Bab 2

Zulfa Zahra El-Faza

Sudah dua minggu Gus Fatih resmi menjadi suamiku. Akad nikah diadakan di Kediri, rumahku. Lalu seperti adat orang ala Jawa Timuran, resepsi diadakan sehari setelahnya. Bedanya resepsi pernikahan kami dilangsungkan dua kali, sehari di Kediri dan sehari di Jombang.

Acaranya tidak mewah tetapi cukup meriah. Yang hadir banyak, sangat malahan. Mereka wali para santri Abah-Umi, Kiai dan Bu Nyai—yang sekarang menjadi mertuaku, para alumni, tokoh masyarakat dan warga sekitar, saudara, kerabat, teman-temanku maupun Gus Fatih, juga tamu para masyayikh dari berbagai pesantren di Jawa Timur. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari Jawa Tengah dan Jawa Barat—para masyayikh sahabat kedua orang tua dan mertuaku. Semuanya datang untuk mendoakan pernikahanku.

Ya, pernikahanku. Pernikahan ini bukan hanya sekadar pernikahan antara aku dan Gus Fatih, suamiku. Tidak sekadar menyatukan kami dalam ikatan suci. Secara tidak langsung pernikahan ini juga menjadi penyatuan dari dua pesantren besar milik Abah dan Kiai. Dan itu sudah biasa terjadi di kalangan kami. Kalangan keluarga pengasuh pondok pesantren. Perjodohan, menikah karena dijodohkan. Meski kenyataannya Gus Fatih dan aku sudah pernah memiliki hubungan sebelumnya.

Aku tidak pernah menyangka semuanya akan terjadi. Hari itu saat Abah dan Umi datang menyambangiku bersamaan Kiai dan Bu Nyai yang memanggilku. Kukira mereka mau menambah hukumanku. Hatiku sudah berdebar hebat saat itu, apalagi saat melihat keberadaan Gus Fatih yang semakin memperkuat dugaanku bahwa akan ada takziran tambahan.

Aku sudah pasrah waktu itu, tetapi ternyata aku salah. Abah dan Umi maupun Kiai dan Bu Nyai ternyata malah membicarakan niatan mereka untuk menjodohkanku dengannya, bahkan Gus Fatih sendiri menyetujuinya. Aku dibuat bingung karenanya, terlebih kemudian mendengar Abah yang mengatakan kesiapan Gus Fatih untuk segera menikah denganku.

Perasaanku campur aduk. Saat mereka menanyakan pendapatku aku hanya bisa diam dan meminta waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan. Usiaku saat ini 19 tahun dan Gus Fatih lebih tua empat tahun dariku, usianya 23 tahun. Aku tidak yakin kami bisa berumah tangga.

Masalahnya bukan pada Gus Fatih, masalahnya adalah padaku yang masih terlalu labil. Aku khawatir mengecewakan kedua keluarga dan Gus Fatih yang akan menjadi suamiku. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik, takut belum mampu hidup berumah tangga walau pendidikanku di madrasah diniyah sudah rampung, tinggal menunggu hasil ujian dan wisuda. Bagaimanapun aku merasa masih terlalu muda untuk berumah tangga.

Selama seminggu aku memikirkannya. Senang sebenarnya mendengar kesediaan Gus Fatih menikahiku. Itu berarti dia benar serius padaku, tetapi bagaimanapun juga masih ada keraguan dalam hatiku.

Aku baru yakin dan setuju setelah melakukan salat Istikharah di hari ketujuh dan bermimpi berjalan beriringan dan begandeng tangan dengan Gus Fatih—untuk ke sekian kali, mimpi yang sama selama tujuh hari berturut-turut. Aku pun mendatangi Abah dan Umi yang sengaja menginap di Jombang karena menunggu keputusanku setelah didesak Dewi yang sejak awal menyuruhku langsung menerima perjodohan ini.

Aku tidak langsung mengatakan kesediaanku juga tentang mimpiku, melainkan meminta Abah dan Umi untuk menanyakan sekali lagi keseriuasan keputusan Gus Fatih terlebih dulu. Aku takut kalau sebenarnya dia juga ragu akan perjodohan kami. Tak disangka, Gus Fatih kemudian yang malah meyakinkanku sendiri. Dia meminta untuk dilakukan pertemuan lagi untuk bicara berdua denganku sebelum Abah dan Umi menyampaikan permintaanku padanya dan keluarganya.

