Angela berlari ke arah yang ditunjuk oleh pelayan rumahnya dan berlutut di balik pintu lemari dapur.
Betapa ia berharap tanah yang dipijaknya mendadak terbelah agar menelannya hidup-hidup saat itu juga. Atau ada pintu lain di belakang lemari yang bisa dipakainya untuk kabur kembali ke kamarnya.
Setidaknya setelah kejadian yang disebut sebagai ‘kecelakaan’ oleh semua orang, Rollan dan Rosa tidak mengijinkan Theo untuk masuk ke dalam kamarnya. Tapi sayang, tidak ada tempat untuk bersembunyi di dalam lemari kecuali meringkuk di antara karung-karung bawang.
“Fuck, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar mereka.”
Suara Theo kini terdengar di dalam dapur.
“Ya, well… aku tidak mengira bahwa—”
Theo terdiam sesaat.
“Ya ya aku tahu. Aku tahu. Shit man! Tidak perlu memberitahuku, aku tahu,” pria itu mulai menaikkan nada suaranya. Marah tapi terdengar panik di saat yang sama.
Lemari tempat Angela bersembunyi memiliki lipatan bercelah yang bisa di gunakan gadis itu untuk mengintip. Ia bisa melihat Theo kini mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan sambil mencengkeram ponsel ke telinganya.
Theo meremas kepalanya sendiri sebelum kemudian mendengus dan membalas, “Ok. Ok. Aku akan memberitahu Dad. Aku tahu. Aku akan lakukan hari ini.”
Pria itu berhenti sejenak.
“Aku tahu, Man. Berhenti mengancam! Fuck!”
Pria itu mematikan ponsel dan menggebrakkannya ke atas meja sangat keras hingga tanpa sadar Angela menarik napas karena kaget.
Kepala Theo langsung memutar ke arah lemari. Matanya yang marah menyipit layaknya seekor serigala yang berusaha melihat mangsanya dalam kegelapan.
Oh… shit! Angela mengatupkan tangannya ke mulut.
“Juliet…,” Theo menggeram ke arah wanita separuh baya yang berdiri di dapur. “Siapa yang bersembunyi di dalam lemari?”
“Ti-tidak ada siapa-siapa, Tuan,” Juliet berbohong.
Angela mulai gemetaran sekarang. Jika sampai Juliet ketahuan berbohong, Theo pasti akan sangat marah pada wanita itu. Ia pasti akan memecat Juliet, atau parahnya, menganiaya wanita itu.
“Benarkah?” Theo menimpali dengan suara dingin yang membuat punggung Angela membeku. Angela mengenali nada suara pria itu. Theo tahu bahwa ia ada di dalam lemari.
Theo berdiri dari kursi dan hendak berjalan menuju ke arah lemari ketika tubuh Juliet mendadak menutupi pandangan Angela.
Wanita itu sepertinya berusaha menghalangi jalan Theo.
“Minggir, Juliet!” Theo menggeram.
Angela tidak bisa melihat apa yang terjadi karena sekarang pandangannya terhalang oleh tubuh Juliet yang lebar. Tapi ia bisa mendengar suara pistol yang dikokang diikuti teriakan tertahan dari bibir Juliet.
Oh God… oh God… oh God…. Ia akan melukai Juliet.
Tidak lagi memikirkan rasa takutnya sendiri, Angela mendorong pintu lemari dan merangkak keluar.
“Stop!” Angela menjerit ketika melihat Theo menjambak rambut Juliet dan menempelkan pistolnya ke pelipis wanita itu. “Jangan sakiti Juliet, kau monster! Lepaskan dia!”
Angela berdiri dan hendak menyerbu tapi Theo mengalihkan pistolnya ke wajah gadis itu sekarang.
“Ah… di situ rupanya kau, Little sister,” Theo menimpali dengan suara girang yang memuakkan.
Lutut Angela gemetaran sekarang. Gabungan antara takut akan pria itu dan takut akan keselamatan Juliet membuat jantungnya berdebar luar biasa kencangnya.
“Lepaskan, Juliet,” Angela mengulangi dengan rahang mengatup erat berusaha untuk menutupi rasa takutnya dengan kemarahan yang ia tahu tidak bisa mengelabuhi siapapun. Ia bisa melihatnya di mata kejam Theo yang menatapnya.
“Kau mencariku, kan? Di sinilah aku. Lepaskan dia,” Angela melanjutkan dengan suara gemetaran.
Theo mendengkus, “Jangan merasa penting, Stupid Bitch. Tidak ada yang mencarimu. Tidak ada yang menginginkanmu.”
Angela mengepalkan tangannya. Oh, betapa ia membenci pria itu. Sangat luar biasa benci hingga Angela bisa merasakan pandangannya mengabur oleh kemarahan. Angela tahu tidak ada yang menginginkannya. Theo sudah memastikan tidak ada yang menginginkannya.
Angela mengamati Theo lekat-lekat. Mata Theo memerah dan berair. Jelas pria itu sepertinya sedang mabuk dan mungkin di bawah pengaruh obat-obatan terlarang. Pria itu juga mungkin belum tidur semalaman dan baru pulang entah dari mana. Kondisi paling berbahaya bagi Angela.
“Lepaskan Juliet,” Angela menggeram sambil menahan posisinya.
Theo menurut. Ia melepaskan tangannya dari rambut Juliet tapi masih mengarahkan pistolnya ke arah Angela.
“Kemasi barangmu dan pulang, Wanita tua. Kau dipecat,” Theo berkata kepada Juliet. “Kau sudah berbohong kepadaku. Kuberi kau waktu 10 menit sebelum aku kirimkan penjaga untuk mengantarmu keluar.”
Tangisan terdengar dari bibir Juliet tapi wanita itu mengangguk. Sambil setengah berlari, Juliet keluar dari dapur.
Dada Angela teremas melihat air mata pelayannya. Ia pun melangkah hendak menyusul Juliet.
Baru saja Angela hendak melewati Theo, pria itu meraih lengan Angela dan menarik gadis itu ke pinggir ruangan.
Theo mendorong tubuh Angela hingga menabrak dinding sebelum kemudian menekankan ujung pistolnya ke perut gadis itu.
Angela mengeratkan rahangnya mempersiapkan diri akan apa yang akan dilakukan Theo.
Mata Theo bergerak liar. Mulai dari dada Angela lalu turun ke bawah. Walaupun tertutup kaos longgar, tetap saja pandangan itu terasa penuh dengan nafsu.
Angela memalingkan wajahnya ke samping berusaha menghindari tatapan panas dari kakak tirinya. Tapi Theo meraih dagu Angela dan memaksa wanita itu untuk kembali berpaling ke depan.
“Lihat aku, bitch” Theo membentak.
Angela mencoba melawan, tapi Theo mengeratkan pengangannya. Kuku Theo yang tajam menusuk ke dalam pipi Angela dan wanita itu pun merintih.
Mendadak, Theo melepaskan pegangannya dan mengayunkan tangannya melintasi wajah Angela.
Tamparan Theo terasa sangat keras, kepala Angela terlempar ke samping hingga pandangannya menggelap.
Angela bisa mendengar tamparan dari pria itu bahkan sebelum ia bisa merasakan pipinya yang panas.
Digigitnya bibirnya sendiri agar tidak menjerit. Angela tidak akan memberi kepuasan kepada Theo. Ia sudah bersumpah untuk tidak menjerit bagi siapapun. Bahkan jika pria itu membunuhnya sekalipun, Angela tidak akan membuka suaranya dan menjerit.
Theo meraih dagu Angela dan, sekali lagi, memaksa gadis itu menatap ke arahnya.
Cengiran menghiasi wajah Theo yang buas. Pria itu mendorong Angela semakin melekat ke tembok sebelum kemudian dengan kasarnya memaksakan sebuah ciuman ke bibir Angela.
Angela berusaha mundur dari Theo. Tapi dengan adanya tembok di belakangnya dan tangan Theo yang kini meremas pipinya, Angela tidak bisa kemana-mana.
Ia tidak bisa lagi menahan air matanya ketika ciuman dari bibir Theo turun ke lehernya.
Angela mencoba mendorong dan meronta agar terlepas dari cengkeraman Theo. Tapi ketika pria itu menggeram dan menekan ujung pistolnya lebih dalam melawan tulang rusuknya, Angela membeku.
Theo menjalankan tangannya menuruni tubuh Angela dan kini memainkan ujung kaos yang dikenakan oleh gadis itu sebelum kembali menjatuhkan bibirnya menyerang bibir Angela.
Angela menarik napas ketika ia merasakan tangan dingin Theo menyelinap masuk ke dalam kaos dan dengan kasarnya meraih salah satu payudaranya dari balik bra. Remasan keras dari pria itu membuat Angela terkesiap dan memberi Theo kesempatan untuk mendesakkan lidahnya semakin masuk ke dalam.
Air mata panas penuh kemarahan dan ketidakberdayaan meluncur semakin deras dari sisi wajah Angela. Di antara pelecehan yang dilakukan oleh Theo dan hinaan dari keluarganya yang lain, betapa Angela berharap ia memiliki keberanian untuk melarikan diri dari tempat itu.
Atau mungkin keberanian untuk membunuh dirinya sendiri.
Dimitri memandang kesal layar laptop yang ada di depannya. Sebagai ketua organisasi terbesar di New York, semua beban kini ada di pundaknya. Tekanan untuk bisa membawa kemajuan bagi organisasi kadang membuat Dimitri lelah. Hari ini hanyalah salah satu hari di mana ia berharap ia akan bisa melewatinya dalam keadaan utuh.
Suara ketukan di pintu terdengar.
“Siapa?” pria itu membentak kasar.
Dimitri sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Suasana hatinya sedang buruk dan ia belum punya waktu untuk menenangkan diri. Penting bagi seorang ketua organisasi untuk tidak kehilangan kesabaran di depan tamunya dan ketika itu, kemarahannya masih belum memudar.
Suara rendah dari seseorang yang dikenal baik oleh Dimitri terdengar, “Levka. Bolehkah aku masuk?”
Dimitri menggeram, “Masuklah.”
Dimitri tahu Levka bisa menerima kemarahannya. Sudah bertahun-tahun ia mengenal pria itu. Levka adalah penasihat yang paling dipercayainya. Teman baiknya. Saudaranya.
Pintu mengayun terbuka dan Levka berjalan masuk. Pria itu menganggukkan kepalanya menyapa.
“Brother.”
“Brother,” Dimitri membalas balik dan menunjuk ke arah kursi yang ada di depannya. “Duduklah.”
Ketika ia pertama bertemu dengan Levka sepuluh tahun yang lalu, pria itu terlihat lebih kurus, lebih menderita dan lebih sedih. Tidak heran karena ketika itu Levka sedang diambang perjuangannya untuk membebaskan wanita yang dicintainya. Wanita yang kini membawa nama belakang dan melahirkan anak-anak baginya. Dan walaupun kini Levka terlihat lebih tua, tapi Dimitri bisa melihat garis-garis kekhawatiran di dahi pria itu memudar. Bukan hanya itu, seiring dengan berjalannya waktu, Levka bahkan terlihat lebih sering tersenyum. Pria itu lebih santai dan lebih… lembut.
Mungkin bisa dibilang Levka melembut karena Daniela. Karena bahkan setelah sepuluh tahun pernikahan dan 3 orang anak, pria itu masih tetap setia kepada Daniela.
“Kau terlihat siap membunuh seseorang,” Levka menghempaskan tubuhnya ke atas kursi sambil menaikkan satu alisnya naik.
Jika kebanyakan orang menakuti Dimitri, Levka lebih santai. Tentu saja, setelah apa yang sudah mereka lalui, Levka berhak mendapatkan panggilan brother yang sesungguhnya bagi Dimitri.
“Kau tidak salah. Aku memang bisa membunuh seseorang,” Dimitri membalas. Ia mendorong tubuhnya berdiri dari kursi dan berjalan ke meja panjang yang ada di belakangnya. Pria itu meraih dua gelas shots dan memenuhinya dengan vodka sebelum membawanya balik ke arah Levka.
“Minum?” Dimitri menawarkan walaupun saat itu masih pukul 10 pagi. Dimitri tahu, terlalu dini untuk minum. Tapi ketika ia belum tidur sama sekali sejak tadi malam, ia tidak peduli jam sekarang. Ia perlu mengistirahatkan kepala.
Levka mengangguk dan meraih gelas dari tangan Dimitri. Mereka mengangkat gelas mereka masing-masing sebelum kemudian menenggak habis dalam sekali teguk.
Dimitri mendenguskan hawa panasnya keluar dari hidung sebelum kembali menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kursi.
“Mau memberitahu Uncle Levka siapa yang ingin kau bunuh kali ini?” Levka bertanya dengan nada bercanda yang membuat Dimitri memutar bola matanya ke atas.
Sepuluh tahun berlalu sejak mereka bertemu di rumah pelelangan itu. Levka mengajarinya banyak hal. Dan walaupun kini pria itu sudah tidak aktif di organisasi, tapi Dimitri tahu ia bisa mempercayakan nyawanya di tangan Levka ketika hal menjadi berbahaya. Kesetiaan Levka jauh melebihi yang pernah ditemukannya pada orang lain.
“Paman. Hah! Paman my ass!” Dimitri tergelak sambil menggelengkan kepalanya. Tidak ada orang di organisasi yang berani bercanda selepas itu dengannya. Bahkan Andre yang kini menjadi tangan kanannya takut dan segan padanya. Tapi ketika kau memiliki sekutu setangguh Levka, kau akan membiarkan pria itu menggoda sesuka hati.
“Tapi jika kau ingin tahu,” Dimitri melanjutkan. “Yang ingin kubunuh adalah Theo Koslov.”
Levka meringis mendengar nama itu.
“Fucking Theo Koslov,” Levka ikut menggeram memahami kemarahan Dimitri. “Apa yang dilakukan keparat itu sekarang?” Levka menggelengkan kepalanya, “Berikan aku satu alasan agar aku bisa kembali ke LA untuk menghajar bocah itu dengan tanganku sendiri.”
Dimitri tahu Levka tidak main-main. Meski bisa dibilang Levka sudah pensiun dari organisasi, tapi Levka masih memiliki kekuatan. Pria itu masih memiliki nama di kalangan orang-orang seperti mereka, terutama di LA.
“Bangsat itu sudah menunggak hutangnya sejak dua bulan yang lalu dan belum membayar,” Dimitri memberi tahu sambil memutar layar laptop ke arah Levka, menunjukkan angka berwarna merah yang terpampang jelas. “Dan kau tahu betapa aku memerlukan uang itu.”
Tentu saja Levka tahu.
Dimitri sedang berusaha mendapatkan kerja sama dengan triad perdagangan senjata gelap dari China. Lokasi mereka yang berada di New York sangat strategis. Dekat dengan pelabuhan dan bandara, mereka bisa menguasai pasaran senjata gelap di Amerika bagian timur jika kerjasama berhasil. Sayangnya, biaya yang diperlukan untuk menyogok aparat dan politikus juga luar biasa mahalnya.
Levka menyandarkan punggungnya ke belakang sambil mengusap rahang, memikirkan dilema yang dihadapi oleh Dimitri. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepada Dimitri sejak lama, tapi ditahannya keinginan itu karena ia tidak yakin bagaimana pria itu akan merima apa yang akan diucapkannya. Namun, setelah sekian lama menunda, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat.
“Kau, tahu…,” Levka memulai. “untuk bisa mendapatkan dukungan dari pemerintahan, bukan hanya uang yang kau butuhkan, Brother.”
Dimitri mengerutkan dahinya memikirkan arah mana pembicaraan mereka sekarang.
“Maksudku,” Levka melanjutkan. “Benar kau memerlukan uang, tapi bukan hanya itu yang kau butuhkan untuk mendapatkan simpatisme orang seperti mereka.”
Dimitri masih tidak paham.
“Dan apakah kau akan memberitahuku apa yang kubutuhkan?” pria itu bertanya.
“Tentu saja.”
“Okay, aku mendengarkan.”
“Kau tahu apa yang kau butuhkan lebih dari uang, Brother?”
Dimitri bisa merasakan kesabarannya menipis oleh cara Levka yang berputar-putar.
“Fuck, Lev. Lekas katakan.”
“Kau butuh seorang istri.”
Jawaban Levka mencabut semua kata-kata dari mulut Dimitri.
Seorang istri?
Dimitri hampir tergelak mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras.
“Kadang aku mengira ayahmu membenturkan kepalamu ke lantai ketika kau bayi, Lev. Saran macam apa ini?” Dimitri memberitahu sambil menarik kembali layar laptop ke arahnya dan mengamati.
“Dengarkan dulu, Brother,” Levka melanjutkan, sepertinya masih tidak mau melepaskan masalah ini begitu saja. “Uang mudah dicari, kau tahu itu. Kau tidak membutuhkan uang dari Theo Koslov. Ada banyak sumber lain yang bisa digali. Naikkan saja pajak dari organisasi yang ada di bawah perlindunganmu. Atau siapa tahu investasi yang kau tanam dengan cartel-cartel Mexico itu akhirnya membuahkan hasil. Tapi seorang istri tidak mudah didapat, Brother.”
Levka memajukan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua sikunya ke atas lututnya sebelum melanjutkan, “Dan Theo memiliki saudara perempuan.”
Dimitri mendengus.
“Mentang-mentang kau sudah menikah selama sepuluh tahun lalu mendadak kau menjadi pakar tentang urusan rumah tangga?” Dimitri membalas skeptis. Tapi jujur, ia mulai memikirkan saran Levka.
Theo Koslov adalah anak dari pemimpin salah satu organisasi yang cukup terkenal di LA. Tidak sebesar miliknya, tapi mereka memiliki orang-orang yang cukup ditakuti oleh kebrutalan mereka. Walaupun Dimitri tidak khawatir akan kekuatan Koslov, tapi akan menyusahkan jika sampai bentrok terjadi dengan orang-orang Koslov.
“Aku mencintai Daniela jauh lebih lama dari cincin yang ada di tangan kami berdua. Dan kau sudah berduka akan kematian Emily dalam jangka waktu yang sama dengan pernikahan kami. Sudah saatnya kau melanjutkan perjalanan, Brother.”
Dimitri tidak menjawab. Ia tahu Levka benar. Salah satu alasan ia masih melajang hingga sekarang adalah Emily. Ia mencintai wanita itu dengan segenap hatinya, ia merasa detak jantungnya ikut berhenti ketika Emily membunuh dirinya sendiri.
Apa yang dilakukan Emily membuat Dimitri sadar bahwa pria sepertinya, tidaklah layak untuk sebuah cinta. Pria sepertinya, ditakdirkan untuk selalu berada dalam kesendirian. Dan ia sudah menerima kenyataan ini. Ia tidak lagi memikirkan masalah cinta atau pernikahan. Ia sudah melupakan keinginannya untuk memiliki keluarga dan memusatkan perhatiannya kepada organisasi.
Dimitri tahu ia sudah bekerja mati-matian hingga berada di posisi itu. Ia tidak pernah lagi menoleh ke belakang, ia tidak bisa. Kehidupan di mana ia mencintai seorang wanita sudah berakhir. Yang ada sekarang hanyalah kehidupan di mana ia harus berpikir sesuai logika dan rasional demi LaRocca.
“Saudara perempuan Theo juga masih belum menikah,” Levka melanjutkan ketika Dimitri masih tidak bersuara. “Masih muda dan tinggal bersama dengan keluarganya di markas mereka di LA. Aku tidak terlalu tahu banyak tentangnya, tapi aku pernah bertemu dengan gadis itu sekali, bertahun yang lalu. Aku ingat ia sangat cantik. Menurutku ia hanya akan menjadi lebih cantik sekarang. Dan aku yakin ia akan terlihat menarik berdampingan dengan mu ketika kau menghadiri pesta-pesta dengan para birokrat dan politikus itu.”
Beberapa saat yang lalu ide yang diajukan Levka mungkin terdengar gila, tapi semakin ia mulai memikirkan, mungkin apa yang diusulkan Levka tidak sepenuhnya konyol.
“Apakah menurutmu Rollan Koslov akan memberikan putrinya sebagai ganti hutang Theo?”
“Dengan bujukan yang tepat, aku yakin ia akan mengizinkan. Lagipula gadis itu akan menjadi istri salah satu ketua mafia terbesar di negara ini. Rollan akan memiliki menantu yang berkuasa sementara kau mendapatkan istri yang layak. Seorang wanita yang sudah familiar dengan kehidupan semacam ini dan terbiasa menghadapi pria keras seperti kita. Sebagai seorang pria yang sudah berumah tangga sekian tahun, percayalah ketika kukatakan, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan memiliki seorang wanita baik untuk di sebut istri. Mereka akan menyayangi dan memberimu ketenangan yang bisa disebut rumah.”
Dimitri tidak peduli akan hal itu. Bukan karena Levka salah, ia tahu Levka benar. Itulah yang dirasakannya ketika ia masih memiliki Emily. Tapi seperti yang sudah diketahui, pria itu tidak bisa lagi menoleh kebelakang. Emily sudah tiada. Ia sudah menutup lembaran chapter itu dalam kehidupannya dan menguncinya rapat-rapat. Keputusannya saat ini adalahh lebih karena tugas dibanding karena emosi.
“Dan lagi, Dimitri. Di mana lagi kau bisa bertemu dengan wanita baik-baik dengan posisimu sebagai ketua organisasi?” Levka melanjutkan, sadar benar akan jenis wanita yang dikencani oleh Dimitri.
Dimitri tergelak pelan. Dengan kesibukannya mengurusi organisasi, tentu saja ia tidak punya waktu untuk melakukan kencan seperti kebanyakan orang. Selama ini ia hanya mengandalkan wanita bayaran untuk melayaninya.
Dimitri mengangkat gagang teleponnya dan menghubungi James. Privat investigator yang kini masuk ke dalam payroll organisasinya.
“Boss?” Suara James terdengar setelah deringan pertama.
“Carikan aku informasi tentang putri Rollan Koslov,” Dimitri memerintah.
“Berikan aku waktu sehari?”
“Baiklah.”
Dimitri mematikan sambungan sebelum menoleh kembali ke arah Levka.
“Aku perlu mencari tahu tentang wanita itu,” ia memberitahu.
“Tentu saja.”
“Omong-omong, bagaimana keadaan rumah? Bagaimana kabar Daniela dan ketiga keponakanku?”
Wajah Levka seketika menyala akan pertanyaan Dimitri. Suaranya berubah lebih lembut ketika ia membicarakan tentang istri dan anak-anaknya.
Tapi Dimitri hanya setengah mendengar. Ia sedang memikirkan bagaimana seorang wanita bisa merubah seseorang. Bagaimana berbedanya Levka sekarang dengan Levka yang dulu.
Mungkin memang benar apa kata Levka. Ia memerlukan seorang istri.
Pertanyaannya, bisakah ia melupakan bayang-bayang Emily dan menggantinya dengan wajah wanita lain?