Bab 2

"Psstt, katanya dia anak dari pemilik yayasan. Tapi sayang, tidak bisa di harapkan." Ucap seorang perempuan berseragam dengan emblem nama sekolah yang paling terkenal di sana,

"Benarkah?! Ahh sayang sekali ya, padahal wajahnya tidak buruk."

"Iya iya, ku dengar dia selalu membuat masalah dan menjadi peringkat terakhir di kelas."

"Tapi aku juga iri dengan orang-orang yang bisa membuatnya mengeluarkan uang loh, meski sifatnya begitu dia juga memiliki sisi baik."

"Haha, iya saking baiknya hanya bisa diam saat dia di bodohi. Seperti orang dungu,-"

"Sstt kau ini! Pelankan suaramu,"

Niel sang tuan tubuh mengeratkan pegangannya pada tas yang tersampir di bahunya. Bahunya terlihat layu dengan wajah yang hanya mampu menatap ke tiap keramik yang ia lalui, telinganya telah terbiasa atas ucapan bisik-bisik yang begitu sering ia dengar hingga mampu menebak apa yang akan mereka keluarkan selanjutnya. Baik perempuan ataupun laki-laki, yang ia tahu bahkan dewan pendidik juga terus merendahkannya bak sampah tanpa melupakan dirinya yang berstatus sebagai anak dari ketua yayasan tempat mereka berkerja ataupun mengenyam ilmu.

Salahkan sang ayah yang begitu baik hingga memasukan seorang perempuan jahat dan membuatnya harus menerima cemoohan dari orang lain, ibunya telah lama mati dan masih harus menerima keluarga baru yang di bawa oleh ayahnya. Menjadikan Niel tumbuh sebagao pribadi yang rendah hati tanpa kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Bahkan sejak awal ia telah menyadarinya, sesaat setelah ibu dan anak itu masuk ke kediaman megahnya. Di saat itu pula semuanya berubah, ayahnya terus di halangi untuk berbincang dengannya oleh sang ibu tiri, belum lagi saudara tirinya Liam terus berulah dan menjebaknya hingga tak lagi ada yang memperdulikannya selain para pelayan yang memang takkan bisa di gantikan yang telah lama menemaninya. Bahkan sesaat sebelum mendiang ibunya meninggalkan dirinya seorang diri,

'Tapp... tapp,'

Langkah kaki menggema di penjuru arah, menandakan jika bangunan yang ia masuki merupakan sebuah bangunan luas yang minim akan kehadiran manusia. Langkah gontainya terus membawa Niel ke tempat yang ia tuju, tempat teraman yang tersisa. Kamarnya sendiri,

'Cklekk, Krieettt'

"Ma, aku pulang..."

Jemarinya meraba sisian dinding yang tak jauh dari kenop pintu berada, sebelum memberikan pencahayaan ke dalam ruangan luas dengan nuansa megah bak istana. Dinding putih beraksen keemasan itu menyapa indera pengelihatannya untuk pertama kali, Niel menatap tepat ke arah figura besar yang berada tepat di atas kepala ranjang king size miliknya.

"Aku masih mendapatkan perlakuan buruk seperti biasa, tapi sama seperti biasa ma.. aku tetap diam, tak apa. Niel sudah berusaha,"

Ia dudukkan pantatnya ke atas tempat tidur empuk yang biasa menemani tidurnya,

"Tidak apa," ucapnya lagi sembari menatap susunan keramik yang takkan berubah selama apapun ia memandang di sana.

"Aku... sudah berusaha,"

Begitu pula suara 'brukk' samar akibat sang empu tubuh yang menghempaskan dirinya sendiri ke atas kapas lembut yang menjadi alasnya berbaring itu melanjutkan ucapannya. Niel menatap langit-langit kamar dengan lukisan langit cerah dengan kapas yang begitu kontras di sana.

"Namun aku tak bisa berbohong ma... Niel, lelah.. sangat,-"

"Kalau begitu.. izinkan aku untuk membantumu, saudaraku ter-sayang." Gumam suara yang masih bisa ia dengar dengan samar di sana.

Niel teramat tahu, hanya ia yang bisa membuka pintu kamarnya. Tidak untuk pelayan ataupun sang kepala keluarga sendiri, karena itulah. Liam selaku saudara tiri Niel menyemprotkan sebuah gas beracun lewat air conditioner agar menyebar ke dalam kamar sang kakak dan terhindar dari tuduhan secara langsung, Niel sendiri mengetahuinya dari gerak gerik yang di lakukan para bawahan Liam. Itulah mengapa dirinya tidak panik sama sekali, inilah yang ia inginkan.

Tidak perduli jika usianya masih begitu belia, ia lelah dan alangkah baiknya jika Niel pergi bersama sang ibunda.

Ia pejamkan manik indahnya, membiarkan kelopak matanya menutup. Membuat helai panjang yang lentik di sana sebagai tirai sutra yang takkan bisa di tolak siapapun.

Membiarkan gas beracun mengisi paru-parunya dengan perlahan,

'Aku tak ingin apapun lagi, biarkan aku tidur dengan tenang. Aku ingin ibuku, hanya itu. Dan aku ingin ...'

***

'Ting!!'

'Ingatan berhasil di masukan, memeriksa keinginan sang tuan tubuh.'

'Ting!!'

'Misi telah ditentukan, membuat sang tuan tubuh kembali mendapatkan kehormatannya dan menyingkirkan tokoh Antagonis.'

Manik itu membuka,

"Begitu rupanya,"

Ia tatap sekitar ruangan yang benar-benar bertolak belakang dengan kamar yang biasa ia jadikan tempat beristirahat, namun sesaat setelahnya mulai tersadar jika dirinya tidak bisa bermalas-malasan.

"Yosh, Tupai. Apa yang aku dapatkan jika menyelesaikan misi pertamaku ini? Lalu jika aku gagal, apa mendapatkan hukuman?" Ucapnya bertanya pada seekor tupai dengan dua gigi depan yang menonjol.

"Jika kau berhasil menyelesaikan misi tepat waktu, kau akan mendapatkan 50 poin untuk mengisi tabung kehidupan. Tapi jika kau gagal dan melanggar aturan, poinmu akan di kurangi sebanyak 15 poin."

"Apa-apaan itu?! Benar-benar tidak adil!! Aku ingin,-"

"Kau tidak bisa menentang apa yang dijatuhkan padammu, ekhm akan aku lanjutkan. Lalu jika kau gagal, kau akan di lemparkan ke dunia lain dengan alur cerita yang berbeda pula." Ucap sang Tupai panjang lebar,

"Ahh begitu rupanya,"

"Lalu jika kau berhasil menemukan misi tersembunyi, poinmu akan di gandakan dua kali lipat dari nilai awal. Semakin banyak mendapatkan misi rahasia maka poinmu akan semakin banyak,"

"Ahh begitu rupanya, ku rasa cukup sepadan dengan hukuman-hukuman yang menunggu di belakang. Terima kasih Tupai, aku akan menjalankan misi ini dengan sungguh-sungguh!" Ucap Niel dengan percaya dirinya.

"Tunggu, jangan terlalu percaya diri seperti itu. Kau akan di hadapkan dengan berbagai halangan yang ada di depan nantinya,-"

"Tupai," ucap Niel dingin, sontak saja hal itu membuat Ios tersentak kaget.

"Aku bukanlah orang yang lemah seperti itu, jadi kau tak perlu khawatir. Aku bisa mengatasi semuanya, kau,lihat saja dan serahkan padaku ini."

Terdengar bunyi suara dada yang di tepuk, membuat Niel yang tak menyadari sesuatu yang janggal mulai beransur sadar.

"Tunggu!!"

Ia ulangi acara penepukan dadanya sebelum menarik paksa kemeja yang melekat di tubuhnya,

"Dadaku, di mana..."

"Aku mau jelaskan tapi kau terus menyela perkataanku, jadi selamat berkageat ria." Ucap sang tupai pergi memalingkan wajahnya.

"Tunggu-tunggu!! Ini tidak benar,"

Dan benar saja, sesaat setelah ia menyadari apa yang ada di selengkangannya merupakan benda berbeda dari kepunyaan dirinya yang lama membuat Niel kaget setengah mati dengan mata membola dan juga raut wajah yang tidak percaya.

Pasalnya dua buah gumpalan daging yang biasa ia busungkan dengan bangganya di hadapan para perempuan itu tak lagi bertengger manis di sana, malah selengkangannya terasa sesuatu telah menempel di sana. Benda panjang menjuntai dengan benda yang ia pastikan tidak akan menyentuhnya atas dasar apapun.

"TUPAI SIALAN!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUBUH INDAHKU!??" Teriak Niel murka, sedangkan Ios yang merasa tidak ada yang salah hanya memakan kuaci yang ia ambil dari sistem.

Bersambung.

Bab 3

"Anak resmi tapi tak bisa membela dirinya sendiri,"

Sebuah langkah besar terus menapak hingga terdengar jelas jika hentakan kakinya merupakan pelampiasan dari amarah yang terpendam.

"Terlalu baik hingga kehilangan kasih sayang ayahnya sendiri,"

Tiap untaian kata dengan suara pelan layaknya gumaman terus keluar layaknya lagu pengiring langkah sang pemuda menuju arah barat, tepat di mana lokasi yang ia tuju berada.

"Lalu mati karena gas beracun yang telah ia ketahui dari mana berasal, cih! Kenapa aku harus menggantikan seorang yang begitu menyedihkan ini?!"

"Apa boleh buat, kau sendiri yang terlihat bosan tapi setelah Yang Kuasa bertindak, kau juga tetap tidak terima. Dasar manusia, meski dulunya kau seorang perempuan tapi ingat identitasmu sekarang. Tidak bisakah lebih menjaga harga dirimu sendiri sebagai 'pria'?" Ucap seekor Kelinci kecil yang duduk dengan nyaman di bahu kanan pemuda yang terus mengumpat di sepanjang jalannya.

"Diamlah Tupai bodoh! Jika bukan karena kau yang membuatku ke tempat ini,-"

"Aku kenapa?!"

"ahh... sudahlah. Aku tidak ingin berdebat dengan hewan pengerat sepertimu,"

Niel menghela nafasnya panjang sebelum menatap lurus ke depan, para siswa dan siswi terlihat berdatangan dari berbagai arah. Tempat yang juga menjadi tujuannya sekarang, Lich Academy adalah sekolahnya sekarang. Sungguh tak pernah Niel bayangkan jika dirinya harus memerankan sebuah karakter dan harus membantunya agar bisa kembali ke dunianya.

Sebelumnya, Pusat Sistem

"Kenapa mereka tidak bergerak?" Ucap seorang perempuan menyentuh layar besar yang menampilkan sebuah penampakan memilukan, seorang pelajar yang masih mengenakan seragamnya dengan seorang lagi yang terbaring tanpa gerakan apapun di tanah. Seragam yang mereka kenalan terlihat sama namun bedanya, seragam siswi yang terbaring di atas tanah sudah tak lagi bersih seperti sebelumnya.

"Iti adalah ketentuan dari sistem, mereka akan terus seperti itu hingga kita berhasil mengetahui akhir dari perjalanan kita. Apakah nilaimu cukup untuk kembali atau tidak, kau sendiri yang dapat menentukannya." Ucap seekor Kelinci yang wajahnya terlihat serius saat menjelaskan apa yang tengah terjadi.

"Lalu misiku di sini apa? Apa yang harus ku lakukan agar bisa memenuhi tabung nilai kehidupanku kembali?" Tanya gadis dengan masih menatap lekat ke arah layar besar yang ada di sana. Terlihat jelas jika tatapan itu menyiratkan sebuah ketidak-berdayaan akan apa yang telah ia alami.

Seingatnya, ia bukanlah seorang anak dari konglomerat ataupun kalangan ningrat tapi mengapa dirinya di hadapkan dengan situasi sesulit ini?

"Kau hanya perlu mengambil kembali simpati ayah Tuan tubuh dan mengambil segalanya dari tokoh antagonis yang merupakan saudara tiri dari Sang Tuan Tubuh," ucap Ios sembari membuka buku panduan yang ia pegang sebagai pendoman dirinya untuk memandu Niel.

"Lalu seberapa banyak tugas yang harus ku lakukan untuk memenuhi tabung kehidupannya?" Tanya nya lagi, Wajah sang gadis terlihat begitu lelah di sana.

"Kalau itu... aku belum bisa memastikan, kita masih berada di awal. Kau harus bersabar untuk itu,"

Sang Kelinci menatap ke arah Niel selaku Host yang akan ia pandu,

"Soal duniamu tenang saja. Saat kau berhasil nantinya, kau akan dikembalikan ke masa di mana kau mengalami kejadian itu."

Niel terlihat menarik nafas, "aku tahu, yang kulakukan sekarang hanya perlu menikmati perjalanan ini dan banyak belajar lagi."

Wajah yang tadinya terlihat tidak berminat mulai menegadah dan menatap ke arah langit-langit tanpa ujung,

"Aku pasti bisa melakukan tugas pertamaku dengan baik," ucapnya mantap sembari melayangkan pandangan ke arah layar monitor yang masih memperlihatkan gambar yang sama.

.

"Kemana semangatmu yang menggebu kemarin? Kenapa kembali lesu hah?!"

"Tanyakan saja pada perut besarmu itu, dasar Tupai bau!"

Niel, tanpa sadar mengeraskan suaranya dan membuat beberapa pasang mata yang ia lalui menatap heran. Bisik-bisik miring akan kewarasan dan sejenisnya dapat ia dengar dengan jelas tapi sayangnya, ia tidak perduli sedikitpun akan hal itu.

'Tentu saja karena yang sekarang ini yang ada di hadapan mereka bukan lagi si Niel yang cupu, mudah di tindas dan pengecut.'

Langkah kakinya terhenti di depan sebuah kelas dengan plat 1-7, tempat sang tuan tubuh menimba ilmu selama ini. Yang juga saksi bisu dari setiap penderitaan yang telah sang tuan tubuh rasakan sedari lama.

'Niel Astankova, perempuan yang melintasi waktu demi memenuhi tabung kehidupannya kembali.'

"Tunggu saja, Liam. Aku akan perlihatkan jika Niel bukanlah orang yang mudah di tindas.

***

Kelas

Bel berbunyi, pertanda jam pelajaran telah berakhir. Para siswa mulai meninggalkan tempat duduknya membentuk kelompok kecil, ada pula yang memilih untuk keluar dari kelas untuk menghirup udara segar di sekitar sekolah. Beberapa orang memilih untuk pergi membeli makanan di kantin sekolah dan juga mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan bekal berbalut sapu tangan berbagai warna yang mereka bawa.

Niel memilih untuk menatap ke arah langit, enggan untuk pergi dari singgasananya kini. Kelas terlihat mulai kosong sekarang, tapi ia tak perduli akan hal itu. Baginya hal ini merupakan hal yang ia rindukan, sama seperti yang biasa ia lakukan saat menjadi Niel yang perempuan. Yang kurang sekarang hanyalah sebuah panggilan singkat dengan bariton berat,

"Niel, ayo ke kantin! Aku tau kau di dalam, tenang saja kali ini pasti kebagian!!"

Tubuhnya menegak tak kala mendengar sebuah suara yang begitu akrab di telinganya, air mukanya berubah lebih ceria dan hal itu pula tak luput dari perhatian sang Kelinci imut yang senantiasa berada di sampingnya.

"Iya aku datang Ab!" Ucap Niel dengan gerakan cepat beranjak dari tempat duduknya, terlihat jelas jika raut wajah yang tadinya mendung kini terlihat sedikit sumringah.

"Ab? Siapa itu? Apa kepalamu habis kena bola nyasar lagi ya?"

Sang kelinci imut menatap seseorang yang datang menghampirinya, lagi-lagi terjadi perubahan yang begitu drastis dari Host yang ia pandu itu.

Niel mengernyitkan dahi tanda tak mengerti, hal itu tentu saja membuat sang kelinci paham.

'Dia adalah teman dari sang tuan tubuh, namanya Lamsin Hornet. Tuan tubuh biasa memanggilnya dengan sebutan Lam, ku harap kau juga bisa-"

Sang kelinci terhenti saat dirinya mendapati kernyitan dahi dari Niel,

'Ahh jangan heran, agar tidak di sangka gila kita akan berkomunikasi dari pikiran mulai sekarang. Kau tak perlu repot lagi, lalu saat semua orang tidak ada dan hanya ada kita. Kau bisa berbicara padaku seperti biasa,'

'Ahh begitu,' pikir Niel yang di balas oleh Ios dengan anggukan kepala.

'Sekarang lakukan tugasmu, anggap saja aku tak ada.' Ucap ios lagi.

"Haloo... ada orang?" Ucap Lam sekali lagi sambil melambaikan tangannya di hadapan Niel. Di saat yang bersamaan pula Niel Astankova tersadar dari lamunannya,

"Aku dengar Lam, ayo!" Ucapnya sembari jalan keluar kelas.

Bersambung.

***

Berikutnya, di One Chance Without Change.

***

'BRAKK!'

Semua pasang mata yang ada di sana menatap ke arah sumber suara, Niel berusaha menarik nafasnya untuk meredakan amarah dengan susah payah.

'Sabar, tahan. Niel baik.. Niel baik,' rapalnya di hati.

"hehe..."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED