Devin pun berjalan mendekati Alena, Alena pun memundurkan badanya sampai akhirnya membentur tembok. Devan mengurung tubuh Alena.

“Apakah kamu sudah lupa dengan saya, dan satu lagi apa kamu juga sudah lupa dengan percintaan panas kita di ranjang,” bisik Devin tepat di telinga Alena dan itu membuat geleyar aneh.

“Maks ... maksud ba ... bapak apa,” ucap Alena dengan terputus-putus karena gugup dan tidak nyaman dengan posisi sekarang ini.

“Kamu benar-benar lupa, kalau begitu gimana kalau kita ulangi lagi di ruangan ini,” ucap Devin dengan senyum nakalnya.

“Jangannnnnnnnnnnnn pak,” ucap Alena dengan tangan Alena mendorong dada bidang milik Devin.

“Kenapa? Bukannya sangat menyenangkan,” ucap Devin

“Stopp pak,” ... Alena mendorong Devin agar menjauh darinya. “Saya permisi duluan pak saya mau balik keruangan saya,” ucap Alena, Alena membuka kunci pintunya dan membukanya meninggalkan Devin sedirian di ruangan itu.

Devin tersenyum, ... “Alena kau sangat membuatku penasaran. Aku tidak akan menyerah begitu saja, pasti kau bisa menjadi milikku,” gumam Devin lalu Devin keluar ruangan.

Alena tiba di ruangannya, ia sedang duduk di kursinya dengan bersender ia memejamkan matanya. Kenapa ia bisa bertemu dengan laki-laki brengsek itu dan lebih parahnya lagi dia adalah atasannya di tempatnya ia bekerja.

Tokkk tokkk tokkkk

“Masuk,” ucap Alena, pintu terbuka menampakkan Aneta.

“Neta, ada apa?” tanya Alena

“Ini laporan keuangan bulan ini, sudah aku selesaikan tinggal loe tanda tangani. O ya loe tadi kenapa di ruangan meeting  lama banget mana Cuma berdua sama bos lagi,” ucap Aneta sambil menyerahkan berkas-berkas.

“Kepo aja deh loe Ta, o ya makasih tepat waktu loe kasih berkas-berkasnya,” ucap Alena dengan cengirannya.

“Heh ... tiap bulan gue kasih laporan juga tepat waktu kali Ale. Ale tadi gue tanya beneran lho ngapain aja loe sama bos tadi di dalam ruangan meeting Cuma berdua,” ucap Aneta yang masih penasaran.

“Tadi bos bilang mau minta laporan keuangan kantor tahun lalu sama tahun ini,” ucap Alena dengan tenang.

“Hemmm begitu ... ya sudah gue balik ruangan dulu masih banyak kerjaan,” ucap Aneta dan keluar dari ruangan Alena.

Jam sudah menunjukkan waktu pulang kantor, Alena pun bersiap-siap untuk pulang. Belum sempat ia membuka pintu sudah terlebih dahulu ada yang membuka pintu ruangan Alena. Alena sangat kaget dengan kedatangan Devin ke ruangannya.

“Bapak kenapa ke ruangan saya?” tanya Alena yang masih berdiri di depan Devin.

“Mau ngajak kamu pulang bareng,” ucap Devin dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Makasih pak ... tapi saya bisa pulang sendiri,” tolak Alena

“Aku tidak menerima penolakan,” ucap Devin lalu ia menyeret tangan Alena dan keluar ruangan Alena menuju ke basemant di mana Devin memakirkan mobilnya di sana.

“Pak lepasin tangan saya, nanti kalau ada yang lihat gimana?” tanya Alena sambil berusaha melepaskan tangannya dari gengaman tangan Devin.

“Memangnya kenapa?” tanya balik Devin yang di mana mereka berdua sudah berada di depan lift menunggu lift terbuka. Lift pun terbuka dan Devin pun menarik Alena agar segera masuk ke dalam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED