Dalam ruangan sel penjara tempat Henry disekap hanya ada empat orang, yaitu Rossie, Evan, Henry dan Joel. Nama terakhir adalah asisten kepercayaan Evan.
Malam semakin larut dan Rossie berada diantara dua pilihan yaitu membuatnya merasa dilema.
Evan dan Rossie kini masih dalam posisi berhadap-hadapan, udara terasa tipis bagi Rossie saat itu, bibirnya terbuka lebar tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Mendengar perkataan Ray, tentu saja ucapan itu lantas membuat Rossie kaget, dia mencondongkan badannya kebelakang. Lalu kedua bola mata hazelnya yang indah terbuka lebar, seolah masih berada dalam ketidak sadaran.
" A-pa maksud tuan? Apakah tuan Evan ini sedang bercanda..?!"cetus Rossie mengerutkan kening.
" Pernikahan... anak? semudah dan semudah itu anda mengucapkan nya, padahal bagiku itu adalah hal yang sangat bermakna."
" AKU TIDAK SEDANG BERCANDA!"sentak Evan murka.
" Aku tidak memaksa...tapi kamu sendiri yang harus memilihnya!"tandas Evan dingin.
"Wel.. Jadi, aku harus menikah dengan anda dan juga harus mau mengandung benih anakmu?"
Rossie mengulang pertanyaan yang sama diajukan padanya tadi.
Evan mengeratkan giginya dengan geram.
" Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi!"
" Cepat katakan jawabanmu , aku tak punya waktu banyak, atau kau akan membiarkan ayahmu membusuk di penjara dan perlahan tiada yang akan bisa membantu!"sentak Evan tegas dan angkuh.
" Kalau kamu cukup pintar, seharusnya akan memilih menikah dan patuh padaku saja, itu jauh lebih baik untukmu," kekeh Evan menyeringai tipis.
Keduanya lantas terdiam, Rossie berusaha menata hati yang sedang bergejolak ingin rasanya dia menampar wajah tampan namun arogan itu, tapi akal sehatnya masih berfungsi dengan baik.
Dia tidak bisa egois untuk saat ini keselamatan sang ayah adalah diatas segalanya, salah mengambil keputusan maka nyawa ayahanda tercinta akan menjadi taruhan.
Setelah nafasnya teratur, Rossie menatap lurus pada manik mata kelabu legam milik Evan.
" Baiklah aku bersedia memenuhi syarat darimu tuan Evander, tapi aku harus memastikan dulu ayahku dirawat dengan baik setelah kau bebaskan beliau dari penjara."
Rossie berkata ketus seraya mengangkat kepalanya, satu helaan nafas kasar keluar dari bibir merah.
Rossie tidak mau merasa menjadi pihak yang kalah disini, dia masih punya harga diri walaupun setelah menikah nanti, apa yang disebut harga diri itu akan segera hilang, dikoyak oleh sosok dominan Evander.
" Cihh ..apa kau meragukan ucapanku tadi, tenang saja aku akan menepati janjiku."
" Kau berlagak sekali nona, tapi tak apa setelah kita menikah nanti, kau akan menyesal karena selalu melawanku."
Evan mendengus kesal, tapi semakin banyak Rossie menentangnya maka sebesar itu pula hasrat birahinya timbul, desiran halus merayap di hatinya.
Pria arogan itu ingin segera menaklukan Rossie, suatu obsesi yang ambisius serta berbahaya.
Evan tidak biasa dilawan apalagi didebat , terlebih oleh seorang yang bukan siapa-siapa seperti Rossie.
Evan menoleh pada Joel sang asisten, lalu memberi kode untuk mendekatinya.
" Berikan padanya surat perjanjian yang kau bawa tadi, suruh dia cepat tanda tangani!"
Joel cepat merespon ucapan bosnya, lalu memberikan amplop coklat besar pada Rossie.
Saat bunga hendak membuka amplop itu, Evan bicara datar.
" Tunggu sebentar, aku ada satu pertanyaan untukmu, untuk memastikan."
Jemari Rossie yang tadinya hendak membuka amplop terhenti.
" Ada apa lagi?'
" Apa kau masih perawan?"
Evan menampakkan wajah tenang dan biasa saja ketika mengajukan pertanyaan itu. Tapi Rossie merasa sangat direndahkan, ingin rasanya dia mencekik pria itu dan membatalkan niatnya.
Namun, Rossie menahan diri tentu saja gadis itu harus lebih memikirkan kondisi ayahnya yang sekarang mendekam di sel penjara.
Terlebih lagi kondisi pria paruh baya itu yang sering sakit-sakitan.
" Apa maksud pertanyaan anda?!"
" Lantas kalau kubilang aku sudah tidak virgin lagi , apa ada masalah untukmu?"
Rossie bicara dengan mengepalkan kedua tangannya, wajahnya merah menahan emosi.
" Tidak.. aku tak ada masalah dengan itu, yang ku butuhkan hanya rahim yang sehat untuk dapat menampung benihku yang subur ini," balas Evan dingin .
" Nanti pun kamu harus melakukan serangkaian pemeriksaan, aku ingin anakku tumbuh didalam rahim yang baik."
" Kamu mesti hamil anakku!"
Sekali lagi ucapan Evan sangat menusuk, membuat hati Rossie terluka tapi tak berdarah.
Dia sekarang ini merasa tak ubahnya seperti wanita-wanita j*l*ng yang ada di jalanan sedang menjajakan diri.
" Aku masih virgin, anda tenang saja, aku bukanlah perempuan yang terlibat dengan banyak lelaki!'"
Rossie menyahut sinis, kemudian dia mengeluarkan sehelai kertas dari dalam amplop dan mulai membaca isinya.
Setelah selesai membaca keseluruhan teks, maka Rossie mulai menandatangani perjanjian kontrak pernikahan diantara Evan dan dirinya.
Mendengar penuturan Rossie yang menjabarkan kondisi keperawanannya membuat Evan menyeringai.
"Hmm... baiklah gadis nakal, ucapanmu itu akan ku buktikan nanti... tak lama lagi," sahut Evan sambil tersenyum tipis.
***
Flashback dua minggu yang lalu
Henry hari ini sudah siap pergi bekerja sebagai pembersih kandang kuda dikediaman Evan tapi mendadak kepalanya pening dan jantungnya berdebar.
Pria paruh baya itu terduduk dan bersandar di kursi kayu yang kusam, sembari memegangi kepalanya.
Rossie yang sedang berjalan keluar dari kamar, hendak pergi bekerja serabutan di toko kue menghentikan langkahnya.
Rossie gegas menghampiri ayahnya dengan raut wajah cemas.
" Ayah..Yah... kenapa? Ada yang terasa sakit?"
Rossie bertanya dengan penuh rasa khawatir.
" Hmmm..iya Rossie, badan ayah rasanya tidak nyaman dan kepala pusing."
" Kalau begitu lebih jangan pergi kerja dulu ya, istirahat saja di rumah," tukas Rossie khawatir.
" Tapi..minggu lalu ayah sudah dua kali tidak masuk kerja, tidak enak rasanya kalau ijin terus," tolak Henry sambil berusaha berdiri.
Lalu kemudian tubuh ringkih nya mendadak limbung dan pria itu terduduk kembali dengan lemah.
" Ayah.. jangan memaksakan diri, mari istirahat saja dikamar dan tiduran, tapi sebelumnya akan aku buatkan bubur serta menyiapkan obat penghilang sakit kepala."
" Ta-tapi Ros.. sekarang ayah sedang banyak pekerjaan di kediaman tuan Evan," ujar Henry lirih.
" Begini Yah, biar aku saja yang gantikan tugas ayah disana selama ayah sakit, jadi ayah tidak perlu banyak pikiran lagi ya."
Henry memberikan anggukan kecil dengan wajah letih, pria paruh baya itu akhirnya setuju dengan usul anak gadisnya.
Rossie sekarang telah sampai di kediaman Evander langkah kaki diayun..yang ditujunya adalah bidang lahan luas di belakang mansion dimana terletak peternakan kuda.
Setelah mengenalkan diri sebagai putrinya pak Henry maka Rossie diterima masuk dan dipersilakan mulai bekerja.
" Apa kau yakin mampu melakukan tugasmu nak?" tanya salah seorang pekerja karena melihat Rossie adalah seorang perempuan.
" Saya akan berusaha sebaik-baiknya," jawab Rossie singkat.
Mulailah Rossie memasuki kandang kuda dengan membawa peralatan kebersihan. Berdiri tegak, lalu meraup serta menguncir tinggi rambut coklat nya hingga leher jenjang yang putih mulus terekspos bebas.
Rossie mengenakan celana jeans panjang ketat dan kaos pendek dengan gaya casual membuatnya tampil sangat cantik dan juga tampak begitu muda dengan wajah segar bercahaya.
Dengan cekatan dan amat terampil kedua lengannya lincah mulai menyikat, menggosok dan menyapukan kotoran yang ada di dinding, lantai dan tempat lainnya.
Tampak peluh bercucuran di wajah elok nan jelita, menandakan betapa giatnya gadis itu bekerja.
Saat posisi matahari sudah naik dan berada diatas kepala, maka semua orang beristirahat untuk makan siang termasuk Rossie.
Sekitar satu jam rehat dan mengembalikan tenaganya Rossie bangkit dari duduk lalu melakukan peregangan otot siap untuk kembali beraktivitas.
" Rossie.."
Seorang wanita paruh baya tergopoh menghampiri.
" Ada apa Bu Lidya?" Rossie menoleh ke asal suara.
" Maaf Rossie boleh ibu minta tolong sebentar, ini antarkan minuman kopi untuk tuan Ray, seharusnya Eva yang memberikan tapi kakinya tiba-tiba terkilir sehingga dia tak bisa berjalan dengan baik."
Wanita itu menjelaskan panjang lebar berharap Bunga berkenan.
Rossie menatap lekat pada kepala pelayan yang tadi sempat berkenalan saat istirahat.
" Baiklah Bu ,biar aku saja yang membawakan untuknya, tolong tunjukkan, harus kemana saya menemuinya?" tutur Rossie lembut.
" Mari sini nak, nah itu tuan Evan sedang duduk sambil membaca di teras depan rumah kayu disana."
Mengangguk, Rossie sudah paham apa yang harus dikerjakannya. Maka gadis cantik itu bergegas membawa nampan berisi secangkir kopi untuk Evan.
Evan memang tidak ada kegiatan hari ini, dia memilih bersantai dan membaca.
Rossie saat ini sudah berada di depan meja Evan, pria itu yang masih duduk membaca tidak menyadari kehadiran Rossie.
" Maaf tuan.. ini kopi anda, kepala pelayan meminta saya mengantarkan untuk anda"
Evan mendongakkan wajahnya dan mengangkat satu alisnya tipis.
" Apa?!"
" Kamu tidak tahu siapa aku ...dan siapa namaku?!"
Evan bertanya dengan nada dingin, dia gusar karena ada seorang pelayan yang sampai tidak mengetahui namanya.
Suasana siang itu cukup cerah, mentari bersinar hangat, angin sepoi-sepoi melambai ke setiap sudut ruangan.
Tuan muda Evander saat itu dia tak memiliki acara serta jadwal kegiatan apapun. Dia sengaja ingin rileks, setelah sempet bersitegang dengan Shania tadi pagi, seperti biasa yang dibahasnya lagi-lagi soal keturunan.
Evan memutuskan untuk duduk santai sambil membaca di halaman rumahnya. Tapi pria itu membutuhkan secangkir kopi untuk menyegarkan pikirannya yang terasa suntuk.
Tatkala melihat seorang gadis muda yang memberikan kopi, Evan tercekat melihat kecantikan pelayan itu. Tapi Evan menjadi geram karena merasa diabaikan saat Rossie tak tahu namanya.
Rossie terhenyak sesaat, dia sadar telah melakukan kesalahan, karena tidak menyebutkan nama majikannya.
" Kamu tidak tahu siapa namaku?!"
Sorot mata kelabu Evan yang gelap seakan menusuk jantung Rossie.
"Maafkan saya."
"Tuan.. Evander ini saya antarkan minuman kopi anda."
"Saya memang baru bekerja disini, hari ini, maaf telah kurang sopan."
"Hmm..saya disini, untuk menggantikan ayahku yang sakit, maaf kalau saya ada salah," tegas Rossie dengan berani menjawab sambil tetap berdiri tegak.
Kedua lengan masih memegangi nampan berisi secangkir kopi yang akan diberikan pada Evan.
Evan tak segera menjawab, dia pandangi lekat paras cantik didepannya.
Walaupun sang gadis hanya berpakaian seadanya tak seperti wanita lain yang dikenal oleh Evan dengan dandanan mencolok serta glamor ditambah pakaian seksinya.
Rossie sangat berbanding terbalik dibandingkan mereka semua, tapi paras cantiknya yang elegan dan bersahaja ternyata mampu merebut perhatian seorang Evan.
" Letakkan saja disitu, dan cepat pergi dari sini!"
" Kamu hanya menggangguku saja!"
Rossie tercekat sesaat mendengar nada perintah yang begitu tegas dan dingin, maka tanpa menunggu disuruh dua kali gadis itu menyimpannya diatas meja walau dengan tangannya yang agak bergetar.
Sementara itu Evan kembali membaca bukunya dalam diam, tapi dari sudut matanya dia perhatikan dengan seksama kecantikan alami Rossie.
Keheningan dan jarak yang begitu lebar sesaat tercipta diantara keduanya.
Tapi kemudian, sungguh tak terduga oleh Rossie tepat saat dia akan melangkah pergi kakinya terantuk kaki meja hingga membuat tumitnya terkilir, alhasil tubuhnya menjadi condong kedepan berhadapan dengan Evan hingga menyenggol cangkir kopi yang masih panas.
'Dukk.. Brukk
"Aduh..maaf tuan!"
" Shit... apa-apaan kamu ini?!"
Evan terperanjat sewaktu air kopi itu membasahi celananya ditambah posisi keduanya yang begitu dekat nyaris bersentuhan.
" Sialan..!"
" Apa kamu sengaja melakukan hal ini hah..?!"
Evan melirik celananya yang basah juga terasa panas.
Rossie terbelalak, dia merasa ceroboh mungkin dikarenakan sedikit kelelahan, karena dia belum biasa bekerja sebagai pengganti ayahnya.
Rossie terperangah, pikirannya seketika kosong karena merasa bersalah telah melakukan kekeliruan yang fatal, pada majikan ayahnya yang kaya raya.
" Ma-maaf.. maafkan saya tuan Evan saya tidak sengaja melakukannya, tadi kaki saya terantuk meja," tukas Rossie lantas dengan cepat dia menarik badannya untuk menjauh dari hadapan Evan.
" Saya akan secepatnya membersihkan serta mengambil pakaian ganti yang baru," sambung Rossie.
Gadis itu tergagap disertai debaran jantung yang dipenuhi kecemasan, kemudian hendak berjalan menuju ruang pelayan.
" Tunggu dulu!"
" Tidak perlu kemana-mana."
Evan berkata sembari memandang gamang pada Rossie, lalu pria itu melirik pada celananya yang basah kena tumpahan air kopi. Sungguh dia merasa sangat tidak nyaman.
" Harga bajuku sangat mahal , apa kamu tahu itu?!" Sentak Evan geram.
" Kamu telah merusak suasana hatiku di hari yang cerah ini!"
Rossie terperanjat, dia tak menyangka jika majikan ayahnya begitu... arogan.
" Tapi tuan Evan ,hmm ..aku kan sudah bilang tidak sengaja dan juga meminta maaf, kenapa tuan harus semarah itu?"
Evan sontak mendelik sewot mendengar ucapan Rossie.
" Apa kamu bilang?!"
" Memangnya bisa semudah itu minta maaf?!"hardik Evan geram.
" Kalau begitu akan ku belikan lagi pakaian ganti yang baru untuk anda," jawab Rossie nekat memberanikan diri mendebat Evan.
" Apa? Membelikan baju untukku, kamu sudah gila ya, memangnya dirimu mampu?!Evan tertawa sinis dan dingin.
" Kamu pikir dirimu siapa, hingga berani berkata seperti itu padaku..heh siapa namamu?!" Evan menyipitkan matanya, dia heran baru kali ini ada pelayan yang berani beradu mulut dengannya, biasanya selama ini tak ada satupun diantara mereka yang melakukan kesalahan, seperti berani menumpahkan air kopi ke celananya apalagi membantahnya.
" Aku.. hmm..namaku Rossie, sebetulnya aku menggantikan pekerjaan ayahku karena dia sedang sakit."
Evan menaikkan sebelah alisnya, paras tampan yang memiliki rahang tegas itu tampak sedang berpikir.
" Begitukah, siapa nama ayahmu?"
" Henry,..beliau biasa mengurusi kebersihan kandang kuda."
Evan kembali menyunggingkan seringai dinginnya.
" Sudah sana kembalilah bekerja, apa lagi yang kau tunggu!"
Evan memerintahkan Rossie pergi dari situ dengan isyarat menggerakkan jemarinya seakan mengusir gadis cantik itu.
" Baik tuan, sekali lagi saya minta maaf," ujar Rossie mengangguk sopan dan membawa langkah kaki menuju tempatnya bekerja tadi.
Sembari berjalan Rossie menggerutu dalam hatinya.
" Ternyata majikan ayah adalah pria yang angkuh serta bertabiat buruk, mentang-mentang orang kaya bisa seenak jidatnya pada rakyat jelata dan merendahkan kami."
" Aku tidak akan pernah mau lagi bertemu dengannya," gumam Rossie sembari memajukan bibirnya dan menekuk muka, ekspresinya mukanya sangat tidak enak dilihat.
Sementara Evan dengan wajah muram lantas berdiri dan berjalan menuju kamarnya pria itu hendak berniat mengganti celana yang basah karena ternoda minuman kopi, tepat di pintu masuk dia berpapasan dengan Shania.
" Ada apa Evan? rasanya tadi aku mendengar kau bicara lantang pada seseorang?" Shania mengerutkan keningnya heran.
" Bukan masalah besar, hanya celanaku saja ketumpahan kopi oleh pelayan baru," sahut Evan cuek sambil terus berjalan.
Shania melirik pada celana suaminya yang memang ada bekas noda basah.
" Kok bisa ada maid yang teledor seperti itu, tentunya kau sudah menghukum dia bukan?"
Shania mengekori sang suami ke kamar karena penasaran.
" Tidak juga...aku sudah membiarkan gadis itu kembali bekerja," jawab Eva singkat.
Shania sontak tercengang, sembari mengamati Evan melepas seluruh pakaiannya, dia tatap tubuh tegap berotot yang proporsional itu.
" Tak biasanya kau mengampuni kesalahan pelayan, biasanya minimal kamu langsung memecatnya dan yang paling berat akan membuangnya ke benua Antartika," timpal Shania terkekeh dingin.
Sebenarnya Evan itu adalah orang yang perfeksionis dan juga kejam, dia tak mentolerir kesalahan sedikitpun dan tak segan mengasingkan seseorang yang berani menyinggungnya ke daerah terpencil hingga orang itu akan merasa frustasi.
" Itu bukan urusanmu Shania, lebih baik sekarang kau pikirkan cara memberiku anak dari rahimmu atau memang Kamu lebih suka berpisah denganku," sentak Evan sembari melayangkan tatapan tajam pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
" Ceraikan saja aku sekarang, kamu tahu kan... pernikahan kita hanya terpaksa!"cetus Shania sinis.