"Regan, hentikan!" teriak papanya.
Suasana menjadi hening seketika, saat aksi Regan terhenti dengan teriakkan papanya yang keluar dari kamar bersama sang istri.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Di alam buta seperti ini pun kalian masih berkelahi seperti anak kecil. Apa kalian sudah tidak waras?" hardik papa. Mas Raja dan Regan hanya saling diam tanpa menjawab pertanyaan papanya.
"Raja, bukankah ini malam pengantinmu? Kenapa malah berkelahi dengan adikmu, dan kamu Regan! Baru pulang dari rumah sakit sudah main pukul saja. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua? Ada yang bisa jelasin sama Mama?" Dengkus mamanya kesal. Kedua anak kesayangannya saling berkelahi.
"Tanya sama anak kesayangan Mama ini. Apa yang sudah dia lakukan pada istrinya. Dia menjatuhkan talak dan mengusir kakak ipar di malam pertama," tukas Regan. Tangannya berkacak pinggang sembari mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.
Baju jas dokter yang Regan kenakan sudah terlihat kusut dan dibuang ke sembarang arah. Dalam pernikahan kami Regan tidak dapat menghadiri karena ada tugas yang mendadak dari rumah sakit.
Ada pasien mengalami kecelakaan bus, semua penumpang mengalami luka parah. Pihak rumah sakit kewalahan dalam menangani korban kecelakaan sehingga memanggil dokter Regan Erlangga.
Dokter Regan Erlangga sudah mengajukan cuti selama dua hari untuk mempersiapkan pesta pernikahan abangnya-Raja. Tapi, mendadak pihak rumah sakit menghubungi dokter Regan karena ada korban kecelakaan sebanyak seratus dua puluh orang dalam bus pariwisata.
Tenaga medis sudah dikerahkan untuk membantu para korban kecelakaan, namun para dokter tidak cukup untuk menangani para korban kecelakaan. Maka dokter Regan pada saat akad nikah langsung ditelepon pihak rumah sakit untuk segera datang.
"Raja!" seru papanya. "Apa benar yang dikatakan adikmu Regan?"
Mas Raja menunduk lesu tanpa menjawab.
"Raja!" hardik papanya. "Jawab pertanyaan Papa barusan. Apa benar yang dikatakan adikmu-Regan?"
"Be … benar, Pa," jawab Mas Raja terbata-bata. Bibirnya bergetar mengucapkan kalimat.
Papa dan mamanya yang mendengar jawaban Mas Raja membelalakkan mata, mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Kenapa, Nak?" tanya mamanya penasaran. Wanita cantik itu mendekat ke arah Mas Raja.
Mas Raja terdiam.
Satu detik ....
Dua detik ....
Tiga detik ....
Di menit keempat barulah dia bersuara lantang.
"Istriku tidak suci, Ma, Pa. Dia sudah membohongiku di malam pertama," jawab Mas Raja datar.
Deg!
Jantungku terasa berhenti berdetak, ada rasa nyeri yang meremas dada ini saat mendengar ucapan dari pria tinggi jangkung itu, belum dua puluh empat jam resmi menjadi suami.
"Apa?" teriak papa dan mamanya kaget.
Kini pandangan keduanya mengarah kepadaku penuh selidik, seperti terdakwa yang menunggu vonis mati. Aku disidang sembari menunggu keputusan hakim.
"Zahra, bisa kamu jelaskan semua ini?" tanya mama mertua gusar. Seakan belum puas mencari jawaban, wanita paruh baya itu mendesakku dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Jawab, Zahra!"
Aku menunduk meremas ujung hijab ini, bibir gemetar, lidahku kelu untuk membantah kalimat yang dilontar lelaki yang baru saja resmi menjadi mantan suami.
"Bohong, Ma, Pa. Itu semua tidak benar. Aku masih suci. Wallahi … apa yang dituduhkan Mas Raja itu semua tidak benar," bantahku. Cairan bening yang tadi aku tahan akhirnya menetes juga menodai kedua pipi. Ada rasa panas yang mengalir membasahi wajah.
"Zahra!" Seru Mas Raja. "Jangan bawa-bawa nama Allah! Aku jijik mendengarnya dari mulutmu itu. Kau tak ubahnya perempuan murahan di pinggir jalan yang dibaluti busana tertutup tapi mengobral sana-sini," tandasnya.
Ser!
Sekali lagi derajatku jatuh di mata kedua orang tuanya. Seorang suami biasanya akan menjadi pelindung bagi istri, tapi Mas Raja malah menjatuhkan harga diri ini di depan keluarganya. Sakitnya tuh di sini!
"Atas bukti apa abang mengatakan kalau kakak ipar sudah tidak suci?" tanya Regan menyela.
"Di malam pertama aku melakukan hubungan pada Zahra tidak ada selaput dara mengeluarkan darah keperawanan. Seharusnya kalau memang dia masih suci pasti akan mengeluarkan itu saat kami melakukannya," jelasnya dengan secara gamblang.
Cih. Regan berdecak memandang wajah abangnya. Matanya yang seperti elang memandang jijik ke arah saudara kandungnya.
"Tidak semua gadis mempunyai selaput dara, Bang saat terjadi robekan. Darah keperawanan itu tidak diukur dengan literan, biasa terjadi pada wanita yang rawan selaputnya tipis karena pernah mengalami kerusakkan hingga menyebabkan terjadi sobekkan. Itu tidak bisa dijadikan fakta kalau kakak ipar tidak suci," jelas Regan. Faktanya seorang dokter lebih mengetahui daripada seorang awam.
Mas Raja menunduk diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya, rasa bersalah kab? Atau hanya sekedar mencari alasan untuk menolak ku karena adanya wanita lain. Setelah dia puas melampiaskan malam pertama bersamaku. Entahlah ... Aku tidak ingin berburuk sangka.
"Mas, percayalah padaku! Aku masih suci. Aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki mana pun. Aku selalu menjaga kehormatan dan menutup auratku demi mempersembahkan mahkotaku untukmu," isakku sembari memeluk lutut Mas Raja.
"Maaf, Zahra. Aku tidak bisa mengubah keputusanku. Apa yang aku ucapkan tidak mungkin aku tarik kembali," tegasnya. Tubuhku ambruk luruh ke lantai, sekejam itu Mas Raja mencampakan. Seperti habis manis sepah dibuang.
Mama dan papanya menjadi bingung dalam menangani masalah yang terjadi pada anak-anaknya. Di satu pihak adalah darah dagingnya sendiri, dan disisi lain ada menantu yang belum sehari resmi disandang.
"Raja, apa kamu tidak bisa mempertimbangkan masalah ini lagi, Nak? Belum sehari kalian menikah sudah bercerai. Mau dikemanakan harga diri ayahmu ini, Nak?" wajah Papa Erlangga memelas.
"Nak, benar apa yang diucapkan papamu. Kasihan Zahra. Dia anak yatim-piatu. Tolong pertimbangkan kembali keputusanmu!" ucap mamanya sembari mengelus pucuk kepala. Tangis ini seketika pecah dalam pelukkan mama mertua yang masih terbilang muda, meski umurnya menjelang separuh baya.
Perempuan yang berkulit putih bersih dan berhidung bangir itu membelaiku lembut. Sementara Regan sudah menjelaskan panjang lebar tentang kerusakan selaput dara akibat sobekkan atau kecelakaan. Ini membuktikan kalau wanita tidak bisa diukur kesuciannya akibat robeknya selaput dara.
"Bang Raja, kamu adalah seorang polisi, mestinya lebih tahu karena tugasmu di lapangan memeriksa kondisi korban. Apa begini seorang perwira dalam melindungi masyarakat yang lemah?" Regan mendengkus.
"Diamlah, Regan! Semua bukan urusanmu. Kalau kau mau ambil saja Zahra menjadi istrimu!" pungkas Mas Raja sembari masuk kedalam kamar dan membanting pintu dengan kuat. Hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
Brugk.
Suasana kembali hening. Hanya suara dentingan jarum jam yang berputar searah terdengar nyaring. Bahkan hiasan pesta dan juga umbul-umbul yang terpasang belum juga lepas dari pelaminan. Tapi, aku sudah ternoda lantas dicampakkan seperti sampah yang berbau busuk.
"Zahra, maafkan Mama, Nak. Mama, tidak bisa membantumu dalam masalah ini. Kamu yang sabar ya. Besok Mama akan membujuk kembali Raja agar mau membatalkan talaknya padamu?" Bisik mama mertua sembari memeluk tubuh ini. Aku terisak dalam dekapan ibu mertua yang begitu baik.
Sedari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua. Bahkan tidak tahu siapa mereka yang sudah menyebakanku lahir ke dunia. Mereka hanya meninggalkan kertas yang mengatakan namaku dan juga nama Ayah dan ibuku, pada tengah malam diletakkan di depan panti asuhan milik Ibu Ayesha.
Entah siapa yang tega meninggalkanku dengan keadaan kedinginan dan kelaparan, aku hanya terbungkus kain bedung yang tipis serta diletakkan dalam kardus bekas.
"Zahra," tepukkan halus di pundakku menyadarkan dari lamunan. Aku menoleh ke arah Mama Renata-ibu mertuaku.
"Ya, Ma," sahutku lembut.
"Tidurlah di kamar tamu. Hari sudah larut malam. Besok kita akan bicarakan masalah ini kembali. Siapa tahu suamimu Raja berubah pikiran dan menarik ucapan talaknya kembali," tukas mama mertua.
"Kakak ipar, jangan khawatir. Aku akan bantu penjelasan secara kedokteran pada Abang Raja. Besok datanglah kerumah sakit untuk pemeriksaan sebagai bukti kalau tuduhan Raja itu salah." Regan memberi titah.
Aku memandang ke arah mama mertua untuk meminta pendapatnya. Alhamdulillah … wanita itu mengangguk setuju dengan usul Regan-adik iparku.
"Mama mendukungmu, Nak," ucap mama mertua sembari mendongakkan dagu. Aku yang sedari tadi menunduk hanya bisa pasrah tanpa berani menatap wajah orang disekelilingku.
"Ayo, Ma kita masuk! Lanjutkan masalah ini besok saja. Papa sudah sangat lelah ingin beristirahat," ucap Papa Erlangga. Mama kemudian berpamitan padaku untuk masuk ke kamarnya.
"Zahra Sayang, maaf Mama harus kembali ke kamar. Kamu pergilah tidur di ruang tamu dengan diantar Regan di lantai atas. Mama dan Papa sudah mengantuk ingin merebahkan badan," tandas mama mertua yang baik hati. Seraya meninggalku yang masih duduk terkulai di lantai.
Regan kemudian menghampiri dan membantu berdiri. Seketika pandanganku beradu dengan manik matanya yang hitam pekat.
Brugk.
Begitu aku berdiri dibantu Regan pandangan tiba-tiba menjadi gelap. Selanjutnya aku tidak tahu apalagi yang terjadi dengan diri ini. Hanya samar terdengar Regan memanggil namaku sembari menepuk halus kedua pipi.
"Kakak ipar, bangunlah! Kakak ipar!" berulang kali Regan terdengar samar menyebut namaku. Akhirnya Regan menggendong tubuh ini, lalu masuk kedalam kamar tamu merebahkanku di sana.
***
Keesokkan harinya aku terbangun karena aroma kopi yang tersedia di atas nakas terletak sebelah ranjang. Aku memang pencinta kopi apalagi kopi yang dicampur dengan susu membuatku candu, aroma kopi menyeruak memenuhi cuping hidung.
Saat mataku mengerjap, aku melihat Regan sudah ada di samping tersenyum sembari membawakan nampan berisi sarapan. Regan meletakan sarapan di atas nakas atas perintah ibu mertuaku. Sarapan roti yang diisi selai kacang mengeluarkan aroma makanan membuat perut terasa lapar.
"Pagi kakak ipar! Sudah bangun?" tanya Regan mengulas senyum. Dia duduk di sofa setelah meletakan nampan yang dibawanya.
Aku beringsut bangkit hendak menyambutnya, namun keseimbangan belum sepenuhnya kembali hingga mengakibatkan badanku hampir terjatuh. Untung Regan segera menangkap tubuhku, menahanya dengan gerakkan cepat hingga tidak sampai menyentuh dinginnya lantai.
Pada saat kejadian itu tiba-tiba Mas Raja datang masuk ke kamar yang tidak dikunci. Dia terperanga melihat Regan memelukku sembari menahan tubuh ini yang hampir menyentuh ubin.
"Regan?!"
***
Bersambung.
"Regan," seru Mas Raja ternganga. Regan menahan bobot tubuhku yang hampir setengah meter menyentuh lantai granit berwarna krem.
Sontak Regan menarik tangan ini untuk berdiri dengan tegak. Ada tatapan elang yang seakan siap memangsaku dalam tiap pandangan Mas Raja. Aku ibarat korban yang siap diterkam tepat sasaran. Kurapikan baju daster yang tadi agak berantakan dan juga rambut yang terlihat acak-acakkan.
Keadaan jauh dari kata rapi, baru saja bangun tidur, nyawa pun belum kembali sepenuhnya ke raga. Tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Regan yang mengantarkan sarapan atas titah mama mertua.
Dimata Mas Raja terlihat api cemburu, seolah mengatakan ketidakrelaan melihat mantan istrinya disentuh pria lain. Ini hanyalah tragedi tanpa sengaja dan tanpa adegan yang dibuat-buat, tapi murni kecelakaan.
"Ma … Mas Raja," jawabku gugup. Kugigit bibir bawah untuk menetralkan degup jantung ini, sedangkan Regan bersikap santai seolah tidak terjadi apa pun barusan.
"Berani sekali kau menyentuh Zahra, Regan. Apa-apaan ini?" nada kalimat Mas Raja sedikit meninggi kepada Regan, sementara dia hanya tersenyum miring.
"Kenapa, cemburu?" tanyanya santai. Wajah Mas Raja seketika berubah merah padam mendengar kalimat yang barusan didengar.
"Tidak. Aku hanya tidak suka kau menyentuh Zahra," jawabnya berbohong.
Regan kembali tersenyum miring. Kedua lesung pipinya yang mirip Afgan terlihat melengkung, sudut bibirnya membentuk senyuman manis. Pria berlesung pipi dan berkumis tipis itu berkacak pinggang menghadap Mas Raja.
"Bukankah kemarin abang tak sudi melihat Zahra, kenapa masih emosi melihat kami bersama." Regan berkata dengan nada sindiran.
Tangan Mas Raja terlihat mengepal, giginya terdengar gemeretak saling beradu sama lain, dadanya turun naik menahan sesak. Dia tidak terima dengan sikap Regan yang langsung tutup poin.
"Regan!" seru Mas Raja. "Jaga sopan-santunmu kalau bicara! Aku lebih tua darimu. Apa begini caranya seorang dokter menjaga sikap?" teriak Mas Raja geram. Nada bicaranya naik satu oktaf.
"Jangan mengajari sopan-santun, Bang. Kalau dirimu saja tidak menghormati wanita apalagi istrimu," sahut Regan tak mau kalah. "Usia tidak menjadikan patokkan untuk mengajarkan tata krama."
"Cukup, Regan! Kau sudah melukai harga diriku sebagai seorang laki-laki," dengkus Mas Raja.
"Harga diri yang mana membuatmu terluka? Harga diri sebagai seorang perwira polisi? Atau sebagai seorang pria bodoh hah?" cibir Regan. Kedua kakak beradik itu saling adu mulut, hingga pertengkaran tidak dapat dihindari.
Mas Raja memukul wajah Regan dengan kepalan tinjunya, sudut bibir Regan meneteskan darah akibat pukulan tinju kakaknya. Soal kekuatan Mas Raja mempunyai tubuh atletis, dia seorang perwira polisi yang dituntut untuk menjaga bentuk tubuh.
Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta bila melihat bentuk tubuh Mas Raja yang berotot. Tangan kekar, dada bidang serta tenaga yang kuat, wajahnya juga tampan, dan berkulit putih bersih, beralis tebal bagai semut beriring.
"Regan! Jangan memaksaku untuk melakukan kekerasan padamu." Mas Raja menaikkan nada bicaranya lagi. Tangannya dengan kasar meraih kerah baju Regan, menariknya, dan mencekram kuat.
Aku takut perkelahian kedua kakak beradik itu akan mulai lagi, namun apa dayaku tidak bisa memisahkan dua bersaudara yang kini terbakar emosi.
Baru saja Mas Raja akan melayangkan tinjunya kembali, papanya datang dengan satu teriakan, kedua kakak beradik itu saling bertatapan.
"Hentikan, Raja! Jangan buat keributan di rumah ini!" ucap papanya berteriak. Kedua pria itu pun saling diam dan menundukkan wajah. Tidak ada yang berani menatap wajah sang ayah.
Hening.
Tidak ada satu pun yang mulai bicara untuk menimpali papanya, kami sama-sama diam dalam pikiran masing-masing. Jantungku semakin berdetak dengan kencang kala melihat wajah pria paruh baya itu memerah.
Dua anak dari pasangan Erlangga dan Renata sama-sama mempunyai sifat keras kepala. Mas Raja mempunyai sifat keras dan disiplin karena hasil didikan dari militer, sedangkan Regan mempunyai watak yang lembut, dan penyayang. Karakter keduanya jauh berbeda bagai langit dan bumi.
"Apa yang kalian lakukan? Malam berkelahi, pagi bertengkar. Papa pusing melihat kakak-beradik tidak mau akur." Papanya menatap satu-persatu kedua anaknya secara bergantian.
Kembali Mas Raja menundukkan wajahnya, di hadapan sang ayah. Dia selalu tunduk dengan aturan ayahnya meskipun seorang perwira tertinggi di barisan pangkat polisi.
Menjalani hidup sebagai seorang militer membuat didikkan Mas Raja keras, sikap Mas Raja berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Regan.
"Kenapa diam? Apa kalian tidak punya mulut untuk bicara? Regan, Raja, jelaskan pada Papa apa yang kalian lakukan berdua di kamar Zahra." Papanya berkata setengah berteriak, memandang kedua pria yang masih bergeming.
"Maaf, Pa. Aku hanya ...." Mas Raja menggantung kalimatnya.
"Hanya cemburu, Pa," potong Regan cepat.
Kening Mas Raja seketika berkerut mendengar ucapan Regan, wajahnya mendadak berubah merah seperti tomat masak. Aku menoleh ke arah mantan suamiku itu.
"Ayo kita keluar sekarang dari kamar Zahra! Kita bicarakan masalah ini di ruang keluarga bersama Mama," ucap Papanya disertai kedua anaknya keluar. Aku memilih diam di kamar sembari membersihkan diri, dan berganti pakaian sebelum menemui mereka, mungkin ayah mertua ingin memberi pelajaran kepada kedua anak lelakinya.
Di ruang keluarga papanya sedang menyidang kedua putranya. Seperti terdakwa yang tervonis hukuman, wajah kakak beradik itu hanya menunduk tanpa berani menatap pria yang duduk dengan tegap.
Ayahnya berdiri berkacak pinggang, menatap satu persatu putra kesayangannya secara bergantian tanpa berkedip.
"Raja, Regan! Dengarkan Papa bicara baik-baik! Papa, tidak ingin mendengar lagi ada keributan dirumah ini. Kalian Papa besarkan dan didik bukan untuk menjadi pengecut, dan terlebih lagi kau Raja ...." Papanya menuding ke arah Mas Raja.
Langsung saja, Mas Raja bangkit dan berdiri menghadap papanya. Dia tidak terima dituduh membuat keributan.
"Ini semua gara-gara Regan, Pa. Kalau saja dia tidak menyentuh Zahra, maka tidak akan terjadi pertengkaran ini," sahut Mas Raja.
"Regan, apa benar yang dikatakan Raja?" tanya papanya penasaran.
"Bohong, Pa," bantah Regan. Sontak Regan berdiri menghadap menatap kakaknya, ada rasa tak suka melihat Mas Raja menuduhnya.
"Kamu yang bohong, Regan. Kamu telah dengan sengaja menyentuh Zahra yang jelas-jelas bukan muhrim," tandas Mas Raja. Nada suaranya berubah ketus.
"Itu semua fitnah, Pa. Raja berbohong," potong Regan.
"Benar, Pa," tuding Raja. "Aku menyaksikan dengan kepala, mataku sendiri."
"Fitnah," kilah Regan.
Ayahnya yang mendengarkan kedua anak kebangaanya saling menuding seketika menjadi geram. Regan terus saja didesak dengan tudingan Mas Raja tanpa alasan dan bukti yang kuat.
"Diam! Di sini Papa yang berhak bicara, bukan kalian," dengkus papanya. Suasana yang tadi keruh kini kembali hening.
Aku yang mendengar teriakkan papa mertua, segera keluar dari kamar setelah membersihkan diri dan memakai pakaian yang sopan menghadap mantan suami, papa serta adik iparku.
Aku memakai baju gamis berwarna putih dengan renda di bawahnya berwarna biru. Begitu juga dengan hijab yang aku pakai senada dengan yang dikenakan. Begitu keluar dari kamar dengan pakaian rapi, Mas Raja seketika dengan susah payah menelan salivanya. Dia tertegun melihatku anggun, berjalan dengan gemulai di hadapannya.
"Raja, kamu bukan lagi anak kecil yang harus dinasehati setiap kali bersalah. Keputusan semua ada padamu," ucap papanya kemudian. "Zahra, kemarilah!"
Papa mertua memintaku untuk mendekat padanya, aku duduk di hadapan pria paruh baya yang terlihat masih gagah, berjarak setengah meter dari Mas Raja. Sofa empuk yang berbusa tebal menjadi sandaran tempat duduk menahan bobot tubuh ini.
"Ya, Pa," jawabku pelan. Kuremas jari-jemari yang saling bertautan untuk menetralkan desiran dalam dada.
"Raja, putuskan sekarang juga apa yang kamu inginkan dalam hidupmu. Batalkan talak kepada Zahra! Papa tidak ingin kamu menjadi laki-laki yang pengecut. Meninggalkan seorang wanita setelah menghabiskan malam pertamanya," tukas papanya. Wajah Mas Raja terlihat tegang.
"Tidak, Pa. Keputusanku tetap sama. Hari ini juga aku menjatuhkan talak kepada Zahra. Aku menolak Zahra kembali sebagai istriku." Mas Raja berkata dengan nada tinggi.
Deg. Kuremas dada yang terasa sesak dan sakit bagai ditusuk ribuan belati. Cairan bening ini luruh seketika menodai pipi, kata-kata talak yang kudengar kemarin bukanlah mimpi. Kali ini aku dengan jelas mendengarnya kembali, Mas Raja sudah menolak sebagai istri yang sah dan menjatuhkan talak hanya karena satu alasan.
Dia menuding, aku gadis yang tidak suci, ini lebih menyakitkan daripada ditikam dengan sebuah pedang yang tajam. Mengatakan aku telah berkhianat atas cintanya, seolah ada yang lain selain dirinya.
Aku bangkit dari tempat duduk dan menatap separuh jiwaku yang telah pergi. Dulu, wajah itu selalu kurindukan, namun sekarang aku membencinya. Sangat membencinya.
"Terima kasih sudah mencintaiku walau hanya sesaat, Mas. Terima kasih karena sudah memberiku kebahagian meski itu cuma sebentar. Aku ikhlas menerima talak mu. Aku sabar dengan lapang dada," ucapku lirih. Kembali cairan bening ini mengalir, air mata ini turun begitu saja membasahi pipi.
Sudah ku usahakan agar tidak kelihatan lemah di hadapan Mas Raja. Aku menguatkan hati ini seperti karang yang kokoh di lautan. Bahkan rasa cinta pun sedang ku semen agar tidak lagi bocor, tapi perempuan memanglah makhluk yang paling lemah.
Sekuat apa pun aku menahan rasa sakit tetap diri ini lemah, terlebih bila wanita menangis karena terluka, dan kecewa. Wajar aku patah hati jika disakiti.
"Raja!" seru Regan. "Tega sekali abang menjatuhkan talak kepada Zahra yang belum resmi menjadi istrimu dalam waktu dua puluh empat jam."
Mas Raja menghela nafas dan menghembuskan secara kasar. Dia mengusap wajahnya frustarasi.
"Kalau kamu mau … nikahi saja Zahra! Aku tidak menginginkannya lagi," dengkus Mas Raja.
Mas Raja mengatakan tanpa menghiraukan perasaanku saat ini. Tidak kusangka dia begitu tega melemparku sama seperti barang mainan yang sudah bosan dimainkan, lalu dicampakkan ke tempat sampah.
Bugk.
Regan memukul wajah Mas Raja dengan satu kepalan tinju. Tubuh pria tinggi tegap itu langsung jatuh ke lantai dengan wajah yang lebam.
"Kau kira Zahra barang mainan? Bisa seenak hatimu dilempar setelah bosan kau mainkan!" hardik Regan. Dia melampiaskan kekesalan kepada Mas Raja, marah, dan emosi.
Mas Raja berusaha bangkit ingin membalas pukulan Regan. Aku dengan sergap menghalanginya, hingga pukulan itu tepat mengenai sasaran ke wajahku.
"Hentikan, Mas!" teriakku. Sialnya pukulan Mas Raja sudah tepat mengenai sasaran. Sesaat kemudian pandangan ini menjadi buram, lambat-laun sekitarku menjadi gelap gulita seperti ruang hitam.
"Zahra!" teriak Regan.
***
Bersambung.