Efek obat begitu kuat sehingga mereka berdua menghabiskan sepanjang malam di seluruh suite, dari lantai ke sofa, dari tempat tidur hingga balkon ....
Erangan memenuhi ruangan hingga keduanya akhirnya tertidur karena kelelahan.
Lena tidak tahu sudah berapa lama dia tidur. Saat membuka matanya dengan paksa, dia langsung meringis ketika dia mencoba untuk duduk di tempat tidur. Seluruh tubuhnya pegal karena kegiatannya semalam, ditutupi oleh banyak bekas ciuman yang memalukan.
Tepat pada saat ini, dia baru memperhatikan suara air mengalir dari kamar mandi.
Matanya berbinar saat menyadari pria yang menghabiskan malam bersamanya sedang mandi!
Takut bahwa pria tersebut akan memintanya untuk bertanggung jawab atas kejadian tadi malam, dia bergegas berpakaian dan kemudian menulis catatan untuk berterima kasih padanya karena telah membantunya. Kemudian, tepat di sebelah catatan, dia meletakkan sisa uang receh dan perhiasan miliknya di nakas sebagai tanda terima kasih.
Tanpa membuang waktu, dia menyelinap keluar pintu dan melarikan diri dari hotel secepat yang dia bisa.
Saat Delon keluar dari kamar mandi, Lena sudah lama pergi. Dia mengamati ruangan itu dan noda darah di seprei menarik perhatiannya.
Melihat ini, Delon mengernyit sedikit.
Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke barang-barang yang ditinggalkan oleh wanita itu di nakas, dan terkekeh.
Dia adalah pewaris Keluarga Winata, CEO dari Grup Vit, dan dalang rahasia yang memegang kendali ekonomi kota. Bagaimana mungkin wanita itu pergi begitu saja setelah menggunakan dirinya selama satu malam, hanya meninggalkan hadiah kecil yang kurang dari satu juta rupiah dan sebuah catatan?
Berurusan dengannya tidak sesederhana itu!
Sepuluh menit kemudian, Delon sudah berdiri tegak dengan satu tangan di saku, tangan lainnya memegang rokok menyala. Dia menarik isapan panjang dan mengeluarkan asap perlahan, matanya melirik pria yang membungkuk di depan matanya.
Pemuda yang diikat itu berlutut dan terisak, "Maafkan aku, Kak Delon. Aku melakukan ini demi kebaikanmu sendiri. Kamu sudah berumur 28 tahun, tapi sampai sekarang belum pernah mempunyai pacar, kamu bahkan belum pernah menggoda seorang wanita! Aku mulai khawatir tentangmu, jadi ... jadi aku memberanikan diri untuk membantumu!"
Dari sudut matanya, Delon melirik noda darah di seprei dan bertanya dengan dingin, "Siapa nama wanita itu?"
"Apa?" Pemuda malang bernama Edi Halomoan kini menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Wanita? Wanita apa?"
Delon belum pernah melirik wanita selama dua puluh tahun terakhir, itulah kenapa Edi menyimpulkan pria itu menyukai sesama pria.
Edi memang mengirim seseorang ke sini semalam, tetapi itu bukan seorang wanita, dia telah mengirim seorang pria!
Jadi, wanita apa yang Delon bicarakan? Mata Edi membelalak kaget.
"Kak Delon, aku ...."
Sebelum dia sempat mengucapkan satu kata lagi, Delon tiba-tiba menyelanya dengan melayangkan tendangan cepat ke pundaknya.
"Periksa semua video pengawasan tadi malam," bentak Delon. "Temukan wanita itu, aku tidak peduli meskipun kamu harus menjungkirbalikkan seluruh kota. Omong-omong, penanggung jawab proyek di luar negeri baru saja meninggal karena malaria. Jika kamu tidak dapat menemukan wanita itu, aku akan membuatmu mengambil alih proyek itu."
Edi memandang pria yang berdiri di atasnya dengan kaget dan terkejut, dan butuh waktu lama baginya untuk kembali sadar.
Dia pun khawatir tentang wanita itu.
Semua orang tahu bahwa Delon seperti seekor macan tutul. Apakah mangsanya akan hidup atau mati bergantung pada suasana hatinya.
Siapa pun yang tidur dengan Delon semalam berani meninggalkannya begitu saja keesokan paginya. Siapa pun wanita malang itu, jelas dia cukup pemberani!
*
Wanita yang mereka bicarakan, Lena, langsung naik taksi pulang.
Rencana jahat Kiara dan Choki terus terulang di benaknya. Marah, dia mengepalkan tangannya begitu kencang hingga kukunya menembus dagingnya.
Tidak, dia tidak bisa melepaskan mereka begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu pada mereka.
Dia harus membeberkan sifat asli mereka!
Setelah menata pikirannya, Lena kembali ke rumah dengan ekspresi tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Begitu dia memasuki rumah, ayahnya, Braga Sergius, berdiri dari sofa.
"Pergi ke mana kamu semalam? Aku menelepon gurumu dan diberi tahu bahwa kamu tidak pernah kembali ke asramamu," tanyanya dengan geraman pelan.
Matanya yang marah memerah, dan jelas dia seperti bom waktu.
"Braga, jangan marah. Ini tidak baik untuk kesehatanmu. Lena masih muda, dan dia masih perlu banyak belajar." Kiara berpura-pura peduli, mendesak Braga untuk tenang. Kemudian, dia memandang Lena dengan ekspresi empati palsu.
"Lena, tolong jangan salahkan ayahmu karena marah padamu. Bagaimanapun juga, kamu seorang gadis, dan kami peduli terhadap keselamatanmu. Tahukah kamu betapa cemasnya ayahmu dan aku ketika kami berdua mengetahui bahwa kamu tidak pernah kembali ke asramamu? Kami sangat khawatir sesuatu yang buruk mungkin menimpamu. Apa yang harus kami lakukan jika itu terjadi? Bukannya karena kami peduli dengan reputasi keluarga, yang kami pedulikan adalah kamu."
Saat berbicara, mata Kiara dipenuhi kekhawatiran. Jika Lena tidak mendengar langsung Kiara bekerja sama Choki untuk mencelakainya semalam, akting Kiara sebagai "orang tua yang peduli" akan membodohinya.
Namun, kini, Lena sudah sadar dan tahu persis apa yang sedang dilakukan Kiara.
Benar saja, ucapan Kiara sukses menambah bahan bakar pada api hingga membuat Braga semakin marah.
"Omong kosong macam apa itu! Usiamu sekarang sudah lebih dari dua puluh tahun, tapi kamu masih bertingkah seperti anak kecil! Sepertinya aku terlalu memanjakanmu selama ini. Hari ini, aku akan memberimu pelajaran!"
Braga mengambil tongkat keras dan mengayunkannya ke Lena!
Saat tongkat itu hendak mendarat di tubuhnya, Lena tiba-tiba berlutut di hadapan Braga.
"Ayah, maafkan aku. Semalam, aku pergi bermain kartu dengan teman-temanku dan benar-benar lupa waktu. Aku tidak tahu kapan ponselku kehabisan baterai. Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu khawatir tentangku."
Tertegun, tangan Braga yang memegang tongkat membeku di udara. Di masa lalu, Lena tidak akan pernah mengalah padanya, tidak peduli apa yang terjadi. Putrinya ini selalu berdebat dengannya tentang apa pun, jadi hubungannya dengannya selalu tegang.
Jadi, apa yang terjadi sekarang?
Lena tahu apa yang dia lakukan. Kiara pandai memanipulasi Braga agar memercayainya, terlebih lagi Lena tidak memiliki bukti apa pun mengenai rencana Kiara. Bahkan jika dia menceritakan pada ayahnya semua yang terjadi tadi malam, ayahnya akan lebih memercayai kata-kata Kiara daripada kata-katanya sendiri.
Alhasil, dia memutuskan untuk berpura-pura patuh dan tidak melakukan apa pun untuk sementara waktu sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang.
"Ayah, Tante Kiara bukan ibu kandungku, jadi wajar saja kalau dia tidak mengenalku dengan baik, tapi aku adalah putrimu. Seharusnya Ayah mengenalku lebih baik dari orang lain, dan aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang akan merusak reputasi keluarga kita!"
Air mata menggenang di pelupuk mata Lena saat dia berbicara, yang membuatnya tampak sangat menyedihkan.
Meskipun Braga dan ibu Lena telah bertahun-tahun bercerai, dia selalu menjadi ayah yang bertanggung jawab. Jadi, ketika dia mendengar permintaan maaf Lena yang tulus, hatinya melunak.
Dia meletakkan kembali tongkat itu dan berkata dengan nada yang lebih lembut, "Baguslah kamu menyadari kesalahanmu. Hanya saja, jangan lakukan hal semacam itu lagi, oke? Sekarang, berdirilah."
Melihat Braga dengan begitu mudahnya memaafkan Lena membuat Kiara merasa sedikit tidak senang. Akan tetapi sekarang, dia harus tetap berpegang pada rencananya dan berpura-pura semuanya baik-baik saja, jadi dia menelan kebencian di hatinya dan memasang senyuman palsu.
"Lihat, kan? Aku tahu semua ini hanya kesalahpahaman belaka. Lena adalah gadis yang baik, dia tidak akan menghabiskan malam bersama pria seperti wanita-wanita nakal di luar sana. Benar, kan, Lena?"
Lena tahu bahwa wanita licik itu menyiratkan sesuatu, tetapi dia berhasil mempertahankan senyumnya, meskipun matanya tetap dingin.
"Omong-omong, Lena, ayahmu ingin memberitahumu sesuatu." Kiara menyikut Braga dan mengedipkan mata penuh arti padanya.
Braga menarik napas dalam-dalam dan kembali duduk di sofa.
Lalu, dia berdeham dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Lena, Ayah sudah memikirkannya baik-baik, dan apa yang dikatakan Kiara benar. Seharusnya Ayah tidak memaksamu menikah dengan orang yang tidak kamu sukai, dan Ayah juga tidak seharusnya melarangmu menikah dengan pria yang kamu sukai. Meski Choki berasal dari keluarga biasa saja, kalian saling menyukai satu sama lain. Inilah hal yang terpenting."
Lena tercengang melihat perubahan mendadak sikap ayahnya.
Ayahnya selalu berpikir bahwa Choki adalah pria yang akan mengandalkan wanita untuk mencapai puncak, jadi beliau sangat menentang mereka bersama. Terlebih lagi, bahkan sebelum dia dan Choki bertemu, ayahnya sudah memilih calon suami yang cocok untuknya, putra bungsu dari Keluarga Firmansyah, Andrian Firmansyah.
Namun, Andrian adalah seorang pria buaya darat dan banyak terlibat gosip. Lena tidak ingin menikah dengan pria seperti itu dan masalah ini telah menjadi topik perdebatan antara dia dan ayahnya.
"Pagi hari ini, aku mendengar kabar Andrian bertengkar dengan seseorang di sebuah klub, menyebabkan keributan hanya karena seorang wanita pendamping. Skandalnya menjadi berita utama! Ayah tidak akan bisa memaafkan diri sendiri jika Ayah memaksamu menikah dengan pria semacam dia." Setelah menghela napas, Braga melanjutkan dengan tulus, "Selama Choki memperlakukanmu dengan baik, Ayah tidak akan melarang hubungan kalian lagi. Jika kamu punya waktu, minta dia untuk datang dan kita akan membicarakan rincian pertunangan kalian."
"Apa?! Pertunangan?" Lena sangat terkejut sehingga dia pun berseru kaget.
Braga mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Akhir bulan ini adalah hari ulang tahunmu. Bagaimana kalau kamu bertunangan pada hari yang sama? Kita akan merayakan dua hal, dan Ayah yakin ini akan membawa kebahagiaan padamu. Usiamu tidak semakin muda. Cepat menikahlah agar Ayah tidak perlu selalu mengkhawatirkanmu."
Kemudian, Lena menyadari sesuatu. Tampaknya setiap kali dia tidak di rumah, Kiara telah menanamkan benih ide ini ke dalam pikiran Braga.
Sepertinya Kiara terburu-buru untuk menikahkannya dengan Choki, dan itu bukanlah hal yang baik.
Lena merenungkan situasinya sebentar. Dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa menemukan bukti yang memberatkan Kiara dan Choki, jadi kenapa tidak mengikuti rencana mereka sampai mereka berbuat kesalahan?
Dengan senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya, Lena menghampiri Braga, berjongkok di depannya, dan menggenggam tangannya.
"Ayah, terima kasih banyak. Aku minta maaf karena aku selalu bertengkar dengan Ayah sebelumnya. Tidak perlu khawatir. Mulai sekarang, aku akan mematuhi Ayah."
Kiara menghela napas lega saat mendengar Lena setuju untuk bertunangan dengan Choki. Sejauh ini, Lena sepertinya tidak mengetahui bahwa kejadian kemarin direncanakan oleh dirinya dan Choki.
Namun ... ke mana perginya Lena semalam? Dia berhasil pulang dalam keadaan selamat, seharusnya tidak mungkin terjadi setelah dibius dengan obat dosis tinggi. Kiara mengerutkan keningnya, ragu apakah Lena benar-benar menghabiskan malam bersama seorang pria atau tidak.
Tiba-tiba, saat Kiara sedang menatap Lena, tatapannya tertuju pada tanda merah jelas di sisi leher Lena. Sebagai wanita yang berpengalaman, dia tahu dengan jelas apa arti tanda itu.
Hmph! Benar saja, tebakannya tidak meleset.
Kini, Kiara yakin Lena berakhir di ranjang seseorang tadi malam. Dia tersenyum ketika rencana terbentuk di benaknya.
Begitu Lena kembali ke kamarnya, dia bergegas ke kamar mandi dan mencoba menghilangkan bekas ciuman di tubuhnya.
Hatinya tidak nyaman kehilangan kesuciannya seperti ini.
Semua ini salah Kiara dan Choki!
Setelah mandi lama, Lena menenangkan diri dan mulai memikirkan bagaimana menghadapi pesta pertunangan yang akan diadakan di akhir bulan.
Dia menelepon seorang detektif swasta yang disarankan temannya, memintanya untuk diam-diam mengamati pergerakan Kiara dan Choki, mengumpulkan bukti perselingkuhan mereka, dan mencari tahu apa yang akan mereka lakukan di pesta pertunangan.
Setelah mengatur semuanya, dia menyalakan komputernya dan mengepos sebuah status di media sosialnya.
Pada saat yang sama, di kantor pusat Grup Winata, Edi bergegas ke kantor Delon dengan penuh semangat.
"Kak Delon, aku berhasil menemukan wanita itu!"