Daniel keluar kamar meninggalkan Karin Sendirian di kamar. Daniel sudah tidak Memperdulikan Karin dia sudah sangat lelah menghadapinya.
Daniel berjalan ke ruang belakang dan sambil bermain handphone.
Bruk.... Tiba-tiba Daniel menubruk seseorang.
"Aww....," ucap Wanita tersebut, Daniel langsung meliht ke arah Dira.
"Maaf-maaf, saya tidak sengaja, maaf," ucap Daniel berulang kali dia sangat tidak enak Dengan Dira.
"Tidak apa Tuan," jawab Dira sambil tersenyum, Danielpun tiba-tiba membalas senyuman Dira, Daniel tidak biasanya membalas senyuman wanita yang tidak ia kenali.
Dirapun pamit permisi pada Daniel karena dia akan ber istirahat ke kamarnnya.
"Dira...," panggil Daniel.
"Ya tuan?" Tanya Dira.
"Tolong buatkan saya, susu jahe, saya ada di teras rumah," ucap Daniel.
"Baik tuan," ucap dira, Dirapun langsung berjalan membuatkn susu jahe untuk Daniel, begitupun Daniel.
Tak lama kemudian susu itupun sudah jadi Dira mengantarkannya pada Daniel.
"Ini Tuan susunya," ucap Dira memberikan susu tersebut.
"Makasih Dir," ucap Daniel dengan ramah.
"Dir, apakah kita bisa bicara sebentar?" Tanya Daniel, tiba-tiba Daniel merasa ingin di temani, mungkin akibat dia sedang bertengkar dengan Karin.
"Di-mana tuan?" Tanya Dira dengan gugup.
"Disini," jawab Daniel simple.
"Iya Tuan, ada apa?" Tanya Dira yang heran.
"Kamu orang mana?" Tanya Daniel.
"Saya orang Lampung Tuan," jawab Dira.
"Jauh sekali," ucap Daniel kaget.
"Hehe iya Tuan, demi mencari uang, saya rela berjauhan dengan keluarga," ucap Dira sambil tersenyum malu.
"Ternyata selain kamu cantik, kamu juga wanita mandiri," ucap Daniel yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Umur kamu berapa?" Tanya Daniel.
"25 tahun Tuan," jawab Dira.
"Masih muda ternyata kamu," Daniel melihat wajah dan badan Dira, ternyata Daniel tidK salah menilai, ternyata benar umur Dira masih muda.
"Apakah dia sudah menikah?" Gumam Daniel dalam hati sambil melihat ke arah Dira, Dirapun malah menjadi malu di lihat secara intens.
"Mas.... Masss...," panggil Karin yang berteriak, Dira sontak langsung kaget, dia langsung berdiri, karena takut terlihat Karin, dan Dira takut, Karin akan menuduhnya dengann aneh aneh.
"Lagi ngapain kalian disini hah??" Tanya tanya Karin yang tiba-tiba saja data langsung menghampiri Dira dan Daniel.
"Maaf buk, Barusan saya sudah mengantarkan susu jahe untuk Tuhan karena Tuan menyuruh saya untuk membuatkannya," beladiri karena dia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara mereka.
"Pergi kamu!!!" Bentak Karin, Karin sedang tidak ingin berbasa-basi dengan dira, dia ingin berbicara empat mata dengan suaminya.
"Kenapa kamu malah pergi mas!! Kita belum selesai berbicara!!" Bentak Karin saat kami sedang marah-marah tiba-tiba Karin langsung tidak sadarkan diri.
Bruk........
*****
Pagi pun tiba Karin akan dicek oleh dokter karena semalam dia tiba-tiba saja pingsan kembali.
"Silahkan dok," ucap Danil pada dokter tersebut yang akan memeriksa Karin.
"Baik, saya periksa dulu ya Pak," ucap dokter tersebut.
"Gimana dok dengan istri saya? Apakah dia sudah membaik?" Tanya danil pada dokter.
"Keadaan ibu Karin sudah sangat membaik sekarang pak, dan nanti bisa langsung pulang," ucap dokter tersebut.
"Baiklah dok terimakasih," ucap Danil berterimakasih pada dokter tersebut.
"Sama-sama pak, kalo gitu saya keluar dulu semoga ibu Karin cepat sembuh," ucap dokter dan berjalan keluar, tinggalah hanya Danil dan Karin berdua di ruangan rumah sakit tersebut.
Walaupun Daniel sangat kesal dengan istrinya tetapi tetap saja Dia sangat tidak tega ketika melihat istrinya seperti itu.
***
Setelah beberapa jam kemudian Karin bangun dari tidurnya.
"Masss," panggil Karin.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Danil yang langsung menghampiri Karin.
"Iya," ucap Karin dengan nada ketus, ternyata Karin masih tetap saja marah pada suaminya.
"Ayolah Karin, aku sekarang sedang tidak ingin debat bersamamu," jawab Danil yang kesal pada Karin.
"Aku melakukan hal ini karena ini juga untuk kebaikan kita, bukan untuk hal-hal yang lain kamu tenang saja!!" Ucap Daniel.
"Bukan soal hal itu!! Hanya saja kenapa kamu tidak terus terang padaku dan kenapa kamu malah membuat keputusan sendiri!! Bukannya kamu sudah bilang kalau ada apa-apa kita harus diskusi terlebih dulu," ucap Karin.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu Kamu itu terlalu sibuk dengan urusanmu sehingga untuk berdiskusi pun tidak ada waktu!!" Jawab Daniel.
Daniel langsung berjalan keluar meninggalkan Karin di kamar, karena dia tidak ingin debat dengan istrinya, Daniel tau jika dia debatt istrinya akan melemah, dia tidak mau itu terjadi.
"Rini....," daniel memanggil Rini.
"Iya Tuan?" Tanya Rini.
"Tolong bawakan air minum yang hangat yah, dan ambilkam obat-obat sama makannya sekalian, soalnya ibu belum makan," perintah Danil.
"Baik tuan," ucap Rini yang langsung berjalan kebawah lagi untuk menyiapkan semuanya, waktu Rini sedang menyiapkan makan, tiba-tiba handphonenya berbunyi.
"Ibu? Ada apa, tumben sekali ibu nelpon saat aku sedang kerja," gumam Rini yang merasa heran, karena ibunya sudah sangat paham jam-jam Rini bekerja, dan biasanya ibunya tidak akan menelpon jika Rini bekerja. Diapun langsung mengangkat telpon tersebut.
Calingggg......
"Halo bu??" Ucap rini di balik telpon.
"Hallo Rini, ini tante, mohon maaf jika tante Lancang, ibumu sakitnya kambuh Rin, dan Sekarang semakin parah, Tante membawanya ke rumah sakit lombok," ucap Tante Rini.
"Hah? Sakit tan, bagaimana ini aku sedang bekerja tan," ucap Rini yang sangat bingung campur aduk.
"Tante Harap kamu bisa pulang," ucap Tante Rini, Rinipun mematikan telponnya.
"Bagaimana cara berbicaranya ini pada ibu dan Tuan, aku sangat bingung sekali, sedangkan ibu sekarang juga sedang sakit," ucap Rini yang bingung, dia membulatkan tekadnya untum berani berbicara dan meminta izin untuk pulang menemui ibunya, Rinipun berjalan memasuki kamar Majikannya.
****
Tokkk...tok...tokk suara ketukan pintu.
"Masuk," ucap Karin, Rinipun masuk kedalam, dan menyimpan makanan, obat dan minumnya, setelah itu Rini hanya berdiam berdiri di samping Karin.
"Silahkan kamu boleh keluar," ucap Karin.
"Baik bu," Rinipun keluar, dia sedang mencari keberadaan Daniel, karena dia berniat untuk meminta izin terlebih dulu pada Daniel, dan Rinipun melihat Daniel, Rini langsung menghampirinya.
"Mmmmm moo-hon maaf Tuan, ada hal yang ingin karin bicarakan," ucap Rini.
"Apa itu? Bicaralah," ucap Daniel mempersilahkan Rini berbicara.
"Euuuuuu, saya mau meminta izin untuk pulang tuan," ucap Rini yang gugup.
"Kenapa? Tumben sekali kamu?" Tanya Danil yang heran.
"Maaaa-aaf Tuan, ibu saya sakit parah dan sekarang ibu saya sedang di rawat di rumah sakit, saya harus pulang tuan hikss hikss," Rini menangis.
"Sakit parah , sakit apa itu?" Tanya Danil.
"Ibu saya mengidap penyakut kanker stadium 3 Tuan hikss hiksss," danil kaget, karena selama Rini bekerja dengan mereka, mereka baru tau bahwa Ibu Rini mengidap penyakit begitu berat.
"Kanker??" Tanya Daniel lagi untuk memastikan.
"Iya Tuan, saya memohon izin untuk bisa pulang ke rumah hikss hikss," Rini menangis dan memohon pada Majikannya.
"Sudah Rini kamu tidak usah menangis dan memohon seperti itu, aku mengijinkanmu," ucap Daniel yang tidak tega.
Rini sangat lega mendengar jawaban dari Daniel, Danielpun merasa bahwa Rini tidak apa pergi, toh disini juga masih ada Dira, dan Daniel lebih senang jika Dira yang selalu melayaninya.
Pagi pun tiba sekarang Rini sedang bersiap-siap untuk pulang kampung, tiba-tiba waktu Rini akan keluar dari rumah tersebut Karin langsung memanggilnya.
"Rini!!" Panggil Karin.
"Ya bu?" Tanya Rini yang tidak tahu apa-apa.
"Mau kemana kamu?" Tanya Karin dengan tegas karena dia sangat heran sekali Kenapa Rini membawa barang sangat banyak sekali seperti ingin pulang kampung.
"Saya akan pulang kerumah buk," jawab Rini.
"Pulang? Kenapa kamu tidak memberitahu saya dulu!!" Benda Karin yang tidak suka
Dan kebetulan di sana ada suaminya yang sedang duduk di meja makan.
"Mohon maaf buk, saya kemarin sudah memberitahu pada Tuan, bahwa saya akan pulang kampung karena ibu saya sakit buk," jawab Rini sambil menunduk, Karin langsung melirik pada Suaminya.
"Jangan pulang!!!" Ucap Karin dengan tegas, Rini langsung diam dia bingung harus, di sisi lain di harus pulang, di sisi lain lagi dia takut pada majikannya.
"Pulang saja Rini, jangan dengarkan kata dia," ucap Daniel dengan santainya sambil melanjutkn makannya.
Karin melihat ke arah suaminya, seakan meminta penjelasan.
"Kamu jangan melarang dia pulang Karin!! Biarkanlah, untuk kamu Rini silahkan kamu bisa pulang sekarang!!" Ucap Daniel dengan tegas, Rinipun langsung terburu-buru keluar dari rumah tersebut.
"Apa maksudmu Mas?!!" Tanya Karin
"Dia punya Hak untuk pulang!! Biarkan saja, kasihan ibu dia sedang sakit, dan aku juga sedang tidak ingin berdebat denganmu!!" Ucap Daniel, Karinpun langsung diam karena dia juga tidak ingin berdebat.
"Kamu gak bekerja?" Tanya Karin mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, mungkin aku kelelahan jadinya aku males bekerja," ucap Danil dengan entengnya.
"Apa mas? Malas? Kok bisa-bisanya kamu bilang males, Aku kira kamu bekerja Mas kamu jangan kayak gitu dong, Seharusnya kamu itu semangat untuk bekerja, masa malas-malasan seperti itu," ucap Karin menceramahi suaminya, Danil diam saja dia tidak menjawab apapun dari omongan Karin.
"Massss!!! Kenapa kamu Diam aja sih, kamu marah sama aku karena aku udah nasehatin kamu? Padahal itu semua demi kebaikan kamu juga Mas, kamu itu laki-laki dan seharusnya kamu itu jangan bermalas-malasan, Apalagi kamu cuma nggak enak badan sedikit aja, Seharusnya kamu harus paksa badan kamu supaya kuat dan bisa berangkat ke kantor menyelesaikan semua pekerjaanmu," timbal Karin lagi.
"Massss, kok diem terus sih ih," Karin kesal karena Danil tidak membalas ucapannya dia malah diam saja.
"Kamu udah bicaranya? Kan aku udah jelasin tadi Bukannya aku malas-malasan, cuma aku emang bener-bener gak enak badan! kamu juga tahu kan tadi malam aku pulang sangat larut sekali, Tidak ada salahnya bukan kalau aku hari ini ingin istirahat?" Ucap Danil menjawab ucapan Karin.
"Tapi mas, kalau hanya sakit sedikit aja kamu nggak usah dilebay-lebain gitu deh mendingan kamu berangkat kerja aja, Daripada di rumah nggak ada kerjaan," ucapan Karin membuat Danil sangat sakit hati sekali.
"Kenapa kamu memaksa aku terus bekerja? Apakah aku tidak ada hak untuk istirahat, Kenapa kamu tidak pernah pedulikan aku sedikitpun, bahkan sekarang aku yang sedang sakit juga kamu tidak pernah pedulikan, aku itu butuh istirahat Karin Aku tidak mau melulu bekerja mati-matian, SEPERTI KAMU!! Kamu yang setiap hari setiap saat selalu mati-matian dengan pekerjaanmu, sehingga kamu selalu mengabaikanku, dan kamu tidak ada waktu sedikitpun untuk meluangkan waktu kita bersama, waktu anniv saja kamu sempat-sempatnya harus pergi bekerja lagi, hari spesial kita Karin!!" Ucap Daniel yang sangat marah pada Karin, dia tidak habis pikir pada istrinya Kenapa Istrinya selalu saja mati-matian untuk semua pekerjaannya, sampai dia tidak sadar bahwa keluarga lah yang paling penting dan harus diutamakan.
Danil pun berdiri dari kasur dan langsung menjauhi Karin, Daniel berjalan ke arah jendela melihatkan View pemandangan luar yang sangat bagus.
"Kamu juga tahu Mas pekerjaanku sangat banyak sekali, Seharusnya kamu yang mengerti aku Mas, kenapa kamu malah marah-marah sama aku kamu juga tahu aku mati-matian seperti ini karena aku ingin menyeimbangkan kesetaraanku dengan kamu Mas," ucap Karin, ya memang dari dulu karena ingin selalu menyetarakan kekayaan dengan suaminya, semenjak bekerja dan semenjak Karin memasuki nominasi terkaya ke-4 Karin selalu saja sibuk.
"Untuk Apa kamu ingin menyetarakan kekayaanku denganmu? Kita ini suami istri Karin hartaku adalah hartamu, Kamu tidak usah susah-susah bekerja ataupun tidak usah ingin menyetarakan kekayaan aku!!" Ucap Danil yang sangat tidak habis pikir pada istrinya.
"Kenapa Mas? Kenapa aku tidak bisa menyetarakan semuanya dengan kamu Aku hanya ingin kita sama-sama seimbang!!" Ucap Karin Teguh pendirian dengan semua pikirannya.
"TERSERAH!!!!! Ucap Daniel langsung keluar kamar dan menutup pintunya dengan sangat kencang.
*******
"Arghhhh sialan, Kenapa setiap hari Karin selalu ada saja sikap yang membuat aku emosi dan membuat aku tidak suka padanya!! Padahal dulu Karin tidak pernah seperti itu!!" Ucap Danil yang sudah sangat pusing lagi menghadapi istrinya, Danil masuk ke dalam kamar ruang tamu dia ingin mengistirahatkan badannya sebentar, karena memang benar adanya Dia sangat lelah dan sangat pusing sekali.
******
Malam pun tiba Sekarang sudah saatnya waktu makan malam, Danil dan Karin sudah siap di meja makan hanya saja mereka sedikit canggung karena pertengkaran mereka tadi siang.
Dira membawa Sup ayam ke meja makan, tapi tidak sengaja sup itu malah tumpah di badan Dira.
"Awwww," ucap Dira, Daniel langsung refleks membantunya membersihkan tumpahan sup tersebut.
"Sini-sini biar saya bantu," Daniel membersihkan badan Dira, Karin yang melihatnya sangat syok dan hatinya merasa tersayat, karena baru kali Ini Karin melihat suaminya membantu wanita lain selain dirinya, karena biasanya Daniel sangat tidak pernah seperti itu.
"Terimkasih Tuan atas bantuannya, tapi tidak apa saya bisa membersihkan diri saya sendiri," ucap Dira sangat tidak enak hati karena majikannya membantunya dan istrinya menatap seperti tidak suka.
"Diam!! Kamu sedang terluka Dira, lihat tangan kamu melepuh, aku akan mengambilkan obat untuk kamu!!" Ucap Daniel yang langsung berdiri dan berlari mengambil obat tersebut untuk Dira.
"Kamu sengaja Hah!!?" Tanya Karin yang menghampiri Dira dan memegang lukanya.
"Awww sakit buk...saya tidak sengaja bukk hikss hikss," Dira menangiss kesakitan.
"KARIN!!!! Kenapa kamu lakukan itu! Kamu tidak lihat? Bahwa dia sedang kesakitan Karin," ucap Daniel yang tidak habis pikir dengan istrinya.
"Dia berbohong mas," ucap Karin.
"Pergi kamu!!" Bentak Daniel, Karin yang mendengar itu sangat sakit hati, dia memilih untuk masuk kedalam kamarnya, Dia sangat tidak menyangka suaminya melakukan hal itu.
"Kenapa kamu kaya gitu Mas, hikss hikss," Karin menangis sendirian di kamarnya dia sangat sakit hati sekali.
"Gimana keadaan kamu sekarang Dira apakah sudah membaik?" Tanya Daniel pada Dira yang sekarang tanganya sedang di obati.
"Sedikit membaik Tuan," jawab Dira.
"Syukurlah sekarang kamu jangan terlalu memegang pekerjaan, karena tangan kamu masih sakit," ucap Daniel.
Tiba-tiba Karin datang dari belakang, sambil berbicara dan Karin tidak terima karena Daniel malah membela Dira.
"Mana Bisa! Gak bisa kaya gitu dong Mas, kalo Dira gak kerja nanti siapa yang membereskan pekerjaan rumah ini?" Tanya Karin.
"Kan ada kamu?" Ucap Daniel dengan entenngnya.
"Loh kok aku sih, buat apa kita sewa pembantu, kalo akhirnya harus aku yang kerjain semuanya Mas, Lagian dia kan baru kerja beberapa hari Masa kamu udah entengin dia aja nanti dia malah keenakan Mas!" ucap Karinn dengan kesal.
"Sudahlah kamu jangan banyak bicara Karin, biarin Dira istirahat dulu, lagian emang kenapa kalau kamu yang harus membereskan rumah ini untuk sementara, kamu gak mau hah?" Tanya Daniel, Daniel sengaja bertanya seperti itu karena dia memang ingin mengetes Karin.
"Gak! Pokonya aku gak mau, aku mau bekerja!!" Karin langsung pergi dan langsung berangkat kerja, meninggalkan Dira Dan Daniel berdua di rumah.
"Tidak apa Tuan, saya masih bisa bekerja kok, ini hanya sedikit saja sakitnya Tuan, tidak apa," ucap Dira, Dira tidak mau majikannya malah marahan gara-gara dirinya.
"Sudahlah aku tidak tega melihat kamu kesakitian seperti ini, tidak apa pokonya saya kamy hanya diam di kamar yah, jangan terlalu banyak pikiran dulu," ucap Daniel.
"Baiklah Tuan," jawab Dira yang akhirnya menuruti apa yang di ucapkan oleh Daniel.
"Saya tidak bisa melihat kamu kesakitan Dir," ucap Daniel sebelum pergi.
"Maksudnya Tuan?" Dira sangat syok mendapatkan perlakuan Manis dari majikannya.
"Kalo ada apa-apa telpon ya Dira," ucap Daniel seakan-akan dia sangat khawatir sekali pada Dira.
"Baik Tuan," ucap Dira.
Danielpun langsung meninggalkan Dira di rumah sendirian.
"Aww sakit banget, tapi gapapalah yang penting dapet perhatian Dari Tuan Daniel hahaa," ucap Dira dengan wajah yang licik.
"Kayanya aku harus leih sering berdrama seperti ini supaya Tuan lebih care lagi sama aku," ucap Dira lagi seakan akan mencari rencana selanjutnya.
*****
Danil sekarang sedang duduk di meja Kerjanya dia sekarang sangat benar-benar marah sekali pada Karin, karena Karin tidak mempedulikan tentang rumah tangganya dia hanya memperdulikan pekerjaannya yang dia kerjakan secara mati-matian sampai-sampai tidak ada rasa peduli sama sekali dengan keluarganya.
Daniel yang merasa Hampa dan kesepian. Sebenarnya dia tidak ingin marah pada istrinya hanya saja istrinya sudah sangat keterlaluan sekali.
"Aww kenapa kepalaku terasa sangat sakit sekali," ucap Daniel
"Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit sekali, sepertinya aku haruss pulang, kepalaku sakit sekali," ucap Daniel dia langsng bergegas pulang kerumahnya.
******
Tokk..tokk..tok... suara ketukan pintu pun berbunyi.
"Sebebtar," ucap Dira.
"Eh Tuan," ucap Dira gugup, karena yang ada di depannya sekarang adalah Daniel.
"Dira kamu bisa ikut saya sebentar?" Tanya Daniel.
"Bisa Tuan," Dira pun mengikuti Daniel dari belakang, Daniel berjalan menuju kamarnya dirasakan bingung sekali kenapa Daniel malah mengajaknya ke kamar.
"Masuk," ucap Daniel.
"Maaf tuan, Saya tidak mau saya takut kalau ada orang lain yang melihat, nanti bawah Terjadi salah paham tuan Saya tidak mau terjadi," ucap Dira yang takut.
"Kamu tenang saja Dira, Lagian tidak ada siapapun yang berani menuduh macam-macam ini kan rumah saya, dan kalau kamu takut dengan Karin dia kan sedang bekerja sekarang kamu nggak usah risau seperti itu," Daniel menenangkan supaya Dira mau masuk ke dalam kamar Daniel, saat Dira sudah masuk kamar Daniel langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa di kunci Tuan?" Tanya Dira yang bingung.
"Sudah kamu diam saja Dira, sekarang tolong pijitin saya yah, tanganmu sudah sembuh kan sekarang?" Tanya Daniel pada Dira, Dirapun menuruti Apa yang diucapkan oleh Daniel Dira sekarang sedang duduk di kasur Daniel dan sambil Tangannya memijat pundak Daniel.
"Udah agak mendingan Tuhan tidak sesakit pada awal, sekarang mungkin hanya bekas lukanya saja belum terlalu kering," jawab Dira.
"Syukurlah, tapi ngomong-ngomong kamu jago mijet juga yah," ucap Daniel.
"Yaa sedikit-sedikit tuan saya bisa, Soalnya kalau saya di rumah saya sering kali disuruh mijitin orang tua saya ya jadi saya sedikit-sedikit bisa lah hehehe," ucap Dira.
"Baguslah, jadi saya bisa sering-sering menyuruh kamu memijit," ucapan Daniel membuat Dira tersenyum.
"Tapi Tuan, ibu tidak akan marah memangnya? Dan maaf kalau lancang Kenapa tuan tidak meminta ibu Karim untuk memijit Tuan saja?" Tanya Dira.
"Kamu tenang saja Dira," jawab Daniel, perlakuan Daniel pada Dirs dengan Rini sangat beda sekali daniel lebih hangat pada Dira.
"Baiklah Tuan, kalo seperti itu, saya mau kok mijitin Tuan terus," jawab Dira dengan tersenyum.
"Baguslah Dira, Emang itu yang aku inginkan," jawab Daniel dalam hati.
"Baik Tuan dengan senang hati," Dira dan Daniel saling melemparkan senyuman.
"Dira, Aku minta maaf ya Jika nanti aku bakal sering ngerepotin kamu," Entah kenapa Daniel malah meminta maaf pada Dira, padahal itu sudah menjadi bagian kerjaan Dira jadi Daniel tidak usah meminta maaf kembali pada Dira.
"Tidak apa tuan saya dengan senang hati akan selalu membantu Tuhan jika Tuhan ada yang diperlukan ataupun dibutuhkan
Nadira, Nadira wanita yang sangat cantik dan badannya pun sangat begitu bagus dan ideal, siapapun yang melihat Nadira pasti akan terpikat, Daniel pun kaget melihat kecantikannya dan badannya yang sangat body Goals.
Daniel tak henti-hentinya membayangkan Dira, meskipun Dira sekarang sedang memijat Daniel tetapi badan Dira selalu terbayang-bayang oleh pikiran Daniel.
"Cantik sekali, badannya juga sangat bagus," Gumam Danil dalam hati ia membayangkan badan dan wajah Dira.
"Ahhhhh lagi pula dia juga masih sangat muda sekali," ucap Danil lagi sambil tersenyum, setelah beberapa menit Dira memijat Daniel, Daniel meminta Dira untuk berhenti dan meminta Dira untuk membuat masakan buat Daniel, lantas Dira pun langsung turun ke bawah dan melanjutkan memasak.
"Ahh badanku agak enakan syukurlah," ucap Daniel.
Danielpun langsung ke bawah menghampiri Dira yang sedang memasak.
"Masak apa, apakah kamu mau aku bantu?" Tanya Danil pada dira yang sedang Memasak untuk Daniel.
"Tidak usah Tuan, biarkan saya saja yang membuatnya," jawab Dira.
"Memangnya kamu masak apa Dira?" Tanya Daniel.
"Kesukaan Tuan," jawan Dira dengan polosnya.
"Memang kamu tahu apa kesukaan saya?" Tanya danil.
"Tau Tuan soalnya saya di kasih tau sama Mbak Rini," jawab Dira yang sangat polos.
"Gemash sekali," Tiba-tiba Daniel mencubit pipi Dira membuat Dira bingung dan mukanyanya sangat merah sekali.
"Muka kamu kenapa merah seperti itu Dira? Membuat aku semakin gemas," ucap Daniel, Dira tidak menjawab apapun dia sangat malu dan langsung melanjutkan pekerjaanya.
****
"Bagaimana Tuan apakah masakannya enak?" Tanya Dirs yang was-was karena dia baru pertama kali memasak di rumah ini.
"Ya ini sangat enak sekali kamu belajar dari mana saya baru kali ini makan masakan yang seenak ini di rumah," Daniel sangat kagum sekali dengan masakan Dira yang begitu enak dan begitu pasti lidahnya.
"Kamu Udah makan belum Dira? Ayok kita makan bareng aja yah," ajak Daniel dengan senyuman yang sangat manis, namun Dira menolaknya karena dia masih takut ketahuan oleh Karin.
*******
Waktu pun berlalu Sekarang sudah pukul 3 sore, Daniel sangat bingung sekali harus ngapain Dan dia mempunyai ide supaya kesehariannya tidak Gabut.
"Dira.. Dira...," panggil Daniel.
"Ya Tuan sebentar," Dira langsung berlari ke lantai atas untuk menghampiri Daniel yang memanggilnya.
"Ada apa tuan?" Tanya Dira.
"Tolong ambilkan cucian kotor ini yah," ucap Daniel.
"Ohh iya baik Tuan," jawab Dira, dira langsung bergegas mengambilkan Pakaian kotor dan akan membawanya kebawah untuk langsung dicuci.
"Mohon maaf Tuan, cuciannya dimana yah?" Tanya Dira.
"Di kamar Mandi, coba kamu masuk saja," ucap Daniel.
"Mohon maaf tuan,tapi kata Mbak Rini saya dilarang masuk kedalam kamar Tuan dan Ibu," ucap Daniel.
"Iya itu kan hanya buat Rini, kalo khusus untuk kamu kamu boleh bawa baju kotor itu ke dalam kamar saya, tapi terkecuali jika ada istri saya kamu jangan masuk dan jika istri saya tidak ada, atau hanya ada saya di kamar kamu boleh masuk ke kamar," ucap Daniel sambil tersenyum senang.
"Baik Tuan," ucap Dira yang menuruti Apa yang diucapkan oleh Danil.
"Ya sudah, tunggu apa lagi sekarang Bawakan baju kotor itu di kamar, sini," ajak daniel pada Dira, tiba-tiba Aku sedang berjalan Dira tidak sengaja terpeleset, dengan sikap Dani langsung menangkap Dira supaya tidak terjatuh kelantai.
"Awww makasih Tuan," Dira langsung berdiri, hanya saja Daniel menahannya.
"Mohon maaf Tuan, saya akan mencuci," ucap Dira.
"Ohh iya maafkan saya," ucap Daniel langsung melepaskan tanganya.
"Apa-apaan ini!!!" Tiba-tiba Karin sudah berada di kamar dan mungkin saja dia melihat kejadian barusan.
Dira langsung buru-buru keluar dari kamar mandi tersebut dan menjauh dari Daniel.
"Kenapa kamu berani-beraninya masuk ke kamar saya!!!" Bentak Karin yang sangat emosi.
"Maaf buk, bu-kan ma--ksud sa-ya la-ncang, hanya saja saya di suruh Tuan untuk mengambilkan pakaian kotor," jelas Dira.
Karin sangat syok mendengar ucapan Dari Dira.
"Apakah betul mas, apa yang di ucapkan Dira? Tapi kenapa kamu malah mengizinkankany masuk, kenapa tidak di simpan saja keluar kamar seperti pada Rini??" Tanya Karin yang terheran-heran pada suaminya.
"Saya sedang malas, jadi biarkan saja dia masuk toh gapapa juga," ucap Daniel dengan entengnya tanpa merasa bersalah.
"Yaudah kamu boleh keluar ya Dira, lanjutkan pekerjaanmu," perintah Daniel, Dirapun langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mencuci baju. Tinggallah hanya Daniel dan Karin di dalam kamar.
"Kenapa mas, kenapa kamu malah seenaknya gini? Dia orang baru mas, gak sepantasnya juga pembantu bisa masuk Seenaknya saja ke kamar Kita," gerutu Karin pada Daniel.
"Itukan menurut kamu, kalo menurut saya beda lagi Saya dan kamu itu berbeda pendapat Karin," ucapan Daniel begitu menohok bagi Karin.
"Terserah kamu saja Mas Aku udah capek nggak mau bahas apa-apa lagi Lagian aku pulang juga mau bawa amplop ini yang ketinggalan dan aku juga mau berangkat kerja lagi," Daniel tidak menjawab sepatah kata pun dari ucapan Karin dan Karin pun langsung pergi meninggalkan Daniel di rumah. Daniel sudah bingung dan tidak habis pikir lagi harus mengucapkan apa pada istrinya.
****
Saat setelah istrinya pergi Daniel menghampiri Dira yang sedang mencuci baju.
"Kemana istri Tuan?" Ucap Dira yang tiba-tiba menanyakan hal tersebut pada Daniel.
"Dia bekerja," jawab Danil sambil melihat terus ke arah Dira.
"Lantas kenapa Tuan tidak bekerja?" Tanya Dira lagi.
"Saya sedang malas bekerja dan juga sedikit pusing, jadinya saya tidak masuk, lagian itu juga perusahaan saya jadi saya tidak perlu harus setiap hari datang ke kantor saya sendiri," ucap Daniel dengan bangga dan Sombongnya.
"Hmm iya juga sih Tuan, tapi emang Apakah Tuhan mengizinkan Ibu Karin bekerja? Bukannya Tuhan juga sudah kaya raya lalu Kenapa Ibu Karin masih tetap saja bekerja?" Tanya Dira lagi yang mulai berani bertanya ke dalam masalah pribadi Danil.
"Yaa saya juga tidak tahu, Mungkin dia merasa belum cukup dengan apa yang aku punya dan dengan apa yang aku berikan padanya," ucap Danil.
"Iya sih Tuan, mungkin saja Ibu Karin ingin meniti karirnya sendiri, dia tidak mau selalu menyusahkan Tuan mungkin," ucap Dira dengan tenangnya malah menasehati Danil.
"Mungkin, Saya juga tidak tahu dan kadang saya juga merasa jenuh," ucap Daniel yang tiba-tiba saja dia langsung curhat pada Dira, dan Dira merasa Dira adalah orang yang sangat baik dan sangat enak diajak ngobrol.
"Sabar ya Tuan, semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja, Tuan jangan khawatir kan ada saya sekarang saya bisa melayani Tuan, dan apapun yang Tuan inginkan.
"Okeee, kalau gitu lanjutin pekerkaan kamu, dan Jika apa-apa kamu bisa telepon saya ataupun Ketuk pintu saya," ucap Dira pada Daniel.
"Baik Tuan," jawab Dira.
"Dia anak yang sangat baik dan juga Asik diajak curhat, kenapa aku semakin nyaman jika berbicara dan berada di dekatnya yah," ucap Daniel.
Tak lama kemudian Daniel pun tertidur siang karena dia sangat mengantuk sekali.
******
"Aduh banyak banget lagi Ini bajunya, Loh kenapa ini Mesin cucinya beda kayak yang di rumah, gimana dong ini cara makainya Aduh takut banget, takut salah mencet tombol bisa-bisa Mesin cucinya rusak, dan kalau gitu pasti aku akan disuruh ganti mesin cuci ini Ini pasti sangat mahal sekali," ucap Dira yang ketakutan dan bingung bagaimana cara memakai mesin cuci yang ada di rumah Daniel.
Tiba-tiba Dira mempunyai ide untuk sesuatu hal yang bagus sekali.
Setelah Dira lama-lama berfikir akhirnya dia memutuskan suatu keputusan, Dira berjalan menaiki tangga dan akan menghampiri kamar Danil.
Tokk..tok... Tok.. suara ketukan berbunyi.
"Aduh Kenapa Tuan Daniel lama sekali membukakan pintunya Apakah dia sedang tertidur atau dia sedang istirahat?" Tanya Dira pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba setelah beberapa menit Dira menunggu Daniel Keluar akhirnya dia membukakan pintu.
"Mohon Maaf mengganggu waktunya Tuam, saya hanya ingin menanyakan karena saya sangat bingung sekali harus kemana lagi saya bertanya," ucap Dira sambil menunduk tidak menghadap ke arah Daniel.
"Ya? Apa, Bicara aja Dira gak usah takut kaya gitu," Ucap danil sambil memegang rambutnya.
"Saya hanya ingin menanyakan cara memakai mesin cuci Tuan, saya bingung sekali," ucap Dira, tanpa basa basi danil langsung menggandeng Dira turun kebawah menuju mesin cuci.
"Apakah dia tidak sadar?" Gumam Dira sambil melihat tangannya di gandeng oleh Daniel.
"Diraa?" Panggil Daniel.
"Iya tuan ada apa?" Tanya Dira.
"Kamu cantik sekali," ucap Daniel terkagum melihat Dira yang sekarang baru saja mandi, walaupun Dira natural tapi dia masih tetap kelihatan cantik.