Bab 2

Setelah beberapa hari Adiva menghilang, orang-orang suruhan Rafka mendapatkan informasi bahwa mereka melihat Adiva di salah satu hotel di pusat kota London. 

Seorang pengawal berjas hitam datang menghampiri Rafka “Kami sudah menemukannya, Tuan.” 

“Awasi apa yang dia lakukan dan bawa dia kembali malam ini!” perintah Rafka kepada para pengawalnya.

“Baik Tuan,” sahut pengawal itu lalu pergi meninggalkan ruangan Rafka.

Beberapa jam kemudian, para pengawal yang telah ditugaskan untuk mengawasi Adiva mendapati bahwa gadis itu berencana meninggalkan London.

“Saat ini Nona menuju bandara dan akan meninggalkan London, Tuan.” 

“Langsung bawa dia sekarang juga!” Rafka langsung menutup sambungan teleponnya setelah memerintahkan para pengawal itu.

Sementara, di bandara gadis berambut blonde yang sangat mirip dengan Adiva tampak kesal sambil menatap layar ponselnya. Ia menoleh beberapa kali saat merasa ada orang yang memperhatikannya. Namun, gadis itu mencoba menghiraukannya. Ketika ia melangkahkan kakinya kembali, beberapa orang pria langsung menghentikan dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Gadis itu memberontak saat mobil itu mulai melaju meninggalkan bandara. Setelah satu jam perjalanan mereka tiba di Penthouse milik Rafka. Salah seorang pengawal membawa tubuh gadis itu yang kini tidak sadarkan diri karena dibius. 

Rahang Rafka mengeras saat melihat istrinya tak sadarkan diri. “Maaf Tuan, kami terpaksa melakukannya karena Nona terus memberontak,” ujar pengawal itu dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap Rafka.

“Baik, terima kasih sudah menemukannya. Sekarang tinggalkan kami!” perintah Rafka yang langsung dilaksanakan oleh pengawal tersebut.

Rafka menatap gadis yang kini terbaring di kasurnya dengan seksama. Rafka memeta setiap jengkal tubuh gadis itu. Sekilas Rafka merasa gadis di hadapannya begitu berbeda dengan istrinya. Terlebih penampilan gadis ini sangatlah mencolok, rambut honey blonde dan baju seksi diatas lutut yang dikenakannya begitu berbeda dengan gaya Adiva yang ia tahu selama ini. 

Rafka segera menepis pikirannya, ia menganggap bahwa semua ini Adiva lakukan hanya untuk menyamarkan penampilannya saja. 

***

Gadis itu membuka matanya perlahan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak begitu asing di matanya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan keluar menyusuri setiap ruangan di dalam penthouse yang cukup luas itu.

Langkahnya terhenti saat melihat beberapa bingkai foto yang menampilkan seorang wanita yang terlihat mirip dengannya, hanya penampilannya saja yang tampak berbeda. Gadis di foto itu terlihat berpenampilan sederhana, dengan riasan tipis dan juga rambut coklat gelap yang terurai panjang.

Gadis itu terkesiap ketika sebuah tangan yang cukup kekar melingkar di perutnya sehingga membuatnya secara refleks menginjak kaki orang yang memeluknya. 

“Who are you?” tanya gadis itu dengan aksen inggris yang kuat.

“Hey tenang Div, ini aku,” ujar Rafka dengan ekspresi menahan sakit.

“Siapa kamu? dan kenapa membawa saya kesini?” Gadis itu langsung berbicara dengan bahasa Indonesia. 

“Aku tahu, mungkin kamu marah karena selama beberapa bulan ini aku nggak datang. Aku minta maaf Div,” ucap Rafka dengan begitu lembut.

“Kamu udah gila ya? Dav Div Dav Div, saya Agatha dan bukannya Diva or siapalah itu namanya, yang pasti saya nggak kenal dia!”

“Saya rasa kamu salah orang,” lanjut gadis yang mengaku bernama Agatha itu dengan ketus.

Tanpa menghiraukan Rafka, gadis itu segera melangkah mencari pintu keluar. Namun, Rafka langsung menghentikannya. 

“Aku akan membawa kamu pulang, kalo itu mau kamu. Tapi tolong jangan bersikap seakan kamu nggak kenal aku,” pungkas Rafka dengan tatapan bersalahnya membuat gadis itu bingung. 

“Bagus kalau kamu paham, saya cuma mau pulang,” ketus gadis itu.

Rafka membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Untuk sementara gadis itu membiarkan dirinya terbawa ke dalam hangatnya pelukan Rafka. Tak lama perut gadis itu berbunyi membuatnya tersadar dan langsung mendorong tubuh Rafka menjauh. 

Rafka tersenyum kemudian menggenggam tangan gadis itu dan membawanya ke meja makan.

“Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu,” kata Rafka sambil menunjuk beberapa menu di meja.

Gadis itu tidak terlalu menghiraukan ucapan Rafka karena sudah terlalu lapar. Ia menyantap satu persatu menu yang telah disediakan, baru beberapa suap wajahnya tampak memerah karena kepedasan. 

Melihat ekspresi gadis itu, Rafka langsung memberikannya minum. “saya nggak kuat, ini pedas banget!” ujar gadis itu masih berusaha menetralkan rasa pedas di mulutnya.

“Okay, aku akan buatkan yang baru,” ucap Rafka sebelum pergi ke dapur dan memasak makanan untuk gadis itu. Meskipun Rafka merasa ada yang berbeda dengan Adiva, karena selama ini Adiva yang dikenalnya paling menyukai makanan pedas. Rafka segera menghilangkan segala pikiran tentang Adiva yang mengganggunya dan masih menganggap bahwa gadis itu hanya mengetesnya saja. 

Rafka datang sambil membawa sepiring omelet dan menaruhnya di hadapan gadis itu. “Ini enak banget,” pungkas gadis itu dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.

“Pelan-pelan.” Rafka tersenyum menatapnya.

Beberapa menit kemudian, gadis itu menyelesaikan makan di piring keduanya.

“Kenyang,” gumamnya sambil menepuk-nepuk perutnya.

“Oh ya, kalau boleh tahu … dimana barang-barang saya?” tanya gadis itu kemudian.

Rafka tampak memanggil salah satu orang yang bekerja di penthousenya dan tak lama orang itu kembali dengan membawa tas milik gadis itu.

Tanpa menunggu, gadis itu langsung mencari sesuatu di dalam tasnya. Wajahnya begitu panik saat tidak menemukan ponselnya. Ia langsung menepuk keningnya saat teringat kalau ia telah menjatuhkan ponselnya di bandara. 

“Ponsel saya jatuh di bandara, saya nggak mau tahu kamu harus tanggung jawab. Saya mau ponsel saya kembali,” tutur gadis itu dengan nada merajuk.

“Okay kamu tenang aja,” balas Rafka. 

***

Setelah perutnya terisi, Gadis bernama Agatha itu memutuskan untuk mandi karena ia merasa tubuhnya sudah terlalu gerah. Gadis itu masuk ke dalam kamar bernuansa monokrom yang sangat berbeda dengan kamar miliknya. 

Setelah beberapa menit, Agatha keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet yang ada di kamar itu. Agatha langsung membuka lemari baju milik Adiva, ekspresinya berubah menjadi kesal saat melihat selera pakaian Adiva yang menurutnya terlalu biasa dan tertutup.

“Entah siapa gadis ini, tapi seleranya sangat tidak bagus,” kesal Agatha sambil terus mencari baju di lemari Adiva.

Akhirnya ia memutuskan untuk memakai dress selutut bermotif bunga yang menurutnya cukup indah di tubuhnya. Agatha kembali menyusuri kamar itu dan menemukan beberapa bingkai foto Adiva. Ia tak habis pikir mengapa wajah gadis di dalam foto itu tampak mirip sekali dengannya. 

Agatha yang mulai penasaran lalu membuka setiap laci lemari yang ada di sana. Ia menemukan beberapa foto dimana gadis yang sangat mirip dengannya memakai gaun  pernikahan. Agatha juga terkejut saat mendapati foto gadis itu ketika sedang mengandung. 

“Siapa dia? kenapa wajahnya mirip denganku? Meskipun seleranya sangat biasa, tetapi aku akui dia cukup mirip denganku,” gumam Agatha kepada dirinya sambil memegang foto dan juga buku nikah di tangannya.

“Rafka Bagaskara dan Adiva Zea Amanda,” ucap Agatha dengan suara yang begitu pelan seperti sedang berbisik.

“Jadi mereka adalah suami-istri. Tapi tetap saja, siapa gadis ini sebenarnya?” tanya Agatha pada dirinya. 

Saat hendak mengembalikan foto dan buku itu sebuah foto terjatuh. Agatha langsung mengambilnya, ia mengernyitkan keningnya ketika melihat foto seorang pria yang sangat berbeda dengan Rafka. Di belakang foto itu terdapat tulisan “My Love” yang membuat Agatha semakin bingung.

“Tampaknya gadis ini tidak sepolos kelihatannya. Pasti dia telah berselingkuh di belakang suaminya,” gumam Agatha. 

Agatha menggelengkan kepalanya. “Masa bodo dengan hubungan mereka, yang pasti sekarang kepalaku pusing sekali,” ujar Agatha sambil memegang kepalanya. 

Agatha keluar dari kamar lalu melihat sekilas pintu kamar Rafka yang sedikit terbuka. Saat ini pria itu tengah melakukan panggilan video. Agatha terus melangkah karena tidak ingin mengganggunya. Ia berjalan menuju dapur dan menghampiri salah satu pekerja wanita yang berada di sana.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona Adiva?”  tanya pekerja wanita itu.

“Saya ingin minum,” jawab Agatha.

“Minum apa Non? akan saya buatkan.”

Agatha membisikkan sesuatu di telinga pekerja itu. “Aduh maaf Non, tapi minuman itu nggak ada di sini. Setahu saya Non sendiri tidak suka minuman seperti itu,” ujar pekerja itu dengan ekspresi sedikit terkejut.

Agatha menghela nafasnya kasar, ia kembali teringat kalau saat ini ia tengah dianggap sebagai Adiva. 

“Selain minuman itu, apakah ada yang Non inginkan?” tanyanya kemudian.

“Tidak … tidak perlu.” Agatha langsung menggelengkan kepalanya.

“Membosankan sekali hidupnya,”gerutu Agatha dengan pelan, tetapi masih dapat didengar oleh pekerja itu. 

“Baiklah, kalau Non butuh sesuatu jangan sungkan panggil saya,” pungkas pekerja itu sebelum meninggalkan Agatha sendiri.

Bab 3

Saat hendak kembali ke kamarnya, Agatha melihat beberapa pengawal yang telah membawanya. Ia menghampiri para pengawal berjas hitam itu. 

Menyadari kedatangan Agatha, salah seorang pengawal dengan postur tubuh yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya menghampiri Agatha.

“Ada yang bisa saya bantu Nona?” tanya pengawal itu dengan suara maskulinnya. Sementara Agatha menatapnya dengan tajam. Ia masih merasa kesal kepada para pengawal yang membawanya begitu saja.

“Antar saya ke pub!” perintah Agatha membuat para pengawal yang mendengarnya kaget karena tidak biasanya Adiva ingin diantar ke tempat itu.

“Maaf Nona tapi ….” 

Agatha menghela nafas kasar dan segera memotong ucapan pengawal itu. “Okay, okay saya paham.” 

Setelah berpikir sejenak, Agatha tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga pengawal itu.

“Tapi ….”

“Tidak ada tapi, saya akan pergi ke pub sekarang juga bagaimanapun caranya kalau kamu tidak menuruti apa yang saya minta,” tegas Agatha dengan seringai di wajahnya.

Mau tidak mau pengawal itu memenuhi permintaan Agatha. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, gadis itu kembali ke kamarnya. 

Agatha menutup pintu kamarnya rapat, ia melangkah menuju balkon dan menikmati semilir angin malam kota London. Ia mulai meneguk wine yang ada di tangannya. Agatha tersenyum sambil sesekali kembali meneguk minumannya. 

Tak terasa, sebotol wine di genggaman Agatha sudah hampir habis. Ia berniat masuk ke dalam kamar ketika menyadari tubuhnya sudah mabuk. Wajah gadis itu sudah mulai memerah dan langkahnya terhuyung-huyung. 

Rafka tiba-tiba saja datang dan menangkap tubuh Agatha saat tubuh gadis itu nyaris akan menyentuh lantai. 

“Hey Sayang. Kamu kemana aja? aku tunggu kamu dari tadi,” celoteh Agatha dengan mata yang hampir tertutup. 

Rafka tidak merespon ucapan Agatha dan langsung menggendong tubuh gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Perlahan ia memindahkan tubuh Agatha ke atas kasur. 

“I'm sorry Sean. I hope you can forgive me,” gumam Agatha sebelum ia tertidur.

Samar-samar Rafka dapat mendengar suara gadis itu. Untuk sementara Rafka menatap wajah Agatha yang terlihat damai. Ia membelai wajah gadis itu dengan lembut lalu mencium keningnya cukup lama sebelum ia menarik selimut dan menutup tubuh gadis itu kemudian melangkah keluar.

Rafka memanggil para pekerja dan juga pengawal. “Sejak kapan Adiva mengonsumsi ini?” tanya Rafka sambil menunjukkan botol wine di tangannya. 

“Maaf Tuan, tadi saya yang memberikannya. Nona Adiva bersikeras ingin pergi ke pub, tetapi saya menolaknya,” jawab salah satu pengawal.

“Apakah ini yang selalu Adiva lakukan?” tanya Rafka lagi.

“Saya menugaskan kalian semua di sini bukan hanya untuk mengawasinya, tetapi juga menjaganya.”

“Maaf Tuan, biasanya Nona tidak begini, ini pertama kalinya Nona meminta minuman itu kepada saya,” jawab pekerja wanita bernama Linda. 

“Iya Tuan, sejak kembali saya merasa Nona sedikit berbeda,” sahut salah seorang pengawal.

“Baiklah, mulai sekarang saya ingin kalian melaporkan setiap detail yang dilakukan Adiva,” pungkas Rafka sebelum pergi.

 ***

Keesokan paginya, Agatha bangun dengan kepala yang terasa berat. Selama beberapa menit ia masih terbaring di kasur untuk mengumpulkan kesadarannya. 

Tak lama, seorang pelayan mengetuk pintu dan masuk sambil membawakan sup hangat dan juga madu untuknya.

“Selamat pagi Nona, Tuan menyuruh saya memberikan ini,” ujar pelayan itu dengan ramah.

“Taruh saja di sini!” balas Agatha sambil menunjuk nakas di sampingnya.

“Terima kasih,” lanjut Agatha setelah pelayan itu menaruh nampan berisi makanan di tempat yang ia tunjuk tadi.

Pelayan itu menganggukan kepalanya. “Kalau begitu Saya permisi dulu. Jika Nona butuh sesuatu bisa panggil saya. 

Setelah pelayan itu pergi, Agatha mengambil sup di sampingnya dan mulai menyeruputnya dengan dua tangan. Dalam beberapa menit, mangkuk berisi sup itu sudah habis tak tersisa. Sup itu berhasil meredakan pengarnya. 

Agatha turun dari kasur  bersiap untuk mandi saat tiba-tiba Rafka masuk ke dalam kamar. Agatha menelan salivanya ketika Rafka berjalan mendekat ke arahnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Sepertinya pria itu baru saja melakukan olahraga. 

Agatha mundur secara perlahan sampai Rafka menarik pinggangnya. “Apa yang sedang kamu lakukan? tanya Agatha sambil memejamkan matanya saat merasakan posisi tubuh mereka yang sudah begitu dekat. 

Rafka tak menjawab, ia menempelkan tangannya di kening Agatha. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Rafka dengan lembut. 

“Semalam adalah pertama kalinya dalam hidupku melihat kamu mabuk,” sambung Rafka, sementara Agatha hanya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

“Hmm i-itu ….” Rafka langsung menarik Agatha ke dalam pelukannya. 

“Maafkan aku Div, mungkin aku belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Tapi, aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang bisa kamu andalkan. Aku hanya minta kamu tetap di sampingku,” ucap Rafka dengan begitu tulus membuat jantung Agatha berdetak tak karuan.

“Saya mau mandi,” lontar Agatha sambil mendorong dada bidang Rafka agar menjauh lalu langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.

Rafka yang melihat tingkah Agatha hanya tersenyum kemudian keluar dari kamarnya. 

Lima belas  menit kemudian Agatha keluar dari kamar mandi lalu mengganti pakaiannya dengan menggunakan dress selutut berwarna biru milik Adiva. Sambil mengeringkan rambutnya, Agatha tampak sibuk menelpon seseorang menggunakan ponsel baru yang tiba-tiba saja sudah ada di kamarnya. 

“Halo Pa,” ucap Agatha saat panggilannya sudah tersambung.

“Halo ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita yang menjawab teleponnya. 

“Kamu siapa?” tanya Agatha setelah mendengar suara wanita yang cukup asing di telinganya.

“Saya sekretaris barunya Tuan Darren, apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Saya perlu bicara dengan Papa … maksud saya Tuan Darren,” jelas Agatha.

“Maaf kalau boleh tahu anda siapa ya?” tanya sekretaris itu

“Saya anaknya dan saya ingin bicara dengan Papa saya sekarang juga,” kesal Agatha sambil menghela nafasnya.

“Anaknya?” 

“Astaga … kamu tidak paham ucapan saya huh?”

“Maaf setahu saya Tuan Darren hanya memiliki seorang putri. Saat ini Tuan sedang makan siang dengan Nona Agatha di ruangannya. Anda jangan coba-coba menipu saya ya!” ujar sekretaris itu dengan nada yang mulai kesal. 

Tak lama terdengar suara yang sangat familiar di telinga Agatha. “Ada apa Li, siapa yang berbicara? Mengapa kamu tampak kesal?”

“Maaf Tuan, ada seorang perempuan yang tiba-tiba menelepon dan berbicara omong kosong. Dia mengaku sebagai anak Tuan,” jawab Sekretaris itu yang masih bisa didengar jelas oleh Agatha.

“Siapa dia? sini biar saya yang bicara.” 

“Halo,” kata Darren yang berhasil membuat mata Agatha berkaca-kaca. Sudah berbulan-bulan Agatha tidak menemui Darren, bukan karena ia tidak ingin bertemu dengannya. Namun, hubungannya dengan sang papa memang sedang tidak baik-baik saja. Selama ini Darren selalu menyuruhnya untuk pulang dan mulai mengurus perusahaan, tetapi Agatha selalu menolaknya karena ia sama sekali tidak tertarik untuk meneruskan bisnis yang telah dibangun oleh Darren. Agatha hanya menginginkan kebebasan untuk memilih hal yang ia sukai, sementara Darren bersikeras agar gadis itu meneruskan bisnisnya. 

Alhasil Agatha hanya terdiam mendengar suara ayahnya. Ia seperti tidak mampu mengeluarkan kata apapun. Agatha mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab. Namun, sayangnya saat dia ingin mengatakan sesuatu terdengar suara wanita yang cukup mirip dengan suaranya.

“Ayo Pa, aku sudah lapar banget,” ujar wanita itu dengan cukup keras sehingga mampu Agatha dengar. 

“Sebentar sayang.” Hati Agatha begitu tak terima dan cemburu mendengar perkataan Darren.

“Halo.” Darren kembali bersuara dan mengulangi perkataannya, tetapi kali ini Agatha memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

“Siapa gadis itu? Mengapa sekarang dia ingin mengambil kehidupanku? tanya Agatha dengan kesal sambil mengepalkan tangannya.

Sesudah menenangkan diri, Agatha keluar dari kamar Adiva. Ia berhenti saat melewati kamar Rafka, samar-samar ia mendengar Rafka tengah berbincang dengan seseorang lewat sambungan telepon. 

Agatha mendekatkan telinganya di depan pintu karena rasa penasarannya yang begitu kuat. 

“Rafka belum bisa Ma, Rafka masih ada urusan di sini.”

“Mama nggak mau tahu ya Raf, Papamu marah karena kamu tidak datang. Kesehatan Papamu sedang menurun Raf, untuk itu Mama mohon sama kamu jangan kecewakan Papamu lagi.” 

Rafka tampak menghela nafasnya panjang. “Baik Ma, Rafka akan segera menyelesaikan urusan Rafka.”

Agatha begitu terkejut saat salah seorang pekerja yang ia temui kemarin menepuk pundaknya. 

“Ada yang bisa saya bantu Nona?” Agatha tampak menyunggingkan senyumnya dan memberi isyarat agar pekerja itu pergi.

Saat Agatha hendak melangkah pergi, Rafka keluar dari dalam kamarnya dan melihat Agatha yang berdiri di luar. 

“Ada sesuatu yang ingin katakan Div,” ucap Rafka saat itu juga sambil menarik Agatha masuk ke kamarnya.

“Mama ingin aku pulang secepatnya Div karena Papa sakit,” jelas Rafka.

Agatha sangat bingung sekarang, ia sama sekali tidak tahu apa yang Rafka bicarakan. Jadi, yang Agatha lakukan hanyalah mengusap pundak Rafka.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak pulang saja.” Agatha merutuki ucapannya yang terdengar seperti mengusir Rafka.

“Maksudnya kamu harus pulang karena Papa sakit,” sambung Agatha berusaha meralat ucapannya.

“Ya … benar karena Papa sakit, Papa sakit,” gumam Agatha kepada dirinya dengan suara yang sangat pelan.

“Aku ingin kamu juga pulang Div. Aku tahu sudah sejak lama kamu ingin kembali.” Agatha hanya terpaku di tempatnya, ia kembali memikirkan bagaimana nasib hidupnya nanti. 

“Pulang?” tanya Agatha

“Iya, kita akan pulang.”

“Kamu pulang saja, temui Papamu, tidak perlu memikirkan saya. Saya akan baik-baik saja,” pungkas Agatha berusaha tersenyum.

“Aku akan lebih tenang kalau kita bersama Div,” ucap Rafka dengan tatapan tulus penuh harap yang membuat Agatha sulit menolaknya.

“mungkin aku akan mendapatkan sesuatu tentang gadis itu.”

“Baiklah kalau begitu, Tapi ….” 

“Tapi apa?”

“Tapi, saya mau belanja dan jalan-jalan dulu boleh?” tanya Agatha dengan menyunggingkan senyumannya.

Rafka terdiam sejenak lalu mengacak rambut Agatha. “Kamu? mau belanja? Jalan-jalan?” Rafka tampak tidak bisa menghentikan senyumannya sambil menatap wajah Agatha.

“It’s okay kalau nggak boleh,” kesal Agatha saat melihat sikap Rafka.

“Nggak … bukan begitu maksud aku. Kamu boleh belanja apapun yang kamu mau. Aku cuma agak aneh aja, nggak biasanya kamu minta pergi untuk belanja.”

Agatha hanya cemberut, ia merasa kesal dengan situasi dan keadaan yang terjadi kepadanya. Entah bagaimana kehidupan gadis yang bernama Adiva itu, di mata Agatha dia hanyalah gadis yang sangat membosankan dan juga sangat licik.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED