Beberapa saat kemudian, Jeff mendapati dirinya telah bersandar pada pintu lemari persediaan tempat penyimpanan barang, tepatnya di gudang kafe. Lidah Anna telah memasuki mulutnya ketika tangannya meraba-raba kulit punggungg gadis itu, menyentuh setiap inchi dari kehalusan kulit yang memungkinkan untuk bisa dia jangkau. Anna mengerang, meski suaranya tertahan karena mereka masih sibuk bercumbu satu sama lain, topeng mereka bergesekan satu sama lain.
“Kita harus melepaskan topeng ini,” gumam Jeff di dekat bibir Anna, sambil menarik perempuan itu untuk mendekati ereksinya yang makin mengeras dibawah sana. Anna menggelengkan kepala, menarik bibirnya sendiri dari bibir Jeff dan dia malah sibuk melepaskan dasi yang dikenakan pria itu.
“Tidak,” katanya dengan terengah-engah. “Mari bermain tanpa melepaskannya.”
Hanya dalam waktu singkat, perempuan itu telah melepaskan dasi dan membuka seluruh kancing kemeja dan melepaskan blazer dari bahu lebar Jeff. Dia membuangnya entah kemana tanpa perasaan, meninggalkan tampilan baru pria itu dalam kondisi setengah telanjang di depannya. Tak ingin menjadi satu-satunya yang dilucuti, maka Jeff berinisiatif menarik kebawah gaun yang gadis itu kenakan sehingga bagian dadanya yang sekal menyembul keluar, memanjakan pandangan matanya terhadap satu-satunya eksistensi paling menarik dari tubuh seorang wanita.
Dia sedikit menunduk dan menyelami keindahan yang terpampang di depan mata. Memanfaatkan moment tersebut sepenuhnya –kapan lagi dia bisa menyentuh dada seindah ini jika tidak sekarang? Jeff mula-mula menyentuhnya dengan halus, lalu kemudian memegang keduanya dengan tangan masing-masing. Bahkan tidak sebatas itu saja, pria itu juga mendekatkan bibirnya kearah puncak dan mempermainkannya didalam mulut sementara jemarinya memanjakan puncak yang lain dengan ibu jari dan telunjuknya. Anna hanya bisa mengerang, tubuhnya terasa lemas ketika merasakan bagian dari dirinya dihisap terlalu kuat di dalam mulut pria itu dan menggodanya secara bergantian dengan mulut dan giginya. Anna secara refleks mendekatkan kepala pria itu ke dadanya, jari-jarinya menjambak rambut pria itu tiap kali dia merasakan dirinya digigit gemas oleh Jeff. Sejujurnya Anna menikmati pelayanan yang pria itu berikan kepadanya.
Merasa puas dan bosan hanya dengan dadanya –setidaknya untuk sekarang— Jeff merasa dia perlu melakukan hal lain yang lebih menantang. Pria itu kembali ke posisi semula dan menyambar bibir penuh Anna, membawa gadis itu kembali dalam sebuah ciuman yang panas sementara tangan Anna bergerilya menurunkan celana pria itu berikut penghalang satu-satunya hingga melorot di betisnya, menyentuh bagian yang menarik perhatiannya sejak lama. Anna menyentuhnya dengan sedikit agak kasar dan memompa benda itu ditangannya sebagai balasan atas apa yang pria itu lakukan terhadapnya barusan. Jeff langsung menggeram di dalam ciuman panas mereka, dia berpasrah atas apa yang Anna lakukan padanya sebab dia telah berputus asa untuk segera melakukan pelepasan yang dia butuhkan sejak pertama melihat tubuh gadis itu dibalut dengan gaun yang seksi.
“Duduklah,” perintah Anna seraya mendorong pria itu ke arah sebuah tong yang kemungkinan besar isinya adalah anggur yang sedang difermentasi dengan tegas. Jeff menurut, dan memandangi gadis itu melepaskan celana dalamnya sendiri tanpa menurunkan gaunnya. Kedua mata Jeff melotot mendapati bagian paling menarik dari tubuh perempuan tersebut meski langsung tertutup kembali dengan gaunnya. Tanpa perlu berbasa-basi, Anna tiba-tiba saja telah memposisikan diri mengangkanginya dan dalam satu gerakan cepat, dia membawa Jeff memasuki gerbang surga.
“Fuck, Anna!” erang Jeff, dia segera menempelkan bibirnya ke leher Anna ketika dia merasakan dirinya telah dicengkram di dalam sana. Dia meraih pinggul wanita itu dan membantunya mengatur tempo dengan putus asa, membiarkan Anna bermain-main diatasnya untuk memuaskan dirinya sendiri. Jeff sedikit menekuk lututnya dan menjadikannya sebagai pengungkit untuk mendorongnya saat dia turun, upayanya yang satu ini mengakibatkan dada Anna yang terbuka memantul bebas di depan mata. Menggodanya ketika dia mencari pelepasan yang jauh di dalam dirinya.
Pergerakan mereka makin lama makin cepat dan menggila, keduanya tampak terlalu bergairah dan menginginkan akhir yang istimewa. Tubuh mereka mulai terasa licin karena keringat, dada keduanya yang naik turun berikut pula dengan napas mereka yang sesak. Jeff menarik Anna jauh ke dalam dirinya dan melahap dadanya dengan rakus ketika dia merasakan bahwa dirinya hampir sampai sesegera mungkin.
Anna yang menyaksikan Jeff bersenang-senang dengan dadanya ketika dia bergerak naik turun diatasnya, semakin mempercepat pergerakan dengan gila. Dia merasakan tubuhnya bergerak makin lincah dan cepat begitu merasakan sensasi yang dia dapatkan dari lidah pria itu di dadanya. Dia meraih bagian belakang kepala Jeff, menancapkan kukunya ke bahu pria itu, makin menempelkan kepala pria itu untuk terus tetap berada di dadanya ketika Anna merasakan dirinya mencapai orgasme. Erangan keluar begitu saja dengan napas yang tajam dan cepat. i
Jeff mau tidak mau ikut datang ketika merasakan cengkraman pada miliknya makin tidak karuan. Wanita itu seolah memerah dirinya hingga habis dan Jeff tentu tidak akan keberatan untuk mengeluarkan semuanya. Dia menggigit dada Anna ketika dia merasakan dirinya juga kehilangan kendali, pria itu mengerang diantara kelembutan buah dada si wanita dan menjentikan lidahnya pada bagian puncak dengan putus asa.
Setelah merasakan rasa reda, dan kembali seperti semula. Jeff melepaskan mulutnya sendiri yang beberapa saat lalu bercokol di dada si wanita. Ada bekas kemerahan disana, tetapi mungkin itu bukan masalah baginya. Tubuh Jeff terasa lemas dan tubuhnya terasa tak bertulang. Dia menatap wanita yang masih berada di pangkuannya, senyumannya yang manis, keringat yang banjir dan gaun yang tidak karuan menjadi kombinasi luar biasa yang tidak pernah dia bayangkan. Dia sama kacaunya dengan Jeff, tetapi yang membuat pria itu kagum adalah wanita itu masih bisa bergerak sesekali untuk menggodanya disana.
“Kau menginginkannya lagi?” tanya wanita itu seolah dia tidak merasa lelah sedikit pun.
“Beri aku waktu,” ujar Jeff sambil menghela napas.
Tetapi bukannya mengikuti ujaran Jeff, wanita itu malah bergerak-gerak disana dan mengakibatkan Jeff merasa ngilu. Bagian dirinya masih cukup sensitif, dan bila dia begerak-gerak seperti itu Jeff tidak bisa menahan diri untuk merasa terangsang kembali.
“Sepertinya sudah kembali naik.”
“Kau pikir karena siapa?”
“Lanjut babak kedua?”
Jeff tidak menduga bahwa dia baru saja menemukan seorang perempuan yang terlalu menarik.“Tidak, sebelum itu … aku perlu mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Anna, kau mau jadi pacarku?”
Jeda sesaat dan Jeff diam-diam melihat perubahan ekspresi wanita itu. Senyuman indah nan menggoda kembali dia hadirkan dan terus terang itu membuat Jeff merasa makin tertantang.
“Ya, asal kau bisa memastikan bisa memuaskan hasratku,” katanya sambil menggoyangkan pinggulnya membuat Jeff menggeram lagi.
“Jangan mengujiku, aku mungkin akan terus menggagahimu siang dan malam sampai kau tidak bisa berjalan,” sahut Jeff angkuh.
Anna terkikik. “Mari kita lihat siapa yang melemas duluan kalau begitu.” Lihat kerlingan nakal dan cara bibirnya bergerak sekarang, tidakkah Anna terlihat begitu sensual? Jeff sangat suka dengan tatapannya itu.
Saat itu masuk pertengahan bulan Mei, dimana bulan depan akan ada ujian semester. Karena Anna sulit untuk didekati bahkan untuk dihubungi, akhirnya Jeff memutuskan masuk ke dalam kelompok belajar gadis itu. Bagi Jeff yang tidak begitu peduli soal akademik, sebenarnya ini hanya membuat dia frustasi dan tersiksa. Sebab dia lebih suka mengisi waktu luangnya dengan berpesta atau sekadar berburu wanita. Namun semenjak Anna menjadi kekasihnya, segala hal dihidupnya mulai jadi lebih teratur dan disiplin. Itu memang bagus, tetapi Jeff lumayan tersiksa pula dengan perubahan yang entah sejak kapan menjadi rutinitasnya.
Dan lagi, setelah satu pekan kejadian dia dan Anna bercinta di gudang kafe. Jeff bahkan memerlukan waktu pemulihan karena Anna seolah memeras habis seluruh gairahnya saat itu. Bahkan hingga sekarang pun dia tidak lagi tertarik dengan perempuan lain selain Anna. Ya, tentu saja. Wanita itu berkali-kali menjarahnya dan Jeff kalah dengan memalukan sebab dia setengah mati lemas ketika berkali-kali dijajal oleh Anna. Dia tidak menyangka bahwa perempuan yang dicap nerd olehnya punya gairah membara yang membuatnya kewalahan. Tetapi setelah ini, Jeff bersumpah akan mengambalikan rasa malu itu kepada pacarnya.
Lucunya setelah kejadian itu, Anna tidak pernah memandangnya lagi. Setiap kali Jeff berusaha melakukan kontak mata, wanita itu akan mengalihkan pandangannya dan memilih melibatkan dirinya dengan bercakap-cakap bersama oranglain. Serius, ini membuatnya frustasi. Terlebih dia memilih Garry, yang notabene si kutu buku dibandingkan dirinya yang keren dan populer. Ah … dan yang mengesalkan adalah setelah itu, Anna bahkan bilang bahwa hubungan mereka sebaiknya tidak diketahui oleh oranglain.
Bukankah itu lucu? Semua perempuan ingin merayakan dirinya dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa mereka berpacaran dengan Jeff. Tetapi Anna justru kebalikannya dan itu membuat dia bertanya-tanya dengan bagaimana cara berpikir gadis itu sebenarnya.
Ataukah mungkin segala pertanyaan random itu hanya ada dikepalanya saja? mungkin saja dia gila dan Anna yang bertingkah normal. Karena meskipun wanita itu terlihat canggung ketika berada didekatnya, kelompok belajarnya sama sekali tidak terpengaruh apa-apa. Bahkan si badut kelompok Abe saja tidak peka dengan situasinya.
“Cuacanya sangat cerah, dan udaranya begitu sejuk,” komentar Tia yang segera menyadarkan Jeff dari lamunannya sendiri. “Kau tahu artinya apa kan?”
“Piknik!” celetuk Abe lumayan sumringah, dan Tia tampak menyeringai.
“Ya, Piknik!” Tia langsung melakukan tos dengan Abe, meninggalkan kelompok tersebut dengan tanda tanya besar dikepala mereka.
“Aku pikir kita kemari untuk belajar,” sela Anna yang ternyata lumayan persisten dengan niatan awalnya.
“Oh ayolah Anna, kapan lagi kita bisa piknik bersama kalau tidak sekarang? kita semua selalu belajar dikelas. Aku tidak mau kepalaku meledak karena diisi terus menerus materi sialan itu!” tentang Abe yang cukup dramatis.
“Tapi niatan awalnya kan kita akan belajar bersama? Aku masih ingat nilaimu yang buruk di ujian prof. Delmar.”
“Ah … mulai lagi kau dengan mimpi buruk itu,” Abe langsung menyahuti dengan wajah cemberut.
“Kurasa tidak ada salahnya? Kita bisa belajar sambil piknik,” ungkap Jeff yang memutuskan ambil bagian dalam diskusi tersebut. Dia merasa kondisinya dengan Anna sedikit canggung, jadi setidaknya dia perlu perubahan suasana dan ide Abe lumayan bisa digunakan untuk mengusir hal tersebut.
“Lihat, bahkan Jeff saja sesantai ini walaupun dia baru bergabung dengan kelompok kita. Jadi sudah diputuskan, kita akan piknik sekarang!” Tia langsung mengambil alih kendali, dia tampaknya tidak ingin membiarkan Anna mengacaukan lagi suasana yang gembira ini, dan memberikan kerlingan mata kepada Jeff yang sudah ikut memberi suara. “Aku rasa kita bisa sekalian bakar-bakar juga, ada sungai yang banyak ikannya disini. Pasti enak sekali kan makan ikan bakar segar langsung dari hasil memancing kita? setelah perut kita terisi dengan daging, kita bisa mulai belajar. Bagaimana adil kan?” tambahnya lagi yang sepertinya ingin mengambil jalan tengah agar Anna tidak komplain atau kabur.
“Aku rasa itu masuk akal,” sahut Garry yang sejak tadi diam dan menyetujui usulan Tia.
Kini karena merasa menjadi satu-satunya suara di grup tersebut, akhirnya Anna mau tidak mau menerima putusan akhirnya. “Oh baiklah, kalian menang. Jadi untuk memperjelas situasinya, bagaimana pengaturan untuk ini semua?”
Tia memandang semua orang di dalam grup tersebut. Karena isinya ada lima orang, dia cukup lama diam sebelum angkat bicara. “Hmmm ... kita akan bagi menjadi dua kelompok, satu kelompok bertugas mencari kayu, dan satu lagi mempersiapkan bahan-bahannya. Sesederhana itu.”
“Bagaimana pembagian timnya?” tanya Jeff yang mulai tertarik dengan penjelasan Tia.
“Aku punya ide dikepalaku, dan ini berdasarkan kemampuan kita masing-masing,” jelas Abe sambil memandangi semua orang yang menatap dia dengan pandangan kosong. “Tia, aku dan Garry akan bertugas untuk menyiapkan bahan-bahannya termasuk memacing. Lebih banyak orang untuk itu maka makanannya akan semakin banyak. Aku dan Garry pandai memancing lho,” katanya membanggakan dirinya sendiri dan Garry, karena hening Abe kemudian berdehem dan melanjutkan kembali apa yang dia bicarakan. “Dan karena hanya tinggal kalian berdua, maka Jeff dan Anna bertugas mencari kayu di hutan sana.”
“Ha?” kata Anna cepat. Mata Jeff pun melebar ketika dia disatukan dengan Anna.
“Tidak ada komplain karena itu fakta. Aku yakin Jeff tidak bisa banyak membantu kalau disimpan di kelompok kami. Begitu pun Anna yang tidak terlalu pandai memasak,” tutup Abe cuek.
Semua orang menganggukan kepala, Anna dan Jeff saling menatap satu sama lain. Apa yang baru saja terjadi? Apakah mereka baru saja direncanakan untuk berduaan saja?
“Sekarang Anna dan Jeff, kalian mulai bergerak. Kita berkumpul lagi disini. get set, GO!” seru Tia sambil menepuk tangannya.
Sebelum pasangan tersebut menyadari sepenuhnya apa yang sudah terjadi, ketiga orang tadi sudah mulai meninggalkan tempat dan pergi ke tempatnya masing-masing.
Jeff dan Anna saling memandang, tetapi Jeff menyeringai dan bersyukur dalam hati atas situasi unik ini.
“Sepertinya kita harus mulai bergerak sekarang, ayo pergi,” ajak Jeff sambil segera menuju ke arah hutan yang ditunjukan oleh Abe saat bagi tugas.
“Tunggu, Jeff!” Anna membuat langkahnya terhenti seketika, membuat pria itu menatapnya lagi. “Kau yakin kita harus masuk kesana?”
“Ya, karena kita butuh kayu untuk membakar ikannya.”
Anna menghela napas, dan dia terlihat kaku sendiri. “Ini situasi yang bodoh,” katanya sambil mendengus.
Tetapi mereka mulai berjalan beriringan dan masuk ke dalam hutan untuk mulai mencari ranting kayu dan dikumpulkan di satu tempat untuk mereka bawa nanti.
“Aku tidak keberatan mencari kayu,” kata Jeff ringan. Dia sebenarnya melihat ada beberapa kayu yang bisa dikumpulkan tetapi dia memilih untuk berada disisi Anna.
“Kau tahu kalau aku sedang tidak membicarakan soal itu, Jeff,” timpal Anna. “Maksudku situasi kita. ”
“Aku tahu.”
“Aku tidak ingin seperti ini,” katanya mulai terlihat gelisah. “Apakah kita harus mengakhirinya?”
“Kau bercanda?”
“Tidak. Aku serius.”
“Dengar, Anna aku merindukanmu.”
“Ya,” dia menganggukan kepala.
“Dan kau adalah perempuan yang sangat menarik. Aku tidak mau kehilanganmu hanya karena kau … ya, kau tahu maksudku.”
“Kita … Kita memulai hubungan ini dengan cara yang memalukan.”
“Memalukan bagaimana? itu alami. Berhubungan seks saat pesta topeng di gudang penyimpanan kafe dan kau membuatku keluar berkali-kali? Itu menggairahkan dan sangat panas, Anna,” jawab Jeff yang kontan membuat pipi Anna bersemu merah.
“Ugh … jangan perjelas situasinya seperti itu,” ujar Anna malu-malu.
Jeff benar-benar tidak mengerti, saat wanita ini mengenakan topeng dia terlihat sangat percaya diri dan liat, tapi Anna yang sekarang berada di hadapannya mengapa dia jadi malu-malu kucing begini.
“Lalu bagaimana aku harus mengatakannya?”
“Bisakah … kita melupakan semuanya? anggap saja aku tidak pernah menerima tawaran menjadi pacarmu.”