"Karena...aku takut anakku kamu cubit dan istriku nanti kamu rapetin 'anu'nya jadi bikin aku gak bisa 'anu', " sahut sang mantan takut-takut.
Aku mendelik ke arah mantan. Nur tertawa ngakak. "Hahaha, pak alasane loucuuuu," seru Nur.
"Maaf pak, alasan bapak tidak logis, dokter Wildan ada pasien operasi urgent. Saya sudah sering menolong persalinan normal, Insyallah saya profesional, " sahutku.
"Kalau gitu tolong carikan dokter lain saja," pinta mantan.
"Cari dokter lain buang waktu pak, ini kepala bayi kalau ditahan terlalu lama mbrojolnya bisa kecepit jalan lahir dan gagal nafas didalam perut. Bisa juga yang lebih fatal saat istri bapak mengejan dan tidak segera ditolong malah bisa jebol jalan lahirnya. Emang bapak mau kayak gitu?" tanyaku. Berusaha sabar dan tersenyum. Meminta pengertiannya.
"I-iya deh, saya terima," sahut mantan.
Akhirnya mantan mingkem.
"Nur, tolong pasangkan apron (celemek penolong persalinan) padaku, " instruksiku.
Tanganku masih berada di jalan lahir pasien. Nur segera meraih apron di sebelahnya dan memakaikannya padaku.
"Kamu bawa masker gak Nur? di sini belum isi stok maskernya." tanyaku.
"Bawa tadi 1 boks dari ruang perawat, mau dipasangkan maskernya mbak?" tawar Nur. "Boleh, makasih Nur," sahutku.
Setelah masker dan apron terpasang, aku mulai meraih klem 1/2 kocher (alat untuk memecah ketuban) dengan tangan kiri sementara tangan kanan masih menahan kepala di jalan lahir.
Nur juga mengikutiku memakai apron, masker, dan sarung tangan bersih.
Saat tidak ada kontraksi, aku mulai memecah ketubannya.
"Desssss ...serrrrr.....," suara ketubannya mengucur membasahi underpad.
"Ya Allah, apa itu Del, cairan apa itu," tanya mantan panik.
"Duh , ini cuma cairan ketuban pak, jangan Del Del Dul, Dal del dul terus pak,soal nyawa ini, bapak tenang ya, kalau bapak rame saja, tolong tunggu di luar." Akhirnya muncul juga tandukku.
"Oke aku diam, " mantan kembali mingkem.
Kulirik Nur yang masih menahan tawanya.
"Bu, dengarkan instruksi saya ya, kalau perutnya kenceng banget, keras, ngeden sekuat tenaga. Ingat ngedennya seperti orang pup," perintahku.
"Iya mbak, " jawab pasien.
"Nah, ayo ini sudah kenceng banget. Yuk ngeden, ambil nafas panjang lewat mulut. Dan ngeden...!" aku menginstruksi lagi.
"Heeeghhhh, heeeeggghhh,"
Terlihat kepala bayi menyembul keluar sedikit lalu masuk lagi ke jalan lahir.
"Salah bu, ngedennya jangan di leher ya, tapi di perut, seperti orang pup, istirahat dulu, masih hilang ini kontraksinbya," seruku.
"Nah, ini datang lagi kencengnya, ayo tarik nafas panjang lewat hidung dan mulut terus ngeden," perintahku.
"Heeeggghhh...heeegghhhh," pasien mengejan lagi.
"Duh, masih salah," aku gusar.
Aku lihat jalan lahirnya, kaku.
"Pak, bu, ini jalan lahirnya kaku, saya gunting ya sebagian jalan lahirnya. Daripada nanti robeknya amburadul, susah jahitnya." Kataku.
"Hahhh, digunting Del, ojo po'o, " si mantan terlihat resah dan gelisah menunggu di sini.
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata mutiara, sang pasien menyahut.
"Mas, biar saja, nurut apa kata mbaknya, mbaknya yang lebih pengalaman, selak sakit iki wetengku."
Aku mengambil gunting dan melakukan episiotomi (pengguntingan jalan lahir) saat ada kontraksi rahim.
"Ya, ayoooo bu, semangat nekat, ngeden seperti pup, bayangkan ibu pup,"
"Heeegghhh, heeggghhhh," pasien mengejan dengan semangat 45, dan alhamdulillah, yang keluar adalah pupnya.
"Ibu, ibu lanjutkan pup dulu ya, mungkin kepala bayi tidak kunjung keluar karena terdesak oleh pup," kataku.
"Nur, tolong ambil underpad bersih, dan kapas basah, biar aku yang bersihin," pintaku.
"Iya mbak, " jawab Nur. Lalu menuju lemari kaca dan mengambil barang yang kupinta.
Segera kuusap jalan lahir dengan kapas basah dan kuganti underpad yang kotor dengan underpad bersih.
"Ayo ada kontraksi, ibu ngeden ya, dan tolong pant*t jangan diangkat biar tidak jalan lahirnya tidak robek morat marit ." Seruku.
"Heeeggghhh...heegghhhhh...," akhirnya dengan penuh perjuangan yang tiada akhir, kepala bayi keluar.
"Stop, berhenti ngeden, biar bayinya saya keluarkan perlahan," kataku sambil melakukan sangga susur leher, punggung, pant*t bayi, dan berakhir di kaki.
"Oweeee....oweeee...., " tangisnya membahana.
"Anaknya cewek ya bu, cantik, selamat," kataku tersenyum mengikat dan memotong tali pusat. Kemudian aku membungkus bayi tersebut dengan kain bersih.
Sementara Nur menyuntikkan obat untuk mengeluarkan ari-ari.
"Ini pak bayinya, mau diadzani?" aku menyerahkan bayi pada sang mantan.
"Iya mbak, saya mau adzani dulu," sahutnya sambil menerima bayi yang kuberikan.
"Ibu mau IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ? atau bayinya langsung dibersihkan?" tanyaku sambil mengeluarkan ari-ari.
"Saya mau IMD dulu mbak, " kata bu Rania.
"Nur, seperti biasa ya IMD," kataku memandang Nur.
Nur lalu mengambil sang bayi, membuka kain penutupnya dan meletakkannya pada dada pasien.
Terlihat mantan berdiri didekat pasien sambil mengelus-elus kepala anaknya.
"Makasih ya sayang, udah memberikan aku anak cewek yang cuantik seperti kamu, " ucap mantan sambil mencium kening istrinya. Dan setelah itu melirikku.
"Eh, maksudnya apa coba, mau bikin aku cemburu ? gak bakal berhasil ! Seumur-umur nolong persalinan gak pernah lihat tuh adegan sayang-sayangan, apalagi saat pasien masih belum dibersihkan dari darah persalinan." gumamku.
"Iya mas, sama-sama, Mas, jangan sayang-sayangan dulu, malu sama mbak bidannya," kata pasien tersipu.
Nur mesam mesem sambil berdehem dan memandangiku. Aku balas dengan mendelik.
"Ndak apa-apa bu, saya juga lega anaknya lahir selamat dan sehat, walau tadi ada yang menolak saya," kataku menyindir.
Aku mengeluarkan ari-ari dengan hati- hati dan bersiap menjahit jalan lahir.
"Nur tolong nyalakan lampu sentrongnya dan dekatkan kursinya ya," Pintaku.
Nur melakukan apa yang kupinta.
Aku kemudian mempersiapkan obat bius, jarum jahit kulit, dan benang.
Setelah semua siap, aku mengganti sarung tangan dan mulai bersiap menjahit.
Aku melihat sang mantan mulai beralih ke belakangku. Tapi aku biarkan saja selama dia tidak cerewet dan diam saja.
Aku mulai menyuntikkan obat bius di jalan lahir yang kugunting tadi.
"Awww...sakit, " bukan teriakan dari pasien. Melainkan dari suaminya.
Nur tertawa. Aku manyun. "Pak tolong jangan lebay ya," kataku.
Aku mulai memasang benang pada jarum. Mantan berpindah tempat. Dari sisi kanan ke sisi kiri.
"Bismillah, saya jahit ya bu," seruku.
Lalu mulai menancapkan jarum dan menjahitnya.
Sang mantan berpindah posisi lagi dari kiri ke kanan, menyenggol lampu sentrong.
"Hati-hati Del," katanya perlahan. Aku diam saja dan terus menjahit.
Setiap kali aku menancapkan jarum, dia selalu berucap, "Hati-hati Del jahitnya," sambil beralih posisi dan menyenggol lampu sentrong.
Akhirnya kesabaranku habis dan berkata," Pak, tolong jangan wira wiri di belakang saya, nyenggol lampu sentrong, dan bilang Dal del dol, dal del dol terus, gak bisa fokus nih saya, " Taringku mulai keluar.
"Ma, maaf ya Del, aku diam deh," katanya lagi.
Nur ngakak dan pasien tersipu melihat kelakuan suaminya.
Aku melanjutkan menjahit dengan tenang.
"Maaf mbak Adel, atas kelakuan suami saya, sebenarnya mbak siapanya suami saya?"
Pertanyaan bu Rania membuatku tersenyum di balik masker yang kukenakan.
"Saya adalah?...."
Next?
"Saya adalah anak gembala selalu riang serta gembira. Eh itu lagunya Tasya ding," batinku.
"Saya adalah..."
"Dia teman SMAku dulu Yang, " dengan cepat Roma menyahut.
"Iya bu Rania, saya teman SMA pak Roma." ujarku.
Bu Rania manggut-manggut.
"Saya lanjut menjahit dulu ya, " sambungku lagi.
"Ibu, kalau sudah IMD, bayinya saya ambil dulu ya, mau saya bawa ke ruang bayi. Nanti malam bisa rawat gabung dengan ibu. Tapi kalau ibu ingin istirahat, bayinya biar tidur di ruang bayi." Celetuk Nur.
"Iya mbak, untuk nanti malam, saya tanya ibu saya dulu. Nanti saya kabari," jawab bu Rania.
Nur lalu mengambil bayi dan membawanya berlalu dari kamar tindakan.
"Nah bu, selesaikan jahitnya, tenang saja jahitan saya rapi dan tentu saja saya sisakan lubang sebagai mana mestinya. " Kataku seraya tersenyum dibalik masker.
"Saya bersihkan dulu ya badannya bu Rania, pak Roma bisa minta tolong mintakan baju ganti dan pembalut untuk istrinya?" pintaku.
"O, boleh Del, eh mbak," sahutnya sambil berlalu keluar ruangan.
Aku mengambil waslap, mengambil baskom berisi air bersih dan mulai menyeka dengan hati-hati badan pasien. Kemudian mengoleskan betadin ke kasa steril dan menempelkannya pada jalan lahir bu Rania yang tadi kujahit.
"Del, ini baju yang kamu minta, " Roma mengulurkan baju daster bersih dan pembalut.
"Terimakasih, Pak," aku mengambil baju dan pembalut kemudian memakaikannya pada pasien.
"Bu, sekarang sudah bersih dan segar ya, ibu boleh makan dan minum apapun seperti biasa, tidak ada pantangan, boleh miring-miring dan duduk. Kalau sudah tidak lemas dan tidak capek, boleh jalan perlahan ya." Jelasku.
Bu Rania mengangguk mengerti.
"Dan yang lebih penting ibu coba sekarang meraba perut ibu. Nah, keras kan, ini artinya rahim berkontraksi agar tidak menimbulkan banyak perdarahan, kalau rahim ibu terasa lembek, coba ibuk uyeg-uyeg perutnya sampai keras. Kalau tidak keras juga perutnya, dan ibu merasa keluar darah byor-byoran dari jalan lahir, segera lapor ke saya atau teman saya. Jangan lupa, kalau ingin kencing, kencing saja ya, jangan ditahan, karena kalau menahan kencing bisa menghalangi kontraksi rahim sehingga timbul perdarahan." Kataku panjang lebar.
"Iya mbak, saya paham ." Kata bu Rania.
"Mari saya periksa tekanan darah dulu sebelum saya tinggal ke ruang perawat." Ujarku sambil memasangkan alat tensimeter pada lengan bu Rania.
"Normal ya 110/70, saya ke ruang perawat untuk nyuci alat, itu tempat ari-arinya nanti bisa dibawa pulang." Tunjukku ke arah kendil tanah liat di bawah bed pasien.
Sebelum aku benar-benar pergi dari pandangan bu Rania dan pak Roma, pak Roma memanggilku. "Del,"
"Iya pak, " aku menghentikan langkah
"Makasih, kamu tetap pintar dan cekatan. Sama seperti saat SMA dulu. Maaf aku sempat buruk sangka padamu." Katanya malu.
Aku mengacungkan jempol kananku. "Yap, sama-sama sudah tugas saya pak, mari saya tinggal dulu," pamitku.
"Asem, apa aku berwajah kriminal sih, sampai dicurigai mau nyubit anaknya dan menutup lub*ng istrinya." Gerutuku dalam hati.
Sesampai di ruang perawat, aku melihat Nur sedang memberikan injeksi (suntikan obat) pada pasien nifas lainnya.
"Nur, wes sholat ashar urung?" tanyaku.
"Sudah mbak, tadi habis ngantar bayi pak Roma langsung sholat." Jawab Nur.
"Ya sudah, aku sholat dulu, ini partus set (alat penolong persalinan) dan heacting set (alat menjahit) aku dekontaminasi (merendam dengan larutan klorin) dulu ya, " kataku.
"Oke mbak, biar saya yang jaga ruangan sambil nulis partograf (lembar laporan persalinan pasien)," sahut Nur.
Jam 16.45 saat aku selesai sholat. Memang kadang tidak bisa tepat waktu saat menjumpai pasien persalinan. Semoga saja Allah mengerti kondisiku.
"Kurang apa Nur tugas yang belum selesai?" tanyaku.
"Ini mbak, nyicil laporan pasien yang lain." Sahut Nur.
"Oke, " tengah asyik-asyiknya aku menulis, tiba-tiba Roma berlari kecil mendekatiku.
"Del, istriku pengen pipis. Aku bingung nuntunnya ke kamar mandi gimana," seru Roma.
"Oh, iya pak, saya bantu ya." Aku lalu bangkit dari duduk dan berjalan terlebih dahulu dari Roma.
"Ibu Rania, sudah ingin buang air kecil?" Sapaku tersenyum begitu masuk VK (kamar tindakan persalinan). Posisi bu Rania sudah duduk di bed pasien.
"Sudah mbak Adel, maaf merepotkan terus. Tadi mas Roma gak berani nuntun saya pipis, takut sayaa jatuh katanya," jawab bu Rania.
"Kalau ibu sudah tidak pusing dan tidak lemas, mari saya tuntun ke kamar kecil, tapi kalau pusing, tidak apa-apa pake pispot saja," tawarku.
"Insyallah saya kuat mbak, " jawab bu Rania.
"Coba berdiri, saya rangkul dari belakang ya," Aku memapah bu Rania. Dan mengantarnya ke kamar mandi.
"Mbak ini kapas betadinnya saya buang ya?" tanya bu Rania dari dalam toilet VK.
"Iya bu, buang saja, kalau pembalut sudah penuh, ganti saja, " instruksiku.
"Masih belum terlalu penuh mbak pembalutnya. " Jawab bu Rania.
"Ya sudah, tidak usah di ganti kasanya bu, " sahutku dari luar.
Setelah bu Rania keluar kamar mandi, aku kembali memapahnya menuju bed pasien.
" Mbak, terimakasih ya sudah membantu saya. Saya percaya mbak kompeten dan amanah, jadi saya minta tolong pasangkan anting-anting pada anak saya ya mbak, " Kata bu Rania memelas.
"Waduh marimar ngasih kerjaan tambahan nih, awas aja kalau suaminya nyriwet dan lebay kayak tadi saat pemasangan anting-anting. " Aku membatin.
"Ehm, bisa bu, boleh nanti saya pasangkan kalau bayinya sudah dibawa kesini." Sahutku.
"Mbak, boleh saya pindah ke ruangan VIP yang tadi dipesan? " tanya bu Rania lagi.
"Belum boleh ya bu, masih belum 2 jam pasca salin. Karena perdarahan yang harus diwaspadai dan sering terjadi pada persalinan normal adalah 2 jam, tunggu sebentar ya, ibu sudah makan dan minum?" jawabku balik bertanya.
"Sudah mbak, " sahut bu Rania pendek.
"Bagus, insyallah habis maghrib, kalau tidak ada keluhan, saya pindah ke ruang vip, saya pamit dulu ya," ucapku berlalu dari bu Rania dan pak Roma.
"Iya mbak," sahut pasutri tersebut kompak.
Maghrib tiba, sesuai janji, aku menghampiri bu Rania.
"Nur, kamu tensi semua pasien di rawat inap ya, kan cuma 6 orang, aku mau ke VK, mindah bu Rania dulu." Pamitku pada Nur.
"Eeee....cie... mbak Adelia, suitt...suittt, mau mindah pasien apa mindah pasien? hahahahaha " Nur tertawa ngakak.
"Hust, saru, ojo ngguyu banter-banter kowe, aku ngono profesinal. Mbuh mantan, mbuh bukan, kita kan harus service excellence." Sahutku sambil berlalu ke VK.
"Gimana bu, ada keluhan ? saya cek tensinya dulu ya," kataku.
"Ya normal, mari pindah ke kursi roda," tukasku.
Bu Rania dengan hati-hati berdiri dan berjalan ke kursi roda. Setelah bu Rania duduk, aku mendorongnya menuju kamar VIP 1. Diikuti pak Roma dari belakang.
"Tok...tok...tok, Assalamualaikum, " aku mengetuk pintu dan mendorong handle pintu.
Begitu pintu terbuka, ternyata di kamar VIP 1 sudah menunggu bayi bu Rania. Dan seraut wajah perempuan yang tidak asing lagi buatku.
"Oalah bwambaaang, apes bener dah ketemu lagi sama beliau," batinku.
"Loh, ini Adelia? Adelia yang dulu gemuk banget waktu masih SMA dan kuliah?" tanya perempuan setengah baya yang rambutnya diblonde tersebut menatapku tak percaya.
"Iya tante saya Adelia, dulu teman pak Roma, " sahutku tersenyum sambil mempersilahkan bu Rania pindah dari kursi roda ke ranjang kamar.
"Kamu kok bisa cantik langsing kayak gini? apa rahasianya? " tanya perempuan itu lagi.
"Rahasia saya jadi langsing adalah...."
Yang mau tahu perempuan setengah baya dan rahasia Adelia terus kepoin cerita ini ya. Sudah tamat di kbm app dan joylada.
Next?