Selamat Membaca ^_^
***
Siang itu langit di atas wilayah suku Chang'o terlihat hitam kelam. Sepertinya hari akan hujan. Beberapa dahan pohon yang hijau bergoyang cukup keras, angin meniupnya dengan begitu kencang. Rumput dan beberapa bunga indah turut menari oleh tiupan sang angin. Menyambut datangnya hujan, semuanya tampak berbahagia.
Mendapat berkah dari seorang dewi hujan, suku Chang'o begitu menghormati keluarga sang pemimpin suku, keluarga Su. Mereka selalu mengadakan ritual ketika hujan datang di kala musim bercocok tanam. Dengan adanya hujan para penduduk suku Chang'o tidak lagi kesulitan dalam menggarap sawah. Alhasil mereka bisa hidup sejahtera dan mandiri.
Langit yang kelam semakin terlihat kelam seiring adanya alunan Gu Zheng mengiringi seseorang menari. Tarian itu, tarian yang dibawakan Su Yu Er ketika ia memulai ritualnya memanggil hujan.
Berdiri di tengah kolam luas, ia menari dengan diiringi petikan Gu Zheng kakaknya. Meliuk-liuk, menjentikkan jarinya beberapa kali, Su Yu Er menari seolah seperti bukan dirinya sendiri.
Siang terlihat seperti malam, guntur dan petir mulai menyambar di atas langit suku Chang'o. Beberapa titik hujan akhirnya membumi dengan perlahan.
Sorak-sorai penduduk suku Chang'o terdengar ramai. Hujan kali ini turun, penduduk bisa leluasa menggarap sawah dan menyebar benih.
Semua berkat Su Yu Er. Gadis anak kepala suku itu bisa mendatangkan hujan melalui tariannya yang sering disebut sebagai tarian Dewi Hujan.
****
Berbeda dengan wilayah lain, wilayah yang cukup jauh dari suku Chang'o. Kekeringan merajalela, banyak hama pangan dan penyakit. Semua tersebar hampir di seluruh pelosok Kerajaan Meng.
Hampir tiga puluh tahun tidak ada hujan, Kerajaan Meng hanya mengandalkan Sungai Ohan yang mengalir kecil ke desa-desa di seluruh pelosok negeri. Angka kematian akibat kekeringan selalu bertambah setiap tahunnya.
Ini karma. Beberapa peramal istana mengatakannya demikian. Karena kelalaian kakek buyut Li Yun Zhu, kekeringan di wilayah Kerajaan Meng tidak pernah berakhir sampai saat ini.
Hari itu di musim yang panas dan panjang, Li Yun Zhu menghadiri rapat istana dengan berbagai kalangan pejabat istana dan para menteri. Seluruh anggota istana bersujud ketika Li Yun Zhu hadir. Jubah emasnya yang panjang terseret oleh langkah kaki yang gagah.
Setelah beberapa tahun dari peristiwa penyusupan itu, Li Yun Zhu kini sudah dinobatkan menjadi seorang raja menggantikan ayahnya yang sudah tua.
Berjalan menuju singgasana yang terbuat dari pahatan emas, Li Yun Zhu menatap ke depan dengan tatapan serius dan tajam. Menghentikan langkah, ia berbalik badan dan akhirnya duduk dengan nyaman di singgasana.
Mengangkat tangan kirinya, seluruh anggota istana bangun dari sujud dan mulai duduk bersimpuh dengan rapi.
"Yang Mulia, ada sesuatu yang ingin hamba sampaikan," ucap salah satu pejabat istana sambil membungkuk hormat.
"Katakan!" instruksi Li Yun Zhu keras.
Sang penjabat lalu berdiri dan bersujud tepat di hadapan Li Yun Zhu. Setelah membungkuk dalam, sang pejabat mengutarakan apa yang menjadi keluh kesahnya.
"Yang Mulia kekeringan di wilayah Shangnan berdampak buruk pada kesehatan warga. Mereka hampir kehabisan bahan makanan, mereka kelaparan. Sepertinya tahun ini mereka tidak bisa membayar pajak, Yang Mulia," lapor pejabat tersebut lalu kembali membungkuk.
Sebelum Li Yun Zhu berkata, beberapa pejabat istana tampak berdiri dan turut bersujud di hadapan Li Yun Zhu.
"Yang Mulia, kekeringan di wilayah Haonan juga sama parahnya. Mereka terkena dehidrasi karena aliran sungai Ohan akhir-akhir ini berhenti mengalir. Untuk mendapatkan air, mereka harus membeli pada suku Chang'o yang berjualan air. Terkadang mereka harus berebut, ada juga yang tidak kebagian air karena tidak memiliki uang," lapor pejabat tersebut dengan serius.
"Benar Yang Mulia. Wilayah-wilayah di bagian pesisir Meng sudah mulai mengalami dampak kekeringan tersebut. Mereka tidak bisa bercocok tanam, mereka tidak bisa menikmati aliran sungai Ohan yang lambat laun juga turut mengering. Mohon kebijaksanaan Yang Mulia," imbuh penjabat berbadan gemuk seraya bersujud.
"Mohon kebijaksanaan Yang Mulia," seru seluruh anggota istana sembari bersujud di hadapan sang raja.
Li Yun Zhu menghela napas, ia mengangkat tangannya sekali lagi. Menatap wajah rakyatnya, Li Yun Zhu merasa khawatir. Jika kekeringan terus-menerus terjadi maka bangsa Meng akan punah dan dicatat sebagai bangsa yang gagal.
"Kanselir Yu, bagaimana pendapatmu? Apakah kau memiliki saran untuk menanggulangi kekeringan ini?" tanya Li Yun Zhu seraya menatap ke arah Kanselir Yu.
Membungkuk hormat, Kanselir Yu mengemukakan pendapatnya.
"Yang Mulia, wilayah kita mengalami kekeringan hampir berpuluh-puluh tahun lamanya. Sampai saat ini belum ada solusi terbaik selain memasok air dari suku Chang'o. Harga air yang semakin mahal sepertinya anggaran kita hanya akan habis untuk membeli air Yang Mulia," ucap Kanselir Yu dengan hati-hati.
Menyipitkan mata, Li Yun Zhu terlihat sangat sedih. Suku Chang'o berada di wilayah Kerajaan Meng namun hanya suku tersebut yang dianugerahi hujan berlimpah dan tanah yang subur. Sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga air hujan pun tidak mau turun ke wilayah Meng selain suku Chang'o.
"Kanselir Yu, apakah kau tahu alasan kenapa air hujan hanya bisa turun di atas langit suku Chang'o? Kenapa air hujan tidak pernah sekalipun menetes di atas wilayah Meng yang lainnya? Apakah rakyat tidak pernah mengadakan ritual meminta hujan?" tanya Li Yun Zhu tegas sembari menatap mata kanselirnya.
"Yang Mulia, suku Chang'o memiliki seorang gadis titisan dewi hujan. Itulah kenapa suku Chang'o selalu diberkati hujan secara terus-menerus," jelas Kanselir Yu sambil membungkuk hormat.
"Kalau begitu kenapa kita tidak mengundangnya untuk memanggil hujan di wilayah Meng? Berapa pun harganya aku akan membayarnya," ucap Li Yun Zhu dengan serius.
"Yang Mulia, Kerajaan Meng berseteru dengan suku Chang'o. Karena sebuah kesalahan di masa lalu, suku Chang'o tidak bisa disentuh siapapun tak terkecuali Kerajaan Meng," ujar Kanselir menjelaskan.
Li Yun Zhu terdiam cukup lama, ia lantas beranjak berdiri si hadapan penjabat dan menteri Kerajaan Meng.
"Jika demikian maka hari ini aku akan datang ke suku Chang'o untuk meminta maaf atas keteledoran masa lalu. Aku akan meminta bantuan sang gadis titisan Dewi Hujan untuk memanggil hujan di Wilayah Meng," tegas Li Yun Zhu bersikeras.
"Yang Mulia..."
"Tidak peduli bagaimana anggapan mereka, aku sebagai raja sah di Kerajaan Meng akan tetap mengusahakan air untuk rakyatku. Kekeringan ini harus segera berakhir."
****
"Nona, berhentilah bermain air!" teriak Rui Yen pada nonanya yang masih bermain air dengan riang. Gadis yang diberi peringatan hanya menatap Rui Yen seakan meremehkan, dia kembali memainkan air dengan kedua tangannya yang putih bak pualam.
"Nona sudah waktunya Anda pulang, jika Tuan Su Murong tahu Anda bermain air di sungai, beliau akan murka dan menghukumku," keluh Rui Yen seraya bersungut.
"Rui Yen jangan rewel! Sebentar lagi aku akan keluar dari air. Jika kau bosan, kau bisa ikut masuk ke dalam air dan bermain denganku. Ayolah!" ajak Su Yu Er dengan gembira, sesekali gadis itu memercikkan air ke wajah Rui Yen.
Rui Yen hanya menggeleng tak mengerti, entah sampai kapan ia harus bersabar menangani nonanya ini.
"Nona Su, jangan bermain-main lagi. Mari kita pulang. jika Anda terlambat pulang, bukan hanya Ayah Anda tapi suami-suami Anda juga akan marah," khawatir Rui Yen sambil menatap Nonanya yang masih asyik berenang dan bermain air.
"Jangan menyebut Su Li Jong dan Su Moran sebagai suami-suamiku! Mereka hanyalah saudara-saudara kandungku," tegas Su Yu Er tidak senang.
"Nona, kalian sudah dinikahkan berarti kalian sudah sah menjadi suami istri. Sudah selayaknya peraturan adat Chang'o, seseorang boleh mengambil saudaranya sendiri untuk menjadi pasangan hidup," ucap Rui Yen menjelaskan.
Su Yu Er menghentikan tingkahnya bermain air, tiba-tiba ia menepuk air dengan sangat keras. "Bagaimanapun aku hanya dijodohkan dengan saudara kembarku. Ramalan itu sepertinya ngawur!"
"Nona jangan marah, Ayah Anda sendiri yang meramal tangan Anda. Tuan Su Murong pasti memiliki niat baik sehingga ia memberikan putra kembarnya untuk kau nikahi," ujar Rui Yen sekenanya.
Wajah putih Su Yu Er memerah. Ia kembali menepuk air berkali-kali hingga menyiprat kesana-kemari, Rui Yen yang terkena air hanya bisa berusaha menutupi wajahnya dengan lengan bajunya.
"Bagaimanapun mereka adalah kakakku dan bukan suamiku!" tegas Su Yu Er mengelak.
Rui Yen hanya tertawa kecil mendengar nonanya terus mengelak dari kenyataan. Setelah sekian lama bermain air, Su Yu Er keluar dari air dan berjemur sebentar di atas bebatuan sungai.
"Rui Yen, aku belum ingin pulang. Aku masih ingin di sini," keluh Su Yu Er seraya menoleh pada Rui Yen yang duduk di sampingnya.
"Kenapa tidak ingin pulang? Nona jika kau berlama-lama di sini, aku takut ada orang yang akan melihat penampilanmu," ujar Rui Yen kembali merasa khawatir.
"Kenapa seluruh keluarga Su menyembunyikan diriku? Kenapa aku tidak boleh keluar dalam waktu yang cukup lama? Ada apa dengan penampilanku? Aku memiliki anggota tubuh yang lengkap dan aku juga berwujud manusia," tegas Su Yu Er bernada marah.
"Nona, Anda istimewa. Lihat kulit dan rambut Anda, semua putih dan berkilau. Anda berbeda dengan kami. Anda adalah harta keluarga Su, mereka tidak ingin kehilangan Anda. Nona, mari kita pulang. Jangan sampai Tuan marah dan tidak mengijinkan kita pergi lagi," bujuk Rui Yen sembari memegang tangan putih Su Yu Er.
Gadis itu terdiam, ia hanya menurut pada bujukan Rui Yen. Mengenakan kembali jubah hitamnya, Su Yu Er berjalan beriringan dengan teman sekaligus pelayan pribadinya.
Selama perjalanan pulang, Su Yu Er dan Rui Yen berpapasan dengan beberapa orang berkuda. Mereka merapat ke tepian, memberi jalan pada pasukan kuda yang berderap sangat cepat.
"Rui Yen siapa mereka? Sepertinya mereka menuju ke rumah kita," tebak Su Yu Er menghentikan langkah.
"Ketiga pengendara kuda itu terlihat masih muda, sepertinya pelajar dari kota. Tapi untuk apa mereka datang ke tempat terpencil ini?" Rui Yen bertanya-tanya.
"Ayo segera pulang, sepertinya kita akan kedatangan tamu."
****************************************
****
Rombongan pria berkuda menghentikan laju kuda tepat di depan halaman rumah keluarga Su. Seluruh warga mulai tampak berkerumun ketika pria-pria tampan itu turun dari kuda dan menyapa sang tuan rumah.
"Maaf Tuan, apakah benar di sini adalah rumah keluarga Su?" tanya Li Yun Zhu dengan sopan pada pria tua yang kini tengah menghampirinya.
Raja kerajaan Meng mengenakan hanfu sederhana warna hitam, rambutnya diikat tinggi dengan tali seadanya. Pria itu tengah menyamar menjadi rakyat biasa demi mendekati keluarga Su.
"Benar, Anak muda. Siapa dirimu? Sepertinya kau seorang yang terpelajar," tebak Su Murong berdiri di hadapan Li Yun Zhu dengan tubuh kurusnya.
Li Yun Zhu menyipitkan bola mata, menelisik penampilan sederhana pria tua yang dianggap sebagai pimpinan suku Chang'o.
"Saya ada keperluan dengan Tuan Su Murong," ucap Li Yun Zhu lalu tersenyum dengan ramah.
"Kalau begitu masuklah ke dalam rumah. Kita bisa berbicara sembari meminum anggur," sambut Tuan Su Murong dengan hangat sembari menepuk bahu pria tersebut.
"Baik Tuan," patuh Li Yun Zhu segera masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarga Su.
Dengan diikuti beberapa pengawal setia, Li Yun Zhu memasuki rumah dan memilih duduk dengan tenang. Sepertinya keluarga Su begitu ramah dan tidak berbahaya, itulah kenapa ia memilih untuk menyingkirkan berbagai senjata dari tangannya.
"Anak muda, katakan apa keperluanmu?" tanya Su Murong ketika duduk tepat berhadapan dengan Li Yun Zhu.
Sang raja tersenyum samar, ia lalu menatap pria tua tersebut dengan tatapan ramah.
"Tuan Su, aku diperintahkan Raja Li Yun Zhu untuk-,"
TRANG.
Suara pedang mendadak diangkat dari sarungnya, seluruh keluarga Su yang turut hadir mendadak berdiri sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi. Hal itu membuat Li Yun Zhu merasa kaget luar biasa. Sebegitu sensitifnya-kah jika Suku Chang'o mendengar Kerajaan Meng?
Su Murong mengangkat tangannya, meredakan kemarahan pasukan suku Chang'o yang mendadak membara.
"Ayah, apa yang kau lakukan? Kita sudah tidak pernah menerima tamu dari Kerajaan Meng," tegas Su Li Jong marah.
"Benar Ayah! Sampai titik darah penghabisan, kami tidak akan menerima bagaimana raja terdahulu mereka membantai leluhur kita," imbuh Su Moran tak kalah kesal.
"Turunkan pedang kalian! Biarkan dia melanjutkan ucapannya," ucap Su Murong dengan tenang seraya menatap tajam ke arah Li Yun Zhu.
Raja Kerajaan Meng menghela napas ketika satu per satu dari mereka menurunkan pedang dan bersedia mendengar penjelasan darinya.
"Lanjutkan ucapanmu, Anak muda!"
"Aku diperintahkan Yang Mulia Li Yun Zhu untuk membawa titisan Dewi Hujan ke istana. Kekeringan yang panjang harus segera berakhir maka dari itu Raja Li Yun Zhu meminta bantuan pada keluarga Su akan kemurahan hatinya," ucap Li Yun Zhu lalu membungkukkan badan.
"Ayah, aku tidak bersedia jika ia membawa Su Yu Er pergi," sahut Su Li Jong pada ayahnya.
"Aku juga Ayah. Mereka pantas mendapatkan kekeringan panjang, itulah akibatnya jika tidak menghargai suku Chang'o. Kesalahan masa lalu tidak bisa ditebus oleh apapun," tegas Su Moran mengimbuhkan.
Su Murong masih saja terdiam, sepertinya ia tengah menimbang-nimbang jawaban apa yang pantas untuk ia katakan.
"Apakah kau tahu Anak muda, suku Chang'o memiliki perseteruan dengan Kerajaan Meng. Raja terdahulu telah membantai leluhur kami, bagaimanapun hal itu paling menyakitkan buat suku kami. Anak muda, kekeringan yang menimpa Kerajaan Meng adalah karma. Kami suku Chang'o tidak terlibat dalam hal ini jadi sampaikan pada rajamu, kami hanya rakyat kecil dan kami tidak memiliki titisan dewi tersebut," ujar Su Murong dengan serius dan hati-hati.
"Tuan Su, apakah kau tidak takut jika suatu hari nanti Raja Li Yun Zhu datang dan mengobrak-abrik sukumu dikarenakan kau telah menolak keinginannya?" pancing Li Yun Zhu seraya menyipitkan matanya.
"Sekuat apapun Kerajaan Meng, suku Chang'o tidak gentar. Katakan hal itu pada rajamu!" sahut Su Moran masih beringas.
Li Yun Zhu melirik sejenak ke arah Su Moran, dalam benaknya ia tengah menandai pria tersebut jauh di dalam hatinya.
Menghela napas berat, Li Yun Zhu membungkuk hormat sejenak. Jika ia menyerang karena emosi sesaat maka kedoknya yang berpura-pura sebagai rakyat biasa akan mudah terbongkar. Berdiri di tengah suku Chang'o jika tidak berhati-hati maka ia akan celaka sendiri.
"Baik Tuan Su, aku akan kembali ke istana dan melaporkan jawaban Anda. Terimakasih sudah bersedia menyambutku," pamit Li Yun Zhu tenang.
Pria berwajah rupawan itu segera berdiri, membungkuk dengan hormat ke arah ketua suku Chang'o, Su Murong.
Tak kalah hormat, pria tua tersebut membalas penghormatan Li Yun Zhu dengan membungkuk juga. Mereka bertatapan sejenak sebelum Li Yun Zhu keluar dari kediaman sederhana Keluarga Su.
Berjalan pelan keluar rumah, Li Yun Zhu mengabaikan beberapa pengawalnya yang bergumam karena kecewa. Tatapan mata pria itu membawa sejuta perasaan tak tertebak. Entah apa lagi yang harus ia rencanakan untuk mengakhiri kekeringan di wilayahnya.
Tatapan Li Yun Zhu beralih ketika ia berpapasan dengan sosok berjubah hitam. Jubah itu-,
Memori otak Li Yun Zhu mengingatkan pria 24 tahun itu akan peristiwa penyusupan beberapa tahun lalu di kediaman Naga Merah. Jubah itu hampir sama dengan yang dikenakan sosok tersebut.
Menoleh ke arah sosok yang didampingi wanita tersebut, perasaan Li Yun Zhu mendadak berdebar. Meski sang Sosok tidak menoleh ataupun memperlihatkan wajahnya, Li Yun Zhu yakin dan masih mengingat akan wajah perempuan tersebut.
"Yang Mulia, ada apa?" bisik salah satu pengawalnya ketika menyadari langkah Li Yun Zhu terhenti dan terus mengamati sosok tersebut.
"Ah...tidak apa-apa. Mari kita pergi!"
****
Sesampainya di istana Meng, wajah Li Yun Zhu terlihat mendung. Berjalan cepat menuju ke kediaman Naga Merah, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia pastikan.
Beberapa prajurit yang berjaga membungkukkan badan ketika mendapati Li Yun Zhu melewatinya. Pria itu terlihat ambisius, ia harus melihat jubah itu. Jubah hitam milik seorang perempuan yang telah berani mengambil kalung langsung dari lehernya.
Sesaat setelah sampai di depan kediaman Naga Merah, pria bermanik kelam segera membuka pintu dengan rasa tidak sabar. Pandangannya yang tajam hanya tertuju pada satu lemari dimana ia telah menyimpan jubah tersebut dan memutuskan untuk membungkam kasus penyusupan beberapa tahun lalu.
"Yang Mulia, apakah hamba bisa membantu Anda mencari sesuatu?" tanya pelayan setelah membungkuk hormat dengan wajah ketakutan.
"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri," instruksi Li Yun Zhu tegas. Para pelayan serentak membungkukkan badan lantas pergi dari hadapan Li Yun Zhu.
Sang Raja membuka lemari, mencari jubah hitam dibalik tumpukan pakaian-pakaiannya. Mata pria itu melebar, ia mengambil jubah hitam dari tempatnya dan memeriksanya sekali lagi.
"Jubah ini sama seperti yang dipakai sosok itu. Mungkinkah dia orang yang sama pada saat penyusupan kala itu?" gumam Li Yun Zhu pada dirinya sendiri.
Li Yun Zhu kembali mengamati jubah hitam. Terlintas di otaknya siapa sosok dibalik jubah tersebut, seorang perempuan dengan rambut yang bersinar di kegelapan. Bagaimana bisa wanita itu merampas kalung dari lehernya?! Kenapa wanita itu harus senekat itu demi mendapatkan kalung tersebut.
"Sepertinya aku harus segera menyelidikinya."
*****
Kedatangan tamu dari kota beberapa saat lalu membuat suku Chang'o sedikit menegang. Ancaman dari kota tidak bisa diabaikan apalagi diremehkan. Hal itu tidak berlaku untuk Su Yu Er, justru gadis itu dengan tenang memasuki kamarnya seolah tidak terjadi apapun.
Melepaskan jubah hitam yang menutupi tubuhnya, Su Yu Er tampak mengeluarkan beberapa biji buah-buahan yang ia kumpulkan dari semak-semak. Dengan hati-hati ia menaruh di meja, tanpa sepengerahuan ayahnya ia bisa makan buah dari semak-semak dengan leluasa.
Namun belum sempat ia memakannya, Su Li Jong masuk ke kamarnya tanpa permisi. Satu hal yang sangat ia tidak sukai dari kakaknya.
"Yu Er, apa yang kau lakukan?" tanya Su Li Jong sembari memeluknya dari belakang.
Karena goncangan yang hebat dari Su Li Jong, beberapa buah tersebut menggelinding jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuatku mati kehabisan napas?" ujar Su Yu Er seraya mencoba melepaskan diri dari pelukan sang Kakak.
Su Li Jong melepaskan pelukannya, ia lantas duduk di samping adiknya dan mengamati beberapa buah yang menggelinding jatuh ke lantai.
"Wah kau menyukai buah rasberry ya? Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" ucap Su Li Jong berbinar ketika mendapati buah Rasberry menggelinding ke arahnya. Tanpa rasa bersalah, ia mengambil buah itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Kakak, hentikan! Jangan makan buahku. Aku sudah bersusah payah menyembunyikannya dan kau justru datang hanya untuk memakannya," dengkus Su Yu Er sembari memunguti buah yang tersisa.
"Aku bisa mencarikannya untukmu," tawar Su Li Jong membuat tatapan Su Yu Er beralih ke arahnya.
"Dan kau akan membongkar kebiasaanku mencari buah secara diam-diam pada Ayah, iya kan?" sahut Su Yu Er mengandung rasa tak percaya.
Su Li Jong terdiam, ia menelan buah rasberry yang ia makan lalu meraih jemari adiknya. Mengamati sejenak tangan Su Yu Er yang penuh goresan akibat semar berduri, Su Li Jong menatap manik mata adiknya.
"Aku bisa memberikan buah Rasberry yang kau sukai sepanjang waktu tanpa harus ketahuan Ayah. Lihatlah tanganmu penuh dengan goresan duri," ucap Su Li Jong merasa khawatir ketika mengamati luka di tangan Su Yu Er.
"Sudahlah, keluarlah dari kamarku. Aku ingin beristirahat," ucap Su Yu Er seraya melepaskan genggaman tangan kakaknya.
Gadis itu berpura-pura memunguti buah yang jatuh dari meja namun Su Li Jong kembali meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Yu Er, aku menyukaimu."
Tatapan keduanya bertemu. Perasaan Su Yu Er mendadak tidak nyaman, gadis itu sebenarnya selalu menghindar dari kakak-kakaknya namun entah kenapa sepertinya waktu tidak pernah mendukung keputusannya.
"Yu Er aku benar-benar menyukaimu," ucapnya sekali lagi seraya menatap Su Yu Er begitu dalam.
Mengatasi rasa canggung dan tak ingin menyinggung perasaan kakaknya, Su Yu Er perlahan tersenyum manis. Gadis itu melepaskan perlahan tautan tangan kakaknya.
"Kakak, jangan menakutiku dengan mengatakan sayang secara berlebihan. Kita dilahirkan dari satu rahim, sudah sewajarnya jika kita saling menyayangi."
Su Yu Er lalu mengambil Rasberry, pura-pura mengamati agar terhindar dari tatapan mata Su Li Jong.
Pria itu menghela napas sedikit berat, "Kita sudah dinikahkan. Apa kau lupa?"
Su Yu Er terdiam, bibirnya bergetar karena merasa bingung harus menjawab seperti apa. Tangannya gemetar, ia sungguh tak mampu menawan rasa takut di dadanya.
"Yu Er, aku yakin kita sudah sama-sama dewasa. Ayah juga sudah menua dan tidak sekuat dulu lagi. Yu Er, aku harap kau membiarkan aku mengunjungimu lebih sering lagi," ungkap Su Li Jong pelan.
Wajah Su Yu Er merebak merah, ia sungguh tidak bisa menyembunyikannya. Perlahan Su Li Jong merapatkan duduknya, menyentuh wajah Su Yu Er dan menatap bola matanya yang indah.
"Yu Er, aku benar-benar menyukaimu. Benar-benar mencintaimu," bisik Su Li Jong seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan Su Yu Er.
Gadis itu menegang, ia tidak bisa menerima ciuman kakaknya dengan alasan apapun.
" Su Li Jong, beri aku sedikit kebebasan. Bagaimanapun aku adalah adikmu. Jangan memaksaku atau aku akan pergi dari hidupmu."
Su Li Jong menghentikan dirinya, ia mengurungkan niat untuk mencium adiknya. Menghela napas, Su Li Jong kembali berbisik, "Ya, aku mengerti."
**********************