"Bun, Ai tadi bangunin kakak pake nampar tau." Diwana mengadu sambil memegangi pipi kanannya yang sebenarnya tidak sakit juga, hanya berpura-pura agar adik jahilnya itu setidaknya dimarah sang bunda. Ia bahkan tidak tahu kalau sebenarnya bukan pipi kanan melainkan pipi kirinya yang ditampar Aiden.
"Aiden.. udah gede kok masih jahil?" ucap bunda yang tangannya sibuk mengaduk-aduk krim sup buatannya.
"Dengerin tuh" Diwana menjulurkan lidah penuh kemenangan.
"Loh loh loh kok gue yang salah sih. Lo aja yang ngigau lagi. Bunda tau kan kalo kakak udah teriak-teriak sambil tidur tuh serem banget." Si bungsu membela diri.
"Bilang apa barusan? Gua gue gua gue? Udah dibilangin kan jangan pake lo-gue ke kakak ih. Kayak si Junio itu loh, Dek. Udah cakep, baik, sopaaan banget sama kakak, pinter, rajin, ganteng lagi. Duh paket komplit banget, adek idaman semua abang pokoknya."
Junio adalah tetangga keluarga Diwana yang sekaligus teman Aiden sejak mereka pindah ke rumah yang sekarang ditinggali sekitar enam tahun silam.
"Jeje terus.. Dimana-mana tuh biasanya ibu-ibu yang banding-bandingin anaknya sama anak tetangga. Bunda aja diem aja masa situ yang ribet. Eh, toh aku juga lebih suka Bang Tama tuh."
Tenang, Aiden tidak pernah tersinggung sedikitpun dengan ucapan kakaknya tentang Junio. Karena kalau kata Aiden, love language ala Diwana memang dengan mengomel. Mungkin ia akan lebih sedih kalau kakaknya itu tiba-tiba berhenti meledeknya.
Bunda pun hanya tersenyum melihat tingkah keduanya, pemandangan yang sangat kelewat lumrah. Justru sepi kalau tidak ada cekcok diantara kakak beradik itu, pikir Bunda.
"Ngeles mulu punya adek satu," ucap Diwa sambil memasukkan satu potong besar toast berselai kacang kemulutnya.
Ketiganya kini duduk di meja makan menghadap piring masing-masing yang sebentar lagi terisi penuh dengan makanan. Pagi itu sama seperti agenda rutin hari minggu mereka, sarapan pagi bersama yang selalu disempatkan ditengah kesibukkan masing-masing.
Bunda dengan tugasnya sebagai perawat senior di klinik rawat inap setempat, Diwana dengan kesibukannya sebagai manager divisi keuangan di kantor sahabatnya sendiri-Theo-atau biasa dipanggil Tama, dan Aiden yang... sibuk meyelesaikan skripsi ditahun kelimanya sebagai mahasiswa. Atau lebih tepatnya disemester yang genap kesepuluh, sampai-sampai Diwa menambahkan predikat khusus untuk nama tengahnya, Aiden Mahasiswa Abadi Ryu Lazuardi atau biasa disingkat Aiden Mabadi Ryu Lazuardi.
"Pacaran sambil organisasian aja mampu, masa kuliah nggak selesai-selesai sih, Dek? Kalo tahun ini nggak bisa lulus juga, kakak beliin kamu kambing pokoknya." Begitu kira-kira kalau Diwa mengejek sekaligus mengancam si bungsu.
"Dek-" Kalimat Diwa terhenti saat Aiden tiba-tiba memotongnya.
"Belum selesai, Kak. Mau nanyain skripsi aku kan? Belum selesai, mungkin satu atau dua kali lagi revisiannya baru bisa cari tanggal sidang."
"Pelan-pelan ih ngomongnya, takut kesedak ntar kamu, Dek. Orang kakak nggak mau nanyain itu kok." Diwana menyodorkan segelas susu dan langsung disambar Aiden yang memang hampir saja tersedak sepotong kentang goreng.
"Yaa kirain, soalnya Lo itu-Aww SAKIT KAK.." teriak Aiden lepas saat kakinya ditendang sang kakak tepat ditulang keringnya. Ia menatap Diwa kesal, tapi kakaknya pun balik menatap tak kalah kesal.
"Hmm, soalnya KAKAK keseringan nanyain skripsi, sampai hapal lah diabsen minimal satu kali sehari kaya gini," lanjut Aiden menekankan kata 'Kakak' yang langsung disambut senyum puas Diwana.
"Oiya jadi mau nanya apa?" ulang Aiden.
"Tadi kamu bilang kakak ngigau lagi kan? ngigaunya gimana?" Aiden tak langsung menjawab, matanya melihat ke langit-langit mencoba memutar ingatan.
"Mmm, ya manggil-manggil nama Biru kaya biasanya aja sih. Teriak-teriak pelan gitu, kenapa emang?"
"Kakak mimpi lagi?" Kali ini bunda yang penasaran.
Pasalnya, sudah enam tahun penuh Diwana selalu dihantui dengan mimpi berpola sama berulang-ulang. Meskipun tidak setiap hari mimpi itu muncul, tapi tetap saja tidurnya tak pernah nyenyak sejak saat pertama kali mimpi itu mengganggu tidurnya.
Polanya hampir selalu sama. Ada tiga objek disana, perempuan bergaun biru, lautan yang kadang berwarna kuning atau jingga lengkap dengan matahari sayu di ufuk, dan.. Diwana. Semua orang terdekatnya pun tahu tentang mimpi misteriusnya itu, tapi baik dirinya sendiri maupun orang lain hanya menganggap mimpi itu sebagai halusinasinya saja.
"Iya, Bun. Kaya biasanya aja sih, tapi dia makin cantik, hehe." Diwana meringis lucu, dan spontan Aiden tersedak krim sup usai mendengarnya.
"Astaga.. cari pacar sana, Kak. Makin hari kok makin nggak jelas, daripada lama-lama gila. Hantu dibilang cantik, eh sama cewek beneran malah alergi," ledek Aiden.
"Eh eh, dia bukan hantu yaa. Bentar bentar, jadi cewek-cewek itu kerjaan kamu? Valentine dua hari yang lalu banyak cokelat sama bunga dikirim ke kantor kakak sampai diledekin satu kantor. Kamu kan yang ngasih tau alamat kantor kakak ke mereka?" Diwana siap meledak, matanya melotot memandang tak percya kearah Aiden yang melipat bibirnya sambil mengalihkan pandangan menghindari tatapan Diwa.
"Bunda... tolong Aiden. Kakak mau ngamuk."
"Udah udaah.. Jangan lupa bantu bunda cuci piring ya nanti. Awas kalau ada piring kotor di wastafel."
"Bela Diwa sih, Bun?"
"Bili Diwi sih, Bin," ledek Aiden lagi menjulurkan lidahnya pada sang kakak, kemudian menuju wastafel disamping bunda.
"Tapi serius, beneran nggak ada hal aneh di hari itu kan?" Kali ini baik bunda maupun Aiden menoleh kebelakang menatap Diwa. Keduanya menghela nafas nyaris bersamaan, meskipun kemudian sibuk melanjutkan mencuci piring kotor lagi.
"Berapa kali bunda harus bilang, operasi kamu berjalan lancar, sayang. Jangan bahas ini lagi ya? Kamu kecapekan aja kaya biasanya. Makannya istirahatnya tuh dijaga, Diwana. Kamu suka lupa diri kalo udah ngurusin kerja saking semangatnya, jangan sampai forsir diri kamu sampai sakit." Jawab bunda lembut dengan diselingi nasehat-nasehat yang tampaknya hanya numpang lewat saja di telinga Diwa.
"Tapi Bun-"
"Aiden lanjutin ya cuci piringnya, bunda mau telfon Tante Anggi sebentar, lupa kalo siang ini ada janji," potong bunda seketika membuat alis Diwa mengerut, tanda sedikit kecewa namun tetap memahami situasi.
Bundanya memang tidak begitu suka saat Diwa membawa-bawa topik tentang hari dimana ia hampir mati enam tahun silam. Tapi ia tentu faham, bukan hanya ia yang berjuang hari itu, tapi keluarganya juga. Semua pasti berat bagi Bunda, pikir Diwana.
"Siap, Bun. Enak banget jadi bunda tuh, anaknya rajin begini. Aku jamin deh si Jeje nggak bakal pernah cuci-cuci piring bergini dirumah, anak mama kayak gitu" pamer Aiden sambil melanjutkan cuci piring.
"Kalo gitu nitip ya, anak bunda yang rajin..." kata Diwa menyodorkan piring dan gelas kotornya ke wastafel.
"KAK DIWANA LO-" Terlambat, yang dipanggil sudah melesat pergi, menuju kamarnya lagi.
"Ada kisah apa dibalik hari itu?" batin Diwana sambil memegangi dada kirinya.
----
Diwana masih duduk terdiam di kasur kamar rumah sakit memandangi infus yang terpasang di tangan. Otaknya tak berhenti berkelana sambil memikirkan satu demi satu kemungkinan yang bisa terjadi. Jantungnya berdegup cukup kencang, membuat nafasnya ikut sedikit memburu, khawatir.
"Bun, Dokter Tano kenapa lama banget ya? Katanya beliau tuh teman Bunda?" tanyanya lembut pada bunda yang duduk di sofa. Tapi keburu disahut duluan oleh sang adik.
"Santai dong, Kak. Grogi ya? Baca-baca majalah gini nih biar santai kaya aku, ah elah grogian amat hahaha," ledek Aiden sambil tertawa kecil. Tapi semua juga tahu kalau suaranya sedikit bergetar. Diwana tahu Aiden sebenarnya tak kalah cemas darinya.
Diwa hanya tersenyum melihat Aiden sedang menutupi wajah khawatirnya dengan pura-pura membaca majalah yang bahkan tidak ia balik halamannya sejak lima belas menit yang lalu. Berjudul Kumpulan Resep MPASI Praktis Balita.
"Bentar lagi, Kak. Baru juga beberapa jam yang lalu kan ngabarinnya. Dokter Tano pasti memprioritaskan kamu." Bunda bersuara. Ia tengah megupas apel di samping Aiden, tangannya sedikit bergetar dan kecemasan terlihat jelas diwajahnya.
Kabar mengejutkan itu memang baru beberapa jam yang lalu. Tapi hidup Diwana seakan benar-benar bergantung padanya.
Seorang korban kecelakaan pagi itu terdaftar sebagai anggota organisasi donor organ yang menaungi Diwana. Setelah belasan tahun menunggu, apa yang ia tunggu akhirnya tiba. Iya, donor jantung.
Sekitar empat jam sebelumnya, Dokter teman bunda-Dokter Tano-mengatakan akan memproses semuanya dengan cepat dan segera memberi kabar. Semua tentu tidakk semudah itu, karena proses dan syarat-syarat pendonor begitupun calon penerima donor harus lolos checklist yang tidak sedikit. Inilah yang mereka khawatirkan. Tapi setidaknya Diwana sebagai calon penerima donor sedang dalam kondisi prima dan sehat.
Tetapi waktu seakan berjalan semakin lambat semakin Diwana menantikannya. Ah, bulan September yang mendung terasa sangat sendu. Langit tentu mendukung suasana menegangkan itu. Hari bersejarah yang tak akan pernah Diwana lupakan sepanjang hidupnya.
Tanpa orang lain tahu, hati Diwana sesungguhnya sedang berkecamuk kecil. Bagaimana bisa ia bahagia diatas duka orang lain yang bahkan mungkin sedang menangis meratapi nasib korban itu sekarang?
Ada rasa bersalah yang mencuat di dadanya, tentu saja. Tapi apa salahnya? Ia juga ingin hidup. Diwana yakin sang pendonor inipun akan senang ia hidup. Begitulah ia menyemangati ragunya, berusaha membuang perasaan bersalah yang hampir menguasainya.
Saat kita berlari di gurun, tentu air yang kita cari.
Saat kita terombang ambing dilaut lepas, tentu daratan yang kita tuju.
Dan saat kita sakit, tentu sembuh yang kita mau.
"Semoga cocok, semoga cocok, semoga cocok," bisik Diwana lirih dengan mata terpejam, yang ternyata tertangkap oleh telinga Aiden.
"Tenang, Kak. Aku yakin pasti cocok. Denger-denger korbannya cedera kepala, jadi semoga organnya baik-baik aja. Kondisi kakak kan juga lagi fit banget, no worry." Ia tersenyum tulus, tidak menyebalkan seperti biasanya.
"Kamu kok tumben pake aku-kamu ke Kakak? Biasanya juga pake lo-gue?" tanya Diwana bermaksud bercanda pada Aiden yang masih fokus pada majalah yang dipegang.
"Yaa.. ya nggak papa. Aku mau insyaf aja hehe," jawab Aiden sekenanya.
"Ai, kamu.. takut nggak bisa baikin Kakak lagi ya?" Entah kenapa kalimat Diwa terdengar pilu. Semuanya tiba-tiba hening selama beberapa saat. Bahkan burung diluar sana seakan ikut berhenti berkicau.
Bunda yang sedang mengupas apel pun berhenti dan berdiri.
"Bunda keluar dulu ya sebentar, mau nemuin Dokter Tano," pamit bunda dengan mata berair, tertangkap sangat jelas dimata kedua anaknya. Diwa dan Aiden tahu bunda bohong, tentu saja.
"Hmm.. kenapa aku bisanya bikin orang sedih sih," gerutu Diwa saat bunda sudah pergi. Disambut hening lagi sejurus kemudian.
"Dek, kalau donornya nggak cocok, kakak nyerah deh. Hidup bolak-balik rumah sakit nggak enak, mau bebas aja. Sebentar pun nggak papa deh. Pengen hidup diluar dengan bebas sebentar aja, abis itu nyusul ayah."
"Kak-"
"Kalau cocok pun, siapa bilang Kakak bisa bertahan waktu OP nanti? Kakak juga takut, Kakak tuh nggak sekuat itu, iya nggak sih?" Lanjutnya dengan terkekeh miris.
"Kak Diwa...."
"Titip Bunda ya kalo nanti kak-"
"KAK DIWANA...!!" Aiden tau-tau menghambur memeluk kakaknya. Melemparkan majalah MPASI-nya begitu saja ke lantai. Diwa diam-diam tersenyum dibalik punggung adiknya itu seraya membalas peluknya.
"Kamu nangis?" Tanya DiwaNA saat mendengar isakan tangis Aiden, merasa sedikit tak percaya.
"Gue cancel deh pake aku-kamu ke Lo. Malah bikin melow kan jadinya," gerutu Aiden dibalik punggung kakaknya, sambil menyerot sedikit ingus tentu saja.
"Cie, meluk aku nih? Sweet banget sih adek aku satu ini utututu..." ledek Diwana. Buru-buru Aiden melepaskan pelukannya, dan ekspresi menyebalkan Aiden pun kembali, ia menatap Diwa tajam.
"Denger ya, nggak usah sok-sokan nitip-nitip bunda segala. Lo nggak akan kemana-mana. Males banget dititip-titipin, gue bukan kurir paket..!" omel Aiden tanpa menatap kakaknya. Ia lantas menghamburkan diri ke sofa lagi, menutup wajahnya dengan majalah yang terbalik.
"Aid-"
"Apa? Nggak usah melow lagi deh. Nyesel gue meluk Lo. Tuhan... please hapus memori meluk kak Diwa, Tuhan..." ucapnya penuh drama.
"Ih, tadi tuh moment terindah aku sebagai kakak kamu tau nggak?"
"Nggak. Nggak denger, gue nggak lihat... nggak denger...!!" teriak Aiden salah tingkah.
"Hmm.. Thankyou," ucap Diwa lirih, dibalas anggukan oleh sang adik, kemudian hening lagi.
"Udah nemu resep yang cocok belum, Dek?" tanya Diwa tiba-tiba, disambut kerutan didahi sang adik, lalu menunjuk majalah yang terbalik dengan dagunya.
"Tuh..."
"DIWANA NYEBELIN DERURINDU...!"
Belum sempat Aiden memukul kakaknya dengan bantal sofa, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Kehangatan di ruangan itu tiba-tiba lenyap tergantikan kelam yang sejenak menyeruak. Detak jantung mereka seakan terdengar satu sama lain. Nafas Diwana rasanya hampir sesak karena detak jantungnya mulai berirama tak beraturan. Ia benar-benar tegang setengah mati.
Dokter Tano dan bunda masuk bersamaan ke ruangan. Dibelakangnya ada seorang perawat laki-laki membawa beberapa alat medis dan berkas-berkas di troli medis. Perawat itu kemudian berjalan menghampiri Diwana, seraya mengambil satu berkas yang entah apa isinya.
Begitu dokter Tano tersenyum kearah Diwana, semua tahu apa kabar dibaliknya. Kabar bahagia yang diantarkan melalui senyuman itu adalah yang Diwana tunggu-tunggu selama dua puluh tahun penuh.
Kehangatan pun kembali, menyeruak memenuhi ruangan. Senyum bunda juga mengembang, raut wajahnya seakan berkata 'Akhirnya, anakku..'.
Hanya raut wajah Aiden tak terdefinisikan. Ia hanya menghambur memeluk kakaknya lagi yang kini hanya diam terpaku. Sebutir air mata tertahan di sudut mata, hingga akhirnya jatuh saat hangat peluk Aiden dirasakannya.
"Ah, aku akhirnya akan benar-benar hidup?"
----