Bab 2

"Aku mempunyai segalanya yang wanita inginkan! Dia tidak akan menolak pesonaku! Dan satu lagi! Bagiku semua wanita itu sama saja! Mereka hanya jalang yang menyukai uang!"

Cakra Dirgantara, play boy kelas atas itu berhasil menepis lengan Jayden yang menahan tubuhnya. Tanpa aba-aba ia langsung menarik kerah kemeja Jayden. Matanya terlihat memerah karena menahan letupan amarah.

Jayden hanya diam dan tidak berniat melawan. Sengaja memancing atensi orang-orang yang ada di dalam bar. Seorang pria tampan yang menjadi idaman banyak wanita sedang bertengkar dengannya tentu menjadi tontonan yang lebih menarik.

Saat tangan Cakra terangkat, Jayden menarik sebelah sudut bibirnya dan berbisik, "Bukankah reputasimu akan hancur jika memukulku? Wanita-wanita di sini juga akan takut melihatmu."

Cakra membelalakkan mata sesaat, sebelum akhirnya mendengkus keras dan menghempaskan tubuh Jayden dengan kasar. "Dasar adik tiri sialan!"

Jayden mendecih sambil merapikan kemejanya yang berantakan. Ia pun tersenyum puas saat melihat Cakra yang berbalik badan lalu keluar dari bar. Jayden beralih kepada bartender muda yang berada di cekalan sekretarisnya.

"Obat apa yang dia beri?" tanya Jayden, tatapannya datar dengan aura yang terasa dingin.

"O–obat tidur."

Jayden mengangguk, tebakannya benar. Ia kemudian menepuk-nepuk sebelah pundak bartender itu dan membiarkannya pergi. Orang-orang yang sempat menyaksikan aksi menegangkan itu pun kembali pada aktivitas masing-masing. Sementara Jayden bergegas menuju mobilnya untuk melihat kondisi gadis yang diselamatkannya tadi.

"Anda sungguh mau membawa gadis ini ke apartemen?" tanya Reyhan, sekretaris Jayden itu menyalakan mesin mobil.

Jayden melirik Agatha yang tertidur pulas di kursi belakang. Hanya beberapa detik sebelum menatap ke depan lagi. "Aku tidak tahu di mana dia tinggal."

Reyhan mengangguk paham, lalu mulai menjalankan mobil menuju tempat yang dimaksud Jayden. "Kalau nanti Anna tahu Anda membawa wanita bagaimana?"

Mendengar pertanyaan itu Jayden langsung menoleh dan melempar tatapan tajam. "Memangnya dia akan tidur denganku? Jangan gila. Aku menyuruhmu mencari kamar lain yang kosong."

Reyhan spontan menggaruk tengkuknya dan menyengir kikuk. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Tapi kenapa Anda menyelamatkan dia, Bos? Bukankah Anda tidak tertarik dengan wanita?"

Jayden memijit pelipisnya yang berdenyut. Entah apa dosa di masa lalu sehingga mempunyai sekretaris super kepo seperti Reyhan. "Bisa tidak jangan cerewet?"

Reyhan mengangguk paham, selang beberapa detik ia menarik kedua sudut bibir penuh selidik. "Jangan-jangan Anda menyukainya?"

"Tutup mulutmu atau aku pecat sekarang juga!"

Reyhan seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak berani membantah. Anak dan istrinya yang ada di rumah tidak akan bisa hidup nyaman jika bukan karena ia bekerja dengan Jayden. Lebih baik ia fokus menyetir dan membiarkan suasana mobil hening hingga tiba di sebuah apartemen yang menjulang tinggi.

"Anu, Bos. Maaf. Saya harus mengangkat telepon, apakah Anda bisa membawa gadis tadi ke dalam terlebih dahulu?" Reyhan sudah membukakan pintu untuk Jayden sambil memegang ponselnya yang berdering.

Jayden berdecak dan keluar mobil. "Memangnya siapa yang meneleponmu?"

"Istri saya, Bos."

Jawaban itu membuat hati Jayden melunak. Ia tidak bisa menolak jika urusan itu berhubungan dengan seorang istri atau ibu. Jayden pun menghela napas pelan sebelum membuka pintu belakang untuk membawa Agatha masuk ke apartemen.

"Kamar nomor berapa yang kosong?" tanya Jayden setelah menggendong Agatha ala bridal style. Tangan gadis itu ia kalungkan ke lehernya agar tidak terjatuh.

Reyhan menatap dengan binar mata senang karena mendapatkan izin. "Nomor 24, Bos."

Jayden mengernyit sebentar. "Bukankah itu di sebelah kamarku?"

"Ah, iya. Kebetulan memang di sana sedang kosong. Saya pikir Anda bisa sekalian mengawasi gadis itu jika terjadi sesuatu dengannya," jawab Reyhan tenang.

Jayden ingin kesal, tapi ia memilih tidak berkata apapun dan berjalan melewati Reyhan begitu saja. Lagi pula tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya Jayden sendiri juga berpikiran yang sama dengan Reyhan. Gadis yang ada di gendongannya ini ... memang sejak awal ingin ia lindungi.

Reyhan pun tersenyum dan segera mengangkat teleponnya, sementara Jayden bergegas masuk ke apartemen lalu naik lift. Berhubung apartemen ini miliknya, Jayden bisa menggunakan lift yang berbeda alis VVIP. Selang beberapa saat akhirnya ia tiba di lantai yang sama dengan letak kamarnya.

"Aku harap besok gadis ini tidak ingat apapun," ucap Jayden di dalam hati seraya menggosok sebuah kartu dan pintu ruangan di depannya itu terbuka.

Jayden masuk dan menunju salah satu kamar di dekat ruang televisi. Ia merebahkan tubuh Agatha ke ranjang yang luas dan empuk itu dengan hati-hati. Setelahnya Jayden mengembuskan napas lega. Selama Agatha dalam gendongannya tadi, degup jantung Jayden bisa dibilang tidak normal.

"Dia mengingatkanku pada seorang gadis kecil di masa lalu." Jayden menatap lekat wajah Agatha yang masih terlelap. Tetapi kemudian menggeleng cepat.

Bab 3

"Tidak, pasti aku salah ingat."

Jayden menghela napas panjang guna menepis daya ingatannya yang belum tentu benar itu. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu membalikkan badan untuk segera keluar dari ruangan ini. Tetapi saat sampai di ambang pintu, suara lirih tiba-tiba masuk ke telinga.

"Ibu ... ayah ... jangan pergi ...."

Jayden dengan terpaksa menghentikan pergerakannya. Ia berbalik lagi, melihat gadis itu sedang mengigau. Terlihat keringat keluar dari pelipis, alis yang menaut serta dahi yang mengerut, bibir mungilnya juga bergerak tidak jelas tanpa suara. Kaki Jayden entah kenapa berjalan mendekat.

"Orang tuamu di mana?" Jayden bertanya lirih, mendudukkan dirinya ke tepi ranjang, menatap wajah Agatha lagi.

Hingga tanpa diduga Agatha yang semula terlentang mendadak memiringkan tubuh dan memegang lengan Jayden erat. Jayden reflek tersentak. Dengan mata terpejam, gadis itu berucap untuk tidak meninggalkannya pergi. Berulang kali hingga membuat Jayden tidak tega. Sampai Jayden akan menyentuh wajah gadis itu, ia segera tersadar.

Jayden menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak. Aku harus pergi dari sini sebelum terjadi sesuatu."

Jayden melepas tangan Agatha dengan perlahan kemudian berdiri. Gadis itu masih mengigau. Namun Jayden berusaha tidak peduli. Ini keputusan yang baik dari pada ia berakhir melakukan hal gila di luar akal sehatnya. Jayden menulikan pendengaran dan bergegas keluar kamar. Menutup pintunya hati-hati lalu mengusap wajah dengan kasar.

"Aku benar-benar sudah gila," desis Jayden yang sekarang sudah berada di luar ruangan nomor 24 itu.

Pagi pun tiba, Agatha terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi nyaring bertanda ada telepon masuk. Meski dengan kepala yang terasa pusing, Agatha meraih ponselnya yang berada di saku celana. Baru saja ponsel itu menempel ke telinga, suara seseorang di seberang sudah sangat memekakkan.

"Agatha kamu jangan kesiangan! Hari ini kelas masuk pagi, loh! Awas saja kalau kamu sampai telat! Aku tidak akan mentraktirmu makan siang!"

Panggilan sudah diputus secara sepihak. Agatha menatap layar ponsel yang menampilkan nama 'Aluna' itu dengan tatapan lelah. Sang sahabat satu-satunya yang ia punya selama di kampus, teramat perhatian sampai menelepon sepagi ini hanya untuk mengatakan hal itu alih-alih membangunkannya.

Agatha semula hendak meletakkan ponselnya ke nakas, tapi tiba-tiba ia merasa ada yang janggal di sini. Seingat Agatha, di sebelah ranjangnya tidak ada nakas, melainkan meja belajar. Dan juga, kasur yang ia duduki kini rasanya sangat empuk dan besar, berbeda dengan yang biasa ia tiduri.

"Tunggu, aku di mana?" Agatha terdiam sebentar, lalu menatap ke sekeliling yang terlihat asing, dan seketika itu ia membulatkan mata.

"Ini, kan, bukan kamarku!" pekik Agatha yang kemudian turun dari ranjang.

"Kenapa aku ada di sini?"

Agatha buru-buru membuka pintu kamar. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ruangan yang luas. Terdapat dapur, kamar mandi, meja makan, hingga ruang TV. Ini jelas bukan kos-kosannya yang sempit, atap yang terkadang bocor, serta dinding yang catnya luntur di beberapa bagian.

"Apa yang terjadi kemarin malam?" gumam Agatha bingung. Ia mendudukkan diri ke sofa yang ada di depan TV.

Agatha menghela napas panjang, yang teringat di sebagian otaknya hanya sewaktu ia mendapat minuman gratis, lalu kepalanya tiba-tiba pusing, kemudian dua orang datang entah untuk apa. Dan Agatha tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Kalau benar ia telah dijebak, seharusnya ia terbangun tanpa sehelai pakaian. Tetapi jika mungkin saja ia pingsan lalu diselamatkan, Agatha harus berterima kasih.

Namun yang menjadi masalah, siapa yang membawanya ke sini?

"Pasti bukan sembarang orang yang bisa menyewa tempat ini hanya untuk membaringkan tubuhku yang pingsan."

Agatha ingin mengingat lagi perihal tadi malam, tapi saat melihat jam di pergelangan tangannya, ia tidak bisa terus berlama-lama di sana. Agatha tidak mau ambil pusing, yang terpenting tubuhnya masih selamat dan tersegel, ia memutuskan untuk melupakan kejadian ini. Kalau memang suatu saat ia bertemu dengan orang yang menyelamatkannya, Agatha pasti akan membalas budi.

Agatha berdiri dan bergegas keluar dari ruangan mewah itu. Melewati koridor yang cukup panjang, di kanan kiri ia melihat pintu yang bernomor. Lantai yang ia pijak sangat kinclong. Tetapi Agatha tidak mau terpesona lama-lama, ia harus mencari lift untuk turun. Sayangnya sebelum tiba di depan pintu lift, ia malah melihat pertengkaran kecil.

Agatha memilih berdiri di kejauhan untuk menunggu mereka dilerai oleh seseorang atau satpam. Agatha juga berpikir ia tidak berhak ikut campur dalam urusan mereka.

"Anak kecil sialan! Apa yang kamu lakukan pada bajuku?" bentak seorang wanita dengan tatapan marah.

Gadis kecil di hadapannya menundukkan kepala sambil memegang stik es krim. "M–maaf, aku tidak sengaja, Bi."

"Gara-gara kamu bajuku jadi kotor begini!" Wanita mengenakan dress pendek selutut itu menunjukkan noda di bajunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED