Bab 2

Apakah, satuan waktu yang berlaku bagi seorang ibu itu berbeda?

Tiba-tiba, kerutan di wajah terlihat kentara. Tiba-tiba, kulit tangan menipis, mengkerut dan telah menua. Apakah tiba-tiba? Atau karena seorang ibu tak sempat untuk berkaca? Tak sempat mematut diri berlama-lama?

Dan tiba-tiba saja, kepercayaan diri memudar, bersembunyi di dalam cangkang. Kata yang semakin kurang, pundak yang semakin merunduk, senyum yang hanya formalitas...

Sudah terlalu lama, perempuan itu kehilangan dirinya. Apa yang ia perjuangkan, pengorbanan yang ia berikan, adalah sebuah pertukaran jiwa...

Sudah tak ada lagi AKU, semua tentang MEREKA. Bahkan nama sendiripun terlupa, berganti panggilan suami atau anaknya. Begitulah ke-AKU-annya hilang tiba-tiba.

Saat kini kerutan di tangannya mengentara, baru ia terasa. 

Kilasan peristiwa yang terasa cepat ternyata berkalang tahun jua. 

***

“Ma, Hana dan mas Hamim harus kembali. Dan... Mmm... Mas Hamim katanya mau ijin dulu sama istrinya sebelum membawa mama, karena paspor dan visa juga tidak bisa dikerjakan secepatnya. Nanti kalau sudah siap dan kak Claris mengijinkan baru mas Hamim jemput mama ya?

Hana belum bisa membawa mama karena Alex sedang tidak bekerja, sementara ini mengurus kedua anak Hana di rumah. Hana tidak bisa membawa mama bareng dengan Hana. Maaf, ma.” Hana dan Hamim mendudukkanku di ruang tamu.

“Iya, ma. Apa untuk sementara mama Hamim carikan nursing home yang bagus di sekitaran sini?”

Aku menggeleng. Baru 2 hari kepergian mas Afnan, anak-anak sudah langsung menawarkanku tinggal di panti jompo. 

“Ma, jangan begini. Apa kata orang nanti lihat kami meninggalkan mama sendirian di sini? Hamim akan merasa bersalah, tapi tolonglah mama mengerti posisi Hamim juga. Hamim tidak bisa serta merta membawa mama. Banyak sekali yang harus dipertimbangkan dalam waktu singkat.”

Hatiku tersayat mendengar ucapan anak laki-laki dan perempuanku, mereka hanya melihatku sebagai beban. Hana pun sama, anak perempuan yang kusayang dan dulu kutimang kemana-mana itu pun berpikir serupa. Padahal ia juga, memiliki dua anak perempuan.

Andai, andai aku bisa mengulang waktu. 

Aku marah, tapi pada orang yang telah tiada. Dan kemarahanku tak menemukan rupa. Kepadanya telah kudedikasikan hampir seluruh hidupku. Namun berbalas pengkhianatan. Puluhan tahun pula.

Maria, nama wanita itu. Aku tak bisa bayangkan bagaimana cantik rupanya saat mas Afnan bertemu dengannya dulu hingga tega mengkhianati pernikahan kita, karena sekarangpun kecantikannya tak luntur.

Aku merasa dibohongi, malu karena selama ini percaya kala kau puji. Sementara mungkin pujian itu kau kirimkan diam-diam justru untuknya, wanita keduamu.

Selama ini, kupikir hanya aku satu-satunya.

“Ma, ayolah... Hamim yang bayar biayanya. Hamim janji akan pilihkan yang paling bagus untuk mama. Hamim gak mungkin meninggalkan mama di sini sendiri, kalau ada apa-apa sama mama mau minta tolong sama siapa? Dan ingat ma, mama sudah sering sakit. Hamim gak tenang nanti di sana.”

“Iya ma, mama jangan egois dong. Sementara saja, nanti mas Hamim jemput mama, ya?” Dukung Hana tak mendengar ucapannya sendiri.

Kutatap mereka berdua dengan seksama, mencari keseriusan di wajah mereka. Apakah semua yang kudengar dengan telinga tuaku ini bukan khayalan semata? Siapa dua orang asing ini yang begitu tega terhadap ibu mereka? Apakah aku salah mendidik mereka dulunya?

Kurangkah perhatian dan kasih sayang yang kucurahkan dulu semasa mereka tumbuh hingga mereka tak sayang padaku? 

Sebenarnya yang egois siapa? Bisa-bisanya mereka masih saja meminta setelah separuh lebih usiaku dihabiskan untuk membesarkan mereka. Tak boleh sakit, tak boleh lelah, tak boleh mengerjakan pekerjaan rumah, tugas mereka hanya belajar agar kelak dapat menggapai mimpi yang mereka inginkan seluas-luasnya. 

Biarkan aku saja yang meredam eksistensi diri, anak-anakku harus bebas terbang dengan sayap terkembang.

Hatiku membeku, tak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya ingin ditinggalkan sendiri, menyelami sepi dan sakit hati. Tolong, berikan wanita tua ini waktu untuk meresapi nelangsa yang sedang mendera.

Padahal, selama ini mereka tahu kebohongan mas Afnan yang ikut mereka tutupi, sekian puluh tahun tak ada satupun yang sudi memberitahuku. Aku dibiarkan berada di luar lingkaran. 

Benarlah jika mereka duniaku, tapi aku tak pernah menjadi bagian dari mereka. Aku mencintai mereka, yang tak mencintaiku sama besarnya. 

“Ma! Ayolah... Mama kenapa diam terus? Jawab dong ma...” rengek Hana menggerakkan lututku.

Apa yang harus kujawab? Ini sedari tadi bukannya mereka sudah memutuskan nasibku bagaimana kan? Apa aku masih berhak bersuara?

“Ma, kalau mama masih marah soal tante Maria, apa mama gak sadar kenapa papa sampai demikian? Karena mama terlalu manja! Terlalu bergantung sama papa. Dulu kalau sama mama kami pasti selalu disuruh berhemat, tapi kalau sama tante Maria apa yang kami mau pasti dibelikan.” 

Kutatap Hamim tajam. Bisa-bisanya dia berkata demikian, sementara aku tak bekerja karena dulu mengurus mereka. Dan kini tahulah aku kemana saja uang papa mereka, padaku dia hanya memberikan gaji pokoknya yang tak seberapa saja, sementara hasil dari bisnis dan proyeknya diberikan pada Maria.

Sakit... Sungguh sakit...

***

Ayna termenung melihat larik sinar matahari menyinari kulit tangannya yang telah keriput. Air mata tiba-tiba mengalir dan ia menangis begitu hebatnya. Hari ini, ia tumpahkan segala sesak.

Seminggu sudah setelah kepergian Mas Afnan, anak-anaknya yang sudah berkeluarga kembali ke belahan dunia berbeda dan menjalani rutinitas mereka masing-masing.

Di sini, di teras tempat ia dan mas Afnan biasa menghabiskan waktu, ia memberanikan diri untuk duduk. Di sebelahnya tas besar berisi pakaiannya telah disiapkannya sendiri. Menunggu taksi yang akan membawanya ke panti jompo, sesuai arahan Hamim anaknya.

Selama ini, pandangannya selalu berfokus pada orang lain, baru hari ini ia melihat dirinya sendiri. Dan di situlah ia sadar, waktu yang ternyata telah terlewat, ia kehilangan ke-aku-an, ia tak punya tujuan.

Berpuluh tahun sudah, apa yang sudah ia lakukan?

Mengapa di sini hanya ia yang berkorban? Seluruh dedikasi yang diberikan untuk keluarga, beginikah ujungnya?

Ikhlas? Setelah setua ini, ia hanya ingin berdamai dan menikmati sisa waktu yang ia punya menjemput pertemuannya dengan sang pangeran hati tercinta. Begitu pikirnya semula.

Namun mengapa harus ada peristiwa kemarin? Lapis demi lapis luka yang ia plester agar tetap melanjutkan hidup itu selama ini bisa ia acuhkan. Namun kejadian kemarin membuat tambalan itu terbuka dan lihatlah luka itu telah menjadi kaldera borok.

Pertanyaan yang takut sekali di jawab oleh Ayna adalah. 

“Apakah aku bahagia?”

“Apakah benar ini hidup yang Ayna kecil dulu inginkan?" Ayna memejamkan mata, membayang mimpi milik sang sosok kecil dirinya di masa lalu. Mimpi yang tersingkirkan dan terlupakan. Tersimpan rapat-rapat dalam kotak sepatu di rumah masa kecil yang ia tinggali dulu.

Hal baik apa yang sudah kulakukan untuk diriku sendiri? Aku seperti kuda yang diberikan kacamata, disetir oleh Pak Kusir dengan imbalan utuhnya pernikahan. 

Taik.

#Sorry for the strong word.

Bab 3

Sebuah mobil berhenti di depan pagar. Sopirnya langsung turun dan mengintip dari jerujinya.

“Atas nama Ibu Ayna!” teriaknya yang kubalas dengan lambaian tangan pelan agar ia menyadari keberadaanku.

Demi melihat barang bawaanku, sopir baik hati itu meminta ijin masuk ke halaman rumah dan membantuku mengangkat tas besar itu ke mobil. Sementara ia sibuk memindahkan barang bawaanku ke bagasi, aku termangu di depan pintu rumah itu.

Mungkin ini terakhir kalinya tangan ini mengunci pintu rumah kami, amanat yang dititipkannya padaku akan kulepaskan. Aku tak menginginkan apa-apa lagi. Tak butuh pengikat antara aku denganmu, mas.

Aku akan kembali ke sini kala kerabat dan kenalan membaringkan tubuhku di ruang tengah dan mengaji untuk mengantarkanku ke peristirahatan terakhir.

Jika dulu aku berat meninggalkan rumah ini, maka kali ini hatiku terasa ringan. Tanpa beban. Kunci itu tak kubawa, kuletakkan di dalam pot anggrek bulan yang menempel pada dinding pagar. Hamim dan Hanana tahu kebiasaan kami ini, jadi jika sewaktu-waktu mereka kembali. Mereka tahu harus mencari di mana.

Aku mulai menerima keputusan yang Hamim dan Hana berikan. Mungkin ini awal yang baik untukku, setelah semua yang terjadi. Keluar dari rumah ini adalah langkah awal yang baik agar hatiku tak depresi mengingat-ingat pengkhianatan mas Afnan selama pernikahan kami. Karena setiap sudut rumah bukan lagi bercerita tentang kenangan kita, tapi betapa bodohnya aku selama ini.

Pak sopir dengan sabar menungguku naik.

“Ke Rumah Teduh Melati Bahagia ya bu?” Sapanya ramah sambil memencet-mencet layar ponsel.

“Iya nak, pelan-pelan ya nyupirnya... Ibu gampang mual kalau ngebut.”

“Baik bu, kenyamanan ibu adalah prioritas saya. Oya, pantinya bagus ini bu. Saya juga ada bapak di sana, setelah tinggal di sana beliau terlihat lebih sehat dan banyak senyum bu, karena punya teman ngobrol.” Dengan ramah sang sopir bercerita tanpa kuminta.

Aku hanya tersenyum, aku gak butuh teman. Aku butuh damai dan mati dengan tenang. Namun pikiran mati sendirian tanpa ada seorang pun yang tahu juga terasa begitu menakutkan. Aku ingin jenazahku diurus secepatnya dan dikebumikan seperti seharusnya.

Aku teringat, belum menuliskan surat wasiat untuk Hamim dan Hana. Aku memastikan diriku untuk tak lupa menyampaikan satu saja amanat penting jika nanti telah tiada. Selebihnya terserah mereka berdua.

Permintaan kecil, yang kurasa justru tak akan memberatkan mereka kelak. Yaitu aku tak ingin dikubur bersebelahan dengan mas Afnan. Cuma itu. Karena aku tak sudi.

Bekasi macet seperti biasa, jalanan utamanya padat merayap. Panas membara di luar, batas perbedaan antara kondisiku dan pemuda yang berdandan sebagai manusia silver di luar hanyalah setipis kaca mobil. Sementara dia panas-panasan sambil menenteng ember untuk menampung uluran belas kasihan dari orang-orang hanya untuk mengisi perut hari itu, aku merapatkan syal karena kedinginan oleh angin dari air conditioner dalam mobil.

Aku menurunkan kaca mobil, mengulurkan tangan memberikannya selembar uang berwarna merah yang diterimanya dengan suka cita dan ucapan terimakasih berulang kali. Lihatlah, semudah itu aku menyebrang jarak antara ketimpangan dunia kami.

Andai, andai begitu pula mudahnya memangkas jarak antara masa kini dan masa lalu. Aku pun ingin semudah ini mengubah takdirku. 

Ada hutang yang ingin kubayar, untuk diriku yang selama ini telah kupaksa masuk ke dalam laci. Oh, betapa tak berdayanya seorang manusia...

Aku bukannya ingin dianggap kufur nikmat. Kekecewaanku belum menemukan pintu... Waktu yang memberi rasa sakit, akankah waktu pula yang menyepuh luka yang begitu lebar menganga ini?

“Masih jauh tidak nak?” Tanyaku pada sopir taksi online ini.

“Lumayan bu, karena macet jadi sekitar 1 jam lagi. Ibu istirahat dulu saja, nanti saya bangunkan kalau sudah sampai.”

“Ya. Terimakasih.”

Pikiranku mengembara, nun jauh ke masa pertemuan kita pertama. Padahal takdir kita bisa saja tak ketemu hari itu, namun kenapa aku bersikeras padamu? 

*** 40 tahun lalu -

“Na... Ayna, antar aku ke perpus yuk? Sudah sore, aku takut sendiri...” Bujuk Rita, sahabatku.

“Kan nanti di sana juga gak sendirian Ta, banyak yang nemenin tahu...”

“Mahluk tak kasat mata? Hii, ogah. Kalau dari fakultas lain mungkin iya banyak yang juga lagi cari literatur, tapi buku-buku jurusan kita kan di seksi yang nyempil tersendiri Na. Di lantai tiga pula... Haduuh, bawaanku merinding kalau sudah di sana. Yuk Na, temenin dooong...” Rita merajuk manja sambil memegangi tanganku. 

Aku akhirnya luluh. Keputusan yang bodoh.

Saat Rita dan aku hendak menyerahkan kartu berlangganan ke petugas perpus, ransel yang kusampirkan ke depan ternyata belum tertutup sempurna hingga memuntahkan isinya. Panik karena isinya kebanyakan sampah dari coret-coretan puisi tidak jelasku. 

Sepasang tangan dari orang yang mengantri di belakangku terulur membantuku mengumpulkan isi ranselku. Aku masih belum menyadari siapa pemilik tangan itu. Hingga saat semua telah terkumpul dan kepala terdongak baru aku melihat sang pemilik tangan baik hati itu.

“Makasih, mas.”

“Sama-sama... Sore banget mbak ke perpusnya?” Sapa pria itu ramah.

“Iya mas, baru dapat tugas.” Balasku sekenanya dengan tampang malu-malu.

“Boleh kenalan gak? Saya Raqib.”

“Mm... Ayna, mas.” Aku menjawab malu-malu.

“Iiish, bisa-bisanya kenalan di situasi begini. Cepetan! Ngantri nih, bentar lagi perpus tutup!” Hardik seseorang ketus dari belakang mas Raqib.

Dialah mas Afnan.

Padahal, dari pertemuan awal itu saja harusnya aku sadar bagaimana sikap mas Afnan sebenarnya, arogan dan mulut manis penuh intriknya. Tapi, aku terlalu buta, silau oleh tampang gagahnya yang digilai banyak wanita di kampus.

Sementara lelaki yang mencintaiku dengan tulus terpampang nyata di depan mata. Bodoh, bodohnya kamu Ayna...

*** 

“Bu... Maaf, kita sudah sampai.” Sapa sang sopir yang menyadarkanku dari lamunan.

“Oh, sudah sampai?” Aku turun dari kursi penumpang dengan ekstra lambat, tubuh tua ini sudah tak bersahabat. Sakit di beberapa persendian.

Berdiri di dekat mobil, aku mengamati rumah tempat Hamim mendaftarkanku. Rumah ini luas, tipikal rumah orang kaya jaman dulu. Dari pintu gerbang menuju rumah utama di batasi oleh halaman penuh sayur mayur dan bunga-bungaan, pohon mangga dan jambu memagari area kebun dan jalur masuk. Sangat asri.

“Selamat datang bu di Rumah Teduh Melati Bahagia, dengan Ibu Ayna kan? Saya Indah bu, suster yang akan menemani ibu selama di sini. Mari saya bawakan barang ibu... Pemilik Rumah Singgah ini sedang menunggu Ibu. Beliau bilang Ibu adalah tamu istimewa yang beliau tunggu-tunggu kedatangannya... Mari bu?” Ramah sang wanita mengajakku masuk.

“Pemilik? Menunggu saya?” Tak urung aku penasaran, aku tak ingat punya kenalan pemilik panti jompo.

“Ya bu. Pak Raqib Abdullah. Pemilik tempat ini.”

Deg!

Mengapa takdir seolah mengolok wanita tua ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED