Bab 2

Kereta kuda terus melaju, melewati kota Bibury yang dipimpin oleh Marquess Adelmo Nielba dan akhirnya tak terasa akhirnya kereta kuda mendekati gerbang Ibukota kerajaan San Fulgen, San Estella.

"Jadi ini San Estella ?" kataku takjub.

Kota yang sangat cantik dan indah, bangunan yang sangat megah, jalanan yang sangat bersih. Tidak mengherankan jika ini merupakan Ibukota San Fulgen. Dari gerbang Ibukota bisa dilihat di tengah kota kalau ada kastil yang megah yang didominasi oleh warna putih yang indah, ya itu adalah kastil tempat Yang Mulia Ratu tinggal.

"Benar-benar kastil yang indah" kataku takjub.

"Hahaha benar kan ? tiap ku datang ke Ibukota, aku selalu takjub melihat kastil Yang Mulia Ratu, aku ingin sekali rasanya kesana tapi kelihatannya tak mungkin hahaha" tawa Paman Isaac.

"Setahuku hanya yang mendapatkan undangan khusus atau bangsawan-bangsawan yang mengatur negara ini yang boleh masuk ke kastil Yang Mulia Ratu" lanjutku.

"Benar itulah alasannya, makanya tadi ku bilang kalo ku tak mungkin bisa kesana karena kan aku bukan orang penting hahaha" lanjut Paman Isaac.

"Tidak usah bilang begitu Paman, siapa tau nanti bisa diundang kesana" lanjutku.

"Mana mungkin" tegas Paman Isaac.

"Tapi ya Paman, ntah kenapa seperti ada yang aneh" pikirku.

"Aneh kenapa ?" tanya Paman Isaac.

Selain di gerbang Ibukota tadi, ksatria tampak banyak berpatroli di dalam Ibukota.

"Banyak sekali ksatria lalu lalang, apa Ibukota normalnya begini atau karena sekarang merupakan hari ujian tes masuk Akademi jadi banyak ksatria berpatroli ?" tanyaku ke Paman Isaac.

"Normalnya tidak ramai begini sih, benar menurutmu banyak ksatria ramai karena sekarang adalah hari dimulainya tes masuk akademi untuk tahun ajaran baru" kata Paman Isaac.

"Terlebih akan ada calon murid penting seperti yang tadi kubilang" lanjut Paman Isaac.

"Begitu ya" kataku.

-

Kereta kuda terus melaju menuju San Fulgen Akademiya. San Fulgen Akademiya berada disebelah timur Ibukota San Estella. Jalanan Ibukota pun terus dilalui melewati pertokoan dan pasar sampai aku melihat sesuatu. Seorang Beast Human dari ras kelinci dan seorang Elf sedang berbelanja tetapi terdapat kalung besi di lehernya.

"Apa itu seorang budak ?" tanyaku yang kemudian ditanggapi oleh Paman Isaac.

"Benar itulah budak yang biasanya dimiliki oleh para bangsawan, kamu baru pertama melihat budak ya ? biasanya mereka yang jadi budak itu adalah orang-orang yang dibuang dari negara asal mereka atau mereka yang pergi sendiri dari negara asal mereka karena ada konflik atau lainnya, setelah itu mereka ditangkap oleh penjual budak dan dijual sebagai budak. atau bisa juga terjadi bagi mereka yang mempunyai hutang dan tidak bisa membayarnya, maka cara penebusannya ialah dijual sebagai budak," kata Paman Isaac.

"Budak Demihuman & Elf ya ? biasanya suatu negara dengan mayoritas ras tertentu tidak memiliki budak dengan ras yang sama, sebagai contoh Kerajaan San Fulgen yang mayoritas ditinggali manusia, jarang atau tidak memiliki budak dari ras manusia. Sebaliknya jika kita pergi ke Negeri Elf atau Kerajaan Demi Human, pastinya disana ada banyak budak dari ras manusia" lanjut Paman Isaac.

"Bahkan masing-masing negara masih menggunakan sistem perbudakan ya ? bukannya ini terlalu kejam ? para budak itu tidak bisa hidup bebas dan damai, setiap hari hanya melayani majikan mereka saja" kataku dengan sedih.

"Budak yang barusan kamu lihat itu masih mending, mereka tampak berbelanja dengan biasa saja. Waktu dulu saat ku ke Ibukota, aku melihat bangsawan yang tengah menyiksa budaknya di tengah kota hanya karena budak itu melakukan kesalahan kecil saja. Warga yang lain cuma melihat saja tanpa bisa apa-apa, karena jika warga biasa menghentikan bangsawan itu, mereka akan dianggap menantang bangsawan itu. Tergantung bangsawannya, jika kita menasehati bangsawan yang baik, tidak egois dan tidak keras kepala, mereka pasti akan senang hati menerima nasihatnya. Sedangkan untuk bangsawan yang egois, merasa punya harga diri tinggi dan keras kepala, menasehati mereka sama aja dengan menentang mereka. Warga biasa yang menentang bangsawan pasti akan diancam & diteror terus sepanjang hidupnya". lanjut Paman Isaac.

"Bangsawan itu benar-benar" kataku sedikit marah sambil mengepalkan tangan.

"Aku tahu kamu marah, Rid. Aku pun juga demikian saat melihat kejadian itu. Walaupun kita berbeda ras, tapi kita sama-sama makhluk hidup seperti mereka. Tapi aku tak bisa apa-apa, aku juga takut diancam bangsawan seperti mereka. Rid, jika kamu ingin merubah sistem di kerajana ini. Kamu harus menorehkan prestasi besar di kerajaan ini agar kamu bisa meraih posisi penting di kerajaan ini dan semua orang tau namamu. Jika kamu bisa meraih posisi penting, kamu bisa menghapus sistem perbudakan di negara ini jika kamu tak suka" kata Paman Isaac.

"Iya Paman, aku akan bekerja keras untuk meraih prestasi besar" lanjutku.

-

Sekian lama kereta kuda melaju, akhirnya tiba di depan gerbang San Fulgen Akademiya.

"Jadi ini San Fulgen Akademiya ?" kataku.

"Sampai disini saja ya Rid. Sebagai ganti biaya aku mengantarmu, ciptakan saja rekor saat ujian tes masuk dan buat mereka semua tercengang hahaha" kata Paman Isaac sambil tertawa.

"Terima kasih Paman karena telah mengantarku. Aku akan berusaha sekuat tenaga saat ujian masuk" kataku.

"Baiklah aku pergi dulu, giatlah belajar di akademi ini agar nanti kamu bisa mencapai tujuanmu. Selamat tinggal, Rid" kata Paman Isaac.

"Iya Paman, hati-hati di jalan" kataku sambil melambaikan tangan ke arah Paman Isaac yang perlahan mulai menjauh. Lalu aku mulai berjalan memasuki gerbang San Fulgen Akademiya dan aku ditanyai oleh penjaga atau lebih tepatnya ksatria kerajaan yang ditugaskan di akademi tersebut.

"Ada yang bisa dibantu nak ?" tanya penjaga tersebut.

"Aku ingin mengikuti tes masuk akademi " kataku menjawab.

"Boleh disebutkan nama lengkap dan asalmu darimana ?" tanya penjaga tersebut.

"Rid Archie dari Desa Aston" jawabku.

"Rid Archie dari Desa Aston ya" kata penjaga tersebut sambil melihat kertas-kertas yang kemungkinan kalau itu adalah list para peserta yang akan mengikuti tes.

"Ah ketemu, Rid Archie dari Desa Aston. Ini adalah kartu pengenal untuk tes masukmu" kata penjaga tersebut sambil menceklist namaku di list tersebut dan sambil memberikan kartunya.

"Terima kasih, tuan" kataku sambil menerima kartunya.

Di kartuku terdapat nomor 154 yang merupakan nomor peserta ku dan mungkin aku juga peserta ke 154 yang sudah hadir disini.

"Apa sudah banyak peserta lain yang sudah hadir, tuan ?" tanyaku ke penjaga tersebut.

"Seperti yang kamu lihat di nomor kartumu, kamu adalah peserta ke 154 yang telah hadir. Sepertinya peserta yang lain belum datang karena sekarang juga masih jam 8 pagi. Kan tes masuknya dimulai jam 10." jawab penjaga tersebut.

"Kamu bisa langsung masuk saja ke dalam aula tunggu atau keliling melihat-lihat akademi" lanjut petugas tersebut.

"Owh begitu ya, baiklah kalau begitu aku pergi ke dalam dulu ya, tuan. Terima kasih atas bantuannya" kataku.

"Semoga kamu lulus dalam ujiannya ya" kata penjaga tersebut.

Setelah beberapa langkah dari penjaga tersebut, aku melihat ke arah penjaga itu lagi.

"Melelahkan sekali, kenapa aku harus mengurus anak-anak ini. Kebanyakan mereka ini bukan bangsawan, harusnya mereka sadar diri kalau mereka tidak akan bisa lolos tes. Membuatku capek saja harus berurusan dengan rakyat jelata dan harus mendoakan agar mereka lulus" kata penjaga tersebut di dalam hatinya.

"Jadi bahkan seorang ksatria kerajaan saja bisa bersikap seperti ini, apalagi para bangsawan yang ada di atasnya. Di Desa Aston sangat damai dan para warganya sangat baik, berbeda sekali dengan disini. Jadi ini yang namanya Ibukota Kerajaan" kataku setelah melihat isi hati penjaga tersebut.

Skill membaca isi hati sangat berguna untuk keadaan seperti ini, aku jadi tahu orang-orang seperti apa yang mendekatiku. Skill ini tidak selalu aktif ketika aku melihat orang lain, skill ini aktif jika aku memutuskan untuk menggunakannya saat melihat orang lain. Aku bisa menggunakan skill ini dari sejak kecil, skill ini sepertinya bawaan dari lahir. Ketika aku bertanya ke mendiang kakekku, beliau berkata jika skill milikku mungkin skill yang diturunkan dari orang tuaku. Apapun itu skill ini sangat berguna dan aku sangat bersyukur karena memilikinya. Setelah mendengar isi hati penjaga tersebut, aku memutuskan untuk berjalan lagi menuju aula tes.

-

Di sepanjang jalan menuju Aula, aku bisa melihat pemandangan di sekitar. Di pinggir jalan ada pohon-pohon dan rerumputan yang membuat suasananya sangat sejuk. Di ujung kanan dan kiri dari tempat ku berjalan juga terdapat bangunan besar yang aku belum tau itu untuk apa. Aku berjalan kembali sampai melihat air mancur di depan dan terdapat bangunan yang sangat besar yang aku tebak jika itu adalah gedung depan Akademi. Terdapat tangga untuk memasuki gedung tersebut dari air mancur. Aku melihat patung besar di kanan dan kiri di depan bangunan tersebut. Patung manusia dengan sayap di punggungnya sambil memegang pedang kebawah, patung itu merupakan patung dari ras Malaikat.

"Karena kerajaan ini dibawah pimpinan ras Malaikat, jadinya dibangun patung ras Malaikat. Apakah kerajaan manusia yang berada dibawah pimpinan ras Iblis akan membangun patung Iblis juga ?" kataku bergumam sendiri.

Aku menaiki tangga dan langsung pergi untuk memasuki gedung tersebut. Saat aku memasuki gedung tersebut, aku melihat lumayan banyak peserta yang sudah datang dan menunggu untuk dimulainya tes. Ada yang duduk di bangku yang disediakan atau ada yang berdiri sambil bersender di dinding atau sambil melihat tulisan-tulisan di dindingnya. Ketika aku ingin melangkah ke dalam, aku dihampiri oleh petugas yang kemungkinan dia bertugas untuk mengkonfirmasi peserta-peserta yang sudah datang di dalam. Aku pun menunjukkan kartu pengenal pesertaku ke petugas tersebut. Petugas tersebut melihat kartu peserta ku dengan seksama dan setelah itu mengembalikan kartunya kepadaku. Petugas tersebut lalu memintaku untuk menunggu sampai tes masuknya dimulai. Kata petugas tersebut juga kalau tes masuknya akan dilaksanakan di gedung ini. Sepertinya gedung depan Akademi ini bertujuan sebagai administrasi akademi dan sebagai aula depan juga. Setelah petugas itu pergi, aku pun melangkah kembali untuk mencari tempat duduk kosong sambil menunggu tes masuknya. Aku menemukan tempat duduk kosong disamping seorang peserta laki-laki yang sedang membaca buku.

"Halo, apakah tempat duduk ini kosong atau ada orang lain yang sudah menempatinya ?" tanyaku pada pria tersebut.

"Huh ? ah tempat duduk itu kosong kok, kalau mau duduk disitu, duduk saja" jawab laki-laki tersebut.

"Terima kasih" kataku sambil mau duduk. Laki-laki tersebut mengangguk dan melanjutkan untuk membaca bukunya kembali. Setelah duduk, aku pun melihat ke arah laki-laki tersebut.

"Oh jadi sihir ini bisa digunakan seperti ini" kata dia di dalam hati.

"Dia sepertinya sedang fokus sekali membaca buku tersebut, kayaknya buku itu menjelaskan tentang penggunaan sihir. Dan sepertinya dia tidak kesal dan terganggu saat aku mengajaknya bicara tadi. Aku jadi merasa bersalah sudah berprasangka buruk dan membaca pikirannya" pikirku.

Aku pun memutuskan untuk membaca buku yang kubawa di tas. Aku hanya membawa beberapa buku yang penting punya mendiang kakekku. Sebagian ku simpan di tas dan sisanya ku taruh di sihir penyimpanan. Aku memutuskan untuk membaca buku sampai tes masuknya dimulai.

-

Saat aku masih membaca buku, waktu sudah cepat berlalu. Sampai muncul suasana yang menghebohkan.

"Wah lihat, itu Putri Irene. Dia cantik sekali," kata salah seorang peserta.

"Apa orang seperti ku bisa untuk mengencani seorang Putri Irene ya ?," kata peserta yang lain.

"Hahaha jangan mimpi kamu, lagipula Putri Irene itu anak seorang Duke. Jika ingin mengencaninya kamu harus memiliki status bangsawan yang setara atau lebih tinggi darinya," kata peserta lainnya yang menimpali.

Irene Emerald San Lucia, putri dari seorang Duke yang memimpin provinsi San Lucia yaitu Duke Louis Emerald San Lucia. San Lucia sendiri berada di utara kerajaan San Fulgen. Tempat tersebut dikenal dengan suhunya yang dingin.

"Tapi untuk seseorang yang tinggal di daerah yang dingin, Putri Irene tidak mengenakan pakaian tebal untuk menghangatkan dirinya, apa dia sudah menggantinya saat perjalanan kesini ?," pikirku.

Rambutnya yang panjang berwarna putih seperti salju, tidak kalah putihnya dengan warna kulitnya. Tingginya yang bisa dikatakan tinggi untuk ukuran perempuan yaitu 175 cm, wajar jika banyak yang mengatakan jika dia cantik, akupun sependapat dengan itu. Ah ngomong-ngomong, tinggiku adalah 185cm. Aku menggunakan skill ku untuk melihat apa yang dipikirkan Putri Irene, tapi tidak ada apa-apa.

"Dia tidak memikirkan apa-apa ? sepertinya dia tidak terganggu dengan banyaknya peserta yang melihat ke arah dirinya. Dia orang yang menarik," ujarku.

Dia tampak tidak bereaksi dengan pandangan dan sapaan para peserta lain dan hanya diam berdiri bersandar di dinding. Mungkin ini alasan dia dipanggil sebagai Si Putri Es karena sikapnya yang dingin. Setelah menggunakan skill membaca pikiranku ke dirinya, entah kebetulan atau tidak, Putri Irene menoleh ke arahku. Aku tidak tahu Putri Irene menoleh tepat ke arah ku atau menoleh ke belakangku, tapi aku memutuskan untuk membungkukkan wajahku sebagai rasa hormat ke Putri Irene. Putri Irene tampak biasa saja dan setelah itu dia mengganti pandangannya ke arah lain.

"Mana mungkin kan jika Putri Irene tau kalau barusan aku menggunakan skill untuk membaca pikirannya ?," pikirku.

"Sepertinya aku harus lebih waspada menggunakan skill ini, takut jika ada orang lain yang tau jika pikiran mereka sedang dibaca," kataku dalam hati.

-

Setelah kehebohan yang diakibatkan oleh datangnya Putri Irene, kehebohan lainnya terjadi lagi saat putra-putri para Marquess juga telah tiba. Lalu disusul oleh Putra Duke of San Angela, yaitu Enzo William San Angela juga sudah tiba, keadaan menjadi heboh lagi.

"Putra dari Duke of San Angela ya, provinsi yang berada di barat San Fulgen yang berbatasan dengan negeri Demi-Human, Sedona ya ? Kelihatannya dia cukup kuat, yah wajar untuk anak dari seorang Duke," pikirku.

Aku melihat ke arahnya dan sepertinya dia sangat ramah dengan peserta lain, dia membalas sapaan ke peserta yang menyapanya dan melambaikan tangan ke arah mereka. Senang melihatnya jika ada bangsawan yang ramah seperti itu. Setelah beberapa saat, kehebohan terjadi lagi dan bahkan lebih heboh dari sebelumnya. Ya itu karena telah tibanya Pangeran Charles dan Putri Chloe di tempat tes masuk akademi. Tidak mengherankan jika banyak yang heboh saat mereka tiba, karena mereka adalah anak dari Yang Mulia Ratu dan pesona mereka itu tidak terbantahkan. Warna rambut mereka yang berwarna pirang keemasan sangat lah indah dan mempesona, pasti warna rambut mereka karena turunan dari Yang Mulia Ratu.

"Pangeran Charles!,"

"Putri Chloe,"

"Kyaa Pangeran Charles sangat tampan sekali,"

"Apakah mungkin bagiku untuk menikahi Putri Chloe ?,"

"Aku bersyukur sekali bisa mengikuti tes masuk berbarengan dengan Pangeran Charles dan Putri Chloe," begitulah yang mereka katakan.

Para peserta sangat heboh dan semua pandangan tertuju ke arah Pangeran Charles dan Putri Chloe. Pangeran Charles tampaknya juga sangat ramah, dia menyapa peserta yang lain juga dan melambaikan tangan ke arah mereka. Sementara untuk Putri Chloe, tampaknya dia sedikit terganggu dengan banyaknya pandangan yang diarahkan kepadanya. Karena penasaran, aku pun membaca pikirannya.

"Duh, kenapa banyak pandangan yang diarahkan ke arahku. Aku jadi malu kalau begini aku tidak bisa fokus," kata Putri Chloe di pikirannya.

"Sepertinya sang Putri adalah orang yang pemalu, berbeda dengan kakak kembarnya yang sangat ramah," kataku.

Aku tidak menemukan kata-kata seperti menghina atau merendahkan peserta yang bukan bangsawan dari pikiran Putri Chloe, bisa disimpulkan bahwa Putri dan Pangeran merupakan Bangsawan yang baik, sama sepertinya Ibu mereka.

"Sepertinya Ibu mereka mengajarkan hal yang baik ke anaknya," batinku.

-

Setelah itu, aku melihat tuan muda Enzo menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe.

"Salam Pangeran & Putri, suatu kehormatan bisa bertemu kalian berdua disini," kata Enzo sambil membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada kiri sebagai bentuk hormat.

"Enzo ya ? sudah-sudah tidak usah terlalu formal, lagipula sekarang kita bukan di acara kerajaan. Saat ini kita sama-sama peserta tes masuk San Fulgen Akademiya," kata Pangeran Charles sambil menyuruh Enzo agar tidak membungkuk lagi.

"Baiklah, Pangeran," kata Enzo.

Setelah sapaan Enzo, banyak peserta yang merupakan anak bangsawan lain menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe untuk memberi hormat Pangeran Charles pun memberi tahu untuk mengsudahi saja penghormatan ini karena ini bukan di acara kerajaan. Di antara banyaknya bangsawan yang menghampiri Pangeran Charles dan Putri Chloe, aku tidak melihat Putri Irene. Aku melihat ke sekitar untuk mencari keberadaannya, dan dia masih bersandar di dinding dengan tenangnya. Dia melihat ke arah kerumunan yang mengerumuni Pangeran Charles dan Putri Chloe, tapi tidak menghampirinya. Aku masih penasaran dengan apa yang dia pikirkan. Aku pun menggunakan skill ku lagi kepadanya, namun lagi-lagi pikirannya kosong seperti dia tidak memikirkan apapun atau mungkin skill membaca pikiran tidak bisa membaca pikirannya. Setelah aku membaca pikirannya, Putri Irene kembali menoleh ke arahku. Tidak ada ekspresi di wajahnya, sama seperti saat dia pertama kali tiba disini, tidak ada satupun dia mengeluarkan ekspresi. Aku pun membungkuk kembali saat Putri Irene menoleh ke arahku sebagai bentuk hormat.

"Aku jadi yakin jika Putri Irene tau jika pikirannya sedang dibaca, mana mungkin dia bereaksi 2 kali dengan menoleh ke arahku setelah pikirannya dibaca jika dia tidak tahu, atau mungkin cuma kebetulan saja ? tapi apa mungkin kebetulan terjadi 2 kali ?," pikirku.

"Halo, Putri Irene" kata seseorang yang ternyata adalah Pangeran Charles.

Dia sudah pergi dari kerumunan yang mengerumuninya dan menghampiri Putri Irene. "Bagaimana kabarmu ?," tanya Pangeran Charles.

Putri Irene yang semula melihat ke arahku, langsung menoleh ke arah Pangeran Charles & Putri Chloe yang menghampirinya.

"Aku baik-baik saja, Pangeran, Putri. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi maka aku permisi dulu," kata Putri Irene sambil membungkukkan badan dengan hormat lalu pergi ke tempat lain.

"Seperti biasa, dia tidak tampak akrab dan langsung pergi begitu saja begitu ku sapa," kata Pangeran Charles sedikit kecewa.

"Sudahlah kak, dari dulu dia orangnya begitu. Mungkin dia tidak suka keramaian dan keramah tamahan," ujar Putri Chloe.

"Mungkin begitu, yah sifat orang kan berbeda-beda. Kita tak harus memaksanya untuk mengakrabkan diri dengan kita," lanjut Pangeran Charles.

"Pangeran itu sangat baik, bahkan dia mengerti keadaan orang lain jika ada orang yang tidak mau menerima keramahtamahannya. Sedangkan untuk Putri Irene, apakah dia membenci Pangeran ? sampai pergi menjauh begitu. Hmm tapi kurasa bukan Pangeran saja, sejak awal dia seperti berdiri sendiri menjauh dari keramaian. Yah sepertinya dia punya masalah tersendiri," pikirku dalam hati.

-

"Bangsawan atas itu benar-benar menghebohkan ya setiap mereka datang, membuatku tak fokus membaca saja," ujar peserta laki-laki yang daritadi duduk di sebelahku.

"Kamu pun juga terganggu kan ? aku juga melihat tadi kamu sedang fokus membaca buku sebelum mereka semua heboh karena tibanya bangsawan atas,"lanjutnya.

Bangsawan atas yang dia maksud mungkin bangsawan dengan jabatan Marquess ke atas (Marquess > Duke > Raja/Ratu).

"Tidak terlalu, justru ini menjadi pengalaman pertama ku bisa melihat bangsawan-bangsawan seperti mereka," kataku.

"Begitu ya, kalau aku sih sudah pernah melihat mereka karena aku sering berpergian ke Ibukota sejak kecil, aku kadang melihat mereka sedang berkeliling Ibukota. Apalagi untuk sang putri es, aku sudah sering bertemu dengan dia karena kami itu berasal dari daerah yang sama," lanjutnya.

"Kamu dari San Lucia juga ?," tanyaku kepadanya. "Benar, tapi aku tidak berasal dari kota San Lucia. Aku berasal dari desa Piana. Selain ke Ibukota, aku juga sering berpergian ke kota San Lucia untuk menjual hasil peternakan bersama ayahku. Disitulah aku sering bertemu dengan Sang Putri Es yang sedang berkeliling bersama asistennya," katanya.

"Dia kadang berbelanja atau melihat-lihat ke sekeliling kota, Saat berbelanja pun dia tidak memasang ekspresi apapun, hanya datar dan tampak dingin. Itulah kenapa dia dikenal sebagai Sang Putri Es karena ekspresi dinginnya. Tapi aku bertanya kepada penduduk di kota San Lucia tentang kesan mereka kepada Sang Putri Es. Mereka bilang meskipun Putri Irene selalu berekspresi dingin, tapi Putri Irene tidak pernah berlaku sewenang wenang atau merendahkan orang lain. Jadinya kesan mereka ke Sang Putri Es itu baik dan mereka mewajarkan ekspresi dingin Sang Putri Es sebagai salah satu sifatnya yang mungkin sudah ada dari lahir dan sulit untuk dirubah,"lanjutnya.

"Begitu ya, jadi Putri Irene termasuk bangsawan yang baik ya meskipun ekspresinya selalu dingin," kataku.

"Ya begitulah, lagipula ayahnya yaitu Duke Louis juga selalu disukai dan dikagumi oleh penduduk San Lucia, jadi tak heran jika anaknya pun mengikuti sifat ayahnya," katanya lagi.

"Ah ngomong-ngomong, selain ekspresinya yang dingin. Alasan kenapa dia di panggil Sang Putri Es karena dia merupakan pengguna sihir es yang hebat. Keluarga San Lucia dikenal sebagai keluarga yang mewarisi sihir es secara turun temurun. Jadi keluarga mereka semuanya adalah pengguna sihir es," lanjutnya lagi.

"Sihir es ya ? Sihir es merupakan sihir lanjutan dari sihir air, tidak semua orang bisa menggunakan sihir lanjutan dari sihir dasar. Tidak mengherankan jika keluarga San Lucia termasuk keluarga terkuat di kerajaan ini. Apalagi kepala keluarga mereka mendapatkan jabatan sebagai Duke yang bertugas untuk membantu Yang Mulia Ratu secara langsung," ujarku terkejut.

"Itu benar, 4 Keluarga bangsawan yang kepala keluarganya mendapatkan gelar Duke, tidak salah lagi mereka adalah keluarga terkuat di kerajaan ini selain keluarga dari Yang Mulia Ratu sendiri," katanya menanggapiku.

"Ngomong-ngomong, kamu tahu juga ya soal sihir lanjutan, apakah kamu suka membaca buku tentang sihir ?," tanyanya kepadaku.

"Itu benar, di rumah mendiang kakekku banyak sekali buku dan salah satunya buku tentang sihir, aku suka sekali membaca buku punya kakek," jawabku.

"Begitu ya, sepertinya kita punya hobi yang sama. Ngomong-ngomong dari mana kamu berasal ?," tanyanya lagi kepadaku.

"Aku berasal dari desa Aston, yang berada di provinsi San Minerva yang ada di selatan kerajaan," jawabku.

"San Minerva ya, dari yang kudengar Putra dari Duke San of Minerva juga berada di akademi ini, tapi dia pelajar dari angkatan sebelumnya," katanya.

"Ngomong-ngomong lagi, kita sudah berbicara banyak hal daritadi tapi entah kenapa ku seperti melupakan sesuatu tapi apa ya ?," ujarnya bingung.

Dia berpikir dengan keras sampai akhirnya dia tau apa yang dia lupakan.

"Owh iya nama, kita belum memperkenalkan nama masing-masing," katanya setelah berpikir.

"Owh iya, aku juga tidak kepikiran, namaku Rid, Rid Archie, kamu panggil saja aku Rid," ujarku.

"Namaku Noa, Noa Sigisbert. Kamu bisa panggil aku Noa saja, salam kenal ya Rid," ujarnya sambil mengulurkan tangan kepadaku.

"Salam kenal juga Noa," ujarku sambil mengulurkan tangan juga.

Setelah perkenalan kita berjabat tangan.

-

Tak terasa setelah kehebohan karena datangnya Pangeran Charles dan Putri Chloe tadi dan obrolanku dengan Noa, waktu sudah menunjukkan jam setengah 10. Seorang pria datang menghampiri kami dan berbicara,

"Perhatian semua, perkenalkan nama saya Alan Hugo. Saya salah satu guru di San Fulgen Akademiya dan juga salah satu pengawas yang akan mengawasi tes masuk kalian. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih bagi peserta yang menerima undangan dari akadem kami baik dari yang berasal dari kerajaan San Fulgen atau yang berasal dari luar kerajaan dan terima kasih juga kepada peserta yang sudah bersedia menunggu. Tidak usah berlama-lama, Tes Masuk San Fulgen Akademiya tahun 1217 dengan ini kami nyatakan dimulai !!," ujarnya.

-

Dan akhirnya, Tes Masuk untuk akademi nomor satu di kerajaan ini pun akhirnya dimulai.

-Bersambung

Bab 3

"Tidak usah berlama-lama, ujian masuk San Fulgen Akademiya tahun 1217 dengan ini kami nyatakan dimulai!!" begitulah kata salah satu pengawas akademi, Alan Hugo.

Para peserta pun langsung menanggapi, ada yang tidak sabar untuk menunjukkan kemampuannya, ada yang gugup, dan ada yang menanggapi biasa saja. Kalo bagiku sendiri, aku sangat tidak sabar untuk menantikan ujian masuk ini. Selain sebagai sarana untuk menjadi murid di akademi, aku bisa menguji kemampuanku dengan bertarung dengan peserta lain karena yang ku tahu ada ujian pertarungan antar peserta juga.

"Akhirnya dimulai juga ya, aku sudah bosan menunggu," kata Noa bersemangat.

"Kamu sangat bersemangat sekali ya Noa, pasti kamu sangat percaya diri dalam menghadapai ujian masuk ini," kataku menanggapi Noa.

"Tentu saja, aku sudah banyak berlatih selama ini, terlebih aku sangat menantikan ujian pertarungan antar pesertanya, mungkin aku bisa mendapatkan lawan yang membuatku bersemangat," kata Noa.

"Apa kamu tidak takut jika mendapatkan lawan seperti Pangeran Charles, Putri Chloe, Tuan Muda Enzo ataupun Putri Irene ?," tanyaku kepada Noa.

"Memang sih mungkin mereka itu adalah peserta unggulan di ujian masuk ini, tapi bukankah akan terasa menarik jika kita mendapatkan lawan yang unggul daripada kita, apalagi jika kita bisa mengalahkan mereka," kata Noa dengan percaya diri.

"Memang sih, aku setuju denganmu. Pasti akan bangga jika bisa menang melawan peserta unggulan seperti mereka," kataku.

"Tapi masih ada 1 peserta lagi yang menurutku termasuk unggulan," kata Noa.

"Hmm siapa itu ?," tanyaku ke Noa.

"Itu adalah kamu, Rid," jawab Noa.

"Bagaimana bisa aku termasuk unggulan, padahal kan aku hanya peserta dengan latar belakang yang biasa saja. Bukan salah satu bangsawan," bantahku.

"Mungkin menurutmu begitu, tapi aku tahu kalau sejak tadi sang Putri Es melihat ke arahmu beberapa kali. Mungkin kamu tidak sadar saat dilihat olehnya. Sampai menarik perhatian dari sang Putri Es, sudah pasti kamu bukan orang yang biasa, Rid," kata Noa.

"Soal Putri Irene menoleh ke arahku mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan, lagipula aku tidak melakukan hal-hal aneh yang menarik perhatian sejak tadi kan ?," bantahku lagi.

"Memang kamu tidak menarik perhatian, tapi pasti ada sesuatu yang special di dalam dirimu sampai bisa menarik perhatian sang Putri Es. Peserta berdarah bangsawan atas itu memanglah special dan kuat karena mereka mewarisi darah keluarga terkuat di kerajaan ini, tapi mereka tidaklah mengerikan," kata Noa.

"Yang mengerikan itu adalah saat orang biasa menyembunyikan kekuatan asli mereka," lanjut Noa.

"Terserah kamu saja mau menganggapku bagaimana," kataku yang seolah seperti menerima tentang pernyataan Noa.

"Aku menantikan hal yang menarik di ujian masuk nanti, Rid," kata Noa sambil tersenyum kepadaku.

"Sepertinya aku sudah menjadi target salah satu peserta disini, tapi biarlah toh aku memang ingin melaksanakan ujian ini dengan serius," pikirku dalam hati.

-

"Ehem, semuanya mohon jangan ribut terlebih dahulu ya. Saya akan menjelaskan tentang ujian masuk kali ini," kata pengawas tersebut.

Memang setelah pengawas tersebut bilang ujian dimulai, suasana langsung ribut. Banyak peserta yang berbicara dengan peserta lainnya sama seperti aku yang berbicara dengan Noa barusan. Padahal penjelasan rinci tentang ujiannya belum dijelaskan.

"Ujian masuk San Fulgen Akademiya akan dibagi 3 ujian :

1. Ujian Teori atau Quiz

2. Ujian menghancurkan target

3. Ujian pertarungan

Untuk ujian Quiz, maksimal poin yang akan kalian dapatkan adalah 100 poin. Ujian menghancurkan target maksimal mendapatkan 200 poin. Dan ujian pertarungan maksimalnya juga mendapatkan 200 poin. Jadi dari 500 peserta yang hadir saat ini, hanya 200 Peserta yang mendapatkan poin tertinggi yang akan diterima sebagai murid San Fulgen Akademiya," kata pengawas tersebut menjelaskan.

"Apa penjelasan tentang ujian masuk ini sudah jelas ? apa ada yang ingin bertanya ?," tanya pengawas tersebut.

"Saya ingin bertanya, pak," kata seseorang peserta yang ternyata adalah Pangeran Charles.

"Silahkan, ingin bertanya apa, Pangeran ?," tanya pengawas tersebut.

"Jika total poin seorang peserta dari ketiga ujian tersebut berada di posisi ke-200, tapi peserta posisi ke-201 juga memiliki poin yang sama dengan peserta ke-200. Bagaimana mana perlakuannya supaya adil ?," tanya Pangeran Charles.

"Terima kasih Pangeran atas pertanyaannya. Benar juga, aku lupa untuk menjelaskan tentang situasi ini. Bagaimana jika peserta yang berada di posisi ke-201 mempunyai poin yang sama dengan peserta ke-200 ? satu peserta diterima masuk ke Akademi dan peserta yang lainnya tidak lolos masuk ke Akademi padahal poin keduanya sama. Untuk mengatasi situasi ini akan dilakukan ujian pertarungan lagi antar peserta yang poinnya sama, untuk menentukan peserta mana yang berhak lolos masuk ke Akademi. Apakah dengan ini sudah menjelaskan semuanya ?," tanya pengawas tersebut.

"Pak, aku mau bertanya," kata salah satu peserta yang aku tidak tahu namanya.

"Silahkan, nak," jawab pengawas tersebut.

"Bagaimana dengan penjelasan rinci untuk tiap-tiap ujiannya ?," kata tanya peserta tersebut.

"Ah untuk penjelasan tiap-tiap ujian akan dijelaskan oleh pengawas yang akan mengawasi kalian nanti. Apa semuanya penjelasan sudah jelas ? Ada yang mau bertanya lagi ?," tanya pengawas tersebut lagi.

Tapi tidak ada peserta yang bertanya.

"Oke, karena tidak ada yang bertanya lagi jadi saya pikir kalian sudah paham dengan penjelasannya," kata pengawas tersebut.

"Karena sebentar lagi kalian akan melaksanakan ujian masuk yang pertama yaitu ujian quiz, Jadi sekarang kalian diminta menuju ke lantai 2 gedung ini dan pergi ke ruangan yang ada list nama kalian di kertas yang ditempel di dinding dan pintu di ruangan tersebut,"

kata pengawas tersebut memberikan penjelasan terakhir di lantai ini. Kami pun segera pergi ke lantai dua gedung ini.

-

Kami pun akhirnya tiba di lantai dua gedung dan memeriksa masing-masing ruangan untuk menemukan nama kami masing-masing. Setelah beberapa saat mencari, ternyata aku ada di ruangan nomor 4 dan berada di tempat duduk dengan nomor 4 di ruangan tersebut.

"Kamu ada di ruangan nomor berapa, Rid ?," tanya Noa kepadaku.

"Aku ada di ruangan nomor 4, kamu di ruangan nomor berapa Noa ?," tanyaku kembali ke Noa.

"Aku ada di ruangan nomor 2, sayang sekali sepertinya kita tidak seruangan," keluh Noa.

"Memangnya apa yang mau kamu lakukan jika kita seruangan ? mencontek ?," tanyaku lagi.

"Tidak tidak, aku bisa mengerjakan ujian ku sendiri. Cuma rasanya enak saja jika seruangan dengan orang yang ku kenal," jawab Noa.

"Begitu ya," kataku.

"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi di ujian selanjutnya, Rid," kata Noa sembari berjalan menuju ruangannya.

"Ya, sampai bertemu lagi," kataku menanggapinya.

"Padahal tadi dia berbincang seolah menganggapku peserta yang harus diwaspadai, tapi kenapa dia masih akrab terhadapku ? Sepertinya dia tipe orang yang menganggap saingannya sebagai temannya juga," pikirku.

Setelah itu, aku segera masuk ke dalam ruanganku dan langsung mencari tempat duduk yang akan aku tempati. Aku melihat sekeliling ternyata ada 50 tempat duduk yang tersedia di ruangan tersebut. Jika setiap ruangan ada 50 tempat duduk, berarti ada 10 ruangan yang digunakan untuk ujian pertama.

"Karena aku tadi nomor 154, berarti aku ada di ruangan 4 dengan tempat duduk ke 4 ya, masuk akal juga," pikirku.

Setelah menemukan tempat duduk ku, aku pun langsung menempatinya. Peserta lain yang seruangan dengan ku pun mulai masuk dan menempati tempat duduknya masing-masing. Setelah semua peserta di ruangan 4 sudah di tempat duduknya masing-masing, datanglah pengawas yang merupakan pengawas wanita ke dalam ruangan.

"Halo semuanya, perkenalkan nama saya adalah Nora Kalandra. Saya yang bertugas sebagai pengawas untuk ujian Quiz di ruangan 4 ini," kata pengawas tersebut.

"Sebelumnya saya akan menjelaskan tentang ketentuan ujian quiz ini. Ujian akan terdiri dari 20 soal isian dan soalnya tentang pengetahuan umum baik itu tentang sihir atau tentang kerajaan San Fulgen. 1 soal benar akan dihadiahi 5 poin, yang berarti jika 20 soal benar akan mendapatkan 100 poin. Tidak ada yang boleh mencontek satu sama lain atau menggunakan trik-trik curang lainnya. Di setiap ruangan sudah dipasang deteksi sihir untuk mengetahui apakah ada peserta yang menggunakan sihir untuk trik curang atau tidak. Itu saja penjelasan singkat tentang ujian ini. Apakah ada pertanyaan ?," tanya pengawas tersebut setelah menjelaskan tentang ujiannya.

Tidak ada tanda-tanda orang yang akan bertanya.

"Tidak ada ya ? baik kalau tidak ada bisa langsung kita mulai ujiannya. Ujian akan dimulai jam 10 pagi sampai jam 11 pagi. Saya akan mulai membagikan kertas ujiannya," kata pengawas tersebut.

Kertas ujian pun mulai dibagikan satu persatu ke masing-masing peserta. Setelah semua peserta mendapatkan kertas ujian masing-masing, pengawas pun langsung memberikan aba-aba.

"Baiklah, silahkan mulai mengerjakan ujiannya," kata pengawas tersebut.

-

Aku pun mulai membaca soal-soal di ujian tersebut. Saat ku lihat soal ujian tersebut, aku berpikir kalau ujian quiz kali ini mudah bahkan peserta lain pun bisa dengan mudah mengerjakannya.

"Nama Ibukota San Fulgen, Ada berapa jumlah sihir elemen dasar, Sihir lanjutan dari sihir api, dan lainnya. Bukannya soal ini terlalu gampang ? Jawaban tentang soal ini harusnya mudah ditemukan di buku-buku umum. Para peserta lain pun pasti bisa menjawab soal ini dengan mudah. Aku tak akan heran jika banyak yang akan mendapatkan 100 poin di ujian ini," pikirku.

"Sepertinya ujian ini cuma sebagai pelengkap saja. Ujian sebenarnya ada di ujian menghancurkan target dan ujian pertarungan," pikirku lagi.

Aku pun segera menulis jawaban untuk soal-soal itu. Waktu pun berlalu sampai tak terasa sudah jam 11.

"Baiklah semuanya, ujian quiz kali ini sudah selesai. Silahkan kalian kumpulkan kertas ujian kalian masing-masing di meja depan," kata pengawas tersebut. Segera semuanya pergi ke depan ruangan untuk meletakkan kertas ujiannya masing-masing.

Setelah semua kertas ujiannya sudah dikumpulkan, pengawasnya pun berkata "Untuk hasil ujian quiz ini akan diumumkan di papan pemberitahuan di lobi lantai 1, tempat kalian berkumpul tadi pada jam 12. Setelah ini akan ada jeda waktu kurang lebih 1 setengah jam sampai ujian berikutnya dilaksakan pada jam 12.30. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu di kantin yang berada di dalam akademi. Kalian bebas makan aja karena biayanya gratis,".

Mendengar hal itu, peserta yang lain pun kegirangan setelah mendengar bisa makan apa saja secara gratis. Setelah itu pengawasnya pun pergi sambil membawa kertas ujiannya dan kami mulai meninggalkan ruangan tersebut. Saat ku sudah berada di luar ruangan tersebut, Noa pun menghampiriku.

"Bagaimana dengan ujiannya Rid ? apakah mudah ?," tanya Noa.

"Hmm yah bagiku mudah sih," kataku menjawabnya.

"Kau benar, aku bahkan bisa menduga kalau aku akan mendapat 100 poin dari ujian ini," kata Noa dengan percaya diri.

"Kalau itu aku tak yakin," kataku menanggapinya.

"Kau meremehkanku ya Rid," kata Noa.

"Ya sudahlah, Bagaimana kalau kita ke kantin saja karena aku sudah lapar, apalagi tadi pengawasnya bilang kalau kita bisa memakan apa saja secara gratis," kata Noa seakan mengabaikan perkataan ku tadi.

"Baiklah, yuk kita ke kantin," kataku.

-

Kami pun segera pergi ke lantai 1 dan pergi ke belakang bangunan administrasi ini. Setelah sampai belakang, aku pun terpesona dengan desain bagian dalam akademi tersebut. Di belakang gedung administrasi adalah bagian dalam dari akademi, K

kantin berada di tengah. Di samping kiri dan kanan terdapat masing-masing 2 bangunan dan di belakang bangunan tengah ada 1 bangunan lagi. Masing-masing bangunan dihubungkan dengan lorong dan disamping lorong ada rerumputan dan bunga-bunga yang indah.

"Bagian dalam akademi ini benar-benar indah," kataku dengan takjub.

"Kamu benar Rid," kata Noa yang setuju denganku.

"Sudah cukup untuk terpesonanya, kita harus buru-buru ke kantin sebelum kehabisan tempat, Rid," kata Noa yang terlihat sudah sangat lapar.

Aku pun juga langsung bergegas ke kantin. Sesampainya di kantin, ternyata antrian untuk mendapatkan makannya cukup panjang.

"Lumayan juga ya antriannya," kataku.

"Aku lapar tapi ternyata masih harus mengantri lagi untuk mendapatkan makanannya," kata Noa mengeluh.

"Sabar sedikit, Noa," kataku ke Noa.

Walaupun antrian cukup panjang, tapi dapat terurai dengan cepat karena memang berkat para petugas kantin yang cekatan dalam menerima permintaan para peserta. Setelah beberapa menit, akhirnya giliran ku dan Noa untuk mendapatkan jatah makanan.

"Tuan, aku ingin Nasi kari tapi karinya dibanyakin ya," kata Noa ke petugas kantin tersebut.

"Aku juga nasi kari, porsi normal saja," kataku ke petugas kantin tersebut.

"Baiklah, tunggu sebentar ya," kata petugas kantin tersebut.

Aku dan Noa pun menunggu sebentar.

"Hahaha padahal sudah dikasih tau kalau memesan di kantin ini gratis, tapi ya yang namanya rakyat jelata tetap saja memesan makanan rakyat jelata," ucap seseorang dibelakangku.

Aku pun berbalik untuk melihat orang yang berbicara begitu, ternyata orang yang berbicara adalah anak dari Marquess Marcelo Buston, yaitu Javier Buston.

"Apakah ada yang salah dengan apa yang aku pesan ?," tanya ku kepada Javier.

"Ya itu tadi yang ku bilang, kalian rakyat jelata sudah diberitahu sebelumnya jika semua menu yang ada di kantin ini adalah gratis, dan kalian tetap memilih menu rakyat jelata," kata Javier.

"Terserah aku mau memilih apa yang akan ku makan, apa itu mengganggumu, Putra Marquess ?," tanya ku kepada Javier.

"Oh jelas sekali kalau melihat makanan rakyat jelata membuatku tidak nafsu makan. Tidak hanya makanannya, kehadiran kalian para rakyat jelata disini juga sangat merusak pemandangan," kata Javier sambil memprovokasi.

"Apa maksudmu berkata seperti itu ?," tanya Noa yang sepertinya sedikit terpancing.

"Bukannya sudah jelas, maksudku kalian disini hanya merusak pemandangan, lebih baik kalian pergi karena San Fulgen Akademiya itu cocoknya untuk bangsawan sepertiku, bukan rakyat jelata seperti kalian," kata Javier.

"Sepertinya kau harus diberi sedikit pelajaran ya Putra Marquess, jika kau babak belur disini, pastikan untuk tidak mengadu ke ayah tersayangmu itu," kata Noa yang bersiap mau memukul.

"Apa rakyat jelata sepertimu mau menyerang ku ?," kata Javier.

Saat Noa mau memukul, aku pun menghentikannya.

"Sudahlah Noa, buat apa buang-buang tenaga menghadapi dia," kataku menghentikan Noa.

"Tapi Rid, dia sudah mengolok-ngolok kita sebagai rakyat jelata," kata Noa.

"Sudah, biar aku yang urus saja dia. Kamu tetap tenang," kataku sambil menenangkan Noa.

"Hei kau bangsawan, tadi kau bilang kalo San Fulgen Akademiya hanya cocok untuk bangsawan sepertimu kah ? tidak cocok untuk rakyat jelata ?," tanya ku kepada Javier.

"Iya itu memang benar, apa ada masalah dengan perkataan ku ?," tanya Javier lagi.

"Apa itu berarti kau menentang peraturan yang dibuat oleh Yang Mulia Ratu ?," tanyaku lagi ke Javier.

"Apa maksud perkataanmu ?," tanya Javier yang tampak kebingungan.

"Kau bilang kalo akademi ini hanya untuk bangsawan kan ? tapi Yang Mulia Ratu bahkan mengundang kami para rakyat jelata untuk mengikuti ujian masuk ini. Jika akademi ini memang khusus untuk bangsawan, lalu untuk apa kami diundang ? Apa kamu mau menentang peraturan yang dibuat Yang Mulia Ratu dengan perkataanmu itu ?," kataku kepada Javier.

"Rakyat jelata keparat, apa kamu berusaha mengancam ku ?," tanya Javier yang tampak kesal.

"Mengancam ? aku tidak punya kedudukan yang tinggi untuk mengancam Putra Marquess sepertimu. Aku hanya mengatakan fakta yang terjadi. Dan lagi coba kau bayangkan jika kamu menentang peraturan yang dibuat oleh Yang Mulia Ratu, apa yang akan terjadi dengan ayah mu itu ? apa dia akan kehilangan gelar Marquess dan gelar bangsawannya karena perkataan yang dilontarkan anaknya ? Jika iya, apakah kau sudah siap ? Untuk menjadi rakyat jelata seperti kami," kataku memprovokasi Javier.

"DASAR KAU RAKYAT JELATA KURANG AJAR !!," kata Javier sembari mau memukulku.

"Sudah cukup, Putra Marquess," kata seseorang sambil menahan tangan Javier.

Ternyata itu Pangeran Charles yang menghentikan tangan Javier.

"Ugh, Pangeran," kata Javier.

"Bisa kau hentikan tindakanmu ini, tindakanmu barusan tidak mencerminkan apa yang harusnya para bangsawan lakukan," kata Pangeran Charles ke Javier.

"Tapi Pangeran, dia yang mulai lebih dulu," kata Javier.

"Aku sudah melihat masalahnya dari awal, kau terlalu ikut campur dengan makanan yang mereka pilih lalu memprotesnya. Mereka bebas memilih makanan yang mereka suka, tidak boleh ada yang memprotes bahkan merendahkannya. Apakah kau mengerti, Putra Marquess of Rovinj, Javier Buston ??," kata Pangeran Charles dengan tegas.

"Baiklah, saya mengerti Pangeran," kata Javier sambil membungkukkan kepalanya.

"Baguslah kalau kamu mengerti, silahkan lanjutkan untuk mengantri makananmu," kata Pangeran Charles.

"Baiklah, Pangeran," kata Javier menuruti.

Walau Javier terlihat menuruti perkataan pangeran tapi aku tahu dia masih mempunyai rasa dendam di pikirannya. Aku pun memutuskan melihat isi pikirannya.

"Rakyat jelata k*parat, lihat saja akan aku balas penghinaan ini," itulah yang terlintas di pikiran Javier.

"Tapi bukan kamu saja yang masih menyimpan rasa dendam wahai putra Marquess, aku pun juga masih menyimpannya. Apa aku harus mempermalukanmu di sebuah pertandingan ? Jika itu terjadi, aku akan menunjukkan kekuatanku kepadamu." batinku.

"Aku minta maaf ya pada kalian berdua, karena mengganggu kalian saat kalian mengantri makanan," kata Pangeran Charles kepada aku dan Noa.

"Kamu tidak perlu minta maaf Pangeran, kamu tidak salah satupun, yang harus minta maaf itu adalah dia." kataku ke Pangeran.

Tapi sepertinya dia tidak ada niatan untuk meminta maaf sedari awal.

"Begitu ya, karena makanan kalian sudah siap. Silahkan kalian lanjutkan untuk memakannya. Maaf sudah mengganggu waktunya," kata Pangeran dengan sopan dan sedikit membungkukkan kepalanya.

"Baiklah Pangeran, kami permisi dulu," kataku kepada Pangeran.

Kami berdua pun sambil membungkukkan kepala lalu segera pergi ke meja makan yang tersedia. Karena cekcok tadi, kami berdua pun menjadi pusat perhatian di kantin ini. Saat hendak menuju meja makan, aku sempat melihat Putri Chloe duduk di meja makan sambil melihatku. Saat tahu kalo aku juga melihatnya, Putri Chloe terasa malu tetapi langsung membungkukkan sedikit kepalanya. Entah itu sebagai permintaan maaf atau rasa hormat, jika itu permintaan maaf karena sedang melihatku harus tidak perlu karena peserta yang lain juga melihatku karena cekcok dengan Putra Marquess tadi. Jika itu untuk hormat, harusnya tidak perlu karena aku bukanlah orang yang mempunyai status bangsawan, kenapa seorang putri malah memberi hormat kepadaku. Entahlah, perilaku sang Putri itu sangat sulit untuk dipahami. Kami pun akhirnya duduk di meja makan dan segera memakan makanan yang kita pesan. Saat memakan pun kami juga berbincang-bincang.

“Pangeran Charles memang benar-benar keren ya, aku tak percaya kalau dia akan seangkatan dengan kita,” kata Noa kepadaku.

“Kamu benar, tidak banyak bangsawan-bangsawan yang punya sifat seperti Pangeran Charles. Harusnya para bangsawan itu meniru sifat dan sikap Pangeran Charles,” kataku menanggapi Noa.

“Kamu benar Rid, tapi aku penasaran jika tadi Pangeran tidak menghentikan Putra Marquess itu, apa yang akan terjadi ya ?,” tanya Noa kepadaku.

“Hmm ntahlah,” kataku menjawab Noa.

“Apa kamu yang akan dipukul oleh Putra Marquess itu atau kamu yang menyerang duluan Putra Marquess itu, ah sayang sekali aku tak bisa melihat kelanjutannya,” keluh Noa.

“Kamu seperti senang dengan keadaan seperti tadi,” kataku menanggapi Noa.

“Tentu saja, aku menantikan keadaan dimana bangsawan-bangsawan sombong tiba-tiba dipermalukan oleh rakyat jelata. Rasanya seperti aku akan menikmatinya,” kata Noa sambil tersenyum.

“Kalau kamu menantikan keadaan seperti itu, kenapa tidak kamu saja yang membuat keadaan seperti itu. Kamu menghadapi para bangsawan itu lalu mempermalukannya,” kataku.

“Tadi kan kamu menghentikan aku, Rid. Kalau kamu tidak menghentikan aku, mungkin aku sudah baku hantam dengan dia hahaha,’” kata Noa sambil tertawa.

“Benar juga tadi aku menghentikanmu, tapi jika kamu benar akan baku hantam dengan dia apakah kamu tidak takut jika dia mengganggu kehidupanmu. Kalau aku sih sudah terlanjur melakukannya tadi, jadi sepertinya aku sekarang sudah menjadi incarannya,” kataku kepada Noa.

“Jangan khawatir, kalaupun dia menggangguku, dia cuma akan menggangguku saja, tidak dengan keluargaku. Karena saat kamu masuk San Fulgen Akademiya, kamu tidak akan bisa keluar dari komplek akademi dan berkontak dengan orang-orang dari luar, kamu harus tinggal di asrama di dalam komplek akademi, dan untuk kebutuhan mu sudah ada di sekitar komplek akademi. Tapi itu untuk yang lulus tes masuknya sih, tapi mengingat status bangsawannya sepertinya dia akan lulus, jadi aku tak perlu khawatir jika dia tak lulus dan mengganggu keluargaku. Lagipula yang sekarang menjadi incarannya kan kamu, Rid, hahaha,” kata Noa sambil tertawa.

“Tertawalah sepuasmu,” kataku sedikit kesal.

-

Kami pun akhirnya selesai makan siang di kantin. Sembari menunggu pengumuman hasil ujian masuk yang pertama, kami pun memutuskan untuk menunggu di kantin saja sambil duduk di meja makan yang kita tempati tadi.

“Rasa karinya sangat enak ya, apa ini karena ku lapar atau karena gratis ya ?,” tanya Noa kepadaku.

“Mungkin karena keduanya,” jawabku.

Kondisi kantin mulai sepi karena sebagian besar peserta yang sudah makan memilih untuk meninggalkan kantin, mungkin mereka ingin berjalan-jalan melihat akademi. Saat ku sedang duduk santai, aku melihat ke sekeliling kantin. Dan aku melihat Putri Irene dan 2 orang yang menemaninya makan siang.

“Siapa yang menemani Putri Irene ? Apakah sang Putri es akhirnya mendapatkan teman pertamanya di ujian masuk ini ?,” pikirku.

Setelah ku perhatikan lebih teliti, ternyata yang menemani Putri Irene bukanlah manusia, tapi seorang Demi-Human rubah dan seorang Elf, keduanya adalah wanita.

“Demi-Human dan Elf ? Aku tahu kalau akademi ini juga mengundang peserta dari luar kerajaan San Fulgen, tapi tak kusangka ada Demi-Human dan Elf yang mendaftar dan lolos untuk ikut ujian masuk. Tapi aku tidak melihat mereka saat kumpul di lobi sebelum ujian dimulai,” batinku.

Aku terus melihat Putri Irene dan 2 temannya itu, sampai Noa pun juga penasaran dengan apa yang aku lihat.

“Apa yang kamu lihat Rid ?,” tanya Noa kepadaku.

“Aku sedang melihat putri Irene dan 2 temannya itu,” jawabku.

“Temannya ?,” Noa pun heran dan ikut melihat ke arah Putri Irene juga.

“Mereka kan!,” kata Noa sedikit terkejut.

“Apa kamu kenal dengan mereka ?,” tanyaku kepada Noa.

“Mereka itu asistennya sang Putri es, yah bisa dibilang juga kalau mereka itu temannya juga. Aku sering melihat dia jalan bersama kedua asistennya itu saat di kota San Lucia. Tapi aku terkejut melihat sang putri juga mendaftarkan asistennya ke akademi ini,” jawab Noa.

“Jadi mereka itu asistennya Putri Irene, kenapa aku baru melihat mereka sekarang ? Mereka tidak menemani Putri Irene saat di lobi tadi,” tanyaku lagi kepada Noa.

“Aku juga tidak tahu tentang itu, sepertinya mereka diberi tugas untuk mengawasi tempat lain,” jawab Noa.

Setelah kami berbincang tentang hal tadi, aku pun melihat lagi ke arah Putri Irene, dan kali ini Putri Irene juga melihat ke arahku. Sepertinya dia sadar kalau daritadi aku memperhatikannya, aku pun membungkuk ringan sebagai bentuk hormat. Karena aku tidak enak dilihat terus oleh Putri Irene, aku pun mengajak Noa untuk pergi dari kantin.

“Sepertinya sebentar lagi hasil ujian masuk yang pertama sudah keluar, bagaimana kalau kita pergi ke lobi,” kataku mengajak Noa.

“Benar juga, ya sudah kita pergi kesana saja,” Noa pun setuju.

Kami pun segera pergi dari kantin itu.

-

Sementara itu di tempat Putri Irene.

“Ada apa Nona ? Apa kamu tertarik dengan pria itu ?,” tanya sang asisten Elf ke Putri Irene.

“Ya kamu benar, aku sedikit tertarik dengan dia,” jawab Putri Irene.

“Heee apa yang dilihat dari pria itu sampai membuat sang Putri Es tertarik ? apa karena tadi dia berseteru dengan seorang putra dari Marquess,” tanya asisten rubah.

“Mungkin itu juga termasuk alasannya tapi, mungkin karena keberadaan dia, entah kenapa seperti berbeda dari orang lain,” kata Putri Irene,

“Jadi alasannya karena feeling Nona mengatakan begitu ya ?," tanya asisten Elf.

"Tadi aku lihat kalau dia juga sering memperhatikan Nona, apa mungkin dia tertarik juga dengan Nona ?," tanya asisten Elf lagi.

“Kamu benar, dia sering memperhatikanku tadi, tapi cara dia memperhatikan berbeda dari kebanyakan sampah yang memperhatikanku dengan memiliki maksud tersembunyi. Sepertinya dia punya alasan khusus tersendiri," jawab Putri Irene.

"Kalau tidak salah namanya adalah Rid Archie, seorang rakyat biasa dan yang bersama dengannya adalah Noa Sigisbert, kita dulu pernah bertemu dengannya saat berkeliling di San Lucia," kata asisten Elf.

"Rid Archie ya," kata Putri Irene.

"Apa perlu kami memata-matai dia, nona ?," tanya asisten rubah.

"Tidak perlu, aku merasa kalau kalian dapat mudah diketahui jika memata-matai dia, biarkan saja," kata Putri Irene.

"Baik, Nona," kata mereka berdua.

"Rid Archie ya, apa mungkin dia bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah "itu"," pikir Putri Irene.

"Tapi ya Nona, meski tadi kamu bilang kalau kamu tertarik dengannya. Kenapa kamu tidak tersenyum saat membahas dia ?," tanya asisten rubah.

"Apa aku harus tersenyum saat membahasnya ?," tanya Putri Irene.

"Uh tidak sih, kamu benar-benar seorang putri es, Nona," kata asisten Rubah.

"Haha," tawa kecil asisten Elf.

-

Kembali ke sisi Rid & Noa. Waktu sudah menunjukkan jam 12, sepertinya hasil ujian masuk tahap pertama sudah keluar.

"Ayo Rid bergegas, sepertinya hasilnya sudah keluar," kata Noa.

"Ayo Noa," kataku.

Kami pun berjalan cepat di lorong yang menghubungkan kantin dan bangunan administrasi. Setelah kami sampai di lobi bangunan administrasi, ternyata sudah banyak peserta yang mau melihat hasil tesnya. Kami pun segera menghampiri kerumunan itu. Mereka semua tampak terkejut dengan hasil tes itu.

"Aku pikir aku sudah menjawab semua pertanyaannya dengan benar, kenapa poin yang ku dapat bukan 100,"

"Aku juga tidak mendapatkan 100 poin padahal aku yakin kalau jawabanku sudah benar semua,"

"Kenapa cuma 1 orang yang berhasil mendapatkan 100 poin, dan bahkan orang itu bukan Pangeran dan Putri," kata mereka di kerumunan itu.

Aku penasaran apa yang mereka maksud dengan itu.

"Rid, apa kamu sudah melihat hasil ujiannya ?," Tanya Noa.

"Belum Noa, aku tadi masih kepikiran dengan yang mereka maksud,". jawabku.

"Sebaiknya kamu cepat melihat ke hasil ujiannya, Rid," kata Noa.

"Iya iya baiklah," kataku.

Aku pun langsung melihat ke arah kertas hasil ujian yang ditempelkan di papan pengumuman. Aku pun terkejut dengan hasil ujian itu.

Hasil Ujian Masuk Tahap Pertama-Ujian Quiz :

1. Rid Archie = 100 poin

2. Charles Estella San Fulgen = 95 poin

3. Chloe Estella San Fulgen = 95 poin

4. Irene Emerald San Lucia = 95 poin, dan seterusnya. Aku pun melihat hasil ujian sampe kebawah dan menemukan hasil ujian Noa yang memperoleh 95 poin juga.

"Hampir semua peserta mendapatkan 95 poin, Noa pun mendapatkan 95 poin. Aku tadi berpikir jika soal ini sangat gampang dan mungkin kebanyakan peserta bisa mendapatkan 100 poin. Tapi kenapa hanya aku yang mendapatkan 100 poin ?," pikirku.

"Apa ada soal yang jawaban aslinya hanya aku yang mengetahuinya ?," pikirku lagi.

-Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED