Ada perasaan menyesal dalam diri Alana karena menurutnya, ia sudah salah dalam memilih pasangan hidup, namun nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Alana menganggap bahwa ini sudah takdir Tuhan, ia dijodohkan dengan laki-laki yang jauh dari apa yang ia harapkan.
Alana sempat berkeinginan untuk bercerai dari Vicky, ia ingin mendapatkan suami yang lebih baik, bukan seorang pemabuk. Alana pun tidak ingin mempunyai seorang anak dari laki-laki pemabuk seperti Vicky. Namun keinginannya itu tak mampu ia wujudkan karena Vicky tiba-tiba berjanji akan bertaubat apabila sudah mempunyai seorang anak. Pada awalnya Alana tidak percaya dengan perkataannya, namun akhirnya Alana pun luluh kembali oleh janji-janji manis yang Vicky ucapkan.
Setelah Alana hamil, tubuhnya terlihat gemuk, Alana sering mengeluh pusing dan mual, tapi Vicky malah terlihat cuek. Ia tidak pernah sekalipun memperdulikannya, bahkan untuk membeli makanan yang Alana inginkan pada saat hamil pun tidak. Alana tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang sudah menghamilinya itu.
Setiap Alana periksa kehamilan, Ibu Rumina, orang tua Alana yang selalu mengantarnya, Ibu Rumina yang selalu menemaninya, beruntung sekali Alana mempunyai orang tua yang rumahnya dekat dengan tempat tinggalnya.
Sampai akhirnya ia melahirkan, Vicky juga tak pernah berada di sampingnya, ia selalu beralasan bahwa ia sibuk bekerja. Seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya sangat butuh sentuhan dan dukungan seorang suami, agar tidak terjadi syndrom baby blues, namun hal itu tidak Alana dapatkan dari sang suami.
Waktu terasa lama bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan, karena setiap hari hanya di rumah menemani sang anak, yang membantu Alana mengerjakan pekerjaan rumah setelah ia melahirkan adalah Ibunya, dari mulai mencuci pakaian, menggosok pakaian, sampai membantu Alana mengurusi Andrea yang baru lahir, karena ia belum mampu untuk memperkerjakan asisten rumah tangga. Untuk kebutuhan makan sehari-hari pun terkadang ibu Rumina yang membawakan Alana nasi, sayur dan lauk pauk demi menjaga nutrisi yang terbaik di dalam asinya.
Alana menatap Andrea yang sedang tertidur. Ia merasa kasihan dengan buah hatinya ini karena belum mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, entah kapan vicky tersadar bahwa ia mempunyai seorang putri cantik seperti Andrea.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Alana!"
Alana mendengar suara ibu Rumina yang memanggilnya, ia langsung beranjak keluar kamar untuk membukakan pintunya.
"Kok tumben pintunya dikunci? Kamu lagi tidur?"
"Nggak!" Jawab Alana sambil berlalu ke dalam.
Sang ibu membawakannya nasi, sayur dan lauk untuk makan siang Alana.
"Itu makan dulu!" Titah Ibu Rumina, namun Alana merasa dirinya belum lapar.
"Ada apa, Al?" Tanya Ibu Rumina seraya melihat wajah putrinya yang sedang bersedih.
"Bu, tadi ada orang kesini, lalu orang itu menanyakan Mas Vicky, orang itu meminta agar uangnya segera dikembalikan."
Ibu Rumina mengernyitkan kedua alisnya, "Vicky berhutang pada orang itu?"
Alana menggelengkan kepalanya, "entahlah, tapi orang itu bilang, Mas Vicky mengajaknya untuk berinvestasi, namun sampai sekarang, ia belum menerima keuntungan dari investasinya itu."
"Investasi apa?"
"Aku pun tidak tahu! Ibu kan tahu, kalau Mas Vicky itu bersikap tertutup sama aku!" Jawab Alana karena ia sering menceritakan pada ibunya semua tentang suaminya itu.
"Lalu, berapa besar uangnya itu?"
"Sepuluh juta!"
Ibu pun terkejut, "apa? Sepuluh juta?"
"Iya."
Alana sempat berpikir jika orang tersebut hanya ditipu oleh suaminya itu, tapi ia juga ingin tidak hanya menduga-duga, Alana harus menemukan jawaban yang jelas dari suaminya tersebut.
Malam hari pun tiba, Ibu Rumina sudah pulang dari rumah Alana, hanya Alana dan Andrea yang berada di dalam rumah. Alana masih menunggu Vicky pulang. Alana melihat jam pada ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, jika orang yang benar-benar kerja, sewajarnya jam segini sudah berada di rumah, namun Alana yakin bahwa suaminya ini sedang berada di tempat hiburan.
hujan mulai membasahi bumi, dentuman petirpun terdengar dengan sangat merdu, bayi cantik yang berambut lebat itu sudah tertidur, hanya memandangi wajah Andrea yang bisa membuat hati Alana tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Vicky masih belum juga kembali ke rumahnya, Alana mencoba untuk menghubunginya kembali namun hasilnya masih sama, teleponnya tidak diangkat. Kesendirian sudah menjadi hal yang biasa bagi Alana, ia sudah bersuami namun terasa seperti masih sendiri.
Tok ... Tok ... Tok ...
Alana melirik jam lagi, waktu menunjukkan pukul satu dini hari, ia yakin yang mengetuk pintu itu adalah Vicky. Alana berjalan perlahan, ia takut Andrea terbangun jika mendengar suara hentakan kaki.
Krekkk ~~
Alana membukakan pintu, benar saja yang berada di balik pintu adalah suaminya, akhirnya ia sampai di rumah. Alana memandang Vicky yang matanya merah, tercium bau minuman keras juga, lalu Vicky berjalan ke dalam, jalannya terhuyung-huyung, karena ia dalam keadaan mabuk.
Vicky belum bisa diajak berbicara, ia langsung merebahkan tubuhnya di ruang tamu walau bajunya dalam keadaan basah dan kotor, Alana membiarkannya, ia kembali tidur di dalam kamarnya.
***
Pagi hari sudah menyapa, Ibu Rumina kembali datang ke rumah Alana dengan membawakan sarapan pagi untuknya, lalu Ibu meletakkannya di atas meja.
"Suamimu belum bangun?" Tanya Sang Ibu sambil melihat Vicky yang tidur di ruang tamu.
Alana menggelengkan kepalanya.
"Memang ga kerja?" Tanya Ibu lagi.
"Harusnya sih kerja!"
Sudah berkali-kali Alana membangunkan suaminya itu, namun ia tak bangun juga. Mungkin karena pengaruh alkohol yang membuat kesadarannya melemah.
Alana sarapan nasi dan lauk yang Ibu Rumina bawa, lalu Sang Ibu menjemur dan memandikan Andrea.
Kringggg ~~ Kringggggg ~~
Terdengar dering ponsel Sang Suami, Alana mencari keberadaan ponsel tersebut, ternyata masih berada di saku celana Vicky, Alana berusaha mengambilnya, ia melihat nomor yang tertera di layar, dari nomor yang tidak dikenal, hatinya bertanya-tanya, 'nomor siapa ini?'
Alana menggeser tombol berwarna hijau, terdengar suara dari balik telepon seorang laki-laki.
[Hallo...]
[Iya.]
[Ini benar nomor hpnya Vicky?]
[Iya, benar. Ini siapa ya?]
[Bisa saya bicara dengan Vicky?]
[Vicky masih tidur.]
[Ini saya bicara dengan siapa?]
[Saya istrinya.]
[Saya Alex, tolong sampaikan pada suamimu, saya meminta uang saya dikembalikan!]
[Uang? Uang apa?]
[Uang investasi yang suamimu janjikan akan mendapatkan keuntungan, tapi sampai saat ini tidak pernah saya dapatkan!]
[Berapa banyak?]
[Lima juta rupiah.]
Alana kembali terkejut dengan pernyataan seseorang yang bernama Alex itu, ia juga mennginginkan uangnya untuk dikembalikan. Jika ditotal sudah lima belas juta juta Vicky harus mengembalikan uang orang-orang tersebut. Uang lima belas juta, singgah di rekening Alana pun tidak pernah, apalagi melihatnya langsung, ia belum pernah mempunyai uang sebanyak itu. Lalu bagaimana Sang Suami harus mengembalikannya?
Sudah siang hari, Vicky baru membuka matanya. Ia mencari-cari keberadaan ponselnya di saku celana, namun tidak ia temukan.
"Alana!" Vicky memanggil Sang Istri. Alana yang sedang menyusui Andrea di dalam kamar, tidak menjawab panggilan suaminya itu.
"Alana!" Berulang kali Vicky memanggilnya dengan suaranya yang keras.
Karena tak ada jawaban dari Sang Istri, akhirnya Vicky menghampirinya di dalam kamar. "Hpku mana?"
"Itu di atas meja."
"Kenapa bisa ada disini?"
"Tadi ada telepon."
"Dari siapa?"
Alana sudah selesai menyusui Andrea, karena bayi mungil itu sudah tertidur pulas, lalu ia menarik tangan Vicky, mengajaknya untuk keluar kamar, agar Andrea tidak terbangun.
"Kemarin, ada orang yang datang kesini untuk meminta uangnya dikembalikan sebanyak sepuluh juta, lalu tadi ada yang menelepon lagi dengan meminta uangnya untuk dikembalikan juga sebanyak lima juta. Mereka mengatakan, kamu mengajaknya berinvestasi. Investasi apa?"
"Investasi fiktif!" Jawab Vicky dengan santainya.
"Apa? Fiktif?" Alana tercengang.
"Iya fiktif!"
"Lalu kemana uang mereka?"
"Aku habiskan sama teman-teman!"
Alana tidak menyangka jika suaminya itu menipu orang-orang tersebut. Selain pemabuk, Vicky juga seorang penipu, lantas apa yang bisa dibanggakan dari seorang laki-laki seperti ini?
"Jika orang-orang yang kamu tipu itu melaporkan kamu ke polisi, lalu kamu masuk penjara, bagaimana?"
Kini Vicky sedang berpikir, dari mana ia mendapatkan uang untuk menggantikan uang orang-orang yang sudah ia tipu tersebut. Ternyata bukan hanya dua orang, ia mengaku masih ada orang lain yang juga ia tipu untuk berinvestasi pada bisnis fiktifnya itu, jika di total jumlah ada kurang lebih lima puluh juta.
Kepala Alana pun terasa berputar, ia tidak tahu harus berbuat apa. Uang sebesar lima puluh juta amatlah besar baginya, dari mana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu?
Bayi lucu Alana yang bernama Andrea Caroline ini tiba-tiba terbangun lagi dan ia menangis, Alana langsung ke dalam kamar untuk kembali menyusuinya.
Kurang lebih sudah satu jam ia menyusui Andrea, namun Andrea tidak juga merasa kenyang, ia masih saja terus menangis. Alana tak tahu mengapa seperti ini. Mungkinkah karena ikatan batin antara ibu dan anak, jika ibunya merasa stres anaknya pun jadi rewel?
"Sini, ibu yang gendong!" Ucap Ibu Rumina sambil mengambil cucunya dari dekapan Alana. Beruntung ada Ibu Rumina, jadi bisa bergantian mengurusi Andrea.
Alana beranjak ke dapur, ia membuat secangkir chocolate hangat untuk menenangkan pikirannya, biar bagaimanapun ia tidak boleh stres.
Alana mendengar, Vicky kembali mendapat telepon dari orang-orang yang menagih uangnya kembali, mereka marah-marah, berkata kasar bahkan sampai menyumpahinya.
"Coba kamu pinjam uang pada Kakakmu!" Titah Vicky.
Alana mencoba menghubungi Kakak laki-lakinya yang tinggal di luar kota.
[Hallo, Bang Natha.]
[Iya Al, ada apa?]
[Maaf Bang ganggu, Aku mau pinjam uang Bang!]
[Pinjam uang? Berapa?]
[Lima puluh juta.]
[Lima puluh juta? Uang sebanyak itu untuk apa?]
[Untuk menggantikan uang orang, karena aku berhutang pada orang lain.]
Alana terpaksa berbohong pada Abangnya itu, tujuannya agar Abangnya mau meminjamkannya.
[Maaf Al, Abang ga bisa pinjamkan uang pada kamu, karena Abang juga banyak pengeluaran.]
Pupus sudah harapan Alana pada Kakak laki - lakinya, namun ia tidak ingin berputus asa, ia mencoba menghubungi Kakak perempuannya yang kini tinggal jauh darinya.
[Hallo Kak Zara.]
[Iya Al, ada apa?]
[Maaf Kak ganggu, aku boleh pinjam uang ga?]
[Pinjam uang berapa?]
[Lima puluh juta.]
[Apa? Lima puluh juta?]
[Iya Kak, aku ada hutang sebanyak itu.]
[Kakak lagi ga ada uang, maaf ya Kakak ga bisa pinjamkan ke kamu, apalagi sebanyak itu]
[Gitu ya Kak, oke terimakasih.]
Ia sudah berusaha menghubungi kedua Kakaknya tersebut, namun ia belum juga berhasil meminjam uang itu. Sekarang, Vicky yang berusaha meminjam pada keluarganya. Kedua orang tua Vicky yang sudah mengetahui watak Sang Anak, tidak ingin meminjamkan uang pada anaknya tersebut, begitupun dengan saudara-saudaranya yang lain.
"Kenapa sih kalau apa-apa nggak dipikir-pikir dulu bagaimana dampaknya? Enak-enakan kamu pakai uang orang hanya untuk bersenang-senang, lalu sekarang bagaimana kita harus mengembalikan uang mereka?" Ucap Alana yang sudah sangat emosi dengan suaminya ini. Menurutnya, Vicky sangat bodoh karena ia hanya memikirkan kesenangan dirinya saja, namun merugikan orang lain, orang seperti ini layak masuk penjara.
"Biar mendekam kamu dipenjara!" Ujar Alana, sambil membalikkan badannya, ia tak sudi memandang suaminya itu.
"Hei, aku nggak akan mendekam di penjara!" Lirih Vicky yang berdiri di belakang Alana.
"Lalu bagaimana sekarang kamu mendapatkan uang itu? Sekarang juga, kamu minta uang pada teman-temanmu untuk ikut mengembalikan!" Titah Alana. Namun Vicky enggan untuk menghubungi teman-temannya, karena menurutnya teman-temannya pun tidak akan mau meminjamkan uang, apalagi untuk mengembalikan.
Setelah berpikir cukup lama, Vicky berinisiatif untuk meminjam uang pada atasannya di kantor, yaitu Bryan Kalandra, walau tak yakin akan dipinjamkan, tapi ia tetap ingin bicara langsung pada atasannya tersebut.
"Ayo, kamu ikut aku!" Titah Vicky, ia menarik tangan Alana.
"Tunggu!" Alana berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu mau ajak aku kemana?" Tanya Alana.
"Udah cepat ikut aja!" Vicky kembali menarik tangan Sang Istri. Alana tidak tahu akan di ajak kemana oleh suaminya itu.
Alana naik di atas kendaraan roda dua milik suaminya itu, lalu Vicky melajukan motornya menuju ke rumah Bryan.
Setelah sampai di rumah Bryan, Alana yang belum mengetahui pemilik rumah ini, bertanya, "ini rumah siapa?"
"Udah, ayo masuk!" Titah Vicky.
Vicky meminta izin pada security untuk masuk ke dalam rumah atasannya itu, ia mengatakan sudah berjanji pada Sang Pemilik rumah untuk bertemu. Security tersebut masuk ke dalam, ia memberitahukan kedatangan Vicky dan juga istrinya pada tuan rumah.
"Vicky? Saya sedang tidak ada janji dengan siapapun!" Ucap Bryan.
"Tapi dia mengatakan kalau dia sudah janji ingin bertemu Bapak!"
"Ya sudah, suruh dia masuk!"
Security itu berjalan keluar, ia kembali menemui Vicky, lalu mengatakan padanya bahwa Bryan mengizinkan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Alana melihat di sekitar, rumahnya sangat besar, terdapat beberapa mobil di dalamnya, untuk masuk ke dalamnya saja mereka harus berjalan cukup jauh.
Setelah sampai di dalam rumah, Vicky dan Alana dipersilahkan untuk masuk ke dalam, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah yang sangat mewah ini. Vicky dan Alana duduk di sofanya yang sangat empuk.
Alana baru merasakan masuk ke rumah orang kaya. Sambil menunggu Bryan datang, ia melihat foto-foto dan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.
Tak lama kemudian datanglah laki-laki berperawakan tinggi besar, berkulit putih dan berwajah tampan itu, lalu ia duduk di hadapan Vicky dan Alana. Ia adalah adalah Bryan, seorang direktur utama di perusahaan tempat Vicky bekerja.