Membayangkan tubuh molek tante Aina dan tante Aini membuat ku merasa tidak kuat menahan birahi. Aku benar-benar menyukai wanita seperti itu, entah kenapa aku bisa menyukai wanita yang lebih tua dari ku.
Tapi aku harus menyadari, kedua perempuan itu memang istimewa, meski usianya lebih tua dariku, namun tante Aini dan tante Aina sangat cantik, wajah mereka benar-benar membuat lelaki yang melihatnya langsung jatuh hati. Aku tidak menyangka ayahku bisa mendapatkan dua perempuan sekaligus, bikin aku iri aja.
Dari situ lah aku mulai berpikir, dan sepertinya aku harus menyetujui ayahku untuk menikah dengan dua perempuan itu. Karena jika tidak, aku tidak akan bisa dekat dengan tante Aina dan tante Aini. Biarlah mereka menjadi ibu tiri ku. Karena jika sudah menjadi ibu buat aku. Di situ aku bisa manja-manja sama mereka.
Wajah cantik itu dan tubuh molek itu terus terbayang-bayang dalam pikiran ku. Hingga tak terasa batang kejantanan ku mengeras dengan sendirinya. Di saat itu aku berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran kotor itu, namun tetap saja, hal itu tidak bisa aku lakukan. Batang kejantanan ku semakin lama semakin keras.
Aku benar-benar tidak kuat, aku sudah tidak kuat lagi menahan gejolak hasrat birahi yang ada dalam diriku, yang akhirnya aku menurunkan tangan ku, aku pegang batang kejantanan ku sambil mengelus-elus lembut.
"Uhhhhmmmm."
Aku merasakan nikmat ketika batang kejantanan ku dimainkan, aku kocok pelan-pelan sambil membayangkan tubuh molek kedua perempuan itu. Angan ku melayang, betapa nikmatnya jika sampai bisa merasakan kenikmatan dari mereka berdua. Di balik selimut yang menutupi tubuhku, aku terus mengocok batang kejantanan ku yang benar-benar sudah sangat keras.
Ketika aku benar-benar tengah menikmati hal itu, tiba-tiba saja aku dikagetkan dengan pintu kamar ku, yang seketika terbuka.
KLEK!
Sontak aku kaget dan langsung menghentikan aktivitasku. Saat itu terlihat mbak Eni yang masuk kedalam kamar ku. Dia menatap ku heran.
"Kamu kenapa, Den? Lagi sakit?" tanya pembantuku itu.
Mbak Eni terlihat khawatir karena melihat aku yang sedang berselimut.
"Enggak, Mbak. Gak apa-apa kok," ucapku berusaha terlihat biasa saja.
Aku berusaha menyembunyikan batang kejantanan ku yang sedang berdiri tegak. Aku juga heran kenapa mbak Eni masuk lagi ke dalam kamar ku.
"O iya, Mbak. Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Ini, mbak cuma mau bilang. Tadi bapak telfon ... Katanya bapak enggak pulang malam ini, bapak mau langsung lembur di kantor," jawab mbak Eni menjelaskan.
Aku terdiam sejenak, pikiranku sudah menebak kalau papah tidak lembur, pasti papah nginep di rumah perempuan itu. Enak banget papah bisa menikmati dua tubuh molek sekaligus.
"Den. Malah bengong."
Mbak Eni lagi-lagi mengagetkan ku, aku terperanjat dan ada rasa malu juga. Mbak Eni mengerutkan keningnya, ia terlihat aneh menatap ku.
"Kenapa sih, Den? Pake bengong begitu?"
"Enggak, Mbak. Ya udah kalo papah mau lembur sih, gak apa-apa," jawabku tersenyum.
Dari tadi aku masih berbaring dengan tubuh berselimut, hal itu mungkin yang membuat mbak Eni merasa aneh. Mbak Eni memang sangat perhatian, mungkin dia pikir aku sedang sakit hingga ia terus menanyakan tentang kondisi ku.
"Aku tidak lagi sakit, Mbak. Cuma pengen selimutan aja," ucapku meyakinkannya.
"Owh. Ya sudah, mbak ke sana yah. Nanti kalo mau apa-apa panggil mbak aja yah."
Mbak Eni benar-benar pembantu yang sangat perhatian. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum, setelah itu mbak Eni langsung berjalan ke luar kamar ku. Aku menghela nafas panjang.
"Untung gak ketauan. Coba kalo ketahuan, bisa malu aku.
Karena takut jika mbak Eni tiba-tiba masuk lagi, akhirnya aku bergegas untuk turun dari tempat tidur lalu berjalan mendekati pintu untuk segera mengunci pintu itu. Setelah Pitu kamar itu di kunci aku benar-benar merasa bebas, dan aku pun bisa melanjutkan menghayal dua perempuan yang akan menjadi ibu tiri ku.
Pikirkan ku langsung tertuju ke kamar mandi, aku berinisiatif untuk melakukannya menggunakan sabun mandi supaya lebih licin dan nikmat. Tidak menunggu lama aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi itu lalu membasahi batang kejantanan ku, aku usapkan sabun lalu mengocoknya pelan-pelan.
"Hmmmppp."
Ki ini rasanya lebih licin dan lebih nikmat, aku memejamkan mataku sambil terus membayangkan tubuh molek tante Aina dan tante Aini. Gerakan tanganku semakin lama semakin cepat, aku benar-benar menikmatinya. Namun saat itu ada satu hal yang bikin aku jengkel, tiba-tiba saja aku mendengar suara ketukan pintu.
TOK
TOK
TOK
Aku sedikit geram mendengar itu, aku sudah pastian pasti itu mbak Eni. Mau apa lagi coba, udah malem masih aja bolak-balik ke kamar ku.
"Den..."
Benar saja itu suaranya terdengar memanggil ku.
"Iya, Mbak ... Sebentar," teriak ku dari dalam kamar mandi.
Aku buru-buru membersihkan sabun yang ada di batang kemaluanku. Karena aku saat itu hanya memakai celana kolor pendek, hingga celana yang aku kenakan itu terlihat menyembul. Namun aku tidak memperdulikan itu, karena mbak Eni sudah memanggil dari tadi.
Yang akhirnya aku langsung membuka pintu kamar ku. Di situ aku mencoba mencoba supaya mbak Endi tidak melihat ke arah celana ku, karena hal itu bisa membuatku malu, belum lagi jika mbak Eni sampai bilang ke papah.
"Ada apa lagi, Mbak?" tanyaku heran.
"Ini mbak bikinin bubur kesukaan kamu, dimakan yah, mumpung masih anget," jawab mbak Eni memperlihatkan semangkuk bubur ayam.
"Owh, makasih yah, Mbak," ucapku sambil meraih bubur itu.
Saat itu mata mbak Eni melirik ke Ara bawah, dia melihat ke arah celana yang aku kenakan. Sumpah disitu aku malu banget, aku harap mbak Eni gak mikirin yang aneh-aneh.
"Den," ucapnya.
Ucapan mbak Eni membuatku kaget, terlebih lagi ia seolah senyum meledek menatapku.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku heran.
"Kamu habis ngapain?" Mbak Eni malah balik nanya.
"Aku gak ngapa-ngapain, kenapa sih? Emang ada yang aneh, Mbak?" tanyaku berpura-pura tidak tahu.
"Owh, enggak. Pasti habis nonton film panas yah? Hayo ngaku," ledeknya.
Saat itu aku benar-benar malu, ternyata benar mbak Eni mengetahui, dia suda menebak kalau aku sedang ereksi. Namun aku bersikeras mengelak.
"Enggak kok, dih ngarang," ucapku.
"Itu kok kayak tegang gitu," balas mbak Eni menunjuk.
"Ya ini sih wajar lah, Mbak. Kalo udaranya dingin ya gini, kan normal."
Aku berusaha membela diri, sedangkan mbak Eni hanya tertawa meledek ku.
"Iya sih. Ya udah di lanjutin yah, Den," ucapnya sambil tertawa kecil.
Mbak Eni bergegas meninggalkan aku. Aku terdiam, yang aku takutkan saat itu, aku takut jika mbak Eni bilang sama papah. Yang akhirnya aku buru-buru memanggilnya.
"Mbak."
Aku mengeraskan suara, mbak Eni pun menoleh ke arahku. Aku menyuruhnya supaya menghadap ku.
"Ada apa, Den?" tanya mbak Eni.
"Sini masuk, Mbak," ucapku.
Di situ aku langsung bilang sama mbak Eni supaya dia tidak menceritakan tentang ku terhadap papah.
"Ya mbak juga tahu lah, Den. Lagian mbak enggk mungkin lah bilang seperti itu," ucap mbak Eni.
"Iya siapa tau kan nanti mbak cerita kalo aku begini, begini," ucapku.
"Kamu tenang aja. Itu sih wajar, namanya juga orang normal ya wajar kalo melakukan itu."
Perkataan mbak Eni seketika membuat ku tenang.
"Emang udah keluar belum?" tanya mbak Eni yang seketika membuat ku terdiam kaget.
"Keluar apanya, Mbak?" Aku sedikit kebingungan dengan pertanyaan itu.
"Ya tadi kamu main sendiri kan? Udah muncrat belum tuh." Mbak Eni lagi-lagi meledek ku.
*****
Karena terus diledek seperti itu, dan aku rasa tida ada salahnya juga berterus terang sama mbak Eni. Aku langsung paham dengan pertanyaan.
"Kenapa? Serius loh, mbak nanya ini, udah keluar belum?"
Dengan perasan malu, akhirnya aku menjawab pertanyaan mbak Eni,"Belum, mbak"
Mbak Endi malah tertawa, kalo dilihat-lihat mbak Eni ini orangnya cukup cantik juga sih, cuma mungkin karena tidak berdandan aja. Tapi meski tanpa makeup, aku bisa melihat kali mbak Eni benar-benar cantik meski usianya sudah melebihi angkat 30 tahunan.
"Jadi belum?" tanya mbak Eni sambil senyum-senyum.
"Belum, Mbak. Tadi mau keluar gak jadi, mbak Eni sih ngetuk pintu," ucapku seolah kecewa.
"Hehe ... Ya sudah, sini Mak yang kocokin, biar cepet keluar," ucap mbak Eni.
Di situ aku kaget, perkataan mbak Eni benar-benar membuat aku tidak percaya karena dia seperti rela membantu ku untuk menuntaskan hasrat birahi yang sejak tadi menyelimuti ku. Mata mbak Eni menatap ke arah celanaku yang menyembul, aku merasa malu diperhatikan seperti itu olehnya.
"Jangan lihatin, Mbak," ucapku yang langsung menutupnya dengan kedua tanganku.
"Kenapa harus malu? Wajar lah kalo kamu ereksi. Itu tandanya kamu normal," balas mbak Eni.
Aku pikir iya juga sih apa yang dikatakan sama mbak Eni. Karena aku yang merasa sudah terlanjur diketahui, dan batang kejantanan ku yang juga tidak mau lemas, akhirnya aku mengiyakan ucapan mbak Eni yang seolah menawarkan diri untuk membantu ku menuntaskan birahi.
"Udah kamu diem aja, kamu berbaring aja."
"Iya, Mbak," ucapku pelan.
Dalam hati aku merasa senang karena ternyata mbak Eni ngertiin aku. Di atas tempat tidur aku langsung merebahkan tubuhku dengan posisi terlentang, hingga semakin jelas celana kolor yang aku kenakan menyembul. Mbak Eni hanya tersenyum menatap ku.
Meski begitu, aku masih merasa malu, karena belum pernah merasakan dikocok oleh perempuan selain main sendiri.
"Kamu nikmatin saja yah," ucap mbak Eni tersenyum.
Aku hanya diam sambil mengangguk. Perlahan-lahan mbak Eni menurunkan celana yang aku kenakan. Saat itu aku menatap baik-baik ekspresi mbak Eni yang seketika kaget melihat batang kejantanan ku yang sudah berdiri keras.
"Besar banget, Den."
Mbak Eni sepertinya kaget melihat ukuran batang kejantanan ku yang memang cukup besar dan panjang. Tangan mbak Eni memegang pelan senjataku.
"Emmmmm."
Di situ aku merasa melayang, Meksi pun hanya sebatas baru disentuh, namun aku sudah merasakan kenikmatan. Mbak Eni tidak langsung mengocok, ia terlihat memperhatikan baik-baik bantang kejantanan ku, dia terlihat menyukainya.
"Kamu masih sekolah, tapi punya mu gede banget, Den," ucap mbak Eni.
"Emang kenapa, Mbak?" tanyaku heran.
"Den. Suami mbak aja barangnya kecil, tapi punya mu ini gede banget," balas mbak Eni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tersenyum, aku mengerti bahwa ternyata perempuan suka yang gede. Karena mbak Eni terus memegangi senjataku, yang akhirnya batang kejantanan ku semakin keras, aku merasa ingin segera dikocok oleh tangan orang lain.
"Kamu diam yah," ucap mbak Eni.
Aku hanya mengangguk, di sat itu lah mbak Eni perlahan-lahan menggerkan tangannya mengocok batang kejantanan ku.
"Hhhmmmm."
Sentuhan itu benar-benar membuat ku merasa kenikmatan, kocokan tangan mbak Eni membuatku mengerang kenikmatan. Mbak Eni hanya senyum-senyum melihat aku yang menggeliat. Kocokan tangan mbak Eni semakin lama semakin cepat.
Disitu aku yang sudah semakin bernafsu, meminta mbak Eni untuk membuka bajunya karena aku ingin meremas buah dadanya, walaupun suda tidak sekencang dan sebesar milik Tante Aina dan tante Aini, namun aku pikir itu sebagai pelatihan buatku.
Mbak Eni menuruti permintaan ku, hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, kini aku bisa merasakan meremas buah dada perempuan. Meskipun aku mempunyai pacar, tapi aku tidak pernah melakukan hal itu. Nafsuku semakin memburu, aku remas kuat-kuat buah dada mbak Eni hingga dia pun menggeliat seolah menikmati sentuhan tanganku.
Saat itu aku yang juga sering nonton film panas, aku meminta mbak Eni untuk mengulum batang kejantanan ku.
"Kocok pake mulut, Mbak," pintaku.
"Pake mulut? Kamu mau di sepong?"
"Iya, Mbak. Aku pengen banget merasakan itu," jawab ku dengan nafas yang menggebu-gebu.
Mbak Eni tersenyum lalu mengambil posisi, tanpa lama-lama lagi, mbak Eni memasukan batang kejantananku kedalam mulutnya.
"Mmmm"
Mbak Eni terlihat kesulitan, karena ukuran batang kemaluanku yang besar. Namun aku tidak tinggal diam, aku sedikit memaksanya, kedua tanganku memegang kepalanya lalu menekannya supaya senjataku bisa masuk kedalam mulutnya.
"Ahhhhh. Ini enak banget, Mbak."
Aku memejamkan mata, sumpah pertama kalinya aku memasukkan batang kejantananku kedalam mulut perempuan, rasanya benar-benar nikmat. Meski sedikit kesulitan, namun akhirnya mbak Eni mulai mengocok senjataku perlahan-lahan. Aku benar-benar menikmatinya.
Entah kenapa saat itu aku semakin bernafsu, hingga aku pegang kembali kepala mbak Eni supaya lebih cepat mengocoknya. Terlihat mbak Eni kesulitan, aku merasakan batang kejantanan ku masuk kedalam tenggorokannya, itu sungguh nikmat.
"Uhhhhh ... Enak banget."
"Lebih cepat lagi, Mbak," pintaku sambil menekan kepala mbak Eni.
Aku menikmati permainan itu, rasanya benar-benar enak, dan aku juga tidak diam saja, aku terus menekan-nekan kepala mbak Eni supaya batang kejantanan ku bisa masuk lebih dalam mengocok mulutnya. Nafasku memburu, keringat pun sudah bercucuran, aku merasakan aliran darahku semakin memuncak.
"Ayok cepet, Mbak, ayok sedikit lagi," pintaku pada mbak Eni, karena aku merasakan batang kejantanan ku akan mencapai klimaks.
Mbak Eni seolah sudah mengerti, dia mempercepat mengocok senjataku dan akhirnya.
"Aaarrrgghhhh."
Aku mengerang nikmat, batang kejantanan ku berdenyut-denyut sambil menyemburkan lahar hangat di dalam mulut mbak Eni," Hhhmmmpp"
Rasanya benar-benar nikmat, aku tekan kepalanya supaya cairan yang aku keluarkan tidak jatuh. Terlihat mbak Eni kesulitan, dia memberikan kode supaya aku melepaskan tangan ku. Namun aku yang sedang menikmati puncak kenikmatan, aku abaikan saja dia.
Setelah batang kejantanan ku tidak lagi berdenyut, akhirnya aku melepaskan tangan ku. Saat itu juga mbak Eni langsung mengeluarkan batang kejantanan ku dari dalam mulutnya. Aku hanya tersenyum melihat mbak Eni yang terlihat bergegas mengambil tisu yang ada di meja kecil. Mbak Eni menutup mulutnya rapat-rapat sebelum akhirnya ia menumpahkan cairan itu dari dalam mulutnya.
Aku lihat cairan yang keluar dari mulut mbak Eni terlihat banyak, mbak Eni menumpahkannya di beberapa lembar tisu.
"Aduh, Den ... Banyak banget sih keluarnya," ucap mbak Eni seolah heran.
"Iya, Mbak. Soalnya aku udah lama gak ngeluarin," jawabku sambil tertawa kecil.
"Pantesan banyak. Ya udah yah, mbak mau istirahat. Kamu juga istirahat lah, besok kan mau sekolah."
"Iya, Mbak. Makasih yah," ucapku tersenyum.
Aku merasa beruntung, akhirnya aku bisa menuntaskan birahiku, ya walaupun tidak oleh Tante Aina dan tante Aini, tapi aku bisa mendapatkan kenikmatan yang dikasih oleh mbak Eni. Aku tak menyangka mbak Eni perhatian banget, dia mau membantuku. Hingga aku pikir sekarang aku tidak susah lagi kalo aku lagi kepengen.
Akan aku jadikan mbak Eni sebagai pelampiasan nafsu ku yang seketika datang ketika melihat kemolekan tubuh wanita. Dan disaat itu juga aku kepikiran untuk memanfaatkan kekasih ku, karena dari semenjak pacaran aku belum pernah menjamah tubuhya dan hanya masih sebatas ciuman.
"Pokoknya aku harus bisa mendapatkan semua yang aku inginkan," ucapku penuh ambisi.
*****