Bab 2

Donita mengetuk pintu ruang periksa dengan pelan, membuat Jasmine terkejut. Jasmine melihat ke arah pintu dengan agak kesal. Dia merasa terganggu, karena sakit kepala yang dideritanya benar-benar mengganggunya. Jasmine tertegun ketika melihat Donita yang agak takut di depan pintu. Seketika Jasmine ingat di mana dia berada. Jasmine berusaha tersenyum.

"Astaghfirullah, maafkan saya, Mbak Donita. Saya pusing sekali," kata Jasmine, "apakah ada pasien yang lain?" tanya Jasmine. Donita mengangguk.

"Tolong diminta untuk masuk ya, Mbak. Saya cuci muka dulu," kata Jasmine dan dia segera ke kamar mandi yang ada di belakang ruang praktik. Dia membasuh mukanya dan berusaha menahan semua gejolak dalam dadanya untuk berteriak dan mengumpat seperti biasanya kalau dia sakit kepala. Rasa sakit itu terasa begitu mencengkeram kepalanya. Donita meneteskan air mata.

[Sebenarnya aku hanya minta hal yang sederhana. Aku hanya minta kamu memberi obat yang beda pada wanita itu, sehingga wanita dan bayinya itu mati. Sudah itu saja! Kenapa kamu tidak menurut?]

Jasmine menangis tergugu. Dia mencengkeram ujung wastafel dengan ujung jemarinya dengan begitu kuat, hingga ujung jarinya memutih. Dia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjerit.

"Pergi! Pergi dari kepalaku! Aku sakit!" Akhirnya semua emosi Jasmine terlepas juga. Dia memandang wajahnya di depan kaca. Wajah yang berkeriut menahan sakit, wajah yang marah menahan sakit, wajah yang lelah dan bosan dengan semua tingkah laku jin di dalam tubuhnya.

[Benar kamu ingin aku keluar? Benarkah apa yang kudengar ini?]

Jasmine terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia menunduk. Dia tidak berani menjawab pertanyaan di kepalanya itu. Tiba-tiba diluar kesadaran Jasmine, dia mencengkeram jilbabnya sendiri.

[Benar kamu ingin aku keluar? Kalau iya, aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan nyaman! Aku akan membuat semua orang tahu apa yang terjadi pada dirimu!]

Jasmine tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba saja kakinya melangkah keluar dan dia berteriak-teriak dengan keras.

"Wanita ini membunuh Nurhayati! Dia yang membunuh Nurhayati! Carilah Nurhayati di rumah sakit kosong itu! Dia ada di sana. Nurhayati ada di sana!"

Orang-orang berlarian mengerumuni Jasmine yang terus berteriak dan mengatakan bahwa dialah yang membunuh Nurhayati, dan Jasmine melihat pria berambut panjang tadi. Pria itu juga melihat dirinya, seperti orang yang lain, dan kemudian pria itu melangkah maju ke arahnya. Jasmine tiba-tiba merasa begitu takut. Dia berdiri dan hendak berlari, padahal itu bukan yang diinginkannya. Jasmine tidak ingin berlari, dia ingin minta tolong pada pria itu.

Pria itu berdiri di depan Jasmine. Dia memandang Jasmine lekat, dan anehnya Jasmine merasa begitu takut, dia langsung menunduk.

"Jangan, Ustadz! Jangan! Saya tidak bersalah! Dialah yang membunuh Nurhayati!" teriak Jasmine.

Jasmine sangat takut. Dia tidak tahu apa maksud perkataannya sendiri. Dia sama sekali tidak mengenal Nurhayati, dia tidak pernah mengenal orang yang bernama Nurhayati, apalagi sampai membunuh Nurhayati. Jasmine khawatir dia akan dihukum atau dipenjara karena dituduh membunuh Nurhayati.

Jasmine tahu dia harus memberitahu pria itu. Dia harus memberitahu pria itu! Jasmine mendongak, lehernya begitu berat, seakan tidak mau ditegakkan. Jasmine tetap memaksakan dirinya untuk mendongak. Dia melihat wajah sang pria yang sekarang memandang dengan pandangan yang tegas dan bibir pria itu menggumamkan sesuatu yang membuat Jasmine begitu mual.

"Ampun, Ustadz! Ampun! Sakit, Ust! (Jangan, Ustadz! Jangan! Sakit, Ust!)" teriak Jasmine. Jasmine keheranan, kenapa dia tahu pria dihadapannya itu adalah seorang ustadz, padahal baru hari ini dia bertemu pria itu.

"Wanita ini membunuh Nurhayati, Ustadz, dan aku yang disalahkan. Kenapa aku yang disalahkan, Ustadz? Kenapa aku?" teriak Jasmine dalam tangisan. Jasmine menangis meraung-raung, dia memukuli dadanya, memukuli kepalanya, dan dengan kekuatan penuh hendak menarik lepas jilbabnya. Orang-orang langsung memegangi Jasmine dan melarangnya melepas jilbabnya.

"Jangan, Dok!"

"Istighfar, Dokter! Istighfar!"

Kalimat-kalimat itu lewat di telinga Jasmine, tanpa benar-benar dipahaminya. Dia menangis terisak.

Jasmine melihat pria itu menoleh ke belakang, kepada wanita bertubuh mungil yang tadi diperiksa Jasmine, yang sepertinya adalah istri pria itu.

"Na, telpon bulik Hasna, ya. Minta tolong bawa tim ruqyah akhwat ke sini," kata pria itu, kemudian pria dengan rambut panjang itu menoleh ke arah Jasmine dan tersenyum, "kita mengaji, ya?" tanya pria itu pada Jasmine. Jasmine mengangguk, tetapi kemudian jilbabnya seakan ditarik ke belakang dengan keras, membuat Jasmine berteriak kesakitan dan pada saat itulah --untuk sejenak-- kesadaran Jasmine kembali. Jasmine menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin.

"Tolong saya, Ustadz! Saya tidak kenal Nurhayati!"

****

Faza menghela napas panjang. Dia memandang ke arah orang-orang yang membantu dokter --bernama Jasmine-- yang pingsan. Faza merasa iba pada dokter muda itu.

"Apa yang terjadi, Ustadz?" tanya seorang pria pada Faza. Dilihat dari bajunya sepertinya pria itu adalah seorang dokter. Faza tersenyum pada pria itu.

"Sepertinya Bu Dokter diganggu jin, Pak. Semoga saja kami bisa membantu mengeluarkan jin dari dalam tubuh Bu Dokter," jawab Faza. Pria itu mengangguk dan tersenyum.

"Mohon maaf sampai lupa, Ust. Perkenalkan saya Prasetya. Saya dokter di sini. Jasmine teman saya kuliah dulu. Kami sudah berkomunikasi sejak kemarin, dia bilang hari ini dia mulai masuk ke klinik ini. Saya sebenarnya ingin mampir ke ruang periksanya kalau istirahat makan siang, ternyata malah sudah ada kejadian seperti ini," kata Prasetya sambil memandang Jasmine dengan rasa tak menentu. Dia menoleh ke arah Faza dengan wajah penuh harap.

"Mohon bantuannya, njih, Ust?" kata Prasetya. Faza mengangguk. Dia segera duduk di salah satu sudut ruangan dan mulai bertilawah. Dia berharap tim ruqyah akhwat segera datang dan membantunya.

****

Donita terpesona. Dia melihat pria yang hampir mirip dengan pria yang dipanggil ustadz oleh Jasmine tadi. Pria dengan rambut panjang. Hanya saja pria yang baru datang ini lebih tua dan berjalan dengan tongkat, dan tongkat itu menambah wibawa pria itu. Pria itu datang dengan rombongan dari pesantren ruqyah dan langsung menuju ke ruangan tempat Jasmine berada, dan belum lagi pria sepuh berambut panjang tadi masuk ke dalam ruangan itu terdengar teriakan Jasmine dari dalam ruangan itu.

"Aku emoh! Aku emoh! Ono Mas Fadli! Mas Fadli, kan kancane Sapto! (Aku tidak mau! Aku tidak mau! Ada Mas Fadli! Mas Fadli, kan temannya Sapto!)"

Pria sepuh itu tertawa geli.

"Nah, dia mengenaliku dan Pak Sapto," kata pria itu.

"Kamu terkenal sekali di dunia sana, Mas," kata seorang wanita yang berjalan di samping pria sepuh itu. Mereka berdua tertawa.

"Ah, ya mau bagaimana lagi? Mereka tidak bisa menolak pesona rambut panjang Fadli."

****

Bab 3

Donita tidak ingin melewatkan semua hal yang terjadi di dalam ruangan itu. Dia ikut masuk ke dalam sebuah ruangan periksa yang dijadikan tempat membaringkan Jasmine yang pingsan lagi setelah berteriak-teriak tadi. Donita diperbolehkan masuk karena Donita diminta menyiapkan air putih dalam jumlah yang cukup banyak dan Dokter Emi, yang menjadi pemimpin di klinik itu, memperbolehkan Donita untuk ikut melihat semua kejadian di dalam ruangan itu.

Dokter Emi pun ikut masuk ke dalam ruangan itu, beliau menyalami seorang wanita sepuh yang duduk di tengah ruangan.

"Ustadzah Hasna?" sapa Dokter Emi ramah.

"Ya, Dok. Apa kabarnya, Dokter Emi? Semoga sehat, ya?" jawab wanita sepuh yang bernama Hasna.

Dokter Emi mengangguk.

"Insya Allah sehat, Ust," jawab Dokter Emi dan kemudian Dokter Emi menoleh ke belakang dan menyapa dua orang pria berambut panjang itu, "Ustadz Fadli, Ustadz Faza, sami sehat, njih? (semuanya sehat, ya?)" sapa dokter Emi.

"Insya Allah sehat, Dokter," jawab pria sepuh yang bernama Fadli. Mereka berbasa basi sebentar, sebelum kemudian Dokter Emi berpamitan keluar karena ada acara. Donita tersenyum, dia sekarang sudah tahu nama-nama pria berambut panjang itu. Yang tua namanya Fadli, yang muda bernama Faza, tetapi kemudian Donita mencebik karena teringat Faza sudah punya istri.

Donita masuk dan diminta duduk di bagian belakang beberapa santri akhwat yang duduk berbaris rapi sambil bertilawah. Donita melihat Hasna duduk di samping Jasmine. Hasna nampak begitu tenang membaca Al Quran dengan volume suara yang tidak terlalu keras. Dia sesekali memegang bahu atau ujung kepala Jasmine. Jasmine tidak memberikan reaksi apa-apa. Jasmine terbaring diam, seakan sedang tertidur lelap. Donita juga melihat Fadli, Faza dan dua pria lainnya sedang berdoa di atas gelas berisi air putih yang tadi disediakan Donita.

"Air ruqyahnya sudah siap?" tanya Hasna, dia menoleh ke Fadli dan Faza. Fadli mengangguk dan memberikan segelas air pada wanita sepuh itu.

"Hati-hati, Na," bisik Fadli. Hasna mengangguk. Dengan perlahan dia memercikkan air putih dalam gelas itu ke wajah Jasmine. Awalnya Jasmine nampak tetap tak bergerak, tetapi lama kelamaan tubuh Jasmine mulai menggeliat-geliat tak nyaman.

"Dia bohong, Na. Sejak tadi dia tidak tidur atau pingsan. Dia hanya pura-pura tidur karena takut padaku," kata Fadli. Dia maju ke depan mendekati Hasna. Seketika Jasmine bangun dan dia hendak berlari, untung Yasna sudah siap. Dia sudah berhasil memegang tangan Jasmine, bahkan sebelum Jasmine berdiri.

"Jangan, Ustadzah! Jangan! Aku tidak mau ketemu dengan Fadli lagi. Dia jahat!" teriak Jasmine. Dia akhirnya menyerah dan bersimpuh di belakang Hasna. Dia berusaha bersembunyi di belakang Hasna. Fadli tertawa. Dia semakin mendekati Jasmine, membuat Jasmine semakin histeris.

"Kenapa, sih? Kapan kita pernah ketemu? Aku lupa, lo," kata Fadli. Dia duduk agak jauh dari Hasna.

Jasmine mencebik. Dia kemudian menunduk dan menggumam tak jelas.

"Mas Fadli sudah tua. Sudah tidak ganteng lagi. Pak Sapto pasti juga sudah sangat tua, ya?" tanya Jasmine. Fadli tertawa.

"Pak Sapto sudah lama meninggal. Kamu siapa? Aku tidak tahu siapa namamu, jadi aku tidak bisa memanggilmu, " tanya Fadli.

Jasmine mendongak. Wajahnya nampak merona malu, Fadli tidak bisa menahan tawanya, karena sepertinya Jasmine malu padanya, atau mungkin suka padanya. Fadli tersenyum, tetapi anehnya pandangan Jasmine tidak lagi mengarah pada Fadli, tetapi mengarah ke depan. Pandangan Jasmine juga nampak kosong, hampa dan agak sedikit marah.

Fadli dan Hasna berpandangan. Mereka berdua mengikuti arah pandangan Jasmine dan Fadli melihat Rosalina, menantunya. Fadli merasa agak takut dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Jasmine memandang Rosalina dengan agak marah seperti itu?

"Za! Suruh Rosalina pulang saja," kata Fadli. Dia takut kalau jin di dalam tubuh Jasmine hendak mencelakai Rosalina.

Jasmine menggeram, matanya berubah putih bagaikan susu, setitik warna hitam ada di tengah mata itu. Dia memandang Fadli dengan marah. Fadli seketika paham dengan siapa dia berhadapan. Dia ingat dengan mata seputih susu itu bisanya dimiliki oleh jin yang mewujud menjadi kuntilanak.

"Aku akan membunuh anak itu! Dia akan menjadi anak yang sakti dan membunuh banyak kaum kami. Aku tidak terima!" teriak Jasmine. Fadli mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menyangka yang dimaksud Jasmine adalah Rosalina. Dia menengok ke arah Rosalina. Gerakan yang dilakukan Fadli hanya sekejap, tetapi semua keributan itu terjadi begitu rupa. Fadli tidak memahami apa yang terjadi, dia hanya melihat Faza menampar Jasmine --yang sudah berada di dekat Rosalina-- beberapa kali, orang-orang berusaha melerai Faza yang seperti lupa diri, setelah itu Fadli melihat Hasna mengajak Rosalina keluar dan dua orang ustadz langsung meruqyah Jasmine, sehingga membuat Jasmine berteriak-teriak histeris.

"Jangan suruh dia pergi! Aku harus mengambil bayinya! Aku harus membunuh bayinya!" Jasmine terus berteriak sambil berusaha melarikan diri.

Hati Fadli mencelos mendengar perkataan Jasmine. Oh, ternyata yang dimaksud Jasmine bukan Rosalina, tetapi ... tetapi calon cucu Fadli yang kesembilan. Fadli tersenyum. Tak heran Faza sampai marah dan menampar Jasmine berulang kali, rupanya Jasmine hendak mengambil calon anaknya.

"Fadli! Aku juga akan membunuhmu. Kalian semua adalah keluarga pembunuh!"

Fadli mengerutkan keningnya lagi. Dia tidak paham apa maksud Jasmine.

"Apa maksudmu?" tanya Fadli. Hasna mendekati Fadli.

"Jangan terpancing, Mas. Ingat, jin itu adalah pembohong nomor satu," bisik Hasna pada Fadli.

"Aku tidak bohong! Aku masih ingat bagaimana Fadli dan Sapto menghancurkan rumah kami, sehingga banyak keluarga kami, teman dan tetangga kami yang mati. Padahal kami hanya ikut-ikutan, tetapi kalian marah betulan dan menghancurkan tempat tinggal kami," kata Jasmine sambil terisak. Fadli benar-benar bingung dan tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Jasmine. Dia mendekati Jasmine dan duduk di depan Jasmine.

"Di mana kita pernah bertemu, Ndhuk? Apa yang kamu lakukan hingga Pak Sapto marah padamu?" tanya Fadli perlahan.

Jasmine menunduk pelan.

"Di Tintrim. Waktu ada yang menculik ibunya Mas Fadli ...." Jasmine menjawab dengan suara yang sangat pelan, tetapi Fadli sudah mendengarnya. Fadli sudah terlanjur mendengarnya. Fadli terdiam. Matanya berkaca-kaca. Kenangan itu membanjiri dirinya.

Kenangan yang sangat sedih, ketika jin yang pernah dendam pada ibu Fadli, kemudian menculik ibunya dan kemudian membuat ibunya tak sadarkan diri selama hampir sebulan. Fadli masih ingat dengan jelas bagaimana dia dan Yusuf, kakaknya, bergantian menjaga ibu mereka yang sudah hampir meninggal.

Fadli tersenyum. Allah belum menakdirkan ibunya untuk meninggal saat itu. Guru Fadli yang bernama Sapto, berhasil menemukan sebab ibu Fadli tak sadarkan diri. Ternyata bibi Fadli sendiri yang membuat ibunya diculik oleh jin sembahannya dan bibi Fadli sendiri juga yang mengundang begitu banyak jin di dalam sebuah rumah kosong di tengah desa bernama Tintrim, untuk menjaga agar ibu Fadli tetap tak sadarkan diri.

Fadli mengusap air matanya. Waktu itu adalah saat terberat bagi Fadli, dan ketika harus mengingatnya lagi, Fadli pun masih tetap menitikkan air mata. Fadli memandang Jasmine lekat. Dia tersenyum.

"Kamu adalah salah satu jin yang selamat dari kemarahan Pak Sapto, Ndhuk? Kamu perempuan, kan? Siapa namamu?"

Jasmine kembali tersipu, membuat kesedihan Fadli agak sedikit terlupakan.

"Saya Banowati, Ustadz," jawab Jasmine malu-malu.

"Lalu kenapa kamu ada di tubuh wanita ini? Kenapa kamu mengganggunya?" tanya Fadli lagi. Jasmine mencebik.

"Aku tidak mengganggunya. Dia sendiri yang datang ke rumah Mbah Seturan di Lawang Gunung. Minta bekal agar selamat, sehat dan selalu dihormati di tempat yang baru ini. Lalu Mbah Seturan memasukkanku dan teman-temanku ke dalam tubuh wanita ini. Lalu ... ya, lalu dia marah karena dia terlalu sering sakit kepala gara-gara kami," jawab Jasmine dengan agak enggan, dan berusaha mengalihkan pandangan dari Fadli, sepertinya dia agak takut pada Fadli, "lalu ... lalu ... tadi datang wanita kecil itu. Aku dan temanku meminta wanita ini membunuh bayi dalam tubuh wanita kecil itu, tetapi dia tidak mau, sehingga kamu menghukumnya dan membuat semua orang tahu bahwa ada kami di dalam tubuhnya."

Fadli sangat terkejut ketika melihat Faza sudah berdiri dengan penuh kemarahan di sampingnya.

"Lalu kamu yang menarik rambutku tadi?" tanya Faza sambil mendelik ke arah Jasmine. Anehnya Jasmine tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia malah mengerjapkan matanya berulang kali, dan warna mata Jasmine berubah setiap dia mengerjapkan matanya. Fadli bergidik ketika melihat warna mata Jasmine berubah merah darah, tanpa ada warna lain di matanya. Jasmine pun berdiri di depan Faza dengan gagah berani. Dia menantang Faza.

"Itu aku! Banowati tidak akan berani menyentuhmu!" teriak Jasmine. Bibir Jasmine berkedut beberapa kali. Dia tersenyum misterius.

"Kamu mengingatkanku pada kekasih Nurhayati yang memiliki rambut panjang, seperti dirimu ...." Tangan Jasmine terulur lagi, seakan hendak menyentuh rambut Faza. Faza mundur dengan wajah yang merah karena marah.

Jasmine tertawa panjang. Tawa yang sangat mengerikan. Fadli bergidik mendengar tawa itu.

"Diam!" teriak Faza, "siapa sebenarnya Nurhayati itu?" tanya Faza.

Jasmine terdiam dengan wajah merengut. Dia memandang Faza dengan terpaksa.

"Nurhayati adalah wanita malang yang dibunuh beramai-ramai malam itu ...."

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED