Bab 2

“Amelia, mulai hari ini kau tidak usah bekerja di sini lagi.”

Iren meletakan amplop besar di depan Amelia, dan tatapan matanya begitu tegas untuk mengatakan kalau dirinya benar-benar telah dipecat dari tokoh buku.

“Kenapa, Bu Iren? Saya sudah bekerja selama tiga tahun di sini dan tidak ada masalah sebelumnya.” Amelia bergetar ketika dia mengatakannya, pernyataan mendadak dari Iren yang merupakan pimpinan staf HRD di sini benar-benar membuatnya terkejut.

Dia kemarin masih saja bekerja dengan baik tanpa ada hal yang berbeda atau terlihat seperti dia akan dipecat.

“Itu masalahnya, Amelia. Kau tidak sadar sejak pesta pernikahanmu gagal kau telah kehilangan kredibilitas kerjamu.”

Saat Amelia mendengarnya, jantungnya terasa ditikam, itu pernyataan yang sangat menyakitkannya. Amelia menggigit bibirnya, dia berusaha untuk tenang dalam menghadapi situasi tidak terduga ini.

“Tapi ibu Iren, kumohon setidaknya berikan aku kesempatan. Aku tidak tahu harus bekerja di mana, dan bukannya Ibu harus memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu?”

Tubuh Amelia rasanya sangat lemah, tangannya meremas dengan sangat kuat untuk dia menguatkan dirinya sendiri. Sementara kakinya dia paksa untuk kuat agar dia tidak terjatuh di lantai karena kabar yang sangat mengejutkan ini.

“Surat pemberitahuan?” tanya Iren. Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melotot ke arah Amelia dengan tatapan tajam.

“Sudah bagus diberikan pesangon, sekarang kau sedang mengajariku untuk mengambil sikap?”

“Bukan begitu.”

“Diamlah, Amelia. Aku tahu kalau kau hancur, tapi sekarang kau membuktikan pada semua orang kau itu hancur. Bagaimana masa depanmu? Kau wanita yang tidak punya masa depan, Amelia.”

Iren menunjuk kepala Amelia berulang kali, sentuhan di kepalanya itu membuat kepala Amelia rasanya pusing. Dia mempertahankan posisinya, berdiri dengan tegap agar dia terlihat kuat.

“Itu tidak ada urusannya selama ini. Pekerjaanku selalu baik, Bu Iren.” Suara Amelia sangat bergetar, dia sekarang hampir saja meneteskan air matanya. Dia merasa ketakutan akan di pecat dan dia putus asa.

Sangat putus asa sehingga dia menggigit bibirnya dengan kuat hingga berdarah.

Iren yang melihat ini merasa ngeri, dia ingin mengakhiri ini dengan cepat. Amelia harus keluar dari sini dan semuanya bisa berjalan dengan baik. Dia kasihan sejujurnya, melihat Amelia yang periang dan memiliki hati lembut ini tersakiti, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun lagi.

“Wajar saja kalau kau diselingkuhi oleh tunanganmu itu, Amelia. Lebih baik cepat keluar dan jual saja rumahmu itu!”

Iren sangat membentak, itu membutuhkan banyak tenaga agar dia mampu membentak Amelia yang gemetaran.

“cukup, Bu Iren!”

Amelia berteriak, rasanya sakit sekali dirinya karena ucapan Iren telah sangat menyakiti dirinya. Bagaimana bisa Iren mengatakan hal-hal kejam padanya. Padahal dia tidak bersalah atas perselingkuhan pasangannya, dan rumahnya yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya itu, tidak akan pernah dia jual!

Dan di sinilah, Amelia telah sampai puncaknya! Dia mengambil pesangonnya dan keluar dari kantor dengan derai air mata di wajahnya.

Dia berusaha menjadi kuat, mengusap matanya secara kasar dan melewati orang-orang yang penasaran dengan apa yang dia alami.

“Sialan! Kalian jangan sok peduli!”

Amelia berteriak dalam hati dengan begitu kesal. Dia sungguh tidak percaya pada kejadian yang dia alami. Bagaimana mungkin ini terjadi begitu cepat? Tiba-tiba saja semuanya seperti mengarahkan pisau padanya.

Dia telah meninggalkan toko buku besar itu dengan berjalan kaki, dia melangkah lebar dan sejak tadi menunduk karena air matanya terus jatuh.

Saat ini wajahnya sangat pucat, kepalanya berdenyut dengan sangat hebat, dan yang lebih buruknya lagi, pemandangan matanya telah kabur. Amelia tahu kalau ini akan menjadi sangat buruk jika dia memaksakan dirinya, dia harus pulang menggunakan taksi, jadi Amelia berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi.

Belum lagi taksi dia dapatkan, sakit kepalanya semakin menjadi dan membuat Amelia akhirnya terjatuh ke belakang.

Sinar matahari pagi hari itu silau, itu masuk ke dalam retinanya yang membuat matanya berkaca, dia telah bisa merasakan kalau tubuhnya akan menghantam jalanan dengan sangat kuat.

Tapi, kenapa dia tidak merasakan kerasnya jalanan?

Mata hazelnut Amelia terpejam.

Entah berapa jam dia pingsan, Amelia sungguh tidak tahu itu, saat dia membuka matanya, dia melihat cahaya lampu yang terang. Seolah dia berada di tempat ruangan operasi seperti yang dia lihat dalam film yang pernah dia tonton dulu.

Amelia menyentuh keningnya dan dia mendesis sendiri karena rasa sakit masih begitu terasa.

Seseorang menyentuhnya, dan Amelia melihatnya dengan sangat terkejut. Orang itu terlihat sangat indah, Amelia bahkan sampai berpikir kalau dia mungkin telah tiba di surga.

“Nona, lebih baik pelan-pelan saja bergeraknya.”

Suara hangat yang berat membuat Amelia tersadar kalau dia belum tiba di surga, sentuhan tangan pria yang membantunya duduk itu nyata.

Mata Amelia menyipit dan dia melihat ke arah pria yang memiliki ketampanan luar biasa itu.

“Anda siapa?” tanya Amelia kebingungan.

Rasa sakit di kepalanya membuat Amelia mengutuk itu berulang kali.

“Aku Damian, Nona tadi pingsan di jalanan dan saya yang menangkap Anda.”

Damian mengatakannya dengan sangat manis serta lembut sekali, sikapnya yang sangat sopan juga telah membuat Amelia kagum padanya.

“Aku pingsan?” Amelia menunjuk dirinya tidak percaya.

Keningnya mengerut memikirkan apa yang terjadi, dia ingin kalau dia sedang menunggu taksi untuk pulang. Ya, sinar matahari yang masuk ke dalam retinanya dan dia melihat matahari itu, dia benar-benar pingsan.

“Astaga! Maafkan saya karena telah menyusahkan anda, Tuan Damian.”

Amelia langsung meminta maaf, dia merasa sangat tidak sopan sekali karena menyusahkan orang ini. Dia melihat sendiri kalau Damian menggunakan pakaian yang bagus dan rapi, dia tahu kalau Damian kemungkinan adalah orang yang memiliki pekerjaan bagus.

“Panggil saja Damian.” Damian tersenyum ketika mengatakannya.

“Apa itu boleh?”

Damian mengangguk untuk memberikan izin pada Amelia, bahkan dia sangat senang jika Amelia memanggil namanya.

“Kalau begitu panggil saja aku Amelia, Damian.”

Suara manis Amelia yang memanggilnya itu membuat Damian senang. Dia begitu senang tapi dia masih menahan dirinya dengan baik.

“kau membawaku ke sini?” Amelia melihat sekitarnya, dia sadar kalau ini di rumah sakit. “Sepertinya aku harus mengganti uangmu, Damian.”

Amelia melihat ke arah Damian.

“Tidak perlu.” Damian masih menatap Amelia dengan tatapan hangat yang membingungkan Amelia.

Tatapan itu terlalu lama dan membuat Amelia menjadi canggung sendiri.

“Maaf misalnya aku tidak sopan, tapi aku menemukan surat ini ketika menangkap tubuhmu yang pingsan.”

Damian mengangkat surat pemecatan yang membuat Amelia malu dan kesal. Ini sungguh sesuatu yang tidak masuk akal menurutnya. Amelia langsung merebut surat yang ada di tangan Damian, dan menyembunyikannya.

Wajahnya terlihat masam dan sedih secara bersamaan.

“Kau mau bekerja di perusaanku bekerja?” tanya Damian memancing Amelia, dia menunggu respons Amelia agar Amelia bisa melihatnya.

“Perusahaan apa?” tanya Amelia dengan suara yang pelan.

“Teknologi, dan hanya menjadi staf biasa. Gajinya mungkin kecil, tapi kurasa lumayan dibandingkan tidak melakukan apa pun, kan?” tanya Damian

Semua ucapan Damian terdengar sangat tulus dan begitu lembut, dia tidak terlihat sedikit pun telah merencanakannya dia telah memberikan umpan dan mengawasi Amelia.

“Pikirkan saja perlahan. Jika kau ingin kerja, hubungi aku.”

Damian dengan sengaja memberi kartu nama lain yang telah dia persiapkan hanya untuk Amelia, dia benar-benar sedang menarik Amelia untuk dirinya sendiri.

Bab 3

Rasanya dia baru saja dipecat, lalu dia mendapatkan tawaran dengan begitu cepat. Itu mengejutkan Amelia lagi, dia hidup bagaikan di roller coaster, di mana perubahan begitu cepat terjadi yang membuatnya bingung dengan sebenarnya terjadi pada dirinya.

Apa dia sedang bermimpi?

Aneh sekali hingga dia tidak tahu apa yang dia lakukan.

“Amelia? Di mana rumahmu?” Damian bertanya pada Amelia yang duduk di sampingnya.

Dia sungguh pintar dalam berakting berpura-pura tidak tahu keberadaan rumah Amelia, padahal selama ini dia sering mengawasi Amelia.

Dia bertindak sesuai kondisi yang terjadi sekarang, Amelia hanya memberitahu jalan rumahnya, tapi dia belum mengatakan blok dan nomor rumahnya.

“Amelia?”

Suara lembut dan sentuhan Damian di pundak Amelia mengejutkan Amelia, dia menatap Damian dengan sangat terkejut. Dia terlalu la bengong yang memperlihatkannya sebagai wanita aneh.

“Lagi-lagi kau bengong, Amelia.” Damian mengeluh di dalam hatinya, tapi tatapan matanya masih sangat ramah untuk Amelia.

“Di mana rumahmu? Kita sudah sampai di jalan yang kau katakan tadi.”

Amelia menatap Damian dan dia merasa malu sendiri dengan pria tampan ini, selain dia tampan, Damian juga sangat baik padanya.

Lalu dia telah menunjukkan sikap yang buruk.

“Maju sedikit lagi, rumah kecil yang diapit oleh gedung tinggi lainnya itulah rumahku, Damian.”

Damian mengangguk, dan dia berhenti dengan tepat apa yang dikatakan oleh Amelia. Amelia memegang tasnya kemudian berpikir mengenai Damian, dia merasa tidak enak dengan Damian yang baik hatinya. Dia telah menolong dirinya, dan bahkan menawarkan pekerjaan untuknya.

“Damian, mau masuk ke rumahku sebentar untuk minum teh? Aku belum berterima kasih padamu dengan benar.”

Amelia menatap Damian, dia merasa gelisah sendiri dengan apa yang baru saja dia katakan, mungkin. Apa yang baru saja dia katakan akan membuat Damian berpikir dia adalah wanita yang aneh. Tapi Amelia memang murni hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Damian.

“Maaf kalau itu membebani.” Ucapan Amelia belum selesai, dan Damian telah memotongnya dengan sangat cepat.

“Baiklah aku akan menerima ajakan minum tehmu itu.” Damian telah selesai membuka safety belt ya, dia melihat ke arah Amlia yang membuat Amelia berpikir bagaimana bisa dia seberani ini mengundang orang asing ke rumahnya?

Tapi Amelia yang telah mengajak Damian itu tidak bisa mundur, dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya, Damian mengikutinya dari belakang.

Damian menyembunyikan senyumannya, dia begitu berdebar untuk masuk ke rumah Amelia. Ini baru kali pertamanya dan akan menjadi pengalaman luar biasa untuknya. Dia bisa melihat banyak hak yang tidak diperlihatkan Amelia di luar.

Saat pintu terbuka, Damian masuk dan dia benar-benar senang. Dia memperhatikan semuanya dengan sangat detail dan seringai muncul di wajahnya.

Amelia berbalik dan wajah Damian telah datar kembali, ekspresinya berubah dengan sangat cepat.

“Duduklah di sana, Damian. Aku akan membiarkanmu teh.” Amelia menunjuk sofa tua peninggalan orang tuanya.

Sofa itu berwarna coklat, terlihat sudah tua tapi layak untuk dipakai, Damian duduk di sana dan di sampingnya ada meja kecil yang menunjukkan potret kecil Amelia. Dia mengambil potret itu saat Amelia ke dapurnya untuk membuatkannya teh.

Damian memperhatikan wajah Amelia kecil yang menurutnya telah manis sejak dulu.

“Seperti malaikat sejak dulu.” Damian tersenyum lalu dia mengusap potret Amelia itu.

Damian mendengar suara dering sendok, dan dia dengan cepat meletakan kembali potret a.elia itu dan bersikap seperti pria yang sangat sopan sekali.

Dia melihat ke depan dan benar saja Amelia telah selesai membuatkannya teh, dan sekarang teh diletakan dengan hati-hati di depan Damian.

“Kau adalah penyelamatku, tapi aku hanya bisa membuatkanmu teh ini.”

Amelia merasa malu, tapi tidak ingin memaksakan dirinya sendiri, dia kemudian mempersilahkan Damian untuk meminum tehnya.

“Jangan memikirkan itu, Amelia. Sebagai manusia kita harus ing membantu.”

Hari ini dia mengalami pemecatan yang membuatnya begitu syok, tapi dia bertemu dengan seorang pria yang sangat baik juga. Mungkin inilah jalannya untuk memulai hidup barunya. Amelia mulai berpikiran positif walaupun dia masih kacau.

“Kau pria yang baik, Damian. Terima kasih, Damian."

Damian menganggukan kepalanya, matanya masih berkilat memandang Amelia. Yang dia inginkan sebenarnya, Amelia langsung masuk ke dalam perangkapnya, dan dia bisa memiliki Amelia. Menyentuhnya dan tidak akan ada yang bisa memisahkannya.

Mereka mengakhiri hari itu, di malam hari dengan suasana perasaan yang berbeda. Di mana seseorang yang licik bertemu dengan seseorang yang polos, sesuatu yang sedang dipersiapkannya sedang membuka jalan kehidupan baru yang membuat cerita bagi mereka berdua.

Dua bulan kemudian, Amelia telah berubah menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dia menerima ajakan Damian untuk bekerja di tempatnya, dan dia melakukan pekerjaan dengan baik.

Hingga sampai sekarang, dia selalu berhubungan dengan baik dengan Damian.

Menurut Amelia, Damian adalah temannya.

Makan siang baru saja dimulai dan orang-orang ingin cepat keluar dari ruangan mereka agar mereka bisa makan dengan segera, dan melepaskan penat mereka sebentar.

Amelia juga mengalami hal yang sama, biasanya dia akan makan bersama dengan rekan kerjanya, tapi hari ini berbeda, Damian mengirimkan pesan pada Amelia untuk bertemu dan makan siang bersama.

Amelia dengan senang menyetujui itu.

“Tunggu aku di tempat biasa.”

Amelia menjawab ucapan Damian dengan cepat. Dia mengambil coatnya dan memakainya, mereka jarang sekali bertemu di kantor, dan sebagai gantinya, mereka bertemu di cafe tersembunyi yang ada tidak jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja,.

Cafe itu memiliki ukuran yang kecil, masuk ke dalam lorong dan tersembunyi. Damian dan Amelia sering sekali bertemu di sana hingga pemilik cafe itu mengenal mereka berdua.

Rambut panjang amelia terurai, dan itu bergerak dengan sangat indah. Sinar matahari yang mengenai rambutnya menyinari rambut itu sehingga membuatnya terlihat sangat bercahaya.

Amelia melihat cafe yang telah terlihat, dan dia melangkahkan kakinya dengan lebar, setelah tiba tiba di depan pintu cafe dia masuk dan melihat Damian berada di tempat biasa, di sudut ruangan dengan wajah tanpa ekspresinya yang terlihat tampan.

“Damian, kau menunggu lama?” tanya Amelia sambil duduk di depan Damian.

Wajah datar Damian tadi dengan cepat berubah menjadi ekspresif dan hangat, matanya yang berbentuk bulan sabit terbalik menatap Amelia.

“Aku sama sekali tidak lama menunggu, Amelia. Aku baru saja sampai.”

Amelia, wanita yang dia sukai ini, sekarang menjadi lebih dekat dengannya dan Amelia sampai sekarang tidak mengetahui identitas asli Damian. Dia tidak membiarkan Amelia tahu mengenai dirinya, dia sedang menunggu waktu yang pas.

Dan sekarang adalah waktu yang pas, dia akan memberitahu Amelia tentangnya, dan membuat Amelia tidak bisa kabur darinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED