Ratih terlihat sibuk akan aktivitasnya, dimana Farhan datang bertandang ke rumah Ratih, sebelumnya mereka sudah janjian, dimana Farhan akan menjemput Ratih, di rumahnya.
Saat Farhan hendang menekan Bell rumah, tiba-tiba pembantu Ratih sudah langsung membukakan pintu, sebuah kebetulan yang pas, di moment-nya.
Ratih dimana Bi? tanya Farhan
ada tuan, sedang berdandan di kamar-nya
ohhh! hanya itu yang keluar dari mulut Farhan
mau minum apa tuan? dingin atau panas?
air putih dingin aja Bi, jawab Farhan
baik tuan.
Farhan kemudian duduk, dan si Bibi bergegas ke dapur menyiapkan minuman untuk tuan "Farhan"
sambil menunggu Ratih, Farhan memainkan Hp-nya, tiba-tiba Si pembantu sudah datang, dan membawakan segelas air putih dingin pesanan Farhan.
ini tuan minum-nya
iya Bi, terimakasih
Farhan segera meminum-nya, terasa segar di kerongkongannya, lalu Ratih sudah siap berdandan, dia segera menghampiri Farhan, lalu mengajaknya langsung jalan, Ratih pun memanggil si pembantu.
Bi, aku jalan ya, pintu-nya jangan lupa di kunci, ucap Ratih
Baik "nya" ucap si Bibi
Mereka pun langsung berangkat menuju tempat yang dituju, sebuah tempat peragaan Fashion di kawasan SCBD, sesampainya disana, mereka mencari tempat duduk yang sudah mereka boking terlebih dulu, sesua dengan nomor pesannanya.
sebenarnya Farhan sama sekali tidak tertarik akan hal ini, tapi mau gimana lagi, sudah permintaan Ratih, untuk menemaninya,
Ratih pun memerhatikan dengan seksama semua model yang tampil, memeragakan busana yang dipakaikannya, dia cukup terkesan akan tampilan-tampilan gaun yang dipakai model-model tersebut, Ratih berharap suatu saat nanti, hasil desain-nya lah yang akan tampil disitu, waluapu dia hanyalan Amatiran dan hanya hoby desain, bukan seorang desainer profesional.
Setelah sekian jam, acara pun selesai, Ratih dan Farhan pun meninggalkan tempat, lalu mereka menuju kawasan Senopati, disana mereka mampir ke sebuah Restoran Korea, Ratih dan Farhan pun memesan makanan dan minuman.
setelah dirasa cukup mengisi perut masing-masing, Ratih dan Farhan pun meninggalkan Resto tersebut.
jarum jam sudah menunjuk angka 8, diperjalanan mereka mampir membeli buah, lalu langsung meluncur pulang ke arah rumah Ratih
tin....tin... bunyi klekson mobil, terlihat si Bibi bergegas membukakan gerbang, Sebelumnya, Ratih mengajak Farhan mampir ke rumahnya sebentar, memang kondisi rumah Ratih sedang sepi, dimana Papah dan Mami-nya sedang keluar kota, untuk menghadiri pernikahan Keponakan mereka.
Bi" panggil Ratih
iya "Nya"
Bikinin minum tuh buat Mas Farhan
Baik "Nya"
Ratih pun meninggalkan Farhan yang sedang duduk diruang tamu,
Ratih berganti pakain, sekarang Ratih hanya memakai pakain tidur yang terlihat tipis, samar-samar terlihat cetalan pakain dalam yang dikenakan Ratih
Sambil Minum, Farhan menyaksikan kedatangan Ratih kehadapannya dengan Senyum Nakal.
Bi" panggil Ratih
iya "Nya" ?
udah, tidur aja, istirahat suruh Ratih
baik-"Nya"
Ratih dan Farhan pun asik ngobrol, yang sering dengan gobalan Farhan. tiba-tiba Farhan merebahkan kepalanya di Paha Ratih, Ratih pun membelai wajah Farhan.
Yang? ucap Farhan
emmm, jawab Ratih
Pengen ini, ucap Farhan, sambil tangan-nya meremas halus buah dada Ratih,
ih... nakal ya kamu, ucap Ratih, sambil memencet hidung mancung Farhan
Farhan pun tampa ijin lagi, segera menyisikan selah baju tidur Ratih, sekarang buah dada Ratih hanya terbungkus sebuah BH warna putih susu
Farhan kembali beraksi, lembali dia menyisihkan BH ratih yang sebelah kiri, sekarang terlihat puting ratih yang kemerahan, mulut Farhan pun segera beraksi, seperti seorang Bayi yang sedang menyusu, Gigi-nya menggigit kecil puting Ratih, dan lidahnya bermain di puting Ratih.
Ratih hanya memejamkan matanya, merasakan nikmat pemberian Farhan, lalu Farhan bangun, lalu melumat bibir sensual milik Ratih, lidah mereka saling ngulum, seolah-olah saling membelit antara lidah mereka, tidak lupa, tangan Farhan pun beraksi kembali, melepas jubah tidur milik Ratih, lalu melepas pengikat BH Ratih,
Gunung kembar itu pun terpangpang di dwpan wajah Farhan, Mulut dan jarinya beraksi, menghisap, dan meremas, setelah itu, bagian telinga Ratih pun tidak lepas dari kemahiran mulut Farhan, Ratih hanya bisa mendesah, dan tangannya membatu melepas kancing kemeja milik Farhan.
Sekarang bibir Farhan berpindah ke pusar Ratih, lalu tangannya berusaha melepas sisa pakaian Ratih, saat itu juga, terlihat Ratih mengenakan G-sting warna merah muda, yang semakin membuat Farhan semakin bernafsu!
Farhan menciumi paha putih mulus Ratih, sampai pangkal paha-nya, lalu dia jongkok dilantai, dimana posisi Ratih duduk di kursi sambil sandaran, mulut Farhan pun menciumi celala dalam G-string yang dikenakan Ratih, sesekali lidahnya menusuk-nusuk celah yang mulai basah disitu.
Farhan menarik G-string Ratih, lalu melebarkan paha Ratih, terlihat mahkota Ratih sudah mulai basah oleng rangsangan Farhan, bulu-bulanya yang selalu dirawat rapih.
tiba-tiba Farhan melebarkan paha Ratih, lalu mengangkatnya sedikit keatas (menukik) kepala Farhan pun langsung mengarah ke mahkota milik Ratih, dia menciumi, dan menjilatinya, lidahnya memenembus ke dalam, dan menari-nari di goa milik Ratih
ohh yang, ah...hemmmm desahan Ratih
enak "yang" tanya Farhan
hanya dibalas senyum manja dan desahan dari Ratih
Kembali Farhan mengerjai milik Ratih, seolah-olah dia tidak mau menyisahkan lendir milik Ratih, lidahnya terus mengorek bagian dalam goa Ratih, sesekali menelannya, rasa khas yg memang sangat disukai Farhan, sekarang lidah Farhan berpindah, lidahnya menjilati bagian bool Ratih.
Ratih yang merasa geli, tiba-tiba menahan kepala Farhan.
jangan Yang, jorok itu. ucap Ratih
nikmati aja yang, kamu akan menyukainya ucap Farhan
lagi dan lagi, lidah itu menari-nari di pembuangan Ratih, terlihat pembuangan ratih memerah, dan benar kata Farhan, Ratih makin merem-melek keenakan akan ulah Farhan, dan ini baru pertama dia merasakan betapa nikmatnya saat bool-nya dijilati dan seolah-olah ditusuk-tusuk lidah Farhan.
Setelah dirasa puas mengerjai Ms V dan bool milik Ratih, Farhan pun bangkit berdiri, lalu melepas celana jeans yang dia pakai, sekarang hanya tersisa celana dalam hitam merk GTman yang dikenakan Farhan, lalu dia meminta Ratih melepas-nya.
Ratih pun melepasnya, batang besar milik Farhan langsung mengarah ke wajah Ratih, terlihat urat-urat bergaris di batang besar itu, dia mengingat kembali saat pertama batang itu membobol selaput darah perawan miliknya.
kembali Farhan mengarahkan Mr P nya ke bibir Ratih, dan Ratih pun mulai mengulumnya, walau tidak sampai separuh yang bisa ditampung mulut Ratih, sekitar 5 menit Farhan membiarkan Ratih memainkan batangnya di mulutnya, sekarang Farhan mengubah Posisi, mereka melakukan posisi 69, dimana mulut masing-masing saling memanjakan mahkota berharga milik mereka.
Farhan mulai menindi Ratih, dan mengarahkan batang-nya ke sasaran yg sudah siap tempur.
Pelan ya Yang, ucap "Ratih"
hanya dibalas senyum oleh Farhan, dan ciuman ke wajah Ratih.
kepala Mr P yang besar mulai menembus goa hangat milih Ratih. Ratih hanya memejamkan mata dan menggigit bibir-nya, perlahan batang itu pun masuk sedikit demi sekit, maju-mundur pun mulai dilakukan Farhan dengan pelan, mulut mereka juga tetap bekerja saling merangsang bagian tubuh pasangan masing-masing.
Farhan mempercepat tusukannya, dan juga semakin masuk dalam di goa milik Ratih, serasa di pijat pikat oleh milik Ratih, tiba-tiba Ratih mendekap erat tubuh Farhan, dan auwh..ah...Ratih medesah, ternyata dia sudah sampai, Farham merasakan batangnya seperti disiram.
di tengah Farhan menyetubuhi Ratih yang sudah kelelahan, tiba-tiba terlihat bayangan di dekat dapur, Farhan pun tidak mempedulikan-nya, dia tetap asik untuk mencapai kenikmatannya, tusukan demi tusukan dilakukan Farhan.
lalu terlihat, tenyata bayangan itu adalah si pembantu, si "Bi ijah" , bi Ijah ternyata dari tadi mengintip aksi Nyonya-nya dengan Farhan si cowok Ganteng, Macho dan berbulu dada.
kembali Ratih mencapai puncaknya, kukunya sempat mencakar tubuh Farhan, akibat rasa nikmat yang dia rasakan saat orgasme, Farhan pun sebentar lagi akan sampai, Farhan segera mencabut batang-nya lalu mengarahkan ke buah dada Ratih, dan mengocoknya, crot crot crot, keluarlah lahar panas yang banyak membasahi dada Ratih, wajah dan rambutnyapun tidak luput dari semprotan lahar panas yang banyak milik Farhan.
Perasaan Puas dan lelah dirasakan dua insan tersebut, mereka tidur dan berpelukan di kursi panjang yang sempit itu, sekitar setengah jam berlalu, mereka mandi bersama, lalu Farhan pun pulang ke rumahnya.
Di kesibukan Angga akan pekerjaan kantor-nya, Pas jam istirahat makan siang, Angga pergi kesebuah Resto tidak jauh dari Kantor-nya.
Dia memesan makan dan minum-nya, lalu matanya memerhatikan setiap orang yang ada di Resto itu, tiba-tiba dia melihat seorang Pria yang mirip dengan Farhan, dia hanya mencoba mengingat-ngingat wajah Farhan, saat pertama bertemu, saat menjemput Ratih.
Angga kurang Yakin akan hal itu, sehingga dia tidak berani menyapanya, (maklum, pertemuan pertama dan Singkat di waktu itu).
Pas sedang asik melahap, ayam bakar pesanan-nya, sesosok Pria tinggi sudah berdiri tepat di depan-nya, dan menyapa-nya.
Apa Kabar Bro! ucap Pria itu
kabar baik, jawab Angga
masih ingat dengan saya? tanya Pria itu
Farhan ya? Pacar-nya Ratih?
yoiiii! jawab-nya, beleh bergabung duduk disini?
silahkan-silahkan ucap Angga dengan Senyum, tenyata benar Farhan yg dilihatnya tadi, dan sekarang sudah satu meja dengan-nya.
Makanan Pesanan milik Farhan pun diantar, lalu mereka berdua makan bersama, sambil ngobrol ringan kerjaan masing-masing, disana Angga baru tau, ternyata Farhan bekerja di bidang Kontraktor, dan Angga pun mengasih tau soal kerjaanya, yaitu bergerak dibidang Export-Import.
Memang sifat Angga tidaklah banyak bicara, dia lebih banyak diam, pas di tanya barulah dia berbicara, sementara Farhan adalah sosok yang selalu bisa mencari bahan untuk dibicarakan, sosok yang mudah bergaul.
Jam sudah menunjuk jam 1 lewat
Angga pun pergi kekasir dan menanyakan berapa total-nya, tidak lupa, dia juga membayar pesanan milik Farhan.
Setelah itu, Angga pamit dan memberitahu Farhan, kalau dia sudah membayar bill makanan Farhan, dan dibalas Farhan dengan senyum dan ucapan terimakasih.
Kesibukan Angga pun kembali, sesampainya di ruang kerjanya, sebuah layar MacBook terpampang di atas mejanya, dia pun mulai sibuk dengan pekerjaannya, tidak lupa, Angga meminta segelas kopi kepada OB kantornya.
Begitulah keseharian Angga, Sibuk dan Sibuk akan kerjaan di hari Senin-Jumat. dia adalah orang yang serius mengejar karir, dan tentu juga bonus pendapatan akan prestasi-nya.
Waktu pun berlalu, hari demi hari, minggu demi minggu.
Suatu Waktu, di hari Sabtu, Angga pergi ke sebuah pameran Lukisan, mengisi kekosongan harinya, dimana Sabtu dan Minggu adalah hari Libur.
Saat sedang asik memerhatikan karya-karya lukisan yang di pajang, dia dikagetkan sebuah tepukan di pundak-nya, ternyata itu adalah Ratih bersama seorang Ibu yang masih terlihat cantik. Ratih pun memperkenalkannya kepada Angga.
Tante Mila, mamanya "Ratih" ucap wanita tersebut
Angga Tante, jawab Angga dengan senyum dan sedikit menunduk saat menyalami Ibu nya Ratih.
Ratih pun bertanya kepada Angga
Cari lukisan apa nih?
ah, ga ko, cuman mengisi waktu luang aja, jawab "Angga"
Ratih sendiri nyari apa?
ni si Mami, pengen nyari Lukisan besar buat di temper ke dinding ruang tamu, ga tau juga lukisan apa, ucap Ratih sedikit cemberut.
nyari lukisan seperti apa Tante?
ya yang bagus aja di pandang mata, jawab Tante Mila.
Mereka pun berkeliling sambil melihat-lihat lukisan yang dipajang di sana,
tiba- tiba mata Tante Mila tertuju ke sebuah Lukisan bergambar pedesaan yang asri, Tante Mila pun mendekat, di ikuti Angga dan Ratih.
ini kayak-nya cocok nih, Ucap Tante Mila, sambil memperhatikan detail Lukisan itu.
kira-kira berapa ya? tanya Tante Mila
Ratih dan Angga, tentu saja ridak tau akan nominal harga lukisan itu.
Ratih pun memanggil seorang penjaga disana, lalu menanyakan harga dari lukisan itu, ternyata harganya 25 Juta-an dan di diskon jadi 22 Juta.
Gimana Tih, bagus ga? tanya Tante Mila kepada Putri tercinta-nya
Bagus sih, Mami mau?
tapi lumayan mahal ya! kata Tante Mila
Angga pun menyimpali, Tante suka?
Suka sih jawab Tante Mila, tadi berapa katanya?
22 Juta Mih, jawab Ratih
tiba-tiba Angga pergi meninggalkan mereka, lalu menuju kasir tampa sepengetahuan Ratih dan Tante Mila, Angga pun memesan lukisan tersebut dan membayar-nya, total yang harus dibayar Angga sekitar 22 juta 3 ratus dengan biaya antarnya, hanya tinggal gesek, lunas deh itu lukisan.
Saat Angga kembali ketempat Ratih dan Tante Mila, tiba -tiba 3 orang pegawai disitu ikut menghampiri mereka.
Pak, Mau disiapkan sekarang? tanya salah satu pekerja tersebut
Boleh Pak, di bungkus yang Rapih ya, ucap Angga
Ratih dan Tante Mila pun serasa kaget akan hal itu, lalu Angga menjelaskan, kalau Lukisan itu sudah di bayar-nya, Sebagai kado perkenalan dengan Tante Mila, ibunya Ratih.
apa? ucap Ratih dan tante Mila serempak
ga apa-apa Tante, Angga senang mengenal Tante, dan tentu saja Mengenal Ratih, ucap Angga.
dibalas Ratih dengan senyuman tipis
Akhirnya lukisan itupun disiapkan, dan Tante Mila memberikan alamatnya, tempat dimana lukisan itu akan dipajang, Lalu Tante Mila menelpon pembantunya, dan memberitahu, bahwa nanti akan ada yang mengantar dan memasang lukisan ke rumah
Sehabis itu, mereka masih berkeliling-keliling, kaki pun mulai terasa pegal, Mereka pun duduk sambil ngobrol ringan
Tante Mila menanyakan dimana Angga tinggal, kegiatannya apa dan sebagainya, seolah-olah interviu calon pekerja
Dirasa sudah cukup istirahatnya, Mereka pun berjalan keluar, Lalu Angga mengajak mereka untuk Makan siang, gara merasa tidak enak, Ratih dan Tante Mila pun akhirnya setuju, mereka mampir kesebuah Resto Japanesse.
sambil makan, obrolan mereka pun semakin terlihat akrab, dan Tante Mila merasa nyaman dengan Angga, bahkan lebih nyaman jika dibading Farhan saat datang ngapel ke rumah.
setelah dirasa Cukup, sudah saatnya untuk pulang, Tante Mila ingin melihat Lukisan yang akan terpasang di ruang tamu-nya, lalu Ratih tiba-tiba mengeluarkan HandPhone-nya, dan berniat memesan Grab-Car, Ratih memang sedikit malas untuk menyetir sendiri.
Angga yang memerhatikan itu, tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Mereka, Ratih merasa tidak enak akan hal itu, mengingat tadi, Angga sudah keluar cukup lumayan Uang untuk Lukisan, dan bayaran Makan mereka bersama, sekarang ditambah Angga menawarkan diri untuk mengantarkan mereka pulang.
Dalam hati Ratih, diterima ga enak, apalagi kalau ditolak.
tiba-tiba Ibu Mila malah setuju untuk diantarkan Angga, dan meminta Angga sekalian mampir nanti, untuk melihat lukisan tersebut.
Angga pus dalam hati sangat senang
Mereka pun meluncur ke rumah Ratih, yang berada di kawasan Permata Hijau
Angga baru tau, ternyata Ratih tinggal di kawasan sini, Sesampainya di tempat yang di tuju, mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu Tante Mila memanggil Bi "Ijah" untuk membuatkan minuman.
Tante Mila dan Angga pun berjalan mendekat melihat lukisan yang sudah terpasang tersebut,
Gimana Nak Angga, bagus kan?
iya Tante, jawab Angga
ayo, itu silahkan diminum teh-nya
iya Tante, makasih
Ratih yang tadi pergi ke kamar berganti pakaian, segera kembali ke ruang tamu, mereka ber tiga pun kembali ngobrol banyak hal, disini terlihat, bahwa Tante Mila senang akan sosok Angga.
hampir 1 jam berlalu, Angga pun pamit untuk pulang.
Sebuah Pertemuan yang tidak disenganja, dalam hati Angga.