Kenan menahan tawanya saat mendengar celotehan sang adik .“Baby, dia punya nama, bukan kulkas.” Tegur Kenan.
Sedangkan Rega sudah menatap tajam ke arah Baby yang berkata tanpa dosa. Jika tidak mengingat gadis kecil itu adaah adik Kenan, bisa di pastikan dia akan memarahinya.
“Tapi muka Om datar sekali, bahkan Bang Ken kalah datar sama Om itu, dia seperti kulkas berjalan Bang .” Bisik Baby, yang lagi-lagi di dengar oleh Rega.
Tega menggeram tertahan. “Nama saya Rega! Dan saya bukan kulkas!” sarkas Rega.
Kenan bukannya marah, ia malah tekekeh pelan, begitu pun dengan pria berkacamata di samping Rega. “Apa itu lucu bagi kalian?” tanya datar Rega menatap kesal Kenan dan asistennya.
Keduanya bungkam. “Sorry-sorry Bro, sudahlah.” Kenan menatap sang adik dengan lekat. “Baby nama teman Abang ini Rega, jangan panggil seperti itu, atau kau akan kena marah.”
Mata Baby mengerjap beberapa kali , sembari memandang wajah tampan Rega yang juga sangat menyeramkan di matanya. “Abang kenapa sekarang teman Abang itu, seperti singa, lihat lah wajahnya itu Bang, Baby takut.”
Bwahahaha!
Kenan tak dapat lagi menahan tawanya.
Bugh!
Pukulan kecil mendarat di bahu pria itu.
“Hentikan sialan!” kesal Rega.
“Ih Om singa! Jangan pukul Abang Baby! Nanti Baby pukul balik lho ya! Awas aja Om nangis ngadu Mama Om!” geretak Baby dengan mata melotot. Membuat mulut Rega terbuka lebar mendengar celotehan gadis kecil itu.
”Ck! ceptlah Ken, aku tidak punya banyak waktu.” Ucap Rega malas.
Kenan pun menghentikan tawanya lalu menggenggam tangan Baby untuk segera pergi. Atau temannya itu akan marah dan berubah pikiran.
Baby sesekali menoleh kebelakang melihat Rega dan seketarisnya. Rega memperhatikan badan Baby yang berjalan di hadapannya. Dia tak habis pikir di jaman sekarang masih asa anak SMA sepolos Baby.
‘Bagaimana bisa ada gadis seperti ini.’ batin Rega menatap tubuh Baby yang berjaan di depannya bersama adengan Kenan.
Sesampainya di restoran, mereka duduk saling berhadapan, Baby dan Kenan , di hadapan mereka ada Rega daan seketarisnya.
“Baby mau pesan apa Sayang?” tanya Kenan pada Baby.
“Baby mau nasi goreng sea food, ice cream, kentang goreng, sama milk stroberi. Eh satu lagi Bang, Ayam geprek.”
Rega menatap horor gadis di hadapannya itu. Ia tercengang mendengar pesanan Baby.
“Apa perut mu akan muat?” tanya Rega spontan.
Kenan terkekeh pelan. “Jangan kaget Bro, dia memang seperti itu, badan kecil makan banyak.” Sahut Kenan.
Baby menatap penuh permusuhan pada Rega di hadapannya itu. “Kenapa Om ihat-lihat Baby, awas ya naksir Baby gak mau tanggung jawab!”
“Cih!” Rega berdecih namun bibirnya menarik senyum kecil, hanya sedikit hingga nyaris tak terlihat.
“Mana mungkin saya tertarik sama bocah seperti kamu.” Sahut Rega melipat tangannya di depan dada.
Kenan hanya bisa menggelangkan kepala saja melihat teman dan adiknya itu. Padahal ini merupakan pertemuan pertama mereka, tapi lihatlah mereka malah seperti anjing dan kucing.
Usai makan siang. Ah sebenarnya hanya Baby saja yang makan, ketiga pria yang lainnya itu hanya memesan minum saja karena mereka sudah makan siang.
“Ahhh kenyangnya.” Ujar Bbay bersandar di kursinya sembari mengusap-usap perutnya sendiri.
Namun tiba-tiba gadis itu menegakkan badannya. “Astaga Baby lupa Bang!” jeritnya, sontak membuat ketiga pria itu terlonjak kaget. Bahkan Rega tersedak akibatnya.
“Baby, ada apa?” tanya Kenan khawatir.
“Baby udah kenyang, tapi pasti Chiko belum mamam. “ Ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Kenan menghembuskan nafasnya lega, ia pikir ada apa. Ternyata hanya karena Chiko.
“Ada apa?” tanya Rega penasaran menatap Kenan.
“Baby teringat, Chiko.” Sahut Kenan.
‘Apa itu kekasihnya?’ batin Rega penasaran.
“Chiko?” tanya Rega dengan alis terangkat.
“Hm, Chiko anak anjing yang baru di belikan Tala untuknya.” Jelas Kenan sembari menyesap kopinya.
Rega kembali di buat terperangah, ia beralih menatap Baby yang bersandar manja di bahu Kenan, dengan mata yang berkakca-kaca.
“Hhh adik mu, hampir membunuh ku, beruntung aku tidak memiliki penyakit jantung.”
Kenan tertawa kecil. “Sorry. Bbay ini memang selalu berlebihan.”
“Abang ayo pulang, Baby pengen ketemu Chiko, gimana kalau Mama lupa kasih makan? Terus Chiko mati dan Baby nangis.” Rengek gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya ay-“
Drrrt! Drrrt!
Ponsel Kenan berdering, menampilkan nama Johan di sana.
“Sebentar Sayamg.” Ucapnya membelai kepala Baby lembut, lalu mengangkat telepon dari Johan.
“Hm? Ada apa?”
…
“Tidak bisa kau yang menangani?”
…
“Baiklah.”
Tut!
Kenan memebuang nafasnya pelan, lalu menatap Baby. “Baby, Abang gak bisa mengantarmu pulang sekarang, ada masalah di kantor, Abang harus kembali sekarang ke kantor.”
Wajah Baby semakin sedih, dengan bibir melengkung ke bawah.
Kenan beralih menatap Rega yang sedari hanya diam memperhatikan.
“Ga, tolong ya, tolong anterin Baby pulang, bisa kan? Tolong lah Bro.” Ujar Kenan pada Rega yang sedikit kaget.
Hhh! Sebenarnya dia agak berat, namun tak enak hati menolak permintaan temannya itu.
“Hh oke baiklah.” Ujarnya membuat Kenan bernfas lega.
“Baby sayang, pulangnya bareng Bang Rega ya? Abang serius gak bisa nganter kamu sayang, maafin Abang ya?” bujuk Kenan menangkup kedua pipi Baby.
“Jadi Baby pulang di anter Om Singa ini?” cicit Baby pelan.
Rega memejamkan matanya kesal mendengar panggilan dari Baby itu. Bayangkan saja ia sudah di panggil dengan embel-embel Om, di tambah kata Singa di belakangnya. Sungguh hari ini membuat emosi seorang Rega terkuras. Bahkan menghadapi Kevin_anaknya saja tidak semenguras tenaga ini.
“Baby gak boleh ngomong gitu, ingat! Namanya Rega.” Tegur Kenan menegaskan.
“Iya iya Om Rega singa!” Sahut Baby malas.
Mata Rega melotot dengan tangan mengepal, sedangkan seketarisnya berusaha menahan senyumnya mendengar itu.
“Ya udah Bro, aku minta tolong ya. Terimakasih.” Ujar Kenan lalu buru-buru bangkit dan mengecup sayang kepala Baby.
“Abang pergi, jangan bandel ya.” Pesannya pada Baby. Baby mengangguk, sembari melambaikan tangannya.
“Abang hati-hati ya, jangan ngebut nanti di tabrak nenek gondrong.” Teriak Baby.
Rega lagi-lagi mengehela nafas lelah mendengar celotehan Baby yang random bahkan terdengar tak masuk akal itu.
“Jangan berteriak, ini bukan hutan!” tegur Rega pada Baby.
Baby memajukan bibirnya kesal. “Yang bilang ini hutan siapa coba? Lagian Baby itu bisa bedain hutan dan restoran kali Om.” Sahut Baby.
“Berhenti memanggil saya Om, saya bukan Om kamu!” hardik Rega mulai kesal.
Mata Baby memicing, menatap Rega yang juga menatapnya kesal. “Tapi ‘kan Om udah tua!”
Rega memejamkan matanya berusaha tenang.
“Sudah Tuan, maklumi saja, jangan di ambil hati ucapan Nona Baby.” Bisik Gery_asistennya.
“Jika sudah selesai, kita pergi sekarang.” Ujar Rega bangkit dari duduknya. Baby tak menyahut ia juga ikut bangkit. Sedangkan Gery mengurus pembayaran terlebih dahulu.
***
Selama perjalanan Baby sibuk bermain ponselnya, sedangkan Rega diam-diam melirik gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Baby tiba-tiba mengangkat kepalanya menatap kedepan, dan Rega buru-buru mengalihkan pandangannya.
“Om kaca mata.” Panggil Baby pada Gey yang menyetir di depan.
Gerry melirik dari kaca. “Iya anda memanggil saya Nona?” tanya Gery.
“Iya Om, siapa lagi coba. Om kacamata kok gak nanya Baby di mana alamat rumah Baby si? Emangnya Om tau alamat rumah Baby? Nanti kita tersesat dan tidak bisa pulang loh Om.” tanyanya dengan panjang lebar.
Gery tersenyum. “Tau Nona, Tuan Kenan sudah mengirmkannya tadi.”
“Ah begitu rupanya, ya sudah selamat menyetir Om kacamata.”
Gery tersenyum kikuk. “Maaf Nona, tapi nama saya Gery.”
“Kalau gitu nama Baby, Kharisma Baby Arganda.” Sahut Bbay yang malah ikut menyebutkan namanya sendiri. Membuat Rega memutar bola matanya malas. Sungguh Rega tak habis pikir ada seorang gadis yang polosnya seperti Baby saat ini. ‘Entah polos aatau bego?’ batin Rega.
Baby melirik Rega yang duduk tegap dengan tatapan mata lurus ke depan. “Om,” panggilnya pelan.
“Hm?” sahut Rega tanpa menoleh sedikit pun.
“Om, kenapa Om terlihat seperti patung, apa Om tidak lelah, kalau lelah sini senderan di bahu Baby.” Ucap Baby.
Mata Rega terbelalak, dan dengan refleks ia menoleh menatap Baby di sampingnya.”Apa?” tanyanya tidak santai.
“Apanya Om? Om ini gak jelas deh? “
“Tadi kamu bilang apa?” tanya Rega lagi.
“Om gak capek begitu, kalau Om capek Om bisa senderan di bahu Baby,” Ujar Baby menjelaskan ulang dengan menepuk bahunya sendiri.”
Rega benar-benar tak habis pikir. ’Astaga bocah ini.’ batin Rega kembali menatap kedepan. “Jangan berkata seperti itu pada pria yang baru kau kenal!” hardik Rega dengan wajah datarnya.
“Hah?” Baby mengerutkan keningnya bingung, tak paham dengan maksud dari ucapan Rega.
“Apa kau sering berkata seperti itu pada lelaki lain, menyuruh mereka bersandar pada bahu kecil mu itu?” tanya Rega menatap Baby dengan tatapan intens.
Deg!
Baby menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berembun, siap akan turun badai. “Tidak, Baby baru ini menawarkan bahu Baby yang mungil ini, tapi jika Om tidak mau, ya sudah tidak perlu marah-marah begitu dong.” Sungut Baby kesal, sembari melipat tangannya di dada dengan mulut maju ke depan. Air matanya pun berhasil lolos.
Baby tidak biasa mendapat suara tinggi seperti itu, dia selalu di perlakukan dengan lembut, hal itu leh membuat hatinya sangar rapuh, tidak bisa mendengar suara bentakkan atau suara tinggi.
Rega menghela nafas. Di tatapanya Baby yang mengahpus air matanya kasar, dia menjadi merasa bersalah pada gadis mungil itu. “Saya tidak marah, saya hanya kaget dan tidak suka jika kau menawarkan pundak mu seperti itu pada lelaki, masih mending kau menawarkannya pada saya bagaiaman jika pada lelaki lain.” Jelas Rega, kali ini dengan suara lebih lembut.
Baby menoleh dengan hidung merahnya. “Ya kan tapi Baby udah bilang, cuma sama Om, Om ini sangat bandel sekali, di bilangin juga dari tadi.” Sungut Baby kesal.
”Oke saya minta maaf.” Ucap Rega.
“Maaf Nona, Tuan, kita sudah sampai.” Suara Gery menghentikan perdebatan kecil antara keduanya. Baby menengok keluar jendela dan benar saja saat ini ia sudah tiba di hadapan rumahnya. Baby kembali menoleh ke arah Rega.
“Terimakasih Om kacamata, dan samapikan juga pada Om Singa ya, terimakasih gitu dari Baby, Baby malas ngomong sama Om singa yang suka marah-marah!” ucapnya setelah itu keluar dari mobil dan belari masuk ke dalam rumah.
Rega menghela nafas. “Astaga bocah itu!” Cicitnya tak habis pikir. kepalanya pun serasa pening saat ini.”Cepat kembali ke rumah Gery! Saya butuh istitahat!” titah Rega sembari memijat pelipisnya yang terasa sakit, akibat menghadapi tingkah Baby.
“Siap Tuan.”
***
“Baby, mana Abang Ken mu?” tanya Anina yang melihat Baby masuk seorang diri dengan wajah di tekuk.
“Abang masih di kantor Ma, Baby pulang duluan.” Sahut gadis itu lesu, lalu duduk di samping sang Mama yang sedang memangku majalah fasion.
“Lalu Baby pulang dengan siapa? Apa Bang Tala?” tanya Anina lagi.
“No! Baby di anterin sama Om Singa dan Om kacamata.” Sahut Baby asal.
Kening Anina berkerut heran, ia melatakkan majalahnya di atas meja, dan menatap dengan tatapan serius sang putri kesayangan.
“Siapa mereka Baby? Kamu gak pulang dengan orang sembarangan ‘kan?” tanya Anina mengintrogasi.
Baby menghembuskan nafas kasar. “Baby pulang sama temannya Bang Ken Ma, siapa ya tadi namanya?” Baby meletakkan jari telunjuknya di dagu berpose seolah sedang berfikir keras. “Ah, namanya Om Rega! Dan asistennya Om tikus, eh bukan makasunya Om Gery.” Sambung Baby.
“Rega? Rega Pradipta Wilson?” tanya Anina memastikan.
“Ah iya itu Mama, kok Mama tau sih?” tanya Baby bingung.
“Mama kenal sama Rega, ya sudah sana kamu mandi, kamu sangat bau, ganti baju.” Suruh Anina mendorong tubuh putrinya.
Baby mencebikan bibirnya menatap Anina yang menutup hidung. “Ih Mama ngeselin, Baby mah gak mandi satu bulan juga tetap wangi ya.”
“Mana ada begitu, udah sa’a mandi, sudah sore juga ini, tuh lihat udah mau jam empat. Paling sebentar lagi Bang Tala kamu itu udah pulang, mau nanti di ledekin sama dia?”
Baby bangkit dengan malas. “iya-iya Baby mandi sekarang.”Ucapnya sembari berjalan gontai menuju kamarnya.
***
“Daddy!”
Baru Rega turun dari mobil, suara kecil itu membuatnya buru-buru berjalan dan menghampiri bocah kecil yang kini sudah menunggunya di teras mansion miliknya.
“Hai Son, are you oke?” tanya Rega sembari menggendong bocah kecil berusia empat tahun itu.
“Im fine Daddy.” Sahut bocah pintar dan tampan itu. Dia adalah Kevin Pradipta Wilson, putra tunggal Rega. Wajah Kevin sangatlah mirip wajah Rega, bedanya hanya di usia, wajah Kevin adalah wajah Rega versi kecil.
Rega menggendong Kevin masuk kedalam rumah, dengan di ikuti seorang wanita yang menjadi babysitter Kevin selama ini.
“Selamat datang Tuan, apa anda ingin sesutau?” tanya seorang wanita peruh baya menghampiri Rega. Dia adalah Nani kepala pelayan di mansion.
“Tolong buatkan kopi hitam saja dan tolong antar ke kamar Kevin.” Ujar rega sembari terus berjalan menuju kamar sang buah hati, yang bersebelahan dengan kamar miliknya.
“Apa yang hari ini kau lakukan Son?” tanya Rega sesampainya di kamar sang Putra.
“Belmain dan belamin Dad.” Jawab Kevin antusias.
“Tidak belajar?” tanya Rega.
“Kevin kan macih kecil Dad.”
Rega terkekeh pelan. “Oke baiklah, bermain saja sepuas mu, kau memang masih kecil.”
“Dad,” Kevin tiba-tuba memeluk tubuh Rega dengan erat.
“Hm? Ada apa ?” tanya Rega balas memeluk.
“Evin pengen punya Mommy, tadi Evin berjalan-jalan cama Kakak Lila, kamu pelgi ke taman, di sana Evin lihat anak-anak belmain sama Mommy nya, Evin juga pengen Daddy.”
Deg!
Hati Ayah mana yang tak sakit dan terluka mendengar ucapan seperti itu dari sang Putra.
“Son bukannya Daddy sudah pernah bilang pada mu, jangan pikirkan Mommy, kau sudah cukup punya Daddy, Daddy menyayangi mu lebih dari apapun.” Ujar Rega.
“Tapi Dad-“
“Huuust! Mau bermain sama Daddy?” potong Rega.
Kevin langsung dengan senang hati megangguk, wajahnya pun berubah ceria seketika. “Mau Daddy!” girangnya.
Rega bernafas lega. ‘Sabar Son, aku tau ini berat untukmu, tapi untuk sekarang biarkan Daddy yang menjaga mu, Daady masih belum berfikir untuk mencari Mommy untuk mu.’ Batin Rega.
***
Makan malam di kediaman Arganda, selalu ricuh sperti biasanya. Siapa lagi pembuat onar di kediaman itu selain Baby Arganda. Ya, gadis yang sebentar lagi berusia delapan belas tahun itu selalu mampu membuat suasana rumah sepi manjadi gaduh dengan ulah dan tingkhanya itu.
“Baby, masukkan dulu Chiko kedalam kandangnya, dan kamu habiskan makanan mu!” tegur sang papa.
“Tapi Chiko ingin bersama Baby, katanya Pa.” Sahut Baby berkilah, ia ingin makan bersama Chiko, jadi banyak saja alasannya itu.
“Hey gadis nakal, sejak kapan Chiko bisa berbicara, kau ini mengada-ada ya?” protes Tala.
“Ih Abang, ‘kan Baby bisa mengerti bahasa Chiko.”
Gelak tawa terdengar, dari mereka semua. “Kamu ini ada-ada saja By, sejak kapan Mama memiliki anak yang bisa berbahasa binatang, sudah! Letakan Chiko, kalau tidak Mama akan mem-“
Baby tiba-tiba bangkit dari duduknya dengan Chiko di gendongannya. “Ah iya iya! Tidak perlu mengancam Baby seperti itu.” Potong Baby kesal dan berlari membawa chiko pergi ke kamarnya, mengurung Chiko di dalam sana, setelah itu barulah ia kembali.
Baby kembali duduk di kursinya dengan wajah lesu. “Sudah Baby kurung di dalam kamar Baby, jangan ancam Baby lagi, nanti Baby laporkan Pak Polisi loh.” Celoteh gadis itu yang lagi-lagi sontak membuat kedua abangnya tertawa.
“Sudah Sayang, ayo makan, kau mau di suap?” tanya Kenan lembut pada sang adik yang sedang kesal.
“No! no! Baby mau makan sendiri saja.” Tolak Baby, entah kenapa malam ini, gadis imut itu hendak makan sendiri, padahal biasanya selalu merengek minta di suapi.
“Wah adik manisku sepertinya sudah mulai dewasa.” Goda Tala mencolek dagu Baby.
“Iya dong Abang, ‘kan pussy Baby sudah berdarah!”
Byurr!
Uhuk uhuk!
Semua mata terbelalak, bahkan Tala menyemburkan air minumnya kaget.
“Baby, apa yang kamu katakan ?” kaget Anina mendengar ucapan absurd sang putri.
“Apa? ‘Kan Baby cuma bilang pussy Baby berdarah dan itu katanya teman Baby tandanya wanita sudah dewasa.” Jelas Baby santai.
Anina memejamkan matanya menahan gejolak emosi dan gemas di dirinya. Sedangkan ketiga pria yangain hanya bisa menghela nafas parah dengan tampang datar.
“Abang kenapa sih? Apa Baby salah ya?” tanya Baby menatap kedua abangnya yang tiba-tiba diam.
“Tidak Sayang, Baby tidak salah, itu benar, dan karena itu Baby tidak boleh berdekatan dengan sembarang pria. Baby paham kan?” Ujar Kenan memberi wejangan pada sang adik.
“Kenapa memangnya? Bukannya karena udah dewasa Baby boleh pacaran? Teman Baby juga pada pacaran semua.” Sahut Baby dengan wajah santainya.
Ketiga pria di meja makan itu sontak melotot mendengarnya.”Tidak boleh!” Jawab ketiganya bersamaan.
Sedangkan Anina terkekeh melihat keposesifan ketiga pria berbeda umur itu. Baby mengerucutkan bibirnya sebal, selalu seperti itu.
“Mama, lihat Abang dan Papa, masa Baby-“
“Huuust! Kamu memang belum dewasa, dan jangan sesakli-kali berpacaran, kamu masih kecil.” Sergah Anina, semakin saja membuat Baby kesal setengah mati.
“Iss Mama sama saja, sudahlah mending Baby makan, kasihan anak-anak Baby.”
Lagi-lagi keempat orang di sana terperangah mendengaranya. Agam bahkan tersedak.
Anina menatap horror Baby yang sedang mengelus perutnya sendiri.
Sasar dirinya sedang di tatap. Baby menghembuskan nafasnya. “Salah lagi? Baby cuma kasihan sama cacing-cacing di perut Baby yang sudah Baby angkat menajdi anak.”
Keempat orang itu pun bernafas lega. “Asatga adek gue gini amat ya Tuhan.” Lirih Tala memegang keningya sendiri.
“Baby makan lah! Setelah itu belajar dan istirahat.” Suruh sang Papa.
“Oke siap Komandan!”
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam.
“Ah ya Ken, tadi Baby di antar pulang sama Rega katanya, apa teman mu itu sudah kembali dari London Nak?” tanya Anina di sela-sela makannya.
“Hah? Rega sudah kembali?” tanya Agam yang juga kaget dan senang mendengarnya.
“Iya Ma, Pa, Rega baru kembali satu minggu yang lalu.” Sahut Kenan.
“Bang Rega yang istrinya ka- awww!” Tala meringis ketika kakinya di injak kuat oleh sang Ibu.
“Maaf Bang.” Sesal Tala menyengir kuda. Anina dan Agam sudah tau apa yang akan di sebut oleh Tala.
“Jadi Mama sama Papa sudah kenal sama Om singa?” celetuk Baby.