Bab 2

Lelaki tua itu berjalan menuju mobil mewah yang terparkir di taman.

"Ayo masuk." Ajak lelaki tua.

"Maaf Pak, sepertinya saya tidak cocok menaiki mobil mewah bapak." Ungkap Carly yang takut akan mengotori mobil itu dengan sepatu dan baju baunya.

"Tidak apa-apa. Kamu masuk saja." Paksa lelaki itu dengan wajah penuh senyuman.

"Baiklah."

Dengan sedikit gugup, Carly menaiki mobil mewah itu dengan hati-hati takut ada yang lecet karena itu pertama kali Carly menaiki mobil mewah seharga ratusan juta dollar.

Beberapa menit berlalu, mobil yang ditumpangi Carly telah sampai di perusahaan besar yang terletak ditepian kota Rocburn.

Carly mengikuti langkah pak Halbert memasuki ruangannya.

"Perkenalkan, saya Davidson Halbert. Kamu bisa memanggil saya pak Halbert." Ungkap pak Halbert sembari mengajak Carly duduk di sofa mewah yang tersedia di ruangan itu.

"Baik pak Halbert."

"Saya tadi tak sengaja membaca kertas riwayat hidupmu. Jadi, sebelum menjadi penjaga bar, kamu pernah bekerja dimana saja?" Tanya pak Halbert.

"Hmm... Saya pernah menjadi office boy disebuah perusahaan pak. Maklum pak, saya hanya tamatan sekolah menengah atas. Sudah memiliki pekerjaan saja, saya udah senang pak." Ungkap Carly.

"Ohh begitu... Sebenarnya saat ini lowongan di bagian office boy sedang kosong. Tapi, bagian staff marketing membutuhkan orang. Jika kamu berminat, asisten saya bisa membantu untuk mempelajarinya."

"Apa itu tidak berlebihan pak? Masih banyak orang yang pantas mendapatkan posisi yang sesuai dengan kebutuhan bapak." Carly tak ingin merepotkan orang lain hanya keterbatasan pengetahuannya.

"Justru, orang seperti kamu pantas mendapatkan pekerjaannya. Karena, kamu bisa belajar dengan pekerjaan itu."

Entah apa yang diinginkan pak Halbert, tampaknya ia sangat memperjuangkan Carly untuk bekerja di perusahaannya meski hanya tamatan sekolah menengah atas.

"Apakah bapak serius menjadikan saya bagian dari perusahaan bapak?" Tanya Carly kembali.

"YA!"

"Terimakasih banyak pak."

"Baiklah... Sekarang kamu bisa pulang untuk mempersiapkan diri kamu untuk bekerja besok."

"Dan satu lagi, asisten saya akan memberikan semua fasilitas yang kamu butuhkan."

"Baik pak."

Carly keluar dari ruangan dan diarahkan oleh salah satu asisten pak Halbert untuk mengambil semua file yang harus dipelajari Carly.

"Kamu bisa pelajari dan kamu bisa bertanya kepada saya jika tidak memahaminya." Ujar asisten pak Halbert yang bernama Sean Andreas.

"Baik pak. Terimakasih sudah mau membantu saya."

Sean hanya menganggukkan kepala lalu meninggalkan Carly dengan senyuman sinis terukir disudut bibirnya.

Carly segera pulang untuk memberitahukan kabar gembira pada Bianca.

"Carly? Ada apa denganmu?" Tanya Bianca yang kebingungan dengan suaminya.

"Aku ada kabar baik untukmu!"

"Besok saya sudah bekerja disebuah perusahaan pada bidang marketing." Carly dengan lantang memberitahukan kabar baik itu.

"Apakah benar? Kenapa saya merasa aneh?!" Ungkap Bianca yang sedikit paham dengan alur rencana sebuah perusahaan. Apalagi, Bianca sempat bekerja di perusahaan Jason Abraham.

"Aneh apanya? Seharusnya kamu bahagia kalau saya mendapatkan pekerjaan yang layak untuk kita berdua."

"Saya bahagia, tapi saya merasa ada orang yang ingin kembali menjebak kamu."

"Tidak mungkin! Pemilik perusahaan itu adalah orang ternama. Bahkan saya juga mencaritahu siapa dia di laman website."

"Baguslah. Jadi secepatnya mungkin kita bisa membayar uang sewa rumah."

"Kamu tenang saja. Jika sudah mendapatkan gaji, saya akan membayar sewa rumah untuk 6 bulan kedepan."

"Baiklah."

Keesokan harinya...

Carly berangkat kerja lebih cepat karena takut terlambat. Apalagi, hari itu adalah hari pertama ia bekerja disebuah perusahaan besar.

"Selamat pagi pak Sean." Sapa Carly pada asisten pak Halbert yang berdiri didepan lobi kantor.

"Selamat pagi." Sahut Sean dengan dinginnya.

"Sekarang, ayo ikut saya untuk membantu perusahaan menjual stok barang yang masih bertumpukan di gudang."

"Baik Pak."

Carly dengan patuh memasuki mobil dan dibawa ke sebuah daerah yang bisa dibilang cukup sepi dan jauh dari perkotaan.

"Apakah gudangnya jauh dari kantor pak?" Tanya Carly.

"Benar. Karena barang-barang ini tak bisa dibawa ke kantor. Jadi harus ditampung didaerah lain." Jawab Sean.

"Kamu sudah mempelajari cara pemasaran barang kita kan?" Sambung Sean bertanya pada Carly.

"Sudah pak."

"Kamu jangan sampai melupakan peringatan yang tercatat diakhir file."

"Baik pak."

Carly sebenarnya merasa curiga. Namun, tak mungkin perusahaan ternama melakukan hal yang melanggar peraturan kota.

Hampir satu jam berlalu, Carly telah sampai di gudang milik perusahaan pak Halbert.

Sebuah bangunan yang jauh dari kota dengan pagar yang tinggi dan lahan yang luas.

Gudang itu dijaga oleh beberapa lelaki berbadan kekar dan berwajah sangar.

"Tuan Halbert sudah menunggu pak Sean di ruangannya." Ucap salah seorang penjaga.

"Baik."

Sean segera mengajak Carly menemui pak Halbert. Didalam gudang, terlihat banyak pekerja yang tengah memproduksi sebuah minuman.

"Carly! Untuk pertama kalinya, kamu saya tempatkan didaerah ini. Kamu membantu penjualan minuman didaerah ini. Jika kamu berhasil menaiki penjualan disini. Saya akan memberikan gaji yang fantastis untukmu."

"Saya akan mengusahakan itu semua pak."

"Untuk akses pulang, saya sudah menyiapkan seorang sopir yang akan mengantar dan menjemputmu bekerja."

"Baik pak. Terimakasih banyak sudah membantu saya."

"Ayo Sean. Kita kembali ke kota."

Pak Halbert dan asisten meninggalkan Carly untuk mengelola gudang.

Dihari pertama, Carly mencoba memasarkan minuman pada bar-bar kecil yang berada dikota itu.

Bisa dibilang, semua toko mau menerima minuman yang dipasarkan oleh Carly.

Pesanan minuman semakin meningkat setiap harinya. Hampir dua minggu Carly mengelola gudang, stok yang diproduksi semakin menipis.

Pak Halbert cukup bangga dengan prestasi Carly yang sangat bertanggungjawab dengan pekerjaannya.

"Saya tak salah memilih orang. Sudah berbulan-bulan gudang ini tak ada kemajuan. Tetapi, kamu berhasil menunjukkan prestasimu untuk memasarkan produk saya." Puji pak Halbert.

"Terimakasih pak, sudah mempercayakan saya."

"Ini ada uang untuk kamu sebagai ucapan terimakasih saya."

Sean memberikan satu ikat yang yang senilai 10 juta dollar.

"Apakah ini tidak berlebihan pak? Apalagi nominal uangnya yang tidak sedikit."

"Kamu ambil saja. Uang itu adalah janji saya saat kamu pertama kali bekerja disini."

"Sekali lagi, terimakasih pak Halbert."

Bab 3

Carly bergegas untuk pulang setelah mendapatkan bonus dari pak Halbert. Dia berencana mengajak istrinya untuk makan malam.

"Bianca, ayo ganti bajumu. Aku ingin membawa kamu makan malam diluar beserta berbelanja kebutuhanmu." Ajak Carly.

"Apakah kamu memiliki uang? Bahkan kamu saja belum gajian."

"Aku mendapatkan bonus dari pak Halbert karena sudah menaikkan penjualan produknya."

"Benarkah? Sungguh baik sekali atasanmu itu."

"Iya. Sekarang cepatlah kamu mengganti pakaian."

"Baiklah."

Carly sangat merasa bangga karena sudah bisa membahagiakan istrinya. Sudah hampir satu tahun, Bianca tak pernah menikmati hidup mewahnya seperti dahulu.

"Ayo kita pergi." Ajak Bianca yang telah selesai mengganti pakaiannya.

"Kamu terlihat sangat cantik malam ini." Puji Carly ketika melihat Bianca memakai dress berwarna pink dengan tambahan aksesoris anting beserta kalung.

Kecantikan Bianca tidak bisa dipungkiri. Apalagi, ia terlahir memang dari keluarga kaya raya. Jadi wajar, sejak dahulu Bianca bisa merawat dirinya.

"Ayolah... Aku tak butuh bualanmu. Saat ini, aku hanya ingin menikmati suasana luar. Sudah lama, aku tak berjalan-jalan."

"Yasudah." Carly memasang wajah melas. Bianca memanglah orang yang tidak mudah terbuai dengan pujian siapapun. Bahkan, banyak lelaki kaya yang ingin hidup bersama Bianca. Tapi, takdir Bianca berkata lain. Ia harus hidup bersama Carly yang terlahir dari keluarga miskin.

"Kita mau perginya dengan apa?" Tanya Bianca.

"Aku sudah memesan taksi online. Mungkin sebentar lagi sampai."

"Baiklah."

Carly tak bisa membohongi pandangannya. Ia sangat terpana dengan kecantikan Bianca yang sangat indah.

"Taksinya sudah datang. Ayo kita pergi."

Carly tak fokus dengan ucapan Bianca. Ia terlalu fokus memandangi istrinya sehingga tak menyadari jika taksi pesanannya sudah sampai.

"Carly?!"

"Hah?!" Respon Carly yang terkejut.

"Ayo! Mau sampai kapan kamu berdiri seperti patung disana?"

"Oh iya! Ayo kita pergi."

Tujuan awal Carly yaitu membawa Bianca berbelanja kebutuhannya disebuah mall yang tak cukup jauh dari rumah mereka.

"Carly! Bolehkah aku membeli sebuah kado untuk ayahku? Lusa ayahku berulangtahun. Aku ingin mengajakmu menghadiri pestanya." Ungkap Bianca.

"Kamu beli saja barang apa yang ingin kamu belikan pada ayahmu."

"Terimakasih."

Saat tengah asik mengelilingi mall untuk mencari pakaian dan kebutuhan lainnya. Carly dan Bianca bertemu dengan Matteo Abraham. Anak sulung keluarga Abraham, yang tak ialah kakak kandung dari Bianca.

"Hai Bianca! Sudah lama sekali aku tak bertemu denganmu." Sapa Mattheo.

"Hai bang."

"Sedang apa kamu disini?" Tanya Bianca.

"Aku sedang berjalan-jalan sembari mencari kado untuk ayah."

"Oh ya... Kamu pasti akan menghadiri pesta ulangtahun ayah kan?"

"Iya... Aku akan menghadirinya dengan Carly."

"Ohh... Kalau begitu, jangan sampai lelaki miskin ini berpenampilan seperti gelandangan dipesta ayah. Aku tak ingin dia merusak reputasi ayah kembali."

"Dan ya... Jangan lupa membelikan kado mewah untuk ayah. Gak mungkin kan, seorang Bianca putri Jason Edric Abraham membelikan kado murahan." Sindir Mattheo.

"Hmm... Kamu tak perlu merisaukan hal itu. Aku sudah mempersiapkannya."

"Baiklah. Sampai jumpa lagi."

Bianca memang sekarang hidup tak semewah dahulu. Tapi ia tau cara menyetarakan kelas hidupnya dengan kalangan orang kaya.

Setelah selesai berbelanja, Carly mengajak Bianca makan disebuah resto ternama yang tak jauh dari mall.

"Bianca? Apakah kamu yakin akan membawaku diacara ulangtahun ayahmu?" Tanya Carly yang sedikit ragu.

"Ya... Aku yakin akan membawamu."

"Tapi..."

"Kamu tak perlu memikirkan semuanya. Cukup hadiri dan menikmatinya."

"Baiklah."

Tanpa perbincangan yang cukup banyak, Bianca dan Carly menikmati makan malamnya. Saat pukul 9 malam, mereka berdua memutuskan untuk pulang dan beristirahat.

[Hari ulangtahun Jason Abraham]

Carly dan Bianca menghadiri pesta dengan mengenakan gaun dan jas yang berwarna senada. Tampilan mereka berdua tak kalah jauh dari tamu undangan lainnya.

"Wahh... Bukankah itu Bianca, anak bungsu keluarga Abraham?" Ucap para tamu yang terkesima dengan kecantikan Bianca.

"Benar... Itu Bianca Abraham! Saya sangat ingin menikahi perempuan secantik itu." Sambung tamu lainnya.

"Percuma kamu berbicara seperti itu bro. Apakah kamu tidak melihat lelaki yang berada disampingnya itu? Dia adalah suami dari Bianca Abraham." Imbuh temannya.

"Benarkah? Berasal dari keluarga mana dia, saya tak pernah melihat lelaki itu."

"Saya juga tak terlalu mengetahui itu."

"Hmm... Sungguh sangat menarik." Ucap seorang lelaki muda tampan yang berada dikumpulan lelaki yang memuji kecantikan Bianca.

"Apa maksudmu Lucas?"

"Jangan bilang, ini permainan barumu?" Tanya lelaki yang duduk disampingnya.

"Jangan sebut namaku Lucas Maddison, jika aku tak bisa mendapatkan wanita itu." Ungkapnya dengan sangat sombong.

"Baiklah, bagaimana kita taruhan. Jika kamu mendapatkan wanita itu dalam waktu sebulan, aku akan memberikan 5 juta dollar untukmu." Tantang Axelio, sahabat dekat Lucas.

"Oke... Tantanganmu saya terima."

Dengan wajah sinis, Lucas memandangi kecantikan Bianca dari kejauhan sembari meneguk segelas wine.-

Carly tampak merasa gugup dengan keramaian orang yang sebagian memandangi kedatangannya.

"Ayo kita temui ayah." Ajak Bianca.

"Baik."

Mereka berdua menghampiri Jason Abraham yang tengah berbincang dengan rekan kerjanya.

"Hai Carly, kamu juga menghadiri pesta ini?" Tanya seorang yang kenal dengan Carly.

"Halo pak Halbert... Ternyata anda juga berada disini." Sapa Carly kembali.

"Benar... Saya rekan kerja pak Jason."

"Ohh... Siapa wanita cantik yang berada disampingmu ini?" Tanya Halbert.

"Dia istri saya pak."

"Tunggu... Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Jason.

"Iya pak... Carly ini yang mengelola gudang minuman saya."

"Ohh... Sangat beruntung sekali kamu Carly, bisa bertemu dengan pak Halbert yang baik ini." Sindir Jason.

"Permisi... Bolehkah saya berbicara dengan pak Jason sebentar." Potong Bianca yang tak ingin jika ayahnya semakin merendahkan Carly.

"Ohh... Silahkan Nona."

Bianca mengajak ayahnya menuju meja lain.

"Selamat ulangtahun ayah."

"Ini ada sebuah kado kecil untuk ayah dari kami berdua."

"Terimakasih Bianca."

Saat Bianca memberikan kado, Jessica dengan gesit merampas kantong itu dari tangan adiknya.

"Hmm... Hadiah apa yang diberikan oleh adikku untuk ayah?" Ucap Jessica sembari mengintip bingkisan kado dari Bianca.

"Berikan itu kepada ayah kak."

"Memangnya kenapa jika kakakmu ingin membuka kado ayah?" Ujar Jason.

"Tidak apa-apa Ayah! Aku hanya ingin ayah yang membuka kado itu."

"Ayah ataupun kakakmu, itu sama saja."

Bianca memang sering dibedakan oleh ayahnya. Ditambah lagi, Jessica yang bisa menghasut Jason untuk tidak percaya dan selalu menuduh Bianca sehingga tak ada rasa sayang dari Jason pada Bianca.

Apalagi, semenjak kejadian Bianca yang dijebak oleh kedua kakaknya sehingga ia harus menikah dengan Carly. Kejadian itulah yang membuat Jason semakin marah dengan Bianca.

"Hmm... Sebuah jam yang cukup mahal." Ungkap Jessica.

"Sekarang kakak sudah melihatnya. Apakah kado itu bisa diberikan pada ayah?"

"Baiklah."

Jessica memberikan kado itu kembali pada ayahnya.

"Dimana suami miskin kamu itu?" Tanya Jessica.

"Dia sedang berbicara dengan tamu lain."

"Ohh... Jangan lupa, ingatkan suami itu agar tak merusak hari bahagia ayah."

"Kamu tidak perlu memperingati saya. Carly bisa menjaga sikapnya."

"Yasudah... Ayo ayah. Kita mulai acaranya."

Jason dan anak perempuan yang sangat dimanja itu meninggalkan Bianca sendirian.

'BUGHH'

Seseorang tak sengaja menabrak Bianca.

"Ohh... Sorry! Aku tak sengaja." Ucap seorang lelaki yang segera mengambil tisu dan membersihkan dress Bianca.

"Tidak usah! Saya bisa membersihkannya di toilet." Tolak Bianca sembari berjalan menuju toilet.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED