Evelyn menggeleng-gelengkan kepala mendengar tuduhan tak berdasar dari Marissa.
" Kenapa masalahnya jadi meluber kemana-mana, sih, mbak? Aku hanya meminta kamu menjaga jarak dengan suamiku! Bukan menjauhkan dia dengan anaknya! Kenapa pikiran kamu sesempit ini, sih? Bukan kah kamu itu berpendidikan? Seharusnya bisa berpikir, bukan? Apa selama berbicara tadi aku pernah menyebutkan ingin memisahkan anak mu dengan ayah nya? " Evelyn yang tak tahan dengan tuduhan buruk Marissa akhirnya meledak juga.
" Halah ... Kamu memang nggak ucapin secara langsung! Tapi dengan meminta aku menjaga jarak dengan mas Bian artinya sama saja dengan kamu ingin menjauhkan Chika darinya! Bahasa mu itu nggak usah sok lembut, kalau tetap saja tersirat niat jahat didalamnya! " ucap Marissa dengan lantang. Orang-orang yang ada disekitar mereka sempat menoleh memperhatikan perdebatan antara keduanya.
" Terserah pikiran mu, mbak! Susah kalau ngomong sama orang egois! " balas Evelyn sambil mengemas barangnya hendak berlalu dari sana.
" Siapa yang kamu bilang egois? Hah? " pekik Marissa seraya bangkit dari duduknya dan berdiri dengan wajah memerah.
" Siapa lagi? Aku sedang berbicara denganmu disini, " sahut Evelyn dengan tatapan meremehkan.
Marissa semakin meradang saat mendapat tatapan remeh dari istri lelaki yang masih ia cintai itu.
" Kamu! " ucap Marissa dengan gemas. Telunjuknya sudah menuding wajah perempuan ayu didepannya itu.
" Jika kamu berpendidikan, seharusnya tau malu, mbak! Lihat sekeliling mu, semua orang sedang menatap kearah sini. Atau memang urat malu mu sudah putus? Ah, aku lupa, sepertinya memang kau sudah tak tau malu lagi, ya? Jika kau tau malu, tidak mungkin juga terus mendekati suami orang, bukan? " ucap Evelyn santai tapi penuh penekanan.
Marissa baru saja akan membalas, namun manager cafe sudah mendatangi mereka dan meminta pergi.
" Maaf! Jika anda berdua ingin ribut, silahkan keluar dari sini! Jangan menganggu ketenangan pengunjung lainnya! " tegas sang manager.
" Maafkan saya, pak! " ucap Evelyn seraya menunduk sopan kemudian segera berlalu dari sana.
Marissa yang masih menahan emosi segera menarik tasnya dan mulai mengejar Evelyn yang sudah lebih dulu keluar dari cafe. Dengan amarah yang sudah membuncah, dia memanggil Evelyn yang ingin membuka pintu mobil.
Evelyn berbalik begitu mendengar panggilan Marissa, dia menatap wajah wanita yang dulu sempat ia kagumi kecantikannya. Evelyn yang seorang perempuan saja begitu memuja kecantikan wanita didepannya itu, apalagi dengan para pria.
" Apa lagi? " tanya Evelyn dengan wajah datar.
Dengan wajah licik, Marissa mengucapkan kalimat yang mampu membuat tubuh Evelyn menegang saat itu juga. Sedangkan Marissa langsung menjauh dari sana setelah melempar senyum sinis pada Evelyn.
" Elyn ... " panggilan sayang dari Bian menyentaknya kembali dari ingatan beberapa minggu lalu.
" Mohon pengertiannya, Chika meminta agar kami kembali mengasuhnya bersama-sama, dia masih terlalu dini untuk memahami kenapa kedua orangtuanya tinggal terpisah, dan kenapa dia harus memiliki dua ... Ibu. " Alasan yang tak masuk akal bagi Evelyn. Perempuan itu mendesah pelan kemudian tersenyum sinis.
" Bukankah dulu kamu pernah bilang? Jika Chika mempertanyakan hal itu, maka itu jadi tanggung jawabmu dan Marissa untuk menjelaskan nya? " Tak ada embel-embel 'mbak' lagi yang Evelyn sematkan untuk mantan istri suaminya itu.
" I-iya. Tapi ... Kami bingung cara menjelaskannya, " sahut Bian dengan cemas.
" Kenapa harus bingung? Tinggal jelaskan! Antara kamu dan Marissa sudah usai! Mungkin dia memang masih terlalu kecil untuk memahami ini, tapi jika kita selalu memberi pengertian padanya, bukankah dia akan paham juga? " tegas Evelyn.
Lelaki didepannya mendongak sebentar, baru kali ini Evelyn berani bicara tegas dengan nada keras seperti itu padanya. Evelyn yang biasa dia kenal dengan kelembutan hatinya mendadak berubah sekarang.
Bian menghirup nafas dalam sebelum kembali berbicara, dia bingung bagaimana mengungkapkan alasan sebenarnya pada sang istri.
" Nggak segampang itu, Lyn! " sahutnya frustasi. Evelyn mencebik melihat Bian yang seperti kehilangan akal saat bicara dengannya.
" Sebenarnya ... Chika ingin punya ... Adik, Lyn! " Evelyn tertawa sumbang mendengar ucapan Bian.
" Dan aku yang jadi korbannya? " sahut Evelyn sambil terkekeh pelan.
Perempuan itu tersenyum miris, merasa selama satu tahun pernikahan mereka dia seperti sedang dipermainkan oleh suami serta mantan istrinya. Bagaimana bisa mereka berpikir sedangkal itu?
" Sebenarnya ini hanya akal-akalan kalian saja, kan? Kalian ingin kembali merajut cinta yang pernah putus, tapi menganggap aku sebagai penghalang ... " Hati perempuan itu bergetar saat mengucapkan kalimat itu. " Baiklah ... Sekarang kita sudah usai, Mas! Kamu bisa kembali bebas, kalian bisa mewujudkan impian Chika. Dia ingin punya adik, bukan? Lakukanlah ... Semoga kalian bahagia, " Ada gerimis dihatinya begitu ucapan itu keluar dari bibir tipisnya. Namun dia tetap berusaha tegar, dia tak ingin Bian menganggapnya lemah hanya karena perpisahan ini.
Lidah Bian mendadak kelu, tenggorokan nya seperti tercekat saat mendengar kenyataan bahwa antara dia dan Evelyn sudah berakhir. Ada ribuan penyesalan dalam hatinya, apalagi mengingat pelayanan yang diberi sang istri selama ini. Segala keperluan Bian dia yang mengurus, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Hampir tak ada kekurangan yang dia lihat dari diri Evelyn, hanya satu keinginannya yang belum bisa perempuan cantik itu berikan, Anak.
Setelah mengucapkan itu, Evelyn beranjak ke kamar dan mengeluarkan koper. Biasanya mereka baru akan menggunakan koper jika sedang ingin liburan, atau jika Bian akan berangkat ke luar kota untuk pekerjaan. Namun hari ini berbeda, koper dia keluarkan untuk mengisi pakaiannya sendiri.
" Elyn ... kamu mau kemana? " Ternyata Bian mengikuti langkah Evelyn hingga ke kamar.
" Aku akan pergi dari sini, Mas! " ucap Evelyn sembari menahan laju air mata.
" Jangan ... Rumah ini milikmu, aku yang akan pergi. Kamu tetap lah disini, " Ada perih dihati Evelyn mendengar ucapan pergi dari mulut Bian. Bagaimana pun dia berusaha tegar, nyatanya tetap saja hatinya merasa sakit saat ini.