Kami dipertemukan di ruang tamu ndalem dan dibiarkan bicara berdua dengan Abah, Umi, Kiai, dan Bu Nyai yang mengawasi dari ruang tengah. Setengah jam kami bertukar pikiran sampai Gus Fatih mengucapkan kalimat yang menjadi penguat keyakinanku untuk menyetujui penyatuan kami.

“Insyaallah. Aku hanya akan mencintaimu karena Allah. Selalu ada di sampingmu dalam suka dan duka. Menjadi panutan dan imam yang baik dalam kehidupan rumah tangga kita. Dan jika kamu masih ragu akan keputusanmu, maka biarkan aku membimbingmu dan menjaga kepercayaanmu. Kamu bisa memegang kata-kataku. Ini ... adalah janjiku.”

Aku pun mengangguk setuju. Seketika Gus Fatih tersenyum, begitu juga denganku. Besoknya aku langsung diboyong pulang oleh orang tuaku. Kami dikhitbah tiga hari setelahnya.

Waktu itu, Gus Fatih datang dengan kedua orang tuanya, Kiai Adnan dan Bu Nyai Fatimah dan beberapa kerabatnya. Semua berjumlah delapan orang. Dia terlihat menawan sekaligus lebih tampan dalam balutan baju koko putih, sarung, dan peci hitamnya. Membuat kulit putih bersihnya semakin bersinar saja.

Aku sendiri memakai baju warna ungu yang sengaja dikirimkan Bu Nyai sehari sebelumnya. Katanya beliau sendiri yang memilihnya setelah meminta pendapat Gus Fatih mengenai warna apa yang cocok denganku. Gus Fatih yang ditanya langsung berkata ungu karena ungu memang warna kesukaannya. Aku dibuat tertawa mendengarnya. Aku bahagia. Terlebih melihat ekspresi Gus Fatih yang melihatku waktu itu. Dia memasang wajah tak terbaca dengan bibir sedikit terbuka dan kedua bola mata yang tak berkedip sama sekali. Sementara aku langsung menundukkan kepala menjaga pandangannya.

Tanggal pernikahan ditentukan seminggu setelah wisuda kelulusanku. Aku kembali sehari ke pondok kala itu, tetapi tepat di hari wisuda pondok Gus Fatih tiba-tiba mendapat panggilan mendadak ke Mesir dari salah satu dosennya. Pernikahan yang kurang seminggu pun akhirnya ditunda. Tiga bulan Gus Fatih di sana menyelesaikan urusannya yang entah apa. Aku pun hanya bisa menunggunya.

Gus Fatih pulang seminggu sebelum tanggal pernikahan kami yang sudah ditetapkan ulang. Anehnya Gus Fatih banyak diam sekembali dari Mesir. Kami tidak saling bicara sampai pernikahan, kenyataannya memang selama di Mesir kami juga lost contact. Gus Fatih yang rajin menghubungi sekadar menanyai kabar tidak pernah lagi menelepon, bahkan sekadar mengirim chat. Aku yang biasa dihubunginya pun tak berani menghubungi lebih dulu. Malu. Kami pun akhirnya saling diam sampai hari pernikahan dilangsungkan.

***

“Assalamu'alaikum.”

Suara Gus Fatih membuyarkan lamunanku. Aku yang sedang duduk di meja rias segera menyelesaikan sisiranku dan menoleh padanya. Dia baru kembali rupanya, mengisi materi di kelas diniyah santri putra.

Sebentar ia memandangiku dan langsung memalingkan muka sembari berdeham. Aku menghampirinya. “Mas mau langsung istirahat atau kubuatkan wedang dulu?” tanyaku mencoba menangkap matanya. Berharap ia mau melihatku lagi sedikit lebih lama.

Aku sudah berias tadinya. Berias di sini adalah membersihkan diri, memakai bedak dan minyak wangi. Aku bahkan memakai pakaian tidur yang diberikan Ibu—Bu Nyai yang sudah jadi mertuaku dan menggerai rambut panjangku, berharap Gus Fatih malam ini mau bersamaku. Ya, sebenarnya Gus Fatih sama sekali belum menyentuhku semenjak kami menikah, dan aku merasa terganggu karena itu.

“Tidak perlu. Kamu pergi tidur saja dulu,” katanya tetap tak melihatku. Ia mengambil sebuah buku tebal dari salah satu rak bukunya di kamar kemudian pergi membawanya. “Aku mau mengkhatamkannya,” katanya sebelum masuk ke ruangan sebelah. Ruangan ukuran 3 x 4 meter yang berisikan sebuah sofa panjang samping jendela, sebuah meja-kursi untuk belajar dan membaca, juga rak-rak buku lain milik Gus Fatih yang menjadi koleksinya.

Aku menundukkan kepala. Mataku pasti sudah berkaca-kaca. Sebentar kulirik jam di dinding yang sudah berangka sepuluh, lalu mataku mengarah lagi padanya. Menatap ke ruangan sebelah yang pintunya dibiarkan terbuka, menampakkan sosok Gus Fatih, suamiku yang sudah bersalin mengenakan kaus putih lengan pendek yang tampak serius dengan bacaannya. Aku menghela napas kasar. Ulu hatiku terasa nyeri melihatnya. Bukan sekali, ini sudah yang ke sekian kali.

Tanpa menghiraukan air mataku yang mulai mengalir, aku berjalan ke dekat pintu kamar dan mematikan lampu. Berjalan gontai ke ranjang lalu membaringkan tubuhku. Mataku terpejam, tetapi air mataku terus menerobos keluar. Yang bisa kulakukan adalah menahan isakku agar tak terdengar.

Ingin sekali rasanya bertanya pada Gus Fatih alasannya bersikap begini padaku. Apa dia tidak mencintaiku? Namun, kenapa dia tetap menikahiku? Mengingat sikap lainnya padaku membuatku urung menanyakan hal itu.

Gus Fatih adalah suamiku, dan dia bersikap baik padaku. Kurasa itu adalah sikap yang memang harus ditunjukkan seorang suami. Dia selalu menunjukkan perhatiannya. Tiga hari sekali setiap Gus Fatih mau berkunjung ke rumah makan yang menjadi bisnis baru rintisannya, dia selalu bertanya aku mau apa, lalu dia akan membelikannya. Bahkan dia juga membantuku memasang resleting belakang pakaianku saat melihatku kesulitan memakainya. Aku juga selalu mengurusnya dan menyiapkan semua keperluannya.

Kami benar-benar bersikap normal seperti suami-istri lainnya. Semua yang melihat kami pasti juga akan menganggap begitu. Gus Fatih selalu pamit padaku dan menciumku setiap hendak pergi, aku pun selalu menyalaminya bahkan pernah sekali balas menciumnya. Namun, kenapa? Kenapa Gus Fatih selalu tampak enggan menyentuhku? Ada apa? Apa masalahnya? Bukankah aku ini memang istrinya? Seharusnya dia bebas melakukannya.

Kriet ….

Terdengar suara decitan ranjang dari sisi sampingku. Aku membuka mata, melihat jam dinding kamar yang menunjukkan angka setengah dua lalu melirik sisi kananku. Kudapati Gus Fatih sudah berbaring di sampingku. Tubuh besarnya tampak memunggungiku. Lagi-lagi aku menahan air mataku.

Apa salahku, Gus? Kenapa kau seperti ini padaku? Apa kau tidak mencintaiku? Lalu, bagaimana dengan janjimu? Kenapa kau setuju menikah denganku? Bukankah kau sendiri yang meyakinkanku?

Aku memejamkan mata. Tanganku kali ini mengatup ke mulut agar Gus Fatih tidak mendengar isakku. Sebenarnya aku belum bisa tidur sejak tadi, mataku hanya terpejam menahan air mata yang terus keluar. Mau apa lagi? Gus Fatih sungguh membuatku sakit hati. Aku merasa tidak dianggapnya sebagai istri.

“Allahu akbar.”

Suara takbir Gus Fatih membuatku terjaga lagi. Ia tengah salat malam dalam pakaian koko dan sarung yang biasa dikenakannya berjemaah di atas sajadah birunya. Wajah tampannya tampak teduh terkena cahaya temaram lampu meja yang ada di sebelahnnya. Gus Fatih selalu menyalakanya daripada lampu utama.

Entah kenapa kali ini aku merasa semakin kecewa dari biasanya. Pasalnya aku sudah mengatakan padanya sebelumnya kemarin kalau aku ingin salat berjemaah bersamanya. Setidaknya salat malam kan bisa karena dia selalu mengerjakan salat fardunya jemaah di masjid. Kenapa tidak mengindahkannya? Gus Fatih seharusnya bisa membangunkanku kan tadi? Kenapa salat sendiri lagi? Apa dia memang tidak menganggapku sebagai istri?

Aku terus berbaring sampai pagi. Mataku terpejam tetapi tidak tidur sama sekali. Pikiranku benar-benar kacau. Aku bahkan tidak bangun salat malam. Gus Fatih barusan sudah selesai mandi saat terdengar suara azan Subuh, dia sekarang sedang bersiap pergi jemaah ke masjid. Aku terus menutup mataku sampai terdengar dia menutup pintu. Lihat! Gus Fatih bahkan tidak berniat membangunkanku untuk salat Subuh. Dia pergi tanpa memikirkanku.

Pujian dari masjid pondok yang digunakan berjemaah oleh para santri putra dan warga sekitar desa sudah tidak terdengar. Ikamah baru saja dikumandangkan. Aku bangun dan langsung mendapati pantulan diriku sendiri dari cermin meja rias yang memang menghadap tempat tidur. Begitu kusut dan tampak tak terurus. Mukaku sembap, mataku bahkan bengkak. Aku tersenyum getir melihatnya.

Kurasa kali ini aku akan salat sendiri lagi. Ikut berjemaah di musala pondok putri malah akan menimbulkan pertanyaan dengan wajah seperti ini. Entah bagaimana nanti kalau berhadapan dengan Ibu—Bu Nyai. Belum lagi kalau nanti ditanyai Dewi.

***

Bab 3

Zulfa Zahra El-Faza

“Neng? Neng?!”

Seseorang yang mengguncang tubuhku membawa kembali kesadaranku. Aku menoleh dan mendapati Dewi berdiri di sampingku, menyodorkan piring.

“Iya?” kataku mengambil piring itu.

“Neng kenapa kok sering banget ndak fokus? Ada yang Neng Zulfa pikirkan?” tanya Dewi sembari mengelapi piring yang akan digunakan keluarga ndalem makan. Kami ada di dapur sekarang. Sesekali ia melihat padaku sembari terus mengelapi piring-piring porselen itu.

“Tidak ada,” kilahku sembari menyelinginya dengan tawa, berharap Dewi percaya.

Bukannya tidak mau cerita, tetapi ini adalah masalah rumah tangga yang tidak boleh sembarangan kuceritakan pada orang lain, bahkan kedua orang tua maupun mertuaku. Tentu ini masalah yang sangat rawan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meski itu hanya dalam pikiranku sendiri kalau-kalau ada yang tahu apa yang terjadi.

Aku melanjutkan pekerjaanku. Memindahkan lauk berupa ikan asin yang kugoreng tadi ke atas piring yang diserahkan Dewi tadi. Ikan asin ini favoritnya Abah Kiai—panggilanku pada ayah mertuaku sendiri lalu mengambil piring porselen lain untuk tempat bendoyo terong kegemaran Abah Kiai sekaligus Gus Fatih.

“Neng, cah kangkungnya sudah matang,” lapor Dewi.

Aku segera mengangguk lalu mengambil mangkuk besar untuk wadah tumisan itu. Setelahnya aku memindahkannya sendiri ke mangkuk yang kubawa.

“Sudah kamu cicipi rasanya, De?” tanyaku.

Dewi mengangguk.

“Bagaimana? Enak tidak?” cemasku memegangi mangkuk cah kangkung di tanganku. Ini masakan tumis pertamaku.

Dewi diam lalu mengangguk lirih. “Lumayan,” katanya membuat mulutku sedikit terbuka.

Aku langsung mencari sendok dan mencicipinya sendiri. Dan benar katanya, ‘lumayan’ karena bagiku rasanya biasa saja. Kalau dibandingkan masakannya, ini tidak ada apa-apanya.

“Tidak usah kecewa, Neng. Kiai, Bu Nyai, dan suami Neng pasti menghabiskannya.” Dewi tertawa. Aku meliriknya sehingga ia diam. “Lagi pula ini kan tumis kangkung pertama Neng Zulfa, keluarga ndalem pasti menghargainya.” Dewi merapatkan kedua giginya sembari menyengir kuda.

Aku menghela napas lalu meletakkan mangkuk yang ada di tanganku ke meja. Cah kangkung ini memang tumisan pertamaku. Dewi yang mengajariku. Kalau boleh jujur aku tidak pandai memasak. Menyentuh pekerjaan dapur saja sangat jarang karena sedari kecil aku sudah mondok. Masa MI-ku dulu aku nyantri di Lamongan, pengasuhnya teman Abah. Lalu selepasnya aku nyantri di pesantren keluarga suamiku ini sampai akhirnya menikah.

Kalaupun dulu liburan dan pulang ke Kediri, para santri putri yang jadi anak ndalem yang memasak, membantu Mbok Halimah. Kesempatanku hanya membikin wedang seperti teh, kopi, dan menggoreng-goreng makanan. Masakan sederhana yang bisa kubuat lainnya pun hanya nasi goreng, tidak ada yang lain.

Tidak tahu bagaimana nasibku kalau tidak ada Dewi. Aku pasti akan sangat malu di depan Gus Fatih dan mertuaku. Untung Dewi mau mengajariku. Aku jadi tidak perlu sungkan pada Ibu yang sedari awal tahu bagaimana kemampuan memasakku. Oleh karena itu, Ibu berniat mau mengajariku, tetapi aku tidak mau. Sekali lagi, sungkan, itulah yang menjadi alasanku.

“De, apa kita buat lagi, ya?” kataku pada Dewi yang tampak sibuk. Dia baru saja mengangkat bali endok yang jadi menu utama pagi ini dari kompor dan memindahkannya ke mangkuk. Jangan tanya! Tentu Dewi dan anak ndalem lainnya yang membuatnya. Aku tidak bisa. Ralat! Bukan tidak, ‘belum’ lebih tepatnya. Aku sudah berniat akan belajar memasak sampai bisa, setidaknya makanan yang biasa disantap keluarga suamiku. Siapa tahu aku bisa merebut hati Gus Fatih kalau dia memang tidak mencintaiku.

Ya Allah ... Gus Fatihku. Apa benar dia tidak mencintaiku?

“Tidak, Neng. Tidak usah. Cah kangkung buatan njenengan enak kok.” Dewi menepuk lenganku. Aku mengangkat kepalaku.

“Ya Allah! Jangan-jangan ini, ya, yang buat Neng sering melamun?!” pekik Dewi menatapku.

Aku membulatkan mata lalu segera menggelengkan kepala. Refleks, tetapi memang bukan itu penyebabnya. Dewi tidak tahu saja.

“Halah, terus apa coba? Sadar ndak kalau Neng Zulfa sampai punya kantung mata selain tambah pucat juga?” Dewi berkata.

Aku menundukkan kepala. Jadi sebenarnya Dewi melihatnya. Itu berarti santri lainnya pasti juga. Aku menoleh ke tempat bupet kaca penyimpanan piring. Benar. Ternyata wajahku yang kacau terlihat jelas dengan dua buah kantung mata di bawah kelopak, bahkan lingkaran hitam mengitarinya. Ya Allah! Padahal aku sudah berusaha menghilangkannya dengan kompresan es batu. Aku bahkan sampai memakai foundation sebelum bedakan tadi.

Aku menggelengkan kepala. "Memangnya begitu?" kataku dengan nada kubuat tidak percaya.

Bukannya menjawab, Dewi tersenyum lebar. Ia mendekatkan wajahnya padaku. “Karena Gus Fatih, ya?” bisiknya tepat di indra pendengarku.

Aku membeliak menatapnya. Bagaimana bisa Dewi mengetahuinya? Bukannya aku sudah berusaha tampil semringah di depan semua? Kenapa Dewi bisa mengatakan itu?

“Tidak, De,” bantahku cepat. Perasaanku sungguh sudah ketar-ketir sekarang melihat ekspresi wajahnya yang ‘anehnya’ malah terlihat seperti sedang menggoda.

Ada apa sebenarnya?

“Tiap hari Gus Fatih minta jatah, ya?” ucap Dewi tak dapat kupercaya.

Set!

Puluhan mata penghuni dapur melihat kami. Terlihat jelas ekspresi syok dan tawa tertahan mereka. Aku menghela napas lalu segera memelototi Dewi. Yang kupelototi lalu segera mengucapkan ‘maaf’ dengan lirih. Setelahnya samar-samar kudengar ia mengucapkan istigfar berkali-kali sambil menunduk.

Aku segera tersenyum pada semua santri yang ada di dapur dan meminta mereka melanjutkan kegiatannya. Mbok Aminah juga. Sama seperti Mbok Halimah yang mengabdi di keluargaku, Mbok Aminah juga mengabdi lama di ndalem keluarga suamiku. Beliau tersenyum canggung padaku lalu mencubit Wiwit, santri putri ndalem yang merupakan cucunya, kebetulan Wiwit sedang bekerja di sampingnya.

Sekali lagi, aku menghela napas lega. Hampir saja! Kukira Dewi tahu alasannya.

***

“Ini kamu, Nduk, yang membuatnya?” Abah Kiai melihatku setelah mencicipi sambal klotok buatanku. Ya, aku lupa. Sebenarnya aku bisa membuat sambal juga. Segala jenis, insyaallah aku bisa. Sudah terbiasa soalnya.

Aku tersenyum sembari mengangguk. “Nggeh, Bah. Silakan dimakan. Maaf kalau Abah tidak selera gara-gara sambelannya Zulfa.”

Aku menyelesaikan tugasku lalu duduk di kursi yang ada di samping Gus Fatih setelah sebelumnya mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Kalau Ibu selalu mengambil sendiri. Pernah kutawarkan sekali tetapi langsung tidak ‘dikersai’ Ibu, sedangkan Abah Kiai selalu Ibu yang melayani.

“Katanya Mbok Aminah, cah kangkung ini kamu yang buat, Nduk. Benar?” Ibu menyendok nasi dan cah kangkung buatanku. Aku mengangguk.

“Bismillah ... Ibu makan, ya?” Ibu memakannya. Aku diam menunggu pendapatnya. Entah kenapa seisi ruang makan diam saat kutengok, Gus Fatih juga. Semua seperti menunggu apa yang akan dikatakan Ibu.

“Enak ...,” kata Ibu mangut-mangut melegakan hatiku.

“Alhamdulillah ...,” ucapku.

Setelahnya kulihat Abah Kiai juga menyantapnya. Beliau terlihat puas juga. Refleks aku menoleh pada Gus Fatih ingin tahu bagaimana dengannya. Sayangnya dia hanya diam menatap piringnya. Sontak aku langsung menundukkan kepala. Menatap makanan yang tersaji di piringku sendiri. Nafsu makanku rasanya tiba-tiba lenyap karena sikapnya.

“Lho, Fa! Kok ndak kamu makan?” Suara Ibu membuatku mengangkat kepalaku.

“Nggeh, Bu. Ini mau Zulfa makan,” kataku tersenyum lalu segera menyendok makananku.

Bu Nyai adalah ibu terbaik setelah Umi. Sekarang aku sudah tidak mengakui itu. Kenyataannya beliau sama baiknya dengan Umi, ibu kandungku.

Aku bersyukur memilikinya. Aku tidak yakin ada ibu mertua sebaik Ibu di luar sana yang memperlakukanku seperti ini. Seperti kata Dewi, cah kangkungku rasanya biasa. ‘Lumayan’ malahan, tetapi Ibu mengatakan kalau rasanya enak. Padahal kalau dirasa-rasakan rasanya sedikit asin karena mulai dingin. Makanan berkuah kalau dalam keadaan panas rasa keasinannya yang semula sedang biasanya berubah menjadi asin kalau mulai dingin, alasannnya lidah kita kurang bisa merasainya dengan baik ketika panas

“Ayo, Ngger, dimakan masakan istrimu! Kasihan Zulfa yang sudah susah payah memasaknya. Dimakan sama bendoyo terong penyet sambal klotok tambah mantap lho rasanya.” Abah Kiai berkata. Beliau menambahkan bendoyo terong penyet lagi ke piring putranya.

Aku dibuat tersenyum karenanya. Abah Kiai tidak kalah baiknya dari Bu Nyai. Mereka mertua yang sama baiknya seperti orang tua kandung sendiri.

“Nggeh, Bah.” Suara berat Gus Fatih membuatku menolehnya.

Kulihat ia menyendok makanan di piringnya lalu mengunyahnya perlahan. Mulutku sedikit terbuka saat melihat bola matanya berkaca-kaca.

Ada apa? Apa Gus Fatih tidak menyukainya?

“Jangan diteruskan Mas kalau Mas tidak suka. Mas makan bali endoknya saja.” Aku berinisiatif mengambil piringnya. Berniat menyingkirkan cah kangkung dan masakanku lainnya.

“Jangan!” Tanganku tiba-tiba dicekalnya. Membuatku menatapnya. Kami sangat dekat sampai aku bisa melihat dengan jelas wajah tampannya, menelisik kejora matanya, alis dan bulu matanya yang lebat, hidung bangirnya dan bibir kemerahan dengan sedikit garis hitam di tepiannya.

Ya Allah .... Jantungku mau meledak jika terus begini, jadi langsung kutarik tanganku. Lalu aku memperbaiki posisi dudukku.

“Hem ... hem ....” Dehaman Abah Kiai menyadarkanku.

Aku langsung melihat ke arah Abah Kiai dan Ibu yang ternyata tajam menatapku dan Gus Fatih. Aku langsung menundukkan kepala dan menyendok nasiku.

“Zulfa, Zulfa. Kamu ini. Makanan apa, sih, yang tidak disukai Masmu ini? Apalagi makanan seenak ini.” Ibu menunjuk-nunjuk makanan buatanku di meja. “Dulu sebelum Masmu Fatih ke Mesir sewaktu masih mondok di Paculgowang, semua makanan habis sama dia. Dimakan semua,” cerita Ibu menarik atensiku padanya, begitu sebentar lalu lama ke arah Gus Fatih. Ia tampak tak percaya dan tak terima Ibu menceritakan masa kecilnya.

“Ibu ini! Itu kan dulu. Kok malah diungkit-ungkit lagi di depan mantu.” Suara Gus Fatih terdengar pelan, seperti menggerutu.

Aku jadi penasaran seperti apa suamiku ini dulu. Kapan-kapan meminta Ibu menceritakan lebih banyak lagi tentangnya pasti seru. Kalau aku mau jujur, aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Sikap dan kepribadiannya saja masih misteri buatku.

Dia bahkan belum mau benar-benar tidur denganku. Apalagi bercerita tentang pribadinya yang lain. Mustahil sekali rasanya kalau dipikir-pikir.

“Iya, iya. Ibu minta maaf. Ya sudah, cepat dimakan!” Ibu tersenyum dengan wajah semringah.

“Iya.” Gus Fatih mengangguk.

“Boleh kan kumakan?” Aku terlonjak lagi. Gus Fatih menatapku lagi dan dengan segera kuangguki. Kulihat ia memakan makanannya dalam diam. Sudut bibirnya terangkat seperti membentuk senyuman.

Hah, aku pasti sedang mengkhayal!

Aku tidak sampai lama memperhatikannya karena sadar ada Ibu dan Abah Kiai di depanku. Jadi kuputuskan menyantap makananku. Meski semua masakanku yang kumakan hanya cah kangkung sedikit tanpa kuah yang menurutku sedikit asin dan bali endok. Kali ini bali endok itu menjadi favoritku, enak, yang buat bukan aku jadi tidak diragukan lagi itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian semua sudah selesai makan. Kini Abah Kiai dan Gus Fatih asyik menyesap kopi hitam mereka. Masih di meja makan. Waktu menunjukkan jam 06.30 WIB. Baru saja seorang santri putra yang kuketahui mengabdi di ndalem mengantarkannya. Aku dan Ibu memilih menikmati potongan semangka dan melon di piring yang juga dibawa oleh santri itu. Sesekali kami menyelinginya dengan meminum air.

Tidak lama, Abah Kiai dan Ibu kemudian bercerita bagaimana perjuangan mereka mempertahankan pesantren ini sepeninggal Mbah Kiai Jabbar, romo dari Abah Kiai di masa-masa awal beliau mengemban pengasuhan pondok.

Abah Kiai masih sangat muda saat itu, seusia Gus Fatih sekarang katanya. Banyak terjadi pro dan kontra di antara para santri dan punggawa ndalem yang sebelumnya. Lebih banyak dari mereka yang meragukan kemampuan Abah Kiai, tetapi Ibu sebagai istri selalu menyemangati dan mendampingi beliau sampai semua terkendali dan pesantren ini tetap bertahan sampai sekarang.

Aku menyimak dalam diam. Otakku berusaha merekamnya sebaik mungkin. Cerita ini tidak boleh hilang karena merupakan sejarah keluarga, tentu harus dijaga.

Usai cerita salah satu ‘sejarah keluarga’ itu, Ibu lanjut bercerita tentang masa kecil Gus Fatih. Tentu saja aku lebih antusias lagi mendengarnya. Dari awal aku memang sudah menanti ceritanya.

Kulirik Gus Fatih, ia masih diam dengan cangkir kopi di tangannya. Sesekali ia menatap kurang suka tetapi tetap tak bersuara saat Ibu menceritakan masa kecilnya yang bisa dibilang sangat ndablek.

Aku bahkan dibuat tertawa mendengarnya. Ya, terlebih saat Ibu bercerita kalau Gus Fatih pernah membakar sendiri rambutnya saat kecil yang katanya panjang. Untung waktu itu ada Mbah Nyai Atikah yang melihatnya. Beliau Ibu dari Abah Kiai. Melihat rambut cucunya yang terbakar Mbah Nyai langsung menyiramnya dengan air bekas cucian di ember yang kebetulan beliau bawa. Lucu saja mendengarnya.

“Kamu tahu, Nduk. Masmu ini waktu kecil sangat gendut, ngalem pula. Ibu sampai capek menggendongnya kalau dia rewel ndak bisa tidur sendiri, padahal usianya sudah enam tahun.”

“Nggeh, Bu?” kataku tak percaya. Sekali aku melirik Gus Fatih lalu tertawa kecil di balik telapak tanganku lagi. Abah Kiai bahkan sudah tertawa sejak tadi.

Pasti lucu melihat masa kecil Gus Fatih yang katanya gendut itu bertingkah seperti itu. Lain kali aku harus membuka album foto lama keluarga ini untuk melihatnya. Aku penasaran bagaimana rupanya.

“Iya, Nduk. Sebelnya lagi Masmu itu selalu mengompoli tempat tidur Ibu dan Abahmu ini.” Ibu melanjutkan cerita.

Aku tertawa.

Seketika kemudian aku langsung diam saat Gus Fatih menatap tak suka. Aku sedang meliriknya dan mendapati ia melihatku cukup lama.

Gus Fatih menyeruput pelan kopinya.

Ibu menghentikan cerita lalu ikut menyeruput teh miliknya yang sudah hangat karena tidak diminum dari tadi. Aku mengikutinya.

“Abah perhatikan kamu selalu pucat, Nduk, beberapa hari ini. Kamu sakit?” tanya Abah Kiai tiba-tiba. Beliau saling bersitatap dengan Ibu sebelumnya.

“Iya, Nduk. Kamu kenapa?” Ibu menyahutinya. Mata teduh milik Ibu menatapku penuh selidik.

Aku melirik Gus Fatih. Ia masih menyesap minumannya.

Huh, memangnya apa pedulinya? Padahal aku seperti ini secara tidak langsung juga karena dia!

“Tidak, Bu, Bah. Zulfa baik-baik saja.” Aku segara menjawab setelahnya.

Aneh! Ibu dan Abah Kiai malah saling pandang sembari tersenyum.

“Sudah ke dokter?” Ibu kembali melempar pertanyaan.

Aku menggeleng. Kenyataanya aku memang tidak sakit apa-apa. Sakit hati dan kecewa mungkin iya.

“Kalau begitu kamu harus pergi periksa, ya, Nduk. Sepertinya bakal ada kabar baik. Ibu sudah ndak sabar ngemong cucu.”

“Huk ... huk ....” Gus Fatih terbatuk bersamaan dengan kedua mataku yang membola tak percaya.

Cucu? Bagaimana bisa?! Menyentuhku saja Gus Fatih tidak pernah melakukannya.

Hatiku rasanya teriris mengingat sikapnya. Ingin menangis saja sekarang, tetapi berhasil kutahan dan kusembunyikan. Entah sampai kapan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED