Bab 2

Cepat pendekar Pedang Biru itu pasang kuda-kuda. Dia menyadari bahwa orang yang melesatkan panah pendek itu berilmu tinggi dalam menggunakan senjata panah. Juga memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Terbukti, panah yang panjangnya cuma serentangan ibu jari dan kelingking itu bisa menumbangkan pohon besar yang kokoh!

Kalau orang ini punya niat jahat, aku pasti sudah mati sekarang. Kata Permana dalam hati. Karena bidikannya tepat, kecepatan lemparnya sulit dilihat, dan kekuatan tenaga lemparnya sangat kuat. Sungguh hebat si pelempar panah ini. Tapi siapa dia? Apa tujuannya dengan melemparkan anak panah tersebut? Untuk tujuan baik atau jahat? Dia sampai saat ini kelihatannya tidak bermaksud jahat padaku. Kalau niatnya jahat, misalnya ingin membunuhku, maka dia tinggal mengarahkan anak panah itu di leher atau jantungku, maka matilah aku dalam sekejap. Tapi kenapa dia tidak membunuhku? Atau barangkali cuma belum saja? Siapa tahu dia ingin membunuhku secara ksatria. Berhadapan dan bertarung secara jantan layaknya seorang ksatria di medan laga!

“Kuharap kisanak menampakkan diri bila tidak keberatan…!” kata Permana sopan. “Aku ingin mengenal kisanak lebih dekat lagi….”

“Hehehe…, aku pun juga ingin menampakkan diri kok,” sahut sebuah suara lirih. “Asalkan tidak ada sinar matahari yang menerpa wajahku….”

Lalu turunlah sebuah bayangan manusia yang pakaiannya menutup rapat badan, kaki, dan tangannya. Pakaian yang dia kenakan berwarna coklat tua. Wajahnya kurang jelas terlihat karena terlindungi bayangan caping lebar yang menutup kepalanya. Caping, penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu itu melindungi kepala dan tubuhnya dari sengatan terik matahari.

Permana terpana melihat sosok pendekar tinggi langsing yang berdiri di depannya. Seluruh tangan sampai jari-jarinya terbungkus kain. Bahkan sampai ujung jari-jari kakinya juga demikian. Benar-benar terbungkus rapat. Tak ada pori-pori kulitnya, kecuali kulit wajah, yang bisa ditembus sinar matahari. Semua rapat, tak mungkin bisa tersentuh oleh sinar mentari.

Keterpanaan Permana disebabkan rasa kaget dan tak menduga bertemu sosok pendekar yang kini berdiri di depannya. Wajahnya tampan, tapi tidak tampak seluruhnya karena sering menunduk. Hanya bagian mata ke bawah yang tampak, itu pun dalam bayangan buram karena terlindung caping lebarnya yang juga berwarna coklat tua. Dia mengira bahwa cerita dari Ki Sasmaya –guru Permana—hanyalah dongengan belaka. Tapi ternyata ada.

Nyatanya demikian.

Sosok pendekar yang berdiri di depannya itu, menurut cerita Ki Sasmaya, bernama Gupita. Punya julukan Si Anti Matahari. Itu terlihat dari penampilan fisik yang telah digambarkan tadi. Permana ingat, berdasarkan cerita Ki Sasmaya, Gupita ini berwatak aneh. Pendiam, tapi pada suatu saat bila bertemu dengan orang yang dia cocoki, akan ngoceh terus. Akan banyak berbicara, bahkan juga bercerita. Gupita juga sulit dikelompokkan. Dia itu termasuk dalam golongan pendekar beraliran putih ataukah golongan hitam? Karena dia bisa akrab dengan kedua macam golongan itu. Atau paling tidak, Gupita kenal para pendekar dari dua golongan yang selalu berserteru itu. Karena pusingnya dalam mengelompokkan, ada sebagian pendekar yang dengan kesal menjulukinya Pendekar Golongan Abu-abu!

“Wah…, ternyata banyak pendekar yang telah mendengar adanya Kitab Daun Putih. Terbukti, saudaraku yang bernama Permana Brata, si Pendekar Budiman Pedang Biru ini jauh-jauh datang kemari untuk mendapatkannya,” kata Gupita dengan suara tenang. Tapi mendalam. “Dugaanku ini benar kan?”

Kurang ajar! Ternyata dia tahu namaku. Kata hati Permana. Darimana dia tahu namaku? Padahal selama ini aku belum pernah kenalan dengannya. Bahkan bertemu saja baru sekarang. Apakah dia telah membuntutiku sejak dari Pulungwarih?

“Jangan merasa heran, Permana…!” kata Gupita seolah-olah tahu kata hati Permana. “Aku mengenalmu karena kau pendekar terkenal. Bahkan sangat terkenal di seantero jagat ini. Kau mudah dikenal karena Pedang Biru yang tersandang di punggungmu. Dan aku mengenalmu karena aku telah mengenal gurumu, Ki Sasmaya. Kalau kau datang ke hutan ini untuk memperebutkan Kitab Daun Putih, kurasa merupakan sesuatu yang wajar. Karena dalam kitab itu terdapat ribuan petunjuk untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Siapa tahu dengan menguasai kitab itu maka kau nantinya bisa menyembuhkan penyakit aneh yang diderita gurumu. Iya kan, hehehehe….”

“Maaf kisanak Gupita, aku tidak bermaksud begitu!” kata Permana jujur. “Jangankan ingin memiliki kitab yang kau katakan itu, mendengar namanya saja baru sekarang. Mana mungkin aku ingin memilikinya? Aku datang kemari dengan tujuan lain.”

“Jangan berbasa-basi, Permana! Aku tahu kok, kau berkata begitu supaya aku tidak menghalangimu dalam memperoleh kitab itu. Dengan berkata begitu, kau kira aku akan membiarkanmu lewat begitu saja? Tidak, Permana, tidak! Aku akan menghalangimu untuk mendapatkan kitab itu karena hanya aku yang paling pantas memiliki Kitab Daun Putih milik Ki Jungkung Kuning alias Ki Cemunduk itu.”

“Siapa ki Jungkung Kuning alias Ki Cemunduk itu?’

“Ah…, kamu ini kok pintar sekali berpura-pura, Permana? Itu pendekar yang badannya tinggi dan kulitnya kuning, sehingga orang menyebutnya ki Jungkung Kuning. Dia badannya sedikit kelihatan membungkuk, dan kalau menghormati orang lain memang suka membungkuk-bungkuk, maka ada pula yang menyebutnya Ki Cemunduk.”

Permana malah terlongong-longong bengong mendengar penjelasan Gupita. Dalam hati dirinya berterima kasih kepada pendekar aneh di depannya itu atas penjelasannya. Karena dirinya baru mendengar sekali ini tentang pendekar bernama Jungkung Kuning itu. Dia juga baru mendengar nama Cemunduk, yang merupakan nama lain atau alias dari nama Jungkung Kuning. Siapa sebenarnya pendekar yang bernama ki Jungkung Kuning itu? Yang jelas dia punya Kitab Daun Putih yang kelihatannya sekarang jadi rebutan para pendekar di dunia persilatan. Yang jelas lagi, ki Jungkung Kuning tinggal di hutan ini. Semoga dia kenal ayah. Bila aku berkesempatan bertemu dia, akan kutanyakan tentang keberadaan ayah kepada ki Jungkung Kuning. Siapa tahu dia kenal ayahku!

“Begini saja, Permana…, kau kembali ke Pulungwarih! Tinggalkan tempat ini! Soal Kitab Daun Putih, biar aku saja yang memperebutkannya dengan para pendekar dari berbagai golongan,” pinta gupita. “Nanti kalau sudah kudapatkan, aku yang akan menyembuhkan Ki Sasmaya berdasarkan kitab itu.”

“Tidak bisa, aku bukan bermaksud memiliki kitab itu. Kedatanganku kemari dengan tujuan lain, yang akan kurahasiakan terhadap siapa pun.”

“O…, jadi kau mau nekad meneruskan perjalananmu, Permana?”

“Ya.”

“Baiklah, kalau begitu kau harus berhadapan denganku. Hiaaat…!”

Gupita menyerang dengan tangan kosong. Dia cecar lawannya dengan pukulan-pukulan beruntun. Dipadu dengan beberapa tendangan yang cepat. Membuat Permana kerepotan juga. Dalam benaknya, pendekar muda itu mengakui bahwa lawannya tidak bisa dianggap enteng. Dia waspada menghadapi serangan lawan.

Beberapa kali Permana menangkis bila perlu. Tapi lebih banyak menghindar. Karena dirinya merasa tidak perlu melayani pendekar yang berwatak aneh itu. Gupita juga dia anggap salah paham atas kedatangannya ke dalam hutan ini. Maka dalam benaknya terlintas sebuah rencana.

***

Bab 3

Permana bersalto ke belakang satu kali ketika tendangan kaki kanan lawan mengarah dada. Lalu tubuh Permana dalam sekejap kembali berdiri tegar. Dalam sekejap pula dia berjongkok dan memukul telapak kaki kanan Gupita yang berada di atas kepalanya.

Tubuh Gupita terlontar ke belakang beberapa tombak. Punggungnya menghantam sebuah pohon besar. Pada saat tubuh Gupita terlontar ke belakang tadi, Permana menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Dia merasa tidak ada gunanya bertempur dengan lawan karena tidak jelas persoalannya. Hanya akan membuang tenaga percuma dan membuang waktu secara sia-sia…!

Gupita yang telah berhasil menapakkan kakinya di atas bumi, merasa gusar karena lawan meninggalkan arena pertarungan. Permana melesat cepat ke arah timur. Gupita tidak kehilangan akal untuk melumpuhkan lawan.

Dengan cepat dia cabut sebuah anak panah pendek. Ujung panah pendek yang gagangnya dari bambu petung, ujungnya berupa baja lincip berkilat-kilat tertempa sinar matahari. Anak panah itu dia simpan di balik dada, punggung, dan sebagian nyang lain di pinggangnya. Karena panah yang dia gunakan pendek, tidak begitu kelihatan.

Panah yang dia cabut dari balik dadanya tadi, dengan cepat dilemparkan ke arah Permana. Dia mengincar kaki Permana sedang terbang melompati semak belukar dan pepohonan yang rendah.

Zhuuut! Anak panah melesat dengan sangat cepat akibat dilempar dengan menggunakan tenaga dalam penuh. Dalam beberapa tombak lagi siap menancap pada salah satu kaki Permana.

Tiba-tiba Permana membalikkan tubuhnya. Tangan kanan mengembang, memukul jarak jauh dengan tenaga dalam pula ke arah panah yang dilemparkan Gupita.

“Jurus Enthik-enthik!” gumam Permana sambil menarik dua jarinya, ibu jari dan telunjuk untuk membentuk lingkaran. Sehingga tenaga dalam yang memancar dari telapak tangannya terkurangi.

Dhuar!

Tenaga dalam dari dua tenaga dalam beradu. Panah yang dilemparkan Gupita patah menjadi potongan-potongan kecil. Berjatuhan dan tersebar di semak belukar.

Gupita terbelalak kaget ketika menyadari bahwa lawannya sangat tangguh dan hebat jurus yang baru saja dia tunjukkan! Pandangannya beberapa saat terhalang oleh ledakan yang memijarkan bunga api serta asap. Bunga api timbul akibat benturan dua tenaga dalam serta bergesekan dengan ujung panah Gupita. Sedang asap timbul karena sebagian serpihan panah itu terbakar.

Sebagai seorang pendekar yang kenal dengan Ki Sasmaya, Gupita tahu bahwa yang digunakan oleh Permana tadi adalah Jurus Enthik-enthik. Lengkapnya, Jurus Enthik-enthik Tataran Dua. Dari pengakuan Ki Sasmaya padanya, Jurus Enthik-enthik merupakan satu dari jurus yang dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi. Jurus Enthik-enthik terdiri dari dua bagian berdasarkan syairnya. Gupita ingat sekali syair itu:

Enthik-emthik, patenana si penunggul!

Aja dhi, aja dhi, sedulur tuwa iku malati…!

Syair pada baris pertama dikembangkan menjadi Jurus Enthik-enthik Tataran Satu, sedangkan baris kedua dijabarkan menjadi Jurus Enthik-enthik Tataran Dua. Yang Tataran Dua lebih rendah dibandingkan Tataran Satu. Gupita membayangkan, kalau Tataran Dua saja hebatnya begitu, maka yang Tataran Satu pasti akan lebih hebat dan mematikan!

Nyatanya demikian.

Gupita mengakui kehebatan Permana, tapi tetap ingin mengejarnya. Namun sudah terlambat. Permana telah lenyap dari pandangan bersamaan lenyapnya asap yang mengepul di depan hidung Gupita!

“Brengsek! Licin juga dia!” gumam Gupita. “Tapi selicin-licinnya manusia, pasti akan kutemukan juga nanti, hiaaat…!”

Tubuh pendekar yang punya julukan Si Anti Matahari itu melesat ke timur. Tujuannya, menyusul Permana Brata….

***

Panibas telah tiba di bagian timur Hutan Lungid. Senapati dari Kerajaan Bumitaru itu mendapatkan perintah khusus dan langsung dari rajanya, Mingantaka. Kageswara, putra mahkota sedang sakit. Sekujur tubuhnya terdapat luka-luka yang sebelumnya didahului dengan gatal-gatal. Sang putra mahkota tidak keluar karena kondisi tubuhnya yang semakin lemah. Tiap hari hanya berada di dalam kamarnya. Atau kadang-kadang ke taman kerajaan. Itu pun jarang dia lakukan mengingat kondisi tubuhnya.

Mingantaka memerintahkan Panibas supaya meminjam Kitab Daun Putih milik Ki Jungkung Kuning. Mingantaka mengambil kebijaksanaan itu karena sudah banyak tabib dipanggil ke kerajaan, tapi tidak membawa hasil. Anaknya masih belum sembuh dari sakitnya. Dia pernah mendengar kabar bahwa Ki Jungkung Kuning memiliki kitab yang isinya tentang cara pengobatan berbagai macam penyakit. Dia berharap dari berbagai cara pengobatan itu ada satu cara untuk mengobati anaknya. Sebelum masuk Hutan Lungid, Ki Jungkung Kuning minta ijin terlebih dulu kepada Mingantaka. Waktu itu Kageswara belum sakit. Kalau waktu itu Kageswara sudah sakit, maka Mingantaka pasti akan minta tolong kepada Ki Jungkung. Tidak perlu bersusah payah memerintahkan Panibas untuk masuk Hutan Lungid. Tapi yang namanya manusia, mana mungkin dirinya tahu penyakit yang bakal diderita?

Panibas melajukan kudanya lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Senapati yang jago menggunakan senjata panah itu semakin cepat dalam melajukan kudanya ketika memasuki hutan. Busur dan anak panah dia sandang. Kedua jenis benda sebagai senjata andalannya itu tersampir di punggung. Bergerak-gerak seirama gerakan tubuhnya.

Ketika hendak melalui sebuah jalan setapak yang di kanan kirinya ada dua pohon besar, dua buah anak panah melesat cepat bersilang di depannya!

Jzeb! Jzeb!

Dua panah yang bersilang dari kanan dan kiri itu ternyata ada rantai bajanya. Dua panah itu pada pangkalnya disambung rantai kecil tapi terbuat dari baja. Panah yang melesat dari utara menancap di pohon yang terletak di sebelah selatan. Begitu pula sebaliknya. Kini di depan Panibas ada dua rantai baja yang menyilang di depannya. Satu sia menjerat leher, satunya lagi siap membutakan matanya!

Cepat-cepat Panibas melompat dari pelana kuda. Tubuhnya terbang ke udara. Tubuhnya nangkring di salah satu dahan. Sedangkan kudanya terus melesat. Melewati bawah dua rantai baja yang merintang di depannya. Kuda tersebut terus berlari memasuki hutan belantara tanpa mempedulikan tuannya!

Panibas sudah tahu sepasang pendekar yang menggunakan senjata macam itu. Panah berkait. Panah yang disambung dengan rantai baja. Mereka termasuk pendekar dari golongan hitam. Yang selalu membuat kerusakan di muka bumi. Yang sering menebarkan kejahatan di berbagai wilayah di jagat raya.

“Aku sudah tahu siapa kalian! Ayo keluar dan jangan ngumpet kayak mau kelonan saja! Kalau mau kelonan nanti malam, jangan pagi-pagi begini!” seru Panibas bernada mengejek.

Sepasang pendekar, suami-istri, keluar dari balik dua pohon besar. Di tangan masing-masing masih tergenggam panah berantai yang tadi digunakan untuk menghabisi Panibas. Kini mereka menyimpan panah berantai itu di pinggang masing-masing.

Dua pendekar itu, yang wanita berparas cantik. Sedangkan yang laki-laki termasuk ganteng. Mereka masih muda usianya. Sekitar tiga puluh tahunan lebih. Yang wanita bernama Dewi Taraksi, sedangkan yang laki-laki bernama Taragun. Taraksi dan Taragun di kalangan dunia persilatan mendapat julukan Sepasang Pendekar Panah Berantai. Kehebatan mereka dalam menggunakan senjata berupa panah berantai sungguh tiada bandingannya. Tidak heran kalau mereka ditakuti di dunia persilatan. Bukan hanya julukannya yang ditakuti, tapi juga kekejaman mereka dalam menghabisi lawan-lawannya! Mereka tidak mengenal belas kasihan sedikit pun terhadap lawan-lawannya, termasuk kepada lawan yang sudah tidak berdaya…!

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED