Permana heran, kenapa orang sebaik Ki Sasmaya di masa mudanya memiliki sejarah hitam yang sangat hitam? Memang, Permana sendiri memiliki sejarah hitam di masa lalu. Tapi menurut pengakuan Ki Sasmaya, yang dilakukan Ki Sasmaya di masa muda lebih brutal dan ugal-ugalan dibandingkan Permana. Kalau Permana di masa muda melakukan kejahatan akibat salah didik dari Ki Padaswaja, tapi kalau Ki Sasmaya dulu melakukan aneka tindak kejahatan karena dorongan dari nafsunya sendiri. Dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri, bukan karena pengaruh orang lain.
Nyatanya demikian.
Maka akibat yang diderita oleh Ki Sasmaya lebih buruk dibandingkan yang dialami Permana sekarang ini. Hanya saja, Ki Sasmaya tidak merasa sedih atau menyesal. Karena hal itu tidak ada gunanya sama sekali. Ki Sasmaya menjalani hal itu secara tabah. Sedih dan penyesalan sekarang ini tidak ada guna lagi. Hanya akan menambah beban kesedihan baginya.
Ki Sasmaya sudah mengetahui akibat buruk yang mesti dia alami akibat perbuatannya di masa muda dulu. Jadi sewaktu menelan ramuan maut tersebut di masa muda dulu, akibatnya sudah dia ketahui.
Namun lain persoalannya bagi Permana. Sebagai darma bakti dan balas budi kepada gurunya, Permana ingin menemukan suatu ramuan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit gurunya. Kini dia telah memiliki resep ramuan tersebut justru dari ayahnya. Tinggal nanti membuat dan memberikan ramuan tersebut kepada Ki Sasmaya bila bertemu. Itu kalau ada kesempatan untuk bertemu. Karena sekarang ini bahaya telah mengincarnya!
Dua orang pendekar muda berpakaian gelap berdiri mengangkang di sebelah kiri Permana. Kedua pendekar itu datang dari arah selatan tadi. Keduanya berwajah tampan. Yang satu berkumis tebal, yang satu berwajah bersih. Di pinggang mereka tersampir golok bergagang baja berbentuk kepala harimau.
Permana merasa terkejut atas kedatangan dua pendekar itu. Dua pendekar yang sama-sama berwajah dingin. Kurang bersahabat. Permana mencium gelagat kurang baik setelah kedatangan dua pendekar itu.
Buru-buru Permana berdiri dan menjura sebagai tanda penghormatan atas kedatangan mereka seraya bertanya, “Ada apa kisanak?”
“Aku ingin bertanya padamu,” kata yang berkumis tebal kepada Permana.
“Tentang apa?”
“Tentang jalan yang menuju Gunung Lawu,” sahut yang satunya.
“Maaf ya, aku sendiri belum begitu hafal dengan jalan di sekitar sini,” jawab Permana terus terang. “Aku baru pertama kali melewati daerah ini.”
“Bohong. Tidak mungkin kau baru sekali lewat jalan ini. Dari caramu bicara, kau orang sini. Pasti sudah tahu jalan-jalan dan wilayah sekitar sini!” bentak yang berkumis dengan nada keras. “Atau kau menunggu Sepasang Macan Baja dari Timur marah, hah?”
Sepasang Macan Baja dari Timur…, begitu Permana berkata dalam hati. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Oh ya, Ki Sasmaya pernah bercerita sedikit tentang sepasang pendekar yang memiliki kehebatan luar biasa dalam ilmu silat itu. Ki Sasmaya pernah berpesan padaku, kalau bertemu mereka sebaiknya jangan sampai mencari perkara. Karena sepasang pendekar itu angin-anginan. Mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah bertindak tanpa kendali diri. Maka aku harus berhati-hati menghadapi mereka. Kalau sampai aku mereka pecundangi, maka perjalananku ke Dukuh Telokan bisa gagal!
“Maaf kisanak, kalau aku tahu jalan ke Gunung Lawu, untuk apa aku menutup-nutupi? Pasti aku akan mengatakannya padamu,” kata Permana dengan nada dibuat sehalus mungkin supaya kedua pendekar muda itu meleleh hatinya.
“Brengsek!” kata yang berkumis. “Kau belum tahu siapa Tibas dan Kalis ini? Kau ingin tahu bahwa kalau kami marah maka siapa saja yang jadi sasaran kemarahan kami akan tumpas?”
Tibas yang berkumis, dan Kalis yang berwajah bersih, mulai mengancam. Permana sudah bisa menduga sejak semula. Namun dia tetap bersikap tenang. Jadi mereka bernama Tibas dan Kalis. Sederhana nama mereka, tapi kebrutalan mereka sudah terkenal di dunia persilatan. Permana pernah bercerita padaku bahwa untuk mencapai tujuannya, yakni mencuri pusaka dari guru mereka, Tibas dan Kalis tega menghabisi sang guru dan membantai ratusan teman-teman seperguruan! Maka bila mereka mengancam akan menumpasku, kurasa merupakan hal yang wajar. Jangankan hanya satu, ratusan saja mereka lenyapkan! Berarti mereka adalah pendekar dari golongan hitam yang harus kutumpas dari muka bumi. Sesuai dengan pesan secara turun-temurun dari Ki Angeb maka aku harus menumpasnya…! Segala angkara murka di muka bumi memang harus kutumpas. Kalau aku sebagai pewaris Pedang Biru tidak bisa melaksanakan pesan mendiang Ki Angeb yang merupakan pemilik pertama pedang ini, aku merasa sangat berdosa.
“Kisanak berdua sebaiknya bertanya saja kepada yang lain bila menginginkan kejelasan!” saran Permana. “Sebab tidak ada gunanya bertanya kepada yang tidak tahu. Mengharapkan sinar matahari di waktu malam merupakan perbuatan yang sia-sia.”
“Jangan menggurui kami!” bentak Tibas. “Kami sudah kenyang digurui selama ini. Kami sudah kenyang dicekoki ini-itu!”
“Aku tidak menggurui, kisanak. Tapi berkata apa adanya.”
“Hei, kau ini tidak menjawab pertanyaanku tentang jalan ke Gunung Lawu malah mengajak berdebat!”
“Aku tidak mmengajak berdebat, tetapi berkata apa adanya. Masa berkata apa adanya saja tidak boleh! Masa berkata tentang kebenaran saja dilarang!”
“Brengsek! Rupanya orang ini harus kita hajar supaya mau berterus terang tentang jalan menuju Gunung Lawu!” kata Tibas sambil menoleh kepada Kalis.
Satu kedipan mata dari Tibas sudah ditangkap Kalis. Keduanya segera melesat ke udara untuk menyerang Permana.
Permana meladeni serangan kedua pendekar yang memadukan berbagai jurus untuk menghabisi lawan. Sebagai seorang pendekar muda, Permana belum menangkap jusrus apa yang dimainkan kedua lawannya. Namun dari berbagai gerakan mereka, Permana menangkap bahwa merek menggunakan jurus-jurus binatang. Jurus-jurus yang menggunakan berbagi gerak binatang hutan.
Sudah lebih dari lima jurus berlalu tapi mereka belum berhasil membobol pertahanan Permana. Pendekar Pedang Biru itu hanya menghindar. Sesekali menangkis bila merasa terdesak. Kalau tidak menangkis, dirinya yang akan jadi sasaran empuk lawan. Pada saat menangkis itu Permana tahu bahwa kedua lawannya memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Sewaktu mereka melenting di udara, Permana menyadari bahwa lawan memiliki ilmu ringankan tubuh yang hebat. Dengan demikian Permana tidak berani main-main dengan mereka.
Menjelang jurus ke tujuh, Tibas melenting di udara tinggi-tinggi. Lalu melesat turun dengan tangan kanan siap mencakar wajah lawan. Pada saat yang bersamaan, Kalis melesat dari arah depan dengan gerakan serupa. Tangan kanan siap mencakar leher Permana! Serangan yang datang secara bersamaan itu membuat Permana menyadari bahwa bahaya datang mengancam. Dia mendadak ingat pesan Ki Sasmaya. Dia segera bergerak cepat.
Permana melenting tinggi ke udara, bersalto beberapa kali dan melesat pergi ke arah barat! Menghindari Sepasang Macan Baja dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan Ki Sasmaya kepadanya….
Sementara cerita beralih ke sebuah tempat nun jauh di sebelah barat sana. Tepatnya di Kadipaten Driyah. Adipati Brajaseta tampak sedang bersedih hatinya. Dia duduk sendirian di taman kadipaten. Seorang pemuda yang wajahnya menawan mendatanginya. Setelah memberikan hormat kepada ayahandanya, pemuda itu segera duduk di sebuah kursi di depan sang adipati.
***
“Sudah lebih dari satu minggu kakakmu hilang, kenapa belum ada kabar beritanya?” tanya Brajaseta kepada anaknya, Pangeran Anggoro. “Aku cemas kalau sampai terjadi apa-apa terhadap kakandamu itu, Anggoro. Aku khawatir kalau sampai terjadi petaka terhadap Retnoyoni.”
“Ayahanda…, menurut kabar angin yang ananda dengar, kakanda Retnoyoni diculik oleh gerombolan Musto Ireng yang tinggal di lereng Gunung Lawu,” kata Anggoro dengan nada rendah. “Sayangnya, kabar itu belum pasti kebenarannya. Jadi ananda hanya bisa menduga-duga benar atau tidak kabar itu.”
“Menurutmu, kabar itu benar atau tidak, Anggoro?”
“Maaf, ananda belum bisa memastikan benar atau tidaknya sebuah kabar sebelum bisa tahu buktinya. Yang jelas, kakanda hilang sewaktu berburu di Hutan Titir.”
“Hutan Titir…, eh, aku tiba-tiba ingat tentang Bendu.”
“Bendu…? Sia dia?”
“Bendu adalah seorang penjahat kakap di masa mudanya. Dia dulu pernah dijuluki si pencuri ulung sehingga menggegerkan Kerajaan Pulungwarih. Tapi itu dulu. Sekarang Bendu sudah sadar dan tidak berbuat kejahatan semacam itu. Dia tinggal di dalam Hutan Titir.”
“Tapi walaupun dia tinggal di dalam hutan itu bukan dijadikan pijakan bahwa Bendu yang menculik kakanda Retnoyoni. Benar begitu, kan ayahanda?”
“Benar, Anggoro. Itu bukan menjamin bahwa yang menculik kakandamu adalah Bendu. Sebab dalam hal keliahaian silat, kakakmu tidak kalah dibandingkan Bendu. Aku tahu itu. Walaupun mungkin Bendu sudah mengembangkan jurus-jurus dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Permana Brata, tapi penguasaannya pasti tidak sehebat Permana. Sehingga aku sangsi kalau Bendu mampu menundukkan Retnoyoni dan menculiknya.”
Yang dikatakan Brajaseta benar.
Nyatanya demikian.
Retnoyoni, anak tertua Adipati Brajaseta memiiki ilmu silat yang tinggi. Memiliki senjata sakti. Sebilah pedang tipis bergagang emas. Gagang pedang itu berbentuk kepala angsa. Pada saat berburu, Retnoyoni tidak membawa senjata saktinya, Pedang Angsa Jingga. Baik Brajaseta dan Anggoro, serta para punggawa Kadipaten merasa keheranan. Kenapa Retnoyoni waktu itu tidak membawa pedangnya?
Padahal biasanya kemana saja dia pergi selalu membawa pedangnya. Hanya saja, waktu berburu itu, Retnoyoni tidak membawa pedang saktinya. Bahkan hanya dua prajurit kerajaan yang dia perkenankan ikut.
“Kenapa kakakmu waktu itu tidak membawa pedangnya?” tanya Brajaseta.
“Entahlah, ayahanda,” jawab Anggoro. “Yang jelas, pagi itu kakanda kelihatan sangat tergesa-gesa. Sepuluh prajurit pengawal yang sudah siap, tidak diperkenankan ikut. Hanya dua orang yang diperkenankan ikut. Itu pun hanya sembarang comot, tidak dipilih yang terbaik.”
“Dan dua prajurit itu pun sekarang juga tidak terdengar kabar beritanya.”
“Kemungkinan kedua prajurit itu sudah tewas ketika membela putrinya. Mereka pasti rela mati demi keselamatan kakanda Retnoyoni.”
“Tapi kenapa mayat mereka tidak ditemukan? Padahal kita sudah mengerahkan ratusan prajurit untuk menyisir dan menyusur seluruh areal Hutan Titir?”
“Entahlah, Ayahanda. Mungkin mereka kurang jeli, atau bisa juga mayat dua prajurit kita itu telah dikubur oleh para penculik yang telah membunuhnya. Atau…, bisa saja terjadi hal-hal lain yang sulit diduga.”
Ketika Brajaseta dan Anggoro sedang berbincang-bincang, Bergala datang. Senapati Utama Kadipaten Driyah itu segera memberi sembah hormat kepada adipatinya sebelum memberikan laporannya.
"Ada apa, Bergala?" tanya Brajaseta.
"Sebelumnya minta maaf, Kanjeng Adipati," kata Bergala. "Hamba ingin melaporkan tentang hasil pelacakan hamba ke Hutan Titir."
"Apa hasil pelacakanmu?"
"Baru saja hamba menemukan mayat dua prajurit yang menyertai Putri Retnoyoni. Itu artinya, mereka dibunuh oleh orang yang kemungkinan besar menculik Putri Retnoyoni."
"Kurang ajar! Berarti putriku ada kemungkinan diculik oleh seseorang?"
"Benar, Kanjeng Adipati. Ada seorang prajurit telik sandi yang menyatakan bahwa ada tanda-tanda kalau Putri Retnoyoni diculik gerombolan Musto Ireng. Beberapa tanda telah ditemukan para prajurit rahasia itu. Maka dari itu, hamba mohon diberi tugas untuk melakukan pelacakan secara langsung ke lereng Gunung Lawu."
"Baiklah, sekarang juga kau berangkat! Bawalah prajurit seperlunya dulu agar perjalananmu tidak dicurigai mereka! Ingat, gerombolan Musto Ireng sangat ganas dan berbahaya! Kalian harus hati-hati! Bila terbukti putriku ada di sana, langsung saja kau suruh salah satu prajuritmu kemari. Nanti akan kukirim prajurit dalam jumlah besar untuk menumpas mereka!"
"Daulat, Kanjeng Adipati. Sekarang juga hamba berangkat."
"Ya, doa dan restuku menyertai kalian! Harga diri Kadipaten Driyah ada di tanganmu, Bergala. Jaga harga diri dan kehormatan Kadipaten ini!"
Bergala segera berangkat. Dia bawa sepuluh prajurit pilihan dari Kadipaten Driyah. Kepergian Bergala disertai harapan besar dari Adipati Brajaseta, Anggoro, dan seluruh rakyat Kadipaten Driyah.
Malam harinya Adipati Brajaseta sulit tidur. Adipati yang bijaksana dan sangat memperhatikan nasib rakyatnya itu merasa sangat sedih. Kalau sampai putrinya tidak ketemu, maka perasaannya akan semakin sedih. Retnoyoni merupakan putri sulung dari dua anaknya. Bila Retnoyoni mau, kelak bisa mewarisi tahta Kadipaten Driyah. Tetapu kalau tidak bersedia, Anggoro yang akan mewarisi. Terlepas dari soal tahta itu, Brajaseta sangat merasa kehilangan bila sampai Retnoyoni tidak ketemu. Apalagi kalau sampai putri sulungnya itu hilang untuk selamanya akibat kebiadaban si penculiknya. Bila sampai itu terjadi, dirinya sudah tidak akan mampu lagi menahan beban batin yang menderanya.
Sementara cerita beralih ke tempat lain, beberapa hari kemudian.
Lereng Gunung Lawu di pagi hari. Ada kabut tipis yang menyelimuti lereng itu. Ada beberapa orang berlalu lalang di depan sebuah rumah yang terbuat dari rangkaian kayu hutan dan atapnya dari anyaman daun-daunan. Dindingnya dari anyaman bambu yang kuat. Beberapa orang yang berlalu lalang di depan rumah berukuran besar itu bertampang sangar-sangar. Seram-seram. Orang yang pertama kali melihat mereka pasti akan menduga bahwa mereka adalah anggota sebuah gerombolan manusia jahat.
Nyatanya demikian.
Mereka memang anak buah Musto Ireng. Mereka anggota sebuah gerombolan manusia yang mempunyai keinginan kuat untuk membuat perubahan besar-besar di dunia persilatan. Musto Ireng dan seluruh anggota gerombolannya mempunyai keinginan kuat untuk mendirikan sebuah kerajaan tanpa harus menjadi anak raja. Selama ini memang berlaku sebuah peraturan yang sudah turun-temurun bahwa seseorang menjadi raja karena faktor kerukunan. Kalau bukan anak seorang raja, tidak mungkin akan menjadi raja. Begitu pula kalau bukan anak seorang adipati, tidak mungkin akan menjadi adipati.
Musto Ireng ingin mengubah semua ini. Dia yang hanya anak seorang perampok tidak mungkin akan kesampaian keinginannya. Maka dia yang sejak kecil sangat tergila-gila ingin menjadi raja akan menempuh cara apa saja untuk mencapai keinginannya. Keinginan yang sebenarnya tidak mungkin akan tercapai. Ibaratnya si cebol rindukan bulan. Jangankan orang yang cebol, pendek tubuhnya. Yang jangkung pun tidak akan mampu meraih bulan dalam genggamannya.
Kabut di lereng Gunung Lawu belum tersibak ketika ada sekelebatan bayangan manusia cebol. Manusia yang tubuhnya pendek. Dia bukan manusia cebol sembarang cebol, manusia cebol yang punya ilmu silat lumayan. Bahkan dia menguasai sebagian jurus-jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi.
***