Bab 2

Sejak pertemuannya dengan Nyonya Diana dua hari yang lalu. Kini Bening sedikit bisa menghirup udara bebas karena sang Nyonya telah mengizinkannya untuk bisa keluar kamar.

Sehingga Bening bisa sedikit menikmati keindahan rumah megah ini. Setelah berhari-hari terkurung di dalam kamar.

Langkah kaki Bening tampak menyusuri setiap sudut ruangan yang terdapat di rumah besar yang beberapa hari ini telah ia tinggali. Hembusan hafas lega gadis bermata teduh itu rasakan saat tangannya berhasil membuka pintu utama untuk menghirup udara kebebasan.

"Sampai berapa lama lagi aku akan terkurung disini?" tanya Bening kepada dirinya sendiri.

Malam harinya.

Bening terlihat memukau dengan gaun tidur terusan berbahan satin yang melekat sempurna di tubuhnya. Saat ini gadis itu tengah berdiri di atas balkon kamar menikmati udara malam dengan hembusan angin yang mampu menerbangkan surai indahnya.

Setelah merasa dingin mulai menusuk tulang. Bening memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Namun langkah kaki gadis itu terhenti saat netra indahnya menangkap siluet yang kini tengah duduk di sofa dalam temaram kamar karena lampu yang tidak dinyalakan.

"Siapa kamu?!" sentak Bening karena merasa kaget dan takut yang melebur menjadi satu.

Gadis itu bingung kapan orang asing itu muncul dan bagaimana ia bisa masuk? Berbagai pertanyaan pun mulai bersarang di otaknya.

Dalam keremangan malam Bening masih bisa menyimpulkan bahwa orang yang telah lancang memasuki kamarnya adalah seorang laki-laki.

Takk-

Lampu menyala sempurna, yang Bening sendiri tidak tahu siapa yang telah menyalakannya karena sedari tadi ia tetap berdiri di tempatnya dengan bergetar ketakutan. Sedangkan pria itu juga masih tetap bergeming di tempat duduknya. Namun rasa penasaran itu mengabur saat pria itu menunjukan sesuatu di tangan kanannya. Ya, sebuah remot. Jadi pria itu yang telah menyalakan lampu. Tapi bagaimana bisa pria itu tahu ada benda seperti itu di kamar ini. Bahkan Bening yang notabene sudah beberapa hari menempati kamar ini tidak pernah tahu akan keberadaan benda itu.

Kini Bening bisa melihat dengan jelas wajah pria yang telah lancang menduduki sofa di kamarnya. Seorang pria tampan dengan rahang tegas dan memiliki tatapan setajam elang. Tatapan dingin nan mematikan hingga bisa membuat siapapun yang menatapnya akan hanyut dan tenggelam dalam pesonanya.

"Si-siapa kamu?!" Bening tergagap tidak segarang tadi.

Pria yang mendapat pertanyaan dari gadis di hadapannya itu hanya mengangkat sebelah alis. Membiarkan pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu hilang terbawa hembusan angin. Mata tajamnya tak berhenti menelisik objek di hadapannya dengan tatapan liar seolah ingin menerkam.

Pria itu adalah Arga yang tengah duduk santai dengan segelas anggur merah di tangannya. Ia begitu menikmati seraut wajah ketakutan gadis yang berdiri tak jauh darinya.

Tak ada niatan sedikitpun di hati Arga untuk menjawab pertanyaan gadis itu tentang siapa dirinya. Ia bahkan terlalu larut dengan kepuasan karena melihat raut ketakutan yang terpancar di netra indah gadis polos itu.

Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi semacam ini, Bening segera berlari ke arah pintu untuk melarikan diri. Namun semua usahanya sia-sia karena pintu sudah otomatis terkunci. Kini hanya meratap yang bisa Bening lakukan dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

'Tuhan tolong selamatkan aku dari siapa pun yang ingin berbuat jahat kepada ku.'

Hanya doa yang bisa Bening panjatkan mengingat orang yang dihadapinya saat ini sudah dapat dipastikan bukan orang sembarangan. Namun orang yang sangat berkuasa. Kalau tidak bagaimana bisa lelaki itu tiba-tiba berada disini dengan begitu mudahnya.

"Jangan menangis! Kemarilah mendekat padaku!" Suara serak nan seksi pria itu terdengar di indera pendengaran Bening.

Bening mundur ketakutan saat pria asing yang tidak ia ketahui namanya itu berjalan mendekat ke arahnya.

"Pergi, jangan mendekat!"

Namun teriakan Bening tidak menyurutkan langkah Arga untuk dapat meraih gadis yang terlihat begitu menggoda di matanya itu.

"Mau apa kamu? Stop, berhenti di sana!" teriak Bening semakin histeris. Trauma karena pernah nyaris menjadi korban pelecehan di masa lalu membuat Bening tak dapat mengontrol emosinya.

"Apa yang kamu inginkan dariku?!"

Jiwa Arga sebagai sang pemburu dan penakluk wanita merasa tertantang akibat penolakan yang Bening lakukan. Sisi liarnya bangkit tanpa bisa dicega. Gadis polos nan menggoda itu tampak begitu menggiurkan di matanya. Sungguh amat sayang jika diabaikan begitu saja.

Tadinya Arga datang ke tempat ini hanya ingin memastikan seperti apa gadis yang akan menjadi istri mainannya. Karena tadi siang sang Mommy baru saja memberi kabar bahwa gadis itu sudah bersedia menandatangani surat perjanjian mereka.

Namun siapa yang bisa menduga bahwa malam ini Arga akan bertemu bidadari yang akan menjadi mainan barunya selama setahun ke depan. Apakah ini yang dinamakan keberuntungan.

"Panggil aku Arga. Dan kau lah yang akan menghangatkan ranjangku selama setahun ke depan!" bisik Arga tepat di telinga Bening saat pria itu berhasil membawa Bening ke dalam rengkuhannya.

Kata-kata yang keluar dari bibir Arga membuat Bening meremang hingga seketika bulu kuduknya merinding.

'Apakah pria ini yang akan menjadi suamiku?'

Bening tercenung sesaat setelah mengetahui kebenaran siapa calon suaminya. Walaupun Nyonya Diana mengatakan bahwa pernikahan mereka hanya sebuah perkawinan kontrak tetapi bagi Bening pernikahan tetaplah pernikahan. Ikatan suci yang di ikrarkan di hadapan Tuhan. Tidak peduli bagaimana cara pernikahan itu dilakukan.

Hembusan nafas dan aroma tubuh yang menguar dari tubuh pria yang kini mengungkung tubuh mungilnya mampu Bening rasakan. Karena untuk pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan seorang pria dewasa.

"Lepaskan!" Bening tak berhenti merontah dan menolak sejuta pesona yang pria itu tawarkan. Namun, ketidakberdayaan melawan kekuatan pria yang jauh diatasnya itu membuat Bening tak bisa berbuat apa-apa.

Perlahan Arga mendekatkan wajah mereka hingga hidung keduanya bersentuhan. Kata-kata memuja tak berhenti terucap dari bibir Arga. Hingga-

Heemmpp-

Arga melumat ganas bibir merah jambu yang sedari tadi tampak menggoda di matanya. Bening yang mendapat serangan mendadak itu pun berusaha melepaskan ciuman itu sekuat tenaga dengan cara memukul punggung pria yang dengan kurang ajarnya telah mengambil ciuman pertamanya.

"Manis!" bisik Arga sensual setelah tautan bibir mereka terlepas.

Sementara Bening berusaha mengatur deru nafasnya yang sempat terkikis dengan meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi rongga paru-parunya.

Candu, satu kata yang bisa menggambarkan kenikmatan bibir yang baru saja dicecap Arga tadi. Belum pernah ia merasakan bibir semanis madu seperti ini sebelumnya dari sekian banyak perempuan yang pernah ia kencani.

Ketagihan, tentu saja hal itu yang Arga rasakan saat ini. Baru merasakan bibirnya saja sudah bisa membuat Arga hilang kendali seperti ini. Bagaimana jika ia berbuat lebih.

Arga ingin bisa merasakannya lagi dan lagi hingga ia merasa bosan. Mata teduh itu seakan menghipnotis seluruh kesadarannya. Bibirnya yang merekah merah dengan warna alami yang begitu menggoda berhasil membuatnya merasa frustasi. Sungguh Arga tidak akan melepaskan mangsanya kali ini.

Arga kembali merengkuh tubuh Bening dalam dekapannya. Sebelah tangannya yang besar mencengkeram rahang rapuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. Perlahan tapi pasti Arga telah berhasil meraup kembali kenikmatan dari bibir yang beberapa saat yang lalu telah menjadi candu untuknya.

"Buka mulutmu!" titah Arga di sela ciumannya.

Namun Bening masih bergeming dengan tetap mengatupkan bibirnya agar semakin merapat. Sebagai seorang Casanova sejati Arga tentu saja tidak kekurangan ide untuk menaklukkan gadis keras kepala dalam pelukannya saat ini.

Karena kesal melihat Bening yang tak jua memberi akses masuk untuknya. Arga dengan sengaja meremas sebelah dada Bening dengan keras hingga membuat gadis itu refleks mendesah. Kesempatan itu digunakan Arga untuk mengeksplor bibir merekah Bening dengan melesakkan lidahnya agar lebih dalam menguasai rongga mulutnya.

Tidak ada yang bisa Bening lakukan untuk menolak perbuatan pria yang kini menguasai tubuhnya itu. Hanya air mata yang tak berhenti keluar dari sudut mata sebagai bukti betapa tidak berdaya dirinya saat ini. Apakah dia akan kehilangan harta berharganya malam ini?

Bab 3

"Lepaskan saya! Hiks hiks cukup! Jangan perlakukan saya seperti perempuan murahan. Saya mohon kasihanilah saya!" ratap Bening menghibah saat Arga sudah melepaskan ciuman mereka.

"Mengasihanimu?!" Arga tersenyum miring sarat akan ejekan.

"Bukan kah memang seperti ini pekerjaan mu?" imbuhnya yang membuat hati Bening seketika menjadi sesak dan terbakar akibat tuduhan yang tidak tepat sasaran itu. Mengapa begitu mudah bagi pria itu menilai dirinya serendah itu.

"Saya bukan perempuan murahan!" hardik Bening dengan menyentak tubuhnya hingga terlepas dari kungkungan sang Casanova.

"Bukan murahan heh! Tapi pelacur maksudmu!"

Plakk-

Sebuah tamparan mendarat tepat di rahang tegas pria tampan itu hingga membuat wajahnya menoleh ke samping akibat kerasnya tamparan yang diberikan Bening. Bahkan tangan gadis itu juga terasa kebas.

Mendapat perlakuan seperti itu membuat harga diri Arga merasa terluka karena baru kali ini ada yang berani menamparnya. Apalagi tindakan itu dilakukan oleh seorang perempuan yang menurutnya rendahan. Kalau saja yang di hadapannya saat ini bukan seorang wanita pasti dengan senang hati Arga akan membalas perlakuan orang tersebut. Namun pantang bagi Arga untuk memukul seorang perempuan. Bahkan dalam mimpi pun ia takkan pernah melakukan hal sepengecut itu.

"Berani sekali tangan kotormu itu menyentuh wajah ku!" desis Arga tajam.

Sedangkan Bening masih memaku dengan tangan gemetar menyesali perbuatannya tadi, yang refleks dan tak berpikir panjang. Tapi bagaimana ia bisa berpikir jernih jika harga dirinya diinjak-injak seperti itu.

"Rupanya kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa saat ini?!"

Arga mendorong tubuh ringkih gadis itu hingga membentur dinding dengan cengkraman kuat di lehernya.

"Lepas ... lepaskan aku! Huk ... huk ...!" Bening merusaha melepaskan tangan besar Arga dari lehernya yang terasa semakin menyakitkan.

"Kenapa heh! Apa kau takut?! Perempuan kurang ajar sepertimu harus diberi pelajaran agar kau tahu di mana posisimu!" Arga semakin menggila dengan menambah tekanan tangannya di leher Bening.

"Berhenti menangis jalang! Air matamu tidak akan bisa merubah apapun. Karena mulai detik ini kau akan menjadi budakku! Jadi jangan pernah berfikir untuk bisa melawanku karena itu semua akan sia-sia!"

"Lebih baik kau menyiapkan dirimu menjadi jalangku untuk menghangatkan ranjangku setiap malam. Bukan kah itu pekerjaan yang menyenangkan. Bahkan seluru wanita di dunia ini menginginkan posisi itu." Senyum smirk Arga berikan kepada gadis yang kini menebarkan kebencian dari sorot matanya.

"Sampai mati pun aku tidak sudi menjadi budak nafsumu. Kau adalah pria terburuk yang pernah aku temui. Manusia tak punya hati sepertimu seharusnya membusuk di neraka!"

Tidak ada jalan lain untuk Bening selain melawan. Setidaknya ia masih berusaha untuk memperjuangkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang perempuan. Bahkan sampai titik darah penghabisan.

"Ternyata bibir indah ini sangat berbisa!" ucap Arga sembari mengusap bibir Bening yang masih tampak membengkak karena hasil perbuatannya tadi.

"Sepertinya aku harus sering memberi bibir ini pelajaran. Agar berhenti bicara kurang ajar!" imbuh Arga sarat akan ancaman.

"Orang sepertimu tidak layak disebut manusia jadi kau tidak pantas mendapat penghormatan apapun!" ujar Bening dengan tatapan penuh kebencian.

Belum pernah Bening merasa sebenci ini kepada seseorang. Ia benar-benar mengutuk monster jahat yang kini sedang menguasai dirinya dengan sesuka hati.

"Sudah aku peringatkan kepadamu. Hati-hatilah dengan mulutmu karena kau akan sangat menyesalinya nanti!"

"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini. Aku mohon!" Tangis Bening menghibah. Namun tak sedikitpun membuat Arga tersentuh.

Melepaskan mangsa semenggoda Bening? Oh tidak bisa. Arga tentu saja tidak akan melakukan hal bodoh itu. Karena Bening miliknya hanya miliknya. Dan apapun yang sudah ia klaim menjadi miliknya tidak akan bisa lepas begitu saja darinya. Kecuali ia sendiri yang telah membuangnya.

"Melepaskanmu? Tentu saja. Tapi nanti setelah aku puas bermain dengan MAINAN BARUKU!" desis Arga dengan seringai iblisnya.

Hampir saja Arga berbuat lebih bila saja suara ponsel mahalnya tidak berdering.

"Halo!"

"............"

"Sorry gue lupa?!"

"............."

"Oke gue ngerti. Satu jam lagi gue sampai di sana."

Tut ... tut ...!

Pria itu mematikan sambungan telpon secara sepihak dan menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana jeans yang dipakainya. Ia kemudian kembali mengalihkan fokusnya kepada gadis yang kini meringkuk di atas ranjang dengan raut wajah ketakutan.

"Malam ini kau selamat sweetheart. Tapi lain kali aku tidak akan melepaskanmu!" bisik Arga sensual kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipi Bening sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

*****

Bening menangis sejadi-jadinya. Ia meraung meluapkan rasa sakit yang bercokol di dalam dadanya. Kenapa semua ini harus terjadi padanya. Belum cukupkah penderitaannya selama ini.

Ingatan perbuatan bejat Arga tadi mengusik pikiran Bening walaupun Arga belum sempat merenggut harta berharga yang telah dijaganya selama ini. Namun tetap saja Bening merasa kotor dan jijik terhadap tubuhnya.

"Kenapa mereka melakukan ini padaku. Apa salahku Tuhan?!"

Gadis itu memandangi tubuhnya yang penuh jejak tanda kepemilikan yang ditinggalkan Arga pada tubuhnya dari pantulan cermin.

"Aghhhh ...!" Gadis itu berteriak histeris seraya menjambak rambutnya sendiri.

Dan disini lah Bening berada sekarang. Duduk menangis di bawah derasnya air yang mengucur dari shower. Rasa dingin tidak menghalanginya untuk menghapus semua jejak yang ditinggalkan lelaki jahat itu di tubuhnya. Tangannya yang rapuh tak berhenti menggosok bagian tubuh yang sempat menjadi sasaran kebejatan Arga tadi.

"Aku benci diriku, aku benci tubuhku, aku jijik hiks ... hiks ...!"

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak air mata yang Bening keluarkan malam ini. Semalaman ia meratapi nasibnya. Dingin, sakit, sepi dan hancur yang Bening rasakan saat ini. Hingga perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya.

Pagi harinya Lastri menemukan Bening yang telah pingsan di bawah shower dalam keadaan bibir yang sudah membiru.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED