Ular semakin melilit kakinya. Keringat dingin Christina mulai bercucuran. Ia berpikir sejenak, jika dia menembak ular itu maka suara tembakannya akan terdengar sampai di kastil Morgan. Dia mulai berpikir ulang. Beberapa detik kemudian, ia mengingat bahwa ia sedang mengantongi semprotan cairan bius.
Sebelum ia menyemprotkan ke ular itu, ia menutup hidungnya dengan kain tebal agar tidak menghirup cairan bius tersebut. Christina menyemprotkan tepat di kepala ular itu berulang kali. Dalam hitungan detik, ular itu tak berdaya. Lilitannya menjadi merenggang kemudian ular itu terkapar lemas.
“Yes, berhasil! Aku harus segera keluar dari hutan ini,” Christina segera berlari mencari jalan keluar hutan itu.
Ketika waktu sudah menunjukan pukul 05.00 pagi, dia baru saja sampai di desa seberang hutan tersebut. Awalnya ia bingung sedang berada dimana sekarang ini. Kemudian ia beranikan diri bertanya kepada seseorang pria yang tengah melintas dijalan tempatnya berdiri saat ini.
“Maaf Tuan, apakah nama desa ini?” tanya Christina dengan sopan.
Orang tersebut memperhatikan dengan seksama penampilan Christina. Namun ketika ia melihat dua buah revolver di pinggang Christina, pria itu langsung melarikan diri.
“Dasar, ditanya baik-baik malah kabur!” gumam Christina.
Di tempat ini Christina menjadi pusat perhatian warga desa yang ia singgahi.
“Sepertinya aku harus segera pergi dari tempat ini,” Christina melihat ke kiri dan kanan tempatnya berdiri.
“Pasti gara-gara revolver ini mereka takut melihat diriku!” Christina memasukkan revolver-nya ke dalam tas ransel.
“Aku akan pergi jauh dari negara ini. Tapi aku harus kemana? Sedangkan aku saja tidak tahu sekarang aku berada dimana?” Christina sambil berjalan menyusuri jalan.
“Hei, Nona!” seorang wanita paruh baya memanggilnya.
“Maaf, apakah Anda manggil saya?” tanya Christina seolah tidak percaya bahwa ada orang yang mau menyapa dirinya.
“Benar saya memanggilmu. Kemarilah, Nona!”
“Ada apa Anda manggil saya?” tanya Christina sambil berjalan mendekati wanita paruh baya tersebut.
“Kamu pasti bukan orang asli daerah sini?” tanya wanita itu.
Christina berpikir sejenak. Dalam hati berkata, “Jika aku mengatakan bahwa aku adalah anak dari seorang mafia, pasti dia akan takut. Jika ku katakan namaku, pasti orang ini juga tahu siapa jati diriku. Tuhan ... Aku harus bagaimana?”
“Hei Nona, kamu kenapa diam saja?”
“Hik ... hik ... hik ... Saya kabur dari rumah. Orang tuaku mau dijodohkan saya dengan pria tua. Saya menolak, saya tidak mau itu terjadi! Entah saya harus kemana lagi sekarang, hik ... hik ... hik ... “ ide yang datang tiba-tiba telah membantu dia untuk menyembunyikan jati dirinya.
“Kenapa orang tua mu begitu tega? Kalau begitu sebelum kamu melanjutkan perjalananmu, singgahlah sebentar di gubukku,” kata wanita itu.
Christina sedikit curiga dengan wanita itu. Kenapa wanita itu baik kepada dirinya.
Sesampai di rumah kecil milik wanita tua itu, wanita itu menyajikan semangkuk sup untuk Christina.
“Jangan-jangan wanita itu menaruh racun di makananku!” gumam Christina lirih sambil memegang semangkuk sup.
“Hahahaha ... Untuk apa aku meracunimu, Nona? Aku saja tidak kenal siapa kamu! Wajahmu tampak pucat, sepertinya kamu belum makan dari kemarin. Maka dari itu aku menyajikan sup ini untukmu,” wanita itu tertawa.
Wajar saja Christina waspada. Selama hidupnya diajarkan untuk selalu berhati-hati kepada orang asing. Apa lagi selama ini Christina tidak pernah memiliki teman. Dia tidak pernah menerima kebaikan orang lain kecuali ayahnya sendiri.
Seusai makan, Christina berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya.
“Tunggu Nona, ganti lah baju mu dengan gaun ini. Baju ini adalah milik anakku. Akan tetapi satu bulan yang lalu dia sakit dan meninggal dunia,” wanita itu terlihat sedih saat teringat anaknya.
“Terima kasih, Anda sangat baik kepadaku walau kita baru saja berjumpa,” Christina menerima gaun itu dengan iba.
“Ganti lah bajumu di kamar anakku,” wanita itu menunjuk ke arah kamar anaknya.
Ketika akan mengganti pakaian, Christina melihat-lihat seisi kamar milik anak gadis dari wanita tua itu.
“Betapa bahagianya menjadi gadis ini. Dia memiliki banyak teman. Universitas Seoul? Gadis ini lulusan Universitas Seoul?” Tiba-tiba Christina memiliki ide untuk melarikan diri dari negeri ini.
Christina mengambil kartu identitas, paspor, dan ijasah milik anak gadis dari wanita paruh baya itu yang telah tiada. Ia meninggalkan pesan di secarik kertas dan satu bendel uang tunai untuk wanita paruh baya sebagai ganti rugi identitas anaknya yang akan dia pakai.
Christina berpamitan kepada wanita paruh baya dengan tergesa-gesa. Setelah Christina pergi, wanita itu memasuki kamar anaknya. Dia melihat ada satu bendel uang tunai di atas meja dan secarik kertas. Wanita itu membacanya.
Inilah isi surat tersebut!
Untuk: Wanita penolongku
Nyonya, Terima kasih atas semangkuk sup buatanmu yang sangat enak. Terima kasih juga untuk gaun yang telah anda berikan. Akan tetapi sebelumnya aku juga meminta maaf karena tanpa sepengetahuanmu, aku telah mengambil beberapa barang milik mendiang anakmu.
Kartu identitas, paspor dan ijasahnya.
Tolong jangan marah. Aku tidak akan menggunakan untuk kejahatan.
Aku akan mempergunakan untuk pergi jauh dari tempat ini.
Mohon anda terima sedikit pemberian dariku.
Sekali lagi terima kasih dan aku memohon maaf.
Salam dari gadis yang kau tolong.
Wanita itu menangis membaca surat itu.
“Kenapa tidak kamu memintanya secara langsung? Pasti akan ku berikan. Aku tahu kamu gadis baik, Nona. Kenapa kamu memberiku uang sebanyak ini? Untuk apa uang sebanyak ini?” wanita itu menangis mengingat wajah Christina.
Akhirnya Christina memutuskan untuk pergi ke Seoul. Perjalanannya dimulai dari desa itu menaiki bus untuk menuju kota. Sengaja Christina memilih untuk menaiki bus kota karena ia ingin menghapus jelaknya di desa itu dengan memasuki kerumunan di dalam bus.
DI KASTIL KELUARGA MORGAN
Kini Tuan Alex Morgan sedang murka. Dia mencari keberadaan Christina ke seluruh penjuru hutan di belakang kastil. Pagi ini Tuan Alex baru saja melakukan transaksi penjualan beberapa senjata laras panjang. Uang yang ia terima dari transaksinya hari ini akan ia masukan ke dalam brankas. Betapa terkejutnya Tuan Alex, uang tunainya di dalam brankas habis tak tersisa. Hanya tertinggal beberapa batang emas saja.
“Dimana semua uang ku? Pasti ini ulah Christina. Tunggu saja, sebentar lagi kamu pasti tertangkap. Aku pastikan akan memberikan hukuman padamu!” Tuan Alex Morgan begitu tampak sangat marah.
“Anak kurang ajar! Penjaga!” teriak Tuan Alex Morgan.
“Ada apa, Tuan?” seorang penjaga datang dihadapan Tuan Alex Morgan.
“Sudah ada informasi tentang keberadaan Christina?” tanya Tuan Morgan.
“Maaf Tuan, kami belum mendapatkan info tentang Nona Christina,” Penjaga itu menunduk ketakutan.
“Tidak becus! Sekarang cari lagi sampai ke seluruh kota! Christina tidak mungkin akan pergi jauh. Bahkan ia tidak memiliki teman di sini,” kata Tuan Morgan.
“Iya Tuan! Kami akan segera berpencar mencarinya ke seluruh penjuru negeri,” jawab seorang penjaga.
Di sisi lain, beberapa penjaga mencari Christina hingga ke desa yang sempat Christina singgahi. Semua warga desa itu pun di tanya satu persatu dengan menunjukan foto Christina. Tak terkecuali wanita paruh baya yang sempat menolong Christina.
“Nyonya, apakah Anda pernah melihat gadis ini?” Seorang penjaga menunjukan foto Christina.
Wanita itu pun melihat foto yang ditunjukan sang penjaga. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui sosok yang difoto tersebut adalah gadis yang sempat ia tolong.
“Dia adalah Nona Christina Morgan. Anak dari Tuan Alex Morgan. Anda pasti pernah mendengarkan marga keluarga Morgan.”
Wanita paruh baya itu semakin gemetar setelah mengetahui bahwa gadis yang ia tolong adalah anak dari Tuan Morgan. Tentu saja dia sering mendengar tentang Mafia yang sangat berpengaruh di Perancis ini.
“Apakah Anda pernah melihatnya, Nyonya?” tanya penjaga itu mengulang pertanyaannya.
“ ..... “ wanita paruh baya itu hanya diam badannya gemetar serta jantungnya yang berdetak semakin kencang karena ketakutan.
“Nyonya, sekali lagi saya tanya. Apakah Anda pernah melihat gadis ini?” tanya penjaga itu semakin menegaskan karena curiga.
Wanita paruh baya itu hanya diam badannya gemetar serta jantungnya yang berdetak semakin kencang karena ketakutan.
“Ada apa denganmu, Nyonya?” tanya penjaga itu.
“Aku takut .... “ kata wanita paruh baya itu.
“Anda gemetar? Apa Anda pernah melihat gadis ini, Nyonya?” tanya penjaga itu bertanya kembali.
“Tidak ... Aku tidak pernah melihatnya.” Ungkap wanita itu sambil memalingkan wajahnya.
“Kalau begitu, kenapa Anda gemetar?”
“Karena saya takut saat mendengar nama mereka.” Wanita itu mencari alasan.
“Apakah Anda serius? Hanya karena mendengar namanya saja, Anda ketakutan?” penjaga itu tampak curiga.
“Anda sungguh tidak pernah melihat gadis ini?” penjaga semakin menekan wanita paruh baya itu.
“Saya tidak pernah melihat gadis ini. Apakah mungkin Nona Christina Morgan yang seorang konglomerat, mau memasuki desa kumuh seperti ini?” wanita itu membalikkan pertanyaan.
“Iya Anda benar juga. Saya akan mencoba mencari Nona Christina ke tempat lain. Maaf telah mengganggu Anda!” kata penjaga itu.
“Tidak masalah!” jawab wanita paruh baya. Penjaga pun berlalu pergi meninggalkan wanita itu.
Wanita paruh baya itu segera masuk rumah dan mengunci pintunya.
“Ya Tuhan, jadi gadis yang tadi pagi di sini adalah Christina Morgan? Jadi dia gadis yang sering orang sebut dengan julukan ratu mafia? Anak dari Tuan Morgan, mafia terkuat di negara ini. Namun entah mengapa malah aku membahayakan keselamatanku sendiri untuk melindungi Nona Christina Morgan dengan tidak mengatakan yang sebenarnya?” wanita itu bertanya kepada dirinya sendiri.
Di tempat lain, Alex Morgan mengerahkan seluruh gangster di penjuru negeri untuk mencari Christina Morgan.
“Kenapa kalian becus! Hanya mencari seorang gadis saja, kalian tidak bisa menemukannya!” Tuan Morgan memarahi seluruh penjaga. Penjaga hanya diam tidak berani menjawab.
“Cepat hubungi seluruh gangster di negeri ini. Katakan kepada mereka, siapapun yang menemukan Nona Christina Morgan akan mendapatkan uang tebusan,” terang Tuan Morgan.
“Siap melaksanakan tugas!” jawab salah seorang penjaga.
Setelah penjaga itu pergi, Tuan Alex Morgan merasa pikirannya kacau. Antara marah dan sedih bercampur menjadi satu.
“Mengapa kamu melawan ayahmu sekarang? Selama ini kamu adalah kebanggaan untuk Ayahmu. Kamu sudah bisa memegang kendali pasar global (jual-beli senjata api) di usiamu yang masih cukup muda. Christina, kamu dimana sekarang?” kata Tuan Alex Morgan sambil memandangi foto sang putri kesayangannya.
Di penjuru Negeri kini semua gangster tengah berlomba-lomba untuk mencari keberadaan Christina.
Di tempat lain, Christina menyempurnakan penyamarannya agar menyerupai penampilan sang gadis yang identitasnya kini ia pakai. Christina mengubah warna rambutnya yang pirang menjadi hitam. Ia menggunakan kacamata dan penjepit rambut layaknya penampilan gadis itu. Ia mengenakan gaun warna soft membuat dirinya tampak lebih feminim. Christina juga mengunakan high heels di kaki jenjangnya.
Christina berjalan memasuki Bandara dengan penuh percaya diri. Christina melihat beberapa penjaga kastilnya sedang berlalu lalang di dalam bandara. Ia juga melihat beberapa kelompok gangster sedang berkeliling. Akan tetapi ia tetap berjalan dengan tenang. Tiba-tiba seseorang memegang bahunya.
“Tunggu, Nona!” seorang gangster menghentikan langkahnya.
Mata Christina seketika membulat dan langkahnya seketika terhenti.
“Ehm ... Ehm ... “ Christina mengubah nada bicaranya.
“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?” jawab Christina sambil tersenyum.
“Tunjukanlah kartu identitas mu!” perintah salah seorang gangster itu.
“Tapi untuk apa kartu identitas saya, Tuan?” tanya Christina.
“Saya ingin mengecek data Anda!” kata gangster tersebut.
“Padahal Anda bukan polisi, tetapi mau mengecek data seseorang?” gerutu Christina sambil memberikan kartu identitasnya kepada gangster tersebut.
“Jagalah cara bicaramu, Nona!” kata gangster sembari menerima kartu identitas tersebut.
Tertera dengan jelas nama Kim Ara, berkewarganegaraan Korea Selatan di dalam kartu identitas tersebut. Gangster itu tampak menyamakan wajah Christina dan Kim Ara.
“Pipimu tampak gemuk di foto kartu identitasmu? Sedangkan kau saat ini, pipimu lebih tampak kurus.” Kata gangster itu mulai tampak curiga.
“Hik ... Hik ... Hik ... Kamu siapa sebenarnya? Apakah kamu mantan pacarku? Bukan! Iya memang aku dulu lebih gemuk. Tetapi aku berusaha sekuat tenagaku untuk diet dan olahraga agar tidak di-bully. Tetapi kenapa kamu tiba-tiba datang dan mengintimidasiku?” Christina berpura-pura menangis sambil menjambak rambut anggota gangster itu.
“Aw ... Aw ... Nona sakit! Hentikan!” gangster tersebut merasa kesakitan ketika di jambak.
Karena mendengar keributan, beberapa polisi datang melerai Christina dan gangster itu.
“Ada apa ini? Kenapa ribut?” Tanya seorang Polisi.
“Dia ... Dia mengintimidasi penampilanku, Pak! Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Hik ... Hik ... Hik .... “ Christina berpura-pura menangis.
“Bukan mengintimidasi, Pak! Lihatlah foto di identitas dan dirinya saat ini sangatlah berbeda!” gangster itu membela dirinya sambil memberikan kartu identitas Christina kepada polisi tersebut.
Sesaat kemudian, polisi itu mengerutkan keningnya ketika mulai merasa curiga.
“Tentu aku berbeda! Itu sebelum aku diet. Sekarang aku sudah berhasil diet apakah tetap menjadi masalah untuk kalian? Apakah istri kalian yang dulu dan sekarang tetap sama? Ada yang tambah gemuk. Juga ada yang sekarang semakin langsing. Benar tidak?” Christina menjelaskan kepada Polisi.
Polisi tersebut menganggukan kepala sambil memegang kumisnya tanda setuju dengan pendapat Christina.
“Ada benarnya perkataan dari Nona Kim. Istriku dulu waktu masih berpacaran, dia langsing dan seksi. Sedangkan sekarang, lebih berisi dan melebar badannya,” kata polisi itu sambil menepuk jidatnya.
“Sebaiknya Anda meminta maaf kepada Nona Kim,” tambah polisi itu.
“Sialan! Maafkan aku Nona Kim Ara!” umpat gangster itu dan segera meninggalkan Christina dan polisi.
“Anda berkewarganegaraan Korea Selatan?” tanya polisi.
“Iya benar, Pak! Saya berkewarganegaraan Korea Selatan sesuai kartu identitas saya,” kata Christina.
“Bisakah anda menunjukkan paspor Anda, Nona Kim?” tanya Polisi.
“Tentu Pak. Ini paspor saya! Christina memberikan paspor milik Kim Ara.
“Di paspor foto Anda juga masih sangat gemuk, Nona. Saya berpesan, nanti sesampai di Korea Selatan Anda harus segera mengganti foto kartu identitas dan paspor Anda secepatnya. Agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tutur polisi tersebut.
“Oke Pak, terima kasih!” jawab Christina.
Christina merasa lega telah berhasil mengelabui polisi dan gangster. Siapa sejatinya gangster itu saja Christina mengetahuinya. Gangster itu adalah orang suruhan Tuan Alex Morgan, ayahnya sendiri.
Beberapa gangster lainnya tetap berkeliling di sekitar bandara. Christina tetap bersikap tenang agar tidak ada yang mencurigai gerak-geriknya. Ia juga mematuhi peraturan untuk antri di loket dan menunjukkan bahwa dirinya adalah warga negara yang baik.
Christina memasukan tas nya ke mesin deteksi. Sialnya ia lupa mengeluarkan pistol di dalam tasnya.
“Sial! Kenapa aku bisa sebodoh ini. Kenapa aku bisa lupa mengeluarkan revolver itu?” Christina menggerutu menyalahkan kecerobohannya.
Tiba-tiba ada panggilan untuk Kim Ara dari petugas bandara.
“Panggilan kepada Nona Kim Ara, kewarganegaraan Korea Selatan agar segera ke ruang pusat informasi dan menemui petugas. Sekali lagi panggilan untuk Nona Kim Ara, kewarganegaraan Korea Selatan agar segera ke ruang pusat informasi dan menemui petugas.”
“Sial! Aku harus bagaimana sekarang?” Christina berjalan ke ruang informasi untuk memenuhi panggilan tersebut.
Di ruang informasi.
“Selamat siang, Pak! Ada yang bisa saya bantu?” Christina menampakan wajah polosnya.
“Selamat siang, Nona! Apakah Anda tahu kenapa Anda dipanggil ke sini?” kata seorang petugas bandara.
“Maaf Pak, saya tidak tahu alasannya.” Christina menjawab dengan wajah lugu.
“Selamat siang! Nona Kim Ara, kenapa Anda di sini?” kata seorang polisi memasuki ruang informasi. Polisi itu adalah polisi yang tadi melerai Christina dan gangster waktu di lobi bandara.
“Apakah tas ini milik Anda?” tanya petugas bandara.
“Iya ... Benar itu tas saya, Pak!” jawab Christina tetap menampilkan kepolosannya.
“Kami menemukan dua buah revolver di dalam tas ini,” Petugas bandara menunjukan dua buah senjata api tersebut.
“Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda memiliki senjata api? Cepat katakan!” tanya petugas bandara dengan nada tinggi.