Bab 2

Hidup Attaya yang menjadi tawanan Tuan Mudanya berawal dari sini .....

Dunia Attaya seakan runtuh, mendengar kata-kata Dokter bahwa penyakit yang diderita Bapaknya adalah penyakit mematikan dan hanya memiliki kemungkinan sembuh kalau dioperasi.

“Mungkin Bapak Riswan bisa bertahan paling lama tiga bulan, tapi jika dioperasi minggu ini, kemungkinan bisa sembuh dan beliau bisa bertahan jauh lebih lama untuk hidup.”

Attaya tak bisa menahan buliran air mata yang jatuh. Suster yang merupakan asisten Dokter di ruangan itu lekas memberikan tissue padanya untuk mengusap jejak tak beraturan di pipi.

Sekeras apa pun untuk bersabar, tetap saja hati Attaya sakit melihat satu-satunya orang tua yang masih hidup, nyawanya tengah terancam.

"Dari mana aku akan mendapatkan uang untuk operasi? Untuk biaya berobat selama ini saja, aku harus bekerja di keluarga tempat Bapak dulu bekerja dan itu pun tak cukup sampai aku harus berhutang ke teman dan pada kenalan Bapak dengan memanfaatkan kebaikan Bapak dulu pada mereka." Wanita ayu itu hanya membantin dalam hati.

“Nanti perawat akan memberikan rincian biaya untuk operasi. Jika Ibu berkenan, silakan hubungi saya kembali. Untuk sementara, biarkan Bapak Riswan menjalani rawat inap sampai rasa sakitnya sedikit berkurang.” Dokter kembali menjelaskan.

Attaya mengangguk setuju, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Dokter. Pikirannya makin tak menentu, sampai langkah itu berada di depan pintu kamar Bapak yang kini berbaring lemah tak berdaya di kamar pasien.

Attaya membeku. Menatap sosok lain yang mengalihkan perhatian. Tuan Leon. Majikan Bapak dan sekarang adalah majikannya juga, sedang duduk di depan dipan. Pria itu terlihat mengobrol dengan Bapak Attaya, sampai akhirnya melihat ke arah gadis itu saat ia datang.

Untuk sejenak, Attaya pikir wajar jika dia datang menjenguk salah satu pekerjanya yang sakit. Namun, setelah memikirkan lebih dalam, rasa-rasanya aneh, Tuan Leon yang dikenal sangat sibuk menyempatkan menjenguk orang rendahan dan tak berharga seperti mereka. Jika untuk mengantar uang atau barang bisa saja dia menyuruh orang lain.

Atau ... karena Attaya terlalu lama meninggalkan rumah majikan? Sejak dua minggu lalu, Attaya memang mendapat teguran keras dan hukuman berat karena mengajak sebagian pelayan di rumah besarnya mangkir dari tugas, karena mengajak mereka berkumpul di saung melakukan ibadah sholat magrib dan aktivitas lain setelahnya. Dia pikir, itu adalah cara Attaya berdakwah di tempat tertutup seperti istana milik keluarga Tuan Leon.

Pria tampan itu melemparkan sebuah senyum pada Attaya. Akan tetapi kenapa senyumnya membuat bulu kuduk gadis itu merinding. Senyumnya terkesan misterius dan aneh. Dia seperti memiliki maksud jahat pada Attaya dan Bapaknya.

Yah ... Attaya pikir dia pasti sangat marah karena dia tak kunjung kembali, dan bersiap memberi hukuman baru pada Attaya. Dengan ragu, kaki gadis yang mengenakan pakaian syar'i itu melangkah masuk mendekat.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Masuklah, Nduk.” Suara parau Bapak terdengar dipaksakan. “Tuan Leon di sini ingin membantu kita.” Pria tua itu tersenyum. Dari ekspresi wajahnya, Attaya bisa tahu kalau Bapak sangat menghormati tuan muda Leon.

Ya, bagaimana tidak. Selama ini Bapak nayris menghabiskan sisa hidupnya bekerja sebagai tukang kebun di keluarga itu. Bahkan semua bermula sejak Attaya duduk di sekolah menengah.

“Hem?” Mata gadis itu melebar. Diangkat kedua alisnya lantaran terkejut dengan pernyataan Bapak.

“Membantu?” gumamnya. Kenapa kata membantu yang meluncur dari mulut tua Bapak? Bukan malah menjenguk atau datang karena ingin tahu kondisi beliau. Apa ada pembicaraan serius yang Attaya tak tahu?

Dan benar saja, pria yang memakai kemeja dibalut jas sebagai pakaian kerjanya itu bangkit dari duduknya dan mendekat padanya sebelum langkahnya mencapai sisi ranjang lain dekat Bapak.

“Kita harus bicara,” ucap Tuan Leon pelan. Pria itu pun ke luar lebih dulu, dan Attaya mengikutinya dari belakang. Tampaknya memang ada hal serius terjadi sampai pria tampan itu tak mengajak bicara di depan Bapak saja.

Di koridor yang cukup lengang, ada satu kursi sebagai tempat tunggu keluarga pasien. Di sana lah mereka bicara dengan duduk bersebelahan dan berjarak dua bangku kosong di antara keduanya. Yah, ini adalah salah satu upaya Attaya menjaga jarak dengan pria ajnabi. Meski dia adalah bosnya, tetap saja mereka adalah pria wanita yang harus menjaga interaksi.

Kalau saja sedang tak membahas hal darurat dan penting, atau Attaya tak membutuhkan uang serta ada pekerjaan lain yang lebih baik, tentu saja dia akan menjauhi Tuan Leon yang beberapa waktu terakhir memiliki pandangan ketertarikan padaku.

“Aku sudah mendengar semua tentang Pak Riswan.” Suara Tuan Leon memecah kesunyian. “Menikahlah, aku akan membayar semua biaya Bapak kamu sampai dia benar-benar sembuh seperti sedia kala.”

Bagai disambar petir, Attaya sontak menoleh pada pria yang duduk di sampingnya itu.

“Ap- apa?” Mata Attaya membola.

Menikah dengannya? Tidak mungkin! Attaya juga punya impian dan lelaki yang dia cintai. Jika menikah dengannya bagaimana hubungan mereka?

'Aku sudah berjanji padanya untuk menunggu sampai dia menyelesaikan studinya di luar negeri.' Attaya kembali membatin dalam hati.

____________________

Bab 3

“Ap- apa?” Mata gadis itu membola.

Menikah dengan Leon? Tidak mungkin! Attaya juga punya impian dan lelaki yang Attaya cintai. Jika menikah dengannya bagaimana hubungan mereka? Attaya sudah berjanji padanya untuk menunggu sampai dia menyelesaikan studinya di luar negeri.

Yah, yang Attaya pikirkan sekarang bukan hanya nasib Bapaknya di atas pesakitan, tapi juga sakit hati pria yang dia cintai. Pria yang berjanji akan menikahinya dan dia berjanji akan menunggu. Tapi melihat kondisi Bapak, mana Attaua tega mementingkan kebahagiaannya sendiri di atas hidup sang Bapak.

‘Aku harus bagaimana, Mas? Kenapa kamu tak bisa dihubungi dan tak memberi kabar?’

“Attaya.” Suara berat dan pelan Tuan Leon terdengar. Membuyarkan pikiran Attaya yang terbang pada kekasih rahasianya. Lagi dan lagi.

Attaya sudah sangat merindukan pria itu. Namun, kabarnya seperti ditelan bumi.

“Kamu perlu waktu untuk mempertimbangkannya?” tanya pria bertubuh tinggi tegap itu. Ia seperti tak ingin membuang waktu.

Padahal, Attaya yang terdesak di sini, dan tak ingin kehilangan waktu untuk kesembuhan Bapak. Attaya tak mau kehilangan beliau jika tidak segera dioperasi.

“Tidak!” Attaya menggeleng cepat.

Untuk sesaat rasa bersalah pada kekasihnya hadir, akan tetapi memikirkannya yang tak memberi Attaya kabar sejak lama, membuatnya sadar, bahwa Bapak adalah prioritas.

'Ah, bukankah lebih baik begini. Jika hubungan kami baik-baik saja, aku akan menjadi egois dan memikirkan kebahagiaanku sendiri untuk memilihnya, bukannya Bapak yang selama ini merawat dan membesarkanku.'

Saat menoleh, Attaya melihat wajah tampan Tuan Leon. Pria itu tersenyum tipis. Hanya saja Attaya bisa melihat senyum kesombongan karena keinginan dan tawarannya diterima.

'Ya Tuhan, ia memiliki ekspresi mencurigakan, Apa iya aku harus berjodoh dengan pria sepertinya. Pria dingin yang tak kutahu sama sekali pribadinya seperti apa selain seseorang yang ulet bekerja dan suka menghukum pegawainya.'

'Ish, kalau ingat bagaimana dia menghukumku karena mengajak pelayan lain beribadah, rasanya kesal sekali. Apalagi niatku adalah kebaikan. Jika nanti menikah dengannya, apa aku bisa membalasnya?'

Attaya terus bicara dalam hati mempertimbangkan.

"Ya, Tuan. Maksudku aku tak punya pilihan."

“Bagus, aku akan menyiapkan kontraknya.” Tuan Leon bangkit dari duduknya.

“Tunggu.” Attaya pun bangkit. Ingin memperjelas semua. Apa yang diinginkan pria itu dengan pernikahan mereka. Attaya yakin semua tak akan selesai begitu saja setelah akad nikah terjadi.

Attaya juga tahu bahwa Tuan Leon sangat sibuk, tapi ini penting. Karena ini menyangkut masa depannya dan semua yang telah dilalui selama sisa hidupnya nanti saat menjadi istri Leon. Maka setidaknya dia harus menyisihkan waktunya sebentar.

“Ya?” Pria itu menghadap Attaya kembali, hingga mereka bisa saling memandang satu dengan yang lain.

“Apa yang akan Tuan lakukan jika keluarga Tuan tidak setuju dengan pernikahan kita? Lihatlah! Saya hanya seorang anak tukang kebun yang miskin. Saya tahu, mereka pasti menentang ....” Ucapan Attaya menggantung.

Kata-kata itu sungguh dejavu buat Attaya. Kata-kata yang dulu pernah diucapkan di depan kekasihnya, sejak tahu dia berasal dari keluarga kaya raya. Ya, Attaya tahu sejak ia berpamitan akan sekolah di luar negeri. Mana ada orang miskin yang sekolah di luar negeri dan memboyong seluruh keluarganya tinggal di sana?

Kekasihnya dulu meyakinkan Attaya, bahwa dia mencintainya dan akan memperjuangkannya di depan keluarga besarnya. Sampai akhirnya waktu membuat Attaya kehilangan kepercayaan diri.

Jarak membuat hubungan mereka tak sehangat dulu. Kekasihnya pasti berpikir ribuan kali menikah dengannya, karena keluarganya tak setuju. Dan sekarang dia pasti sedang berusaha menjauhi Attaya juga, itu kenapa dia tak pernah lagi menghubungi dan tak bisa dihubungi.

“Heh.” Tuan Leon menaikkan satu sudut bibirnya lagi. Tersenyum miring menanggapi ocehan Attaya. Yah, jelas sekali ekspresi meremehkan di wajahnya.

Mata Attaya menyipit. Sudah ia duga, selain dingin Tuan Leon juga lelaki yang arogan.

“Kamu pintar juga. Tak salah aku memilihmu.” Pria itu bicara memuji tapi juga merendahkan Attaya di waktu yang sama.

Tuan Leon mengembus napas panjang, sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan yang membuat Attaya membelalakkan mata.

“Kamu hanya cukup menikah denganku dan menyembunyikannya dari semua orang, terutama keluargaku.”

“Ap-apa?” tanya Attaya terkejut.

“Kenapa? Kamu pikir, setelah menikah denganku kamu akan menjadi ratu di keluarga Bimantara? Itu yang kamu inginkan? Ah, bahkan semua gadis menginginkan hal itu,” ucapnya pongah.

Attaya hanya meremas rok panjang yang dikenakan. Menahan dan melampiaskan rasa kesal mendengar ucapannya yang merendahkannya sebagai kaum perempuan.

“Dasar laki-laki tak tahu diri! Terlalu percaya diri. Kalau bukan karena Bapak aku akan balik memakimu!” Ingin sekali Attaya katakan itu.

Namun, lagi-lagi demi Bapak ... Attaya harus menahan diri dan bersabar. Yah, menahan diri untuk egois berlari pada kekasihnya dan meredam amarahnya dalam-dalam pada Tuan Leo. Sekali lagi, Attaya tak punya pilihan.

Next

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED