Bab 2

****

"Sesuai petunjuk, gadis ini berkuliah di sini Nyonya." ucap Paman Henry sesaat menghentikan laju mobil warna merah di sebuah universitas ternama di kota London.

Bella yang duduk di kursi jok belakang hanya terdiam, ia tidak ingin berkomentar apa-apa. Terlalu sakit jika ia harus berbicara ini itu dan semuanya menyangkut tentang perselingkuhan suaminya.

"Nama gadis ini adalah Lea, seluruh universitas mengenalnya karena dia adalah gadis yang cukup berprestasi dan cukup baik. Saya tidak habis pikir kenapa gadis semuda dia harus rela melibatkan diri dalam rumah tangga orang." komentar Paman Henry seraya menggeleng pelan.

Tak lama kemudian sebuah mobil hitam parkir di depan mobil Bella. Nyonya muda itu sedikit melotot tatkala ia mengenali siapa gerangan pemilik mobil itu. Belum sempat ia berargumentasi, sosok Varrel keluar dari mobil dan nampak membukakan pintu mobilnya di sana. Untuk siapa? Kalau bukan Lea siapa lagi.

Perjumpaan panas pagi itu cukup membuat nyonya muda harus melonggarkan baju, jantungnya berdebar kencang dan emosinya meletup-letup bagai gunung berapi yang siap menyemburkan awan panas.

Bella membuang muka ketika bagaimana pria yang ia cintai dengan santai meraih pinggang kecil Lea lantas menciumnya di depan umum seolah tak ingin berpisah darinya.

Apa yang Varrel lakukan cukup membuatnya tersiksa luar dalam. Sebenarnya apa yang diinginkan Varrel? Apa yang diinginkan gadis ini?

Bella sungguh tak tahu.

***

"Kau sudah sampai tuan puteri. Ingat kuliahlah yang benar." ucap Varrel seraya memghentikan laju mobilnya di depan universitas.

Lea hanya tersenyum manis, ia seperti gadis biasa yang mendapatkan pemujaan penuh dari sosok Varrel Damington si CEO muda yang merintis usahanya di usia muda. Ketika gadis itu berusaha melepas sabuknya, dengan cepat Varrel meraihnya dan menggantikan usaha Lea melepas sabuk.

"Kau hari ini terlihat sangat manis, kau tahu rasanya aku ingin membawamu kemanapun aku pergi." komentarnya lagi sembari menoel pipi imut Lea.

"Kau selalu merayuku siang malam Arrel, aku sudah tidak mempan dengan rayuanmu." sungut Lea membuat Varrel hanya terkekeh kecil.

"Tunggu di sini aku akan membukakan pintu untuk tuan puteriku." ucap Varrel lirih lalu keluar dari mobil hitamnya tanpa lupa tersenyum dengan cemerlang.

Tak lama kemudian Lea sudah keluar dari mobil hitam itu berkat bantuan Varrel yang membukakan pintu mobil untuknya. Dengan penampilan sederhananya, sang gadis merapikan bajunya yang lusuh hingga akhirnya Varrel kembali meraih pinggangnya dan mendorongnya sedikit hingga mepet dengan mobil.

Seperti biasa pria itu lantas menyambar bibirnya dan melumatnya sebentar. Lea tak bereaksi, ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Varrel yang suka minta cium tiba-tiba apalagi di tempat umum seperti ini.

"Ingat pesanku, setelah kuliah segera telfon aku. Aku pasti akan mengantarmu pulang dan ingat, jangan sekali-kali kamu genit dengan pria lain." ucap Varrel berbisik di telinga Lea dengan suara jantannya.

"Aku tidak akan genit mungkin hanya bermain-main sebentar dengan dosen. Kau tahu, aku harus lulus tahun ini. Aku harus mendapatkan hati mereka untuk dapat nilai terbaik, Arrel." ucap Lea menggoda.

"Jangan genit kataku." pinta Varrel sembari menatap dua mata cokelat Lea dengan tatapan memperingatkan.

"Kita lihat saja, aku berpikir otomatis Arrel." ucap Lea tak ingin kalah.

"Aku sudah bilang jangan main-main di belakangku ataupun berusaha genit selain aku." sungut Varrel lalu menggigit hidung mancung Lea membuat gadis itu harus memekik lirih.

"Sudahlah, jika kau terus menahan tubuhku aku tidak bisa pergi kuliah pagi ini." ucap Lea memperingatkan membuat Varrel melepaskan tubuh ramping Lea Kalilea sembari tersenyum kecil.

"Tubuhmu seperti ada magnetnya, aku sebenarnya tidak rela melepaskanmu Tuan puteriku." ucap Varrel sembari menunduk.

"Kita bisa bertemu nanti sore, Arrel sayang." ucap Lea lirih seraya menangkup wajah sendu Varrel.

Pria itu tersenyum lalu kembali menyapu bibir Lea secepat kilat sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Lea Kalilea untuk pergi bekerja.

"Ingat pesanku!" teriak Varrel dari dalam mobil membuat Lea harus tersenyum lucu dan menggeleng.

Huh... Pria itu tidak bisa lepas sedikitpun darinya. Mungkin Lea merasa lebih beruntung karena pria itu yang tidak ingin melepaskan dirinya dan bukan dirinya.

****

"Tunggu!!!" teriak seseorang menghentikan langkah pelan Lea Kalilea.

Gadis muda itu menghentikan langkahnya, ia menoleh dan membalikkan badan ke arah suara yang seolah mengejarnya.

PLAAKK.

Sebuah tamparan memulai segalanya waktu itu. Lea tak mengerti kenapa wanita itu tiba-tiba melayangkan tamparannya dengan begitu keras di wajahnya.

"Ini untuk dirimu yang merebut suami orang!" makinya dengan penuh amarah.

Sejenak Lea menguasai keadaan, otaknya mulai memberitahu jika mungkin saja wanita ini adalah Bella, istri Varrel Damington yang suaminya sudah ia gaet selama ini.

"Kau sangat muda dan cantik tapi dari sekian banyak lelaki kenapa harus suamiku? Kenapa Lea Kalilea?" tanyanya dengan nada setengah berteriak membuat semua orang menatap hina ke arahnya.

Lea tak menjawab, ia hanya sibuk mengusap-usap pipinya yang merah karena habis ditampar.

"Seharusnya kamu tahu apa yang kau lakukan itu adalah salah. Kau sudah merebut suami orang, ingat Lea kau bukan saja menghancurkan diriku tapi kau juga menghancurkan pria yang kau cintai itu. Kau menghancurkan kehidupan kami." ucap Bella terus meraung membuat keadaan makin memanas.

Bella acuh, ia memilih diam dan terus mendengar lolongan kemarahan yang Bella tujukan kepadanya saat ini hingga ia harus menahan rasa malu akibat dilihat orang banyak.

"Mulai sekarang jauhi suamiku, kau butuh uang bukan? Kalau begitu ambil saja uang dariku tapi jangan pernah kau rebut Varrel dariku!" teriaknya penuh emosional.

Bella menatap Lea penuh kemurkaan membuat ia harus terengah menahan emosinya yang terus meledak-ledak tak karuan.

"Apa kau sudah cukup bicaranya? Apa kau lelah?" tanya Lea dengan nada datar membuat Bella kembali melayangkan tamparannya ke wajah Lea namun bisa ditangkis dengan cepat oleh sang gadis.

"Sebelum kau menyalahkanku, Bella Damington sebaiknya kau berpikir ulang dengan apa yang sudah kau berikan pada suamimu selama ini. Apa kau sudah melihat apa kekuranganmu hingga suami tercintamu jauh memilihku daripada dirimu?!" ucap Lea dengan nada tenang.

Bella terperangah namun ia tetap tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Dengan sisa emosinya ia berusaha mencakar wajah Lea dan cukup berhasil.

"Kau pelacur murahan! Perebut suami orang! Ku pastikan kau takkan pernah bahagia, wanita jalang!" teriak Bella terus menyerang hingga beberapa goresan kuku membekas di wajah cantik Lea.

Pertengkaran seru itu membuat orang-orang berlari ke arahnya dan berusaha melerai pertengkaran mereka.

"Dasar jalang!" maki Bella tak habis-habisnya.

"BERHENTILAH MENGATAIKU JALANG, WANITA CENGENG!!! VARREL TAKKAN MUNGKIN KEMBALI PADAMU JIKA KAU TERUS SEPERTI INI. KAU TAHU KENAPA VARREL TIDAK MENYUKAIMU? KARENA KAU WANITA LEMAH, KAU HANYA BISA MENGALAH DAN MENGALAH. KAU KIRA KAU SUDAH JADI ISTRI YANG SEMPURNA? BENARKAH KAU ISTRI SEMPURNA? HAH?? JAWAB AKU!!!"

Bella ternganga, hatinya tiba-tiba lebur dan luluh seketika mendengar ucapan Lea yang begitu spontan menusuk jantungnya. Sejenak ia lemah dan terhuyung mundur, ia sudah tak sanggup lagi berkata apa-apa di hadapan Lea.

"Kau mungkin saja bisa menghajarku sepuas hatimu, kau bisa saja membunuhku atau membantaiku namun apakah perbuatanmu itu bisa mengakhiri segalanya? Yang ada Varrel akan semakin membencimu dan kau akan semakin dijauhkan dari dirinya. Apakah itu yang kau mau, Nyonya Bella Damington. Katakan dan jawablah pertanyaanku! Jangan hanya diam dan terus menangis! Tunjukkan dirimu yang berapi-api seperti tadi Bella! Tunjukkan!!"

****

"Aaww....."

"Aku menyesal hal ini bisa terjadi." ucap Varrel dengan wajah sedih setelah membantu memasang plester di pipi Lea.

"Kau tahu, Bella sangat beringas hari ini. Aku tidak pernah berdebat dengan wanita seperti hari ini." ucap Lea tertunduk sedih.

Varrel terdiam, ia berjongkok di hadapan Lea dan menggenggam jemari tangan gadis itu guna menguatkan.

"Kau sudah dibuat susah oleh Bella hari ini, aku minta maaf karena aku tidak bisa melindungimu. Aku akan pergi menemui dirinya dan membahas ini kepadanya. Aku tidak suka jika...."

"Tidak usah." cegah Lea sembari menahan tangan Varrel kuat-kuat.

"Kenapa?"

"Aku tahu dia sedang emosi jadi sebaiknya kau tak mengusik dirinya. Bagaimanapun aku tahu bagaimana perasaannya saat ini. Rasanya tak perlu jika kau harus membahas hal ini padanya. Namun jika kau ingin pergi untuk menenangkannya, aku memperbolehkanmu." jawab Lea dengan bijak membuat Varrel tak habis pikir.

"Kenapa? Kenapa kau justru berkata begitu?"

"Dia sedang cemburu Arrel, dia sedang berjalan di atas emosinya bukan di atas logikanya. Orang seperti itu mudah sekali terbakar dan meledak tak karuan."

"Tapi lihatlah! Dia sudah membuat luka wajahmu, dia juga sudah membuatmu malu. Aku tidak ingin melihat kau sedih tapi kau justru...."

"Dia istrimu dan aku? Aku bukan siapa-siapa untukmu. Arrel, jangan timpakan kemarahan kepadanya. Dia wanita yang baik hanya emosinya sedang tidak terkontrol. Jika kau membahasnya aku takut dia semakin tak terkontrol." ucap Lea terus menatap wajah Varrel seolah memohon pengertian.

Mereka bertatapan cukup lama hingga akhirnya Varrel mengulum senyum lalu mengusap pipi Lea dengan penuh sayang.

"Kau jauh lebih dewasa daripada Bella, Lea. Entah kenapa setiap aku berada di sampingmu, aku merasa begitu nyaman." ungkap Varrel pelan.

"Kau selalu saja pandai membuatku terbang, Arrel. Bagaimanapun dia juga istrimu, sebaiknya kau kembali ke kediamannya dan mulai menenangkannya." saran Lea lantas berdiri dan menuju ke meja belajarnya.

"Tidak, aku akan tetap di sini." ucap Varrel dengan bersikeras sambil mengikuti langkah Lea.

"Kau harus pergi, Arrel. Aku tidak apa-apa sendirian di sini. Kau tahu, dia lebih membutuhkanmu." ucap Lea tanpa menatap wajah Varrel.

Pria itu mendengus kesal lalu menangkup kedua wajah Lea dan menatapnya dengan tatapan begitu kesal.

"Aku tetap akan di sini."

"Arrel percayalah padaku, Bella lebih membutuhkanmu daripada diriku. Pergilah untuk malam ini saja, setelah itu kembalilah esok hari. Aku tidak apa-apa."

"Kau yakin?"

"Ya." jawab Lea dengan mantap.

Varrel kembali menatap Lea seakan tak tega namun ia lebih memilih untuk menurut setiap kata-kata gadis itu.

"Jika begitu berhati-hatilah di rumah, aku akan pergi. Kalau ada sesuatu yang penting jangan segan untuk menelponku. Kau tahu kan maksudku?" tanya Varrel dengan wajah begitu ragu.

Lea hanya mengangguk pelan dan disambut dengan ciuman singkat di keningnya oleh Varrel. Pria itu segera meraih jas hitam dan memakainya kembali.

Perlahan si pria tampan meraih kunci mobil dan bergegas meninggalkan Lea seorang diri. Sejenak ada perasaan kehilangan dalam hati Lea, namun ia buru-buru menepisnya.

"Aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa."

******

Bab 3

***

Braakk.

Bella menggebrak meja, mencengkeram kuat-kuat kain yang melapisi meja itu dan tak lama kemudian jari-jarinya bergerak, merenggut serta merampas kain itu ke samping hingga berhamburan semua yang berada di atas meja.

Semua terasa gelap di pandangan matanya, ia tak menyangka jika orang ketiga dalam rumah tangganya adalah gadis muda yang pantas ia panggil adik dan terlalu polos untuk melakukan hal bejat seperti itu.

Kesal, kesal dan kesal.

Tak ada yang bisa diungkapkan seorang Bella Damington untuk mengusir kekecewaannya selain marah dan marah.

"KAU TAHU KENAPA VARREL TIDAK MENYUKAIMU? KARENA KAU WANITA LEMAH, KAU HANYA BISA MENGALAH DAN MENGALAH. KAU KIRA KAU SUDAH JADI ISTRI YANG SEMPURNA? BENARKAH KAU ISTRI SEMPURNA? HAH?? JAWAB AKU!!!"

Entah, jika mengingat kejadian tadi hatinya mendadak terbakar dan tersulut kobaran api. Bagaimana bisa gadis yang terlihat begitu polos, berpendidikan tinggi, memiliki prestasi bagus justru menodai moralnya menjadi seorang perebut suami orang?

Kenapa? Kenapa gadis sebelia Lea harus melakukan hal buruk seperti itu? Ia sangat cantik, pria single manapun akan mau memacarinya tapi kenapa harus Varrel Damington? Kenapa harus suaminya?

"Aarrgh...." teriak Bella frustasi lalu kembali memukul meja guna mengekspresikan bagaimana perasaannya kali ini.

Sedangkan di luar kediaman mewah Bella, suara deru mobil yang halus dan lembut nampak berhenti. Bella menoleh sesaat, ia yakin dia pasti Varrel. Apakah mungkin gadis berbisa itu mengirim Varrel kepadanya hanya untuk balas menyumpahi dan memakinya?

Bella tak beranjak sedikitpun, ia masih mengepalkan tangannya di meja dan berusaha mati-matian untuk menahan amarahnya agar tidak meledak-ledak. Bagaimanapun Varrel adalah suaminya, sesalah apapun dia Bella harus menanggapinya dengan kepala dingin. Jangan sampai hanya karena amarah yang berbicara membuat Varrel harus pergi lagi dari hadapannya.

Suara pintu dibuka, berderit kecil dan menampakkan sosok tampan Varrel Damington yang tertegun di depan pintu tanpa berusaha untuk melangkah masuk lebih dalam lagi.

"Apa yang sudah kau lakukan pada Lea?" tanya Varrel dingin.

Sungguh sapaan pahit yang langsung menyambar gendang telinga Bella Damington, wanita itu mengetatkan rahangnya meskipun suara amarahnya seakan menggempur dadanya dan ingin membuatnya berteriak seketika.

"Kau sangat memalukan, Bella. Kau datang dan mengamuk padanya, apa yang sebenarnya kau mau?" telisik Varrel dengan tatapan kesal.

Bella menoleh, ia menyorot mata Varrel dengan tajam seolah ingin membakar pria itu dengan api kemarahannya. Sungguh, pria ini sama sekali tak berpihak kepadanya. Bagaimana bisa Varrel bisa berpaling begitu saja darinya dan lebih memilih Lea yang jelas-jelas berada di posisi yang salah.

"Jadi menurutmu aku yang salah, Varrel? Jadi menurutmu, merebut suami orang itu diperbolehkan? Aku tidak akan seperti ini jika dia bisa menjaga sikapnya. Kau tahu, aku adalah wanita yang dirugikan. Dan kenapa kau justru membelanya? Kenapa Varrel?" sembur Bella tak kuasa menahan amarahnya lagi.

"Aku tidak membela dirinya, Bella. Aku juga tidak menyalahkan dirinya. Jika ada orang yang perlu dipersalahkan maka salahkan saja aku. Jika kau menganggapnya tidak bisa menjaga sikap maka orang yang patut kau marahi adalah aku. Aku, Bella. Aku mencintainya, aku menyayanginya, apakah kau sudah jelas dengan penjelasanku Bella? Aku yang memiliki perasaan padanya, aku yang tak bisa menjaga sikap dan akulah orang yang mengejar-ngejar dia. Bella, aku mengatakan jujur padamu. AKU MENCINTAINYA. Aku harap kau tak perlu lagi menyalahkan dirinya." ungkap Varrel dengan emosi ikut meluap-luap.

Bella terbungkam, seperti dipukul palu besar sesaat otaknya kosong dan terasa remuk. Haruskah ia menerima pernyataan suaminya yang begitu mengejutkan?

Semua pertanyaan itu tersimpan di hatinya, berjejer rapi seakan meminta jawaban satu per satu dari bibir seksi Varrel Damington.

"Tapi kenapa? Kenapa kau menghianatiku, Varrel?" hanya tangisan dan sebaris ucapan itu yang mampu dikatakan oleh seorang Bella Damington dihadapan sang suami.

"Maaf, tapi inilah yang aku rasakan. Jangan pernah usik hidup Lea lagi, dia gadis yang aku cintai. Setidaknya jika kau tak ingin aku pulangkan ataupun aku ceraikan maka sebaiknya kau diam dan pura-pura tak melihat kami. Jika kau tak mengusik kehidupan pribadiku maka aku berjanji takkan mengusikmu apalagi mengusirmu." ucap Varrel serius.

Pernyataan itu bagaikan bom waktu bagi Bella, ia tak berkutik sama sekali apalagi jika Varrel mulai membahas perceraian di depan matanya. Sanggupkah ia menjadi janda disaat usia pernikahannya baru menginjak dua bulan?

Bella terdiam, hanya tangisan yang kini mewakili perasaannya. Ia hanya melihat pria itu berbalik ingin meninggalkannya namun sebelum pria itu benar-benar pergi Bella berusaha menahannya.

"Apakah gadis itu lebih baik dariku, Varrel? Apakah dia begitu hebat hingga akhirnya kau berpaling dariku dengan begitu cepat? Jika memang kau mencintainya kenapa kau menikahiku? Kenapa semua ini kau lakukan padaku? Aku orang baik-baik tapi kenapa kau justru memperlakukanku seperti ini? Varrel apakah gadis itu cukup mampu membuatmu sudah tak betah tinggal denganku? Apakah kau tidak ingin menyelamatkan pernikahan kita? Varrel bisakah kau tinggal lebih lama dan kita bicara?" ucap Bella lirih dan hampir tak terdengar.

Varrel berhenti sejenak, ia menghela nafas lalu berbalik badan dan melangkah menghampiri Bella yang menangis tak berdaya. Perlahan jemari Varrel menghapus airmata Bella yang mengurai.

"Maaf jika aku sudah membuatmu menangis tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku pada Lea. Maaf jika aku menusuk hatimu, aku tak tahu harus bagaimana menunjukkan perasaanku. Jika kehadiranku mampu membuatmu tenang maka aku akan melakukannya untukmu namun jika itu berlaku sebaliknya maka...."

"Tidak Varrel, tetaplah di sini." ucap Bella lalu merangsek ke dalam pelukan hangat suaminya.

"Kita lupakan masalah ini sejenak, aku mohon. Aku tidak ingin kau pergi, tinggallah bersamaku meskipun semalam saja. Varrel aku mohon."

***

Hujan mengguyur apartemen mewah malam itu, hanya Lea seorang diri berdiri di jendela kaca kamarnya dengan secangkir kopi susu yang sedari tadi ia pegang dan ia bawa berdiri. Tanpa bosan matanya yang indah menatapi pemandangan kota malam hari di bawah guyuran hujan yang sangat lebat.

Sendiri.

Ia sudah terbiasa hidup sendiri, meskipun ada adik-adiknya ia jarang sekali bertemu kecuali memberikannya uang jajan dan uang sekolah untuk adiknya. Bagi Lea, ia tahu bagaimana rasanya jika menderita rasa malu. Ia sengaja menjauh, menarik diri dari adiknya agar kelak adiknya tak merasa malu dengan tingkah kakaknya yang begitu memalukan.

Sruup.

Lea menyeruput kopi susunya dengan pelan tanpa melepaskan tatapannya ke arah kaca dimana hujan mengguyur tanpa ampun. Dia menarik nafas ke sekian kalinya, sejenak ia melirik ke arah meja belajar. Masih banyak tugas, ia harus menyelesaikannya meskipun terasa begitu lelah.

Rasanya ia ingin lari, menyelesaikan kuliahnya, mengejar cita-citanya dan bekerja keras sekeras mungkin hingga akhirnya ia bisa hidup normal, hidup sebaik-baiknya bersama adiknya.

"Hujan begitu lebat mungkin Arrel tidak akan kemari." gumam Lea pada dirinya sendiri.

Gadis itu mulai jenuh, kaki jenjangnya ia langkahkan menuju ke meja belajar. Ia meletakkan cangkirnya dan mulai belajar kembali. Matanya yang menelusuri setiap paragraf dalam bukunya mendadak melirik sejenak pada foto di sebelah meja. Ya, foto dirinya dengan adik-adiknya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan terpaksa, tangan mungilnya meraih foto itu dan kembali menatap ketiga wajah adiknya yang begitu ia rindukan. Jika dihitung-hitung sudah hampir dua bulan mereka tak bertemu.

"Kakak merindukanmu, dik." rintihnya lirih lalu kembali meletakkan foto itu di tempatnya semula.

Untuk sesaat Lea kembali teringat akan ucapan adik perempuannya yang tertua, adiknya yang masih duduk di bangsu SMU yang begitu teramat membencinya.

"Kau ini apa? Kau hanyalah tak lebih dari seorang pelacur murahan. Kau sungguh membuat kami malu, kau jual harga dirimu dan itu sungguh menjijikkan. Kami malu memiliki kakak sepertimu, seorang pelacur perebut suami orang. Jika bukan karena terpaksa, kami juga tak mau menikmati uang panasmu. Kelak jika aku sudah lulus jangan pernah lagi datang membantuku, aku tak perlu kuliah memakai uangmu. Biarkan aku bekerja sendiri dan biarkan adik berada di pihakku. Jika kau masih saja membuatku malu sebaiknya kau pergi menjauh dari kami, kami tidak ingin dicemooh ataupun dikucilkan orang lain hanya gara-gara dirimu!"

Tes... Tes..

Airmata itu mendadak menetes dari bola mata Lea Kalilea. Seandainya adik-adiknya tahu bahwa pengorbanannya yang buruk ini hanyalah untuk membahagiakan mereka, hanya untuk menopang kehidupan mereka supaya lebih baik. Seandainya mereka tahu bagaimana deritanya menjadi si sulung ketika kedua orangtua sudah tiada. Andaikan saja.....

Clekk.

Daun pintu dibuka membuat bola mata sayu itu mengalihkan pandangannya. Sosok Varrel muncul di sana dengan jas yang sedikit basah karena hujan yang sedikit mengguyur tubuhnya.

"Arrel...." desisnya lirih lalu berdiri dari duduknya. Gadis itu cepat-cepat menghapus airmatanya dan berpura-pura mengambil handuk untuk mengeringkan rambut serta tubuh Varrel yang sedikit basah.

"Kau kenapa? Sepertinya kau menangis?" tanya Varrel heran sembari mendekati Lea yang mencoba menghindari tatapan mata dengannya.

"Aku tidak apa-apa Arrel. Kenapa kau datang saat hujan? Bukankah lebih baik jika kau tinggal dengan Bella sementara waktu? Jika kau kehujanan seperti ini kau bisa terkena flu." ucap Lea seraya menawarkan handuk tanpa menatap mata Varrel.

"Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu, akan terasa lebih hangat jika aku memelukmu di sini. Apa kau keberatan?" ucap Varrel sambil menerima handuk itu dan mengusap-usapkannya di wajah dan rambutnya yang hitam kelam.

"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Akan kubuatkan secangkir susu untukmu." ucap Lea sok sibuk seraya melangkah menuju ke dapur kecil di seberang.

Melihat gelagat mencurigakan, Varrel bertanya-tanya dalam hati. Perlahan ia membuka setelan jasnya dan menghampiri Lea yang sibuk menyiapkan susu untuknya.

Pria itu merengkuh tubuh mungil Lea dari belakang dengan penuh sayang, hawa dingin dari tubuh Varrel begitu lekat di tubuh Lea. Dengan manja Varrel mencium ceruk leher Lea dan mulai berbisik mesra.

"Aku tidak butuh secangkir susu, aku hanya butuh tubuhmu untuk menghangatkanku. Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, kenapa kau menangis? Apa ada sesuatu yang menyinggung hatimu? Apa Bella mengganggumu lagi?" tanya Varrel berbisik di telinga Lea.

Gadis itu mengulas senyum, ia hanya menggeleng sebagai jawabannya namun Varrel sama sekali tak percaya. Pria tampan itu melepas pelukannya, membalikkan tubuh mungil itu ke hadapannya dan mengapit tubuh Lea dengan kedua tangannya yang kokoh.

"Kau terlihat sedih meskipun kau menyamarkannya dengan sebuah senyuman. Lea katakan padaku ada apa? Apakah kau butuh uang lagi? Apa kau mendapatkan sebuah ancaman? Ayo Lea ceritakanlah!" bujuk Varrel secara halus.

Lea menatap mata indah itu sejenak lalu tertunduk sedih. Ia ingin menangis tapi itu sangat memalukan baginya, selama ini ia berusaha kuat melawan semua orang yang menyakitinya, mengabaikan setiap orang yang meneriakinya sampah. Ia juga manusia, yang punya sisi rapuh. Semua ini ia lakukan hanya karena ingin menyambung hidupnya, mengantarkan adik-adiknya ke sekolah yang lebih tinggi tanpa ada kesenjangan sedikitpun. Harapan-harapan kecil seorang kakak yang justru mengantarkannya pada pekerjaan nista dan dianggap sampah oleh masyarakat.

"Ayo katakan!" suara Varrel membujuk seraya menyibakkan anak rambut Lea yang sedikit menutupi sebagian wajah Lea.

"Arrel kelak jika aku sudah lulus kuliah, aku ingin berhenti mengganggumu." ucap Lea dengan nada berat.

"Maksudmu?" tanya Varrel kurang mengerti sambil mengernyitkan dahinya.

"Aku tahu mengganggu rumah tangga orang itu tidak baik jadi sepertinya aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi setelah aku benar-benar lulus nanti."

"Aku senang kau bisa memutuskan hal itu tapi aku tidak senang jika hal itu kau jadikan alasan untuk menjauhiku, Lea." ucap Varrel sambil menangkup kedua pipi Lea.

"Arrel...."

"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku mendukung penuh jika kau berhenti melakukan hal ini dan akhirnya memutuskan untuk menikah denganku. Lea, aku rela menceraikan Bella hanya untuk hidup denganmu."

"Arrel ini tidak semudah yang kau bayangkan. Sebaiknya kau tidak usah menceraikan Bella." ucap Lea lirih lalu menunduk sedih.

"Kenapa? Apa kau tak senang menjadi Nyonya Lea Damington?" tanyanya menelisik sembari mengangkat dagu Lea dengan lembut.

"Aku hanyalah pelacur, aku hanya membutuhkan uangmu bukan cintamu. Apa kau tak sadar hal itu? Kenapa kau menyia-nyiakan wanita setulus Bella?"

"Dengar Lea, aku tidak buta ataupun tuli aku juga mengerti siapa dirimu. Jika orang menganggapmu begitu biarkan saja, bagiku kamu tidaklah begitu. Jika kau hanya membutuhkan uangku, jika kau hanya memanfaatkanku bagiku itu tidaklah masalah. Yang penting bagiku adalah kebahagiaanku bersamamu. Apa kau mengerti? Jika Ya maka berhentilah bersedih, aku tidak ingin bidadariku murung. Lea, kelak jika dunia benar-benar menudingmu dan tidak memberikan tempat untukmu, jangan khawatir masih ada aku. Aku yang akan mengangkatmu ke tempat yang layak, yang orang akan balik bungkam dan mulai menghargaimu. Lea, apapun akan kuberikan asal kau tak meninggalkanku. Jangan.... Jangan pernah berniat seperti itu. Lea, kau hidupku yang sebenarnya."

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED