“Abel, giliran kamu.”
Abelian pun menoleh dan menganggukkan kepalanya, berjalan menuju tempat pemotretan. Dia memakai atasan model crop top berwarna putih dengan model jaring dan bermotif bunga yang memperlihatkan perut ratanya, dipadukan dengan rok pendek yang panjangnya hanya sampai setengah paha. Terlihat sangat seksi jika dipakai oleh Abelian, apalagi bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna dengan lekukan tubuh yang pas.
“So sexy,” bisik Vero dengan suara serak. Vero adalah rekan kerja Abelian selama bertahun-tahun. Dia juga satu dari sekian pria yang tertarik dengan Abelian.
“Tutup mulutmu jika tidak ingin aku bungkam dengan sepatu,” balas Abelian dingin.
Vero tidak tersinggung, justru dia tertawa dengan perkataan Abelian. Bukan sekali dua kali Vero menggoda Abelian namun selalu diabaikan. Vero bahkan sering mendapatkan makian dari Abelian, tak jarang Abelian kerap melontarkan perkataan sarkas bahkan tak segan menamparnya.
“Ambil posisi, iya bagus, satu … dua.“ Fotografer memberikan aba-aba untuk Abelian dan Vero yang tengah berpose di depan kamera.
Abelian sekali diarahkan langsung mengerti dan langsung berpose layaknya model profesional. Ah, dia memang model profesional, terkenal, dan sering menjadi model untuk brand-brand ternama dunia.
Abelian memiliki sifat yang buruk menurut rekan kerjanya, meskipun begitu Abelian selalu menjadi bahan taruhan oleh para model pria yang bernaung di agensi yang sama. Tidak ada yang dapat mengelak bahwa Abelian, meskipun terlihat seperti wanita liar, faktanya Abelian masih perawan. Meskipun pergaulannya terbilang sangat bebas, tapi tidak dengan dirinya. Prinsip Abelian adalah no sex before marriage.
Abelian memiliki wajah yang menawan meskipun dalam mode datar, dia tetap menarik bagi kaum pria. Penampilan fisiknya memang sangat luar biasa, tapi tidak dengan sifatnya. Abelian memiliki sifat keras kepala, emosional, dan blak-blakan yang sering dianggap sebuah kejujuran. Apa yang Abelian suka dan apa yang tidak dia suka, dia akan mengatakannya secara gamblang tanpa memikirkan apakah perkataannya itu menyakiti orang lain atau tidak.
“Oke. Terima kasih semuanya,” kata fotografer tersebut, menandakan pemotretan hari ini telah selesai.
Abelian segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sebelumnya. Vero mengikuti langkah Abelian menuju ruang ganti. Sudah biasa baginya dan Vero memakai ruang ganti yang sama. Dia tidak pernah mempermasalahkannya karena sudah bertahun-tahun mereka melakukannya. Akan tetapi tidak dengan model lain, dia hanya berbagi ruang ganti dengan Vero saja. Itu karena Vero adalah satu-satunya model pria yang dikontrak dalam jangka waktu yang lama dan menjadi rekan kerja tetap Abelian.
“Bel, selesai pemotretan, mau pergi berkencan denganku?” tanya Vero disela langkah mereka menuju ruang ganti pakaian. Ruang ganti pakaian mereka memang sama, tapi terdapat dua bilik untuk berganti pakaian sehingga mereka tidak akan melihat satu sama lain.
“Tidak. Aku ada janji.” jawab Abelian kemudian masuk ke bilik untuk berganti pakaian.
“Ayolah, sudah berkali-kali aku mengajakmu berkencan. Sekali saja, Bel.” Vero masih berusaha merayu Abelian agar menerima ajakannya.
“Sorry to say, tapi kau tidak berada di level dimana bisa mengajakku kencan.” Setelah mengatakan itu Abelian keluar dari ruang ganti meninggalkan Vero yang lagi-lagi menghembuskan napas kecewa.
“Aku tidak akan menyerah, aku yakin sebentar lagi kau akan berhasil aku taklukan. Hanya masalah waktu, dan itu tidak akan berlangsung lama, Bel.” Monolog Vero.
***
Abelian melangkahkan kakinya menuju tempat hiburan malam. Meskipun tempatnya berisik dan kepulan asap rokok di mana-mana, tapi tempat inilah yang selalu berhasil membuat amarah Abelian berkurang jika sudah berhadapan dengan minuman beralkohol.
Abelian duduk di depan meja bar, memesan minuman kepada bartender dengan kadar alkohol yang rendah. Dia tidak ingin mabuk karena tidak ingin berakhir di ranjang bersama pria yang tidak dikenalnya. Bukan sekali dua kali Abelian diajak oleh para pria untuk menghangatkan ranjangnya dan Abelian tidak sudi melakukannya dengan sembarang orang.
“Hai, tumben kesini tidak bilang dulu padaku.”
Abelian menoleh sesaat pada seseorang yang duduk di sampingnya tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan Selena, sahabat satu-satunya yang dia punya. Abelian tidak menghiraukannya dan kembali menyesap minumannya.
“Sialan!” maki Abelian, dia merasa sangat kesal kala melihat sepasang manusia sedang berciuman diujung sofa, tidak jauh dari tempatnya berada. Ia kesal karena ciuman mereka mengingatkannya dengan insiden ciuman pria asing itu. Entah kenapa hal itu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.
Ciuman pertamanya yang ingin dia berikan kepada pria yang dicintainya, direnggut paksa oleh pria yang bahkan dia tidak tahu namanya siapa. Andai bukan di tempat umum, mungkin Abel akan memukulnya habis-habisan. Sayang sekali, karena harus menjaga image, dia rela menahan keinginannya itu. Beruntung kekesalannya tidak berdampak pada pekerjaannya, meskipun setelah bekerja dia kembali dibuat kesal oleh Vero.
“Bel, kau kenapa?” tanya Selena begitu Abel meletakan gelas kosongnya dengan kasar.
“Brengsek!”
“Kau mengataiku?” tanya Selena sambil menunjuk dirinya sendiri.
Abelian menoleh dan menatap Selena dengan wajah datarnya, “Bukan kau, tapi pria gila itu.” jawab Abelian dengan kesal.
“Pria gila mana yang membuatmu kesal. Vero?” tanya Selena, pasalnya hanya Vero pria yang biasanya mengganggu Abelian saat bertemu.
“Bukan. Aku bahkan tidak tau siapa namanya. Kita baru pertama bertemu dan dia dengan kurang ajarnya berani menciumku. Dia benar-benar pria gila!”
“What? dia menciummu? disini?” tanya Selena sambil menunjuk bibirnya. Abelian mengangguk pelan kemudian menenggak minumannya lagi.
“Apa dia tampan?” tanya Selena, dia lebih penasaran bagaimana rupa pria itu dibanding kejadian yang menimpa sahabatnya.
“Apa kau pikir aku masih sempat meneliti wajahnya seperti itu?” tanya Abelian dengan kesal.
Selena menggeleng pelan sambil tertawa kecil, “Tidak. Hanya saja kalau dia tampan, aku rasa tidak masalah.” jawab Selena dengan santainya.
“Tidak masalah itu untukmu. Untukku sebuah bencana.” ucap Abelian dengan sarkas.
“Sudahlah, lupakan soal pria itu untuk sesaat. Sekarang ayo kita turun ke lantai dansa. Kau tampak menyedihkan kalau disini sendirian.” ucap Selena.
Abelian menggeleng, “Aku sedang tidak ingin. Kau saja yang pergi. Tinggalkan aku sendiri.” tolak Abelian.
Selena pun tidak memaksa jika Abelian memang tidak ingin. Ia memilih pergi dan membiarkan Abelain melampiaskan kekesalannya pada minuman.
***
Entah berapa banyak Abelian minum, tapi kekesalannya masih belum menghilang. Ciuman itu selain membekas diingatannya juga rasa hangat dan kenyalnya masih terasa di bibirnya. Itulah yang membuat Abelian kesal setengah mati karena ini adalah ciuman pertamanya.
Abelian meletakan gelasnya dengan sedikit kasar, “Aku pastikan, jika bertemu lagi aku akan membuatnya babak belur. Tidak peduli dia hidup atau mati. Aku benar-benar akan memukulnya.”
“Siapa yang akan kau pukul, Baby?”
“Astaga!”
Abelian berjengit kaget saat mendengar bisikan dari seseorang dan begitu menoleh, alangkah terkejutnya Abelian melihat Castello sedang tersenyum miring sambil menatapnya. Wajah mereka sangat dekat hingga hembusan nafasnya terasa hangat menerpa wajahnya.
“Kau menggodaku, Baby?” bisik Castello serak.
Buru-buru Abelian mendorong Castello, dia bangun dari duduknya dan menatap tajam Castello. Tidak dapat dipungkiri jika Abelian sempat merasa terpesona pada ketampanan Castello, tapi begitu mengingat pria didepannya ini adalah pria kurang ajar itu, kekesalan Abelian kembali mencuat.
“Kau!” Abelian menunjuk Castello dengan jari telunjuknya.”Untuk apa kau di sini? Kau mengikutiku, hah!” tuduh Abelian.
Castello terkekeh geli. “Sungguh percaya diri sekali kau, Baby. Aku ke sini ada pertemuan bisnis, bukan mengikutimu. Atau…kau memang ingin aku ikuti, hm?” tanya Castello, sengaja menggoda Abelian.
“Cih! Tidak perlu!” Abelian kembali duduk dan mengabaikan Castello.
Castello duduk di samping Abelian tanpa izin. Matanya menatap Abelian dengan intens disertai ekspresi wajah datarnya. Castello mengepalkan tangan begitu menyadari jika Abelian memakai pakaian yang sangat minim. Gelenyar aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pasokan udara di sekitarnya seakan menipis. Napas Castello terasa sesak, dia menelan saliva dengan susah payah melihat Abelian menyingkirkan rambutnya ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
‘Sial! kau sengaja memancingku ternyata. Lihat saja, akan ku beri pelajaran.' batin Castello geram.
Castello membuka dua kancing kemejanya, melonggarkan dasi yang terasa semakin mencekik lehernya. Dia berdiri dan langsung memenjarakan Abelian di antara kedua tangannya dari belakang. Castello menghirup dalam-dalam aroma shampo yang menguar dari rambutnya. Wangi buah-buahan segar, dan Castello sangat menyukainya.
Abelian terkejut begitu ada sepasang tangan yang memerangkap dirinya, bulu kuduknya berdiri kala ada seseorang yang mencium rambutnya. Jantung Abelian berdetak lebih kencang, dua kali lipat, ah tidak, tiga kali lipat atau mungkin berkali-kali lipat dari biasanya.
“Aku suka aromamu.” bisik Castello kemudian mengecup singkat pucuk kepala Abelian.
Abelian langsung berdiri karena terkejut. Dia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Castello dan menatapnya tajam.
“Jangan bersikap kurang ajar. Aku tidak kenal kau, dan kau juga tidak kenal aku. Tolong bersikaplah yang sopan,” desis Abelian.
Bukannya takut dengan tatapan tajamnya, Castello justru semakin mendekat. Dia menarik pinggang Abelian dan merapatkan tubuhnya. Tangannya membelai wajah Abelian dengan lembut, refleks Abelian memejamkan matanya.
“Castello. Namaku Castello, Baby. Ingat itu di otak cantikmu.” bisik Castello.
Abelian terdiam dengan tubuh yang meremang. Bisikan itu, sentuhan lembut di pipinya, dan suara beratnya yang terdengar seksi membuat Abelian kehilangan kesadarannya untuk sesaat. Seharusnya dia tidak seperti ini. Alarm bahaya langsung berbunyi di otaknya.
“Bernapaslah.” bisik Castello kemudian terkekeh geli.
Abelian membuka mata kemudian mendorong tubuh Castello dengan kasar hingga rengkuhannya terlepas. Sial! dia hampir saja kehabisan nafas karena Castello membuatnya terpaku hingga tanpa sadar menahan nafas. Abelian menatap tajam Castello yang tersenyum miring sambil menatapnya.
“Aku tidak peduli mau kau Castello, Castillo, atau siapapun itu. Jangan-bersikap-kurang-ajar.” ucap Abelian penuh penekanan.
Castello kembali tersenyum miring, dia sedikit menunduk hingga wajah mereka saling berhadapan, sangat dekat, bahkan Abelian bisa merasakan napas hangat Castello yang menerpa wajahnya. Tanpa diduga Castello mengecup singkat bibir Abelian.
“Kau!” Abelian membulatkan matanya, dia terkejut karena kecupan yang tiba-tiba itu.
“Jangan kau kira bisa memerintah seenaknya. Kau belum tau siapa diriku, Baby. Tapi biar aku beritahu sesuatu, aku paling tidak suka ditolak. Camkan itu baik-baik, Baby.” ucap Castello kemudian dia membalikkan tubuhnya, meninggalkan Abelian yang terdiam dengan wajah memerah karena menahan amarah.
Bugh!
Abelian melemparkan sepatu yang dipakainya hingga mengenai punggung Castello. Wajahnya memancarkan aura menyeramkan, tangannya terkepal kemudian dia berjalan menghampiri Castello yang sedang memegang sepatunya.
“Dengar Tuan tidak tahu malu, jangan kau pikir kau juga bisa memerintahku seenaknya. Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak suka diatur apalagi oleh orang sepertimu.” Setelah mengatakan itu Abelian merebut sepatunya dari tangan Castello dan langsung keluar dari cafe.
Castello terkekeh geli sambil menatap kepergian Abelian, “You are so sexy, Baby.” ucap Castello dengan lantang. Abelian menoleh dan mengacungkan jari tengahnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Castello.
Matahari sudah hampir berada di atas kepala, menandakan waktu sudah hampir tengah hari. Seorang wanita yang sedang bergelung dalam selimut mulai menggerakan tubuhnya. Perlahan-lahan matanya terbuka, dia menguap lebar-lebar sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Abelian menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal, entah dia salah posisi tidur atau memang badannya kelelahan sehingga membuat beberapa bagian tubuhnya sakit. Abelian meregangkan otot-otot tubuhnya dan otot lehernya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat minum-minuman semalam.
"Sial! Seharusnya aku tidak minum terlalu banyak. Hari ini ada pemotretan penting, jangan sampai aku mengacaukannya atau bayaranku akan berkurang." monolog Abelian.
Abelian pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari ranjang dan menuju kamar mandi, dia harus segera membersihkan tubuhnya karena hari ini dia ada pemotretan. Tak peduli meskipun kepalanya masih terasa sakit, dia harus tetap datang ke pemotretan karena ini adalah pemotretan brand ternama dunia. Abelian tidak ingin mengecewakan orang yang sudah mempercayakan dirinya sebagai model untuk produk terbarunya. Terlebih, bayarannya sangat mahal untuk satu kali pemotretan.
Lima belas menit kemudian Abelian pun selesai membersihkan tubuhnya, dia segera keluar dari kamar mandi dan menuju lemari pakaian. Mengambil asal pakaian yang akan digunakan hari ini. Abelian tak pernah mempermasalahkan soal pakaian yang digunakan, selama itu cocok untuknya dan nyaman dipakai, dia akan percaya diri memakainya. Toh apa pun yang dipakainya tidak akan membuat kecantikannya berubah menjadi buruk rupa. Abelian tetap saja cantik dan mempesona bagi kaum pria.
Setelah berpakaian Abelian pun merias diri senatural mungkin, dia hanya memakai pelembab, tabir surya, dan bedak yang dipoles tipis-tipis kemudian memakai pewarna bibir. Abelian mempersiapkan diri secepat mungkin dan setelah semuanya selesai dia segera keluar dari unit apartemennya.
“Hai, Bel.”
“Astaga!” Abelian berjengit kaget begitu membuka pintu, di depannya sudah berdiri pria yang sangat tidak ingin dia temui. Untuk apa lagi Leon menemuinya?
"Kau! Bagaimana kau bisa tahu apartemenku?" tanya Abelian, dia menatap tajam Leon yang tengah tersenyum di depannya. Terlihat sangat menyebalkan bagi Abelian.
"Mudah bagiku untuk menemukan tempat tinggalmu, Bel." jawab Leon kemudian terkekeh, dia menunduk sedikit agar sejajar dengan Abelian, "Kau masih hutang satu ciuman padaku, dan juga kencan kita yang kemarin gagal." bisik Leon.
Abelian tertawa sinis, kemudian menutup pintu dan berlalu meninggalkan Leon begitu saja. Leon mengikuti langkah Abelian yang berada di depannya.
"Bel, setelah pulang pemotretan aku akan menunggumu ditempat kemarin."
Abelian menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya, berhadapan dengan Leon secara langsung. Abelian mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Leon.
"Sudah aku ingatkan kalau aku tidak tertarik padamu, jadi jangan temui aku lagi. Kau belum tahu siapa aku sebenarnya. Ini peringatan terakhir." ucap Abelian dengan nada penuh ancaman.
Leon tidak menganggap serius ucapan Abelian, dia malah menangkap jari telunjuknya dan membawanya ke dalam mulutnya. Abel membulatkan matanya kemudian menarik tangannya.
"Kau! Menjijikan!" teriak Abelian, dia mengibaskan tangannya kemudian mengambil hand sanitizer dari dalam tasnya untuk membersihkan bekas saliva Leon.
"Tidak ada yang menjijikkan, kau juga akan menikmatinya kalau kita bertukar saliva. Mau mencobanya?"
"Sialan!" maki Abelian kemudian mendengus kesal, dia sudah hampir telat pemotretan tapi harus melayani pria gila di depannya.
***
Setelah berdebat dengan Leon cukup lama hingga Abelian harus mengeluarkan pukulan, akhirnya dia bisa pergi dengan tenang setelah memberikan tendangan di pusakanya. Abelian paling benci jika ada yang memaksakan kehendak padanya. Tidak ada satu orangpun yang boleh mengendalikan dirinya.
Abelian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak dipedulikan jalanan yang ramai. Dia menyalip satu mobil ke mobil lainnya dan baru berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Ponsel Abelain berdering, dia kemudian mengambil earpods dan menyambungkannya dengan ponsel agar memudahkannya menjawab panggilan.
“Halo.”
>>”Bel, kau dimana?
“Ada apa?
>>”Ck. Pemotretan sudah dimulai, cepat datang.”
“Oke.”
Setelahnya panggilan pun diputuskan secara sepihak oleh Abelian. Begitu lampu berwarna hijau, dia langsung menekan gas dan meluncur menuju tempat pemotretan. Tidak sampai lima belas menit Abelian sudah sampai di hotel, tempatnya melakukan pemotretan untuk hari ini.
Setelah memarkirkan mobilnya, Abel langsung keluar dan melangkah menuju lift yang akan membawanya menuju lantai atas. Sejujurnya Abelian malas jika harus melakukan pemotretan karena mood-nya sedang tidak bagus.
Begitu masuk lift, Abelian bertemu dengan Vero yang juga baru sampai. Mereka menuju lantai paling atas bersama.
“Tumben sekali kau telat, Bel,” tanya Vero basa basi.
“Bukan urusanmu,” jawab Abelian dengan ekspresi datarnya.
"Semua yang berhubungan dengan dirimu adalah urusanku, kau tahu itu, Bel," ucap Vero.
Abelian yang sejak tadi sudah menahan rasa kesalnya pun menatap Vero dengan wajah datarnya. "Kau bisa diam? Kalau tidak aku yang akan membuatmu diam dengan caraku sendiri dan aku yakin kau akan menyesalinya," ucap Abelian
Vero hendak mengatakan sesuatu, tapi ditelan kembali melihat Abelian yang menatapnya tajam. Vero hanya bisa menelan saliva dengan kasar dan mengangguk. Abelian sedang dalam mode berbahaya untuk didekati.
Denting pintu besi di depannya berbunyi pertanda mereka sudah sampai di lantai paling atas. Abelian keluar lebih dulu meninggalkan Vero di belakang. Dia segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya mengenakan pakaian yang sudah disediakan.
Abelian menuju meja rias begitu selesai mengganti pakaian. Di sana sudah terdapat make up artist yang sedang menunggunya. Abel duduk dan mempersilahkan kepada MUA untuk meriasnya.
“Perutku sakit sekali.” gumam Abelian.
“Kau habis minum alkohol semalam?” tanya perias tersebut.
“Sedikit,” jawab Abelian singkat.
“Minumlah ini terlebih dahulu,” kata perias tersebut sambil menyodorkan botol beling yang mirip seperti botol sirup.
“Apa ini?” tanya Abelian, dia penasaran karena tidak pernah melihat minuman seperti ini.
“Minum saja, ini akan membantu meredakan sakit perut. Aku jamin itu,” kata perias tersebut.
Abelian mengangguk kemudian membuka tutup botol dan meminum isinya hingga habis. Abel membuang botol yang sudah kosong di tempat sampah samping meja rias kemudian mengucapkan terima kasih.
***
“Kau sangat payah Ver, sudah lama kau bersama Abel tapi tidak ada peningkatan sama sekali.” cibir Arfa, salah satu model asal Indonesia yang ikut pemotretan hari ini.
“Diamlah!” kata Vero, kesal.
Arfa tertawa mengejek. Pasalnya Vero yang biasanya selalu dikejar wanita kini harus gantian mengejar wanita. Semua berawal dari kejadian dua tahun yang lalu. Di saat Abelian baru saja meniti karir di dunia modeling, dia merupakan satu-satunya wanita yang tidak tergila-gila pada Vero. Sejak hari itu, Vero dan teman-temannya pun taruhan untuk mendapatkan Abelian. Semua sudah ditolak, tak terkecuali Vero. Namun, karena rasa penasaran dan harga dirinya yang tinggi, Vero tidak pernah berhenti mengejar Abelian. Tidak terhitung berapa kali Vero ditolak.
Vero beruntung karena dia menjadi satu-satunya model pria yang dikontrak bersama Abelian. Menjadi rekan kerja Abelian membuat Vero punya banyak kesempatan untuk semakin dekat. Tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Abelian. Dia masih sama saja dengan Abelian yang dulu. Tidak tertarik pada Vero atau pria manapun.
Terkadang Vero berpikir jika Abelian adalah penyuka sesama jenis, tapi hal itu tidak terbukti. Abelian masih wanita normal, hanya saja sangat sulit untuk dirayu. Abelian cenderung berbuat kasar jika ada yang mencoba melecehkannya. Ah tidak, bahkan menyentuhnya sedikit saja maka Abelian tidak akan segan memukulnya. Kecuali saat pemotretan, dan itu pun harus seizin Abelian. Dia sangat membatasi diri dalam kontak fisik terhadap lawan jenis. Abelian tidak akan menerima pemotretan yang mengandung banyak kontak fisik.
Dan Vero bukan sekali dua kali melakukannya. Dia pernah mencoba menciumnya saat pemotretan gaun pengantin. Bukannya berhasil mencicipi bibir manisnya, justru Vero mendapatkan sebuah cubitan maut di perutnya. Cubitan Abelian bukan main sakitnya, bahkan bekasnya tampak kebiruan.
Vero juga pernah merasakan sakit di ‘asetnya’ karena ditendang oleh Abelian saat dia tidak sengaja memandang Abelian dengan lapar. Abelian sangat tidak menyukai tatapan mesum yang dilayangkan Vero ataupun pria lain. Menurut Abelian itu adalah sebuah pelecehan. Sejak mengalami hal itu, Vero pun memilih jalan lain untuk mendapatkan Abelian. Sungguh, Abelian adalah wanita yang sulit ditaklukan.
“Kenapa kau tidak menggunakan jalan pintas saja?” bisik Arfa di telinga Vero.
“Aku belum siap mati muda. Kau tahu aku belum puas bermain-main.” balas Vero.
Arfa terkekeh mendengar jawaban Vero. Siapa yang tidak tahu kebiasaan Vero. Bermain dengan wanita berbeda setiap harinya. Tapi tetap saja tujuan utamanya adalah mendapatkan Abelian Pimenova.
Vero memperhatikan Abelian yang tengah berpose diatas kursi panjang mengenakan bikini yang mengekspos hampir seluruh tubuhnya. Ini adalah pemotretan kedua setelah selesai pemotretan dengan gaun pesta. Sial! pose yang Abelian lakukan sangat menggoda.
“Damn! dia sangat seksi.” bisik Vero pada dirinya sendiri.
Arfa yang mendengar ucapan Vero pun menimpali.”Tapi sayang dia tidak berhasil kamu taklukan.” cibir Arfa lagi.
“Diamlah atau aku akan membuatmu diam dengan caraku sendiri,” kata Vero menatap tajam Arfa yang justru ditertawakan olehnya.
“Oke, bagus. Sekarang giliran di dalam kolam. Vero, kau masuk kolam juga,” kata sang fotografer.
Vero yang sedang berbincang dengan Arfa langsung berdiri dan menceburkan diri ke dalam kolam. Tak lama setelah itu Abelian pun ikut menceburkan diri. Air kolam yang terasa hangat karena terkena sinar matahari membuat tubuh Abelian jauh lebih baik.
“Abel, coba lebih dekatkan tubuhmu ke Vero, kalungkan tanganmu di lehernya dan Vero letakan kedua tanganmu di pinggang Abel.” Sang Fotografer mengarahkan gaya yang sesuai untuk mereka.
“Bukankah sudah aku katakan tidak ada kontak fisik berlebihan,” kata Abelian pada sang fotografer.
Vero tersenyum licik, tanpa aba-aba dia menarik pinggang Abelian dan merapatkannya. Abelian yang belum siap dengan tarikan Vero pun membulatkan matanya. Melihat Vero yang tersenyum smirk padanya Abelian kemudian mencubit perut Vero.
“Awh” Vero meringis dan melepaskan rengkuhannya.
“Perhatikan letak tanganmu, sialan!” bisik Abelian tajam.
Vero masih mengusap perutnya yang terasa panas akibat cubitan Abelian.
‘Sialan! kalau saja kamu wanita lain sudah aku bungkam mulutmu dengan ciuman.’ batin Vero berucap.
***
Waktu berlalu begitu cepat, matahari pun sudah hampir kembali ke peraduannya. Abelian sudah selesai pemotretan dan saat ini ia sedang duduk sambil menikmati senja. Tubuhnya sudah berbalut kimono untuk menutupi bikini yang masih dipakainya.
Abelian merasa begitu damai dan tenang saat menatap senja ditemani segelas jus dan semilir angin sore. Dia memejamkan matanya sejenak, meresapi ketenangan yang tercipta setelah lelah bekerja.
“Bel, ponselmu dari tadi berbunyi terus.” ucap Vero yang masih ada disana bersama Arfa dan juga yang lainnya. Biasanya mereka akan turun setelah senja berlalu.
“Biarkan saja!” ucap Abelian, paling yang menelponnya adalah Selena. Sahabatnya itu pasti ingin mengajaknya untuk ke tempat hiburan malam dan ia sedang tidak ingin kemanapun malam ini.
“Bel, ponselmu.” ucap Vero lagi. Abelian mengabaikannya lagi, tapi Vero terus memperingatkannya.
“Siapa sih yang menelpon? mengganggu saja.” Abelian merasa kesal karena ponselnya terus-terusan berdering. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, ia mematikan panggilannya, tapi sedetik kemudian ponselnya kembali berdering.
Abelian melihat nomor yang tertera di layar, dan ternyata itu panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Abelian kembali mematikan panggilan itu karena menurutnya tidak penting. Belum ada satu menit Abelian meletakan ponselnya, lagi-lagi ponsel itu berdering. Karena kesal Abelian pun menjawabnya.
“Halo, siapa ini?”
Abelian menunggu hingga dua menit lamanya, tapi tidak terdengar jawaban apapun dari seberang telepon sana.
“Kau tidak punya pekerjaan apa selain mengganggu orang yang sedang bekerja?”
Hening! Lagi-lagi tak ada jawaban apa pun dari seberang sana. Abelian mendengus sebal.
“Kalau masih tidak mau berbicara lebih baik aku matikan panggilannya. Mengganggu saja!”
>>”Ini aku.”
Abelian mengernyitkan alisnya. Dia seperti mengenali suara itu, tapi siapa?
“Kau…siapa?”
Hening! kembali tak ada jawaban dari seberang sana membuat Abelian kesal.
“Terserah. Siapapun anda, tolong jangan hubungi nomor ini lagi.”
Abelian langsung mematikan panggilannya dan menghidupkan mode senyap. Ia mengingat-ingat kembali kepada siapa dia memberikan nomornya baru-baru ini. Tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Dan lagi, suaranya terdengar tidak asing ditelinga Abelian.
“Tidak! ini tidak mungkin dia, kan?” monolog Abelian.
Andai pria itu yang menelponnya, Abelian benar-benar akan memakannya hidup-hidup. Ah tidak. Bisa-bisa dia dipenjara. Lagipula dia tidak segila itu. Mungkin memberinya sedikit pelajaran akan menyenangkan.
“Coba saja kalau kau berani muncul dihadapanku lagi.” ucap Abelian sambil tersenyum iblis.