Bab 2

Atala pov.

Ada yang berbeda hari ini, tak seperti biasanya setiap saat pasti aku akan merasa selalu terganggu dengan suara wanita yang terus bicara dan bertanya ini-itu. Tetapi, pagi ini setelah pulang dari club malam aku bahkan belum melihat sosok wanita itu.

Ada sedikit gerangan dalam benakku bertanya-tanya, dimana Lanaya saat ini? Apakah masih di kamarnya?

Ya, kami memang tidur terpisah. Sejak menikah dan pindah ke rumah ini aku sudah memutuskan bahwa kami akan tidur di kamar yang berbeda. Awalnya Lanaya menolak dengan menggunakan alasan licik bahwa kami sudah sah dan tak seharusnya tidur terpisah.

Ku akui memang seharusnya tak boleh seperti itu, tapi mau bagaimana lagi jika aku sama sekali tak tertarik dengan pernikahan ini. Tak ada yang aku harapkan dari pernikahan yang dilandasi perjodohan ini. Tak ada cinta, tak ada ketertarikan dan masih banyak yang lainnya.

Aku menerima pernikahan ini demi kedua orang tuaku yang tentu saja bahagia apabila putranya penurut dan mau melakukan apapun yang mereka minta. Sebagai seorang anak tentu saja aku tidak ingin dicap sebagai anak durhaka yang berani melawan keinginan sekaligus perintah orang tuanya.

Aku mematut diriku di depan sebuah cermin besar, meneliti kembali penampilanku hari ini. Kata kesempurnaan harus melekat pada diriku dan juga penampilanku. Salah satunya kerapihan, wangi, juga warna dasi dan setelan pakaian kantor yang nyambung itu adalah yang paling penting.

Setelah puas dan merasa percaya diri aku bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga, sesampainya dibawah aku juga tak melihat sosok Lana disana.

Aneh! pikirku. Tidak biasanya wanita itu menghilang tak menampakkan dirinya di depanku seperti hantu yang selalu bergentayangan.

Perutku terasa keroncongan karena lapar yang mendera begitu hebatnya, aku melangkah ke ruang makan dan melihat sarapan sudah tersaji disana.

Ada nasi goreng dan juga roti tawar yang sudah diolesi selai, kebiasaan rutin yang selalu dilakukan wanita itu. Biasanya Lana pasti sudah duduk nyaman disana sembari menunggu kedatanganku dan menyuruhku untuk segera sarapan. Tetapi tetap saja, selapar apapun aku tidak pernah mau memakan masakan yang dibuatnya. Rasanya jijik saja jika barang ataupun makanan yang sudah di sentuhnya, seakan-akan telah terkontaminasi olehnya.

Aku bergidik dan bergegas melangkah keluar dari rumah, sudah ku putuskan untuk makan di kantor saja nanti. Tanpa memikirkan dua kali dimana keberadaan Lana hari ini aku langsung tancap gas mengemudi mobilku.

Bodo amatlah! batinku mengendikkan kedua bahu tak acuh. Masa bodoh sekali memikirkan Lana, kalaupun wanita itu sudah pergi dari rumah... bukankah bagus untukku?

Ya, itu sangat bagus!

****

Setelah menyelesaikan segala pekerjaan kantor aku langsung bergegas pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika aku sampai di rumah.

Hal pertama yang aku tangkap setelah membuka pintu dan masuk rumah adalah kesunyiaan. Lagi-lagi tak kudapati sosok Lana yang biasanya akan menyambutku pulang dengan senyumannya yang sangat menyebalkan itu.

Meskipun sering ku marahi, ku bentak dan juga melarangnya keras untuk melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaannya itu. Nyatanya Lana tak jera dan tetap saja melakukan kebiasaannya itu.

Ku longgarkan dasi yang terasa mencekik seraya masuk ke dalam kamar. Penat dan lelah yang ku rasakan bercampur jadi satu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk segera membersihkan diri.

Sekitar dua puluh menit aku telah selesai mandi dan kini tampak lebih segar dari sebelumnya. Aku membuka lemari pakaian dan mengambil satu set pakaian santai, malam ini aku lebih memilih untuk di rumah saja. Entah kenapa rasanya aku malas sekali untuk keluar, jadi begitu selesai berpakaian aku langsung membaringkan tubuhku di ranjang. Memejamkan mata seraya mencari posisi ternyaman, baru hitungan detik mataku terbuka kembali.

Tubuhku lelah dan juga mengantuk, tetapi kenapa aku merasa gelisah. Seakan ada sesuatu yang mengganggu diriku, tapi apa?

Ku urungkan niatku dan perlahan bangkit dari posisi rebahan menjadi duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Begini pun aku masih merasakan gelisah, argh!

Pikiranku teringat akan Lana, kenapa wanita itu tidak terlihat sama sekali sejak pagi?

Apakah dia pergi dari rumah ini?

Hmm, bagus! Kalau memang benar begitu, pergilah selamanya! batinku tersenyum senang tapi kenapa dadaku terasa sesak setelah mengatakan itu?

Aku menggeleng dan turun dari ranjang, ku ayunkan kakiku melangkah keluar dari kamar. Aku harus memastikan sendiri apakah benar wanita itu sudah pergi.

Tepat di depan pintu kamar Lana aku hanya berdiam diri bagai patung. Dilanda rasa bingung dan juga gengsi, haruskah aku mengetuk pintu ini? pikirku menimbang-nimbang.

Tidak, tidak. Kenapa juga aku harus melakukan itu hanya untuk demi memastikan Lana sudah pergi dari sini atau belum.

Bukannya bagus dia pergi? Yang itu artinya semakin memudahkan kami untuk berpisah. Dan apa katanya? Dia akan bertahan dan menungguku untuk jatuh cinta padanya?

Hah, omong kosong sekali! Belum apa-apa saja dia sudah kalah dan menyerah. Dasar pembual! Ah, sudahlah, tak ada gunanya juga aku memikirkannya. Lebih baik aku melakukan hal lain.

Ku putuskan untuk kembali saja ke kamar, namun terhenti saat langkah kakiku justru membawaku menuju ruang makan. Dan tercengang hebat begitu menatap beberapa menu makanan yang sudah tersaji rapi di meja makan.

Apa-apaan ini? Berarti itu tandanya Lana masih di rumah ini, terbukti dari menu makan malam ini. Tak mungkin jika hantu yang memasak dan menyajikannya secantik mungkin.

Ciihh! Aku berdecak kesal, wanita itu masih saja bertahan dan sok-sokan kuat menghadapiku. Tapi, baiklah, jika dia tak ingin menyerah maka aku pun juga tidak akan berhenti untuk membuatnya goyah dan kalah.

Ku lirik kembali makanan-makanan yang ada di meja, lapar semakin mendera namun aku tetap tidak ingin menyentuh masakannya. Tidak akan pernah, sampai kapanpun!

Lekas ku tinggalkan area ruang makan, melangkah cepat dan masuk ke dalam kamar lalu mengganti pakaian. Pikiranku berubah dan memutuskan untuk pergi saja malam ini. Pelarianku tentunya adalah club malam, disana aku bisa melampiaskan semua perasaanku yang berkecamuk. Terkadang aku minum, berdansa bahkan aku juga sering melakukan pertemuan dengan kekasihku.

Ya, setelah menikah aku tetap melanjutkan hubunganku dengan Sally. Wanita yang aku cintai beberapa bulan terakhir sebelum menikah dengan Lana. Aku bahkan belum sempat memperkenalkan Sally pada keluargaku dan malah keduluan usulan perjodohan yang dicetuskan oleh kedua orang tuaku.

Proses perkenalan dan pendekatan dengan Lana terbilang sangat singkat karena setelahnya kami menikah. Setelah resmi menikah aku langsung mengeluarkan segala unek-unekku pada Lana mengenai pernikahan ini dan juga mengenai Sally.

Jika bukan karena orang tuaku maka aku pun tak akan pernah mau dan sudi menikah dengannya. Tidak akan.

Tbc....

Adakah yang baca?

Bab 3

Pagi-pagi, tahan emosi YESS! 😂

******

Hampir seminggu ini aku terus menghindar dari mas Tala, menghilang dari pandangan pria itu.

Dengan tujuan dan pengharapan pria yang telah menjadi suamiku itu merasa kehilangan dan mencari keberadaanku.

Namun rasanya nihil melihat mas Tala tak urung mendatangi kamarku walaupun hanya sekadar untuk mengetuk pintunya saja. Tersenyum meringis ketika aku mendengar deru mesin suara mobil mas Tala. Lagi, untuk kesekian kalinya malam ini mas Tala kembali pergi, aku mengintip dari balik jendela kamar dan menatap kepergian mas Tala dalam diam.

Aku marah, kecewa, sedih dan juga cemburu atas apa yang mas Tala lakukan selama ini. Tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Tidak, bukannya tidak bisa, hanya saja aku sadar diri bahwa keluhanku juga pasti tidak akan di dengarkan mas Tala. Justru pria itu malah senang melihatku terluka dan bersedih.

Hal itulah yang membuatku menghindar darinya, aku sudah memutuskan tidak ingin bertemu dan bertatap muka dulu dengan mas Tala untuk beberapa waktu ini. Aku tidak yakin bisa bertahan hanya diam saja tanpa menanyakan siapa wanita yang ada di club malam bersamanya dan kenapa mas Tala berada disana?

Dugaanku begitu kuat menebak jika wanita yang tengah bersama mas Tala di club malam itu adalah kekasihnya, Sally. Wanita yang begitu di cintai mas Tala, hal ini pun aku ketahui dari mulut mas Tala sendiri setelah sehari menjadi istrinya.

Di tambah lagi dengan bumbu ucapan mas Tala selanjutnya yang begitu menohok hatiku. Ia mengatakan bahwa pernikahan ini hanyalah kesialan saja untuknya. Bahkan dengan sangat tidak punya hatinya ia akan tetap melanjutkan hubungannya dengan Sally tanpa perlu repot dan pusing memikirkanku sebagai istrinya.

Yang membuatku sangat-sangat terluka adalah, kenapa mas Tala mengatakan semua kebenaran tentangnya yang sudah memilki kekasih setelah kami resmi menikah? Kenapa ia tidak mengatakannya saja saat proses perkenalan dan pendekatan kami dulu, yang memang terbilang sangat singkat.

Seandainya mas Tala sudah mengatakannya lebih dulu, kemungkinan pernikahan ini tidak terjadi. Aku bahkan heran kenapa mas Tala justru malah sangat antusias dengan pernikahan kami, dan saat aku tanya barulah mas Tala memberikan alasannya jika ia melakukan semua ini demi kedua orang tuanya.

Benar-benar sangat sempurna, semua memang sudah di rencanakan mas Tala. Ia ingin membuat pernikahan seakan nyata dengan kebahagiaan.

Ya Tuhan! Ujianmu sungguh-sungguh menakjubkan. Tetapi, aku tetap tidak akan kalah dan menyerah. Hanya saja, beri aku sedikit kekuatan untuk terus bertahan dan bersabar.

Apakah masih ada sedikit harapan untuk bahagia dengan pernikahan ini? Jika ada, tolong beri aku jalan yang mudah untuk melaluinya.

*****

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun seperti biasa, beranjak turun dari ranjang dan lekas melangkah ke dapur untuk membuat sarapan. Meskipun aku menghindar dari mas Tala, tetapi aku tak melupakan kewajibanku yang satu itu. Sebagai seorang istri tentu aku bersedia melayani suamiku lahir dan batin.

Tetapi apa daya jika sampai sekarang ini mas Tala juga belum mau menyentuhku ataupun meminta diriku untuk melayaninya di ranjang. Padahal aku sudah sangat siap jika mas Tala memintanya. Astaga! Apa yang aku pikirkan.

Tak ingin terlalu lama maka aku lekas melakukan semua pekerjaan dengan cepat, agar saat nanti mas Tala bangun tak perlu merasa terganggu dengan kehadiranku.

Setelah siap menyelesaikan masakan untuk sarapan segera ku sajikan ke dalam piring dan menatanya sedemikian cantik. Ku letakkan makanan itu ke atas meja makan dengan pengharapan kali ini masakan aku akan dimakan oleh mas Tala. Tidak seperti yang lalu-lalu, masakan ku tak pernah sekalipun di makannya dan berakhir aku yang memakannya hingga sampai merasa kekenyangan. Atau berakhir terbuang sia-sia di tong sampah karena sudah mengeluarkan bau tak sedap yang menyengat.

Baru saja aku ingin membersihkan dapur dan peralatan masak yang kotor namun terhalang karena aku menangkap derap langkah kaki yang berjalan mendekat ke sini. Memekik bingung apa yang harus aku lakukan?

Tetap bertahan dan menyapa mas Tala seperti biasa atau segera berlari kabur.

Aku segera bersembunyi ketika melihat mas Tala sudah masuk ke area dapur. Sedikit mengintip dari balik celah tempatku sekarang bersembunyi. Ku lihat mas Tala melihat makanan di atas meja itu, begitu tak sabarannya aku sangat mengharapkan mas Tala untuk duduk di kursi lalu menikmati sarapan yang ku buat dengan susah payah dan lelah.

Namun harapan tinggalah harapan, semuanya pupus ketika ku lihat mas Tala melenggang pergi tanpa menoleh sekali lagi ke makanan itu. Perlahan aku keluar dari tempat persembunyianku dan melangkah lesu ke meja makan.

Mendelik kaget saat mataku tak sengaja menemukan secarik kertas yang terselip di bawah piring. Ah, aku baru ingat, tadi sebelum pergi mas Tala memang sempat membuka tas kerjanya dan tampak menuliskan sesuatu. Apakah ini?

Duh, aku penasaran dengan isinya. Semoga saja bukanlah isi yang berupa kata-kata kasar dan menyakitkan. Dengan sangat perlahan dan hati-hati aku membuka secarik kertas itu.

Sebenarnya, permainan apa yang sedang kau mainkan?

Aku mengerutkan dahi membaca kalimat pertama yang dituliskan mas Tala. Apa maksudnya? Permainan apa? pikirku seketika tak mengerti.

Ku sarankan padamu untuk berhenti bermain-main denganku. Kalau kau sudah tak tahan dan ingin pisah maka segeralah lakukan, karena tidak mungkin jika aku yang mengajukan perceraian lebih dulu. Tetapi jika kau tetap mengujiku maka jangan salahkan aku kalau pada akhirnya aku yang akan mengajukan perceraian lebih dulu.

Berhentilah untuk bersikap sok kuat dan sabar menghadapiku, bagiku itu terlihat sangat munafik sekali. Ah, aku ingin melihat seberapa kuatnya sih dirimu?

Dan satu lagi, jangan lagi melakukan kebiasaan menyebalkanmu itu. Kau tau kan, rasanya sangat percuma apabila kau repot-repot dan lelah memasak untukku setiap harinya. Karena apa? Karena percuma saja, aku tidak akan pernah mau dan sudi untuk memakannya. Jangankan untuk memakannya, untuk memegang ujung piring itu saja rasanya aku enggan.

Dan ya, semua yang kau lakukan itu adalah pemborosan. Pengeluaran bulanan membengkak tanpa ada hasil yang bisa di nikmati dengan layak.

Jadi, ku sarankan padamu untuk tidak melakukan apapun yang membuatku rugi dan merasa terganggu. Mengerti?!

Atala Malik.

Dadaku terasa sesak, sakit sekaligus nyeri. Dan tanpa sadar tanganku terkepal kuat meremas kertas itu. Ya Tuhan! Kenapa isinya begitu menyakitikan hatiku?

Tidak bisakah mas Tala menuliskan kata-kata yang sedikit manis untukku? Hanya sedikit yang ku minta, apakah tidak bisa ia melakukannya?

Haruskah ia menulis sekasar dan sekejam ini? Oh, mas Tala, aku ini istrimu. Tetapi, kenapa kau begitu jahat dan kejam memperlakukanku? Apa salahku sampai membuatmu begitu membenciku? Hah, apa mas?! Ratapku menangis seorang diri dengan posisi tubuh duduk meringkuk memeluk lutut di atas lantai yang dingin.

Tbc....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED