Bab 2

Jika kau ingin bandingkan aku dengan dirinya

Coba sajalah.. coba sajalah..

Jika kau ingin sandingkan aku dengan dirinya

Lihat sajalah.. lihat sajalah..

Ku pasti jadi pemenang..

Saat tiba waktunya jam istirahat, keramaian erat sekali tercipta dalam gedung aula serba guna SMA Cakrawala. Terlihat sebuah grup musik tengah unjuk performanya di sebuah panggung kecil itu, mereka menanami grup yaitu "KepriBand" yang digawangi oleh empat orang cowok kece, termasuk salah satunya Jafar yang pegang bass. Seorang vokalis dengan tampang di atas rata-rata, drumer dan juga sang gitaris adalah murid kelas sebelas.

Dentuman alat musik itu amat menggema di dinding sampai terdengar dari luar, membuat banyak murid berdatangan silih berganti dan ikut menonton sambil bernyanyi bersama. Salah satunya Shaina, yang semula ditarik ke tempat itu oleh Dera-teman terdekat di kelas, berdesak-desakan hingga sampai di barisan terdepan.

Kerumunan cewek-cewek itu terlihat begitu sumringah sambil jingkrak-jingkrak meneriakkan kencang nama Jafar, yang memainkan bass dengan mantap sampai badannya miring-miring disertai sebelah kaki terangkat menginjak sound di depannya. Begitu pula pemegang drum, sesekali melempar ke atas sticknya lalu ditangkap kembali dengan cekatan. Pun, si vokalis ganteng sampai mengangkat mike dan meloncat-loncat seirama musik.

Pilih aku.. pilih aku.. bukan dia.. bukan dia..

Karena aku.. karena aku.. yang pantas untuk kamu..

Pilih aku.. pilih aku.. bukan dia.. bukan dia..

Karena aku.. karena aku.. terbaik untuk dirimu..

Sebuah hiburan yang seru, di antara murid-murid itu Shaina tersenyum lebar sepanjang menit KepriBand beraksi. Bersama Dera yang amat menggilai si kakak vokalis sampai menjerit-jerit menembus kebisingan.

"KAK ERVAN!!! AKU PADAMU!!! SARANG HAEYO!!!"

"Berisik!" Shaina mengumpat sambil menutup telinga. Tapi Dera tidak mengindahkannya dan tetap antusias melantunkan lirik lagu keras-keras sampai tiba di detik terakhir musik selesai. Empat cowok itu membungkukkan punggung bersama di depan panggung kecil itu, seiring dengan tepuk tangan meriah dan sorakan kencang yang berpadu dengan siulan-siulan dari arah belakang.

Persis, mereka turun sembari berbincang kecil tidak jauh dari Shaina dan Dera berada, hingga ke-empatnya saling bertos-ria satu sama lain. Langkah mereka terhenti di hadapan Shaina dan Dera yang tersenyum kikuk lalu saling menyenggol lengan, dimana sejak tadi sudah mencuri perhatian karena teriakan Dera paling keras.

"Shaina, lo kesini juga. Menurut lo penampilan kita tadi gimana?" tanya Ervan dengan tatapan yang teduh.

"Kakak keren banget!" belum sempat Shaina buka mulut Dera sudah lebih dulu menyambar sambil mengacungkan kedua jempol dengan gemas. "gue suka lagunya! Bagus!"

"Iya, bagus kak." puji Shaina.

Apa Shaina tidak mengecek lokernya, mengapa malah kesini. Batin Jafar, rencananya tidak berjalan. Tak ingin mereka mengobrol lebih banyak, Jafar langsung menarik Shaina keluar dari gedung itu setelah sebelumnya sempat melirik jam tangan. Meninggalkan Ervan cs dan juga Dera, Jafar hanya mengatakan keduanya ada urusan penting.

Entah kemana tujuannya, sepanjang koridor Shaina terus saja diseret-seret kesana-kesini seperti karung beras.

"Woy, Jafar, lo ngapain sih." Shaina mendengus kesal seraya melepaskan cekalan Jafar pada lengannya yang agak membekas. "lo pikir gue gak bisa jalan gitu hah."

"Ish, Shaina, gausah bawel lo tuh udah ditungguin."

"Ditungguin siapa sih?"

Semakin dibuat heran. Alih-alih menjawab, Jafar kembali menarik Shaina hingga tiba di gudang belakang sekolah yang sepi dan gelap. Setelah mengantar Shaina masuk, Jafar memberi interuksi supaya Shaina diam sebentar disana dan tidak pergi kemana-mana. Lagi, Jafar tidak memberi kesempatan untuk Shaina klarifikasi maksud sebenarnya, Jafar bergegas meninggalkan Shaina lagi.

"Heh, Jafar!" Shaina berniat menyusul tapi sayang pintu dikunci dari luar. Dipukulnya keras-keras daun pintu itu, Shaina berdecak sebal. "Rese banget sih ngapain coba!"

Sendiri. Raut wajah Shaina berubah masam saat melihat sekitarnya. Bangku-bangku tak terpakai, kursi dan papan tulis usang, sarang laba-laba, lantai berdebu, dan hawa pengap. Shaina memilih untuk singgah di dekat jendela, dimana kacanya sudah retak dan garis-garisnya membagi beberapa bagian. Oleh karena itu, di empat sisi jendela dipalang oleh dua buah balok kayu untuk menahannya.

Menit demi menit kian terlewati, hingga tak lama samar-samar Shaina mendengar pintu dibuka lalu ditutup lagi, dan dua suara berbeda sempat bersahut-sahutan tapi hanya sebentar. Disusul derap langkah seseorang, Shaina mengerjap mendapati bayangan tubuh jangkung yang mulai mendekat perlahan. Sorot cahaya dari luar jendela terpapar ke arah punggung itu, dia berjalan mundur seraya mengusap tengkuk sebelum akhirnya berbalik.

"Shaka!" panggil Shaina lalu bergerak menghampirinya. "lo diseret kesini juga? Jafar mana kok gak sama lo?"

"Katanya gue disuruh beresin gudang."

Shaina tepok jidat. Bersamaan dengan itu ponsel Shaka bergetar dalam sakunya, dan ia mendapatkan sebuah vn. Keduanya mendengarkan bersama suara kiriman Jafar.

"Selamat menikmati waktu PDKT kalian! Hahaha!"

Astaga. Seketika Shaka mengusap wajahnya gusar. Jafar benar-benar gila dan terlalu berambisi, sampai-sampai Shaka harus dikurung bersama Shaina di dalam gudang itu. Belum lagi alergi debu membuat Shaka bersin-bersin dan mengusap hidung. Lalu apa yang harus ia lakukan.

"Ka, sebenernya lo nulis apa sih tadi di kelas? Gue gak mudeng bahasa Korea serius deh." Shaina mengungkit soal itu karena rasa penasaran masih merundungnya.

"Kepo." satu kata saja, respon yang sangat singkat. Shaka lalu melipat tangan di dada dan menyender di dinding.

Menyebalkan. Sok cool. Shaina mengumpat dalam hati. Tapi, benar juga, mengapa ia harus kepo dengan orang semacam Shaka yang pelit berbicara. Tapi, Shaina paling tidak betah berada dalam diam. Hingga satu ide melintas, Shaina tersenyum lebar sembari menjentikkan jari. "Eh, Shaka, dari pada gabut mending kita adu panco lagi yok. Kali ini gue yakin deh, gue pasti bisa mengalahkan elo."

"Ogah." lagi, Shaka tampak acuh tak acuh.

"Dih, sekali aja ayo biar rame."

"Gak."

Bisa tidak sih, Shaka itu santai sedikit tidak perlu ngegass. Shaina jadi terbawa suasana ingin mencekik leher itu. Tapi ia tidak mau disangka bar-bar. Shaina menghela napas jengah dan ikut menyender di samping Shaka sembari menekuk sebelah lutut. Ketika sudah mulai bosan seperti ini, pikiran Shaina mulai hanyut dalam angan-angan.

Tubuh saling bersandar ke arah mata angin berbeda..

Suara lembut nan merdu itu, terasa menggelitik dalam gendang telinga Shaka. Dan benar saja, Shaina tengah bersenandung kecil dengan segenap penjiwaan lewat pandangan kosong yang hanya menatap lurus ke depan.

Kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar.

Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama.

Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut ku hilang.

"Fales!" Shaka menggerutu pelan meski kontradiksi, tidak selaras dengan hati. Akibatnya lengan Shaka mendapat tabokan keras oleh Shaina dengan muka memberengut.

"Lo tuh rese banget sih, Ka! Lo bilang suara gue fales! Lo gak tau apa, gue selalu juara setiap ada lomba paduan suara di SMP! Mungkin kuping lo aja kali yang agak bermasalah jadi lo gak bisa membedakan mana suara emas yang bagus dan mana suara yang-aaaaaaa!"

Mendadak sorot mata Shaina menangkap seekor tikus curut keluar dari bawah meja dan berlari cepat menuju ke arahnya. Sontak Shaina memeluk Shaka erat-erat sembari menjerit histeris dan heboh sendiri. Sekejap saja sekujur tubuh Shaka menegang akan dekapan Shaina yang menenggelamkan wajah dalam dada bidangnya.

"KYAAAAAAAA!!! SHAKAAA!!!! ADA TIKUUSSS!!!!"

Binatang sekecil itu, dia takut? Pikir Shaka.

"Eh, itu di kaki lo."

"MANA MANA MANA!!! BURUAN USIR SHAKAAA!!!!"

"Modus. Tikusnya udah pergi."

Nadanya rendah, tapi terasa melengking sekali. Shaina langsung melepaskan dirinya dari Shaka dan melihat ke bawah kaki dengan takut-takut. Ternyata tikusnya sudah pergi, Shaina mengelus dada dengan napas lega sebelum akhirnya melemparkan tatapan tajam kepada Shaka.

"Jangan geer. Gue takut, bukan modus. Ngerti?" ujarnya penuh penekanan. Di sisi lain Shaina tentu tidak terima.

"Sama aja." dan, mereka saling membuang muka dengan canggung. Shaka menetralisir degupan jantungnya yang tak wajar sedangkan Shaina merutuki dirinya sendiri.

Tak lama setelah Shaka berucap, terdengar bel masuk berkumandang. Keduanya seketika mendelik dan berlari terbirit-birit menuju ke pintu keluar. Berulang kali sudah Shaka menekan gagang pintu dan mencoba mendobrak tapi tetap tidak bisa terbuka. Sementara Shaina terus menggedor-gedor berharap ada orang yang menolong.

"WOYYY!!! SIAPAPUN DI LUAR BUKAIN DONG!!!"

Bahkan sampai Shaina capek dan tenggorokannya serak, hasilnya masih nihil, satu orang pun tak kunjung datang.

"Percuma." gumam Shaka lesu.

"Terus gimana caranya keluar dari sini?" tanya Shaina dengan sisa-sisa suaranya. "Disini gak ada udara, Ka."

Semua gara-gara Jafar. Keduanya putus asa dan berbalik memunggungi pintu hingga lutut terduduk bersama di lantai. Shaina meluruskan kaki lalu mengibas-kibaskan telapak tangan di depan wajah seperti halnya ikan yang dilepas ke daratan, Shaina menghirup oksigen banyak-banyak demi kelangsungan hidup paru-parunya. Ia baru menyadari ternyata ruangan itu tidak terdapat fentilasi.

Tak jauh berbeda, Shaka juga sudah lelah. Tak tau apa yang harus dilakukan, Shaka hanya menyandarkan belakang kepala, diam, dan memejamkan matanya. Wajah tampan itu nampak tenang dan damai, Shaina mengerjap beberapa kali selama memperhatikannya.

"Ka, tunggu deh, kalo dipikir-pikir ya, poros masalah kenapa kita disekap disini itu sebenernya karena elo." ucapan Shaina mengusik ketenangan Shaka hingga kelopak mata itu membuka dan menatapnya dalam.

"Karena lo jomblo, makanya Jafar jadi mak comblang. Sampe akhirnya gue ikutan kena, kena taruhan itu dan harus PDKT sama lo. Terus, yang kaya gini namanya PDKT? Dimana-mana ya, cowok kalo deketin cewek itu dimanis-manisin, dibaik-baikin. Tapi lo malah sebaliknya, datar kaya papan triplek. Lo tuh aneh tau gak sih, Ka."

Shaina geleng-geleng kepala, tanpa sadar penuturannya membawa kesan seakan-akan ia ingin benar-benar PDKT dengan Shaka. Dan Shaka paham itu tapi ia tak berbuat banyak selain tersenyum miring dan menikmati setiap tarikan napasnya. Dalam kebisuan yang berlarut-larut, lambat-laun Shaina merasakan kantung matanya berat.

Berakhir kepalanya terjatuh di pundak Shaka.

Bab 3

Shaina mengerjapkan mata perlahan, lalu mengangkat kepala merasakan pegal-pegal di sekitar leher. Matanya sudah membuka sempurna, tapi Shaina tak menemukan bayangan apa-apa di depannya. Suasana di sekeliling benar-benar gelap tanpa seberkas cahaya sedikitpun. Tak sadar, Shaina dan Shaka tertidur di gudang sampai selarut ini dan tidak ada seorang pun menyelamatkan.

"Shaka! Bangun, Ka! Ini udah malem!" Shaina meraba-raba tubuh kekar di sampingnya, hingga menyentuh sebuah rahang yang keras. Shaina menepuk-nepuknya tidak santai hingga Shaka menggenggam tangannya.

"Shaka banguuunn!!! Kita masih kejebak di gudang!!!" Shaina merengek dan mengguncangkan pundak Shaka.

"Apaan sih." Shaka bergumam setengah sadar, sesaat mengumpulkan nyawa sembari merogoh ponsel dalam saku baju seragam. Pukul 19.30, persis. Shaka terbelalak melihat angka jam di layar, lalu menyalakan senter untuk menerangi sekitarnya. Terlihat Shaina ketakutan saat itu.

"Shaka gimana kita keluar dari sini, bisa-bisa ntar gue diamuk bonyok jam segini belum pulang!!!" Shaina terus mengomel hingga terdengar suara berisik gludak-gluduk yang cukup keras pada bangku-bangku usang di pojok ruangan. Shaina menjerit histeris dan spontan memeluk Shaka parnoan sendiri. "Shakaaaa!!! Itu apaaann!!!"

"Eh, eh, eh.. bukan apa-apa cuma tikus."

"Apaaa!! Tikusss???!!! Kyaaaaaa!!! Shakaaaaa!!!"

Shaka semakin serba salah karena pelukan Shaina jadi lebih erat. Beberapa kali Shaka mencoba melepaskannya seraya beranjak berdiri, tapi Shaina masih mencengkram erat lengannya ketakutan. Sungguh merepotkan, Shaka hanya mengumpat dalam hati dan mengarahkan senter ponselnya menerangi sekitar. Menekan gagang pintu dan mendobrak berulang kali tapi tidak membuahkan hasil.

"Ka, cari cara buruan, gue takut disini gelap banget."

Pusing tujuh keliling. Shaka sudah memutar otak tapi kepalanya buntu, tak mendapat solusi. Hingga tak sengaja ia mendengar derap langkah kaki seseorang beserta siulan-siulan ringan, Shaka mengisyaratkan Shaina untuk diam dan menajamkan pendengaran. Suara sepatu itu semakin lama semakin mendekat, tak salah lagi itu adalah satpam yang sedang berpatroli. Harapan.

Shaka dan Shaina langsung menggedor-gedor pintu sekencang mungkin. "TOLONGGG!!!! TOLONGGG!!!!"

Waktu berselang, Shaka mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, bersama Shaina yang duduk manis di jok belakang, susah-payah menahan dinginnya angin malam dengan memeluk lengannya sendiri sepanjang jalan. Belum lagi perut melilit kelaparan, hari ini benar-benar apes. Beruntung satpam itu membawa banyak kunci serep sehingga bisa mengeluarkan mereka cepat.

"Shaka, nanti lo bantuin gue ya, cari-cari alesan apaan yang masuk akal biar bonyok gue gak curiga, soalnya gue gak pernah pulang telat kaya gini. Gak mungkin juga kan gue bilang kita dikurung ama Jafar di gudang, pasti mereka bakal ngiranya yang enggak-enggak." Shaina angkat bicara disela-sela angin meniup rambutnya.

"Gampang." cetus Shaka singkat. Dalam hati kesal dan memaki Jafar dengan beragam sumpah serapahnya.

"Nanti abis perempatan depan belok kiri."

"Hm."

Tak ada pembicaraan setelahnya. Shaka fokus menyetir dan semakin lama kecepatannya kian bertambah hingga Shaina mau tak mau harus memeluknya. Dalam sehari ini, entah sudah berapa kali Shaina melakukan itu. Tak dapat dipungkiri, punggung kokoh Shaka mampu memberikan rasa hangat. Sangat kontras dengan sikap dingin Shaka.

Di tempat lain, di depan pintu rumah itu, Kanaya sedari tadi mondar-mandir dengan cemas sementara Andika sibuk membaca koran di kursi kayu sesekali menyesap teh manis. Hari sudah malam tapi Shaina belum pulang sekolah, Naufal juga sudah dua kali bolak-balik SMA Cakrawala tapi tidak kunjung menemukan Shaina.

"Pah, apa sebaiknya kita lapor polisi aja? Ini udah jam sembilan tapi Shaina belum pulang. Kalo terjadi apa-apa sama dia gimana?" tanya Kanaya sembari duduk di kursi samping Andika. "Mama takut Shaina pulang tinggal-"

"Kita tunggu aja ma, pasti Shaina pulang kok. Gak usah berpikiran yang macem-macem." balas Andika santai. Sehati dengan anak perjakanya, Naufal tampak asik mengotak-atik ponsel bahkan sesekali cengar-cengir sendiri saat mulut bergoyang mengunyah permen karet.

"Kalian emang gak tau suasana genting ya! Shaina itu anak gadis mama! Kalo dia dibegal di jalan gimana! Dirampok diculik sama orang-orang sindikat ISIS! Terus diperdagangkan! Tega kalian hah!" Kanaya masih tak bisa tenang dan terus mengomel seperti cacing kepanasan.

Lebih menyebalkan lagi beliau tidak digubris. Ayah dan anak sama saja. Bermenit-menit menunggu lama, akhirnya sebuah motor datang dan masuk ke halaman rumah Itu. Andika menutup koran bersamaan Naufal menyimpan ponsel, seketika melihat Shaina diantar pulang oleh seorang cowok dengan seragam sama.

"Shaina! Kamu kelayapan kemana aja sih! Mama tuh khawatir sama kamu!" Kanaya langsung memeluk anak perawannya itu, yang wajahnya terlihat sedikit pucat.

"Dari mana saja kamu Shaina? Kenapa bisa jam segini baru pulang?" timpal Andika lalu beranjak dari tempat duduk, sembari membenarkan letak kaca mata Andika mengarahkan telunjuk kepada Shaka. "terus ini siapa? Kenapa bisa sama laki-laki? Berani ya kamu bawa pergi anak saya tanpa ijin? Apa yang sudah kalian perbuat di luar sana sampai semalam ini baru pulang sekolah?"

"Astaga, kecil-kecil udah pacaran." sahut Naufal.

"Gue gak pacaran!" Shaina menyanggah kilat.

"Sebelumnya maaf, om, tante, kakak .."

"Mas boy. Panggil gue mas boy, jangan kakak, itu terlalu unyu gue gak suka." Naufal meralat ucapan Shaka dengan songongnya. Menjadikan Shaina gemas ingin menjitak.

"Iya mas. Saya Shaka, temen sekelas Shaina. Jadi, dari jam pulang sekolah tadi sebenarnya Shaina ngerjain tugas di rumah saya, semacam penelitian ilmiah begitu, banyak yang harus dikerjakan dari melakukan eksperimen sampai membuat laporan. Saya salah karena tidak meminta ijin dulu sama om dan tante. Jadi saya minta maaf." Shaka merundukkan sedikit punggungnya di kalimat terakhir.

"Tuh denger!" Shaina menyeletuk keras sambil menatap tajam Naufal. "Ngerjain tugas ilmiah! Bukan pacaran!"

"Oh ya? Masa?" tanya Naufal dengan nada menggoda. "udah pa, hukum aja, Shaina. Jangan percaya anak jaman sekarang pergaulannya bebas, bisa aja kan mereka ngibul doang padahal mah pacaran. Hayo abis ke puncak kan?"

Shaina mendelik seketika. "Mas gak usah ngarang yang engga-engga! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!"

Shaka lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah makalah dengan sampul warna biru muda. Shaka menunjukkan kepada Andika. "Itu sebagai buktinya, om, saya harap om tidak menghukum Shaina. Kalau memang ada yang harus bertanggung jawab, mungkin orang itu adalah saya. Karena saya, om tante dan mas jadi khawatir mencari Shaina. Sekali lagi saya minta maaf, dari hati."

Final. Andika lebih percaya Shaka dari pada Naufal yang hanya tau provokasi. Memang dasar kompor meleduk.

Selepas Shaka pulang, Shaina langsung mengganjal perut dan membersihkan badan. Tidak ingin diinterogasi lebih lanjut, Shaina mengunci pintu kamar dan tepar di tempat tidur untuk melepas penat. Tapi sayang matanya tidak bisa memejam karena sudah nyenyak tidur di gudang bersama Shaka. Oh, astaga, mengapa konyol sekali.

Shaina meraih ponselnya di atas nakas dan mengetikkan sebaris pesan singkat yang ditujukan pada nomor Shaka.

Shaina : shaka makasih ya, tadi udah bantuin

Tak lama, Shaina mendapat balasan.

Shaka : ya

Shaina : bisa agak panjang dikit?

Shaka : engga

Shaina : jadi definisi pdkt menurut lo kaya gini?

Shaka : mksd el

Shaina : lupain

Shaka : oh

Shaina : tau ga sih gw tuh pengen cekik elo sumpah, dari pertama masuk sekolah cuma lo murid sombong dan tengil yg selalu jual mahal gamau diajakin adu panci

Shaina : *panco

Shaka : masa

Shaina : tau ah capek ngomong ama lo

Shaka : gw cuma ngetik ga ngomong

Shaina : terserah ga peduli bodo amat

Shaka : gw ga sombong

Shaina : terus? down to earth? mendarat ke tanah?

Shaka : nyusruk dong

Shaina : pinter hahaha

Shaka : bau

Shaina : hebat banget bisa sampe situ

Shaka : hm

Shaina : bisa ngobrol baik-baik ga sih ka?

Shaka : capek

Shaina : yaudah selamat tidur

Shaka : blm ngntk

Shaina : ga ngerti gw maunya lo tuh gimana, ngajak ribut mulu perasaan, jangan² nyokap lo dulu ngidam kanebo

Shaka : hahaha

Shaina : tawa lagi seriusan ka

Shaka : dasar aneh

Shaina : baru pdkt aja udah sepet kaya gini ga kebayang banget gimana jadinya kalo pacaran sama lo shaka

Shaka : gausa dibayangin

Shaina : tapi gw pengen bayangin

Shaka : oh

Shaina : kalo laper makan dulu

Shaka : udah

Shaina : kenapa lo gamau nyari topik ngobrol sih ka dari tadi cuma gw terus yg ngoceh lo gamau nanya² apaan

Shaka : engga

Shaina : ga seru deh shaka

Shaka : block aja

Shaka : chat yg lain

Shaina : ga ah males

Shaina : gw minta maaf ya ka soal yg di gudang tadi gw udah lancang maen peluk² lo abisan gw takut gelap

Shaka : gpp

Shaina : cie seneng dipeluk orang syantiq

Shaka : mimpi

Shaina : gw belum bobo ka, masih melek

Shaka : bodo

Shaina : besok panco lagi ya ka gw tunggu di kelas

Shaka : mls

Shaina : oke besok kita panco

Read.

Shaina membalikkan badannya menatap langit-langit. Kalau dipikir-pikir Shaka lucu juga. Meski di luar dia cuek, tapi saat berhadapan dengan Andika tadi Shaka begitu gentle dan sopan, tak disangka. Dari sekian banyak cewek di sekolah, hanya Shaina yang sedikitnya masih direspon.

Menakjubkan, Shaina jadi bangga diri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED