Bab 2

Pagi itu, Alina berdiri di depan sebuah rumah megah yang lebih mirip istana. Gerbang besi hitam berukir itu menjulang tinggi, seolah menegaskan batas antara dunia Adriel Wicaksana dan orang-orang biasa seperti dirinya. Napas Alina terasa berat. Ia merapikan blazer birunya yang sedikit lusuh, mencoba menutupi kegugupannya.

"Tenang, Alina. Ini hanya wawancara kerja," gumamnya pada diri sendiri. Tapi, tidak ada bagian dari situasi ini yang terasa biasa.

Saat ia menekan bel di pintu gerbang, seorang penjaga berseragam segera membukakan pintu. "Silakan masuk, Nona Mahendra. Tuan Adriel sudah menunggu."

Alina mengangguk, meski di dalam hatinya ia bertanya-tanya bagaimana seorang pria seperti Adriel Wicaksana tahu namanya. Langkahnya terasa kaku saat ia mengikuti penjaga itu melewati halaman yang begitu luas, dihiasi taman yang rapi dan air mancur megah di tengahnya.

Setelah beberapa menit berjalan, Alina tiba di depan pintu besar yang diukir dengan detail sempurna. Penjaga mengetuk pintu pelan sebelum membukanya. "Silakan masuk."

Alina melangkah masuk ke ruang tamu yang luas, dihiasi lukisan-lukisan besar dan perabotan mewah. Di tengah ruangan, seorang pria duduk di sofa dengan postur yang tegap dan pandangan yang tajam.

"Alina Mahendra?" Pria itu-Adriel Wicaksana-berbicara dengan nada rendah namun penuh wibawa.

"Ya, saya." Suara Alina terdengar pelan. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu. Dengan jas hitam yang rapi, wajah yang tegas, dan aura yang mendominasi, Adriel terlihat seperti seseorang yang tidak pernah menerima penolakan.

Adriel berdiri, menghampiri Alina dengan langkah mantap. "Terima kasih sudah datang. Silakan duduk."

Alina mengangguk dan duduk di sofa yang terasa terlalu empuk di bawah tubuhnya. Ia berusaha menenangkan diri, tapi tatapan Adriel yang tajam membuatnya sulit bernapas.

"Saya membutuhkan seorang guru untuk anak saya, Naya. Dia baru delapan tahun, tapi... dia sedikit sulit diatur." Adriel berkata tanpa basa-basi. "Saya ingin seseorang yang bukan hanya pintar, tapi juga sabar. Dari yang saya dengar, Anda punya pengalaman yang cukup."

Alina mencoba tersenyum meski gugup. "Saya senang mendengar itu, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu Naya."

Adriel mengangguk, lalu menatapnya lebih lama dari yang diperlukan. "Kenapa Anda mencari pekerjaan ini, Alina? Dengan latar belakang Anda, sepertinya Anda bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain."

Pertanyaan itu membuat Alina terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa ia hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit yang menghantui hidupnya.

"Saya ingin tantangan baru," jawabnya singkat, mencoba menyembunyikan kebenaran.

Adriel tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya seolah bisa membaca semua rahasia Alina. Setelah beberapa saat, dia berdiri. "Baiklah, saya akan memberi Anda kesempatan. Anda bisa mulai besok."

"Begitu cepat?" Alina terkejut.

Adriel mengangkat bahu. "Saya tidak suka menunda sesuatu yang sudah jelas. Besok pagi, jam delapan. Jangan terlambat."

Alina hanya bisa mengangguk. Sebelum ia sempat bertanya lebih banyak, pintu ruangan terbuka, dan seorang gadis kecil berlari masuk.

"Naya!" suara Adriel terdengar lebih lembut ketika ia berbicara pada anaknya.

Gadis itu berhenti sejenak, menatap Alina dengan mata besar penuh rasa ingin tahu. "Papa, ini siapa?"

"Ini gurumu yang baru," jawab Adriel singkat.

Naya berjalan mendekat, memandangi Alina dengan penuh perhatian. "Kamu cantik. Apa kamu akan tinggal di sini?" tanyanya polos.

Alina tersenyum kecil. "Tidak, Naya. Aku hanya akan datang untuk mengajar."

Namun, sebelum Alina bisa menambahkan apa-apa, Naya memeluknya erat. "Aku suka kamu! Kamu harus jadi mama baruku!"

Dunia Alina seakan berhenti. Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Ia menatap Adriel, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu, tapi Adriel hanya berdiri di sana, tatapannya sulit dibaca.

"Aku serius, Papa. Aku mau dia jadi mama baruku," tambah Naya dengan nada penuh keyakinan.

Alina tidak tahu harus berkata apa. Dan saat itu, ia sadar, hidupnya baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih rumit.

Bab 3

Hari pertama Alina bekerja di rumah megah Adriel Wicaksana dimulai lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya terbit ketika ia berdiri di depan cermin, memastikan dirinya tampak rapi dan profesional. Meski hatinya dipenuhi kegelisahan, ia memutuskan untuk menyingkirkan semua perasaan itu.

"Ini hanya pekerjaan, Alina. Fokus saja," katanya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah Adriel, suasana pagi terasa hening. Pelayan-pelayan rumah berdiri berjajar dengan sopan, menyapanya dengan senyum kecil sebelum mempersilakannya masuk. Alina berjalan dengan langkah hati-hati, merasa seperti tamu yang tak diundang di dunia yang terlalu megah untuknya.

Ia dipandu menuju ruang belajar yang sudah disiapkan untuk Naya. Ruangan itu luas, dikelilingi rak-rak buku yang penuh dengan koleksi bacaan anak-anak dan beberapa buku ensiklopedia yang terlihat mahal. Di tengah ruangan, meja kayu besar dengan kursi-kursi kecil tampak rapi, seolah menunggu Alina untuk memulai pekerjaannya.

"Nona Mahendra, Naya sedang bersiap-siap. Dia akan segera datang," ujar seorang pelayan dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.

Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengeluarkan beberapa buku yang sudah ia siapkan dari tasnya, memastikan semua materi pelajaran tersusun rapi.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan suara langkah kecil terdengar. Naya masuk, diikuti oleh Adriel yang berdiri di belakangnya.

"Selamat pagi, Kak Alina!" Naya menyapanya dengan ceria. Gadis kecil itu berlari menghampiri meja, duduk dengan antusias sambil tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Naya," balas Alina, mencoba menyesuaikan diri dengan energi anak itu.

Adriel tetap berdiri di ambang pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya tajam, mengamati Alina seolah menilai setiap gerakannya. Hal itu membuat Alina sedikit tidak nyaman, tapi ia berusaha mengabaikannya.

"Kamu akan mengajar apa hari ini, Kak Alina?" tanya Naya penuh semangat.

Alina tersenyum. "Kita akan belajar membaca cerita, lalu menghitung. Bagaimana menurutmu?"

"Seru sekali!" Naya berseru sambil bertepuk tangan.

Adriel mendekat, berdiri di sisi meja. "Naya, ingat apa yang Papa katakan. Dengarkan apa pun yang Kak Alina ajarkan. Tidak ada alasan untuk bermain-main."

Naya mengangguk cepat, meski senyumnya sedikit memudar. "Iya, Papa."

Alina memandang Adriel, lalu Naya. Ia bisa merasakan ketegangan kecil di antara mereka. Adriel jelas seorang ayah yang tegas, dan mungkin sedikit terlalu keras untuk anak seusia Naya.

"Baik, Pak Adriel, saya akan memastikan Naya belajar dengan baik," ujar Alina, mencoba meredakan suasana.

Adriel mengangguk, lalu menatap Alina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau begitu, saya serahkan Naya pada Anda."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Adriel meninggalkan ruangan. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berhenti dan berbalik. "Oh, satu hal lagi. Jika Naya mulai rewel, panggil saya."

Alina mengangguk cepat. "Tentu, Pak."

Setelah Adriel pergi, suasana di ruangan itu terasa lebih ringan. Naya segera menunjukkan antusiasmenya, dengan penuh semangat mengikuti setiap instruksi yang diberikan Alina. Gadis kecil itu cerdas, tapi seperti yang sudah Alina duga, Naya sedikit sulit fokus jika pelajaran berlangsung terlalu lama.

"Kenapa kita harus belajar matematika?" keluh Naya setelah satu jam. "Kenapa aku tidak boleh menggambar saja?"

Alina tersenyum. "Karena matematika itu penting. Kalau kamu pintar berhitung, kamu bisa membeli banyak es krim tanpa salah hitung."

Naya tertawa kecil. "Kalau begitu, aku mau belajar lagi. Tapi nanti Kak Alina harus belikan aku es krim!"

"Baiklah, itu janji," kata Alina, meski dalam hati ia tidak yakin apakah boleh membawa Naya keluar.

Ketika jam makan siang tiba, seorang pelayan datang untuk menjemput Naya. Gadis kecil itu tampak enggan meninggalkan Alina, tapi akhirnya menurut setelah diberi tahu bahwa ia harus makan.

Alina memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat. Ia duduk di ruang belajar, memeriksa catatan yang sudah ia buat untuk pelajaran berikutnya. Namun, ketenangannya terganggu oleh suara pintu yang terbuka.

Ketika ia menoleh, Adriel berdiri di sana, membawa dua cangkir kopi. "Saya pikir Anda butuh ini," katanya, menyerahkan salah satu cangkir pada Alina.

"Terima kasih, Pak," ujar Alina, sedikit terkejut. Ia menerima cangkir itu dengan hati-hati, merasa canggung berada di dekat pria itu.

Adriel duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Naya. Ia menatap Alina dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Bagaimana hari pertama Anda? Apakah Naya terlalu sulit diatur?"

"Tidak, Pak. Naya anak yang cerdas dan menyenangkan," jawab Alina jujur.

Adriel mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Tapi saya tetap ingin Anda waspada. Naya punya kebiasaan... terlalu cepat terikat pada orang lain. Itu sering membuatnya kecewa."

Alina terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata itu. Tapi ia tidak berani bertanya.

"Jadi, saya harap Anda tidak membuat janji yang tidak bisa Anda tepati," lanjut Adriel, tatapannya kini langsung menembus mata Alina.

"Tidak, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Alina dengan suara tenang, meski di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hubungan ini.

Adriel mengangguk, lalu berdiri. "Bagus. Selamat menikmati kopi Anda."

Saat Adriel pergi, Alina hanya bisa duduk diam. Ia memandangi cangkir kopi di tangannya, sambil merenung. Dunia ini, rumah ini, dan terutama keluarga ini-semuanya terasa seperti misteri yang belum sepenuhnya ia pahami.

Namun, satu hal yang ia tahu pasti: hidupnya tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED