Bab 2

*Dua bulan kemudian

"Hai, Fay! Berangkat?" Tanya Dione kepada Freya, adik bungsu Jessie dan Joey.

Freya menatap Dione dengan wajah datar. Matanya menyorotkan kesepian dan kesedihan.

"Iya, aku ada ujian!" Jawabnya pendek.

"Bagaimana kabar Jessie?" Tanya Dione.

"Seperti biasanya!" Freya tersenyum getir.

Keduanya saling memandang, seakan-akan ingin mengatakan lebih banyak. Tetapi, kehilangan kata-kata.

"Fay! Kau belum berangkat juga? Nanti kau kesiangan!" Terdengar Ibunya Freya berteriak dari dalam rumahnya. Dia muncul di ambang pintu.

Nyonya Hamdani, orang tua Si kembar Jessie dan Joey, juga Freya. Dia memandang kepada anak bungsunya, lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Dione. Dione membungkuk memberi hormat.

"Pergilah! Nanti kau terlambat!" Katanya kepada Freya.

Nyonya Hamdani hanya mengangguk singkat kepada Dione, lalu kembali menghilang ke dalam rumah.

"Maaf! Aku permisi!" Freya cepat-cepat menstarter motor maticnya, lalu melaju dengan kecepatan tinggi.

Dione menghela nafasnya. Sejak kecelakaan itu, hubungan mereka menjadi sedingin dan sekaku ini. Dione tak mengerti, padahal ini bukan salahnya.

Saat kecelakaan itu terjadi, mobil yang mereka tumpangi menabrak badan truk, lalu terjatuh ke dalam jurang. Untungnya, jurang itu tidak terlalu dalam. Mereka berempat, masih bisa diselamatkan.

Tapi, naas bagi Jessie. Gadis itu terbaring koma selama sebulan lebih. Jessie cedera paling parah, karena berhadapan langsung dengan badan truk yang menghantamnya.

Joey juga cedera, tapi tidak separah kembarannya. Begitu juga Freya dan dirinya. Kehidupan Jessie sekarang, di topang oleh beberapa alat bantu hidup.

Itulah yang menyebabkan kondisi ekonomi keluarga Hamdani merosot drastis. Biaya rumah sakit yang mahal, biaya perawatan Jessie, biaya kuliah dan sekolah, belum untuk keseharian mereka. Hal itu, berpengaruh kepada perilaku anggota keluarganya yang kini menutup diri.

Dione kembali ke dalam rumah. Ibunya sedang menyiapkan sarapan. Ayahnya sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi panas.

"Kau darimana?" Tanya Ibunya Dione, Nyonya Lenny kepada putrinya.

"Dari depan, aku hanya menyapa Freya saja." Dione menyeruput susu coklatnya.

"Bukankah, mereka bersikap dingin padamu?" Ibunya bertanya.

"Seperti biasanya!" Dione memandang nasi gorengnya yang masih mengepul.

"Beri mereka waktu. Pasti berat sekali menghadapi kenyataan seperti ini!" Ayahnya Dione, Tuan Joseph berkata.

"Aku mencoba memahaminya, Ayah! Tapi, tetap saja aku tidak mengerti. Bukan aku yang salah dalam hal ini." Sahut Dione. Tiba-tiba saja wajahnya menegang.

"Benar! Itu bukan salahmu. Bukan kau yang menyetir. Masalahnya, kau juga ada di sana. Sudahlah! Semua sudah terjadi. Kau, hanya perlu berdamai dengan kenyataan. Jika mereka menjauhimu, biarkan saja. Toh, pada akhirnya, orang akan berjalan di jalannya masing-masing. Tidak selalu bersama." Tuan Joseph memberi wejangan kepada putri satu-satunya itu.

"Well, aku hanya sedih, Yah! Kita bertetangga dengan mereka sudah sangat lama. Aku melewati masa kecilku dengan mereka. Keadaan sekarang, benar-benar membuatku terluka. Joey, bahkan tak Sudi melihat wajahku lagi." Dione jadi murung.

"Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Rania sudah berteman denganku sejak lama. Tapi sekarang? Ahhh, sudahlah! Membahasnya terus membuatku kehilangan selera makan." Nyonya Lenny mengatakan pendapatnya, tentang Ibu dari kawan-kawan putrinya itu.

Dione menyesap lagi susu coklatnya. Pikirannya masih menerawang jauh.

"Ayo, makanlah! Nanti kau terlambat!" Nyonya Lenny mengingatkan suaminya.

Mereka makan dengan tenang. Tidak ada lagi yang bersuara.

Dione anak tunggal. Sedari kecil, dia memang sudah sangat akrab dengan Si Kembar yang seumuran dengannya. Mereka bersekolah di tempat yang sama sejak sekolah dasar. Bahkan, mereka bertiga, kuliah di Universitas yang sama dan mengambil jurusan yang sama pula.

Wajar, jika Dione merasa sangat kehilangan. Dia merasa kesepian.

"Ayo, Ayah antar ke kampus!" Tuan Joseph mengajak putrinya.

"Ayah duluan saja! Hendri mau menjemputku!" Dione menolak halus.

"Pacarmu itu?" Tuan Joseph menatap Dione dari balik kacamata plusnya.

Dione mengangguk.

"Well, sebetulnya, Ayah kurang menyukai pemuda serampangan itu. Tapi karena dia pacarmu, Ayah cuma mau bilang, hati-hati! Jangan sampai perasaan cinta membuatmu buta. Jangan sampai melakukan hal-hal bodoh yang akan kau sesali nantinya." Tuan Joseph memperingatkan.

"Aku akan mengingat pesan Ayah!" Jawab Dione sambil mengecup pipi Ayah dan Ibunya.

Tiiinn! Klakson motor berbunyi kencang.

"Ehh, bukannya turun dan menyapa orang tua! Malah bunyikan klakson! Apa pacarmu pikir kami ini tuli?" Nyonya Lenny tidak senang.

"Maafkan dia Bu! Memang pacarku itu kurang tahu adat. Aku harus selalu mengingatkannya." Dione merasa malu kepada orang tuanya.

"Sudah! Temui saja dia dan langsung berangkat kuliah! Jangan sampai dia terus menekan klakson dan mengganggu tetangga sebelah." Kata Nyonya Lenny.

Dione mengangguk.

"Aku berangkat!"

Nyonya Lenny mengantar putrinya sampai ke pintu. Hendri yang tahu bahwa Ibu dari pacarnya mengantar anaknya, cepat-cepat turun dan membungkuk dalam-dalam. Nyonya Lenny mengangguk singkat.

"Yuk, jalan!" Dione menepuk bahu Hendri ketika dia sudah duduk di belakang.

Siang itu, ujian akhir semester hari ketiga di mulai. Peserta ujian mengenakan seragam putih hitam, berbaris di tempat duduknya masing-masing.

Dione duduk di bagian tengah, sedangkan Hendri berada di barisan keempat di belakang Joey. Tadi sebelum masuk kelas, Dione berpapasan dengan Joey di koridor, seperti biasanya, gadis itu membuang muka dan cepat-cepat menghindari Dione.

"Waktunya empat puluh lima menit. Silakan dimulai dari sekarang!" Pengawas memberitahu peserta.

Ruangan dipenuhi oleh suara gemerisik kertas dan alat tulis. Tak lama kemudian, hening. Para peserta sudah mulai fokus mengerjakan ujiannya masing-masing.

"Arghh! Benar-benar sulit!" Dione berkata dalam hati ketika melihat soal ujian berupa deretan angka statistik yang harus dia hitung menggunakan rumus.

"Kenapa juga, dulu aku ambil jurusan ini?" Dione agak menyesal dalam hati, tangannya sibuk menghitung di atas kertas buram.

Peserta ujian sudah mulai gelisah dengan kesulitan yang di temui pada lembar ujian. Ada yang mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sepatu, mengetuk-ngetuk meja dengan ballpoint-nya, juga garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Pak! Dia mengambil lembar jawaban saya!" Tiba-tiba, suara nyaring Joey memecah keheningan. Joey berdiri dan menunjuk Hendri.

Seketika, semua peserta menghentikan kegiatannya dan memperhatikan keributan yang tiba-tiba.

"Benarkah itu?" Pengawas menghampiri Joey.

Mendadak Dione merasa cemas. Hendri terlihat gelisah tak karuan. Wajahnya memerah menahan malu dan marah.

Perlahan, pengawas mengambil lembaran kertas dari meja Hendri dan memeriksanya.

"Keluar!" Pengawas menatap Hendri dengan tajam.

"Kupastikan, kau tidak akan lulus ujian ini!" Pengawas mencoret Nama Hendri dari daftar peserta ujian.

Hendri berdiri dengan marah. Mendekati Joey sambil melotot.

"Brengsek!" Hendri menendang kursi Joey dan bergegas keluar ruangan.

Joey menjerit karena terkejut.

Terdengar riuh para peserta ujian. Mereka tak percaya menyaksikan pertunjukan ini.

"Sudah! Kembali kerjakan!" Pengawas Ujian memberi perintah.

Joey terlihat puas dan kembali mengerjakan lembar ujiannya. Dione terhenyak di kursinya. Lembaran soal itu, terlihat buram oleh air mata yang menggenang.

Bab 3

Dengan marah, Hendri menyambar tasnya dan keluar ruangan setelah membanting pintu dengan keras.

"Anak kurang ajar!" Dosen pengawas menggertakkan giginya.

Dione benar-benar merasa malu dan kecewa. Beberapa pasang mata memandang padanya. Bagaimana tidak? Teman-teman sekelasnya, sudah tahu bahwa Dione berpacaran dengan Hendri, bekas pacar Joey.

"Tidak usah hiraukan! Kerjakan lagi saja ujian kalian!" Dosen pengawas mengingatkan.

Para mahasiswa kembali fokus kepada lembar ujiannya masing-masing. Kecuali Dione. Dia menangis diam-diam sambil mengerjakan soal.

Waktu terasa lama berlalu. Dione sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan diagram di hadapannya. Akhirnya dia menyerah dan mengerjakannya dengan asal-asalan.

"Shit! Bisa-bisa aku harus mengulang kalau begini!" Dione menggerutu dalam hati.

Satu persatu, peserta ujian yang sudah selesai mengerjakan, mengumpulkan lembar soal dan jawabannya ke meja dosen. Dione menengadahkan wajahnya. Hanya tersisa beberapa orang lagi di dalam kelas, termasuk dirinya. Joey juga sudah keluar dari ruangan.

Baru saja Dione mengumpulkan lembar jawabannya hendak keluar ruangan, salah seorang kawannya berbisik.

"Dione, lihat tuh!" Katanya sambil menunjuk ke arah parkiran.

Seketika mata Dione membulat sempurna.

Joey dan Hendri bertengkar hebat di lapangan parkir. Joey menunjuk-nunjuk wajah Hendri yang terlihat murka.

"What the hell?" Dione benar-benar tak habis pikir.

Dione segera menyusul ke parkiran. Dia cepat-cepat menuruni tangga dan berlari.

"Kau pikir siapa, Hah?" Hendri mencengkram kerah kemeja putih Joey.

"Hendri! Hentikan!" Dione menjerit panik saat melihat wajah Joey memerah karena merasa tercekik.

Tadinya, tidak ada yang berani memisahkan keributan antara Hendri dan Joey. Sebagian menganggap kalau itu cuma pertengkaran antar kekasih.

"Cowok brengsek!" Joey memaki Hendri.

"Joey!" Dione jadi ikut membentak.

"Urus yang bener, tuh! Punya pacar kok licik? kambing pecundang pula lagi, cuiihhh!" Joey meludah. Lalu tergesa-gesa memasuki mobilnya.

"Wanita jalang! Kubunuh kau!" Hendri menghampiri mobil dan memukuli kaca mobil milik Joey.

Joey langsung tancap gas dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Hendri terjengkang karena Joey sengaja menyenggol tubuhnya dengan body mobil.

Dione terbelalak menyaksikan pertengkaran itu. Dia akui, Hendri keterlaluan. Seharusnya dia tidak mencontek kepada siapapun, apalagi kepada Joey.

"Hentikan Hendri! Itu salahmu sendiri!" Dione berkata dengan nada dingin.

"Apa? Kok kau jadi menyalahkan aku?" Hendri membentak Dione.

Mahasiswa lain yang mendengarkan mereka bertengkar menatap sinis. Kampus bukan arena pertengkaran antar sepasang kekasih. Seharusnya, mereka membawa masalah pribadi keluar.

Menyadari hal itu, Dione berbalik dan meninggalkan Hendri tanpa sepatah katapun.

"Heyy, Dione! Dengarkan aku!" Hendri menyusul dan menyambar tangan Dione.

"Lepas!" Dione mengingatkan Hendri yang mencengkeram lengan Dione dengan sekuat tenaga.

"Aku tanya kenapa kau jadi menyalahkan aku?" Wajah Hendri benar-benar merah padam.

"Memangnya tindakanmu sudah benar?" Dione balik bertanya.

Hendri diam saja. Dione memandang wajah Hendri dengan sengit.

"Yang kau lakukan sungguh bodoh! Kau mencontek pada mantan pacar yang mencampakkanmu, lalu menyerangnya di parkiran. Konyol sekali! ndakanmu itu hanya untuk mencari perhatian Joey!" Dione berkata dengan sinis.

"Apa? Aku mencari perhatian? Dione, apa kau sudah sinting?" Hendri tak mempercayai pendengarannya.

"Seharusnya pertanyaan itu untuk dirimu sendiri!" Dione menghempaskan pegangan tangan Hendri dan kembali berjalan menjauhinya.

Hendri kebingungan melihat reaksi Dione. Padahal, dia tidak sedang baik-baik saja. Dia benar-benar marah dan dendam kepada Joey yang melaporkannya mencontek.

"Waiit! Jangan bilang kalau kau cemburu!" Kembali Hendri mensejajari langkah Dione.

"Hahh! You wish!" Dione mempercepat jalannya.

"Kalau bukan cemburu lalu apa? Kenapa kau tidak membelaku?" Hendri menyambar bahu Dione dan membuatnya berbalik menghadapnya.

"Karena kau yang salah! Dengan begitu, kau membuat orang lain beranggapan bahwa kau mencari perhatian mantan pacarmu! Mereka menganggap kau tidak bisa move on dari Joey! Sekarang aku tanya, apakah seperti itu yang terjadi? Apakah aku hanya alat melampiaskan hasratmu kepada Joey?" Dione sudah tak bisa menahan diri.

Sekian lama dia menerima pertanyaan dan ejekan seperti itu, karena berpacaran dengan Hendri. Seluruh penghuni kampus tahu, bahwa Hendri dan Joey pernah jadi pasangan paling mesra. Bahkan, keduanya tak segan-segan mempertontonkan kemesraan mereka dengan berciuman di dalam kelas, atau di koridor gedung.

Tapi, Joey memang cepat bosan. Dia memutuskan Hendri yang tergila-gila padanya begitu saja, setelah bertemu seorang kasir tampan bertubuh tinggi bernama Lucky, di toko buku langganan mereka.

Hubungan Joey dengan yang ini, sepertinya lebih bertahan lama di bandingkan dengan pria-pria sebelumnya.

"Aku tidak begitu!" Hendri membantahnya.

"Haaahh! Yang benar saja! Sikapmu menunjukkan sebaliknya!" Dione juga membantahnya dengan sengit.

"Kau tidak percaya padaku?"

"Yes, i am!" Sahut Dione sambil membuka layar ponsel dan memesan taksi online.

"Aku membenci Joey!" Tiba-tiba Hendri berkata dengan suara bergetar.

"What benci? Hahahah, itu bukan benci! Melainkan cinta!" Dione mengejek Hendri. Kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun.

"Berhenti mengatakan hal bodoh seperti itu. Sudah kubilang aku membencinya! Aku ingin menghabisinya!" Jawab Hendri dengan sorot mata berkilat penuh kebencian.

Dione terkejut melihat Hendri seperti itu. Dia seperti tidak mengenalinya lagi. Hendri yang periang, cuek dan konyol, tiba-tiba berubah menakutkan seperti seorang monster.

"Mungkin, warna sejatinya memang begini. Akunya saja yang terlalu bucin padanya!" Dione seperti menyadari sesuatu. Dia agak ketakutan.

Taksi online yang Dione pesan sudah sampai di gerbang kampus. Tanpa berkata apa-apa, Dione berjalan cepat-cepat menuju ke mobil.

"Dione! Kita belum selesai bicara!" Hendri masih mengejar pacarnya.

"Tidak ada yang ingin kubicarakan lagi denganmu!" Dione membuka pintu taksi dan segera duduk di jok belakang.

"Owhh come on, babe! Jangan begini!" Kali ini Hendri terlihat cemas.

Hendri merasa jadi pria paling bodoh saat ini. Mungkin memang seharusnya dia tidak bertindak bodoh seperti tadi. Tapi, semua sudah terlambat. Bahkan kini, Dione marah dan meninggalkannya begitu saja.

"Shit! Ini semua gara-gara perempuan sialan itu!" Hendri mengumpat.

Dione menangis dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Dia benar-benar kaget dan kesal oleh tingkah Hendri. Selain itu, Hendri juga membuatnya ketakutan.

Padahal, banyak sekali kenangan indah selama enam bulan ini mereka bersama. Dione benar-benar menyukai Hendri. Tetapi, dengan kejadian ini, Dione sudah tak ingin lagi melanjutkan hubungan dengan Hendri.

Dione sampai di jalanan dekat halaman rumahnya. Saat ini dia butuh segelas soda dan es batu untuk membuat kepalanya tetap dingin. Sekilas, dilihatnya mobil Jeep kepunyaan Joey parkir di halaman rumah keluarga Hamdani.

"Aku pulang!" Joey menyapa Ibunya.

"Hay, honey!" Ibunya menjawab salam putrinya sambil sibuk mengaduk sup yang sedang di masak olehnya.

Dione membuka kulkas dan mengambil sekaleng bir dingin, duduk di kursi makan lalu menenggak birnya.

"Ehh, ada surat untukmu!" Kata Ibunya.

"Hah, surat?" Dione kaget karena jaman ini, masih ada yang mengirimkan sebuah surat.

"Iya, Ibu taruh di laci bupet sana!" Ibunya menunjuk ke ruang tengah.

Dione menghampiri bupet dan membuka lacinya. Benar saja, sebuah surat dengan amplop kecil berwarna kuning cerah tergeletak di sana.

Dione membuka amplop berwarna kuning dan membaca selembar kertas yang ada di sana.

"Ahkkkk!" Dione menutup mulutnya dan gemetar ketakutan.

Surat itu di tulisi dengan tinta darah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED