MANCHESTER, INGGRIS
"Vanylla, apa kamu sudah siap?" ujar Katrine yang mengitip dari balik pintu kamar Vanylla sambil menyengir manis. Vanylla tersenyum lebar lalu mengangguk. Ia keluar dari kamar dengan menenteng sebuah tas dan kamera. Vanylla berjalan riang keluar rumah bersama Katy.
Vany dan Katy berencana akan pergi ke sebuah galeri lukisan yang baru dibuka di dekat kampus mereka di Manchester. Vanylla sangat menyukai lukisan dan ia memang punya bakat menggambar. Namun ia belum memiliki kepercayaan diri untuk menjual hasil lukisannya atau memamerkan nya pada orang lain selain hanya Katrine dan keluarganya.
Keduanya berjalan bersama masuk ke dalam galeri dan Vanylla langsung mengambil beberapa foto sambil terus mengagumi satu persatu lukisan yang dipamerkan. Wajahnya benar-benar bersinar karena bahagia. Vanylla begitu menyukai lukisan dan ingin menjadi salah satu pelukis terkenal nantinya.
"Mereka benar benar indah!" puji Vanylla bergumam berkali kali pada Katy panggilan kecil bagi Katrine. Dan Katy hanya tersenyum melihat betapa bahagianya Vanylla menikmati lukisan-lukisan itu.
"Selesai dari sini, aku ingin mengenalkan kamu pada seseorang," bisik Katy sambil menarik Vanylla kesisinya. Vanylla jadi mengernyitkan kening heran.
"Oh tidak Katy, jangan berpikir untuk menjodohkanku lagi!" jawab Vanylla menjatuhkan bahunya dengan wajah cemberut dan nada kecewa.
"Memangnya kenapa, dia laki laki yang tampan, Vany!" Katy langsung memberikan jempol di depan wajah Vanylla mempromosikan pria yang tak dikenal Vanylla sama sekali.
"Aku bilang aku tidak mau!" sunggut Vanylla dan melenggos pergi. Katy mendengus dengan napas kesal setengah mati. Umur Vanylla sudah 20 tahun tapi belum pernah berkencan dan pacaran. Ia bahkan belum pernah berciuman.
‘Oh Tuhan, wanita macam apa yang belum pernah berciuman di umur 20 tahun di abad ini, aku rasa hanya Vanylla orangnya!’- gerutu batin Katy.
"Ayolah, aku sudah tiga kali gonta-ganti pacar tahun ini, aku ingin kamu pacaran juga!" tambah Katy masih bersikeras dan terus mengikuti Vanylla. Tapi temannya itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu mau pacaran apa aku harus pacaran juga, no!" sanggah Vanylla masih asik mengambil foto dan mencoba tak peduli pada rengekan Katy.
"Kita kan bisa berkencan ganda?" tawar Katy dengan pandangan menggoda. Vanylla hanya menoleh sedikit dan mengernyitkan keningnya dengan tatapan wajah aneh.
"Ayolah Vany, coba saja dulu. Diia temannya Peter, kamu pasti akan suka. Percayalah padaku!" Katy masih terus mengekori Vanylla dan sibuk merayunya agar mau berkencan buta. Wajahnya terus menyengir masih terus menggoda.
Vanylla paling kesal jika sudah begini, Katy suka sekali memaksakan keinginannya. Dia akan terus merayu sambil membawa bawa persahabatan mereka. Katy adalah teman Vanylla dari kecil, mereka tumbuh bersama lalu sekolah bersama sampai bahkan sekarang kuliah bersama.
Vanylla anak yang cerdas ia hampir menyelesaikan studi arsiteknya di Manchester Inggris diumurnya yang baru 20 tahun. Sedangkan Katy yang dua tahun lebih tua darinya memilih jurusan bisnis untuk ikut terlibat dalam bisnis Ayahnya. Tinggal satu bulan lagi maka Vanylla dan Katrine akan wisuda dan pulang kembali ke Los Angeles.
Vanylla yang terus menerus dirayu dan didesak akhirnya mengangguk pasrah saat ditarik teman baiknya itu ke sebuah cafe yang dapat dicapai setelah naik subway. Cafe itu dekat dengan apartemen tempat mereka tinggal.
Sesampainya mereka di cafe tersebut, mata Katy langsung mencari-cari kekasihnya Peter Shawn yang ternyata sudah duduk di ujung sudut kafe. Katy melambaikan tangannya sambil kemudian menarik Vanylla yang berjalan malas. Terlihat Peter duduk bersama seorang pria tampan yang sedang mengaduk minumannya.
Pria itu berambut cepak, berkaos polo berpatern dengan celana pendek dan memakai sweater yang diikat dibahunya. Ia memakai kaca mata hitam yang diletakkan di atas kepalanya. Peter dan temannya itu langsun tersenyum pada Katy dan Vanylla yang datang menghampiri.
Vanylla yang cantik dan polos memakai kaos bentuk dress dengan rok di atas lutut dan kemeja denim biru. Rambutnya coklat bergelombang dan ia memakai boot kesukaannya. Manis, imut, cantik dan tidak bisa menutupi kepolosannya.
Pria di sebelah Peter langsung memandang Vanylla tanpa berkedip. Dan Vanylla hanya tersenyum tipis memamerkan lesung pipinya yang cantik.
"Hai Vany, perkenalkan ini temanku namanya Greg Hartman." Greg langsung memberikan tangannya pada Vanylla dan ia pun menyambut jabat tangan Greg sambil tersenyum malu.
"Hai namaku Greg Hartman, panggil saja aku, Greg," ujar Greg memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar
"Vanylla Wright!" jawab Vanylla pelan dan singkat.
"Wow!" gumam Greg pelan dan nyaris tak terdengar. Vanylla memang tidak mendengar gumaman itu karena wajahnya berpaling dan mendengar Peter bicara. Greg tidak bisa menutupi kekagumannya pada Vanylla, gadis itu benar benar cantik. Vanylla lalu disuruh duduk oleh Katy di sebelah Greg karena tempat di sebelah Peter pasti di duduki oleh Katy.
"Kalian baru darimana?" tanya Katy pada Peter berbasa-basi sambil meminum kopinya. Vanylla ikut memesan coklat panas dari pada kopi, ia tidak suka kafein.
"Oh aku baru menemani Greg berlatih golf. Dia ada kompetisi minggu depan." Greg tersenyum dan meminum kopinya. Vanylla hanya diam saja dan mendengarkan mereka bicara.
"Vanylla, Greg adalah salah satu atlet golf di kampusmu!" Greg lalu melirik pada Vanylla yang ikut melirik tapi raut wajahnya biasa saja.
"Jadi kamu berkuliah di University of Manchester?" tanya Greg sambil melihat mata Vanylla dan ia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Oh ya, ambil fakultas apa, kenapa aku tidak pernah melihatmu?" sambungnya lagi.
"Arsitektur dan seni." Mata Greg membesar lalu tersenyum.
"Uhmm, aku mengambil bisnis dan management tahun terakhir. Seminggu lagi aku akan wisuda," tambahnya masih tersenyum. Vanylla hanya membalas senyum dan menunduk. Mata gadis ini benar benar besar dan indah- pikir Greg
"Vanylla juga tahun terakhir, ia akan wisuda satu bulan lagi bersamaku" ujar Katy tiba tiba sambil menyedok cheese cake yang ia pesan. Greg mengangguk sambil mengernyitkan keningnya.
"Memangnya kalau aku boleh tau, berapa umurmu Vanylla?" tanya Greg.
"20 tahun!" Mata Greg membesar seklai lagi lalu terus mengangguk dan tersenyum.
"Berarti kamu gadis yang cerdas, kamu bisa lulus dengan umur semuda itu. aku saja baru berusia 25 tahun dan menyelesaikan kuliahku!" puji Greg tersenyum manis pada Vanylla.
"Greg juga cerdas Vany. Dia bisa menyelesaikan kuliah dan mendapat beasiswa dengan menjadi atlet golf profesional. Aku rasa ... sebentar lagi dia juga akan menggantikan Tiger Woods, hahaha!" celetuk Peter sambil terkekeh kecil. Vanylla hanya tersenyum tipis menanggapi promosi Peter pada temannya.
Sisa sore itu mereka habiskan dengan mengobrol, tentu saja yang banyak bicara adalah Katy dan Peter yang sesekali berciuman lalu Greg menimpali beberapa kali dan Vanylla yanga hanya menjawab jika ditanya. Sampai ponsel Vanylla berdering, Kakaknya menelepon
"Ya Jared!" jawab Vanylla sambil tersenyum. Greg yang mendengar sedikit suara Vanylla mengernyitkan keningnya. Siapa itu Jared?
Seperti hari-hari sebelumnya, Jared Wright akan menghubungi Vanylla untuk menanyakan kabar adik kesayangannya itu. Vanylla sedang berkuliah di Manchester dan ia seperti seorang Kakak yang baik maka terus akan menghubungi adiknya itu untuk sekedar mencari tau beritanya.
“Hai, Jared!” terdengar suara Vanylla yang lembut dari seberang telepon yang tersambung.
"Kamu dimana sayang?" tanya Jared terdengar jelas oleh Vanylla.
"Di cafe bersama Katy dan teman temannya," jawa Vanylla diplomatis. Ia tak mungkin memberitahukan Kakaknya itu jika seorang pria tengah dikenalkan padanya.
"Hmm, kamu sudah makan, Butterfly?" Vanylla hanya tersenyum, pertanyaan kakaknya selu sama setiap hari.
"Iya aku pasti akan makan sebentar lagi, disini belum jam 5 sore, Jared."
"Aku selalu lupa. Aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan lewatkan makan malammu, Butterfly. Jangan sampai kamu sakit, ingat sebentar lagi kamu akan diwisuda kan?"
"Iya, Jared. Jangan khawatir," balas Vanylla lagi lalu melirik pada Katy yang sudah memasang wajah sebal bukan main.
"Dua minggu lagi aku akan datang kesana setelah pekerjaanku selesai. Aku berencana menemanimu sampai saat wisuda nanti. Daddy tidak bisa datang," ujar Jared lagi. Vanylla masih tersenyum bahagia. Kakak laki-lakinya akan segera datang dan menemaninya.
"Benarkah, Jared?"
"Iya Sayang, I miss you so much, Butterfly!" balas Jared dengan sedikit cekikikan.
"Aku juga sangat merindukanmu, Jared!"
"Sampai saat aku tiba disana kamu harus bisa menjaga dirimu, Butterfly dan jangan terlalu mengikuti Katy. Dia kadang suka bandel, aku tidak suka dia membawamu jalan-jalan keluar malam!" Vanylla terkekeh kecil mendengar perhatian Kakaknya yang tak pernah berubah. Greg yang berada di sebelah Vanylla mulai tidak suka ada pria lain yang menelpon Vanylla dan bisa membuatnya tertawa seperti itu. Lagipula siapa pria yang malah diberikan ucapan rindu oleh Vanylla.
"Jangan terlalu lama di luar, Butterfly. Cepat pulang ke rumah ya. Nanti aku hubungi lagi, I love you Baby."
"I love you too, Jared!" balas Vanylla. Greg menghela napas kesal dan menoleh pada Vanylla yang baru menutup sambungan ponselnya.
"Pasti dari Jared ya?" tegur Katy bertanya dengan nada agak sinis. Vanylla mengatupkan bibirnya lalu mengangguk dan tersenyum.
"Siapa Jared?" tanya Peter pada Katy.
"Oh, dia adalah Kakak laki laki Vanylla yang sangat amat protektif. Aku tidak mengerti bagaimana Vanylla bisa hidup dengan saudara laki-laki seperti itu. Aku saja tidak tahan!" cerocos Katy dengan wajah ketus.
Ia terdengar tidak menyukai Jared dan mereka sering berdebat. Greg lantas menunduk malu saat tau yang menghubungi Vanylla ternyata adalah saudara kandungnya. ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Vanylla..
"Jadi, kamu punya Kakak laki-laki ternyata ya?" tanya Greg, Vanylla pun mengangguk.
"Sepertinya dia sangat menyayangimu." Vanylla masih tersenyum dan mengangguk.
"Aku pikir jika kamu tidak lagi berada di LA maka dia akan memberimu kebebasan. Ternyata sama saja!" runtuk Katy kesal pada Vanylla. Vanylla hanya membalasnya dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya.
"Aku menyukai perhatiannya, dia hanya khawatir padaku Katy," jawab Vanylla membelai lengan Katy. Katy makin mendengus kesal. Ia takkan pernah menang melawan Jared jika Vanylla ada. Vanylla pasti akan membela Kakaknya itu.
"Kenapa kamu bicara begitu sayang, kenapa kamu malah tidak suka pada Kakak Vanylla?" tanya Peter pada Katy dengan wajah heran.
"Dia menyebalkan dan senang mengurung Vanylla. Vanylla tidak boleh beginilah tidak boleh begitulah. Dia benar-benar pria yang menyebalkan!” gerutu Katy makin ketus. Vanylla hanya menggeleng dan tersenyum saja pada tingkah temannya itu.
WRIGHT CORPORATION, RUANGAN CEO
Jared Wright baru saja menghubungi adiknya Vanylla Wright pagi ini seperti biasa. Setiap hari dia akan menelepon setidaknya tiga sampai empat kali sehari menanyakan banyak hal pada Vanylla.
Dari makan sampai jadwalnya sehari-hari. Teman Vanylla nyaris hanya Katy dan Jared, Kakaknya itu. Waktu baru pukul 9 pagi dan di Manchester sudah pukul 5 sore.
Jared baru saja menyelesaikan menandatangani dokumen proyek pembangunan stadion football baru setelah mendapatkan lisensi dan rekomendasi IFAF (International Federation of American Football). Ia masih dengan tenang duduk seperti bos besar di kursi kerjanya dan mengerjakan beberapa hal.
Sampai tiba-tiba kantornya seperti didobrak oleh seseorang yang masuk tanpa ijin. Jared yang mendengar suara keras dari pintu masuk lalu menaikkan pandangannya dan menyeringai.
Mars King masuk dengan angkuhnya padahal sudah dihalangi oleh pengawal Jared. Jared hanya menaikkan dagunya lalu memberikan tanda dengan tangannya agar pengawalnya membiarkan Mars dan Caleb yang berdiri di belakangnya masuk.
"Kamu benar-benar memang tidak punya sopan santun, King!" tegur Jared menyilangkan kedua jemarinya di depan dadanya lalu menyadarkan punggung pada sandaran kursi di belakangnya. Mars lalu menaikkan cengiran dan mendengus sinis.
"Kamu benar benar tidak tau siapa aku, huh Wright!" balas Mars mulai menyerang. Jared lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Mars tanpa melepaskan pandangan padanya. Kini dua banteng itu kini sedang berhadapan dan siap untuk saling menghancurkan.
"Apa maumu, King?" tanya Jared melipat kedua lengan pada dadanya. Matanya hanay menatap Mars dengan pandangan angkuh dan Mars tak memberi Jared kesempatan sama sekali. Mars tak pernah takut pada Jared begitu pun sebaliknya.
"Menghancurkanmu!" geram Mars pelan dan menakutkan. Ia memandang beberapa saat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian berbalik dan hendak pergi tapi kalimat Jared kemudian menghalanginya.
"Jangan pikir kamu bisa mengancamku, King. Kamu bukan siapa-siapa dan aku tidak pernah takut padamu!" balas Jared ikut menggeram marah. Mars berhenti dari berjalan dan menyengir masih belum menoleh pada Jared.
"Bagus jika kamu tak takut padaku. Dengan begitu aku tidak perlu mengasihanimu, karena aku tidak punya belas kasih!"
"Ingat Wright. Kamu akan membayar dua kali lipat dari yang kamu curi dariku saat ini!" ancam Mars dengan nada rendah dan menggeram. Jared lalu berbalik ke arah Mars yang masih memunggunginya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, King? Apa kamu pikir kamu bisa mengancamku?" Mars tersenyum menyeringai dan menoleh dengan setengah badannya. Ia hanya memberikan pandangan sinis pada Jared.
"Apa kamu tau julukanku, Wright? I'm a Devil and The King. Karena aku akan mengambil apa yang paling berharga dalam hidupmu lalu menghancurkannya. Aku akan membuatmu hidupmu seperti di neraka." Mars menyeringai jahat lalu pergi berlalu bersama Caleb meninggalkan Jared dalam pikirannya.
Dia memang tidak pernah takut pada Mars King, tapi Mars bukanlah orang yang suka mengancam kosong. Jika ia benar benar membalas maka Jared harus benar benar siap dengan konsekuensinya. Masalahnya apa yang hendak dilakukannya untuk membalas Jared Wright? Perasaan tidak nyaman menyelimuti hati Jared, tiba tiba ia teringat pada Vanylla, adiknya.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat, agar aku bisa bertemu Vanylla secepatnya. Bajingan, itu tidak boleh melihat adikku!" gumam Jared lalu kembali ke mejanya meneruskan pekerjaan.