Bab 2

"Setelah Ayah kembali dari New York besok lusa, perusahaan akan mengadakan pesta yang akan dihadiri tamu dari luar negeri dan rekan bangsawan dari luar kota. Pesta ini untuk keberhasilan kerja sama dengan berbagai perusahaan lain." Sejenak Tuan Prhison berhenti berucap menatap Isack lebih dalam. "Ayah ingin, kau membawa seorang wanita untuk menjadi pasanganmu di pesta itu!" tambahnya dengan wajah mulai murka ketika Tuan Prhison mengingat bahwa beberapa koleganya mengetahui tentang kabar kalau putranya setengah mati menunggu Chany . Tak mungkin Tuan Prhison membiarkan hal itu karena mereka pasti akan mencibir bahwa Isack tak bisa bertanggung jawab dalam keluarga Prhison untuk generasi selanjutnya.

"Kenapa terlalu mementingkan pemikiran orang lain?" ucap Isack, baginya tak begitu peduli dengan omongan orang mengenai hubungannya dengan Chany.

Plak!!

Satu tamparan keras mendarat di pipinya dan mampu membuat ujung bibir Isack pecah hingga terlihat merah serta terdapat bercak darah di sana.

"Lancang!!" geram Tuan Prhison. Dia kemudian menghela nafas panjang. "Seharusnya aku membiarkanmu pergi dengan Ibumu waktu itu!" Tuan Prhison bahkan paham kalau Isack sangat membenci ibunya.

Meskipun begitu tak pernah sedikit pun Isack membenci ayahnya karena perlakuan kasar yang selama ini dia terima. Jika ada orang yang harus dia benci tak lain dan tak bukan itu adalah Ibunya.

Tidak ada cara lain untuk memaksa putranya mendengar semua perintahnya kecuali menggunakan Sofia untuk membuat Isack menurut, Tuan Prhison akhirnya terpaksa harus mengancam Isack malam itu.

Sesaat Tuan Prhison memejamkan matanya sebelum mengucapkan kalimat yang akan membuat Isack meradang. "Kau ... datang ke pesta dan perkenalkan seorang perempuan yang kau bawa kepada publik sebagai calon istrimu ... atau Ayah akan menghentikan pengobatan Sofia?"

~♤~

"Datanglah ke pesta, bawa seorang perempuan dan perkenalkan ke publik kalau dia kekasihmu! Ingat keselamatan Sofia ada di tanganmu!"

Ancaman Tuan Prhison terngiang jelas di telinga, Isack hanya diam tertunduk menikmati rasa nyeri yang kini mulai menjalar di pipi, sebuah tamparan keras itu mungkin hanya sedikit rasa sakit yang Isack rasakan ketimbang rasa sakit yang ibunya berikan kepada ayahnya dulu.

Setelah ibunya lebih memilih pergi bersama lelaki lain, Tuan Prhison benar-benar hancur dan dia tak ingin hal itu terjadi pada putranya.

Namun Prhison seolah tak bercermin pada apa yang menimpa ayahnya. Cinta memang mampu membutakan mata hati seseorang tapi setidaknya selalu gunakan logika.

~♤~

Isack melangkah keluar dari ruangan. Tangannya sibuk mengusap bibirnya yang merah.

"Kak, ayah menamparmu lagi?" Sofia ternyata masih berdiri di depan pintu menunggu kakaknya keluar dari ruangan.

Perhatian Isack tertuju ke Sofia. "Kenapa kau masih di sini?" Mencoba mengalihkan perhatian.

"Aku sudah mengira hal ini akan terjari."

"Jangan hiraukan luka kecil ini, tidurlah jaga kesehatanmu." Isack sempat mengusap pipi Sofia sebelum melangkah hendak pergi.

"Tunggu, aku akan mengoles salep di lukamu." Sofia meraih lengannya kemudian mengambil salep dari kotak P3K.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sekarang kau tidur ya ... aku akan kembali ke rumahku."

"Kau tidak menginap?"

Isack menoleh. "Kau bahkan tahu, rumah ini akan menjadi seperti neraka jika ada aku dan ayah di sini ... setidaknya salah satu memilih pergi itu jauh lebih baik."

Sofia meraih tangannya dan meletakkan salep di atas telapak tangan Isack. "Pakai ini sebelum kau tidur Kak ... sayang sekali kalau wajah tampanmu ini ada bekas luka nantinya ... tidak lucu, kan?"

Isack tersenyum tipis dibuatnya. Pffftt! "Baiklah, terima kasih ... aku pergi." Tangannya membelai lembut rambut Sofia kemudian menghadiahi sebuah kecupan dalam di kening.

~♤~

Isack mengendarai mobilnya kembali menuju ke rumah, dalam perjalanan dia terus memikirkan ucapan ayahnya.

Tentu saja kesehatan Sofia jauh lebih penting ketimbang dirinya, namun Isack sangat bingung bagaimana menghadapi segala sesuatunya nanti.

Mobilnya berhenti di sebuah minimarket, setelah membuka pintunya dia melangkah keluar masuk ke dalam dengan pandangan kosong.

"Oh ada pelanggan?" ucap Tifani, perempuan paruh baya pemilik toko. Dia tengah duduk di bangku depan. Saat ingin beranjak dari kursi untuk melayani pembeli tiba-tiba seorang gadis bernama Eve Daphni menahannya.

"Ibu istirahat saja, biar aku yang melayani." Eve beranjak berdiri dan masuk ke dalam toko. Membiarkan Tyfani beristirahat terlebih dulu.

"Terima kasih, Nak."

Setelah berhasil masuk ke dalam toko, Isack melangkah menuju ke almari pendingin mengambil sebuah botol minuman, membuka tutup kemudian meneguk isinya perlahan.

Di sisi lain Eve telah berdiri di meja kasir menunggu dan memperhatikan dari jauh.

"Jika aku menerima perintah ayah, aku tidak yakin semua akan berhenti sampai di situ ... dia pasti akan terus memantauku! Tapi, Sofia ...," bisiknya dalam hati, Isack meremas rambutnya kuat. Wajahnya nampak frustasi mengingat ayahnya mengancam akan menghentikan pengobatan adiknya jika dia tak mengikuti keinginannya.

Huufftt! Isack menghela nafas panjang sembari meneguk kembali sisa minumannya, setelah itu melangkah menuju kasir meletakkan botol di atas meja.

Eve Daphni sejak tadi memperhatikan, Isack terlihat seperti kebingungan dan terus melamun. "17.000 Tuan."

Isack masih diam tak menyahut, membuat Eve harus kembali berucap. "Tuan?" Dia sampai mengeraskan suaranya.

"Oh, iya?" Isack tersadar dari lamunan.

"Semuanya 17.000." Eve Daphni mengulangi ucapannya. Pandangannya teralihkan ke bibir Isack yang mulai terlihat membiru. Dia mengira bahwa lelaki itu baru saja berkelahi dengan seseorang.

Isack membuka jas, bermaksud mengambil dompet untuk membayar tagihan namun justru terdiam saat tak mendapati dompetnya berada di sana. Akhirnya dia teringat bahwa dompetnya berada di jas yang diberikan kepada Sofia.

"Astaga, sial!" umpatnya. Isack sempat melirik ke Eve Daphni, ekspresinya tampak bingung. Mencari cara bagaimana harus membayar minuman yang telah dia ambil. "Uhm, bisakah aku pulang terlebih dulu ... aku janji nanti akan kembali dan membayarnya. Semua 17. 000 'kan?"

"Apa, bagaimana maksud Anda Tuan. Saya kurang paham?" Eve Daphni bertanya dengan sangat lembut dan sopan.

"Mm, begini ... sebenarnya tadi aku sudah membawa dompetku tapi ... waktu di rumah aku harus mengganti jasku dan ...." Isack berusaha keras untuk terus menjelaskan kronologi bagaimana dompetnya bisa tertinggal sehingga dia tak bisa membayar minuman itu. Isack menghela nafas panjang berharap Eve akan mengerti. "Dan ... maaf sebenarnya dompetku tertinggal!"

Eve Daphni terdiam saat mendengar penjelasan dari Isack, kemudian setelah mengetahui permasalahan sebenarnya dia berucap dengan tenang. "Oh, aku mengerti, jadi maksudnya ... Anda tidak bisa membayar minuman ini?" Eve memastikan, masih bertanya dengan lemah lembut, namun Isack malah merasa tersinggung.

Entah karena dia baru saja bertengkar dengan ayahnya atau memang dia mudah terbawa emosi sehingga Isack salah mengartikan ucapan serta maksud Eve. "Kau pikir aku tidak mampu membayar harga sebotol minuman ini, hah!! Kalau dompetku tidak tertinggal aku juga pasti akan membayarnya sekarang juga!" Isack sampai menajamkan matanya mencoba mengendalikan emosi.

Tanpa berpikir panjang, dia melepas jam tangan lalu meletakkannya di meja, mendorong kearah Eve yang berdiri di balik meja kasir.

Eve menatap jamnya sekilas. "Maksud Anda apa Tuan?" Bingung karena Isack justru memberikan jam tangannya.

"Jam ini bahkan bisa untuk membeli motor, kita pakai sistem barter dan ambil kembaliannya." Isack tersenyum tipis. Senyum yang terlihat mengejek.

Eve dibuat terkejut saat Isack berucap dengan nada tinggi bercampur kesal. "Ada apa dengan lelaki ini?" Eve Daphni mengambil jam tangannya. "Maaf Tuan, tapi aku tidak butuh jammu. Mau harganya setinggi apa pun aku hanya butuh tujuh belas ribu!"

Mereka saling menatap tajam sekilas, masing-masing keras dengan pendiriannya.

"Lagi pula kalau kau mampu membayarnya ya sudah, bayar sekarang!!" Eve mulai terpancing emosi.

"Apa kau tidak dengar aku bilang apa tadi!! Jelas-jelas aku bilang kalau dompetku tertinggal! Kau menyuruhku untuk membayar sekarang? Mau aku bayar pakai apa. Misal pun dompetku tidak tertinggal aku juga pasti akan membayarnya penuh!" Isack terus berucap dengan nada tinggi.

Sesaat dia menatap Eve dengan matanya yang tajam marah, Isack tersentak melihat ekspresi wajah Eve Daphni berubah ketakutan namun tak mungkin baginya menurunkan ego karena terlanjur kesal dan malu.

Hah! Eve menghela nafas kasar mencoba menenangkan dadanya yang sempat terpancing emosi, setelah merasa sedikit tenang dia berucap. "Bawalah minumanmu, Tuan! Aku akan membayar tagihannya untukmu." Eve melirik ke arah Tifani yang duduk di luar, berharap perempuan paruh baya itu tak mendengar suara Isack yang sempat marah-marah dengan nada tinggi.

"Tidak perlu!" Isack merasa kesal, dia merasa Eve telah memandang rendah dirinya hanya karena tak bisa membayar sebotol minuman, padahal Eve bertanya dengan sopan dan dia juga bermaksud untuk membayarkan minuman itu namun Isack salah terima dengan maksud kebaikannya. "Tidak usah sok-sokan membayar minumanku kalau ujung ujungnya hanya mencoba merayu dan mendekatiku, basi!" sahutnya.

"Haaa?? Ada masalah apa sih di hidupnya? Apa aku telah mengatakan sesuatu yang salah ... mendekatinya? Merayu? Hahahah ya ampun, lelaki ini terlalu percaya diri!" umpat Eve dalam hati. Dia sangat kebingungan melihat reaksi Isack yang tak terduga.

"Aku anggap ini hutang, catat!! Aku besok akan kembali dan membayarnya!" Isack melirik sinis, terlihat sekali bahwa dia sangat kesal.

Lelaki itu telah keluar dari minimarket dan berdiri di samping mobil, tangannya telah membuka tutup botol dan bermaksud untuk menghabiskan sisa minumannya namun ketika teringat kejadian yang baru saja terjadi, seketika Isack membuang botol itu beserta seluruh isi yang tersisa di dalamnya.

Brak!!

"Menyebalkan!!" umpatnya kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

Eve keluar dari toko, pandangannya terus tertuju ke mobil Isack yang semakin jauh dan menghilang di telan kegelapan.

"Aneh, dasar!"

~♤~

Setelah semalam memenuhi keinginan adiknya dengan berkencan, Isack pun mulai dekat dengan perempuan itu. Namanya Ivory, perempuan bayaran, yang di bayar oleh Sofia untuk mendekati kakaknya agar bisa melupakan Chana. "Turunlah."

Isack mengantar Ivory ke tempat kuliah dan menurunkannya di depan halaman kampus.

"Terima kasih sudah mengantarku. Kau tahu ... aku senang bisa mengenalmu. Tapi, tidak bisakah kita bersama setelah aku selesai kuliah? " Rengek Ivory membuat Isack kesal, tapi kalau sampai menolak bisa-bisa Ivory laporan kepada Sofia.

"Aku banyak pekerjaan dan lagi ...." Isack terdiam saat teringat ucapan ayahnya semalam.

"Kenapa, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Ivory meraih lengannya dan bermanja dengan Isack sebelum berpisah. "Lalu, kapan kita bertemu lagi?"

"Entahlah, aku akan mengatur jadwalku terlebih dulu?" Isack tersenyum palsu. Tak mungkin baginya mengajak Ivory ke pesta, melihat tingkahnya yang binal membuatnya khawatir jika mengenalkannya pada sang ayah. Sekilas Isack membuang pandangannya keluar dari balik kaca, bersamaan dengan itu dia melihat sosok perempuan yang nampak tak asing di mata.

Isack merasa sangat familiar dengan wajahnya. Akhirnya dia teringat bahwa perempuan itu adalah penjaga kasir yang dia temui semalam di mini market. "Dia kuliah di sini juga?" tanyanya dalam hati.

Bab 3

"Kau bisa mengajak Ivory ke pesta lusa nanti." Sofia sedang berada di ruang kerja, membahas masalah dengan siapa Isack akan pergi ke pasta itu.

Isack tersenyum sinis mendengar ide gila dari adiknya. "Kau sudah tidak waras! Ivory terlalu liar ... aku takut dia berulah saat bertemu dengan ayah."

"Lalu siapa lagi, masalahnya teman perempuanku tidak banyak."

"Aku tidak habis pikir kebapa kau bisa mengenalkanku pada Ivory. Apa semua teman perempuanmu seperti itu?"

"Tidak, tapi ... kalau di pikir-pikir, dia memang agak liar dibanding yang lain."

"Dasar kau ini. Kita pikirkan nanti saja ... lagi pula pestanya juga masih beberapa hari lagi."

"Kau ... tidak berniat menghubungi Chana, kan?"

Mata Isack langsung tertuju kepada Sofia. "Aku kehilangan semua kontaknya, lagi pula ...," ucapnya terhenti.

"Lagi pula ... kenapa kau masih saja berharap pada perempuan itu. Sudahlah, aku lelah jika pembicaraan sudah menyangkut tentang perempuan itu. Aku pergi dulu."

"Tunggu, kau mau pergi kemana?" sahut Isack, seketika saja dia teringat dengan hutangnya semalam di mini market.

"Kenapa?"

"Pergilah ke minimarket pertigaan depan gedung."

Alis Sofia menyatu." "Kenapa? Memangnya apa yang harus aku beli di mini market itu?"

"Tidak ada, aku hanya ... aku belum membayar minumanku semalam."

"Kau ... meninggalkan hutang di toko itu? Hahahahah ...."

"Jangan tertawa, itu semua juga katena dirimu."

"Wait! Kenapa jadi aku yang salah?" tawanya seketika menghilang dan berganti dengan kerutan halus di keningnya.

"Semalam dompetku tertinggal di jas yang kau bawa!"

"Oh, hahahaha ... jadi kau berhutang dengan si pemilik toko? Tenang-tenang, aku akan pergi ke sana dan membayar hutangmu." Sofia tertawa geli ketika mendengar Kakaknya, si pemegang saham terbesar di perusahana itu dan memiliki kartu hitam berplakat emas serta uang berlimpah bahkan bisnisnya berada hampir di setiap negara tapi justru memiliki hutang yang sangat tak seberapa kepada toko kecil.

Hahahahha....

Sofia masih tertawa riang dibuatnya, benar-benar tertawa puas mendengar Kakaknya memiliki hutang.

"Diamlah! Apa kau tidak merasa bersalah!" Isack mengambil selembar kertas dan meremasnya membentuk seperti bola setelah itu melemparkannya ke Sofia yang masih tertawa terbahak bahak.

"Pergilah ke sana dan bayar hutangku! Aku malas bertemu dengan penjaga tokonya!"

"Kenapa? Apa penjaga tokonya jelek? sehingga membuatmu malas bertemu dengannya?"

"Entahlah, yang yang pasti dia sangat menyebalkan! Sudah sana cepat pergi, sebelum habis kesabaranku karena teringat dengan perempuan itu!"

"Iya iya, aku akan mampir dan membayar hutangmu nanti. Seperti apa wajahnya sampai sampai kau terlihat kesal sekali dengannya! Aku jadi penasaran."

~♤~

Tring!

Suara bel terdengar ketika ada orang masuk ke dalam toko, Eve langsung menoleh menyambutnya. "Selamat datang," ucap Alluna menyapa Sofia yang baru saja masuk.

"Oh, iya." Bella tersenyum ramah saat melihat Alluna menyapanya. "Apa ini? Dia tak terlalu buruk! Bahkan penjaga toko ini terlihat sangat manis," gumamnya dalam hati setelah melihat sendiri wajah penjaga toko yang sempat membuat kakaknya kesal.

"Ada yang bisa aku bantu?" ucap Eve ketika melihat Sofia hanya berdiri diam kebingungan. Dia melangkah mendekatinya. "Kau mencari sesuatu?"

"Mmm, aku kesini karena ... kakakku," jelasnya.

"Kakak?" Eve terdiam karena kebingungan.

"Kakak yang mana maksudmu aku tidak mengerti?" Eve sempat menutup almari pendingin sebelum akhirnya dia melangkah menuju kasir.

"Maksudku, kakakku ... dia bilang semalam dia meninggalkan hutang di sini?" Sofia memutar tubuhnya mengikuti gerakan Eve yang berjalan menuju ke kasir.

"Hutang?" Alisnya menyatu.

Eve sempat terdiam memikirkan ucapannya, kemudian teringat dengan seorang lelaki dengan luka memar di bibir semalam yang mengambil sebotol minuman dan tak bisa membayar. "Oh, lalu ... kau?" Eve berucap mempertanyakan siapa dirinya.

"Aku Sofia, adiknya."

"Oh, begitu ... sebenarnya kau tidak perlu repot-repot datang kemari karena aku sudah membayar minuman Kakakmu semalam." Eve bahkan sangat ramah dan penuh senyum ketika berucap dengan Sofia.

"Tapi, bagaimanapun juga itu adalah hutang dan aku harus membayarnya untuk Kakakku."

Eve menghela napa spanjang. "Aku melakukannya dengan senang hati, jadi kau tidak perlu mengembalikan uangnya." Eve berusaha menolak dengan sopan namun Sofia bersikuku tetap ingin mengembalikan uang yang tak seberapa itu.

"Oh atau kalau tidak, aku akan mengembalikannya lebih, mungkin 10 atau 20 kali lipat?" Sofia tak bermaksud menghina atau apapun namun maksud baiknya tak diterima positif oleh Eve ketika mengingat perlakuan Kakaknya semalam.

Sofia bermaksud baik namun mungkin caranya yang salah karena itu justru mengundang emosi.

Eve melirik ke mobil yang terparkir di seberang jalan, dia tahu bahwa itu adalah mobil Sofia, karena sebelumnya dia sempat melihatnya keluar dari mobil itu.

Ekspresi wajahnya berubah muram setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sofia. "Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan! Kau tidak perlu mengembalikan uang itu!"

"Kenapa?" Sofia benar-benar tak menyangka kalau Eve akan marah karena maksud baiknya.

Sesaat Eve sempat menatap Sofia dengan lekat, terlihat sekali bahwa dia menahan amarah. "Apa aku terlihat seperti seorang yang membutuhkan uang? Aku melakukannya dengan senang hati ... harus berapa kali aku bilang padamu dan juga bahkan pada kakakmu kalau aku membayar tagihan minuman itu dengan ikhlas. Jadi kalian tidak perlu mengembalikannya! Apa itu kurang jelas!" Eve sangat kesal dia berhenti berucap sesaat, menghela nafas setelahnya kembali berucap, "Keluar dari toko ini!" Eve berfikir semua orang kaya sama saja, selalu melihat orang miskin seperti dirinya tergila gila dengan uang.

"Maaf, tapi aku tidak bermaksud menyinggungmu ... aku hanya–" ucapannya terputus karena Evw memotong pembicaraan.

"Keluarlah!!" sahut Eve dengan tenang, dia tak ingin membuat keributan di mini market.

Sofia menghela nafas panjang dia tahu kalau Eve tersinggung dengan ucapannya namun dia tak bermaksud demikian. Dia akhirnya memilih keluar dari toko dan kembali ke mobil.

"Salahku di mana? Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Baru kali ini aku melihat perempuan menolak uang, bahkan aku menawarinya lebih! Bukannya diterima, malah marah-marah? Salahku di mana coba?"

~♤~

"Benar apa katamu, jika perempuan itu nenyebalkan. Dia aneh!"

Isack dan Sofia tengah nenikmati makan siang di sebuah restoran.

"Apa maksudmu?"

"Perempuan yang bekerja di mini market itu, yang kau bilang kau ada hutang di sana, dia menolak uang dariku ... aku tidak percaya di jaman seperti ini masih ada orang menggunakan keikhlasan untuk membantu orang lain yang tidak di kenal."

Isack terpaku mendengar ucapan adiknya, entah apa yang dia pikirkan namun saat teringat dengan kedua matanya, dia merasa ada berbeda dengan perempuan kebanyakan.

"Kak, woi? Apa kau mendengar ucapanku!" Sofia mengeraskan suaranya agar Isack tersadar dari lamunan.

"Apa?"

"Hah kau ini, kau dan perempuan itu sama-sama menyebalkan. Aku bicara panjang lebar dari tadi tapi kau tak mendengarnya!"

"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

"Oh ya, bagaimana kalau kita minta bantuan padanya?" Sofia berucap seolah lupa dengan kejadian yang baru saja membuatnya kesal.

Keningnya berkerut kasar memikirkan ucapan Sofia. "Bantuan siapa?"

"Perempuan penjaga minimarket itu."

"Apa kau kehilangan akal sehatmu? kita bahkan juga tidak tahu asal usulnya dengan jelas! Dan terakhir kau diusir dari tokonya, lalu sekarang kau memintaku untuk meminta bantuannya??" ucap Isack tak percaya.

"Yang terpenting kau bisa pergi dengan perempuan ke pesta. Tentang dia anak siapa dia berasal dari mana kita pikirkan itu nanti. Kau bisa memalsukan daftar riwayat hidupnya jika ayah mencari tentang dia ... kita bisa membuat latar belakang palsunya, kan? Apa kau ada kandidat lain selain dia?" Sofia mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.

"Lagi pula ayah tidak akan mengenalinya," lanjut Sofia.

Isack hanya diam berfikir keras, baginya tak mungkin dia pergi dengan perempuan penjaga minimarket itu. "Ini, sepertinya tidak mungkin ... aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali, jadi sepertinya akan terasa sedikit aneh ... tapi–" Isack tidak yakin karena pertemuan pertamanya dengan Eve tak begitu baik dan meninggalkan kesan buruk.

~♤~

Uhuk uhuk!

Tyfani terbatuk, sementara Eve tengah sibuk menata kardus di dalam, Tyfani bersiap menutup pintu. "Eve, aku akan menutup pintunya."

"Iya, Bu. Sebentar lagi aku juga selesai," seru Eve dari dalam.

Setelah menghitung uang di kasir, Tyfani memasukkannya ke dalam dompet. Rencananya dia ingin pergi ke bank untuk membayar tagihan hutangnya tapi ketika keluar dari toko, seorang lelaki yang sudah lama mengintai menggunakan kesempatan itu untuk merampok.

Tyfani terkejut bukan main saat dompetnya ditarik paksa. "Lepas!" Dia berusaha mempertahankan miliknya.

Akan tetapi lelaki muda itu justru mendorong Tyfani. "Berikan saja uangmu, tua bangka!"

Aaahh!

Brugh!!

Tyfani terjatuh, kepalanya membentur tiang hingga berdarah.

Setelah berhasil mendapatkan uangnya, lelaki itu berlari secepat mungkin. Kebetulan sekali keadaan sekitar sepi, sehingga tak ada yang melihat kejadian itu.

Tyfani pingsan, darah mengalir dari kepalanya.

Setelah selesai mengurus barang di belakang, Eve melangkah keluar menemui Tyfani. Namun dia justru terkejut melihat Tyfani terbaring di lantai depan toko.

"Bu?" Eve mendekat, melihat darah segar keluar dari kepala, sontak Eve terkejut bukan main. "Bu? Tidak ... Bu, bertahanlah." Membuang perhatiannya ke sekitar mencari bantuan. "Tolong! Siapa pun tolong aku." Eve menunduk, kembali fokus dengan Tyfani.

Kepalanya telah pindah ke pangkuan. Tyfani menangis. "Bagaimana ini?" Tangisnya terisak-isak.

Kebetulan yang tak terduga, saat itu Isack sengaja datang ke toko untuk menemui Eve.

Ketika melihat dua orang perempuan berada di depan toko, Isack segera menepikan mobil ya.

Melangkah turun dari mobil mendekati Eve yang tengah menangis.

Tak, tak, tak!

"Permisi?" Isack tak melihat darahnya karena tertutup Eve. Namun melihat sebagian tubuh lain terkapar di lantai, dia sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres.

Eve menoleh cepat menatap Isack yang telah beralih berdiri di depannya.

"Tolong," ucapnya lirih.

Deg!

Isack merasa ada sesuatu yang bergerak dan terasa aneh ketika melihat penampilan Eve yang berantakan. Kedua matanya merah karena darah, pipinya basah oleh air mata. Saat langkahnya terhenti, Isack melihat darah di kepala Tyfani.

"Apa yang terjadi?" batinnya.

"Please, Tuan ... tolong ibuku." Eve menangis .

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED