Bab 2

SUARA-suara itu lagi…

Sebenarnya suara-suara itu sudah sangat biasa dia dengar. Sangat terbiasa sampai dia merasa bosan dan merasa hidupnya hanya berisi suara-suara itu. Sangat terbiasa sampai seribut apa pun suara-suara itu tidak bisa mengganggu kehidupannya. Jika suara itu mengganggu alunan musik yang sedang dia dengar, dia cukup membesarkan volume suara pemutar musiknya saja. Atau memakai head set.

Suara kedua orangtuanya ribut.

Ah, paling Papa ketahuan selingkuh lagi.

Iya. Itu sudah kebiasaan lelaki yang dengan sangat terpaksa dia panggil Papa—Harsa Barata. Kebiasaan yang membuat mamanya—Lily Barata—selalu berurai air mata. Tapi itu juga yang membuat Nayara marah pada mamanya. Kenapa harus bertahan dengan pasangan seperti itu? Kalau menikah dengannya adalah sebuah kesalahan lalu kenapa harus dipertahankan? Perbaiki saja kesalahan itu dengan pergi. Lalu memulai hidup baru. Tak peduli ada tiga anak yang harus dihidupi. Orangtua seperti orangtuanya selalu beralasan bahwa mereka bertahan demi anak-anaknya tetap memiliki keluarga yang utuh.

Utuh apanya?

Secara fisik memang utuh, ada ayah dan ibu. Tapi apakah mereka sadar, keributan yang mereka hadirkan nyaris setiap hari justru mencabik-cabik jiwa anak-anaknya? Nayara yang sekarang berusia 22 tahun sudah terbiasa dengan itu. Tapi adiknya?

Ah, adiknya.

Ini pun sebuah kesalahan.

Kenapa bisa sampai bisa lahir anak ketiga dengan kondisi pernikahan seperti itu? Tak cukupkah dua anak yang menderita sampai harus ada yang ketiga? Adisty sekarang belum lagi 16 tahun. Walau dua kakaknya berusaha sekuat tenaga menjaga perasaannya, tetap saja jiwa anak menjelang remaja itu terguncang. Seterguncang dua kakaknya. Tapi dua orang ini sudah lebih bisa mengendalikan emosinya. Mereka terlihat baik-baik saja.

PRANG…

Suara benda jatuh—entah apa—tidak membuat Nayara peduli. Dia tetap asyik dengan gadgetnya sambil bersandar nyaris rebah di kepala ranjang. Tapi ketika suara melengking ketakutan dari mamanya dia baru merasa ada yang aneh. Biasanya tidak semelengking itu. Ketakutan yang berbeda. Nayara mulai bersiaga. Dia duduk tegak di tepi ranjangnya.

“BANGSAT!!!”

Mendengar itu Nayara langsung terbang menerjang pintu. Itu suara Jaya—Satria Jayantaka—abangnya. Dia tak pernah masuk di keributan orangtuanya. Ada yang tidak beres…

“JANGAN….!!! Itu suara ibunya.

Nay berlari turun sepanjang tangga. Tapi di tengah tangga dia melihat semuanya. Jaya sudah nyaris menusukkan pisau ke perut Harsa jika saja tangan Lily tidak menahan lengannya.

Ini tidak seperti biasanya…

Nayara mempercepat langkahnya begitu dia kembali tersadar. Lalu segera bergabung dengan ibunya menahan tangan Jaya.

“PERGI CEPAT, PAH!!” teriak Lily. Suaminya masih terhenyak, tak bisa bergerak. “PERGI! SEKARANG!”

Lalu, seperti ada pecut mengenai bokong Harsa, mendadak dia bergerak—lari—ke depan rumah. Jaya semakin menggila. Dua wanita sampai kelimpungan. Lalu tiba-tiba Nayara tersadar, buat apa dia membantu mamanya? Bukankah akan lebih baik jika papanya Jaya—dia selalu menyebut Harso dengan frasa itu—mati?

Iya, Nayara sejahat itu.

Tiba-tiba dia melepaskan pegangannya dari tubuh Jaya, membuat dua tubuh ambruk bertindihan. Jaya bergerak cepat, tapi Lily lebih cepat menindih anaknya. Lalu ketika suara mobil menderu di luar, Jaya berhasil membebaskan diri. Tapi terlambat, pagar yang terbuka lebar tak menyisakan apa-apa selain bau asap knalpot. Jaya yang lari dari ruang tengah rumah mewah itu tak sempat mengejar mobil Harsa.

Terengah, Jaya terbungkuk, tangannya menyangga di lutut. Dua wanita berlarian di belakangnya. Lily bersimpuh begitu berada tepat di belakang Jaya, sementara Nayara berdiri berkacak pinggang.

“Ada apa lagi sih, Bang?” tanyanya nyaris datar. Seharusnya datar, tapi dia terengah, engah itu yang membuat suaranya tak sedatar biasanya ketika menghadapi keributan orangtuanya. Kali ini bahkan dia merasa jengkel karena keributan itu mengganggu waktu santainya sampai membuatnya berlari sepanjang tangga.

“Kali ini dia nggak bisa dibiarkan, Nay.” Jaya sudah berdiri dan berkacak pinggang. Napasnya masih menderu. Entah karena marah atau karena lelah. Atau bisa juga keduanya.

“Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu aja lu ngamuk kayak tadi?” Nayara mendengus.

“NAYARA!!” teriak Lily yang masih bersimpuh terengah mengatur napas.

“Kalian itu seharusnya saling bunuh aja. Daripada bikin kami tiap hari pengeng dengar suara orang berantem.” Tak ada ekspresi di wajah Nayara. Dia sudah kembali ke dirinya lagi.

“NAYARA! Biar gimana dia papamu!”

“Papanya Jaya,” balasnya santai. “So,” dia menelengkan kepalanya ke arah Jaya. “Kenapa?”

“Adisti—”

Jaya tidak bisa langsung menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya sanggup menyebut nama adik bungsunya sebelum kembali mengamuk menendang apa pun yang ada di sekitar kakinya. Termasuk pot bunga dan mobilnya. Membuat alarm mobil berbunyi.

Yakin tak bisa mendengar penjelasan Jaya, Nayara menarik lengan Jaya menuju rumah, membiarkan alarm ribut sendirian.

“Disti kenapa?”

“Kamu nggak tau Adisti kenapa?”

“Memang kenapa?” Selama ini adiknya baik-baik saja. Baik untuk ukuran Adisti adalah diam di kamar dengan permintaan yang wajar untuk usia anak-bukan-remaja-juga-tidak.

“Adisti diperkosa!” Jaya menggeram. Wajahnya memerah ketika berbicara. Nayara kehilangan suara. “Yang perkosa Tomo.” Dia harus mengatur napasnya.

“Tomo? Hastomo, teman bisnis Harsa?” Mendesis.

“Yang bikin gue marah banget, si Harsa nggak mau lapor polisi demi bisnisnya.”

Nayara menarik rambutnya sangat keras. Lalu berlari ke dalam. Tapi tangannya tertahan tarikan Jaya.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke Disty.”

“Dia sudah nggak di sini. Gue bawa ke save house. Di sana dia ngaku siapa yang perkosa dia.”

“Ayo kita cari si Harsa!” Ganti Nayara menarik tangan Jaya. Tapi saat mereka akan keluar, Lily masuk.

“Mau ke mana?” tanyanya sambil berdiri di tengah pintu. Menghalangi akses keluar.

Dua manusia yang ditanya abai.

“Ma, Mama sudah tau soal Disty? Mama mau belain dia lagi?” Nayara bertanya dengan mendesis sinis. Yang ditanya malah tersedu menangis. Tangis yang sangat Nayara benci. Air mata palsu. Terlalu sering keluar sehingga tak berharga lagi. Air mata kebodohan. Terlalu bodoh karena sering sekali keluar dengan alasan yang sama.

“Biar gimana dia papamu, Nay…”

“Ma! Nggak ada orangtua yang rela anaknya digituin kecuali kalian!” Suaranya mendesis untuk menghindari melengking. Tapi matanya mendelik sempurna dengan wajah memerah dan hidung yang menderu mengeluarkan napas kasar.

“Mama bisa apa? Kalau lapor polisi pasti bakal heboh…” Lily menangis lebih keras. Meraung.

Oke, cukup.

Nayara berbalik cepat. Dia lari ke atas. Kembali menerjang pintu dan membanting pintu itu sekuat yang dia bisa. Dia juga melakukan yang sama dengan pintu walk in closet-nya. Di sana dia langsung menarik koper, mengangkatnya ke atas meja di tengah ruang, lalu mulai memasukkan barang-barangnya secepat kilat. Koper langsung penuh yang butuh tenaga gadis marah agar bisa terkunci rapat. Masih kurang, dia menyambar ttavel bag, lalu kembali mengisi tas itu.

Setelah semua terkancing, dia bergegas berganti pakaian. Menyambar jeans teratas dari susunan jeans tanpa memperhatikan jeans yang mana. Menyambar ¬t-shirt, menyambar hem, menyambar hoodie, termasuk menyambar kaus kaki. Semua dia kumpulkan di tengah lalu mulai menyalin pakaian dari tubuhnya dengan semua yang sudah dia siapkan. Lepas urusan koper, travel bag, dan berganti pakaian, dia menarik koper yang tertindih travel bag keluar walk in closet setelah sebelumnya menyusupkan kaki ke sepatu terdekat dengan pintu.

Di kamar Nayara langsung menyambar backpack yang biasa dia pakai untuk kuliah. Menjejalkan laptop, tablet, dan pernak-pernik dari meja belajar sementara ponsel dia pegang terus. Dia menyempatkan diri menyambar beberapa tumpuk uang dari laci yang lain lalu menjejalkan semuanya ke dalam backpack. Sebuah slig bag dia sambar. Dia langsung memasukkan ponsel ke dakan tas yang langsung dia selempangkan di bahu. Semuanya dia lakukan dalam waktu tak sampai lima belas menit.

Setelah semua siap, dia langsung keluar kamar. Langkahnya tidak stabil ketika mengangkat koper. Tak dia angkat, dia menyeret koper sepanjang tangga. Membuat koper melonjak-lonjak sepanjang menuruni anak tangga dan berakhir dengan jatuh berguling sepanjang sisa tangga. Berlomba dengan travel bag. Nayara tidak peduli selama isinya tidak terburai. Dia tidak merasa perlu memeriksa kondisi kopernya. Dia hanya langsung membenarkan posisi koper kemudian menaikkan travel bag di atas koper lalu bersiap menariknya ketika Lily sudah di depannya.

“Mau ke mana, Nay?” Suara khawatirnya masih tersamar isak.

“Dari dulu Nay ajak Mama pergi. Tapi Mama nggak mau. Ya sudah, Nay aja yang pergi. Terserah Mama mau bertahan sama penjahat kelamin itu apa nggak!”

“Nay!”

“Mama ikut apa nggak?” bentaknya sadis melupakan adab anak pada orangtua.

“Mama—“

“Nggak bisa kan?” Sesaat Nayara menunggu respons Lily. “Ya sudah. Nay pergi, Ma.”

Lily berusaha menahan Nayara, tapi Nayara mengibas kasar tangan ibunya.

Jaya hanya melihat keributan itu dari ruang tengah sambil meneguk sekaleng softdrink sambil berdiri. Punggungnya bersandar di dinding dengan sebelah tangan tenggelam di saku celana.

Merasa tahu usahanya tidak akan berhasil, Lily menyerah. Membiarkan Nayara menarik koper, menjinjing travel bag, mencangklong backpack, menyelempangkan sling bag, melewati pintu dan gerbang, membelah malam lalu hilang dari pandangan ibunya.

***

Bab 3

DI sinilah dia sekarang, di sebuah hotel bintang lima yang pertama dia lihat dari dalam taksi. Tidur telentang menatap marah langit-langit kamar. Berkali-kali dia memukul ranjang empuk tak bersalah denga tangan terkepal. Jengah sendirian menahan emosi, dia menyambar ponsel. Mencari satu nama teman, lalu menelepon nama itu. Suara ingar-bingar entakan musik menyambutnya. Membuat Nayara bersemangat, langsung duduk bersila di ranjang.

“Woy, di menong?” tanyanya sambil berteriak.

“Tempat biasa. Lu ke sini ya.” Temannya balas berteriak dari seberang sana.

“Biasa yang mana, Nyong. Pangkalan lu banyak.”

“High Five.”

“Oke, gue ke sana sekarang.” Dia langsung melesat dengan hanya menyambar sling bag.

Tempat yang dia tuju adalah hiburan malam yang biasa dijadikan tempat mereka—dia dan teman-temannya—mencari hiburan. Dia sering ke tempat semacam ini. Baru mendekati lokasi saja adrenalinnya terasa melonjak. Dan ketika dia masuk disambut entakan musik, dia merasa inilah dunianya. Tak perlu lama mencari teman-temannya, dia tahu di mana mereka berkumpul di tiap tempat langganan mereka.

Melihat Nayara berusaha melewati tubuh-tubuh liat yang bergerak acak, tujuh tangan melambai bersemangat memanggil Nayara. Membuat Nayara mempercepat langkah meski itu berarti dia harus menerobos tubuh-tubuh orang lain.

Sebuah kursi sudah disiapkan untuknya. Nayara langsung membanting bokongnya ke kursi itu.

“Senep amat tu muka. Butuh setrika?” Seorang dari mereka menyambutnya.

“Biasa deh. Bonyok bkin ulah.” Nayara mendengus kesal.

“Kan sudah biasa, kenapa harus dipikirin lagi?”

“Kali ini luar biasa. Gue kabur dari rumah.”

“Hah? Gimana ceritanya?”

“Sudah ah.” Nayara melambai mengusir angin, “Gue suntuk, nggak mau bahas itu.”

“Oke, Darla…” Seorang teman yang lain langsung memeluknya dari belakang. “Minum dulu,” dia langsung menempelkan gelas cocktail di depan bibir Nayara membuat Nayara memundurkan kepala, menjauhi gelas itu. “Minum, biar tenang.” Dia masih memaksa sambil terbahak diiringi tawa lepas temannya yang lain.

Tangan Nayara melambai ke arah pelayan yang lalu lalang. “Soju leci.”

Pesanan itu membuat semua temannya terbahak makin keras.

“Nay, malu sama umur. Masa masih minum soju sih. Coba ini dong.” Lagi-lagi gelas cocktail mendekat ke bibirnya.

“Sumpah, gue nggak sanggup hang over.”

“Lu harus latihan. Naikin dikit-dikit lah. Kalau soju terus kapan naiknya.”

Pesanannya datang dan dia langsung menyesap minuman itu. Aroma dan manis leci menggoda lidahnya. Dan kandungan alkohol di dalamnya tetap membuatnya sadar meski agak melayang. Isi gelasnya belum kosong ketika ada yang menarik tangannya.

“Turun yuk,” ajaknya sambil terus menarik tangan Nayara.

Nayara menyesap santai sojunya. “Duluan gih, gue habisin ini dulu.”

“Oke.”

Dia sendirian sekarang mengisi meja itu. Diam melihat gerakan liar teman dan semua isi ruang, dia tak sadar ketika seorang lelaki mendekat.

“Turun yuk,” ajak lelaki itu.

Seorang lelaki muda dengan tampilan menggoda dan tatapan mengundang langsung duduk di sampingnya.

Dan tanpa berpikir panjang, Nayara menandaskan isi gelas dengan satu tegukan lalu membanting gelasnya ke meja.

“Ayo.” Dia langsung berdiri dan lelaki itu langsung merangkulkan tangan ke bahunya. Lalu berdua mereka menikmati musik dengan caranya. Bergerak liar terbahak dan bergembira. Alhokol dalam tubuhnya memang rendah, tapi untuk Nayara yang rendah itu sudah membuatnya agak melayang.

Agak melayang saja. Dia masih sepenuhnya sadar ketika lelaki itu makin berani dengan tubuhnya. Tangannya tak hanya melekat di bahu atau di pinggul Nayara tapi berusaha menggapai bagian yang lain yang lebih pribadi. Gerakan tubuhnya pun mendekat dan mengundang. Awalnya Nayara memaklumi, ini memang tempat manusia-manusia liar yang bebas di alamnya. Tapi ketika gerakan itu makin tak sopan, dia semakin jengah. Dan ketika tangan lelaki itu jelas meraba bokongnya, Nayara tidak bisa diam lagi.

PLAK.

Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki yang langsung berjengit terkejut. Lebih terkejut lagi ketika Nayara meninggalkannya sendirian di tengah lantai. Nayara langsung kembali ke meja. Tatapannya sempat melihat tajam dan marah ke arah lelaki itu. Tapi yang ditatap hanya mengedikkan bahu lalu pergi. Mungkin mencari mangsa baru. Hal seperti itu biasa saja. Mereka hanya saling menebar jala. Jika ada yang terjerat, selanjutnya terserah mereka. Jika ada yang tidak setuju, semua bisa saja terjadi termasuk penolakan ala Nayara tadi. Kejadian itu tidak menjadi adegan serius yang bisa mengalihkan perhatian yang lain. Semua tetap bersemangat bergerak. Hanya satu dua orang yang menoleh ke sumber suara tamparan, tak lama, mereka kembali ke pasangan masing-masing, melanjutkan hidupnya sendiri.

Melihat kejadian itu, teman-temannya langsung mendatangi Nayara.

“Kenapa, Nay?”

“Biasa lah. Tangannya terlalu aktif. Dikasih semeter minta sehektar.”

Seluruh temannya terbahak. Masing-masing mereka sudah menemukan pasangannya. Meski beberapa dari mereka baru saling kenal, tapi mereka sudah santai saling melekatkan tubuh.

“Orang baru tuh. Dia nggak kenal lu, Nay. Perawan High Five.” Ucapan dari salah satu temannya itu berhadiah toyoran sadis di dahinya dari Nayara.

“Nay, lu susah dapat cowok bener di tempat kayak gini. Lu cari di masjid sana.” Temannya yang lain ikut menanggapi.

“Gue nggak cari cowok woy. Gue cuma mau senang-senang. Eh, tu cowok mikir yang lain kali.”

“Lah cowok mah lihat cewek enak aja diajak turun ya mikirnya nggak jauh-jauh dari selangkangan buat ganti oli. Itu senang-senang ala cowok dan cewek. Tapi lu kan bukan salah satu dari gender itu. Lu kan Nayara.”

“Ck.” Nayara berdecak.

Yang lain terbahak.

“Perawan expert. Perawan High Five.” Seorang menepuk keras bahu Nayara.

“Sampai kapan tu segel mau dilepas? Gue kepo pengin tau cowok kayak apa yang bisa nembus lu.” Teman yang lain bersuara.

“Apaan sih!” Nayara makin jengkel. “Gue nggak butuh.”

“Lu belum rasain aja nikmatnya, Darla. Kalau sudah, lu bakal ketagihan dan bisa aja nyamber sembarang tongkat.”

“Kalau nggak ada, dildo pun jadi,” sambar yang lain.

Koor tertawa kembali terdengar. Mereka memang sering mengganggu Nayara dengan prinsipnya ini. Mereka menganggap Nayara terlalu kolot untuk ukuran mausia milenial. Nayara terlambat lahir satu abad.

Yang mereka tidak tahu adalah alasan kenapa Nayara seperti anti pada lelaki. Mereka memang temannya, tapi teman untuk bersenang-senang saja. Nayara tidak menceritakan semuanya. Yang mereka tahu hanya lapisan luar saja. Di dalam diri Nayara, apa pun itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. Nayara menyimpannya rapat. Dia menunggu seorang sahabat yang bisa menjadi tempatnya bercerita tentang gejolak jiwanya.

Jiwa yang tadi gelisah dan marah ternyata tidak menemukan ketenangan di tempat seramai ini. Membuat Nayara jengah.

“Gue cabut dulu ya.” Dia langsung berdiri.

“Lha, bentar amat. Lu tuh ke club, bukan ke toilet.”

“Gue ngantuk. Dagh.”

“Ya sudah, nanti gue yang traktir.”

Nayara melambai berterima kasih lalu pergi.

***

Kembali ke hotel, dia kembali melamun.

Now what?

Haruskah dia menyesali keputusan spontannya pergi dari rumah?

Bagaimana besok?

Pergi dari rumah berarti hidup sendiri dan itu berarti tidak boleh ada uang papa Jaya—Satria Jayantaka, abangnya—yang dia pakai. Bukankah selama ini dia membenci Mama yang tidak bisa lepas dari jerat suaminya hanya karena meteri?

Dia tidak mau menjadi seperti mamanya.

Dia harus bisa membuktikan dirinya bisa hidup tanpa uang dari papa Jaya

Bah!

Bahkan menyebutnya sebagai papanya sendiri pun dia enggan. Dia selalu menyebut Harsa dengan frasa itu, papa Jaya, papanya Jaya.

Alkohol yang dia minum memang berkadar rendah, dan itu membuat dia bisa tetap sadar memikirkan masa depannya di malam pertama dia memutuskna meninggalkan rumah papa Jaya.

Meninggalkan rumah berarti melepas kemewahan limpahan materi dari papa Jaya. Alangkah lucunya jika dia tetap menikmati harta papa Jaya sementara dia sudah keluar dari rumah itu tanpa izin.

Berarti tidak akan ada lagi kemewahan.

Menyadari itu, dia melayangkan pandangan ke seluruh ruang. Kamar mewah ini… harganya permalamnya bisa berarti makan berapa lama? Dia tidak tahu. Tapi dia yakin, harga kamar ini bisa ditukar ransum makan berhari-hari. Bahkan mungkin lebih lama jika dia bisa super berhemat. Dan bagaimana caranya berhemat jika seumur hidup dia tidak tahu bahwa kata itu diciptakan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Haruskah dia menyesali keputusannya? Lalu menggeret lagi kopernya melewati pintu rumah papa Jaya. Mendengar lagi suara-suara saling berteriak tak terkendali. Melihat lagi mamanya menangis seperti keledai bodoh yang jatuh berkali-kali di lubang yang sama. Merasai lagi atmosfer rumah yang penuh kehampaan dan terisi kekosongan. Hidup bersama dengan orang yang disebut keluarga dalam bangunan yang sama yang disebut rumah tapi saling abai nyaris tak mengenal satu sama lain.

Hidup yang seperti itu?

Kembali ke hidup yang seperti itu?

Sampai kapan?

Hah!

Mengingat itu, Nayara menegaskan hati. Itu tidak akan dia lakukan. Dia tidak akan kembali ke rumah dengan semua kemewahan yang ditawarkan papa Jaya. Dia lebih memilih berhemat sampai titik darah penghabisan daripada kembali ke neraka itu.

Lelah badan dan lelah berpikir dan merasai, Nayara jatuh tertidur saat menjelang pagi.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Patah

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED