Semua orang yang ada di sana nampak tidak berani menatap Samuel. Arin tertegun dengan itu, Samuel melangkah mendekat membuat Arin gelisah. Dia kembali berusaha menutup belahan dadanya yang menonjol.
"Maaf, Tuan Samuel. Anak ini masih baru, jadi tidak dijual," ucap Mami Iren dengan hati-hati.
"Kamu berani melarang saya!" ucap Samuel dengan suara beratnya berkata dingin.
"Tidak Tuan," jawab Mami Iren yang menunduk.
"Tulis harga yang kamu inginkan!" Setelah mengatakan itu Samuel langsung menarik Arin untuk pergi dari tempat itu.
Arin merasakan aura kemarahan dari Samuel hingga keringat dingin membasahi dahinya. Arin mengumpati dirinya karena terjebak dalam situasi yang rumit ini. Samuel yang tinggi membuat langkahnya panjang dan Arin pun harus berlari untuk mengimbangi langkau Samuel.
Setelah membuka mobil Samuel mendorong Arin hingga terlentang di jok belakang. Samuel berdiri di hadapan Arin dengan kaki yang naik ke atas jok. Berusaha mendekati Arin.
"Sebegitunya menolak pernikahan dengan saya, tapi nyatanya justru menjual diri?"
Mendengar itu Arin tersentak dan segera menjawab, "Tidak! Saya sama sekali tidak--"
Suara ponsel Samuel memutuskan perkataan Arin. "Awalnya hutangmu hanya seratus juga sekarang menjadi 2,6 Milyar!"
Arin kembali tersentak kaget ketika mendengar perkataan Samuel. Kepalanya begitu sakit mendengar itu, seratus juta saja sudah membuatnya pusing. Sekarang hutangnya bertambah karena kecerobohannya lagi.
Semua ini berawal juga karena kecerobohannya yang tak sengaja membuat lecet mobil milik Samuel. Mobil Ferrari F8 Spider mobil mewah Samuel dan salah satu mobil kesayangan Samuel.
"Sa-saya akan membayar semuanya," ucap Arin dengan terbatas.
"Dengan apa? Menjual tubuhmu lagi? Kenapa tidak kau jual kepada saya?"
"Jaga bicara Anda Pak!" ucap Arin yang geram karena Samuel terus menyinggung tentang jual diri. "Saya akan menyicilnya dan pasti saya akan melunasinya."
"Cih!" decak Samuel. "Kamu menyicilnya sebulan sepuluh juta pun butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa melunasinya," cibir Samuel membuat Arin terdiam. "Kamu itu miskin jadi turunkan egomu itu."
Cibiran Samuel tak mampu Arin balas karena semua itu adalah fakta. Melihat Arin yang diam maka Samuel pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju ke kediaman Samuel, Arin nampak tidak mengatakan apapun lagi karena kepalanya terasa pusing.
Lima belas menit kemudian mobil itu memasuki area rumah mewah. Arin masih larut dalam lamunannya hingga dia tidak menyadari jika mobil telah berhenti. Samuel membuka pintu mobil dan menariknya untuk keluar.
"Sakit," ucap Arin karena Samuel mencengkramnya cukup kuat.
Samuel tidak mendengarkan keluhan Arin dia menyeret Arin menuju ke lantai dua. Membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai itu, Samuel mendorong tubuh Arin masuk ke dalam kamar dengan nuansa putih.
"Kamu milik saya sekarang!" tegas Samuel sebelum dia meninggalkan Arin.
Samuel menutup pintu dengan keras hingga meninggalkan suara nyaring yang memekik telinga Arin. "Pak Sam saya yakin bisa membayarnya," teriak Arin dari dalam kamar dengan menggedor pintu itu karena telah di kunci oleh Samuel. "Pak! Pak Samuel!" teriak Arin yang tidak ada jawaban apapun.
Arin pun menyerah dia memilih duduk di tepi tempat tidur dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Arin merasa frustasi karena akhirnya dia terjebak di rumah itu.
***
Saat Arin membuka matanya terlihat jam telah menunjukkan pukul enam pagi, kamar yang begitu besar itu terasa dingin. Suara rintik hujan terdengar di telinga Arin, begitu bising karena dia tidak menyukai hujan. Arin masih mengenakan gaun yang semalam karena ia semalam ketiduran.
Suara ketukan membuat Arin menoleh, pintu pun dibuka terlihat pria paruh baya masuk ke dalam kamar. Arin menarik selimut untuk menutup bagian tubuhnya.
"Selamat Pagi Nona, perkenalkan saya Alfred kepala maid di rumah ini," ucap Alfred dengan sopan. "Saya kesini ingin mengantarkan pakaian untuk Nona atas perintah dari Tuan," sambung Alfred yang menyerahkan sebuah paper bag kepada Arin.
Arin pun menerima paper bag itu, "Terimakasih Pak," ucap Arin dengan tersenyum.
"Sama-sama Nona kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," pamit Alfred yang langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Arin sendiri. Pintu kamar itu kembali di kunci, Arin bisa mendengarnya membuat dia menghela nafasnya.
Arin memilih berjalan ke arah kamar mandi, wajahnya tampak tidak memiliki semangat hidup. Dia berhenti menatap dirinya dari pantulan cermin di depan wastafel. Kedua pipinya terlihat masih memerah akibat tamparan semalam.
Sekelebat kejadian semalam terlintas di benak Arin membuat Arin langsung mengusap wajahnya dengan air. Arin menghela nafasnya dengan kasar untuk mengatur perasaan hatinya, dia lalu memilih mandi agar pikirannya lebih fresh.
Selesai mandi Arin mengenakan dress pink yang tadi di berikan oleh Alfred. Dia pun keluar dari kamar mandi menuju balkon, dari sana Arin bisa melihat area rumah Samuel. Tepat di bawah sana ada sebuah kolam renang yang sangat luas.
Suara pintu dibuka membuat Arin menoleh ternyata Alfred yang masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sebuah nampan. "Selamat pagi Nona, saya membawa sarapan untuk Anda," ucap Alfred yang meletakan makanan itu di atas meja.
Arin hanya sekilas menatap makanan itu tanpa berniat menyentuhnya sedikitpun. Meskipun perutnya lapar karena sejak semalam belum makan tetapi gadis itu tidak mau menyentuh makanan dari Samuel. Arin tetap kekeh dalam pendiriannya untuk tidak menikah dengan Samuel.
Arin tetap berada di balkon saat Samuel masuk ke kamar itu. Tatapan mata Samuel sangat tajam saat melihat piring Arin yang belum tersentuh.
"Alfred!" teriak Samuel membuat Arin terkejut.
Alfred berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar Arin. "Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Alfred dengan menunduk kepalanya.
Samuel berjalan ke arah makanan Arin dia lalu melempar piring itu ke lantai hingga makanan berceceran disana. "Makan itu!? " titah Samuel menatap Alfred.
Arin langsung melangkah mendekat, "Apa yang Anda lakukan?" tanya Arin ketika Alfred berlutut hendak melakukan perintah Samuel.
"Anda gila ya!" seru Arin menatap berani Samuel.
"Kamu yang membuat dia berakhir seperti ini," ucap Samuel dengan suara berat.
"Apa maksudnya?"
"Kamu tidak menyentuh makananmu jadi dia harus menghabiskannya."
"Dengan cara seperti ini? Apa Anda tidak bisa bersikap manusiawi?"
Arin terlihat begitu marah hingga dia berani menatap tajam ke arah Samuel. Arin berdiri berhadapan dengan Samuel tanpa rasa takut. Dia tidak terima melihat Alfred diperlakukan seperti itu oleh Samuel.
"Berani kamu dengan saya!" murka Samuel.
"Kenapa harus takut dengan iblis seperti Anda!" seru Arin membuat Alfred yang ada disana pun terkejut. Dia tidak menyangka ada yang berani melawan Tuannya itu. Tatapan Arin tak kalah tajam dari Samuel.
"Kita akan menikah hari ini juga!" tegas Samuel yang melangkah menuju pintu.
"Saya bilang saya bisa membayarnya," balas Arin membuat Samuel kembali berbalik.
"Dengan apa? Menjual diri?"
Perkataan Samuel sungguh menggoreskan luka di hati Arin. Samuel berjalan mendekat ke arah Arin, "Kalau iya jual tubuhmu itu ke saya, kamu mau berapa? Satu milyar? Dua miliar? Atau tiga milyar? Saya bisa membayarnya," ujar Samuel.
Tangan kanan Arin melayang untuk memberikan tamparan di pipi Samuel. Namun Samuel segera menahanya, tatapan keduanya begitu tajam. "Kenapa marah? Bukankah itu yang kamu lakukan semalam?"
Cengkraman tangan Samuel di pergelangan tangan Arin semakin kencang membuat Arin meringis. "Apa saya semurah itu di mata Anda?" tanya Arin dengan kedua mata yang telah berair.
"Kamu sendiri yang membuat dirimu murah, bukan?" ujar Samuel yang melepaskan cengkraman tangannya.
"Aku lebih baik mati daripada harus menikah dengan iblis sepertimu!" seru Arin.
Samuel tersulut emosi dia pun langsung mencekik Arin dan mendorong Arin hingga ke balkon. "Kau bilang apa? Mati? Jika itu yang kamu mau aku turuti ucapanmu itu," ujar Samuel yang terus mendorong tubuh Arin.
Arin terlihat panik, cengkraman Samuel pun mencekik lehernya. Arin memukul tangan Samuel agar melepaskannya, tubuhnya sudah bergetar karena dia hampir jatuh. Air mata Arin telah mengalir dia benar-benar ketakutan dengan apa yang Samuel lakukan.
Melihat itu Samuel pun melepaskan Arin membuat Arin tersungkur di lantai. Arin menangis dia sangat tertekan dengan Samuel.
"Apa kamu masih berani melawanku?" tanya Samuel yang dijawab gelengan kepala Oleh Arin.
Samuel berbalik untuk pergi dari kamar itu, "Bersihkan itu!" titah Samuel kepada Alfred.
"Baik Tuan," jawab Alfred segera.
Alfred pun bangkit menghampiri Arin, "Nona apa Anda baik-baik saja?" tanya Alfred yang terlihat iba dengan Arin.
Alfred membantu Arin untuk bangkit dia membawa Arin untuk duduk di tepi tempat tidur. "Saya akan membawakan sarapan yang baru untuk Anda, sebaiknya Anda memakannya agar Tuan tidak lagi marah," tutur Alfred.
Arin hanya menganggukkan kepalanya, Alfred menyuruh maid membersihkan kamar Arin sedangkan dia kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan Arin. Arin duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang masih bergetar.
Lehernya masih terasa tercekik membuat Arin mengusapnya. "Nona minum dulu," ucap Alfred yang kembali dengan nampan yang berisi makanan. Dia menyodorkan gelas kepada Arin, Arin pun menerima gelas itu tetapi tangannya masih bergetar.
Arin lalu meminum air itu agar dirinya lebih tenang, "Kalau begitu saya permisi dahulu Nona," ucap Alfred yang dijawab anggukan kepala oleh Arin. "Sebaiknya Anda segera makan agar tidak memicu amarah Tuan lagi," sambung Alfred sebelum dia pergi dari kamar itu.
Setelah cukup tenang Arin pun menuju ke sofa dia duduk disana untuk sarapan. Arin mengatur nafasnya agar lebih tenang dia lalu mulai menyendok makanan itu. Arin nampak kesusahan untuk menekan tetapi dia paksakan karena takut berhadapan dengan Samuel lagi.
Setelah makan Arin tampak lebih tenang dia tetap duduk di sofa karena tak tahu apa yang harus dia lakukan. Lagipula Samuel mengunci pintu kamarnya membuat Arin tidak bisa kemana pun.
Ceklek!
Suara pintu dibuka membuat Arin menoleh ke arah pintu, terlihat Samuel yang datang dan Arin pun langsung berdiri. Dia terlihat waspada dengan Samuel dan itu terlihat jelas di mata Samuel.
"Tanda tangani," ucap Samuel melempar sebuah kertas ke arah Arin.
"Apa ini?" tanya Arin tidak mengerti.
"Surat perjanjian pernikahan," jawab Samuel yang duduk di sofa dengan santainya.
Arin masih berdiri membaca surat itu, dia menaikan sebelah alisnya karena di salam aurat itu hanya Samuel yang diuntungkan.
"Tapi ini... "
"Apa ada masalah dengan isinya? Pernikahan ini juga sebagai cara kamu melunasi hutang bukan?"
Arin menghela nafasnya tidak mampu melawan Samuel.
Surat Perjanjian Pernikahan
1. Pihak perempuan harus mengikuti semua perkataan pihak laki-laki.
2. Pihak perempuan dilarang berhubungan dengan pria lain.
3. Hubungan hanya bisa diputus oleh pihak laki-laki.
Jika perjanjian ini dilanggar oleh pihak perempuan maka pihak laki-laki berhak memberikan hukuman.
"Tapi sampai kapan pernikahan ini?" tanya Arin karena disana tidak tertera kapan pernikahan mereka berakhir.
"Apa kamu buta?" cibir Samuel. "Baca point nomor tiga."
"Hubungan hanya bisa diputus pihak laki-laki."
"Bukankah itu jelas," ucap Samuel.
"Tapi ini sangat tidak adil."
"Kamu berharap apa?"
Pertanyaan itu membuat Arin terdiam dia pun akhirnya menandatangani surat perjanjian itu. Arin kemudian menyerahkan kertas itu ke tangan Samuel dan Samuel ikut menandatanganinya.
Samuel segera bangkit dari duduknya dia pergi dari kamar Arin tanpa mengatakan apapun lagi. Arin merasa lega setelah mendengar pintu kamar yang di tutup. Dia pun merebahkan dirinya di sofa, Arin terlihat tak bertenaga.
Pada akhirnya dia tidak bisa melawan Samuel pria itu begitu membuatnya takut. Terlihat jika Samuel akan melakukan cara apapun agar keinginannya terwujud. Arin hanya bisa meratapi nasibnya yang kurang beruntung itu.
***
Pukul sepuluh pagi Samuel masuk ke kamar Arin untuk memberikan salinan surat perjanjian pernikahan mereka. Tetapi terlihat Arin yang tengah tidur di atas sofa. Samuel pun meletakan kertas itu di atas nakas.
Dia menatap Arin yang terlelap lalu berjalan ke arah Arin. Dia menggendong tubuh Arin membawanya ke tempat tidur. Dengan hati-hati Samuel merebahkan tubuhnya Arin disana. Lalu dia menutup tubuh Arin dengan selimut.
Samuel kembali keluar dari kamar Arin dia menutup pintu dengan perlahan agar Arin tidak terganggu. Samuel pun kembali mengunci pintu itu.
"Tuan, mobilnya sudah siap," ucap seorang pria yang tak lain adalah asisten pribadi Samuel.
Samuel segera mengenakan jas yang Hendrik berikan dia kemudian berjalan keluar untuk segera berangkat ke kantor. Hendrik membukakan pintu mobil untuk Samuel dia lalu menyetir mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Kosongkan jadwal saya besok siang karena saya harus ke kampus," titah Samuel.
"Baik Tuan," jawab Hendrik.