Bab 2

*Jangan lupa komentar dan kasih tap 💖nya yah*

_______

Aku jadi teringat pesan Papa dulu sewaktu enam tahun silam, beliau mengatakan bahwa Mas Danu adalah lelaki yang sangat tidak pantas menjadi suamiku, karena sebelum kami menikah Mas Danu adalah lelaki hidung belang pemuas nafsu wanita malam.

Aku sangat mencintainya dan dia bertekad akan meninggalkan dunia hitam itu, entah kenapa kala itu aku tidak mau berpisah dan malah menerima pinangannya. Bahkan aku menentang keras kedua orang tuaku karena telah berani-beraninya tidak merestui hubungan kami.

Memang sangat durhaka, aku begitu menyesal sekarang. Nasi telah menjadi bubur, kini hanya penyesalan saja yang 'ku alami.

Jika dahulu aku menuruti ucapan Papa dan Mama, mungkin aku tidak akan menikah dengan Mas Danu sampai aku telah melahirkan tiga orang anak yang sangat lucu dan menggemaskan.

Setalah enam tahun pernikahan, suamiku--Mas Danu kembali memperlihatkan perilaku dahulu dan itu membuat aku terpukul setelah mengetahui bahwa dia berani mengkhianatiku bersama sahabatku sendiri yang sudah aku anggap sebagai saudara.

Mereka memang benar-benar membuat aku marah, aku bertekad akan membalas rasa sakit hatiku, supaya mereka menyesal dan tidak memandangku wanita lemah.

Aku berniat ingin menelepon Papa, karena sudah sudah sekian lama kami tidak pernah bertegur sapa, bahkan bertemu pun sama sekali tidak setelah menikah dengan Mas Danu.

Aku pun mulai mencari kontak nomer telepon Papa, semoga saja masih aktip.

Setelah mencari, akhirnya aku menemukan dan langsung meneleponnya.

Drrrtt ... Drrrtt ... Drrrtt ...

Panggilan pun langsung terhubung.

''Hallo, ini siapa?'' suara bariton terdengar dari seberang telepon. Itu suara Papa.

''Papa ini aku Syifa, aku mau bicara sama Papa sebentar saja,'' ucapku dengan nada melemah. Aku sangat terharu ketika mendengar suara Papa kembali.

''Mau apa lagi anda menelepon? Jangan panggil saya Papa, karena setelah anda pergi meninggalkan rumah demi lelaki tidak tahu diri itu, anda bukan lagi anak saya,'' bentak Papa. Aku merasa sakit yang teramat dalam karena ucapan yang dilontarkan oleh Papa kandungku sendiri.

''Aku hanya ingin meminta maaf karena dahulu pernah mengecewakan Papa dan Mama, sekarang aku benar-benar menyesal,'' ucapku dengan hati teriris.

"Sekarang anda sudah merasakan dan telah menyesal karena suami yang anda banggakan telah berkhianat 'kan? Percuma, terimalah nasibmu sekarang. Jangan pernah menelepon atau bahkan datang ke rumah lagi,'' cecar Papa.

''Tapi, Pah. Aku ini anak kandung Papa, tolong maafkan, karena aku benar-benar sangat menyesal. Apa pun caranya akan aku lakukan supaya Papa bisa memaafkan aku,'' ujarku memohon.

Terdengar helaan nafas Papa dari balik telepon. Semoga saja Papa mau memaafkan aku.

''Ya sudah. Papa maafkan kamu, maafkan Papa juga barusan karena telah membentakmu. Papa hanya minta kamu bercerai sekarang dan kembali ke rumah,'' ujar Papa memaafkan.

''Alhamdulillah ... terima kasih Pah, aku pun berniat ingin bercerai dari Mas Danu karena dia telah mengkhianatiku. Aku sangat ingin membalas dendam supaya Mas Danu dan selingkuhannya menyesal karena telah membuat aku sakit hati,'' ucapku merencanakan sesuatu.

''Bagus, kamu harus menjadi wanita cerdas. Papa baru ingat suamimu bekarja menjadi PNS 'kan? Kebetulan atasannya adalah sahabat Papa sendiri. Kita atur rencana kita sekarang. Segeralah ke rumah, biar lebih enak menyusun rencana ini,'' ucap Papa menyuruhku.

''Baik Pah, kalau begitu aku matikan sambungan teleponnya,'' ucapku berniat mengakhiri panggilan telepon.

''Silahkan!''

Sambungan telepon langsung terputus dan aku kembali menyimpan benda pipih di atas meja. Untung saja Sinta telah terlelap kembali, aku pun langsung menidurkannya di atas kasur.

Sekarang aku berinisiatif ingin mencari celah kesalahan, supaya Mas Danu menyesal karena telah berbuat seperti itu padaku.

BERSAMBUNG....

Bab 3

Lebih baik sekarang aku mencari barang berharga yang sangat penting, aku ingin menguasai harta Mas Danu terlebih dahulu. Bahkan sertifikat rumah dan mobil itu semua atas nama Mas Danu.

Seharusnya sewaktu pembelian, rumah dan kendaraan atas namaku tapi Mas Danu tetap berkeinginan kepemilikannya atas nama dirinya sendiri.

Aku memang sangat kesal dan begitu bo*doh karena mau-maunya ditipu oleh Mas Danu.

Aku mencari ke mana pun semoga saja barang berharga itu Mas Danu simpan di rumah ini dan aku akan membalikkan nama kepemilikan atas namaku sendiri.

Aku terus mencari, membuka beberapa lemari bahkan bawah ranjang tempat tidur aku cari. Semua isi lemari pakaian aku keluarkan karena aku sangat yakin semua barang milik suamiku ada di rumah ini.

Ternyata di kamar sama sekali tidak ada, aku ke luar dan mencari ke sudut ruangan. Sampai seisi rumah berantakan, biarkan saja nanti juga akan aku bereskan jika sudah ketemu.

Mas Danu memang benar-benar keterlaluan, aku sama sekali tidak menemukan barang berharga itu, bahkan uang simpanannya pun aku sama sekali tidak tahu di mana.

Aku merasa sangat pusing karena terlalu percaya pada suami yang tidak tahu diri. Tubuhku lunglai karena tidak menemukan barang berharga satu pun. Lalu aku merebahkan tubuh dan meratapi diri sendiri.

Padahal aku sangat berharap, ingin menemukannya. Tapi ternyata tidak ada hasil.

'Aarrrgghhh ... Sebetulnya Mas Danu menyimpan semua barang berharganya di mana sih!' gerutuku dalam hati kesal.

Padahal kala itu dia berucap, bahwa semua sertifikat dan uang tabungan ada di dalam lemari. Tapi semua lemari dan barang yang ada di rumah ini aku buka, tapi sama sekali tidak ada satu pun yang kutemui.

''Mama kenapa terlihat bersedih dan kenapa semua seisi rumah berantakan?'' tanya Risna anak pertamaku yang berusia lima tahun.

Dia berjongkok dan menatapku seakan tahu kesedihanku.

''Mama hanya ingin mencari sesuatu barang tapi sama sekali tidak menjumpainya. Jadinya seisi rumah berantakan,'' kataku menatap wajah anak sulungku.

''Memangnya Mama sedang mencari barang apa? Biar Risna bantu!''

''Tidak usah, Sayang. Lebih baik kamu belajar saja, bukankah ada tugas?'' tanyaku melarang Risna untuk membantuku.

Risna baru berusia lima tahun, tapi pikirannya seperti anak yang bukan seusianya. Dia lebih dewasa dan selalu mengerti dan menyayangiku.

''Ya sudah, jika Mama tidak mau 'ku bantu cari. Risna ke kamar dulu ya sambil nungguin Sinta,'' ujarnya pamit.

''Iya, Sayang. Silahkan!'' jawabku tersenyum menatapnya.

Setelah kepergian Risna yang sudah masuk kamar, aku mulai kembali mencari di mana pun sampai aku berdoa semoga ketemu.

Tok ... Tok ... Tok ...

Terdengar ketukan pintu dari pintu depan, tubuhku berkeringat dingin. Aku takut jika yang mengetuk pintu adalah Mas Danu sebab ini sudah menjelang sore pasti dia sudah pulang bekerja.

Dia pasti akan memarahiku karena melihat semua seisi rumah berantakan dan mungkin saja dia berfikir jika aku tengah mencari sesuatu barang berharga.

Tok ... Tok ... Tok ...

Bunyi ketukan semakin kencang bersuara, aku pun segera melangkah dan mendekati pintu depan. Serta tak lupa aku membuang nafas perlahan karena tidak mau gugup ketika berhadapan langsung dengan Mas Danu.

Aku memegang knop dan perlahan pintu terbuka. Terlihat seorang wanita yang berpakaian compang-camping dan wajah seperti badut berdiri sambil melotot ke arahku.

''Lama sekali kamu buka pintunya?'' ucapnya memperlihatkan wajah tidak suka kepadaku.

___

Jangan lupa komentar dan like ya... Terima kasih..

BERSAMBUNG

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED