Ayu POV
"Acara akad nikahnya harus segera digelar. Untuk resepsi bisa ditunda dulu sampai Ayu lulus kuliah," ucap Mama kepada calon ibu mertua gue. Keduanya sangat asik sampai mengabaikan pendapat gue.
And here i am...
Duduk manis di dalam kamar menunggu Pak Reza selesai mengucap akad nikah di depan Papa dan penghulu. Siger sunda menjadi tema yang gue pakai karena keluarga besar gue asli sunda sedangkan keluarga besar Pak Reza aslin Yogyakarta.
Meski terpaksa menikah dengan pilihan orang tua gue kira gue ngga akan deg degan dan ngga bisa tidur malemnya. Ternyata gue sepanik itu menghadapi hari ini.
Mama gue yang paling panik karena tahu anaknya punya kantong mata yang besar. Beruntungnya gue punya MUA yang bisa mengcover kekurangan di muka gue dengan apik.
Segala pujian dilontarkan ke gue karena gue pangling banget dan keinget waktu puluhan tahun lalu Mama nikah sama Papa.
"Geulis pisan si neng. Janten inget si Mama basa nikah. Meni mirip pisan," ucap Uwa Odah, kakaknya Mama. (Cantik banget si neng. Jadi inget Mama waktu nikah.)
"Nuhun Wa."
"Sing janten kulawarga anu sakinah, mawaddah sareng warohmah ya neng." Aku mengaminkan doa yang baik-baik. (Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah ya neng.)
"Saur si Mama tos akad neng langsung di candak ku si Aa na ka bumi si Aa nya." (Kata si mama sehabis akad neng langsung di bawa si Aa ke rumahnya ya.)
"Muhun Wa. Si Mama jeung si Papa sih nu miwarang. Soalnya Ibu mertua nyalira di bumi. Pan Bapak tos teu aya janten meh aya batur di bumi cenah. Padahal neng mah hoyong tinggal didieu sareng mama papa," ucap ku murung.
(Iya Wa. Si Mama sama si Papa sih yang nyuruh. Soalnya Ibu mertua sendirian di rumah. Kan Bapak mertua udah ngga ada jadi biar ada temen dirumah katanya. Padahal neng mah pengennya tinggal disini sama Mama Papa.)
"Ari tos nikah mah neng wayah na kedah ngiring kemana suami nyandak. Teu kenging alim di candak da tos kewajiban isteri kedah ngiring kamana suami angkat." (kalau udah nihah sudah seharusnya ngikut kemana suami bawa. Ngga boleh menolak karena sudah kewajiban isteri ngikut kemana suami pergi.)
"Muhun wa." (Iya Wa)
Disaat tengah menunggu, tiba-tiba hape gue berdering. Gue langsung mengangkat telepon dari Fitri.
"Iya Fit. Kenapa?"
"Yu, elo dimana? Jam segini kok belum nongol," ucap Fitri terdengar was was.
"Gue masih dirumah Fit. Kenapa?"
"What!! Elo masih tanya kenapa?! Gila lo ya. Elo mau mati apa di jam pelajarannya Pak Eza. Buruan datang!"
Gue menggigit bibir bawah gue. "Gue ngga bisa datang ke kampus Fit. Sorry."
"Hah?! Kok dadakan sih. Tahu gitu kan gue ikutan bolos."
"Panjang ceritanya. Udah dulu ya bye."
Gue memutus sambungan telepon karena salah seorang WO mengabarkan kalau Pak Reza dan rombongan keluarganya sudah tiba dirumah. Saat ini Fitri pasti sedang ngambek-ngambek ngga jelas karena obrolannya terputus. Tapi apa mau dikata saat ini gue lagi ngga bisa ngobrol lama.
Ya.
Gue lagi menunggu Pak Reza mengucap ijab kabul di hadapan Papa, penghulu dan para saksi. Bisa di lihat dari layar televisi Pak Reza tegang banget.
"Sah."
"Alhamdulillah," seru sodara-sodara yang menemani gue di dalam kamar. Ya. Ayumi Larasati kini telah resmi menjadi isteri Reza Syahrial yang notabene dosen killernya di kampus.
Sial! Gue mewek!
Gue menyeka air mata yang meluncur begitu saja. Gue ngga tahu kenapa gue nangis. Apakah gue menangis bahagia karena telah menikah atau menangis sedih karena kehidupan bebasnya akan terenggut oleh kewajiban yang harus ia jalankan sebagai seorang isteri.
- POV Ayu End -
***
Entah sudah berapa kali dirinya seharian ini menghela nafas berat. Pernikahan Ayu dan Eza hanya di gelar sederhana saja. Tidak ada resepsi dan mengundang banyak tamu undangan melainkan hanya akad nikah yang dihadiri oleh kedua keluarga besar saja.
Pasca akad nikah, hari itu juga Ayu di boyong ke rumah orang tua Eza. Barulah disitu Ayu menangis sedih karena harus tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya. Maklumlah Ayu anak bungsu cewek satu-satunya. Kedua kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal terpisah dengan orang tua.
Eza membawa Ayu ke rumahnya karena Ibunya sudah sepuh dan butuh teman untuk mengobrol. Apalagi Ayu adalah menantu wanita pertama dirumah mereka. Ayu mau ngga mau manut sama Eza yang kini sudah jadi suaminya.
Mamanya selalu mengingatkan kalau apapun yang terjadi, Ayu harus mendengarkan ucapan suaminya dan tidak boleh membangkang.
"Masih belum kelar nangisnya?" ucap Eza dengan santainya setelah keluar dari kamar mandi.
Ayu menatap tajam pria menyebalkan di hadapannya. "Belom lah. Siapa yang bikin aku mewek kayak gini!"
"Kamu lah masa aku."
"Kamu tahu! Kenapa harus langsung pisah sama papa mama sih! Aku mau tinggal sama mereka."
"Sana pulang. Tapi jangan kaget kalo papa mama masuk rumah sakit gara-gara anaknya di cerai karena keluar dari rumah suami tanpa ijin."
Ayu mencebik kesal. "Ngancem mulu maennya!" Ia memilih masuk kamar mandi dan segera mendinginkan kepalanya yang sedari tadi panas.
"Awas lu ye. Jangan harap minta hak sebagai suami!"
Tiga puluh menit kemudian Ayu keluar dari sana sudah lengkap mengenakan pakaian tidur bermotif winnie the pooh. Rambutnya yang panjang tergerai agak basah.
Eza yang tengah membuka laptop sontak tertawa melihat pakaian tidur yang dikenakan oleh isterinya di dalam pengantin mereka.
"Ngapain elo ketawa. Emang ada yang lucu!"
"Dasar bocil bocil!"
"Bodo!"
Ayu melirik ranjang dan sofa bed dikamar. Ia bingung mau tidur dimana. "Jangan tidur di ranjang. Sono tidur di sofa aja. Geli aku lihatnya," ucap Eza yang kembali memeriksa pekerjaannya.
Ayumi mengambil bantal, guling dan juga selimut dari lemari pakaian. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Lagi lagi Eza menyindirnya.
"Kasihan amat sih itu Winnie The Pooh. Salah apa itu Winnie the Pooh dipake kamu."
"Berisik!!"
Ayu melempar bantal kecil ke arah suaminya. Eza berhasil menghindar. Tawanya semakin kencang dan itu membuat Ibu mertuanya mengetuk pintu kamar mereka.
"Mampus lu. Ibu datang!"
"Sana bukain pintu."
"Kok aku sih. Kamu aja yang buka."
"Kamu lebih dekat sama pintu. Udah bukain cepet!"
Ayu mendengkus. Ia melangkah ke pintu dan membuka pintu kamar untuk mertuanya.
"Iya Bu. Ada apa?"
"Kalian ngga lagi berantem kan? Dari bawah ibu denger kalian kayak lagi berantem," ucap Dewi.
"Hah? Berantem? Ngga kok Bu. Mas Eza jahilin Ayu mulu dari tadi." Ayumi memberengut kesal.
"Oalah... Ibu kira kalian lagi cek cok." Dewi menatap putranya. "Mbok ya jangan di jahili terus toh bojo ne Mas. Nanti kalau Laras ndak kerasan disini piye cubo? Ibu ndak punya temen ngobrol nanti."
Laras adalah nama panggilan Dewi untuk mantu perempuannya.
"Iya Bu. Ngga akan."
"Ya sudah. Kalian cepat istirahat. Besok kalian harus kembali ke kampus kan."
"Iya bu. Ibu juga selamat istirahat."
Dewi tersenyum. Ayumi menutup pintu kamar dan kembali ke sofa. Ia memunggungi suaminya dan tak lama ia pun terlelap ke alam mimpi.
Hari pertama jadi mantu, aku udah bikin malu mertua. Manten anyar bangun kesiangan mending kalo abis skidipap malemnya. Lah ini karena emang susah bangun pagi. Dahlah rusak citra gue di mata mertua 😫.
Mana laki gue udah berangkat ke kampus dan gue ditinggal. Dasar laki lucknut!!
"Sialan!! Bangunin gue kek. Malah ditinggal. Argh!! Laki nyebelin!!"
Aku buru-buru mandi dan bersiap-siap sebelum berangkat ke kampus. Muka cuma ditempelin bedak tipis doang karena ngga sempet skincare-an dulu. Pake foundation aja ngga sempat. Yang penting ngga keliatan kucel aja abis mandi.
Pagi ku semakin suram saat buru-buru lari turun di tangga, kaki kejelipet dan berakhir terjun bebas ke lantai satu.
"Aaaargh!!" Ringisku karena nyeri di dada, perut dan kaki karena bergesekan sama anak tangga.
Bukan nyeri lagi yang dirasa tapi malu luar biasa. Lobang mana lobang!!
"Ya ampun Laras. Kenapa buru-buru. Jadi jatuh kan," seru Ibu sambil membantu ku berdiri.
Aku hanya bisa meringis nyeri sekaligus malu luar biasa. Malu karena jatoh dari tangga sama malu karena bangun siang. Dahlah imahe gue makin tenggelam ke dasar Samudra Hindia.
"Kita ke dokter."
"Ngga Bu. Ngga usah. Laras mau ke kampus aja. Hari ini hari pertama ujian," ucapku baru menyadari kalau hari ini hari pertama ujian tengah semester dan gue belum belajar sama sekali.
"Double kill!!" Rutukku dalam hati.
Gara-gara nikah gue lupa segalanya. Ah... Mama tolonglah anak mu yang oon ini 😩😩.
"Tapi kamu habis jatuh dari tangga. Kita periksa dulu ya. Ibu ngga mau kamu kenapa kenapa, Ras."
"Gpp Bu nanti aja. Laras mau ujian dulu. Abis pulang ujian nanti Laras ke rumah sakit untuk periksa."
"Nanti Ibu bilang sama Mas mu kalau kamu absen dulu ujiannya karena mau periksa ke dokter." Terlihat Ibu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Wadoh... mampus gue! Jangan sampai laki dakjal itu tahu kalo gue jatoh dari tangga. Bisa kesenengan dia lihat penderitaan gue.
"Bu... Ibu jangan dong. Jangan kasih tahu Mas Eza kalo aku jatuh. Nanti dia ngga konsen ngajarnya. Lagian Laras ngga apa kok. Tangan kaki aman ngga ada yang sakit atau cidera. Laras pamit ya bu. Nanti makin telat."
Aku memohon ibu biar mengijinkan aku untuk pergi ke kampus. Dengan berat hati Ibu mengijinkan dengan syarat pulang kampus harus ke rumah sakit secepatnya. Aku pun pamit ke kampus dengan menggunakan motor matic milikku yang sebelumnya sudah berada di rumah ini.
***
"Sisa waktu kalian 30 menit lagi."
Aku melirik ke arahnya yang tengah berjalan mengelilingi para peserta ujian. Insiden jatuh dari tangga membuat konsentrasi ku buyar. Rasa nyeri di tubuhku makin membuat moodku ambyar.
Ujian statistika di hari pertama memang kartu mati. Kenapa yang duluan keluar ujian itu mata kuliah yang paling berat sih?! Kenapa ngga di mulai dari mata kuliah yang ringan ringan dulu.
Otak ku paling lemah jika harus berhadapan dengan yang berbau itung-itungan.
"Cepat kerjakan ujian mu. Bukannya malah menggerutu ngga jelas. Waktunya udah mau habis," ucapnya berbisik dan membuatku terkejut.
Pria menyebalkan itu ternyata berdiri tepat di belakang ku. Ia mengetuk kertas ujian ku yang masih banyak yang kosong. Aku mendelik sebal.
"Bantuin ngisi napa?!"
"Anak TK aja suruh ngerjain sendiri. Ini minta diisiin. Balik ke TK lagi sana!"
Dia melengos begitu saja. Awas ya!!
Hingga bel berbunyi kertas ku masih banyak kosongnya. Dahlah aku dan mata kuliah Statistik memang tidak berjodoh.
"Selesai tidak selesai kumpulkan," ucapnya lagi sambil membereskan lembaran kertas para mahasiswa. Setelah menunggu beberapa saat, aku pun turun dari kursi ku dan menyerahkan kertas ujian. Ia mengerutkan dahinya melihat kertas ujian ku yang masih banyak kosongnya.
"Biasa aja lihatnya. Udah tahu kok gue bakalan di remedial," ucapku kesal melihat tatapannya yang menyebalkan.
"Remedial juga percuma kalo kamu ngisi soalnya kayak gini."
Tahan Yu tahan. Dia sengaja bikin hari lo makin ambyar, gumamku dalam hati.
Aku pergi meninggalkan kelas dan segera pulang. "Ayu, tunggu."
"Kak Rafa," ucapku melihat sosok senior ganteng incaran ku. "Hai Kak."
"Hai. Gimana ujiannya, lancar?"
"Hehe... ya gitu deh kak. Kak Rafa gimana ujiannya?"
"Lancar. Moga moga ngga remedial."
"Kak Rafa mah mana pernah remedial. Emangnya aku remedial statistik mulu."
Tanpa sadar ku tundukkan kepala karena sadar diri. Kak Rafa mengelus rambutku dan itu membuat ku tersipu malu.
"Kamu pasti bisa kok Yu. Kalau kamu butuh bantuan kami bisa cari aku."
Mata ku berbinar-binar mendengarnya. Wajahku yang semula sendu mendadak ceria. "Yang bener Kak? Aku mau dong diajarin Statistik."
"Boleh dong."
"Wah makasih banyak Kak. Eh tapi nanti ketahuan dong oonnya aku ngerjain statistik."Rafael tertawa.
Sumpah demi apa gue terpana melihat senyumnya Kak Rafa
Sumpah demi apa gue terpana melihat senyumnya Kak Rafa. Anjiiir gunung es di kutub utara langsung mencair.
Dedek memeleh Bang lihat tawanya Abang 🤤🤤
"Kalian belum pulang?" Seru seseorang yang langsung membuat suasana ceria menjadi mencekam. Siapa lagi kalo bukan si dosen killer.
"Pak Eza. Selamat siang Pak."
"Siang. Ngapain kalian masih di kampus? Masih ada kegiatan lain?"
Mendengar nada bicaranya yang dingin sepertinya dia tengah menatap ke arahku. Tapi bodo amat. Mending menatap wajah tampan Kak Rafa di banding menatap muka dosen Killer.
"Kak Rafa ngapain sih pake di jelasin segala,ck!" Gumamku dalam hati.
"Kami permisi dulu Pak." Aku langsung menarik tangan Kak Rafa untuk pergi menjauh.
Bodo amat itu orang mau ngomong apa nanti. Yang pasti gue ngga mau lama-lama deket si dosen killer. Cukup di rumah aja kepaksa deketan. Di kampus no way!!
Aku dan kak Rafa berjalan keluar kampus. Tiba-tiba sebuah notif masuk ke ponselku.
Dosen Killer.
[Berani kamu gandeng-gandeng cowok lain di depan suami?!]
Nah kan!!
[Oh ngaku suami toh. Ku kira ngga ngaku kalo udah jadi suami. Ngga usah baper deh. Orang mau belajar Statistik.]
Aku membalas pesan Mas Eza sambil tahan tawa. "Kenapa? Senyam senyum sendiri," tanyanya.
"Oh gpp Kak. Yuk mau belajar dimana?"
"Di cafe belakang kampus aja, gimana?" Usulnya membuat otak ku berpikiran dia lagi ngajak kencan tapi modus mau bantuin belajar.
Ya Allah. Jangankan ke cafe Bang. Ke hati Abang aja neng mah mau 😂.
"Atau di perpus aja kalau ngga mau di Cafe," usulnya lagi. "Di cafe aja kak gpp. Di perpus kalo laper ngga bisa pesen makanan."
Lagi lagi dia tertawa. "Oke deh. Kita ke Cafe belakang kampus aja ya."
"Oke kak."
Kami pun pergi menuju cafe belakang kampus sambil jalan kaki. Pengen banget dibonceng motor gedenya tapi malu. Ya udah jalan berdua sambil ngobrol juga seru. Ya allah... semoga gue konsen belajarnya ya.